Kamis, 16 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (656): Dimana Ada Jejak Kebudayaan Batak di Nusantara? Malaya, Borneo, Filipina, Sulawesi, Maluku

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Kebudayaan Batak di Nusantara adalah bagian dari kebudayaan nusantara (baca: Asia Tenggara). Secara khusus kebudayaan (suku) Batak dapat dibedakan dengan kebudayaan (suku) bangsa lainnya. Kebudayaan inti (core culture) suku Batak yang dikenali sekarang yang meliputi elemen budaya adalah bahasa (bahasa Batak); sistem pengetahuan (antara lain aksara Batak); sistem teknologi dan peralatan (antara lain bagas godang); sistem kesenian (antara lain musik gordang dan tari tortor); sistem mata pencarian hidup (antara lain bertani); sistem religi (agama tradisi, penghormatan terhadap leluhur); sistem kekerabatan (marga dan dalihan na tolu); dan organisasi kemasyarakatan (bersifat federasi). Elemen-elemen kebudayaan Batak di Sumatra bagian utara (Tapanuli) ini dapat diperbandingkan di berbagai tempat di nusantara (perbedaan dan persamaan).

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budia atau akal), diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur yang berasal dari bahasa Latin yaitu cultura. Clyde Kluckhohn mengemukakan ada tujuh unsur kebudayaan secara universal, yaitu bahasa; sistem pengetahuan; sistem teknologi dan peralatan; sistem kesenian; sistem mata pencarian hidup; sistem religi; sistem kekerabatan; dan organisasi kemasyarakatan. Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak. Sementara itu, menurut Koentjaraningrat, wujud kebudayaan dibagi menjadi nilai budaya, sistem budaya, sistem sosial, dan kebudayaan fisik. Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu: Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu: kebudayaan material;kebudayaan nonmaterial; lembaga sosial; sistem kepercayaan; estetika; bahasa. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah jejak kebudayaan Batak di Nusantara? Seperti disebut di atas, kebudayaan Batak berkembang secara turun temurun di wilayah Sumatra bagian utara, khususnya Tapanuli. Pertanyaan serupa juga berlaku seperti jejak kebudayaan Jawa, Sunda dan Minangkabau di Nusantara. Dalam hal ini, bagaimana kebudayaan Batak terakumulasi (terbentuk) adalah satu hal, dalam hal ini apakah telah terjadi penyebaran kebudayaan Batak sejak masa lampau? Lalu bagaimana sejarah jejak kebudayaan Batak di tempat lain di Nusantara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah Menjadi Indonesia (655): Metode Naif pada Penyelidikan Sejarah; Metodologi Ilmu Pengetahuan Kini Jauh Berkembang

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Pengetahuan sejarah kita masih sangat terbatas. Tidak hanya datanya yang terbatas juga metode-metode dalam upaya menyusun narasi sejarah. Untuk memperbaiki narasi sejarah agar lebih baik dan lebih benar, pengumpulan data terus dilakukan dan analisis data terus disempurnakan. Memang sejarah adalah narasi fakta dan data, tetapi tidak hanya dipahami apa adanya. Kita harus buktikan fakta itu benar nyata dan data yang ada benar-benar valid. Oleh karena itu kita jangan naif, tapi faktanya banyak hasil penyelidikan sejarah menggunakan metode naif.

Terminologi ‘ilmu pengetahuan’ dalam terjemahan bahasa Indonesia (science) haruslah dianggap sebagai kombinasi ilmu dan pengetahuan. Arti ilmu berbeda dengan arti pengetahuan, akan tetapi keduanya berkaitan: tidak sinonim ( tidak setara, tidak substitusi dan tidak saling menggantikan) tetapi berurutan dan bersifat komplemen. Pengetahuan adalah semua yang dicerna (otak) berdasarkan panca indra (mata melihat, hidung membaui, telinga mendengar, lidah mencicipi dan kulit merasakan). Kegiatan membaca teks dianggap fungsi melihat dari mata. Semua hasil; produksi oleh panca indra adalah pengetahuan. Sedangkan ilmu adalah metode atau cara untuk menghasilkan pengetahuan. Dalam hal ini pengetahuan tidak perlu dipelajari, cukup diketahui saja. Sementara ilmu harus dipelajari agar kia bisa menknsruksi caranya, memilih yang sesuai dari yang ada dan susuai dengan ruang lingkupnya (fakta dan data). Ilmu dalam dunia akademik bersifat empiris (ada buktinya) yang dalam hal ini paling tidak ada datanya. Oleh karena itu ilmu dalam akademiki adalah metode mengumpulkan informasi (sebagai data) dan metode menganalis data untuk menghasilkan informasi. Untuk pedoman: Tuntutlah ilmu itu, ketahuilah pengetahuan yang ada. Dengan kata lain jangan menuntut (mempelajari) pengetahuan, tetapi juga jangan hanya sekadar mengetahui ilmu. Yang lebih baik adalah kembangkan ilmu untuk lebih mengembangkan pengetahuan.

Lantas bagaimana sejarah metode naif dalam penyelidikan sejarah? Seperti disebut di atas, metodologi ilmu pengetahuan masa kini telah jauh berkembang dibandingkan masa lalu. Pada era Hindia Belanda dalam penyelidikan sejarah terkesan menggunakan metode naif yang oleh karenanya banyak narasi sejarah yang berasal dari masa lalu (era Hindia Belanda) tidak relevan masa kini. Tapi anehnya, pada masa kini masih banyak yang menggunakan metode naif dalam penyelidikan sejarah. Lalu bagaimana sejarah metode naif dalam penyelidikan sejarah? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..