Sejarah Bukittinggi (6): Benteng Matoea, Timur Danau Maninjau di Agam Akses dari Pelabuhan Tiku; Matur, Lebih Tua Matua


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bukittinggi dalam blog ini Klik Disini

Benteng Matoea adalah salah satu benteng yang dibangun Belanda pada era Perang Padri. Benteng ini lebih muda dari benteng Fort de Kock. Nama benteng diambil dari nama kampong tua di timur danau Manindjaoe, negorij (nagari) Matoea. Benteng yang berada diantara benteng Tikoe dan benteng Fort de Kock dibangun sebagai benteng penghubung (antara Tikoe dan Fort de Kock). Kampong Matoea diduga kuat sudah ada sejak kuno.

Benteng Matoea (Peta 1837)
Negorij, nagari (desa) Matua kemudian terbagi dua: Matoea Moediak (hulu) dan Matoea Hilia (hilir). Dua nagari ini kini termasuk wilayah administratif Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Sementara itu, Matoer awalnya adalah nama laras. Di era Hindia Belanda nama Matoea dan Matoer adakalanya saling tertukar. Laras Matoer ditambahkan ke district Danau sehingga nama onderafdeeling disebut Onderfadeeling Danaudistricten en Matoer, Afdeeling Agam, Residentie Padangsche Bovenlanden.

Lantas seperti apa sejarah Matoea? Satu yang pasti belum pernah ditulis. Lalu apa pentingnya sejarah Matoea ditulis? Satu yang pasti nama Matoea sudah dikenal sejak lama, tidak hanya nama negorij, tetapi juga nama benteng (fort). Benteng Matoea cukup berperan dalam paruh terakhir Perang Padri (dalam pengepungan benteng Bondjol). Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.