Tampilkan postingan dengan label SEJARAH INDONESIA Jilid 1-10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH INDONESIA Jilid 1-10. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2026

Sejarah Indonesia Jilid 6-6: Semua Orang Belanda Bisa Berbahasa Indonesia; Tidak Semua Orang Indonesia Bisa Bahasa Melayu


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Ada satu anomali yang sangat besar di Indonesia tentang penyebaran bahasa Eropa. Dalam hal ini bahasa Belanda di Indonesia pada masa ini hampir tidak meninggalkan bekas dalam penggunaannya. Berbeda dengan di Amerika Serikat dan Australia lestari bahasa Inggris, demikian juga bahasa-bahasa Spanyol dan bahasa Portugis (plus bahasa Belanda) di negara-negara Amerika Latin. Di Malaysia dan Filipina bahkan masih terasa jejak-jejak penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Spanyol. Sejarah Bahasa Indonesia


Semasa Pemerintah Hindia Belanda, tidak semua, tetapi sebagian besar orang Belanda bisa atau setidaknya memahami bahasa Melayu. Kemampuan ini merupakan kebutuhan praktis karena bahasa Melayu berfungsi sebagai lingua franca atau bahasa perantara di seluruh kepulauan. Orang Belanda yang tinggal di Hindia Belanda harus berkomunikasi dengan pembantu rumah tangga, pedagang di pasar, dan pekerja pribumi yang umumnya tidak mengerti bahasa Belanda. Pemerintah kolonial menggunakan bahasa Melayu untuk urusan administrasi dengan pegawai pribumi tingkat rendah karena penguasaan bahasa Belanda di kalangan pribumi sangat dibatasi oleh kebijakan pemerintah. Di kalangan militer dan kantor pemerintahan, dikenal istilah Dienstmaleisch (Melayu Kedinasan), yaitu bentuk bahasa Melayu sederhana yang digunakan oleh pejabat Belanda untuk memberi perintah atau berinteraksi dengan bawahan pribumi. Banyak orang Belanda di Hindia adalah keturunan campuran (Indo). Mereka sering dibesarkan oleh pengasuh pribumi (babu), sehingga bahasa pertama atau bahasa yang lebih mereka kuasai dalam kehidupan sehari-hari sering kali adalah bahasa Melayu atau bahasa daerah, bukan bahasa Belanda (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah semua Orang Belanda bisa berbahasa Indonesia? Seperti disebut di atas, semasa Pemerintah Hindia Belanda, sejatinya semua orang Belanda bisa berbahasa Indonesia. Namun sebaliknya, tidak semua Orang Indonesia bisa berbahasa Melayu. Mengapa? Lalu bagaimana sejarah semua Orang Belanda bisa berbahasa Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Buku-buku yang Sudah Diterbitkan

Sabtu, 07 Maret 2026

Sejarah Indonesia Jilid 4-3: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam Navigasi Pelayaran (Perdagangan) Eropa; Arab vs Iran


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Selat Bab el-Mandeb adalah selat sempit ((chokepoint) yang menjadi jalur perairan strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Selat ini memisahkan dua benua, yakni Asia (Semenanjung Arab) dan Afrika (Timur Laut Afrika). Pada masa ini terletak di antara negara Yaman di sisi Asia, serta Djibouti dan Eritrea di sisi Afrika memiliki lebar sekitar 32 km (20 mil). Pulau Perim membagi selat ini menjadi dua saluran: saluran barat seluas 26 km dan saluran timur (Bab Iskender) seluas 3 km. Dalam bahasa Arab, "Bab el-Mandeb" berarti "Gerbang Air Mata" atau "Gerbang Duka Cita".  Pengantar Metode Riset Bisnis


Selat Hormuz adalah jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sejarah Selat Hormuz mencatat transisi kawasan ini dari pusat perdagangan kuno yang makmur menjadi titik api geopolitik paling strategis di dunia modern. Nama "Hormuz" diambil dari Kerajaan Hormuz kuno yang menguasai wilayah tersebut antara abad ke-10 hingga ke-17. Sejak abad ke-10, selat ini telah menjadi gerbang utama perdagangan dunia yang menghubungkan India dan Tiongkok dengan Timur Tengah serta Eropa. Lokasinya yang strategis membuat kekuatan Eropa, terutama Portugal, menduduki wilayah ini pada awal abad ke-16 untuk mengendalikan jalur rempah-rempah sebelum akhirnya direbut kembali oleh kekuatan lokal (Persia) dengan bantuan Inggris pada 1622. Sejak penemuan cadangan minyak besar di Timur Tengah pada abad ke-20, Selat Hormuz bertransformasi menjadi "urat nadi energi dunia". Kini merupakan jalur bagi sekitar seperlima (20%) pasokan minyak dunia dan lebih dari seperempat perdagangan minyak dan gas maritim global. Secara hukum internasional, Selat Hormuz dikategorikan sebagai perairan internasional yang terbuka bagi pelayaran global, namun secara geografis diapit oleh Iran dan Oman (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam navigasi pelayaran (perdagangan) Eropa? Seperti disebut di atas, dua selat ini sejak dahulu telah menjadi jalur masuk ke Laut Merah dan ke Teluk Persia dalam navigasi pelayaran perdagangan. Pada masa ini terdapat kekuatan Arab di Laut Merah dan kekuatan Iran di Teluk Persia. Lalu bagaimana sejarah Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam navigasi pelayaran (perdagangan) Eropa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Bahasa Indonesia

Minggu, 01 Maret 2026

Sejarah Indonesia Jilid 6-5: Nama Indonesia dan Kongres Hindia di Belanda 1917; Nama-Nama Mahasiswa Usulkan Nama Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Dja Endar Moeda pernah menyatakan di Padang pada tahun 1897 bahwa pendidikan dan jurnalis sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mendirikan organisasi kebangsaan Indonesia pertama di Padang dengan nama “Medan Perdamaian”. Organisasi kebangsaan Indonesia pertama di Belanda didirikan oleh Soetan Casajangan pada tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging. Setelah Indische Vereeniging mengusulkan nama Indonesia dalam Kongres Hindia 1917 di Den Haag, Sorip Tagor pada tahun 1919 menyatakan bahwa pendidikan dan politik sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”. Sejarah Bahasa Indonesia


Meskipun pencetusan nama Indonesia secara ilmiah dimulai sejak 1850 oleh George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan, penggunaan nama tersebut dalam konteks politik formal oleh mahasiswa Indonesia di Belanda tercatat pada Kongres Hindia 1917 (Indische Congres) yang diselenggarakan di Den Haag. Pada kongres ini, gagasan untuk menggunakan nama "Indonesia" sebagai pengganti "Hindia Belanda" mulai menguat di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Evolusi Penggunaan Nama: 1850: Nama Indonesia awalnya dicetuskan oleh George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan sebagai istilah geografis untuk kepulauan Hindia Timur; 1917: Nama "Indonesia" diusulkan secara lebih luas dalam forum Kongres Hindia sebagai identitas bangsa; 1922: Indische Vereeniging mulai menggunakan kata "Indonesia" dalam tujuan politiknya; 1925: Organisasi tersebut resmi berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia; 1928: Nama Indonesia dikukuhkan secara nasional melalui Sumpah Pemuda; 1945: Nama Indonesia diadopsi dalam konstitusi negara Republik Indonesia (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah nama Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917? Seperti disebut di atas, nama Indonesia diusulkan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Indische Vereeniging dalam pada Kongres Hindia 1917 di Den Haag. Dalam hal ini siapa saja nama-nama mahasiswa yang hadir dalam pengusulan nama Indonesia tersebut? Lalu bagaimana sejarah nama Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Mahasiswa di Indonesia

Minggu, 22 Februari 2026

Sejarah Indonesia Jilid 9-4: Alumni Teknik Delft (TU Delft) Kembali ke Tanah Air dan Berjuang; Tan, Soerachman, Sarengat, Han


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Beberapa hari lalu nama Sekolah Tinggi Teknil Delft (sekarang TU Delft) menjadi perhatian para netizen Indonesia. TU Delft merupakan universitas teknologi tertua dan terbesar di Belanda, menempati peringkat ke-47 dunia dalam QS World University Rankings 2026. Fokus utamanya mencakup teknik sipil, teknologi air, hingga kedirgantaraan. Bukan tentang hal itu, tetapi tentang salah satu alumninya. Artikel ini membicarakan tentang sejarah orang Indonesia di TU Delft sejak alumni orang Indonesia pertama 132 tahun yang lalu. Sejarah Mahasiswa di Indonesia


Alumni Delft University of Technology (TU Delft) asal Indonesia memiliki kontribusi besar dalam bidang teknik dan teknologi, didukung oleh jaringan organisasi resmi di Indonesia. TU Delft Chapter Indonesia merupakan wadah resmi bagi para alumni di Indonesia untuk berjejaring dan berkolaborasi. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft berperan sebagai jembatan bagi mahasiswa aktif dan calon alumni, rutin mengadakan acara budaya dan akademik. Para lulusan TU Delft juga tergabung dalam payung besar Ikatan Alumni PPI (IAPPI) yang sering berkolaborasi dengan lembaga seperti BRIN. Banyak tokoh Indonesia lulusan TU Delft yang berkiprah di pemerintahan, akademisi, dan industri teknik: Bimo Sasongko: Menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Jerman (2020-2023) dan aktif dalam jaringan alumni TU Delft. Made Tri Ari Penia Kresnowati: Salah satu akademisi ternama yang tercatat dalam daftar alumni. Oetarjo Diran: Tokoh penerbangan Indonesia yang dikenal luas sebagai pakar kedirgantaraan. Pangeran Poerbojo: Tokoh sejarah Indonesia yang menempuh pendidikan di sana. Dwi Hartanto: Pernah menjadi mahasiswa doktoral di TU Delft sebelum terlibat dalam kasus klaim prestasi yang tidak akurat. Dwi Sasetyaningtyas: Alumni penerima beasiswa yang baru-baru ini menjadi perhatian publik terkait status kewarganegaraan dan pengabdian pasca-studi (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah para alumni Teknik Delft (TU Delft) kembali ke tanah air dan berjuang? Seperti disebut di atas, para alumni TU Derlft kini menjadi perhatian, tetapi sejak temnpo doeloe sudah banyak orang Indonesia studi di Delft seperti Tan Tjioen Liang lulus tahun 1894, Sarengat (1920), Han Tiauw Tjong (1920), Soerachman (1922) dan seterusnya. Lalu bagaimana sejarah para alumni Teknik Delft (TU Delft) kembali ke tanah air dan berjuang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 21 Februari 2026

Sejarah Indonesia Jilid 10-5: AI di Penulisan Sejarah, Sejarah Itu Narasi Fakta dan Data; Ini Tentang Buku Sejarah Indonesia 10 Jilid


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Apakah sudah terbit buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” sebanyak 10 jilid dalam bentuk ebook? Tampaknya belum. Sebagaimana pernah dijanjikan Kementerian Kebudayaan bahwa buku Sejarah Indonesia sebanyak 10 jilid akan dibuka akses ke publik pada bulan Februari ini dalam bentuk ebook (gratis). Hari ini sudah berada di hari-hari terakhir bulan Februari. Mengapa buku 10 jilid itu perlu kita baca? Sejarah adalah narasi fakta dan data, narasi tentang yang benar-benar terjadi dan ada buktinya. Buku-buku yang Sudah Diterbitkan


Kecerdasan Buatan (AI) memungkinkan sejarawan untuk memproses volume data yang sangat besar dalam waktu singkat melalui teknik text-mining. Platform seperti Transkribus menggunakan teknologi AI untuk membaca dan mentranskripsikan tulisan tangan kuno (seperti Latin abad pertengahan atau Gotik) yang sulit dibaca mata manusia. AI tidak hanya membantu dalam bentuk teks, tetapi juga dalam menghidupkan kembali masa lalu secara visual. Alat seperti HyperWrite atau Squibler dapat membantu menyusun draf narasi peristiwa sejarah atau fiksi sejarah berdasarkan basis data yang luas. Meskipun efisien, penggunaan AI dalam sejarah memiliki risiko yang signifikan. AI sering menghasilkan "halusinasi" berupa referensi atau kutipan palsu dan dapat membawa bias dari data pelatihan yang digunakan. Terdapat kekhawatiran bahwa AI dapat menyederhanakan peristiwa kompleks secara berlebihan atau menciptakan narasi sejarah palsu (deepfake). Menirukan tokoh sejarah dengan AI berisiko meremehkan pengalaman hidup asli individu tersebut. Secara umum, AI dianggap sebagai alat bantu, bukan rekan penulis. Untuk mendapatkan hak cipta penuh, kontribusi kreatif manusia tetap menjadi syarat utama (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah AI dan penulisan sejarah (sejarah adalah narasi fakta dan data)? Seperti disebut di atas, Indonesia sekarang telah memiliki buku sejarah terbaru sebanyak 10 jilid. Apakah isi buku itu sesuai dengan dinamika kebangsaan dalam arus global? Itu satu hal. Lalu bagaimana sejarah AI dan penulisan sejarah (sejarah adalah narasi fakta dan data)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 19 Februari 2026

Sejarah Indonesia Jilid 9-3: Ijazah dan Gelar; Disertasi Para Doktor Indonesia di Belanda Diterbitkan Secara Publik Dapat Diakses Kini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Sejarah penipuan disertasi berakar dari manipulasi akademik, termasuk plagiarisme, pemalsuan data, atau penggunaan jasa joki, yang merusak integritas ilmiah. Penipuan ini sering kali bertujuan untuk memperoleh gelar secara tidak sah, yang berpotensi melanggar hukum dan etika. Kasus-kasus ini tergolong kejahatan intelektual yang serius. Pengantar Metode Riset Bisnis


Sejarah penipuan disertasi merupakan bagian dari fenomena academic fraud (kecurangan akademik) yang mencakup plagiarisme, fabrikasi data, hingga penggunaan jasa penulisan atau joki. Berdasarkan tinjauan akademik, penipuan dalam disertasi umumnya terjadi dalam bentuk: Plagiarisme, mengambil karya orang lain dan mengakuinya sebagai milik sendiri tanpa atribusi yang tepat. Fabrikasi Data: Memalsukan data penelitian untuk mendukung hipotesis tertentu. Joki Disertasi (Contract Cheating, menggunakan jasa pihak ketiga untuk menuliskan disertasi, yang seringkali melibatkan transaksi finansial besar. Akses "Jalur Cepat", kasus di mana mahasiswa mendapatkan gelar doktoral dalam waktu yang tidak wajar atau tanpa melalui proses perkuliahan yang seharusnya. Diederik Stapel: Seorang profesor psikologi sosial asal Belanda yang melakukan fabrikasi data secara masif dalam berbagai publikasi dan membimbing mahasiswa doktoral dengan data palsu. Beberapa pejabat tinggi Jerman, seperti Menteri Pertahanan Karl-Theodor zu Guttenberg (2011) dan Menteri Pendidikan Annette Schavan (2013), mengundurkan diri setelah disertasi mereka terbukti mengandung plagiarisme masif. Di Indonesia, isu penipuan dan integritas disertasi sering kali melibatkan tokoh publik atau akademisi. Penipuan disertasi memiliki dampak hukum dan reputasi yang serius: Pencabutan Gelar, Sanksi Hukum, Kerugian Institusi (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah ijazah dan gelar? Seperti disebut di atas, untuk mendapat gelar akademik biasanya harus memenuhi persyaratan laporan riset akademik. Disertasi para doktor Indonesia di Belanda diterbitkan ke publik yang dapat diakses hingga kini. Lalu bagaimana sejarah ijazah dan gelar? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 10 Februari 2026

Sejarah Indonesia Jilid 5-4: Nama Indonesia oleh JR Logan versus GSW Earl; Nusantara, Hindia Timur, Hindia Belanda dan Insulinde


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Nama "Indonesia" berasal dari bahasa Yunani, yaitu Indus (Hindia) dan nesos (pulau-pulau), yang secara harfiah berarti Kepulauan Hindia. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh dua orang Inggris, George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan, pada tahun 1850 dalam jurnal ilmiah untuk merujuk wilayah kepulauan Hindia Belanda.Sejarah Mahasiswa di Indonesia

 

Asal-usul nama Indonesia berasal dari gabungan dua kata bahasa Yunani Kuno, yaitu Indos yang berarti "India" atau "Hindia", dan nesos yang berarti "pulau-pulau". Jika digabungkan, Indonesia berarti "Kepulauan Hindia". Nama Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh dua ilmuwan asal Inggris, George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan, dalam jurnal ilmiah Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) di Singapura tahun 1850. George Samuel Windsor Earl awalnya mengusulkan dua istilah, yakni Indunesians atau Malayunesians. Earl sendiri lebih memilih Malayunesians karena dianggap lebih mewakili ras Melayu. James Richardson Logan memilih istilah Indunesia yang diusulkan Earl, namun ia mengubah huruf "u" menjadi "o" sehingga menjadi Indonesia agar pengucapannya lebih baik. Etnolog Jerman, Adolf Bastian, tahun 1884 mempopulerkan nama Indonesia melalui bukunya Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels. Karena buku ini, istilah tersebut mulai dikenal luas di kalangan akademisi. Pada awal abad ke-20, para tokoh pergerakan nasional mengadopsi nama "Indonesia" sebagai identitas politik melawan penjajah, menggantikan istilah Hindia Belanda (Netherlandsch-Indie) (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah nama Indonesia oleh JR Logan versus GSW Earl? Seperti disebut di atas, nama Indonesia pertama kali diusulkan oleh JR Logan versus GSW Earl. Nama sebelumnya adalah Nusantara, Hindia Timur, Hindia Belanda dan Insulinde. Lalu bagaimana sejarah nama Indonesia oleh JR Logan versus GSW Earl? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 02 Februari 2026

Sejarah Indonesia Jilid 10-4: Prabowo Ingat "Mereka yang Lupa Sejarah Akan Dihukum Sejarah";Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Jasmerah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Mereka yang lupakan sejarah akan dihukum sejarah. Sejarah Indonesia yang baru telah ditulis. Kementerian Kebudayaan menjanjikan buku Sejarah Indonesia sebanyak 10 jilid akan dibuka akses ke publik pada bulan Februari ini dalam bentuk ebook (gratis). Dalam hal ini sejarah tetaplah sejarah. Hanya saja banyak narasi sejarah yang tidak benar. Sejarah yang benar jangan sekali-kali dilupakan dan melupakan sejarah yang benar akan dihukum sejarah. Pengantar Bisnis di Perguruan Tinggi


Prabowo: Mereka yang Lupakan Sejarah Akan Dihukum Sejarah Kompas.com, 2 Februari 2026: ‘Presiden Prabowo Subianto mengingatkan pentingnya memahami sejarah Indonesia. Menurutnya, bangsa yang lupa akan masa lalunya berisiko terjebak kembali dalam pola ketergantungan dan ketidakadilan global. Presiden menyoroti dinamika politik global dan standar ganda negara-negara besar. "Kita ini diintervensi, diganggu, bahkan dijajah, ini harus kita (me)ngerti, kita harus paham", ujar Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). "Mereka yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah," sambungnya. Prabowo menekankan, mereka yang melupakan sejarah akan terbelit dalam kesalahan-kesalahan yang dilakukan di masa lalu. Prabowo pun mengajak masyarakat melihat bagaimana kondisi dunia saat ini yang sebenarnya. Menurutnya, negara-negara yang dulu mengajarkan tentang hak asasi manusia hingga demokrasi, kini justru melanggar apa yang mereka ajarkan. "Karena kita mendapat kesempatan hari ini, kita mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana dunia sebenarnya, kita melihat sekarang negara-negara besar yang mengajarkan kita untuk demokrasi, untuk hak asasi manusia, untuk the rule of law, untuk menjaga lingkungan hidup, merekalah yang melanggar apa yang mereka ajarkan," tukas Prabowo. Prabowo pun mempertanyakan di mana hak asasi manusia dan demokrasi yang diajarkan negara besar tersebut. "Puluhan ribu wanita, orang tua, anak-anak tidak berdosa dibantai, dan banyak negara yang diam. Di mana hak asasi manusia? Di mana demokrasi yang mereka ajarkan?" imbuhnya’. 

Lantas bagaimana sejarah mereka yang lupakan sejarah akan dihukum sejarah? Seperti disebut di atas, setelah Presiden Soekarno pernah  mengingatkan “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kini Presiden Prabowo mengingatkan “mereka yang lupakan sejarah akan dihukum sejarah”. Apa maksud dariperingatan itu semua pada masa kini? Yang jelas, dunia sedang tidak baik-baik saja. Lalu bagaimana sejarah mereka yang lupakan sejarah akan dihukum sejarah? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 06 Desember 2025

Sejarah Indonesia Jilid 10.3: Hari Sejarah Nasional - Buku “Penulisan Ulang” Sejarah Indonesia; Sejarah = Narasi Fakta dan Data


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Hari Sejarah Nasional Indonesia diperingati setiap tahun pada tanggal 14 Desember. Penetapan tanggal 14 Desember sebagai Hari Sejarah Nasional berawal dari acara Seminar Sejarah Nasional I yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 14-16 Desember 1957. Seminar itu bertujuan untuk mengumpulkan dan menginterpretasikan kembali sejarah nasional Indonesia dari sudut pandang bangsa sendiri, yang sebelumnya banyak ditulis oleh sejarawan Belanda. Lalu bagaimana dengan masa ini? Tanggal 14 Desember dekat ini disebut Buku “Penulisan Ulang” Sejarah Indonesia akan diluncurkan. 


Hari Sejarah Nasional dirayakan setiap tanggal 14 Desember. Hari Sejarah Nasional ini digagas sejak tahun 2014 oleh berbagai kalangan masyarakat yang melibatkan asosiasi profesi, unsur pemerintah, komunitas kesejarahan, guru, dosen dan mahasiswa sejarah se-Indonesia. Bangsa Indonesia telah lama memiliki kesadaran sejarah. Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia, masalah sejarah nasional mendapat perhatian yang besar: Pertama, munculnya gerakan Indonesianisasi. Kedua, orang-orang dan bangsa Indonesia-lah yang menjadi subjek/pembuat sejarah, mereka tidak lagi hanya sebagai objek seperti pada historiografi kolonial. Seminar sejarah pertama diadakan oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudayaan dan diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia, tanggal 14-18 Desember 1957 di Yogyakarta. Seminar ini diadakan dengan tujuan untuk mengumpulkan berbagai pendapat dan saran-saran sebagai bahan pertimbangan untuk menyusun sejarah nasional Indonesia secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Pada kongres kedua namanya diubah menjadi ‘Seminar Nasional Sejarah’ yang membicarakan rencana untuk pembuatan sebuah buku sejarah nasional baru yang dapat dijadikan buku referensi. Demikianlah tanggal 14 Desember kemudian diperingati sebagai Hari Sejarah Nasional (Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah hari sejarah nasional dan buku “penulisan ulang” Sejarah Indonesia? Seperti disebut di atas, di Indonesia ada Hari Sejarah Nasional. Itu berarti ada hari sejarah daerah. Satu yang jelas di Belanda tidak memiliki satu "hari sejarah" nasional tunggal. Okelah, yang penting dalam penulisan buku sejarah; sejarah adalah narasi fakta dan data. Lalu bagaimana sejarah hari sejarah nasional dan buku “penulisan ulang” Sejarah Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. 

Senin, 10 November 2025

Sejarah Indonesia Jilid 7.3: Hari Pahlawan, Pahlawan Indonesia dan Gelar Pahlawan Nasional; Dr Soetomo dan Bung (Su)Tomo


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Pagi ini (10-11-2025) Presiden RI Prabowo Subianto membuka hari pahlawan dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh baru. Artikel ini tidak sedang membicarakan itu, melainkan tentang para pahlawan Indonesia, hari pahlawan dan gelar pahlawan nasional di kota pahlawan Surabaya. Ada dua nama menggunakan Soetomo, yakni Dr Raden Soetomo dan Soetomo alias Bung Tomo.  


Gelar Pahlawan Nasional di Indonesia adalah penghargaan tertinggi dari negara yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang dianggap berjasa luar biasa bagi bangsa dan negara.  Pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh baru. Penerima Gelar Pahlawan Nasional Terbaru (10 November 2025). Berikut adalah 10 tokoh yang baru saja menerima gelar Pahlawan Nasional: Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (Jawa Timur); Jenderal Besar TNI Soeharto (Jawa Tengah); Marsinah (Jawa Timur); Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat; Hajjah Rahmah El Yunusiyah (Sumatera Barat); Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo (Jawa Tengah); Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat); Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur); dr. Kariadi (Jawa Tengah); Zainal Abidin Syah (Maluku Utara). Dasar Hukum dan Kriteria: Pemberian gelar Pahlawan Nasional diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2010.  Syarat umum untuk menjadi Pahlawan Nasional antara lain: Warga Negara Indonesia atau seseorang yang berjuang di wilayah NKRI; Memiliki integritas moral dan keteladanan; Berjasa secara signifikan bagi bangsa dan negara, yang berdampak luas bagi kemajuan, kesejahteraan, dan martabat bangsa; Tidak pernah berkhianat kepada bangsa dan negara; Gugur atau meninggal dunia bukan akibat perbuatan tercela; Proses pengusulan dapat dimulai dari masyarakat atau pemerintah daerah, kemudian dibahas di tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga Kementerian Sosial, sebelum diajukan kepada Presiden melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan untuk mendapatkan persetujuan akhir  (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Indonesia, Hari Pahlawan dan Gelar Pahlawan Nasional? Seperti disebut di atas, banyak Pahlawan Indonesia, tetapi hanya sedikit yang mendapat gelar Pahlawan Nasional. Bagaimana dengan Dr Soetomo dan Bung Tomo di Soerabaja? Lalu bagaimana sejarah Pahlawan Indonesia, Hari Pahlawan dan Gelar Pahlawan Nasional? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 13 Oktober 2025

Sejarah Indonesia Jilid 6.4:Pemuda, Kongres Pemuda, Sumpah Pemuda; Sejarah Kongres Pemuda di Indonesia dari Dulu hingga Kini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Beberapa kesalahan narasi atau mitos yang sering muncul tentang Kongres Pemuda, khususnya Kongres Pemuda II (1928), antara lain adalah: Istilah "Sumpah Pemuda" tidak ada pada tahun 1928. Peserta kongres tidak semuanya bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Orang Tionghoa memiliki peran penting dalam Kongres. Kongres Pemuda II diselenggarakan di gedung milik Sie Kong Lian, dan ada peserta keturunan Tionghoa, seperti Kwee Thiam Hong. Keterlibatan mereka sering diabaikan dalam narasi sejarah yang lebih populer.


Narasi populer tentang Kongres Pemuda sering kali mengandung kesalahan atau interpretasi yang keliru. Berikut beberapa kesalahan narasi yang umum terjadi: 1. Istilah "Sumpah Pemuda" tidak ada pada tahun 1928, baru muncul tahun 1950-an. Dokumen aslinya adalah "Putusan Kongres". 2. Kongres berlangsung dalam satu kesatuan yang mulus. Narasi yang keliru: Para pemuda dari berbagai daerah langsung bersatu dan bersepakat tanpa ada perdebatan yang berarti. Terdapat perdebatan sengit, terutama pada Kongres Pemuda I (1926). Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa persatuan pemuda adalah hasil dari proses diskusi yang panjang dan tidak selalu mulus.  3. Bahasa Indonesia sudah digunakan secara lancar oleh semua peserta. Narasi yang keliru: Semua peserta Kongres Pemuda II fasih menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam diskusi. Fakta sejarah: Beberapa peserta, termasuk pimpinan sidang seperti Soegondo Djojopoespito, masih terlihat kesulitan berbahasa Indonesia dan lebih fasih berbahasa Belanda atau bahasa daerah. Namun, hal ini tidak mengurangi semangat mereka untuk menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, yang menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya bahasa pemersatu.  4. Sumpah Pemuda adalah hasil dari satu peristiwa tunggal. Narasi yang keliru: Sumpah Pemuda hanya merupakan hasil dari Kongres Pemuda II yang terjadi pada 28 Oktober 1928. Fakta sejarah: Kongres Pemuda II adalah puncak dari upaya panjang yang dimulai sejak Kongres Pemuda I pada 1926 (AI Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah pemuda, Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda? Seperti disebut di atas, banyak hal keliru dalam narasi sejarah pemuda, sejarah Kongres Pemuda dan sejarah Sumpah Pemuda. Narasi hanya merujuk pada Kongres Pemuda 1926 dan 1928 saja. Faktanya tidak demikian. Apakah nama kongres saat itu disebut Kongres Pemuda? Jadi, kapan istilah Sumpah Pemuda ada? Fakta yang ada adalah Poetoesan Kongres, isinya menyatakan “Kami Poetra dan Poetri Indonesia Mengakoe...Indonesia”. Lalu bagaimana sejarah pemuda, Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 01 September 2025

Sejarah Indonesia Jilid 8-3: Demonstrasi Bubarkan Parlemen 1952 Diinisiasi Militer; Kini Era Gerakan Mahasiswa dan Pekerja


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Demonstrasi ke DPR tahun 1998 sebagai gerakan Reformasi yang menuntut pengunduran diri Presiden Soeharto, diawali oleh krisis ekonomi Asia dan memuncak setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998. Demonstrasi ini dimotori oleh mahasiswa. Demonstrasi ke DPR tahun 2025 ini yang dimotori oleh para pekerja (buruh) antara lain menuntut bubarkan DPR, yang antara lain dipicu perdebatan publik tentang tunjangan DPR yang dianggap tinggi. Demonstrasi ke parlemen (DPR) tahun 1952 dimotori oleh militer, suatu demosntrasi besar pertama di Indonesia.


Demonstrasi 1952 merujuk pada Peristiwa 17 Oktober 1952, sebuah aksi militer yang dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) AH Nasution bersama 30.000 massa, yang menuntut pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) karena dianggap terlalu mengintervensi militer dan menunda-nunda pemilihan umum yang diperlukan. Aksi ini mengakibatkan moncong tank dan meriam diarahkan ke Istana Merdeka, namun Presiden Soekarno menolak tuntutan tersebut dengan alasan tidak ingin menjadi diktator, serta berjanji akan mempercepat pemilu. Latar Belakang: Ketidakpuasan Militer terhadap DPRS: Para perwira militer tidak puas dengan campur tangan DPRS yang berulang kali mengintervensi urusan-urusan militer. Penundaan Pemilu: DPRS dianggap menunda-nunda pelaksanaan pemilihan umum yang seharusnya segera dilaksanakan untuk mengganti badan perwakilan tersebut (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah demonstrasi bubarkan parlemen tahun 1952 diinisiasi militer? Seperti disebut di atas, demonstrasi ke parlemen (DPR) tahun 1952 dianggap sebagai suatu demonstrasi besar pertama di Indonesia. Kini era gerakan mahasiswa dan pekerja demonstrasi ke DPR (Parlemen). Lalu bagaimana sejarah demonstrasi bubarkan parlemen tahun 1952 diinisiasi militer? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 30 Agustus 2025

Sejarah Indonesia Jilid 5-3: Habib Abdoe’r Rahman Alzahir di Atjeh; Seputar Hubungan Kesultanan Turki dan Kesultanan Atjeh


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Habib Abdoe'r Rahman Alzahir adalah seorang pemimpin politik, agama, dan diplomatik keturunan Hadhrami yang lahir pada tahun 1833 di India dan meninggal pada tahun 1896. Ia berperan penting sebagai pejuang melawan penjajahan Belanda di Kesultanan Aceh pada abad ke-19, menjabat sebagai menteri luar negeri dan kemudian menjadi perwakilan Aceh di Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) untuk mencari dukungan.

 

Peran dan Karier Politik: Perlawanan terhadap Belanda: Habib Abdoe'r Rahman Alzahir memimpin perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda selama Perang Aceh, yang berlangsung dari tahun 1873 hingga 1904. Menteri Keuangan dan Perwakilan Aceh: Ia menjabat sebagai menteri luar negeri dan kemudian juga berperan sebagai pemimpin politik di Kesultanan Aceh Darussalam. Diplomasi dengan Utsmaniyah: Ia melakukan perjalanan ke Istanbul untuk mendapatkan dukungan dari Kesultanan Utsmaniyah untuk Aceh melawan Belanda. Latar Belakang dan Keturunan: Kelahiran dan Keluarga: Ia lahir di Desa Bedqara, India, pada tahun 1833. Asal-usul Hadhrami: Ia merupakan keturunan Hadhrami dari Sadah Alawiyyin di Yaman, dan garis keturunannya bersambung kepada Sayyid Abdurrahman bin Masyhur bin Abu Bakar Az-Zahir (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Habib Abdoe’r Rahman Alzahir di Atjeh? Seperti disebut di atas, ia berperan penting sebagai pejuang melawan penjajahan Belanda di Kesultanan Aceh pada abad ke-19. Bagaimana  hubungan Kerajaan Turki dan Kerajaan Atjeh? Lalu bagaimana sejarah Habib Abdoe’r Rahman Alzahir di Atjeh? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 27 Agustus 2025

Sejarah Indonesia Jilid 8-2: Kementerian Haji-Umroh di Indonesia; Penyelenggaraan Haji pada Era Pemerintah Hindia Belanda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Sejarah Kementerian Haji dan Umroh di Indonesia besar dugaan belum masuk dalam penulisan Sejarah Indonesia yang tengah ditulis sekarang. Sebab Kementerian Haji dan Umroh di Indonesia baru dibentuk kemarin sore. Jadi usianya masih sangat baru. Namun penyelenggaraan haji oleh pemerintah RI sudah dimulai pada tahun 1951 (pemerintah mulai mengambil alih penyelenggaraan haji dari pihak swasta setelah keluarnya Keputusan Presiden Nomor 53 tahun 1951). Penyelenggaraan haji sendiri di Indonesia sudah berlangsung lama bahkan sejak masa Pemerintah Hindia Belanda.


Lahirnya Kementerian Haji dan Umrah, AMPHURI: Tonggak Sejarah Baru Indonesia. Lusiana Mustinda. Selasa, 26 Agustus 2025. Jakarta - Hari bersejarah tercipta bagi dunia haji dan umrah Indonesia. Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti keluarga besar Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) secara resmi mengesahkan berdirinya Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia pada Selasa (26/8/2025). Bagi AMPHURI, ini bukan sekadar perubahan struktur birokrasi. Ini adalah perwujudan mimpi panjang dan tonggak sejarah baru yang dinanti selama lebih dari tujuh dekade. Selama ini, urusan haji dan umrah diatur di bawah Kementerian Agama bersama urusan keagamaan lainnya. Kini, dengan berdirinya kementerian khusus, Indonesia akhirnya memiliki lembaga negara yang secara penuh dan fokus menangani penyelenggaraan ibadah haji dan umrah. Ketua Umum DPP AMPHURI, Firman M Nur, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut keputusan ini sebagai hasil dari perjuangan panjang yang terus AMPHURI gaungkan, terutama sejak Presiden Prabowo Subianto menyusun kabinet tahun lalu (https://www.detik.com/) 

Lantas bagaimana sejarah Kementerian Haji dan Umroh di Indonesia? Seperti disebut di atas Kementerian Haji dan Umroh di Indonesia baru dimulai kemarin. Penyelenggaraan haji sendiri sudah ada sejak Pemerintah Hindia Belanda. Lalu bagaimana sejarah Kementerian Haji dan Umroh di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 20 Agustus 2025

Sejarah Indonesia Jilid 4-2:Aksara Latin dan Interaksi Nusantara dengan Eropa: Saatnya Menulis Sejarah di Nusantara Tanpa Aksara


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Zaman aksara adalah periode ketika manusia mulai menggunakan sistem tulisan untuk merekam sejarah dan informasi, menandai transisi dari masa prasejarah ke masa sejarah. Aksara memungkinkan manusia untuk menyimpan pengetahuan, mengembangkan ilmu pengetahuan, menciptakan karya seni, dan membangun peradaban yang lebih kompleks. Tanpa aksara, sejarah akan tetap menjadi tradisi lisan, yang rentan terhadap distorsi dan kehilangan.


Sejarah ditulis dengan aksara, yang merupakan sistem simbol tertulis yang digunakan untuk merepresentasikan bahasa. Aksara memungkinkan manusia untuk mencatat dan melestarikan informasi, ide, dan cerita dari generasi ke generasi, memungkinkan perkembangan peradaban. Tanpa aksara, sejarah akan tetap menjadi tradisi lisan, yang rentan terhadap distorsi dan kehilangan. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai sejarah penulisan dan aksara: Asal Usul: Tulisan dimulai dengan gambar sederhana (piktogram dan ideogram) yang kemudian berkembang menjadi sistem simbol yang lebih kompleks. Aksara Tertua: Aksara Cuneiform dari Mesopotamia (sekarang Irak) dan hieroglif Mesir Kuno adalah beberapa aksara tertua yang diketahui. Perkembangan Alfabet: Alfabet Fenisia, yang muncul sekitar 1200 SM, memperkenalkan sistem fonetik yang lebih efisien, yang menjadi dasar bagi banyak aksara modern. Aksara Nusantara: Di Indonesia, aksara-aksara seperti Pallawa, Jawa Kuno, dan Bali berkembang dari Aksara Brahmi India, menunjukkan pengaruh budaya India pada masa lalu (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah aksara Latin dan interaksi Nusantara dengan Eropa? Seperti disebut di di atas, bahwa pada masa ini aksara memungkinkan manusia untuk menyimpan pengetahuan, mengembangkan ilmu pengetahuan, menciptakan karya seni, dan membangun peradaban yang lebih kompleks. Bagaimana jika bukti aksara tidak ditemukan? Saatnya menulis sejarah Nusantara tanpa aksara. Lalu bagaimana sejarah aksara Latin dan interaksi Nusantara dengan Eropa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 17 Agustus 2025

Sejarah Indonesia Jilid 5-2: Edward Douwes Dekker, HN van der Tuuk, AP Godon dan Charles Adrian v Ophuijsen; Siapa Mereka?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Pada hari ini perayaan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2025 ada baiknya ditanyakan AI, apakah semasa penjajahan ada tokoh humanis Belanda.  Disebut sejumlah nama: Edward Douwes Dekker menulis novel "Max Havelaar" mengkritik sistem tanam paksa dan penindasan terhadap rakyat. Conrad Theodore van Deventer pengacara dan penulis, salah satu tokoh Politik Etis. Selain itu, Pieter Brooshooft, seorang jurnalis dan sastrawan, turut menyuarakan penderitaan rakyat akibat tanam paksa. Fransen van de Putte politikus yang menentang sistem tanam paksa. HH van Kol politikus dan anggota parlemen Belanda yang aktif dalam gerakan Politik Etis.


Eduard Douwes Dekker dikenal dengan nama pena Multatuli. Ia adalah seorang penulis Belanda yang terkenal karena novel satirnya, Max Havelaar, yang mengkritik perlakuan buruk penjajah terhadap penduduk pribumi di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Herman Neubronner van der Tuuk, disingkat H.N. van der Tuuk, adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda yang lahir pada 24 Oktober 1824 di Malaka. Ia dikenal sebagai peletak dasar linguistik modern untuk beberapa bahasa di Nusantara, seperti bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Batak Toba, Lampung, Kawi (Jawa Kuno), dan Bali. Alexander Philippus Godon lahir di Utrecht 8 Januari 1816. Saat berusia 20 tahun Ia pergi ke Hindia Belanda dan tiba di Batavia 1836. Di Hindia Belanda ia berkenalan dengan Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, Mereka memulai kariernya sebagai Kontrolir di Natal, Mandailing Natal, dan menjadi sahabat. AP Godon dan Multatuli dikenal sebagai orang yang humanis. Charles Adriaan van Ophuijsen lahir 31 Desember 1854 adalah seorang linguis Belanda kelahiran Solok. Ia berperan dalam perumusan Ejaan van Ophuijsen yang digunakan di Hindia Belanda sebelum digantikan dengan Ejaan Republik (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Edward Douwes Dekker, HN van der Tuuk, AP Godon dan Charles Adrian van Ophuijsen? Seperti disebut di atas hanya ada beberapa saja yang tercatat sebagai orang Belanda yang humanis. Siapa mereka? Lalu bagaimana sejarah Edward Douwes Dekker, HN van der Tuuk, AP Godon dan Charles Adrian van Ophuijsen? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.