*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini
Soetan Casajangan berangkat untuk yang kali kedua ke Belanda tanggal 14 Februari dengan kapal “Patria” dari Tandjoeng Priok tujuan akhir Rotterdam (lihat Sumatra-bode, 12-02-1920). Ini sehubungan dengan cuti ke Eropa yang diberikan pemerintah selama delapan bulan setelah mengajar selama tujuh tahun (*). Banyak hal yang dilakukan di Belanda termasuk pertemuan dengan pengurus dan anggota Indisch Vereeniging. Sebagaimana diketahui, Soetan Casajangan adalah pendiri Indisch Vereeniging pada tahun 1908 di Leiden. Metode Riset Bisnis
Parada Harahap lahir pada 15 Desember 1899 di Pargarutan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Karier jurnalisnya dimulai ketika ia menjadi staf redaksi surat kabar Benih Merdeka. Kemudian dia kembali ke kampung halamannya dan memimpin surat kabar Sinar Merdeka (1919) dan memimpin majalah Poestaha. Surat kabarnya sebagian besar mengkritik kebijakan pemerintahan kolonial Belanda akibat kesewenang-wenangan mereka selama di Hindia Belanda. Selama dua tahun di Padangsidempuan, ia telah 12 kali terkena delik pers serta berulang kali keluar masuk penjara. Pada tahun 1922, ia pindah ke Jakarta menerbitkan mingguan Bintang Hindia, Bintang Timur dan Sinar Pasundan. Pada saat itu ia mulai memakai nama samaran Oom Baron Matturepeck yang diambil dari bahasa Batak (berarti suara dari kertas). Selain itu, ia adalah satu-satunya orang pertama yang mendirikan Akademi Wartawan di Jakarta. pada masa pendudukan Jepang, dia dipercaya menjadi pemimpin redaksi Surat Kabar Sinar Baroe. Menjelang masa kemerdekaan pada tahun 1945, ia masuk dalam susunan anggota BPUPKI yang dibentuk oleh Jepang di Jakarta. Dalam hal ini, dia adalah satu-satunya anggota BPUPKI yang berasal dari kalangan masyarakat Batak (AI Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah guru tetaplah guru, pahlawan tanpa tanda jasa? Seperti disebut di atas, lulusan sekolah guru, menjadi guru dan kemudian berangkat ke Belanda 1904 untuk studi keguruan. Lulus akta guru LO tahun 1907, akta guru kepala MO tahun 1910, guru di Amsterdam, kembali ke tanah air menjadi guru dan kini 1920 mendapat cuti ke Eropa. Guru tetaplah guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Lalu bagaimana sejarah guru tetaplah guru, pahlawan tanpa tanda jasa? Lalu bagaimana sejarah bahasa Esperanto, Bahasa Indonesia bahasa pemersatu dunia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
*Sebagaimana sebelumnya diketahui bahwa selama penempatannya di Hindia memiliki permasalahannya sendiri. Menteri koloni menempatkan Soetan Casajangan tahun 1913 di bawah Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dengan beslit guru kepala (akta MO) harusnya sebagai direktur sekolah guru pribumi (departemen pendidikan), tetapi kebijakan Pemerintah Hindia Belanda hanya menempatkan non-Eropa di bawah pejabar Eropa/Belanda. Olehkarenany fungsi direktur sekolah dengan posisi Soetan Casajangan menjadi redundansi. Hal itulah mengapa banyak waktu Soetan Casajangan di luar pengajaran, baik di sekolah guru Fort de Kock maupun di sekolah guru Amboina. Pada tahun 1918 Soetan Casajangan ditempatkan di Departemen Dalam Negeri. Meski demikian, beslit pengangkatan (gaji) Soetan Casajangan masih mengikuti besli (gaji) di departemen pendidikan. Protes pun ditujukan yang menyudutkan Soetan Casajangan pada saat dirinya cuti dan akan ke Belanda, bahkan hingga ke dewan Belanda (Tweede Kamer) dan Menteri Koloni. Protes ini juga tampak seperti mengada-ada, boleh jadi karena Soetan Casajangan dalam berperilaku tidak seperti pegawai pemerintah (Hindia Belanda) umumnya. Soetan Casajangan sangat mementingkan kemajuan penduduk pribumi dan Soetan Casajangan juga menjalin kontak yang intens dengan orang-orang Belanda yang pro pribumi di Belanda seperti Vereeniging Moderland en Kolonien dan Indisch Genootschap.
Guru
Tetaplah Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa; Dari Dja Endar Moeda hingga Parada
Harahap
Soetan Casajangan kembali ke tanah air pada bulan Mei 1921 (lihat De Maasbode, 08-05-1921). Disebutkan kapal ss “Patria” berangkat dari Rotterdam pada tanggal 7 Mei 1921 dengan tujuan Indonesia dimana di dalam manifest tercatat nama RS Casajangan Soripada. Sebelum pulang, Soetan Casajangan telah terlebih dahulu mengirim artikelnya yang berisi himbauan tentang apa yang baik untuk membangun kemajuan orang Indonesia pada masa ini.
De Preanger-bode, 05-04-1921: Gagasan Asosiasi. RS Casajangan Saripada menuliskan hal berikut dari Leiden: Selama berabad-abad, Belanda dan Hindia telah terhubung: awalnya oleh kepentingan perdagangan bersama, kemudian oleh kepentingan Belanda semata, dan sekarang kita telah memasuki era di mana sekali lagi kepentingan bersama yang menyatukan Belanda dan Hindia. Belanda telah menyadari bahwa Hindia harus dipimpin menuju kemerdekaan yang lebih besar agar dapat bekerja sama secara berkelanjutan, dan Hindia mulai memahami bahwa jutaan penduduk kepulauan Hindia hanya akan menemukan kesempatan untuk berkembang sepenuhnya di bawah kepemimpinan bangsa Belanda yang kecil dan cerdas. Hindia tidak lagi ingin didominasi, tetapi Belanda juga tidak ingin mendominasi: Belanda hanya ingin menjadi pelindung yang peduli yang bertugas mempersiapkan tanah Hindia untuk perjuangan kemerdekaan. Hanya dengan cara ini Belanda dan Hindia dapat tetap terikat satu sama lain jauh di masa depan. Namun, dua jenis bahaya mengancam: kehati-hatian yang berlebihan dari pihak pelindung (Belanda) dan tergesa-gesa yang berlebihan dari pihak murid (Hindia). Belanda harus memahami bahwa Indonesia seperti seorang pemuda yang tidak sabar dan ingin maju, serta tidak dapat hidup dalam penantian terus-menerus, dan Indonesia harus memahami bahwa Belanda seperti seorang pria dewasa dan bijaksana yang dengan tenang mencari jalan yang aman. Belanda harus segera memberi Indonesia kesempatan untuk bekerja lebih mandiri, dan Indonesia memang harus menunjukkan semangatnya yang besar, namun memastikan bahwa pelindung (Belanda) tidak perlu melakukan pekerjaan yang berlebihan dengan menghukum atau melawan kenakalan kekanak-kanakan dari murid (Hindia). Saya menganggap gerakan revolusioner di Indonesia yang diarahkan terhadap otoritas Belanda sebagai kenakalan kekanak-kanakan seorang murid. Perkembangan Indonesia mengalami penundaan yang tidak perlu akibat hal ini. Karena alasan ini, sepanjang hidup saya, saya telah menyatakan diri, baik dalam kata maupun tulisan, untuk kepentingan Indonesia, menentang aspirasi revolusioner apa pun di Hindia Indonesia, dan saya selalu mengingatkan saudara-saudara saya di Indonesia bahwa Indonesia hanya dapat mencapai kemerdekaan yang cepat melalui kerja sama dengan Belanda, dan bahwa perlawanan terhadap pelindung berarti kemunduran. Selama dua puluh tahun, saya telah berusaha untuk mempromosikan hubungan antara Belanda dan Hindia Belanda baik di Belanda maupun di Hindia. Pembaca, bantulah saya sekarang dalam upaya saya untuk memberikan contoh praktis dari hubungan tersebut. Pahami ini dengan jelas: saya hanya memikirkan kesejahteraan saudara-saudari saya di Indonesia, dan saya akan menemukan kekuatan untuk menanggung sumpah yang dibebankan kepada saya oleh ketidakpercayaan banyak rekan senegara saya, dll., yang berpikir bahwa saya merasa lebih terikat pada Belanda daripada Hindia, dan sebaliknya. Masa depan akan menunjukkan bahwa saya dapat memberikan hati saya tanpa keberatan kepada Belanda dan Indonesia, karena kepentingan kedua bangsa tersebut bertepatan dan karena berkah hanya dapat diharapkan dari hubungan antara kedua bangsa tersebut. Sebelum kembali ke Hindia, saya ingin mendirikan Perusahaan Perdagangan Belanda-Indonesia di Belanda (dengan saham senilai f10–f100), di mana warga Indonesia juga dapat menjadi pemegang saham. Tujuannya adalah perdagangan langsung (impor dan ekspor) dengan asosiasi produsen dan pedagang Indonesia di Hindia Belanda, dengan ketentuan bahwa sebagian keuntungan akan dialokasikan untuk pendidikan (baik teori maupun praktik) bagi warga Indonesia di Belanda untuk semua bidang pelayanan. Di Hindia Belanda, saya telah menjalin koneksi yang diperlukan dalam bidang pertanian dan perdagangan lokal untuk melanjutkan perdagangan langsung tersebut. Di Sumatra, saya telah bertemu dengan beberapa warga Indonesia yang giat dan bersemangat untuk memberikan kerja sama yang kuat dengan menyediakan produk-produk yang dibutuhkan. Saat ini saya membutuhkan dana untuk pendirian perkumpulan ini. Oleh karena itu, saya telah mengumpulkan semua tulisan dan ceramah saya yang tersebar (baik dalam bahasa Belanda maupun Melayu ke dalam sebuah buku, yang akan diterbitkan dalam bahasa Belanda dan Melayu (dicetak berdampingan) (dengan ilustrasi yang diperlukan), untuk dipresentasikan kepada publik. Judulnya adalah Associatie Nederland-Insilinde dan Asosiasi Belanda-Indonesia. Buku ini akan setebal sekitar 300 halaman, dan harganya 2,50 poundsterling (dijahit) dan 3,75 poundsterling (dijilid). Pembaca! Jika Anda mendukung kerja sama damai antara Belanda dan jika Insulinde bersimpati, maka saya dengan sungguh-sungguh meminta Anda: 1. segera kirimkan pesanan (besar atau kecil) untuk buku tersebut ke alamat saya yang bertanda tangan di bawah ini, atau, jika Anda memiliki lebih banyak dan jika Anda ingin bekerja sama lebih giat. 2. segera kirimkan kepada saya yang bertanda tangan di bawah ini pesan bahwa Anda siap untuk mengambil satu atau lebih saham senilai f10—f100 di perusahaan yang akan didirikan. Rapat pendiri (pemegang saham) perusahaan akan segera diadakan. Warga Belanda dan Indonesia, kini Anda memiliki kesempatan untuk mempromosikan penerapan kerja sama antara Belanda dan Indonesia di dunia bisnis. Kerja sama sebagai mitra yang sepenuhnya setara dalam suatu usaha seperti yang disebutkan di atas akan terbukti sangat penting untuk implementasi lebih lanjut dari kerja sama ini, terutama di mana Belanda, dengan mengakuisisi saham, dapat menunjukkan keinginan mereka untuk berkontribusi dalam menyediakan pendidikan Barat bagi kelas menengah Indonesia, dan sebagainya’.
Sebagai seorang guru, pemikiran Soetan Casajangan tetap pada kompetisinya sebagai guru yang berjuang dengan caranya sendiri. Soetan Casajangan ingin memajukan bangsanya melalui pendidikan agar siap pada nantinya untuk merdeka. Namun semua itu harus ada langkah nyata, dengan tetap membangun kemitraan dengan orang Belanda, dengan terus mempersiapkan bangsa dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Menurut Soetan Casajangan apa yang diharapkan sesuai tujuan orang Indonesia ke depannya hanya dapat dilakukan pada siatu dan kondisi adanya kemitraan kedua belah pihak.
Pentingnya organisasi ekonomi (perdagangan) yang ditawarkan oleh Soetan Casajangan, tidak hanya memberi jalan bagi orang pribumi untuk memliki perdagangan sendiri (ekspor-impor) antara Indonesia dan Belanda, juga sebagian keuntungan yang diperoleh dapat dialokasikan pada peningkatan pendidikan kelas menengah Indonesia. Gagasan ini dapat dikatakan gagasan ketiga Soetan Casajangan selama ini. Gagasan pertamanya adalah menginisiasi terbentuknya persatuan orang Indonesia, Soetan Casajangan memulainya di Belanda dengan mendirikan organisasi mahasiswa Indisch Vereeniging pada tahun 1908. Lalu kemudian gagasan keduanya adalah pentingnya studiefond (dana pendidikan) yang kemudian diinisisasinya dan terbentuk studiefond di Belanda pada tahun 1913 (sebelum pulang ke tanah air).
Gagasan Soetan Casajangan tampaknya mulai mengkristal selama kunjungannya di Belanda yang telah bertemu dengan berbagai pihak terutama orang-orang Belanda yang tergabung dalam Vereeniging Moderland en Kolonien dan Indisch genootschap; dan orang-orang Indonesia yang tergabung dalam Indische Vereeniging.
Het nieuws van den dag, 07-05-1921: ‘Indisch genootschap (Masyarakat Hindia). Di bawah kepemimpinan Prof C van Vollenhoveu, rapat umum Masyarakat Hindia diadakan minggu ini di Den Haag. Sekretaris, Th GG Valette, menyampaikan gambaran umum tentang keadaan dan kegiatan masyarakat pada tahun 1920-21. Laporan keuangan untuk tahun 1920-21 disetujui. Penggabungan dengan "Moederland en Koloniën" dan usulan amandemen peraturan ada dalam agenda. Kedua usulan tersebut disetujui tanpa diskusi. Kedua badan tersebut akan bersatu dengan nama Masyarakat Hindia. Selanjutnya, pemilihan dewan pengurus berlangsung. Diputuskan untuk tidak mengisi kekosongan yang disebabkan oleh pengunduran diri sementara Dr. E. Moreseo. Ketua mengucapkan terima kasih kepada Bapak Morosco atas apa yang telah ia capai untuk kepentingan masyarakat selama bertahun-tahun menjadi anggota dewan pengurus. Selanjutnya, berikut ini terpilih kembali: Prof C van Vollenhoveu, ketua; Th GG Valette, sekretaris dan bendahara; Jhr JC van Reigersberg ’Vert sluys, wakil ketua; Prof D van Blom, HJE. Wenkebach, Ny EM van Deventer-Maas, sementara Ny Sarnsi Sastrawidagda juga diangkat sebagai anggota dewan. Diputuskan untuk memasukkan dewan "Moederland en Koloniën" saat ini ke dalam dewan Indies Society juga, sehingga dewan tersebut ditambah dengan anggota-anggota berikut: WG Berkhout, AW Cremer, Cassajangan, G Gronggrijp, Tn J van Kuyk, R Mees, G Nypels, JP van Rossum, DW Stibbe dan A Witlam. Tn D Fock, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, diangkat sebagai ketua kehormatan. Ketua menyatakan bahwa pengangkatan ini tidak dilakukan dalam kapasitas sebagai Gubernur Jenderal, tetapi atas dasar bahwa D Fock adalah ketua kehormatan "Moederland en Koloniën". Sebagai hasil dari penggabungan asosiasi "Moederland en Koloniën" dan "Indisch Genootschap", dengan nama Indisch Genootschap, diputuskan untuk mengangkat semua anggota dewan dari kedua asosiasi tersebut sebagai anggota dewan baru Indisch Genootschap, kecuali Dr E Moreseo, yang telah mengundurkan diri karena jadwal kerja yang padat, dan Soetan Casajangan Soripada, yang telah mengundurkan diri karena akan berangkat ke Hindia. Dewan baru sekarang terdiri dari: Prof C van Vollenhoven, Ketua; WC Berkhout, Wakil Ketua; Jhr JC van Reigersberg Versluys, Bendahara; Th GG Valetta, Sekretaris; Dr Tj Mees, Ajudan Sekretaris. Anggota: EM van Deventer-Maas dan Bapak-bapak: Prof D van Blom, AW Cremer, Prof E Wenkebach’.
Lantas apa perbedaan dan persamaan gerakan Soetan Casajangan ini dengan gerakan Indisch Partij (EF Douwes Dekker dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo) pada tahun 1912-1913?.
EF Douwes Dekker dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo melalui Indische Partij (Partai Indonesia) berusaha membangun asimilasi yang kuat antara orang Indo dengan orang pribumi di Hindia dalam memperjuangkan pemisahan penuh antara Hindia dan Belanda untuk menuju kemerdekaan. Tentu saja itu sulit direalisasikan oleh otoritas Pemerintah Hindia Belanda, alih-alih melindungi Indisch Partij, sebaliknya Pemerintah Hindia Belanda melarang Indisch Partij dan mengasingkan para revolusionernya. Saat ini ada pemisahan yang kuat antara orang-orang Belanda (totok) di satu pihak dengan orang-orang Indo dan orang-orang pribumi yang mencoba membangun persatuan di Hindia. Sementara Soetan Casajangan melihat adanya dorongan yang kuat dari orang-orang Belanda untuk membantu orang pribumi melalui Indisch Genootschap dalam konteks kemitraan (kerjasama). Keutamaan Indisch Genootschap dalam hal ini semakin tampak seiring dengan pembubaran organisasi Vereeniging Moderland en Kolonien yang para anggotanya melebur ke Indisch Genootschap yang kini dipimpin oleh Prof C van Vollenhoven.
Kapal “Patria” yang berangkat dari Rotterdam tanggal 7 Mei 1921 akhirnya tiba di Tandjoeng Priok, Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-05-1921). Soetan Casajangan, setibanya di tanah air, sudah barang tentu akan menghadapi berbagai tantangan dengan gagasan yang telah dikomunikasikan di surat kabar. Sementara di Indonesia kelompok revolusioner (seperti Tan Malaka) melalui infiltrasi di dalam tubuh Sarikat Islam sudah semakin berkembang (SI-Merah). Soetan Casajangan sendiri sepulang dari Belanda mengusung gagasan dengan metode yang berlawanan (“anti-revolusioner”). Lantas bagaimana dengan Boedi Oetomo?
Komunisme di Indonesia bermula pada 1914 melalui pendirian organisasi sosialis ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) oleh tokoh Belanda, Henk Sneevliet. Organisasi ini menyebarkan Marxisme di kalangan kaum terpelajar pribumi dan menyusup ke dalam Sarekat Islam, sebelum akhirnya resmi bertransformasi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 23 Mei 1920. Kelompok baru di Indonesia ini bersifat revolusioner (seperti halnya Indisch Partij pada tahun 1912-1913). Oleh karena itu, Indisch Partij, ISDV dan PKI berada di garis perjuangan yang sama. Sementara, Soetan Casajangan yang merujuk pada organisasi orang Belanda di Belanda seperti Vereeniging Moederland en Kolonien dan kini Indisch Genootschap serta sesuai dengan situasi dan kondisi yang dibutuhkan penduduk Indonesia dalam menuju kemajuan dan kemerdekaan menjadi lebih lembut dalam perjuangannya (anti-revolusioner). Bagi Soetan Casajangan ada bahaya/ancaman besar yang akan dihadapi kelompok komunis (PKI) sebagaimana dilihatnya di masa sebelumnya Indisch Partij, alih-alih mendapat dukungan penduduk malah dilarang dan para revolusionernya seperti Dekker dan Tjipto diasingkan. Catatan: Dekker sekarang di; Dr Tjipto sekarang di; Soewardi Soerjaningrat sekaran di; Satu yang jelas dalam gerakan PKI ini terdapat tokoh pribumi Tan Malaka, seorang guru yang menjadi junior Soetan Casajangan di Rijkskweeksschool di Haarlem (sama-sama memiliki akta guru MO). Perlu dicatat disini, Soetan Casajangan saat ditugaskan sebagai guru di Fort de Kock tahun 1913 adalah yang mendorong guru Tan Malaka untuk melanjutkan studi ke Belanda. Soetan Casajangan kuliah di Rijkskweeksschool di Haarlem pada angkatan 1906-1910, Tan Malaka pada angkatan 1914-1918.
Soetan Casajangan di Indonesia tidak hanya mendapat tantangan dari beragam arah haluan organisasi/kelompok yang terhubung dengan pribumi, Soetan Casajangan sendiri sebagai guru (yang menjadi bagian dari pemerintahan di bawah departemen pendidikan yang ditempatkan di sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis) juga terus mendapat “perlawanan” dari orang-orang Belanda di internal pemerintahan. Bahkan anggota dewan Volksraad sendiri seperti Dr Tjipto Mangoenkoesoemo kerap mengalami resistensi dalam tugas-tugas pengawasannya.
De Preanger-bode, 04-02-1921: ‘Tidak di luar batasannya. Weltevreden, 3 Februari. “Aneta” mendapat informasi dari Jaksa Agung bahwa Tjipto memang mengajukan pengaduan terhadap Residen Solo. Jaksa Agung memanggil Tjipto dan memberitahunya bahwa pengaduan tersebut tidak diajukan karena Residen Harloff telah bertindak sepenuhnya “sesuai aturan”. Catatan: Volksraad mulai tahun 1918. Salah satu partai yang terbentuk adalah NIP (susksesi Indisch Partij). Saat ini sekretatis NIP adalah Soewardi Soerjaningrat dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemno ke dewan Volskraad melalui NIP. Soetan Casajangan dalam proses pemilihan anggota Volksrad tahun 1918 juga termasuk salah satu kandidat yang diapungkan masyarakat untuk mendapatkan satu kursi di dapil Sumatra, namun karena tidak memiliki landasan konstituen yang besar akhirnya tereliminasi.
Meski Soetan Casajangan dengan beslit guru Eropa akta MO di lingkungan Pemerintah Hindia Belanda tetaplah dianggap sebagai “orang asing” (non Eropa) yang kurang diterima sebagai pegawai yang setara dengan orang-orang Belanda. Dengan kata lain hak Soetan Casajangan tidak setara di mata orang Belanda yang berada di pemerintah (Pemerintah Hindia Belanda). Di sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis juga posisi dan peran Soetan Casajangan redundansi (karena yang menjadi direktur adalah orang Belanda). Pada bulan November 1921 Soetan Casajangan berangkat ke Sumatra, salah satu tujuannya adalah untuk membantu mendirikan asosisasi dengan tujuan mendirikan sekolah HIS di daerah Toba di Dolok Sanggoel.
Pantjaran Berita (22 November-5 December 1922, No. 111-120: ‘RS Casajangan Soripada di Balige. Termasuk sebuah kutipan dari "Jesajas Baligé", yang menunjukkan bahwa RS Casajangan Soripada disambut meriah oleh penduduk setempat saat kedatangannya di Baligé pada tanggal 21 November 1921. RS Casajangan Soripada dikatakan hanya menghabiskan satu malam di sana, khususnya di "Hotel Setia," dari mana ia berangkat keesokan harinya (22 November) menuju Dolok Sanggoel, ditemani oleh Soetan. Dewasah dan Soetan Soemoeroeng. Edisi tanggal 2 Desember memuat laporan dari Abdulmanap, mantan editor "Hindia-Sepakat," di mana ia menyatakan, antara lain, bahwa perjalanan ke Dolok Sanggoel dilakukan bersamanya, pengawas, demang, dan asisten demang Siborong-borong, dan bahwa RS Casajangan Soripada juga diberi sambutan meriah di sana. Pada tanggal 23 November—menurut laporan—diputuskan di Dolok Sanggoel untuk mendirikan sebuah asosiasi dengan tujuan menciptakan sebuah sekolah HIS di sana. Asosiasi ini bernama: School Vereeniging Batak (Asosiasi Sekolah Batak) dan van Deutekom, inspektur Siborong-borong, sebagai pelindungnya, dan RS Casajangan Soripada sebagai penasihatnya. Pada tanggal 24 November, sebuah pertemuan diadakan di Dolok Sanggoel oleh dewan asosiasi ini, di mana diputuskan untuk melanjutkan pada Januari 1923 dengan pembukaan HIS yang akan didirikan, di mana RS Casajangan Soripada akan menjabat sebagai kepala sekolah. Pada tanggal 25 November, berangkat ke Siborong-borong, di mana satu malam dihabiskan. Pada tanggal 26 November, perjalanan dilanjutkan ke Sibolga. Di sini juga, RS Casajangan Soripada disambut dengan meriah, yang menurut reporter, tampaknya beliau masih dicintai oleh masyarakat Batak’ (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1922, No. 51, 08-01-1922). Catatan: Sekolah HIS sudah didirikan di Padang Sidempoean (di gedung eks Kweekschool Padang Sidempoean) di Angkola lalu kemudian menyusul HIS didirikan di Sibolga (Sibolga en sekitanya) dan Taroetoeng (Silindoeng). Pada tahun 1918 sekolah HIS yang baru dibuka di Kotanopan (Mandailing) yang mana sebagai direktur adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Casajangan yang baru pulang ke tanah air setelah menyelesaikan akta guru MO di Leiden). Inisiasi pendirian sekolah HIS di Dolok Sanggoel adalah untuk mengisi kekosongan sekolah serupa di wilayah Toba.
Soetan Casajangan di lingkungan pemerintah (sebagai guru) selain mendapat resistensi dan perlakuan yang tidak adil, orang-orang Belanda (totok) juga terus mebully Soetan Casajangan. Mengapa? Soetan Casajangan di luar tugasnya sebagai guru tetap terus membangkitkan kesadaran penduduk untuk demikian kemajuan terutama di bidang peningkatan pendidikan. Tentulah orang Belanda totok sangat menyadari jika pendidikan orang pribumi terus meningkat maka akan menjadi ancaman bagi otoritas Pemerintah Hindia Belanda.
Salah satu bentuk bully yang dilancarkan oleh orang-orang Belanda totol di pemerintahan terhadap Soetan Casajangan adalah soal gaji yang diterimanya harus dipotong dan dikembalikan dan juga soal keringanan biaya kuliah Soetan Casajangan pada saat kuliah di Belanda (1906-1910). Namun semua itu terpatahkan oleh Soetan Casajangan. Ini bermula ketika Soetan Casajangan berangkat ke Belanda. Orang-orang pemerintah yang sudah mengetahui adalah pendiri Indisch Vereeniging di Belanda dan juga orang yang menjembatani dengan orang-orang Belanda yang mendukung pribumi di Hindia yang tergabung dalam Vereeniging Moederland en Kolonien dan Indisch Genootschap khawatir tentang sepak terjang Soetan Casajangan di Belanda mengulik-ulik apa yang dapat dijadikan peluru untu menjadikan Soetan Casajangan sebagai sasaran tembak. Satu peluru ditemukan yakni bahwa Soetan Casajangan terutang kepada pemerintah karena perbedaan gaji yang telah diterimanya dengan beslit di departemen pendidikan yang beberapa waktu terakhir Soetan Casajangan di departmenen dalam negeri yang standar gajinya lebih rendah. Satu komisi di Hindia mengirim nota gugatan ke dewan Belanda (Tweede Kamer). Lalu Tweede Kamer meneruskan ke Menteri Koloni dan kemudian Menteri Koloni meneruskannya kepada Soetan Casajangan yang tengah berada di Belanda. Lantas bagaiman respon Menteri Koloni? Yang jelas Soetan Casajangan tidak terlalu mempedulikannya karena itu adalah urusan administrasi pemerintah, dan bukan urusannya. Tidak sampai disitu, komite tersebut juga melayangkan nota ke Tweede Kamer bahwa bahwa Soetan Casajangan selama kuliah (1906-1910) juga terutama kepada negara karena keringanan kuliah. Lagi-lagi prosesnya diteruskan ke Menteri Koloni dan Soetan Casajangan yang masih di Belanda. Bahkan proses itu masih terus digulirkan meski Soetan Casajangan telah kembali ke tanah air. Lagi-lagi, Soetan Casajangan dapat mematahkan bully tersebut (lihat Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 04-10-1921). Disebutkan Menteri telah memberi tahu Tweede Kamer bahwa, usulannya (komite) untuk tujuan tersebut telah dipenuhi sejauh ia telah diberikan keringanan kewajiban untuk mengembalikan pembayaran biaya kuliah sebesar f2.000 sejak 1 Oktober 1910 untuk membiayai studinya untuk mendapatkan sertifikat kepala sekolah (1906-1910), sementara apa yang telah dibayarkan kepadanya untuk keperluan tersebut telah dikembalikan. Menteri Koloni tidak menemukan alasan dalam keadaan yang ada untuk memberikan konsesi lebih lanjut kepada pemohon (kimite) yang, bertentangan dengan apa yang dinyatakan dalam laporan komite mengenai penugasannya. De Maasbode, 23-02-1922: ‘Keputusan Tweede Kamer ini dipicu oleh usulan dari sebuah komite di dalam jajarannya, yang dalam laporannya menarik perhatian pada fakta bahwa terdapat perbedaan antara apa yang tercatat dalam informasi yang diberikan dalam surat tersebut dan apa yang disampaikan oleh Soetan Casajagan mengenai masalah ini dalam suratnya. Sebagai bukti komunikasi yang dilakukannya, Menteri Koloni menawarkan salinan suratnya kepada Casajagan tertanggal 6 Februari 1919, serta balasan dari pihak yang berkepentingan tertanggal 17 Februari tahun berikutnya. Dokumen-dokumen ini telah disimpan di kantor registrasi untuk diperiksa oleh para anggota’.
Tentu saja orang-orang Belanda yang nyinyir terhadap orang pribumi tidak hanya di Hindia, juga terdapat di Belanda. Sebaliknya, orang-orang yang mendukung pembangunan pribumi di Hindia tidak hanya ada di Belanda (seperti Indisch Genootscap), juga ada di Hindia (seperti NIP).
Utrechtsche courant, 26-08-1922: ‘Membangkitkan Hindia Belanda. Pada artikel sebelumnya tanggal 17 Agustus lalu, telah ditunjukkan bahwa masyarakat primitif Hindia Belanda, yang sangat berbeda dalam kemampuan praktis dan intelektual, harus dididik menjadi manusia, menjadi karakter, yang dapat mengendalikan dan mengatur diri mereka sendiri. Bukan tugas yang mudah! Tugas itu tidak hanya berat, tetapi juga, sangat menyedihkan, karena para manipulator populer dari sakramen Islam dan sejenisnya akan dengan senang hati memanfaatkan keraguan apa pun dari Pemerintah untuk segera memperkuat propaganda anarkis dan komunis mereka. Banyak yang merasa perlu untuk mengajukan keberatan ini: "Setelah penduduk asli mencapai kedewasaan penuh, ia akan dapat hidup tanpa penguasanya, dan karena jumlah mereka lebih banyak, kita harus memberi jalan". Namun, kita juga harus mempertimbangkan bahwa jika orang Eropa disingkirkan dari Hindia Belanda, ibu kota akan hilang bersamanya, dan koloni tersebut akan menjadi setara dengan Suriname: tanah subur tanpa modal dan dengan demikian menjadi miskin. "Dan, jika kemudian, sekali lagi", kata Dr Swart Abrahmis, "kekuatan yang berasal dari peradaban orang kulit putih telah dihancurkan, maka negara-negara tropis itu akan kembali sepenuhnya ke keadaan semula dalam waktu yang lebih singkat daripada beberapa dekade yang dibutuhkan untuk membangun Eropa di sana." Lebih jauh lagi, rangkaian peristiwa yang diuraikan di atas hanya dapat terwujud jika pembangunan terjadi tanpa campur tangan orang Eropa. Namun, jika peningkatan kesejahteraan rakyat terjadi dengan bantuan orang Barat dalam semangat persahabatan, maka khayalan itu sama sekali tidak akan menjadi kenyataan, melainkan lebih kepada gagasan asosiasi Prof. Snouck Hurgronje, yaitu integrasi dan penggabungan orang-orang Hindia dan Belanda, di mana Snouck Hurgronje melihat solusi untuk masalah Islam. Penduduk asli menunjukkan kecenderungan untuk bergabung dengan kita: mereka meminta pendidikan kepada kita, mereka meminta ilmu pengetahuan kita, mereka meninggalkan tanah air mereka selama bertahun-tahun untuk memperoleh pengetahuan yang diperlukan di tanah air, agar setara dengan orang Belanda. Jumlah mahasiswa Hindia di negara ini meningkat tajam. Mereka sudah membentuk asosiasi: Asosiasi Hindia di Den Haag, Setiah Tanah Hindia di Amsterdam. Yang terakhir juga menerima non-pribumi, untuk memperkuat ikatan antara Belanda dan penduduk asli. Mereka bahkan menerbitkan surat kabar Melayu-Belanda bergambar: "Bintang Hindia": tujuan: pencerahan dan peradaban tanah dan wilayahnya. Kemudian, sejak 1909/13, juga ada "Bandera Wolanda"! Sekolah-sekolah pribumi dan Eropa untuk pendidikan menengah dan atas dibanjiri oleh murid. Sayangnya, tidak semua dapat diterima. Itu buruk, dan membutuhkan perbaikan yang cepat: -. Kekuatan penjajah lain mengalami kesulitan dalam mengumpulkan penduduk untuk diri mereka sendiri. Di sini kebalikannya: para intelektual pribumi menginginkannya untuk rakyat mereka, karena mereka telah mengalami bahwa penghapusan ini akan bermanfaat bagi rakyat mereka. Adjong Kp-rtini, putri bupati Tapara yang berbakat, juga menyadari dengan jelas bahwa masyarakat pribumi mulai sadar. Ia mengatakannya demikian: ? “Kondisi baru sedang datang ke dunia masyarakat adat, jika bukan oleh kita, maka oleh orang lain. Emansipasi ada di udara; itu sudah ditakdirkan. Dan siapa pun yang memilih Takdir sebagai ibu spiritual dari 'Yang Baru' itu harus menderita. Itu adalah hukum alam yang abadi: siapa pun yang melahirkan harus merasakan sakit melahirkan. Tetapi anak itu, yang sudah kita hidupi, 'adalah, sebelum orang lain' dari keberadaannya, yang kita terima melalui penderitaan dan kesedihan, sangat berharga bagi kita.” Kartini percaya bahwa evolusi ini akan disertai dengan kesedihan dan kekhawatiran! Dan tahun-tahun setelah kematiannya pada tahun 1904 telah cukup membuktikan hal ini. Namun, mari kita dengarkan sejenak suara lain, yang lebih muda dan lebih kuat. SSJ Ratu Langgie, seorang penduduk asli, berkata: “Suatu hari nanti Hindia akan memiliki eksistensi nasional yang merdeka! Sejarah tidak dapat mengidentifikasi satu bangsa pun yang selamanya didominasi. "Partai anti-revolusioner di Hindia harus "ditempatkan" di antara orang-orang Eropa tulen dan bangsawan pribumi", kata Soetan Casajangan, dari Sumatera.
Dalam hal ini perbedaan haluan politik selain terjadi diantara orang-orang Belanda (pro dan kontra) terhadap kepentingan Hindia, juga diantara pribumi juga terdapat perbedaan politik antara yang berhaluan kemitraan (NIP) dan yang berhaluan non-cooperative (kelompok kumunis di Hindia). Soetan Casajangan, seorang guru, yang non-partisan lebih condong kepada gerakan non-revolusioner seperti NIP di Hindia (berparlemen/Volksraad) dan Indisch Genootschap di Belanda daripada gerakan komunis (revolusioner) baik yang ada di Belanda maupun di Hindia.
Seperti disebut di atas, gerakan komunis tengah berkembang di Belanda, dan juga berkembang di Hindia. Di Belanda, pemerintah masih bisa mengendalikannnya. Namun di Hindia, pemerintah mulai merasakan adanya ancaman yang besar terhadap otoritas Pemerintah Hindia Belanda. Dalam hal ini baik kelompok kemitraaan (cooperative) maupun kelompok non-cooperative sama-sama mengusung pembentukan nasionalis yang kuat. Namun yang membedakan adalah kelompok cooperative ingin memiliki pemerintahan sendiri yang merdeka (dalam konteks persemakmuran seperti Suriname), sedangkan kelompok non-cooperative juga ingin memiliki pemerintahan sendiri yang merdeka (dalam konteks kepemimpinan berada di Moskow. Jelas bahwa Kerajaan Belanda (Pemerintah Hindia Belanda) yang kapitalis (seperti Eropa umumnya) menolak paham komunis Moskow (yang sosialis).
Sepak terjang Soetan Casajangan dan daya tahannya menghadapi perlawanan dari orang-orang Belanda di pemerintahan mendapat perhatian surat kabar “De expres” yang di dalam artikel singkatnya memberi judul “Soetan Casajangan Kita Kembali Beraksi”. Sebagaimana diketahui surat kabar “De expres” di Bandoeng yang dipimpin Ernest Douwes Dekker adalah organ (corong) dari NIP. Seperti disebut di atas, baru-baru ini Soetan Casajangan berada di Sumatra.
De expres, 14-10-1922: ‘Soetan Casajangan Kita Kembali Beraksi. Weltevreden, 12 Oktober. Tertulis di lnd. Crt. dengan judul Kemajuan Batak: Bagi banyak pembaca, nama salah satu Batak pertama yang dilatih di Eropa untuk kehidupan masa depan mereka di Hindia, yaitu Bapak Soetan Casajangan, tentu tidak asing. Tokoh Batak ini bekerja di bidang pendidikan, memperoleh sertifikat asisten dan kepala sekolah, tetapi, konon, sebagai akibat dari tindakannya atas nama orang Ambon, keadaan tidak berjalan baik baginya dalam mengajar. Ia merasa telah diperlakukan agak tidak baik oleh pihak berwenang di Hindia, baru-baru ini membela kepentingan keuangannya di Belanda, dan menerima rehabilitasi di sana, setidaknya sebagian. Setelah kembali, Bapak Casajangan diangkat sebagai guru di sekolah normal untuk guru pribumi di Meester-Cornelis. Ia sudah lama tidak berpartisipasi dalam gerakan tersebut; terlebih lagi, ia selalu menjadi pendukung moderat kepentingan penduduk di bidang pembangunan material dan spiritual’.
Dari Dja Endar Moeda hingga Parada Harahap: Perkembangan Pers Indonesia dari Masa ke Masa
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar