Sejarah Jakarta (33): Sejarah Anak Gunung Krakatau Sejak 1883, Lahir Di Dasar Laut; Tumbuh Tinggi, Kini Longsor Jadi Tsunami


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Gunung Krakatau di tengah laut di Selat Sunda meletus tahun 1883. Akibat letusan itu, gunung Krakatau di atas permukaan laut hanya tersisa sebagian kecil. Namun kawah yang berada di dasar laut terus bekerja hingga ini hari. Kawah yang sudah berasal dasar laut inilah yang kemudian memunculkan gunung baru di atas permukaan laut yang kini dikenal sebagai Anak Gunung Krakatau.

Ayah, Ibu dan Anak keluarga gunung Krakatau di Selat Sunda
Gunung Anak Krakatau pada hari Sabtu 22 Desember 2018 diduga telah longsor, lalu diduga telah menimbulkan tsunami dan menyebabkan korban jiwa dan kerusakan di sepanjang pantai terdekat seperti Tanjung Lesung. Berita tsunami yang dikaitkan dengan aktivitas Anak Krakatau segera menjadi berita dunia. Menurut perkiraan PVMBG/ESDM hari-hari terakhir ini, setelah Anak Krakatau meletus ketinggiannya telah berkurang dari 338 meter di atas permukaan laut (MDPL) menjadi 110 MDPL.

Anak Krakatau haruslah dipahami ‘lebih galak’ dari ibunya, sebab Anak Krakatau mengikuti gen ayahnya. Oleh karena itu, aktivitas Anak Krakatau haruslah tetap diwaspadai. Gunung Krakatau yang meletus tahun 1883, sejatinya yang meledak adalah ayah dari Anak Krakatau, sedangkan ibunya masih tenang-tenang saja hingga ini hari. Lantas, bagaimana sesungguhnya riwayat keluarga gunung Krakatau tersebut. Untuk memahaminya, mari kita telusuri ke sumber-sumber tempo dulu.