Rabu, 15 Juli 2026

Sejarah Casajangan (11): Penerus Soetan Casajangan;Mangaradja Soangkupon Soetan Goenoeng Mulia Soetan Goenoeng Soaloon


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Soetan Casajangan Soripada (pendiri Indisch Vereeniging/Perhimpoenan Indonesia, di Leiden 1908) adalah penerus dari Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda (pendiri organisasi kebangsaan pertama pribumi "Medan Perdamaian", di Padang 1900). Sementara penerus Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan cukup banyak, antara lain Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon (anggota Volksraad empat periode, 1927-1942), Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (guru bergelar doktor pertama Indonesia, Menteri Pendidikan RI), Parada Harahap gelar Mangaraja Goenoeng Moeda (The King of Java Press) dan Amir Sjarifoeddin Harahap gelar Soetan Goenoeng Soaloon (Perdana Menteri RI). Kecuali Amir Sjarifoedin lahir di Medan, semuanya lahir di Padang Sidempoean. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia


Mangaradja Soeangkoepon lahir 26 Desember 1885 dalam keluarga bangsawan Batak Angkola di Padangsidempuan. Pendidikan awalnya tidak terdokumentasi dengan baik; kemungkinan besar ia belajar di sekolah berbahasa Belanda setempat. Ketika ia tidak terpilih sebagai pewaris gelar keluarga oleh ayahnya pada tahun 1902, ia pergi ke Sumatera Timur. Adik laki-lakinya, Abdul Rasjid, kemudian juga menjadi tabib pribumi dan politikus yang berpendidikan di STOVIA. Pada tahun 1906, ia diangkat menjadi kepala kecamatan di Sosa Julu, Padang Lawas, Sumatera Utara. Pada tahun 1910 ia meninggalkan Hindia menuju Eropa, mendaftar di sebuah perguruan tinggi keguruan di Leiden. Dia kembali ke Sumatra pada tahun 1914 dan sempat bekerja untuk surat kabar Pewarta Deli. Pada tahun 1915 ia kembali ke dinas pemerintahan dan memegang berbagai peran administratif di Kediaman Tapanoeli dan Sumatera Timur, termasuk menghabiskan waktu di dewan lokal Pematangsiantar dan Tanjungbalai. Selama periode ini, ia tampaknya dipengaruhi oleh Kebangkitan Nasional Indonesia yang menyebar dengan cepat di kalangan penduduk asli Hindia Belanda. Ia diangkat untuk mewakili Sumatera Timur dalam Pemilihan umum Volksraad Hindia Belanda 1927 pada bulan Mei, dan pindah ke Batavia (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah para penerus Soetan Casajangan? Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan Soripada adalah penerus dari Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda. Penerus Soetan Casajangan cukup banyak. Lalu bagaimana sejarah para penerus Soetan Casajangan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Para Penerus Soetan Casajangan; Mangaradja Soangkoepon, Soetan Goenoeng Moelia, Soetan Goenoeng Soaloon

Pada saat Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan masih berada di Belanda, ada dua lulusan sekolah dasar Eropa (ELS) kelahiran Padang Sidempoean melanjutkan studi di Belanda. Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon lulus ELS di Padang Sidempoean tiba di Belanda tahun 1910. Setahun kemudian Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia lulus ELS di Sibolga tiba di Belanda tahun 1911. Mereka membawa nama gelar (adat) mereka masing-masing. 


Seperti di wilayah lain, di wilayah Angkola umumnya di masa lalu setiap anak laki-laki yang sudah akil baligh diberi gelar (adat) oleh orang tua/keluarga. Ada tiga kategori gelar berdasarkan urutan kelahiran: Baginda, Mangaradja (juga disingkat Dja) dan Soetan. Nama gelar disesuaikan dengan karakter dan harapan terhadap si anak. Dja Endar Moeda merupakan nama depan gelar Dja (singkatan Mangaradja) ditambah dengan nama gelar Endar Moeda. Dalam bahasa Angkola Endar atau Andar diartikan “jelas, terlihat” yang mengandung mana “terhormat” (lihat Kamus Angkola Mandailing karya HJ Eggink, 1936). Soetan Casajangan Soripada dalam hal ini casajangan adalah kesayangan dan soripada adalah dari kata “sori” dan “pada atau poda” yang mana “sori” artinya waktu bahagia dan “poda atau pada” artinya pengajaran atau nasihat. Casajangan Soripada adalah kesayangan pengajaran/nasihat yang membuat bahagia nanti. Bagaimana dengan Mangaradja Soangkoepon? Soangkoepon dari kata dasar “angkoep” yang artinya penolong, Soangkoepon (So-angkoep-on) berarti sangat penolong. Soetan Goenoeng Moelia, Soetan Goenoeng Moeda dan Soetan Soaloon yang merujuk pada goenoeng (bukit) yang memiliki kiasan dalam bahasa Angkola sebagai puncak pendakian: kata “moelia” berarti mulia, kata “moeda” berarti muda dan “soaloon” dari kata dasari “alo” yang artinya lawan yang dalam hal ini “soaloon” artinya yang tidak bisa dilawan (tidak terlawan). Lantas apakah nama gelar yang diberikan kepada mereka sesuai harapan keluarga/orang tua mereka? Kita lihat saja nanti. 

Mangaradja Soangkoepon adalah pegawai pemerintah di bidang kepabeanan di Sumatra Timur. Pada tahun 1910 Mangaradja Soangkoepon berangkat ke Belanda dengan kapal ss Prinses Juliana. Sebagaimana diketahui di Belanda sudah ada organisasi mahasiswa Indisch Vereeniging (yang digagas Soetan Casajangan pada tahun 1908). Ibu Soetan Casajangan adalah putri Koeria Sipirok, sementara Mangaradja Soeangkoepon adalah putra dari Koeria Sipirok. Dalam hal ini Mangaradja Soeangkoepon adalah keponakan Soetan Casajangan sendiri. 


Abdoel Firman gelar Mangaradja Soangkoppon lulus ujian pegawai pemerintah (klein ambtenaar) pada tahun 1903 di Medan (lihat Deli courant, 17-06-1903). Mangaradja Soetan lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Padang Sidempoean. Pada tahun 1907 Abdoel Firman gelar Mangaradja Soangkopon diberi cuti dari tugasnya sebagai inlandsch opziener di Tandjoeng karena ada alasan mendesak ke Tandjoeng Poera (lihat Deli courant, 23-07-1907). Setelah ini tidak terinformasikan lagi Abdoel Firman gelar Mangaradja Soangkopon hingga keberangkatannya ke Belanda. 

Besar dugaan Mangaradja Soangkoepon di Belanda melanjutkan studi di sekolah perdagangan. Sebagaimana diketahui Soetan Casajangan sebagai guru di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam. Sekolah serupa ini sesuai dengan jabatannya sebagai pegawai pemerintah di bidang kepabeanan di Sumatra Timur. 


De courant, 13-03-1912: ‘Orang pribumi di pengadilan. Perlu diingat bahwa pada malam tanggal 8 Februari 1912, seorang karyawan Jawa dari perusahaan pelayaran "Nederland" menjadi korban pertengkaran dan terluka parah. Pelaku kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di ruang sidang ke-5: seorang pemuda kecil berkulit hitam, dengan wajah kekanak-kanakan yang cerdas. Saat duduk di sana, mengenakan jaket biru kecil berkancing emas, orang akan mengira dia berusia 14 tahun. Namun, Boedin sudah berusia 25 tahun. Dr AA Fokker bertindak sebagai penerjemah. Namun, terdakwa dan para saksi tidak berbicara bahasa yang dikuasai Dr Fokker, melainkan dialek Madura. Pada tanggal 8 Februari, terdakwa berjudi dengan beberapa teman, termasuk korban, bernama Walidin. Terjadi pertengkaran mengenai pembayaran yang harus dilakukan, dan kemudian terdakwa dipukul oleh yang lain. Walidin berjalan ke kamar tidur, mengambil keris dari sana, dan menyerang terdakwa. Namun, terdakwa berhasil menghindari serangan itu, mengambil keris sendiri, dan menusuk penyerangnya di sisi kiri, melukainya begitu parah sehingga ginjal kiri dan bagian diafragma kiri tertembus, perut robek, dan rongga dada kiri terbuka. Akibat luka tersebut, Walidin meninggal pada tanggal 9 Februari 1912. Saksi-saksi Madura akan didengarkan kesaksiannya. Pengadilan memanggil seorang mahasiswa dari Leiden, seorang Batak berpangkat tinggi, Maharaja Soangkoepon, sebagai ahli, untuk bertindak sebagai orang yang akan memegang sumpah saksi. Pria ini, yang mahir berbahasa Belanda, menyatakan bahwa ia berwenang untuk memberikan sumpah kepada para saksi, tetapi ia sendiri tidak dapat memberikan sumpah tanpa seorang imam. Sebenarnya, sumpah harus diucapkan di masjid, sementara imam harus meletakkan Al-Quran di atas kepala saksi. Dr Fokker menganggap semua ini tidak perlu. Di Borneo, formalitas ini dihilangkan, dan ia sendiri telah memberikan sumpah kepada umat Muslim di Borneo sebanyak 40 kali. Pengadilan telah meminta nasihat dalam hal ini dari (seorang utusan Turki dan Tuan Snouck Hurgronje). Berdasarkan hal tersebut di atas, diputuskan bahwa Saongkoepon sendiri tidak perlu mengucapkan sumpah dan bahwa dia akan mengucapkan sumpah tersebut. Namun, pemeriksaan saksi saat ini tampaknya masih menimbulkan kesulitan besar, karena orang Melayu tidak mengetahui berapa usia mereka. Melalui berbagai kombinasi peristiwa dalam hidup mereka, Pengadilan akhirnya menemukan apakah seorang saksi telah mencapai usia 16 tahun. Sementara Maharaja menutupi kepalanya, saksi mengambil posisi setengah membungkuk dan mengulangi kata-kata sakramental yang didiktekan kepadanya; dia mendatangkan kutukan Allah atas dirinya sendiri jika dia tidak mengatakan yang sebenarnya, dan sementara itu Maharaja menekan Al-Quran tertulis ke kepala saksi. Dari pemeriksaan saksi, tampaknya terdakwa memang pertama kali diserang oleh Walidin. Luka yang diderita korban sedemikian parah sehingga, secara manusiawi, pasien tidak mungkin pulih meskipun bertubuh kekar. Dokter Schoo, Voorhoeve, dan Bisselink didengarkan sebagai saksi dan ahli, dan menyatakan bahwa tusukan dilakukan dari belakang ke depan dan dari bawah ke atas, dan bahwa pihak yang terluka adalah seorang pria yang sangat kuat dan berotot. Pejabat Kejaksaan, Mr Bruijn, tidak berasumsi bahwa terdakwa bertindak membela diri. Karakter orang Madura lebih pendendam dan mudah marah daripada orang Jawa; oleh karena itu, sudah jelas bahwa kedua penduduk asli, yang terbawa suasana, merebut keris. Tidak dapat dipastikan siapa yang menusuk lebih dulu; tetapi yang pasti Walidin terluka dan terdakwa tidak. Ini bukan serangan dan pembelaan; ini adalah perkelahian biasa. Hukuman penjara sepuluh bulan dijatuhkan kepada terdakwa atas tindak pidana penyerangan yang berakibat fatal, dengan pengurangan masa penahanan preventif. Kejaksaan telah mempertimbangkan keadaan bahwa penjara kita tidak cocok untuk orang Jawa. Biarlah hukuman dijatuhkan. penderitaan, bukan kerugian. Mr Schürmann, yang bertindak sebagai penasihat hukum, memohon pembebasan dan mengajukan pembelaan diri’. 

Di Belanda, Soetan Casajangan yang dibantu oleh Mangaradja Soangkoepoen menginisiasi pembentukan studiefond (dana pendidikan) pada tahun 1912. Saat ini ketua Indisch Vereeniging dari Soetan Casajangan telah diestafetkan kepada Dr Ph Laoh. Pembentukan studiefond dimaksudkan untuk menghimpun dana sosial untuk membantu mahasiswa yang kesulitan keuangan dan membantu guru muda di Hindia untuk melanjutkan studi keguruan di Belanda. 


De nieuwe courant, 03-05-1913: ‘Kepada Editor yang terhormat, Dengan hormat saya meminta publikasi berikut ini di surat kabar Anda: Pada tanggal 30 April, sebuah pertemuan diadakan bagi mereka yang tertarik pada tujuan yang diperjuangkan oleh Bapak Soetan Kasajangan: pembentukan dana untuk memungkinkan penduduk pribumi Hindia Belanda studi ke Belanda sedemikian rupa sehingga, setelah kembali ke tanah air mereka, mereka dapat menjadi guru. Harapan tulusnya dalam hal ini adalah agar di masa depan persatuan yang besar dapat terwujud dalam upaya mencapai kemajuan dan peradaban antara Belanda dan Hindia. Usulannya untuk pembentukan dana tersebut mendapat sambutan yang baik pada pertemuan tersebut, yang dihadiri oleh sedikit "Indisch Genootschap/Masyarakat Indonesia". Setelah beberapa penjelasan tentang maksud Bapak Soetan Kasajangan, tampaknya ada perbedaan pendapat di antara beberapa orang mengenai tujuan dana tersebut. Lebih lanjut, karena kurangnya kemampuan berbicara dari beberapa pembicara yang hadir, dan suara palu yang mengganggu di sekitarnya, banyak hal yang disampaikan tidak dapat saya dan banyak orang yang hadir dengar, sehingga saya harus mengandalkan kesan umum yang saya terima. Sebuah surat tiba dari Indische Vereeniging: Bapak Soetan Kasajangan. baru memberitahukan niatnya kepada asosiasi tersebut, bisa dibilang, pada saat-saat terakhir. Karena yayasan-yayasan seperti "Yayasan Tjandi" dan "Dana Max Havelaar" sudah ada, dan memang disubsidi oleh pemerintah Hindia Belanda, asosiasi tersebut menganggap pembuatan dana terpisah lainnya sebagai pemborosan sumber daya. Dianggap lebih perlu untuk mendukung warga Hindia Belanda yang datang ke sini untuk mengikuti pendidikan menengah dan tinggi, serta sekolah pertanian dan kejuruan. Bapak Soetan Kasajangan dan Mangaradja Soangkoepon berusaha membela pandangan mereka: untuk membuat studi ke Belanda lebih mudah diakses oleh lebih banyak penduduk pribumi daripada yang mungkin dilakukan hingga saat ini, dan daripada yang mungkin dilakukan dalam waktu dekat di bawah keadaan yang berlaku. Menurut pendapat saya, mereka dengan tepat memperjuangkan masalah yang sangat penting. Singkatnya: penduduk pribumi menginginkan pengetahuan dan perkembangan yang lebih besar. Ia memahami bahwa untuk mencapai hal ini, ia harus mempelajari bahasa Barat. Ia menyaksikan bahwa, meskipun ada sekolah-sekolah Belanda-Cina, orang Cina di Hindia meminta bahasa Inggris, dipengaruhi oleh Singapura dan Straits Settlements di dekatnya. Penduduk pribumi di Pantai Timur Sumatra, di Kepulauan Riauw, dan di Kalimantan Timur dan Barat lebih sering berinteraksi dengan penutur bahasa Inggris daripada orang Jawa. Orang Jawa meminta bahasa Belanda. Hingga saat ini, mereka terdorong untuk menyelaraskan diri dengan Belanda. Keinginan ini tidak boleh diremehkan. Pemerintah di Hindia, yang membuka sekolah-sekolah Belanda untuk orang Cina, hanya memungkinkan sebagian kecil penduduk pribumi untuk belajar bahasa Belanda di sekolah-sekolah pribumi kelas 1. Tidak perlu argumen lebih lanjut: secara umum diakui bahwa penyediaan ini merupakan alokasi yang sangat sedikit. Penduduk pribumi dalam upayanya yang penuh semangat untuk berkembang, tidak puas dengan itu. Pemerintah Hindia tidak dapat menyediakan lebih banyak lagi; biaya pendidikan ini menjadi terlalu besar bagi mereka. Para guru Eropa yang dipekerjakan di sekolah-sekolah pribumi kelas 1 tersebut direkrut dari korps yang ditujukan untuk sekolah dasar negeri Eropa. Terdapat kekurangan yang sangat besar dalam korps ini. Lalu, apa maksud Bapak Soetan Kasajangan? Beliau meminta pelatihan guru di Belanda untuk penduduk asli yang sesuai. Hanya di sinilah, menurut pemahamannya, orang Timur dapat memperoleh cukup kemampuan berbahasa Belanda untuk dapat mengajarkan bahasa tersebut kepada rekan senegaranya setelah kembali ke Hindia. Pelatihan di Hindia tidak cukup untuk tujuan ini. Para guru ini (secara bertahap) memenuhi kebutuhan yang dirasakan dan—murah. Di mana pun, setelah bergegas ke pedalaman terdalam, para guru pribumi ini merasa betah di sana. Mereka sedikit atau sama sekali tidak terpengaruh oleh pengaruh iklim; mereka tidak meminta cuti ke luar negeri. Dengan cara ini, Bapak Soetan Kasajangan percaya, pengetahuan dan peradaban dapat diberikan kepada masyarakat Hindia, dan integrasi yang lebih besar antara Hindia dan Belanda dapat dicapai. Fondasi ini diperlukan. Saya kemudian akan mencari orang-orang berbakat, dengan kesadaran yang lebih besar, jalan menuju pelatihan lebih lanjut. Dalam hal ini pun mereka membutuhkan dukungan, karena mereka akan memperolehnya, dan memang dari sumber yang sama yang darinya mereka dianggap mampu mengambil langkah pertama di jalan menuju pengetahuan, dengan mempelajari bahasa Belanda. Bagaimana jadinya jika penduduk pribumi, setelah mencapai kemandirian yang lebih besar, belajar sendiri untuk membantu dan kemudian lebih memilih bahasa Inggris? Mustahil? Pendapat majelis adalah (dan masih): untuk mendirikan dana yang memberikan bantuan secara luas kepada siswa, baik pria maupun wanita. Saya berharap Bapak Soetan Kasajangan masih dapat berhasil membuat komite menyadari, untuk regulasi lebih lanjut, apa yang sebenarnya Niatnya adalah, dan semoga ia memperoleh, agar niat ini diupayakan di atas segalanya; jika tidak, maka prioritas bantuan yang akan diberikan kemungkinan besar akan jatuh pada kaum muda yang ingin mempersiapkan diri untuk pendidikan menengah dan tinggi, sementara penduduk pribumi kehilangan kesempatan untuk belajar bahasa Belanda. Semoga ada banyak orang yang setuju dengan Bapak Soetan Kasajangan: "Belanda dan Hindia adalah satu!" Semoga banyak orang menunjukkan sentimen mereka dengan mendukung secara aktif dana yang baru didirikan untuk masyarakat Hindia. Terima kasih atas ruang yang diberikan. Hormat saya, R Thierbach, Den Haag, 30 April’. 

Setelah studiefond didirikan di Belanda, Soetan Casajangan sudah waktunya kembali ke tanah air karena Menteri Koloni mengusulkan Soetan Casajangan menjadi guru di sekolah guru. Soetan Casajangan dengan kapal ss Prinses Jualiana berangkat pada awal Juli 1913. Mangaradja Soangkoepon menyelesaikan studinya di sekolah perdagangan (Handelschool) pada tahun 1914. 


Mangaradja Soangkoepon adalah orang Indonesia pertama yang studi di bidang perdagangan (ekonomi). Sebelumnya, Soetan Casajangan adalah orang Indonesia pertama yang mengajar bahasa Melayu di Belanda di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam. Sejarah sekolah perdagangan (handelschool) di Belanda sudah lama (siswa yang diterima lulusan sekolah dasar ELS), tetapi perguruan tinggi perdagangan (handelshooheschool) masih terbilang sangat baru (masiswa yang diterima lulusan HBS). Pada tahun 1898 seorang pendidikan perdagangan mengusulkan perlunya perguruan tinggi perdagangan (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 06-01-1898). Pengamat tersebut menilai sekolah perdagangan yang ada di Belanda sangat berantakan jika dibandingkan dengan negara-negara lain Belgia, Prancis dan Jerman serta Jepang. Pengamat tersebut juga berpendapat sekolah perdagangan kita harus diperluas secara besar-besaran, setidaknya sekitar 20 sekolah perdagangan harus didirikan jika ingin setara dengan pendidikan komersial di Jerman. Sejak inilah kualitas sekolah perdagangan di Belanda ditingkatkan dan jumlahnya semakin bertambah. Seperti disebut sebelumnya, pada tahun 1909 Soetan Casajangan diangkat sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan kemudian juga di Rotterdam. Seperti disebut di atas, pada tahun 1910 Mangaradja Soeangkoepon (lulusan ELS di Padang Sidempoean) tiba di Belanda yang kemudian studi di Handelschool di Rotterdam. Pada tahun 1913 di Rotterdam dibuka perguruan tinggi perdagangan (Handelshoogeschool). Sementara itu pada tahun 1911 tiba di Belanda guru muda Sjamsi Widagda yang dikirim (dibiayai) oleh Boedi Oetomo yang dititipkan kepada Soetan Casajangan di Den Haag. Sjamsi Widagda studi di sekolah guru (kweekschool) swasta di Den Haag. Sjamsi Widagda lulus ujian akta guru LO pada bulan Mei tahun 1913. Pada bulan ini studiefond secara resmi dibentuk. Pada bulan Juli 1913 Soetan Casajangan kembali ke tanah air. Lantas apakah Sjamsi Widagda segera kembali ke tanah air? Tampaknya tidak. Sjamsi Widagda mengikuti jejak Soetan Casajangan. Pada bulan Agustus 1913 terinformasikan Sjamsi Widagda diangkat sebagai guru bahasa Melayu di Handelschool. Seperti dilihat nanti, Sjamsi Widagda diangkat kembali sebagai guru bahasa Melayu bulan September 1914 di Handelschool Rotterdam; dan angkat lagi bulan September 1915. Pada tahun 1915 ini Sjamsi Widagda mengambil kursus bahasa Melayu dan etnografi di Den Haag. Sebelumnya, seperti disebut di atas, setelah setelah selesai sekolah perdagangan Mangaradja Soangkoepon pada bulan Juli 1914 kembali ke tanah air. Pada bulan September 1915 Sam Ratulangi lulus akta guru MO bidang Matematika. Pada bulan Agustus 1916 Sjamsi Widagda kembali diangkat guru bahasa Melayu di Handelschool dan juga lulus akta guru MO. Pada bulan Agustus 1917 Sjamsi Widagda kembali diangkat guru bahasa Melayu di Handelschool di Rotterdam. Pada tahun 1918 terinformasikan Sjamsi Widagda lulus ujian masuk Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam. Bagaimana bisa? Besar dugaan akta MO yang digunakannya menjadi syarat mengikuti ujian perguruan tinggi. Dalam hal ini Sjamsi Widagda adalah orang Indonesia pertama di perguruan tinggi perdagangan (ekonomi). Pada bulan September Mohamad Hatta diterima di Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam. Pada tahun 1923 Sjamsi Widagda lulus sarjana (Drs). Lalu dua tahun berikutnya tahun 1925 Sjamsi Widagda meraih gelar doktor di Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam. Dalam hal ini, Sjamsi Widagda adalah ekonom pertama Indonesia dan juga doktor ekonomi pertama Indonesia. 


Mangaradja Soangkoepon bersama Soetan Mangkoeto mendirikan perusahaan (firma) perdagangan (ekspor-impor) di Amsterdam. Pendirian perusahaan tersebut terinformasikan setelah Mangaradja Soangkoepon dalam pelayaran pulang ke tanah air  (diiklankan di koran Algemeen Handelsblad, 28-06-1914). Ini berarti sebagai perwakilan Soetan Mangkoeto di Belanda, Mangaradja Soangkoepon di tanah air.

 

Sumatra-bode, 16-07-1914: ‘Kapal ss Kawi dari Rotterdam berangkat tanggal 13 Juni dengan tujuan akhir Batavia dimana dalam manifest kapal terdapat nama AFM Soangkoepon’. Saat ini, Soetan Casajangan sebagai guru di sekolah guru di Fort de Kock, juga terinformasikan menginisiasi pendirian organisasi kebangsaan untuk tujuan meningkatkan kemajuan penduduk dan juga untuk mendukung guru-guru muda untuk studi ke Belanda. Mangaradja Soeangkoepon cukup lama di Batavia, boleh jadi mempersiapkan perwakilan firma mereka yang dihubungkan dengan di Amsterdam. De Sumatra post, 19-01-1915: ‘Kapal ss Loudon dari Batavia pada tanggal 18 Januari dengan tujuan Belawan dimana dalam manifest kapal tercatat nama AM Soangkoepon’. Boleh jadi Mangaradja Soeangkoepon juga mendirikan perwakilan firma di Medan. 

Pada tahun 1915 ini Abdul Firman gelar Mangaradja Soeangkoepon yang dulu sebagai pegawai pemerintah di bidang kepabeanan kembali memasuki pemerintahan. Abdul Firman gelar Mangaradja Soeangkoepon ditempatkan sebagai opziener di kantor Asisten Residen Asahan di Tandjong Balai, Oost Sumatra (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-11-1915). Sementara Soetan Casajangan dipindahkan sebagai guru di Fort de Kock ke sekolah guru di Amboina. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Mangaradja Soangkoepon, Soetan Goenoeng Moelia, Soetan Goenoeng Soaloon: Habis Gelap Timbul Terang; Habis Dijajah, Timbul Kemerdekaan

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar