Sejarah Kota Depok (31): Sejarah Sepak Bola di Depok; Awalnya Dikekang Misionaris, Tapi Sepak Bola Jalan Terus

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Apakah ada sejarah sepak bola di Depok? Tentu saja ada. Sejarah sepak bola di Depok sesungguhnya tidak hanya sejak lahirnya klub Persikad Depok, bahkan jauh sebelumnya. Sejarah sepak bola di Kota Depok di masa lampau bahkan sejajar dengan sejarah sepak bola di kota-kota besar yang sekarang, seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Bandung. Mengapa dikatakan begitu? Mari kita lacak.

Bataviaasch nieuwsblad, edisi 15-09-1928
Persikad adalah singkatan dari Persatuan Sepak Bola Kota Administrasi Depok. Persikad berarti itu nama yang identik lama, karena Depok kini (sejak 1999) sudah menjadi Kota (kota administratif menjadi Kota). Jadi: Persikad harus dibaca Persatuan Sepak Bola Kota Depok. Kota Administratif Depok kala itu baru terdiri dari tiga kecamatan: Pancoran Mas, Beji dan Sukmajaya. Sekarang sudah 11 kecamatan:  Beji, Pancoran Mas, Cipayung, Sukmajaya, Cilodong, Limo, Cinere, Cimanggis, Tapos, Sawangan dan Bojongsari. Jadi sejarah sepak bola di Kota Depok dalam hal ini merujuk pada 11 kecamatan ini di masa lampau

Awal Sepak Bola di Depok

Pada tahun 1924 di Depok diselenggarakan pertandingan sepak bola segitiga: Weltevreden (Gambir), Meester Cornells (Jatinegara) en Buitenzorg (Bataviaasch nieuwsblad, 09-09-1924). Depok yang dalam hal ini mewakili Buitenzorg, klub D-pok adalah klub yang didirikan oleh Gymnastiek, Muziek en Voetbal vereeniglng Qymmuvoet di Depok. Dalam pertandingan, Depok (D-pok) kalah 0-3 melawan Militairen (Werltevreden). Depokkers dalam menanggapi kekalahan timnya kecewa. Berita ini dengan sendirinya menunjukkan di Depok sepak bola sudah eksis.

Artikel sejarah sepak bola di Depok ini merupakan tambahan catatan sejarah sepak bola Indonesia yang pernah saya tulis sebelumnya tentang sejarah sepak bola Medan, sejarah sepak bola Jakarta, sejarah sepak bola Bandung dan sejarah sepak bola Padang dan sejarah sepak bola Bogor.

DSV Didirikan, Dikekang Misionaris

Perhimpunan olahraga di Depok yang disebut Depoksche Sportvereeniging (DSV) didirikan tahun 1927. Organisasi olahraga ini di tahun pertama sudah memiliki empat cabang: tennis, sepak bola, basket dan senam. Pembentukan sarikat olahraga ini mendapat antusiasme dari publik dan gairahnya dari minggu ke minggu semakin tinggi. Namun baru empat bulan DSV didirikan muncul konflik dengan gereja.

Persoalan muncul diawali dari lapangan basket. Pihak misionaris menganggap tidak pantas laki-laki dan perempuan bermain basket secara bersama-sama. Pihak zending juga khawatir hari Minggu juga dimainkan. Atas gugatan ini, dilakukan beberapa kali konferensi yang akhirnya gadis-gadis muda diizinkan bermain basket dengan anak-anak laki-laki. Hore! Namun dua bulan kemudian basket dan senam tampak menghilang. Awalnya kami sangat bersemangat, berjalan lancar dan nyaman. Kini semua redup. Kota kami belum matang untuk kehidupan berserikat. DSV kini ditaruh di dalam botol. Demikian tulis seorang pembaca pada surat kabar Bataviaasch nieuwsblad, edisi 15-09-1928. Lalu pembaca menulis pada Bataviaasch nieuwsblad, 17-12-1928: ‘...Pengurus DSV dalam tidur nyenyak!  Kegiatan yang selama ini tampak gadis-gadis ceria di pinggir lapangan rok biru, blus putih dan pita merah genit tidak terlihat lagi. Tenis sekarang tidak lagi dengan pakaian minim. sepak bola merana dan demikian juga dengan permainan basket...’

Itulah gambaran awal tentang olahraga dan khususnya sepak bola di Depok. Pada persemaian pertama, layu sebelum berkembang. Namun, olahraga bukanlah bunga dan tentu saja sepak bola tidak memerlukan siraman rohani. Sepak bola adalah suatu permainan: game para anak-anak laki-laki. Animo yang tinggi dari masyarakat, sepak bola di Depok tidak terbendung. Para misionaris menyerah. Lantas di Depok berdiri klub sepak bola pertama: SIOD.

Klub Sepak Bola Depok: SIOD

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sepak Bola di Depok Semakin Berkembang: Alva, Deto, WIK

Tunggu deskripsi lengkapnya

Suporter Sepak Bola di Depok

Pada dasarnya bagian terpenting dalam dunia sepakbola adalah penonton. Ukuran kualitas pertandingan sepakbola dapat dilihat dari kehadiran penonton. Kualitas dari penonton dapat diukur dari partisipasinya dalam mendukung salah satu klub. Dukungan fanatic yang diberikan penonton terhadap klubnya disebut suporter. Para suporter ini selalu membicarakan dinamika klubnya dan selalu hadir ketika klubnya bertanding. Adakalanya suporter ini mendukungnya kemana klub mereka itu melakukan lawatan.


Si Oranye VIOS (Jakarta) dan Si Biru Sidolig (Bandung)
Di Jakarta, juga terdapat suporter fanatik, bukan VIOS tetapi yang lebih fanatik adalah Oliveo. di Depok terdapat suporter klub-klub Batavia. Penggemar atau suporter dari Depok terbagi dua: VIOS dan Oliveo. Jumlah suporter dari Depok tidak sebanyak di Bandung (ke Cimahi) dan Medan (ke Binjai) meski kedua kubu supporter Depok digabung. Para penonton dari Depok berangkat dari stasion Depok (lama). Soporter dari Buitenzorg (Bogor) sejauh yang diketahui tidak pernah dilaporkan, mungkin karena jaraknya sangat jauh. Boleh jadi ada batas tertentu dimana suporter bersedia mengikutinya sekalipun biaya transportasi dibebaskan oleh klubnya.Suporter Depok dalam hal ini menanggung biaya sendiri (Bandung dan Medan ada sebagian kontribusi klub).

Pada masa ini di Depok, selain mendukung Persikad, suporternya juga adalah pendukung fanatik Persjia Jakarta. Setiap Persija bertanding di Jakarta, suporter dari Depok turut berduyun-duyun ke Jakarta. Gambaran yang sekarang, mirip dengan gambaran masa lampau ketika suporter Depok memberikan dukungannya kepada dua klub di Batavia: VIOS dan Oliveo. Untuk sekadar diketahui klub Vios Batavia adalah semacam cikal bakal The Orange Persija. Klub VIOS seragamnya juga oranye dengan celana warna hitam. Sedangkan Sidolig (cikal bakal Persib) Badoeng dengan seragam biru putih (balauw-witten) Lihat iklan pertandingan tahun 1927 antara VIOS dan Sidolig.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar