*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini
Museum Sumpah Pemuda adalah museum sejarah khusus yang menjadi saksi bisu tempat dibacakannya ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Terletak di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, gedung kolonial ini awalnya merupakan rumah indekos mahasiswa bernama Commensalen Huis milik Sie Kong Liong. Di sinilah para pemuda dari berbagai daerah berkumpul, berdiskusi, hingga akhirnya melahirkan momentum persatuan bangsa Indonesia..Sejarah Bahasa Indonesia
Sie Kong Lian (3 Januari 1877-1954) adalah seorang warga Indonesia keturunan Tionghoa yang berjasa besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai pemilik rumah kos di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta, yang menjadi lokasi pembacaan ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Rumah tersebut kini berdiri tegak sebagai Museum Sumpah Pemuda. Sie Kong Lian merupakan seorang pedagang kasur di pasar Jakarta dan dikenal memiliki keahlian kungfu. Sie Kong Lian sendiri tidak tinggal di Kramat Raya 106, melainkan menetap di kediamannya di Jalan Senen Raya. Rumah di Jalan Kramat Raya didirikan pada awal abad ke-20 dan disewakan sebagai tempat kos bagi para pelajar STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) dan Rechtsschool (sekolah hukum) sejak tahun 1908. Sejumlah tokoh penting bangsa pernah indekos di rumah ini, termasuk Mohammad Yamin, Amir Sjarifuddin, Sugondo Djojopuspito, Assaat, dan Abu Hanifah. Sejak tahun 1927, gedung ini resmi disewa oleh organisasi pemuda dan dinamakan Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw sebagai wadah diskusi kebangsaan. Rumah kos ini menjadi lokasi persinggahan akhir Kongres Pemuda II sekaligus tempat dikumandangkannya ikrar Sumpah Pemuda 1928 (AI Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Sie Kong Lian dan Kongres Pemuda? Nama Sie Kong Lian adalah satu hal dan Kongres Pemuda adalah hal lain. Ledikanten Handel Firma di Jalan Pasar Senen No 95 Weltevreden diduga kuat adalah milik Sie Kong Lian. Lalu bagaimana sejarah Sie Kong Lian dan Kongres Pemuda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Catur di Indonesia
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Sie
Kong Lian dan Kongres Pemuda; Ledikanten Handel Firma di Jalan Pasar Senen No
95 Weltevreden
Museum Sumpah Pemuda pada masa ini dijadikan sebagai warisan sejarah pemuda. Secara geografis terletak di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat. Namun yang menjadi fokus penyelidikan sejarah dalam hal ini adalah bagaimana sejarah bangunan tersebut. Lalu kemudian bagaimana kaitannya dengan Sie Kong Lian dan tempat dibacakannya ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Bangunan yang penah dimiliki Sie Kong Lian adalah satu hal. Museum Sumpah Pemuda adalah hal lain. Satu yang jelas bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 tidak terinformasikan adanya pemuda bersumpah. Yang terinformasikan adalah bahwa para pemuda melakukan Kongres Pemoeda, yang hasilnya disebut Poetoesan Kongres yang terdiri dari tiga poin utama: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa: Indonesia. Jadi yangt dibacakan adalah hasil putusan kongres. Soal pemuda bersumpah baru terinformasikan pada tahun 1953.
Lantas bagaimana bangunan Museum Sumpah Pemuda bermula? Yang jelas sejak dulu hingga sekarang nama jalan dan nomornya tetap sama: Jalan Kramat No, 106. Pertama kali terinformasikan pada tahun 1909 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 03-05-1909). Disebutkan “untuk fotografi artistik, Atelier, RB Creak. Kramat 108. Tetangganya tentu saja No. 106.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Ledikanten Handel Firma di Jalan Pasar Senen No 95 Weltevreden, Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta Pusat
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar