Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banten. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Juni 2021

Sejarah Banten (41): Benteng Teluk Banten, Portugis vs Belanda; Benteng VOC Relokasi Pelabuhan Sunda Kalapa (Kasteel Batavia)

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Pada awal kehadiran pelaut-pelaut Belanda di Hindia Timur (nusantara), teluk Banteng terbilang sangat ramai. Aktivitas perdagangan Eropa di teluk dikuasai oleh pedagang-pedagang Portugis. Kehadiran pelaut-pelaut Belanda sejak navigasi pelayaran Belanda pertama di bawah pimpinan Cornelis de Houtman menjadi muncul ketegagnan antara Portugis dan Belanda. Inilah awal perkara pedagang-pedagang Belanda membangun benteng di teluk Banten. Dari benteng inilah pedagang-pedagang Belanda mengincar pelabuhan Sunda Kalapa dan kemudian membangun Kasteel Batavia pada tahun 1619.

Navigasi pelayaran Belanda pertama di Hindia Timur pelabuhan pertama yang dikunjungi adalah pelabuhan Banten bulan Juni 1596. Pada tahun 1605 pelaut-pelaut Belanda menyerang dan mengambilalih benteng Portugis di Amboina. Dengan modal ini pedagang-pedagang Belanda diberi izin Kesultanan Banten untuk membangun pada tahun 1610. Ketegangan antara pedagang-pedagang Portugis dan Belanda di teluk Banten semakin genting yang akhirnya terjadi perang (seperti halnya Portugis terusir dari teluk Amboina, juga terjadi di teluk Banten). Tidak cukup disitu, pada tahun 1613 pelaut-pelaut Belanda menyerang benteng Portugis di Solor dan Coepang. Rata sudah jalan navigasi pelayaran Belanda dari ujung barat (pulau) Jawa hingga Amboina (yang pada saat ini pedagang-pedagang Belanda sudah membangun benteng di pulau Onrust). Seperti kita lihat pada artikel berikut, prakondisi inilah yang menyebabkan pedagang-pedagang Belanda ingin merebut pelabuhan Soenda Kalapa (untuk mendirikan benteng besar, Kasteel Batavia).

Lantas bagaimana sejarah benteng-benteng di teluk Banten? Seperti disebut di atas benteng Belanda di teluk Banten dibangun karena situasi dan kondisi yang terkait dengan perseteruan dengan pedagang-pedagang Portugis, Lalu mengapa kemudian pedagang-pedagang Belanda (VOC) meninggalkannya dan lebih memilih membangun baru benteng di pelabuhan Sunda Kalapa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 28 Januari 2021

Sejarah Banten (40): Nama Suro, Surosowan di Banten; Nama-Nama Tempat pada Zaman Kuno Soerabaija, Soeracarta dan Soeroaso

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Apakah itu Surosowan? Kita hanya fokus pada soal nama saja. Surosowan sendiri adalah nama kraton di Banten. Lantas mengapa ada nama Suro dalam peta-peta Portugis. Suro adalah nama suatu tempat, bukan di Banten tetapi di sekitar gunung Karang. Lalu, apakah nama tempat Suro telah menjadi rujukan dalam penamaan kraton Surosowan di Banten? Nama tempat yang menggunakan nama Suro tidak hanya di Banten, juga ada di wilayah lain.

Nama Suro diduga kuat merujuk pada nama India pada era Hindoe. Nama Suro diduga lebih tua dari nama poera, seperti nama tempat Martapoera, Telainapoera, Indrapoera, Singapoera, Tandjongpoera dan Soekapoera. Seperti nama Poera, nama Suro juga ditemukan di beberapa wilayah seperti Soera-carta, Soera-baija dan Suro-aso. Nama Suroaso terdapat di wilayah Pagaroejoeng. Nama yang mirip dengan nama suro ini adalah Pa-soeroe-an. Tentu saja ada yang mirip dengan nama tempat suro di wilayah lainnya di Sumatra, seperti Saroe-langoen (Djambi) dan Saroe-matinggi (Tapanoeli, bagian selatan) serta Lima Soero (Agam). Dalam tradisi kraton Soeracarta tempo doeloe ada yang disebut suro (nama bulan pertama Muharram; Assura). Namun nama suro juga yang menginsikan penyebutan nama seseorang atau mahluk lain seperti Maharadja Soero (Sultan Siak), Dewa Soero Loijo dan Mantri Djogo Soero, Toemenggoeng Soero di Prano (Palembang). Tentu saja nama Soero Pathi. Nama yang sama dengan Soero-sowan juga ditemukan di Lampoeng (ibu kota Marga Madang).

Lantas bagaimana tentang nama Suro dan Surosowan sendiri di Banten? Tentu saja urusan ini masuk pada bidang geografik dan linguistik, tetapi tidak begitu menarik bagi para sejarawan. Okelah itu satu hal. Hal yang lebih penting adalah bagaima sejarah nama Suro dan Surosowan di Banten? Yang jelas nama Suro lebih awal diidentifikasi sebagai nama tempat dan baru kemudian diidentifikasi sebagai nama kraton. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 27 Januari 2021

Sejarah Banten (39): Presiden Soekarno Berkunjung di Serang, Jauh Di Mata Dekat Di Hati; Ir. Soekarno ke Tapanuli (1932)

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Ir. Soekarno pernah berkunjung ke Tapanoeli pada tahun 1932 yang ditemani oleh Amir Sjarifoeddin Harahap, ketua Pertai Indonesia (Partindo) Afdeeling Batavia dalam rangka sosialisasi partai baru yang dipimpin oleh Mr. Sartono (suksesi PNI yang dilarang Belanda). Itulah kunjungan pertama Ir. Soekarno ke luar negeri (baca: luar Jawa). Pada tahun 1934 Ir. Soekarno diasingkan ke Flores dan tahun 1938 dipindahkan ke Bengkoelen hingga berakhirnya era kolonial Belanda 1942. Kapan Ir. Soekarno berkunjung ke Banten di Serang? Jauh di mata dekat di hati.

Raden Soekarno lulus sekolah teknik THS di Bandoeng 1926. Ketika Ir. Soekarno mendirikan studieclub di Bandoeng, Parada Harahap yang baru menerbitkan surat kabatr Bintang Timoer di Batavia dalam catatan editornya meminta Ir. Soekarno turun gunung. Respon bersambuat, Tidak lama kemudian mendirikan organisisasi kebangsaan di Bandoeng yang diberi nama Perhimpoenan Nasional Indonesia (PNI). Dalam fase inilah Parada Harahap kerap mewawancara Ir. Soekarno dan adakalanya Ir. Soekarno yang mengirim tulisan ke Bintang Timoer. Surat kabar Bintang Timoer saat itu adalah surat kabar bertiras paling tinggi di Batavia dan bersifat lebih radikal dibanding media pribumi lainnya. Parada Harahap sudah puluhan kali terkena delik pers dan dimejahijaukan dan beberapa kali dibui. Setelah mendapat dukungan dari Soetan Casajangan (direktur Normaal School di Meester Cornelis) Parada Harahap sekretaris Sumatranen Bond Pada bulan September 1927 mengundang semua organisasi kebangsaan di Batavia yang diadakan di rumah Dr Husein Djajadiningrat. Hasil keputusan mendirikan supra organisasi kebangsaan yang disebut Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Secara aklamasi ditunjuk Husni Thamrin (Kaoe Betawi) sebagai ketua dan Parada Harahap sebagai sekretaris. Dari Bandoeng langsung PNI langsung diwakili oleh Ir, Soekarno. Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan dan Husein Djajadiningrat adalah pendiri Indische Vereeniging di Belanda pada tahun 1908.

Lantas bagaimana sejarah kunjungan Ir. Soekarno ke Serang, Banten? Baru terjadi setelah Indonesia merdeka, Yang jelas Ir. Soekarno yang telah menjadi Presiden Republik Indonesia setelah pengakuaan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1949) banyak melakukan kunjungan ke berbagai daerah di Indonesia. Lalu bagaimana kunjungan Ir. Soekarno ke Serang terwujud? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banten (38): Era Republik Indonesia Banten dan Republik Indonesia di Tapanuli; Republik Indonesia Serikat (Sumatra Timur)

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Ada satu masa di negeri ini sebelum terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mana kembali terjadi Perang Saudara. Pada masa lampau Perang Saudara terjadi antara satu kerajaan dengan kerajaan lain. Perang saudara masa lampau ini timbul karena adanya perebutan kekuasaan di dalam kerajaan atau perluasan wilayah kerajaan dengan menyerang kerajaan lain. Perang saudara di Banten pernah terjadi antara faksi sang ayah dan faksi sang anak (1681-1684). Perang saudara di Banten ini menjadi titik balik kejayaan Kersultanan Banten.

Perang Saudara sebelum terbentuk NKRI terjadi pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia (rakyat Indonesia versus asing). Perang Saudara ini terjadi karena dipicu oleh kedatangan (kembali) orang Belanda dengan bendera NICA untuk menjajah Indonesia. Kedatangan kembali Belanda dipandang berbeda oleh dua kelompok rakyat Indonesia atas dasar coopeartive dan non-coopertative. Para nasionalis (Republiken) penjajahan asing sudah dianggap berakhir (dan hanya kemerdekaan yang ada). Sedangkan kaum yang cooperative dengan (Pemerintah Hindia) Belanda berharap terbentuknya negara-negara federalis. Pada fase inilah, fase Perang Kemerdekaan ini timbul Perang Saudara karena berbeda kepentingan dan cita-cita yang di satu sisi meletus perang antara pihak non-cooeperative terhadap para bangsawan (yang dianggap cooperative) yang kejadiannya adakalanya disebut Revolusi Sosial, sedangkan di sisi lain timbul bentrok antara kelompok non-cooperative yang bersifat nasionalis dengan kelompok non-cooperative lainnya yang lebih radikal (sering disebut kelompok ekstrimis).

Perang Saudara di Banten adalah juga gambaran Perang Saudara di daerah lain, seperti di Sumatera Timur dan Tapanuli, Seperti disebut di atas Perang Saudara terjadi pada fase Perang Kemerdekaan. Semakin menguatnya Belanda (NICA), faksi yang diserang dalam Perang Saudara mulai berkolaborasi dengan Belanda yang akhirnya muncul negara-negara boneka Belanda (terpisah dari negara RI) seperti Negara Pasoendan dan Negara Sumatera Timur. Namun di Tapanuli dan Banten tetap menjadi bagian dari RI. Akan tetapi ada perbedaan antara Banten dan Tapanuli. Di daerah Banten para bangsawan tersingkir (sejak Perang Saudara). Lalu bagaimana semuanya kembali bersatu dalam bentuk NKRI? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 26 Januari 2021

Sejarah Banten (37): Hilman Djajadiningrat Kelahiran Serang; Mengapa Bupati Serang Harus Pindah Menjadi Bupati Sukabumi?

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Hilman Djajadiningrat adalah anggota keluarga dari trah Djajadiningrat di Serang (Anak bupati Serang R Bagus Djajawinata, 1893-1898). Dalam trah ini ada nama tokoh hebat Hussein Djajadiningrat. Saudara mereka juga orang terkenal di Serang, RA Achmad Djajadiningrat (Bupati Serang 1901-1924). Hilman Djajadiningrat adalah penerus trah Djajadiningrat sebagai bupati di Serang (1935-1945). Namun yang menjadi pertanyaan mengapa trah Djajadiningrat ini terusir dari kampong halaman sendiri pada era perang kemerdekaan RI?

RA Achmad Djajadiningrat telah tiada, meninggal dunia pada masa pendudukan Jepang, 1943. Namun masih eksis nama besar Hussein Djajadiningrat. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, Hussein Djajadiningrat pernah menjadi Direktur Pengajaran Agama. Pada masa pendudukan Jepang Hussein Djajadiningrat pernah menjadi Kepala Departemen Urusan Agama. Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 saat pemimpin Indonesia mulai membangun RI, saat pasukan sekutu-Inggris melakukan tugas pelucutan senjata dan evakuasi orang Jepang dan pembebasan interniran Eropa (Belanda), orang Belanda dengan bendera NICA datang untuk menggantikan posisi Inggris. Pase inilah terjadi perang kemerdekaan. Pada awal 1946 peerintah RI di Djakarta harus hijrah ke Djogjakarta (terusir dari Dajakarta) Pada fase ini Husein Djajadiningrat dan Hilman Djajadiningrat tidak ikut rombongan pemerintah RI hijrah ke Jogjakarta, atau paling tidak pulang kampung ke wilayah RI di Banten? Bukankah Husein Djajadiningrat dan Hilman Djajadiningrat adalah tokoh Banten yang tiada duanya saat itu? Mengapa Prof. Dr. Husein Djajadiningrat tetap berada di wilayah federal Batavia dan bekerjasama dengan Belanda/NICA? Husein Djajadiningrat dalam kabinaet NICA-Belanda sebagai Menteri Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan atau Opvoeding, Kunsten en Wetenschappen (lihat Het dagblad, 09-03-1948).

Bagaimana trah Djajadiningrat terusir dari Serang? Mengapa Hilman Djajadiningrat di Serang tidak bisa melanjutkan jabatannya sebagai bupati di Serang? Sejarah tidak selalu linier. Hal itulah mengapa diperlukan (ilmu) sejarah. Sejarah sendiri adalah narasi fakta dan data tentang garis-garis waktu apakah garis lurus atau garis belok. Lalu mengapa Hilman Djajadiningrat di Serang tidak bisa melanjutkan perjuangan penduduk Banten ti di Serang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banten (36): Serang dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia; Situasi Kondisi di Kota Serang Masa Perang Kemerdekaan RI

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Kota Serang adalah ibu kota wilayah Banten. Seperti halnya Kota Bogor, Kota Serang tidak jauh dari Kota Djakarta. Pada saat Proklamasi kemerdekaan Indonesia di Djakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 beritanya dapat segera didengar. Lalu kemudian bagaimana situasi dan kondisi Kota Serang pada masa perang kemerdekaan? Mungkin semua orang menganggap pertanyaan ini boleh jadi tidak penting-penting amat. Akan tetapi sejarah tetaplah sejarah. Karena itu pertanyaan ini tetap penting ditanyakan.

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi ini ditandai dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno di Djakarta. Proklamasi ini juga menandai kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Penjajahan di Indonesia secara defacto dimulai tahun 1619 ketika VOC (Belanda) memulai koloni di hilir sungai Tjiliwong dengan mendirikan benteng yang kemudian disebut Casteel Batavia. Koloni yang bermula di benteng tersebut meluas dengan dimulainya Kota Batavia (Stad Batavia) tahun 1626. Dari ibukota koloni ini kolonialisme dimulai memperluas wilayah koloni (jajahan) ke seluruh wilayah nusantara, termasuk di kota pelabuhan Banten dan ibu kota baru Banten di Serang.

Lantas bagaimana situasi dan kondisi di Kota Serang masa perang kemerdekaan? Apakah bermula di Serang atau justru berakhir di Serang? Dalam konteks pertanyaan kedua inilah pertanyaan pertama menjadi penting. Pertanyaan yang awaln ya biasa-biasa saja menjadi pertanyaan yang luar biasa. Okelah kalau begitu. Lalu bagaimana situasi dan kondisi di Kota Serang masa perang kemerdekaan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 25 Januari 2021

Sejarah Banten (35): Penduduk dan Wilayah Administrasi di Banten; Jumlah Penduduk Lebak Pandeglang Sensus Penduduk 1930

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Sejarah penduduk sesungguhnya seumur dengan sejarah manusia. Setiap ruang dan waktu yang berbeda dicatat untuk banyak kepentingan seperti besarnya populasi untuk menghitung jumlah laki-laki yang dibutuhkan dalam perang dan menghitung potensi besarnya pajak. Dalam penghitungan penduduk akan tergambarkan sebaran penduduk dan tingkat kepadatannya. Tentu saja teknik perhitungannya dari waktu ke waktu semakin akurat. Pada era Hindia Belanda Sensus Penduduk 1930 dapat dianggap yang terbaik.

Pada zaman kuno, sensus atau penghitungan jumlah penduduk sudah dilakukan. Namun bagaimana cara perhitungannya dan berapa jumlahnya tampaknya tidak terdokumentasi dan tersimpan dengan baik. Kesultanan Banten yang memiliki wilayah yurisdiksi tentu saja di masa lampau memiliki kepentingan untuk mengetahui berapa banyak penduduk. Namun dalam dalam dokumen Belanda (sejak era VOC) tidak ditemukan. Oleh karena itu perbandingan pada zaman kuno dengan zaman modern tidak bisa dilakukan. Hanya gambaran samar-samar tentang perkiraan jumlah penduduk yang muncul yang didasarkan pada perkiraan para penjelajah atau pelancong. Gambaran samar-samar ini bersifat kualitatif yang didasarkan pada ramai tidaknya suatu kota-kota (terutama kota-kota pelabuhan). Tentang penduduk di pedalaman yang terpencar-pencar di kampong-kampong kecil gelap gulita.

Sejarah penduduk Banten seharusnya mendapat perhatian. Karena sejarah tetaplah sejarah. Namun seperti disebut di atas, sulit menemukan statistik penduduk. Jika hanya berpatokan pada hasil Sensus Penduduk 1930 kita telah melewatkan sejarah penting tentang awal kependdukan di Banten. Dalam hal ini sejarah penduduk tidak memiliki arti sejarah yang penting. Namun demikian, upaya untuk menyusun narasi yang lebih panjang yang lebih tua ke belakang tetap diperlukan. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banten (34): Sejarah Kesehatan dan Awal Pembangunan Rumah Sakit di Banten; Serang, Pandeglang dan Rangkasbitung

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Sangat jarang sejarah kesehatan di suatu wilayah atau kota ditulis. Umumnya sejarah rumah sakit daerah dan rumah sakit kota yang sekarang yang ditulis. Yang jelas sejarah awal (pengembangan) kesehatan di suatu wilayah dan pendirian rumah sakit di ibu kota daerah tersebut adalah cikal bakal sejarh rumah sakit yang ada sekarang. Okelah, untuk melengkapi sejarah rumah sakit daerah diperlukan sejarah lama, terutama yang terkait dengan pendirian rumah sakit dan bentuk-bentuk pengembangan kesehatan penduduk di masa lampau.

Sejarah daerah pada awalnya relasi antara soal politik (para pemimpin penduduk pribumi) dan perdagangan (orang asing). Pada era Pemerintah Hindia Belanda, berbagai program pembangunan mulai diterapkan. Program pertama adalah pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang lalu diikuti pengembangan pertanian dan irigasi.Bersamaan dengan pembentukan dewan dan peradilan, mulai diperhatikan tentang pengembangan kesehatan penduduk dan pembangunan sarana kesehatan seperti mendatangkan dokter, pendirian klinik dan rumah sakit. Pentingnya kesehatan masyarakat tidak hanya untuk mencegah orang Eropa terjangkit, juga dengan eningkatnya status kesehatan penduduk akan meningkatkan produktivitas prnduduk yang mendorong volume perdagangan (ekonomi). Pada fase inilah awal sejarah kesehatan di suatu daerah.

Lantas bagaimana sejarah kesehatan di Residentie Banten? Itulah pertanyaan awalnya dan pertanyaan berikutnya bagaimana sejarah sarana kesehatan seperti rumah sakit bermula. Sebagaimana disebut di atas aspek sejarah ini kurang mendapat perhatian, dalam hal inilah narasi sejarah kesehatan di Banten diperlukan yang sudah barang tentu dimulai di Serang, kemudian disusul di Pandeglang dan Rangkasbitung. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 24 Januari 2021

Sejarah Banten (33): Haji dan Para Haji di Banten; Pemberontakan Cilegon dan Sejarah Penyelenggaraan Haji Era Hindia Belanda

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Seorang penulis bertanya pada dirinya belum menemukan arsip otentik yang menyebutkan siapa orang Banten pertama yang melaksanakan ibadah haji. Namun dia mengutip satu tulisan bahwa setelah penyebaran Islam pertama di Banten, Sunan Gunung Jati mengajak putranya Hasanuddin menunaikan haji ke tanah suci. Okelah itu satu hal. Jika kita kembali pada pertanyuan penulis tersebut di atas tentu tetap menarik untuk ditelusuri. Sebab sejarah adalah narasi fakta dan data. Sejarah (kesultanan) Banten terbilang sejarah lama, kesultanan yang memiliki data sejarah yang sangat lengkap (relatif terhadap yang lain).

Penyelenggaraan perjalanan haji pada dasarnya baru dimulai oleh pemerintah secara terorganisir pada era Hindia Belanda. Sulit memperoleh keterangan penyelenggaraan perjalanan haji pada era VOC. Hanya penyelenggaraan haji dari Mesir dan Turki yang terinformasikan pada era VOC. Boleh jadi hal itu karena Mesir dan Turki begitu dekat dengan Mekkah (Arabia). Penyelenggaraan perjalanan haji di Mesir dan Turki ini dilakukan melalui darat dengan kafilah unta. Orang-orang (yang sudah beragama) Islam nusantara (Hindia Timur) tentu saja membayangkan Mekkah begitu jauh dan hanya efektif dilakukan melalui pelayaran. Namun dalam konteks pelayaran ini, orang-orang Mesir, Turki, Arab, Persia, Moor sudah hilir mudik berdagang ke nusantara dengan kapal-kapal mereka. Para pedagang-pedagang manca negara ini tentulah sudah banyak yang pernah berhaji. Bagaimana dengan orang-orang di nusantara?

Orang Arab yang sudah berhaji datang ke nusantara adalah satu hal. Orang asing yang sudah lama di nusantara, kemudian berangkat untuk berhaji adalah hal lain. Orang pribumi yang sudah sejak lama beragama Islam berangkat haji ke Mekkah adalah hal lain lagi. Lantas bagaimana dengan penduduk asli Banten melakukan perjalanan haji ke Mekah? Pertanyaan yang terakhir inilah yang mebutuhkan data otentik. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 23 Januari 2021

Sejarah Banten (32): Harimau Banten Lebih Cepat Punah, Mengapa? Residen Banten Sang Pemburu Tijger Maung Ujung Kulon

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

(Pulau) Ujung Kulon di pantai barat Banten sudah sejak lama dikenal sebagai habitat yang banyak populasi dari berbagai hewan. Keterangan ini dapat dibaca pada laporan perjalanan seorang yang pernah mengunjunginya yang dimuat pada surat kabar Leydse courant, 05-01-1824. Disebutnya satu-satunya kampong terdekat adalah kampong Patoedja yang dihuni oleh sebanyak 150 orang penduduk. Dari kepala kampong inilah sang penulis mendapatkan situasi dan kondisi di ‘habitat’ Oedjoengkoelon. Tidak pernah orang Eropa ke kawasan ini sebelumnya.

Nama Ujung Kulon sudah ada sejak lama. Pada peta-peta Portugis diidentifikasi nama Jungculon. Namun jika melihat posisi GPS Junculon pada peta-peta Portugis tersebut terletak di Jampang Kulon (Sukabumi) yang sekarang. Ini sesuai dengan pendapat penulis yang disebut di atas. Disebutnya dalam peta-peta lama tidak ada Ujung Kulon dan penduduk sendiri di wilayah yang dikunjungi menjebut Ujung Kolon tersebut dengan nama Tandjoeng Oede. Boleh jadi sebutan Ujung Kulon adalah sebutan orang-orang di pantai selatan (di Jampang Kulon). Namun menurut penulis tersebut di dalam petanya Tandjoeng Oede diidentifikasi sebagai Oedjoeng Koelon. Besar dugaan bahwa pulau Ujung Kulon ini adalah wilayah terjauh dari orang-orang Jampang Kulon. Sebagaimana diketahui Djampang Koelon adalah suatu kerajaan di pantai selatan Jawa, yang paling dekat dengan (pulau) Ujung Kulon. Disebut pulau Ujung Kulon karena dalam peta-peta Portugis pulau ini terpisah dari daratan, tetapi pada peta-peta VOC pulau ini telah menyatu dengan daratan, Besar dugaan karena terjadinya proses sedimentasi jangka panjang dan terbentuk rawa dan kemudian daratan (semaca, jembatan). Pada peta-peta era Hindia Belanda dari waktu ke waktu terkesan jembatan daratan ini semakin lebar. Akan tetapi pada peta-peta yang lebih baru (pasca meletusnya gunung Karakatau) jembatan ini semakin sempit dan diidentifikasi sebagai tanah basah (berawa). Besar dugaan tsunami yang terjadi pada tahun 1883 (meletusnya gunung Karakatau) telah menggerus dari dua sisi jembatan pulau ini sehingga menjadi lebih sempit lagi.

Bagaimana pulau Ujung Kulon menyatu dengan daratan adalah salah satu hal. Bagaimana di pulau menyatu dengan daratan terperangkapnya hewan-hewan besar dari daratan seperti banteng, badak dan harimau adalah hal lain. Bagaimana harimau di Ujung Kulon punah adalah hal lain lagi tetapi tampaknya Residen Bantam terlibat. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.