Senin, 20 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto (5): Statuta Indische Partij Ditolak Pemerintah; Raden Mas Soewardi Soerjanigrat “Als ik een Nederlander was”


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Setiap organisasi yang didirikan di Hindia Belanda harus memiliki izin (beslit) dari pemerintah. Namun syarat utamanya adalah isi statuta (AD) sudah lolos pemeriksaan. Statu Indisch Partij ditolak pemerintah. Akibatnya Indisch Partij dianggap terlarang. Lalu bagaimana kehadiran Soewardi Soerjanigrat di Indisch Partij? “Als ik een Nederlander was. Model Bisnis Era Teknologi Informasi


Soewardi berasal dari keluarga Pakualaman. Setelah lulus ELS ia melanjukan ke sekolah kedokteran di STOVIA, tetapi tidak diselesaikan. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda. Soewardi juga menjadi anggota organisasi Insulinde, organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Ketika Douwes Dekker mendirikan Indische Partij, Soewardi juga ikut diajak. Partai yang berdiri pada 6 September 1912 itu bagi Soewardi sangat berguna karena tidak membedakan golongan, agama, ras, dan suku. Ketika pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913 (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah statuta Indische Partij ditolak Pemerintah? Seperti disebut di atas, setelah statuta Indische Partij ditolak Pemerintah muncul nama Raden Mas Soewardi Soerjanigrat. Bagaimana dengan brosurnya berjudul “Als ik een Nederlander was”? Lalu bagaimana sejarah statuta Indische Partij ditolak Pemerintah? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Pengantar Studi Kelayakan Bisnis

Sabtu, 18 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto (4): Indische Bond dan Indische Partij di Indonesia; Bagaimana Dr Tjipto Menjadi Anggota Inti Indisch Partij?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Semua gerakan di Indonesia (baca: Indonesia) dimulai oleh orang-orang Belanda khususnya orang Indo, yang kemudian terbentuk Indisch Bond tahun 1898. Gerakan tersebut lalu meluas ke berbagai sisi. Pada tahun 1900 di Padang Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda menginisiasi pendirian organisasi kebangsaan Indonesia (pertama) diberi nama Medan Perdamaian (Dunia Perdamaian). Pada tahun 1901 organ Medan Perdamaian berupa majalah diberi nama Insulinde. Pada tahun 1903 Dja Endar Moeda mulai mengirim sejumlah guru untuk studi ke Belanda. Dalam konteks inilah kemudian terbentuk Indisch Partij. Singkatnya Republik ini tidak diciptakan oleh satu orang, tidak satu organisasi, juka tidak satu bangsa, tetapi semuanya ada permulaan Sejarah Sepak Bola di Indonesia


Sebagai seorang Indo, Douwes Dekker merasa terjadinya diskriminasi yang membeda-bedakan status sosial antara Belanda totok (asli), Indo (campuran), dan Bumiputera (pribumi) oleh pemerintah Hindia Belanda. Kedudukan dan nasib para Indo tidak jauh berbeda dengan Bumiputera. Di Bandung, sudah sejak lama terdapat organisasi Indo-Eropa seperti organisasi Indische Bond yang berdiri tahun 1899 (1898) dan organisasi Insulinde yang berdiri tahun 1907. Kedua organisasi tersebut bertujuan untuk mengangkat derajat kaum Indo dalam bidang sosial-ekonomi dan menjalin perserikatan dengan Belanda tanpa memisahkan diri dari negara induk. Pemikiran ini tentu saja bertolak belakang dengan Dekker. Dalam pidatonya di hadapan anggota Indische Bond tanggal 12 Desember 1911 Dekker membangkitkan semangat kaum Indo untuk memberontak dan melepaskan diri dari pemerintah kolonial. Dan karena jumlah kaum Indo yang sedikit, maka mereka harus bersama-sama dengan kaum Bumiputera berjuang dengan kaum Indo menjadi pelopor. Lalu terbentuk Panitia Tujuh..Pada tanggal 6 September 1912, Panitia Tujuh melakukan suatu rapat di bawah pimpinan Dekker di Bandung dan hasilnya terbentuk perhimpunan baru bernama Indische Partij (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Indisch Bond dan Indisch Partij di Indonesia? Seperti disebut di atas, semuanya dimulai dari Indische Bond yang kemudian terbentuk Indisch Vereening di Belanda (1908) dan Indisch Partij di Indonesia yang kemudian Dr Tjipto ikut bergubung dengan Indisch Partij. Lalu bagaimana sejarah Indisch Bond dan Indisch Partij di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish

Jumat, 17 Juli 2026

Sejarah Bisnis Indonesia (3): Sekolah dan Perguruan Tinggi Perdagangan di Belanda; Bagaimana Para Ekonom Indonesia Bermula


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bisnis di Indonesia di blog ini Klik Disini

Banyak ekonom Indonesia pada masa ini, bahkan ayah dari Presiden RI Prabowo adalah ekonom lulusan Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam tahun 1943. Namun semua itu bermula pada saat Soetan Casajangan, mantan pendiri Indische Vereeniging pada tahun 1909 diangkat menjadi guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam. Pada tahun 1910 Mangaradja Soangkoepon dengan ijazah sekolah dasar (ELS) diterima di Handelschool di Amsterdam. Perguruan tinggi perdagangan sendiri di Belanda baru didirikan tahun 1913 di Rotterdam. Sjamsi Widagda dengan ijazah akta guru MO diterima tahun 1918 di Nederland Handelshoogeschool. Pada tahun 1921 Mohamad Hatta dengan ijazah HBS (SMA) diterima. Sjamsi Widagda meraih gelar sarjana (Drs) tahun 1923 dan kemudian meraih gelar doktor (Dr) tahun 1925. Sejarah Mahasiswa di Indonesia

 

Dr Samsi Sastrawidagda (lahir di Solo, 13 Maret 1894 adalah Menteri Keuangan Pertama Indonesia. Ia menempuh pendidikan ekonomi dan hukum negara di Sekolah Tinggi Dagang (Handels-hogeschool) di Rotterdam. Gelar akademik terakhir yang didapat tahun 1925 adalah gelar Doktor dengan disertasi De Ontwikkeling v.d handels politik van Japan. Perjalanan karier di Kementerian Keuangan dirintis sejak Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang kedua (19 Agustus 1945). Pada saat itu, dibentuk 12 Kementerian dan 4 Menteri Negara. PPKI menunjuk Samsi Sastrawidagda, Kepala Kantor Tata Usaha dan Pajak di Surabaya pada masa pendudukan Jepang, sebagai Menteri Keuangan. Sebagai Menteri Keuangan, Samsi tidak pernah memimpin Kementerian Keuangan secara langsung. Bahkan belum sempat menyusun perencanaan. Kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan menjadikan ia lebih memilih tinggal di Surabaya. Pada tanggal 26 September 1945 ia mengundurkan diri menjadi Menteri Keuangan (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah sekolah dan perguruan tinggi perdagangan di Belanda? Seperti disebut di atas, sementara sekolah perdagangan (Handelschool) sudah ada sejak 1823, sedangkan perguruan tinggi perdagangan di Belanda belum lama adanya (baru dibuka tahun 1913). Lalu bagaimana sejarah sekolah dan perguruan tinggi perdagangan di Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Buku "Pengantar Bisnis"

Rabu, 15 Juli 2026

Sejarah Casajangan (11): Penerus Soetan Casajangan;Mangaradja Soangkupon Soetan Goenoeng Mulia Soetan Goenoeng Soaloon


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Soetan Casajangan Soripada (pendiri Indisch Vereeniging/Perhimpoenan Indonesia, di Leiden 1908) adalah penerus dari Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda (pendiri organisasi kebangsaan pertama pribumi "Medan Perdamaian", di Padang 1900). Sementara penerus Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan cukup banyak, antara lain Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon (anggota Volksraad empat periode, 1927-1942), Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (guru bergelar doktor pertama Indonesia, Menteri Pendidikan RI), Parada Harahap gelar Mangaraja Goenoeng Moeda (The King of Java Press) dan Amir Sjarifoeddin Harahap gelar Soetan Goenoeng Soaloon (Perdana Menteri RI). Kecuali Amir Sjarifoedin lahir di Medan, semuanya lahir di Padang Sidempoean. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia


Mangaradja Soeangkoepon lahir 26 Desember 1885 dalam keluarga bangsawan Batak Angkola di Padangsidempuan. Pendidikan awalnya tidak terdokumentasi dengan baik; kemungkinan besar ia belajar di sekolah berbahasa Belanda setempat. Ketika ia tidak terpilih sebagai pewaris gelar keluarga oleh ayahnya pada tahun 1902, ia pergi ke Sumatera Timur. Adik laki-lakinya, Abdul Rasjid, kemudian juga menjadi tabib pribumi dan politikus yang berpendidikan di STOVIA. Pada tahun 1906, ia diangkat menjadi kepala kecamatan di Sosa Julu, Padang Lawas, Sumatera Utara. Pada tahun 1910 ia meninggalkan Hindia menuju Eropa, mendaftar di sebuah perguruan tinggi keguruan di Leiden. Dia kembali ke Sumatra pada tahun 1914 dan sempat bekerja untuk surat kabar Pewarta Deli. Pada tahun 1915 ia kembali ke dinas pemerintahan dan memegang berbagai peran administratif di Kediaman Tapanoeli dan Sumatera Timur, termasuk menghabiskan waktu di dewan lokal Pematangsiantar dan Tanjungbalai. Selama periode ini, ia tampaknya dipengaruhi oleh Kebangkitan Nasional Indonesia yang menyebar dengan cepat di kalangan penduduk asli Hindia Belanda. Ia diangkat untuk mewakili Sumatera Timur dalam Pemilihan umum Volksraad Hindia Belanda 1927 pada bulan Mei, dan pindah ke Batavia (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah para penerus Soetan Casajangan? Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan Soripada adalah penerus dari Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda. Penerus Soetan Casajangan cukup banyak. Lalu bagaimana sejarah para penerus Soetan Casajangan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish

Selasa, 14 Juli 2026

Sejarah Casajangan (10): Guru Tetaplah Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa; Dari Dja Endar Moeda hingga Parada Harahap


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Soetan Casajangan berangkat untuk yang kali kedua ke Belanda tanggal 14 Februari dengan kapal “Patria” dari Tandjoeng Priok tujuan akhir Rotterdam (lihat Sumatra-bode, 12-02-1920). Ini sehubungan dengan cuti ke Eropa yang diberikan pemerintah selama delapan bulan setelah mengajar selama tujuh tahun (*). Banyak hal yang dilakukan di Belanda termasuk pertemuan dengan pengurus dan anggota Indisch Vereeniging. Sebagaimana diketahui, Soetan Casajangan adalah pendiri Indisch Vereeniging pada tahun 1908 di Leiden. Metode Riset Bisnis


Parada Harahap lahir pada 15 Desember 1899 di Pargarutan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Karier jurnalisnya dimulai ketika ia menjadi staf redaksi surat kabar Benih Merdeka. Kemudian dia kembali ke kampung halamannya dan memimpin surat kabar Sinar Merdeka (1919) dan memimpin majalah Poestaha. Surat kabarnya sebagian besar mengkritik kebijakan pemerintahan kolonial Belanda akibat kesewenang-wenangan mereka selama di Hindia Belanda. Selama dua tahun di Padangsidempuan, ia telah 12 kali terkena delik pers serta berulang kali keluar masuk penjara. Pada tahun 1922, ia pindah ke Jakarta menerbitkan mingguan Bintang Hindia, Bintang Timur dan Sinar Pasundan. Pada saat itu ia mulai memakai nama samaran Oom Baron Matturepeck yang diambil dari bahasa Batak (berarti suara dari kertas). Selain itu, ia adalah satu-satunya orang pertama yang mendirikan Akademi Wartawan di Jakarta. pada masa pendudukan Jepang, dia dipercaya menjadi pemimpin redaksi Surat Kabar Sinar Baroe. Menjelang masa kemerdekaan pada tahun 1945, ia masuk dalam susunan anggota BPUPKI yang dibentuk oleh Jepang di Jakarta. Dalam hal ini, dia adalah satu-satunya anggota BPUPKI yang berasal dari kalangan masyarakat Batak (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah guru tetaplah guru, pahlawan tanpa tanda jasa? Seperti disebut di atas, lulusan sekolah guru, menjadi guru dan kemudian berangkat ke Belanda 1904 untuk studi keguruan. Lulus akta guru LO tahun 1907, akta guru kepala MO tahun 1910, guru di Amsterdam, kembali ke tanah air menjadi guru dan kini 1920 mendapat cuti ke Eropa. Guru tetaplah guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Lalu bagaimana sejarah guru tetaplah guru, pahlawan tanpa tanda jasa? Lalu bagaimana sejarah bahasa Esperanto, Bahasa Indonesia bahasa pemersatu dunia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish

Minggu, 12 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto(3): Ernest Douwes Dekker dan Orang Indo di Belanda dan Indonesia; Diskriminasi, Integrasi, Asimilasi, Segregasi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Bagaimana Dr Tjipto Mangoenkoesoemo menjadi dekat satu sama lain dengan Ernest Douwes Dekker? Pertanyaan itu membawa kita ke masa lalu bagaimana saudara kakek Ernest Douwes Dekker yakni Eduard Douwes Dekker secara sadar memperhatikan hak-hak penduduk. Eduard Douwes Dekker sendiri tiba di Batavia tahun 1839 sebagai kelasi di kapal ayahnya. Di Batavia Eduard menjadi pegawai negeri (ambtenaar). Pada tahun 1843 dipindahkan ke Pantai Barat Sumatra. Oleh Gubernur AV Michiels ditempatkan sebagai Controleur di Natal. Pemberontakan di Angkola Mandailing menyebabkan banyak pemimpin dan penduduk eksodus ke Natal. Eduard mengadvokasi para pelarian namun dipandang pemerintah sebagai pelanggaran jabatan. Eduard dipecat dan dikenakan hukuman tahnan kota selama satu tahun di Padang. Eduard adalah saudara dari Jan Douwes Dekker yang merupakan kakek Ermest Douwes Dekker.. Sejarah Bahasa Indonesia


Ernest François Eugène Douwes Dekker lahir di Pasuruan pada tanggal 8 Oktober 1879, sebagaimana yang dia tulis pada riwayat hidup singkat saat mendaftar di Universitas Zurich, September 1913. Ayahnya, Auguste Henri Eduard Douwes Dekker agen di bank Nederlandsch Indisch Escomptobank. Auguste memiliki darah Belanda dari ayahnya, Jan (adik Eduard Douwes Dekker alias Multatuli) dan dari ibunya, Louise Bousquet. Sementara itu, ibu Douwes Dekker, Louisa Neumann, lahir di Pekalongan dari pasangan Jerman-Jawa. DD terlahir sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara. Kakak perempuan dan laki-laki, yakni Adeline (1876) dan Julius (1878) lahir di Surabaya, sedangkan adik laki-lakinya Guido (1883) lahir di Meester Cornelis. Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije, anak dokter campuran Jerman-Belanda pada tahun 1903, dan mendapat lima anak, namun dua di antaranya meninggal sewaktu bayi (Edouard dan Sigmund, keduanya laki-laki), dan yang bertahan hidup semuanya perempuan (Louisa, Hedwig, dan Sieglinde). Perkawinan ini kandas pada tahun 1919 dan keduanya bercerai. Kemudian Douwes Dekker menikah lagi dengan Johanna Petronella Mossel, seorang Indo keturunan Yahudi, pada tahun 1927 (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Ernest Douwes Dekker dan orang Indo di Belanda dan Indonesia? Seperti disebut di atas, Ernest Douwes Dekker adalah seorang Indo yang kemudian menjadi antitesi Pemerintah Hindia Belanda. Dalam konteks inilah isu diskriminasi, integrasi, asimilasi dan segregasi mulai muncul. Lalu bagaimana sejarah Ernest Douwes Dekker dan orang Indo di Belanda dan Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Metode Riset Bisnis

Sabtu, 11 Juli 2026

Sejarah Tjipto (2): Organisasi Kebangsaan; Dari Medan Perdamaian, Sjarikat Tapanoeli, Boedi Oetomo hingga Indisch Vereeniging


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Pada tahun 1905 Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia. Dr Tjipto (Mangoenkoesoemo) dan Dr Abdoel Hakim (Nasoetion) yang sama-sama lulus keduanya ditempatkan di Stadsverband (rumah sakit kota) di Batavia sebagai dokter pribumi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-12-1905). Saat ini sudah ada organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia (baca: pribumi) yang telah terbentuk: Societeit Paroekoenan di Bandoeng (1897), Medan Perdamaian di Padang (1900), Vereeniging Ambon di Ambon (1900) dan Sjarikat Tapanoeli di Medan (1905). Sejarah Pers di Indonesia


Pada tahun 1907, Wahidin Soedirohoesodo melakukan kunjungan ke Stovia dan bertemu para pelajar dan menyerukan gagasan untuk membentuk organisasi yang dapat mengangkat derajat bangsa. Selain itu, Sudirohusodo juga ingin mendirikan sebuah organisasi di bidang pendidikan untuk bisa membantu biaya orang-orang pribumi yang berprestasi dan mempunyai keinginan untuk bersekolah. Selanjutnya, Soetomo bersama dengan Soeradji mengadakan pertemuan dengan para pelajar STOVIA yang lain, untuk membicarakan gagasan organisasi yang disampaikan oleh Sudirohusodo. Lalu diadakan pertemuan dan membentuk sebuah organisasi yang diberi nama "Perkumpulan Boedi Oetomo" pada tanggal 20 Mei 1908 di Batavia. Tokoh yang tercatat sebagai pendiri Boedi Oetomo terdiri dari 9 orang, yaitu Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Angka Prodjosoedirdjo, Mohammad Saleh, Raden Mas Goembrek, Soetomo, Soeradji Tirtonegoro, dan tentunya Wahidin Soedirohoesodo sebagai penggagasnya. Soetomo menjadi ketua dan Soelaeman Affandi Kartadjoemena, sebagai wakilnya. Pengurus lainnya terdiri dari Gondo Soewarno sebagai sekretaris I, dan Goenawan sebagai sekretaris II, serta bendahara yang dijabat oleh Angka Prodjosoedirdjo. Sisa pendiri lainnya menjabat sebagai komisaris (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah organisasi kebangsaan Indonesia? Seperti disebut di atas, saat Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia 1905 sudah ada sejumlah organisasi kebangsaan Indonesia. Lalu bagaimana sejarah organisasi kebangsaan Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Bahasa Indonesia

Jumat, 10 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto (1): Anak Seorang Guru, Tjipto Mangoenkoesoemo Studi di Sekolah Kedokteran; Docter Djawa school di Batavia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Tentang Tjipto Mangoenkoesoemo sudah banyak ditulis. Tentu saja ada yang dalam bentuk buku. Serial artikel ini tidak merujuk pada tulisan-tulisan yang sudah ada. Sumber utama yang digunakan dalam serial artikel ini adalah ‘sumber primer’ sejaman seperti surat kabar dan majalah. Oleh karena itu, dalam penulisan serial artikel ini dapat dikatakan upaya kembali untuk menulis sejarah Tjipto Mangoenkoesoemo. Sejarah Catur di Indonesia


Tjipto Mangoenkoesoemo dilahirkan pada 4 Maret 1886 di Pecangaan, Jepara. Ia adalah putra tertua dari Mangunkusumo, seorang priyayi rendahan. Karier Mangunkusumo diawali sebagai guru bahasa Melayu di sebuah sekolah dasar di Ambarawa, kemudian menjadi kepala sekolah pada sebuah sekolah dasar di Semarang dan selanjutnya menjadi pembantu administrasi pada Dewan Kota di Semarang. Sementara, sang ibu adalah keturunan dari tuan tanah di Mayong, Jepara. Cipto beserta adik-adiknya yaitu Gunawan, Budiardjo, dan Syamsul Ma’arif bersekolah di Stovia, sementara Darmawan, adiknya bahkan berhasil memperoleh beasiswa dari pemerintah Belanda untuk mempelajari ilmu kimia industri di Universitas Delft. Si bungsu, Sujitno terdaftar sebagai mahasiswa Rechtshoogeschool di Batavia. Ketika menempuh pendidikan di Stovia, Cipto mulai memperlihatkan sikap yang berbeda dari teman-temannya. Teman-teman dan guru-gurunya menilai Cipto sebagai pribadi yang jujur, berpikiran tajam, dan rajin. Berbeda dengan teman-temannya yang suka pesta dan bermain, Cipto lebih suka menghadiri ceramah-ceramah orang, baca buku, dan main catur. Baginya, Stovia adalah tempat untuk menemukan dirinya (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Tjipto Mangoenkoesoemo anak seorang guru studi di sekolah kedokteran? Seperti disebut di atas, tentang Tjipto Mangoenkoesoemo sudah banyak ditulis dan ada yang dalam bentuk buku. Lalu bagaimana sejarah Tjipto Mangoenkoesoemo anak seorang guru studi di sekolah kedokteran? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Metode Riset Bisnis

Rabu, 08 Juli 2026

Sejarah Casajangan (9): Guru Sekolah Guru di Djatinegara; Dari Indische Vereeniging ke Kongres Hindia hingga Kongres Pemuda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Soetan Casajangan adalah seorang guru. Guru tetaplah guru. Namun di luar kewajibannya untuk mengabdi sebagai guru, Soetan Casajangan terus meningkatkan studinya, membangun persatuan bangsa, banyak menulis termasuk di surat kabar dan majalah. Soetan Casajangan menjembatani antara orang Belanda dengan orang pribumi, mengadvokasi pentingnya percepatan peningkatan pendidikan pribumi. Jumlah mahasiswa menjadi semakin banyak yang kemudian di atas landasan persatuan mulai berpolitik dan berjuang untuk demi kemerdekaan Indonesia. Soetan Casajangan adalah inisiator pendirian Indische Vereeniging di Belanda tahun 1908. Deepublish


Pada periode pasca Perang Dunia I, Indische Vereeniging (IV) mulai mengalami proses politisasi secara bertahap. Salah satu tokoh penting dalam fase awal ini adalah Ahmad Subardjo, yang menjabat sebagai ketua organisasi pada periode 1919-1921. Dalam masa Kepemimpinannya, orientasi organisasi mulai bergeser dari perkumpulan mahasiswa yang bersifat sosial menjadi forum diskusi kebangsaan dan politik, dengan penekanan pada kesadaran nasional dan posisi Indonesia dalam konteks internasional. Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr Soetomo dan Herman Kartowisastro organisasi ini berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Saat itu istilah "Indonesier" dan kata sifat "Indonesich" sudah tenar digunakan oleh para pemrakarsa Politik Etis. Para anggota PI juga memutuskan untuk menerbitkan kembali majalah Hindia Poetra. Saat Iwa Koesoemasoemantri menjadi ketua pada 1923, PI mulai menyebarkan ide non-kooperasi yang mempunyai arti berjuang demi kemerdekaan tanpa bekerjasama dengan Belanda. Tahun 1924, saat M. Nazir Datuk Pamoentjak menjadi ketua, nama majalah Hindia Poetra berubah menjadi Indonesia Merdeka. Tahun 1925 saat Soekiman Wirjosandjojo nama organisasi ini resmi berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Meohamad Hatta menjadi ketua PI sejak awal tahun 1926 (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Soetan Casajangan guru di sekolah guru (Normaalschool) di Djatinegara? Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan adalah seorang guru. Guru tetaplah guru, namun kiprahnya di luar itu tidak terhingga banyaknya. Lalu bagaimana sejarah Soetan Casajangan guru di sekolah guru (Normaalschool) di Djatinegara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Mahasiswa di Indonesia

Minggu, 05 Juli 2026

Sejarah Casajangan (8): Perang Eropa dan Gerakan Indie Weerbaar; Dewan Volksraad dan Technisch Hooegeschool Bandoeng


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Apakah cara berpikir Soetan Casajangan bersifat intuitif? Soetan Casajangan ingin studi ke Belanda tetapi tidak bisa berbahasa Belanda. Soetan Casajangan belajar bahasa Belanda dan pada bulan Juni 1904 berangkat studi ke Belanda. Jumlah mahasiswa baru 15 orang di Belanda, Soetan Casajangan mendirikan organisasi mahasiswa Indische Vereeniging pada bulan Oktober 1908. Banyak pelajar pintar pribumi ingin studi ke Belanda tetapi tidak mampu, Soetan Casajangan menggagas Studiefonds. Segera setelah perang di Eropa meletus, Soetan Casajangan menggagas cara terbaik untuk mempertahankan negara Indonesia dari musuh asing. Soetan Casajangan lebih suka bermain catur daripada bermain sepak bola. Sejarah Mahasiswa di Indonesia


Indie Weerbaar (Pertahanan Hindia) adalah sebuah gerakan dan komite yang dibentuk pada tahun 1916 di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) untuk mengadvokasi pembentukan milisi sipil bumi putera demi memperkuat pertahanan militer koloni menghadapi Perang Dunia I. Gerakan ini memicu perdebatan sengit di kalangan tokoh pergerakan nasional serta mengubah arah perjuangan politik di Indonesia. Pengusaha dan tokoh pertahanan seperti KAR Bosscha mendirikan Comite Indie Weerbaar pada tahun 1916 untuk mendesak pembentukan milisi lokal yang melibatkan warga pribumi. Gagasan mengenai wajib militer bagi warga pribumi ini memecah opini organisasi pergerakan nasional di Indonesia. Organisasi seperti Budi Utomo dan sebagian tokoh Sarekat Islam (SI) mendukung gagasan ini. Mereka bersedia membantu pertahanan Belanda, namun dengan syarat (barter politik) agar pemerintah Belanda memberikan hak politik dan membentuk parlemen bagi rakyat Hindia Belanda. Pada awal tahun 1917, Comite Indie Weerbaar mengirimkan delegasi resmi ke Belanda, seperti Abdoel Moeis (wakil Sarekat Islam) dan Dwidjosewojo (wakil Budi Utomo). Pemerintah Kerajaan Belanda di Amsterdam akhirnya menolak usulan wajib militer atau milisi pribumi tersebut karena kekhawatiran persenjataan itu justru akan digunakan pribumi untuk memberontak (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah perang Eropa dan gerakan Indie Weerbaar? Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan memiliki cara berpikir yang cenderung intuitif berpikir secara alamiah sebelum dampaknya terlihat benar-benar nyata. Hal itulah mengapa perlu studi ke Belanda, mengapa organisasi mahasiswa didirikan, mengapa studiefond dibentuk dan mengapa perlu menggalang potensi penduduk untuk mempertahankan negara dan bangsa. Lalu bagaimana sejarah Oost en West dan gerakan Indie Weerbaar? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 03 Juli 2026

Sejarah Casajangan (7): Sorip Tagor Masa Awal Perjuangan Politik, Ekonomi; Kongres Hindia 1917 dan Adopsi Nama Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Sorip Tagor adalah penerus Soetan Casajangan di Belanda. Sorip Tagor tidak sendiri di Belanda, juga ada nama Baginda Djamaloedin dan Tan Malaka. Penghubung antar dua generasi itu adalah Soetan Goenoeng Moelia. Sementara Indisch Vereeniging juga tetap relevan di Belanda. Hanya saja di masa Sorip Tagor dkk situasi dan kondisinya telah berubah jika dibandingkan di masa Soetan Casajangan dkk. Soetan Goenoeng Moelia tiba di Belanda pada tahun 1910 dan Soetan Casajangan kembali ke tanah air tahun 1913 (pada tahun dimana trio Sorip Tagor, Baginda Djamaloedin dan Tan Malaka berangkat studi ke Belanda). Pengantar Studi Kelayakan Bisnis


Kongres Pendidikan Kolonial Pertama (Eerste Koloniaal Onderwijs-Congres) diadakan pada tanggal 28 hingga 30 Agustus 1916 di Den Haag. Kongres ini dipimpin oleh JH Abendanon, mantan Direktur Pendidikan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda yang dikenal sebagai pendukung kemajuan pendidikan bumiputra. Pertemuan bersejarah ini mengumpulkan para pejabat kolonial, pendidik, misionaris, serta mahasiswa asal Hindia Belanda (Indonesia) yang sedang belajar di Belanda guna merumuskan arah kebijakan pendidikan bagi masyarakat pribumi. Peran Mr C Th van Deventer (tokoh utama Politik Etis) sangat besar di balik terselenggaranya kongres tersebut melalui advokasi pendidikan bagi kaum pribumi. Kongres Mahasiswa Hindia 1917 adalah pertemuan mahasiswa dari tanah jajahan di Belanda pada 23-24 November 1917 di Leiden. Digagas oleh Hubertus Johannes van Mook melalui Indologie Vereniging, kongres ini menjadi wadah musyawarah perwakilan pelajar untuk mengumpulkan aspirasi mengenai masa depan koloni Hindia Belanda. Jong Sumatranen Bond adalah organisasi kepemudaan yang didirikan di Batavia pada 9 Desember 1917 oleh para pelajar Sumatra. Bertujuan mempererat persatuan antarpelajar asal Sumatra dan memajukan budayanya (AI Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Sorip Tagor dan awal perjuangan politik dan ekonomi Indonesia? Seperti disebut di atas, Sorip Tagor dapat dikatakan adalah penerus Soetan Casajangan di Belanda. Lalu bagaimana sejarah Sorip Tagor dan awal perjuangan politik dan ekonomi Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Bahasa Indonesia

Kamis, 02 Juli 2026

Sejarah Casajangan (6): Perjuangan dan Ide Studiefond; Kembali ke Tanah Air 1913 Jadi Direktur Sekolah Guru di Fort de Kock


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Studiefond (dana studi/beasiswa) dan Soetan Casajangan Soripada adalah dua elemen penting yang saling terkait erat dalam sejarah gerakan pendidikan dan nasionalisme awal Indonesia di era kolonial Hindia Belanda. Meskipun Soetan Casajangan paling dikenal sebagai pendiri dan ketua pertama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) di Belanda pada tahun 1908, Soetan Casajangan memiliki peran besar dalam gagasan pendanaan studi (studiefonds) bagi anak-anak pribumi. Metode Riset Bisnis


Sekolah guru Kweekschool Fort de Kock adalah sekolah pendidikan guru pertama di Sumatra yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1 April 1856 di Fort de Kock (kini Bukittinggi). Sekolah ini didirikan atas saran penasihat pendidikan kolonial, Pendeta SA Buddingh, untuk menghasilkan guru dan pegawai kolonial. Sejak sekolah guru di Tanobato, onderafdeeling Mandailing, afdeeling Angkola Mandailing, Residentie Tapanoeli 1865 dinegerikan pada tahun 1865, sekolah guru di Fort de Kock bahasa yang digunakan di dua sekolah guru tersebut adalah bahasa Belanda dan bahasa Melayu. Sekolah guru Fort de Kock ini juga pernah dijadikan sebagai Sekolah Radja (semacam OSVIA/MOSVIA). Sekolah guru Fort de Kock  juga melahirkan tokoh Indonesia seperti Tan Malaka dan AH Nasution. Kompleks bangunan bersejarah Kweekschool Fort de Kock ini sekarang masih aktif digunakan sebagai gedung SMA Negeri 2 Bukittinggi (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah perjuangan Soetan Casajangan dan studiefond untuk pendidikan pribumi? Seperti disebut di atas, perjuangan Soetan Casajangan tidak hanya mempersatukan anak bangsa, juga memperjuangan pendidikan pribumi di hadapan orang Belanda. Lalu bagaimana sejarah perjuangan Soetan Casajangan dan studiefond untuk pendidikan pribumi? Lalu bagaimana sejarah bahasa Esperanto, Bahasa Indonesia bahasa pemersatu dunia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026

Sejarah Casajangan (5): Sarjana Pendidikan Pertama Indonesia; Boedi Oetomo Mengirim Sjamsi Widagda Diasuh Soetan Casajangan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Dalam narasi sejarah masa kini disebutkan sarjana pertama Indonesia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Fakta yang benar adalah dokter Asmaoen asal Malang yang meraih gelar dokter di Amsterdam pada tahun 1907. Lalu siapa sarjana pendidikan Indonesia pertama? Tidak ada yang pernah menulisnya. Siapa doktor ekonomi Indonesia pertama juga tidak ada yang pernah menulisnya. Sejarah Bahasa Indonesia


Dr Samsi Sastrawidagda (lahir: Solo, 13 Maret 1894-wafat 1963) adalah Menteri Keuangan Pertama Indonesia. Ia menempuh pendidikan ekonomi dan hukum negara di Sekolah Tinggi Dagang (Handels-hogeschool) di Rotterdam. Gelar akademik terakhir yang didapat tahun 1925 adalah gelar Doktor dengan disertasi De Ontwikkeling v.d handels politik van Japan. Selama di Rotterdam, ia dikenal sebagai pemukul gong dalam perkumpulan gamelan pribumi. Perjalanan karier di Kementerian Keuangan dirintis sejak Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang kedua (19 Agustus 1945). PPKI menunjuk Samsi Sastrawidagda, Kepala Kantor Tata Usaha dan Pajak di Surabaya pada masa pendudukan Jepang, sebagai Menteri Keuangan pada kabinet RI pertama (Kabinet Bucho/presidensial). Sebagai Menteri Keuangan, Samsi tidak pernah memimpin Kementerian Keuangan secara langsung. Bahkan belum sempat menyusun perencanaan. Kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan menjadikan ia lebih memilih tinggal di Surabaya. Pada tanggal 26 September 1945 ia mengundurkan diri menjadi Menteri Keuangan kemudian A.A. Maramis yang sebelumnya Menteri Negara dilantik menjadi Menteri Keuangan (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah sarjana pendidikan pertama Indonesia? Seperti disebut di atas, banyak sarjana pertama Indonesia keliru dalam narasi sejarah Indonesia. Satu yang jelas mahasiswa keguruan (jurusan pendidikan) pertama Indonesia adalah Soetan Casajangan. Karena hal itu, Boedi Oetomo mengirim guru muda Sjamsi Widagda studi keguruan ke Belanda yang kemudian dititipkan kepada Soetan Casajangan. Setelah mendapat akta guru, Sjamsi Widagda melanjutkan studi di bidang ekonomi. Lalu bagaimana sejarah sarjana pendidikan pertama Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Catur di Indonesia