Jumat, 17 Juli 2026

Sejarah Bisnis Indonesia (3): Sekolah dan Perguruan Tinggi Perdagangan di Belanda; Bagaimana Para Ekonom Indonesia Bermula


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bisnis di Indonesia di blog ini Klik Disini

Banyak ekonom Indonesia pada masa ini, bahkan ayah dari Presiden RI Prabowo adalah ekonom lulusan Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam tahun 1943. Namun semua itu bermula pada saat Soetan Casajangan, mantan pendiri Indische Vereeniging pada tahun 1909 diangkat menjadi guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam. Pada tahun 1910 Mangaradja Soangkoepon dengan ijazah sekolah dasar (ELS) diterima di Handelschool di Amsterdam. Perguruan tinggi perdagangan sendiri di Belanda baru didirikan tahun 1913 di Rotterdam. Sjamsi Widagda dengan ijazah akta guru MO diterima tahun 1918 di Nederland Handelshoogeschool. Pada tahun 1921 Mohamad Hatta dengan ijazah HBS (SMA) diterima. Sjamsi Widagda meraih gelar sarjana (Drs) tahun 1923 dan kemudian meraih gelar doktor (Dr) tahun 1925. Sejarah Mahasiswa di Indonesia

 

Dr Samsi Sastrawidagda (lahir di Solo, 13 Maret 1894 adalah Menteri Keuangan Pertama Indonesia. Ia menempuh pendidikan ekonomi dan hukum negara di Sekolah Tinggi Dagang (Handels-hogeschool) di Rotterdam. Gelar akademik terakhir yang didapat tahun 1925 adalah gelar Doktor dengan disertasi De Ontwikkeling v.d handels politik van Japan. Perjalanan karier di Kementerian Keuangan dirintis sejak Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang kedua (19 Agustus 1945). Pada saat itu, dibentuk 12 Kementerian dan 4 Menteri Negara. PPKI menunjuk Samsi Sastrawidagda, Kepala Kantor Tata Usaha dan Pajak di Surabaya pada masa pendudukan Jepang, sebagai Menteri Keuangan. Sebagai Menteri Keuangan, Samsi tidak pernah memimpin Kementerian Keuangan secara langsung. Bahkan belum sempat menyusun perencanaan. Kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan menjadikan ia lebih memilih tinggal di Surabaya. Pada tanggal 26 September 1945 ia mengundurkan diri menjadi Menteri Keuangan (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah sekolah dan perguruan tinggi perdagangan di Belanda? Seperti disebut di atas, sementara sekolah perdagangan (Handelschool) sudah ada sejak 1823, sedangkan perguruan tinggi perdagangan di Belanda belum lama adanya (baru dibuka tahun 1913). Lalu bagaimana sejarah sekolah dan perguruan tinggi perdagangan di Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Buku "Pengantar Bisnis"

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Sekolah Sekolah dan Perguruan Tinggi Perdagangan di Belanda; Bagaimana Para Ekonom Indonesia Bermula?

Belanda sudah lama berdagang di Indonesia (baca: Hindia Timur), bahkan sejak ekspedisi Belanda pertama dipimpin Cornelis de Houtman (1595-1597). Saat itu begara maju merujuk pada Spanyol dan Portugal. Oleh karena wilayah koloni Spanyol dan Portugis tersebar luas, termasuk koloni Spanyol di Italia, Belanda berhasil mengusir Portugis dan Spanyol di Hindia Timur (baca: Indonesia). Inggris kemudian menyusul Belanda. 


Setelah kemajuan Italia (Roma) berakhir, muncul Jerman dan Prancis dalam dunia pendidikan dan teknologi (manufaktur) yang kemudian disusul Inggris. Dalam hal ini, Inggris tidak hanya berjaya di luar (perdagangan di lautan) juga dengan cepat maju di dalam negeri (teknologi dan manufaktur). Bidang perdagangan dan teknologi menjadi bersinergi. Peningkatan pendidikan terkait erat dengan perkembangan teknologi (manufaktur). Perdagangan luar negeri Belanda (sumber ekonomi terbesar dari Indonesia) masih sangat kuat di Eropa, tetapi lambat laut perdagangan manufaktur di Belanda dibanjiri produk-produk dari Jerman, Prancis, dan Inggris. 

Napoleon dari Prancis telah mengubah situasi dan kondisi di Eropa dengan invasinya tahun 1795, termasuk di wilayah-wilayah jajahannya. Keluarga kerajaan Belanda melarikan diri ke Inggris. Kerajaan Belanda di bawah Napoleon menyebabkan perusahaan dagang Hindia Timur (VOC) melemah hingga akhirnya dibubarkan pada tahun 1799 (segera dibentuk Pemerintah Hindia Belanda 1800). Semasa Gubernur Jenderal Daendels, Jawa diinvasi Inggris tahun 1811. Perang Napoleon berakhir di Waterloo tahun 1815. Kerajaan Belanda dipulihkan, Pemerintah Hindia Belanda oleh Inggris dikembalikan ke Belanda tahun 1816. 


Pasca Perang Napoleon, peta gepolitik di Eropa telah berubah drastis. Meski Belanda masih keuat secara ekonomi (perdagangan utama di Indonesia), tetapi dalam segala bidang (terutama pendidikan dan industri) Belanda sangat tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga (Jerman, Belgia, Prancis dan Inggris). Saat inilah di Belanda mulai dirasakan pentingnya peningkatan pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi) untuk mendukung perdagangan. 

Belanda di Eropa menjadi negara tertinggal diantara negara-negara bertetangga (Jerman, Belgia, Prancis dan Inggris). Kota Amsterdam dan Rottteram yang menjadi pusat perdagangan Belanda dari masa ke masa, bahkan hingga tahun 1865 belum satu pun sekolah menengah (HBS) didirikan di Amsterdam (lihat Algemeen Handelsblad, 06-07-1865). 


Sekolah perdagangan (Handelschool) terinformasikan pertama di Belanda tahun 1823 (lihat Groninger courant, 14-01-1823). Disebutkan sesuai dengan pengumuman di koran tanggal 10 Desember, yang bertanda tangan di bawah ini akan, pada tanggal 1 Februari, membuka sekolah perdagangan (Handelschool) di tempat yang sesuai. Opregte Haarlemsche Courant, 23-06-1831: ‘Yang bertanda tangan di bawah ini bermaksud mendirikan Handelschool di sini, di mana pengajaran akan diberikan dalam semua kegiatan perkantoran, dalam pembukuan, dan dalam ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh kaum muda yang ingin memperoleh pendidikan yang beradab. Informasi atas namanya dapat diperoleh dari rumah-rumah paling terkemuka di Amsterdam, Rotterdam, dll’. De avondbode: algemeen nieuwsblad voor staatkunde, handel, nijverheid, landbouw, kunsten, wetenschappen, enz. / door Ch.G. Withuys, 01-09-1838: ‘Kami yakin kami memiliki alasan untuk mempertimbangkan bahwa Sekolah Perdagangan atau Akademi Perdagangan dan Industri pemerintah’. Kemudian pemerintah mulai terlibat dalam pendidikan perdagangan (lihat Vlissingsche courant, 20-04-1842). Disebutkan di antara perkembangan di bidang sains adalah pengumuman pendirian Akademi Industri dan Perdagangan Kerajaan di Delft. Algemeen Handelsblad, 21-04-1846: ‘Sekolah Perdagangan dan Industri di Amsterdam. Dalam beberapa hari saja, pinjaman tanpa bunga sebesar 30.000 guilder untuk pendirian Sekolah Perdagangan dan Industri di kota ini telah lebih dari sepenuhnya terpenuhi. Hal ini didukung oleh kesediaan sesama warga negara kita!’. Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 09-04-1847: ‘Institut Pendidikan Perdagangan dan Industri di Amsterdam’. De Nederlander: nieuwe Utrechtsche courant: (staatkundig- nieuws-, handels- en advertentie-blad) / onder red. van J. van Hall, 19-02-1850: ‘Sekolah Teknik didirikan di Utrecht. Rencana pendirian sekolah teknik di Utrecht, yang baru-baru ini diedarkan dan ditandatangani oleh Bapak HA Bake, WH de Heus, GJ Mulder, dan B van Bees, berisi upaya untuk meningkatkan pengetahuan di antara sesama warga negara dan sebangsa kita yang sangat kita butuhkan saat ini, dan yang kesempatan untuk memperolehnya sangat terbatas’. 

Sebagaimana di negara-negara tetangga (Jerman, Belgia, Prancis dan Inggris) lulusan HBS 5 tahun adalah syarat masuk perguruan tinggi (universitas). HBS sendiri sudah ada yang didirikan di sejumlah kota di Belanda, tetapi mengingat kota Amsterdam adalah kota terbesar di Belanda, maka ini jelas mengindikasikan pendidikan sekolah menengah (syarat untuk ke perguruan tinggi/universitas) di Belanda sangat tertinggal dari negara-negara tetangga. Di Hindia Belanda (baca: Indonesia) sendiri yang ada hanya sekolah dasar (ELS). HBS pertama kali dibuka tahun 1865 di Batavia. 


Pada tahun 1857 Si Sati Nasoetion alias Willem Iskander dari Mandailing, Residentie Tapanoeli berangkat studi keguruan ke Belanda, orang pribumi pertama studi ke Belanda. Willem Iskander lulus sekolah guru dengan akta guru di Haarlem tahun 1860. Sekembali ke tanah air, Willem Iskander tahun 1862 mendirikan sekolah guru di Tanobato, di Mandailing. Pada tahun 1862 ini di Haarlem dibuka Rijkskweekschool (perguruan tinggi keguruan) pertama di Belanda. Sekolah guru (kweekschool) di Haarlem didirikan tahun 1792. 

Pada tahun 1864 Ismangoen Danoe Winoto berangkat ke Belanda (terbilang sebagai cucu dari Soeltan Djocjocarta). Setelah sekian lama, nama Ismangoen Danoe Winoto kembali terdeteksi di Delft (lihat Delftsche courant, 12-07-1871). Disebutkan dalam ujian  ambtenaren Oost Indie (pegawai pemerintah Hindia Belanda) untuk bagian A dari 54 orang yang mendaftar dan hanya 48 yang mengikuti ujian dimana 29 diantaranya dinyatakan lulus termasuk Ismangoen Danoe Winoto. Besar dugaan Ismangoen Danoe Winoto sudah lulus HBS yang menjadi syarat untuk mengikuti ujian ambtenaar (pegawai pemerintah). Ismangoen Danoe Winoto tidak segera pulang ke tanah air tetapi ingin melanjutkan studinya. 


Di Hindia Belanda, nama Willem Iskander begitu sangat terkenal. Sekolah guru yang didirikannya di Tanobato (Tapanoeli) banyak mendapat pujian, karena dianggap sekolah guru yang terbaik (jika dibandingkan dengan di Soerakarta dan Fort de Kock). Adanya desakan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan pribumi, akhirnya Pemerintah memutuskan mengirim tiga guru muda untuk studi ke Belanda sebagaimana pernah dilakukan oleh Willem Iskander (1857-1861). Lalu dipilih tiga guru muda berbakat yakni Banas Lubis dari Tapanoeli, Raden Soerono dari Soeracarta dan Raden Adi Sasmita dari Preanger. Untuk membimbing tiga guru muda ini Pemerintah menunjuk Willem Iskander dengan memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi di Belanda untuk mendapatkan akta kepala sekolah. Selama Willem Iskander ke Belanda sekolah guru di Tanobato ditutup dan sebagai penggantinya akan dibuka sekolah guru (kweekschool) yang lebih besar di Padang Sidempoean pada tahun 1879. Saat keberangkatan yang kedua ini ke Belanda, Willem Iskander sudah berumur 33 tahun (saat berangkat yang pertama tahun 1857 masih berumur 17 tahun). Diharapkan, setelah selesai studi di Belanda, Willem Iskander diproyeksikan sebagai direktur Kweekschool Padang Sidempuan (ibukota Afdeeling Mandailing dan Angkola). Lalu pada bulan April 1874 Willem Iskander bersama tiga guru muda tersebut berangkat dari Batavia menuju Belanda. Sudah barang tentu ketiga guru pribumi ini akan bertemu Ismangoen Danoe Winoto di Belanda’. 

Pada tahun 1875 Ismangoen Danoe Winoto lulus studi di Delft (lihat De standaard, 15-07-1875). Lulusan akademi di Delft (semacam APDN masa kini) ini berhak diangkat sebagai pejabat pemerintah (Ambtenar) di Hindia Belanda. Ismangoen Danoe Winoto dan kawan-kawan diangkat Menteri Koloni sebagai pegawai pemerintah di Hindia Belanda berdasarkan tanggal 28 Agustus (lihat Algemeen Handelsblad, 02-09-1875). Ismangoen Danoe Winoto setelah 10 tahun meninggalkan kampung halaman kembali ke kampung halaman di Hindia Belanda. Ismangoen Danoe Winoto berlayar dengan kapal Amalia (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 20-03-1876). 


Sementara itu Banas Lubis tidak lama setelah di Belanda dikabarkan meninggal karena sakit. Lalu kemudian menyusul Raden Soerono sakit, namun untuk pengobatannya harus dikirik ke wilayah tropis. Raden Soerono meninggal di perjalanan di Port Said (Terusan Suez). Willem Iskander menyelesaikan studinya tetapi Raden Sasmita belum. Willem Iskander terinformasukan menikah di Belanda dengan gadis Belanda (lihat Algemeen Handelsblad, 29-01-1876). Lalu Ismangoen Danoe Winoto juga terinformasikan menikah dengan gadis Eropa di Belanda (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 29-01-1876). Hanya berjarak satu hari. Willem Iskander menikah di Amsterdam pada tanggal 27 Januari 1876; RM Ismangoen Danoe Winoto menikah di Borculo, 28 Januari 1876. Ismangoen Danoe Winoto yang masih dalam pelayaran pulang ke tanah air, di Belanda, Willem Iskander dikabarkan meninggal dunia di Amsterdam tanggal 8 Mei 1876. Lalu bagaimana dengan Raden Sasmita, yang kini sorangan diri di Belanda? Kemudian guru-guru muda dikirim lagi oleh pemerintah (Raden Sasmita tidak sendiri lagi). 

Dalam hal ini Willem Iskander studi di Belanda melalui jalur sekolah kejuruan (kweekschool) dan mendapat akta guru kepala LO (setingkat lulusan sekolah menengah atas). Sementara Ismangoen Danoe Winoto melalui sekolah umum (HBS) yang melanjutkan ke perguruan tinggi (akademi dua tahun). Selain Willem Iskander, dari sejumlah guru muda yang dikirim pemerintah hanya JH Wattimena yang bisa lulus sekolah guru di Amsterdam dan mendapat akta guru Lager Onderwijs (LO) (lihat Algemeen Handelsblad,  07-04-1884). 


Pada tahun 1880 termasuk Oei Jan Lee dan Tan Tjoen Liang lulus ujian transisi naik dari kelas tiga ke kelas empat di sekolah KW III School Batavia (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 11-08-1880). Dalam daftar kelulusan ujian transisi 1881 HBS di K Willem III hanya terdapat nama Tan Tjoen Liang, naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1881). Oei Jan Lee sendiri melanjutkan studi HBSnya ke Belanda (lihat Algemeen Handelsblad, 13-12-1881). Tan Tjioen Liang sudah berada di Belanda (lihat Delftsche courant, 11-12-1883). Disebutkan di Politeknik di Delft terdaftar Tjoen Liang Tan, seorang Cina, putra kapten Cina di Buitenzorg. Tan Tjoen Liang menyelesaikan HBS lima tahun di Batavia pada tahun ini. Oei Jan Lee lulus ujian akhir HBS di Leiden (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 09-07-1884). Juga disebutkan di Leiden ujian (ujian masuk perguruan tinggi) di Gymnasium diantaranya Oei Jan Lee afdeeling a (bidang hukum). Pada tahun 1885 Oei Jan Lee lulus ujian kandidat di bidang hukum di Rjiksuniversiteit te Leiden (lihat Het vaderland, 19-10-1885). Tan Tjoen Liang harus pulang karena ayahnya di Buitenzorg meninggal. Tan Tjoen Liang terinformasikan di Delft tahun 1887. Oei Jan Lee akhirnya lulus ujian dan mendapat gelar sarjana hokum tahun 1888 (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 15-10-1888). Oei Jan Lee tampaknya belum puas, lalu melanjutkan studi ke tingkat doktoral. Pada bulan Januari 1889 Mr Oei Jan Lee meraih gelar doktor bidang hukum di Leiden (lihat Nieuwe Vlaardingsche courant, 16-01-1889). Dr Mr Oei Jan Lee yang sudah menjadi pengacara di Batavia, pada tahun 1892 Tan Tjioen Liang kembali ke Belanda untuk meneruskan studinya di Politeknik Delft. Pada tahun 1896, Raden Kartono lulusan HBS di Semarang langsung berangkat ke Belanda dan diterima di Politeknik Delft. Tan Tjioen Liang akhirnya berhasil meraih gelar insinyur teknik mesin. Sementara itu Raden Kartono meninggalkan Delft dan pada tahun 1903 diketahui menjadi mahasiswa bahasa dan sastra di Leiden. 

Soetan Casajangan berangkat tahun 1904 ke Belanda untuk melanjutkan studi keguruan. Soetan Casajangan sudah menjadi guru selama 13 tahun setelah lulus sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean. Setelah melakukan masa transisi (matrikulasi) di sekolah guru di Belanda, Soetan Casajangan diterima pada tahun 1906 di akademi Rijkskweekschool di Haarlem. 


Pada tahun 1906 sudah ada sejumlah mahasiswa pribumi di Belanda dan juga pelajar yang tengah mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Mereka berasal dari beragam sekolah. Raden Kartono (lulusan HBS) masih kuliah di Leiden dalam bidang bahasa dan sastra. Ada beberapa lulusan dokter pribumi Docter Jawa School (di Batavia) yang diterima di kedoteran di Amsterdam seperti Asmaoen, Abdoel Rivai, Ph Laoh. Benjamin. Baginda Djamaloedin dan Soemardji pada tahun 1905 diterima di sekolah pertanian (Landbouwschool) di Wageningen. Baginda Dajamaloedin lulusan sekolah guru. Sekolah Landbouwschool di Wageningen kemudian ditingkat menjadi (akademi) Rijks Landbouwschool. 

Pada tahun 1907 Soetan Casajangan mendapat akta guru LO. Pada bulan Desember 1907 Asmaoen lulus ujian akhir dokter di Amsterdam. Pada tahun 1908 Soemardji lulus di Wageningen; Abdoel Rivai lulus dokter di kedokteran Amsterdam; RM Soemitro lulusan HBS diterima di Nederlandsc Indie Administrative Dienst (akademi seperti Ismangoen Danoe Winito dulu) serta Notodiningrat (lulusan HBS di Batavia) studi di TH di Delft dan Hoesein Djajadiningrat diterima/masuk di Universiteit te Leiden (bahasa dan sastra). Pada tahun 1908 sudah banyak mahasiswa pribumi di Belanda baik yang sudah lulus, sedang kuliah maupun yang tengah persiapan ujian masuk perguruan tinggi/universitas yang kemudian Soetan Casajangan menginisiasi pendirian organisasi mahasiswa Indische Vereeniging. Pada tahun 1909 Soetan Casajangan lulus ujian akta guru MO (pendidikan tertinggi di bidang keguruan) di Rijkskweekschool di Haarlem dan Raden Kartono di bidang bahasa dan sastra di Universiteit Leiden. Pada tahun 1909 Soetan Casajangan diangkat sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem. 


Pada tahun 1910 ini Soetan Casajangan mengakhiri masa jabatannya di Indische Vereeniging yang kemudian diestafetkan kepada ketua terpilih Dr Ph Laoh. Pada tahun 1910 ini Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon diterima di sekolah perdagangan (Handelschool) di Amsterdam. 

Mahasiswa Indonesia di Belanda, selain semakin banyak, juga bidang studinya semakin beragam. Pada tahun 1910 ini sudah ada yang kuliah di sekolah perdagangan (Handelschool). Sebelumnya hanya terbatas pada kedokteran, keguruan, pertanian, teknik dan pemerintahan serta bahasa dan sastra. Mangaradja Soangkoepon adalah mahasiswa Indonesia pertama di sekolah perdagangan. Pada tahun 1911 Soetan Casajangan yang dibantu Mangaradja Soangkoepon menginisiasi pembentukan studiefonds (dana pendidikan) untuk membantu mahasiswa Indonesia di Belanda yang kesulitan dana dan membantu pengiriman guru muda di Hindia studi ke Belanda. 


Pada tahun 1911 Boedi Oetomo mengirim (dengan beasiswa) guru muda Sjamsi Widagda untuk studi keguruan ke Belanda. Oleh pengurus Boedi Oetomo Sjamsi Widagda dititipkan kepada Soetan Casajangan di Den Haag (guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan di Haarlem dan di Rotterdam. 

Tunggu deskripsi lengkapnya 

Bagaimana Para Ekonom Indonesia Bermula? Dari Sjamsi Widagda hingga Soemitro Djojohadikoesoemo

Pada bulan Mei 1913 studiefond yang diiinisiasi Soetan Casajangan yang dibantu Mangaradja Soangkoepon secara resmi didirikan di Den Haag, Belanda. Pada bulan Mei ini Sjamsi Widagda lulus ujian akta guru LO di sekolah guru swasta di Den Haag. Pada tahun 1913 ini juga di Rotterdam dibuka perguruan tinggi perdagangan (Rijkshandelshoogeschool). Pada bulan Juli 1913 Soetan Casajangan kembali ke tanah air. Lantas apakah Sjamsi Widagda segera kembali ke tanah air? Tampaknya tidak 


Sjamsi Widagda mengikuti jejak Soetan Casajangan. Pada bulan Agustus 1913 terinformasikan Sjamsi Widagda diangkat sebagai guru bahasa Melayu di Handelschool. Seperti dilihat nanti, Sjamsi Widagda diangkat kembali sebagai guru bahasa Melayu bulan September 1914 di Handelschool Rotterdam. 

Pada tahun 1914, setelah setelah selesai sekolah perdagangan (Handelschool) di Amsterdam, Mangaradja Soangkoepon akan kembali ke tanah air pada bulan Juli 1914. Mangaradja Soangkoepon bersama Soetan Mangkoeto mendirikan perusahaan (firma) perdagangan (ekspor-impor) di Amsterdam. Pendirian perusahaan tersebut terinformasikan setelah Mangaradja Soangkoepon dalam pelayaran pulang ke tanah air  (diiklankan di koran Algemeen Handelsblad, 28-06-1914). Ini berarti sebagai perwakilan Soetan Mangkoeto di Belanda, Mangaradja Soangkoepon di tanah air. 


Sumatra-bode, 16-07-1914: ‘Kapal ss Kawi dari Rotterdam berangkat tanggal 13 Juni dengan tujuan akhir Batavia dimana dalam manifest kapal terdapat nama AFM Soangkoepon’. Saat ini, Soetan Casajangan sebagai guru di sekolah guru di Fort de Kock, juga terinformasikan menginisiasi pendirian organisasi kebangsaan untuk tujuan meningkatkan kemajuan penduduk dan juga untuk mendukung guru-guru muda untuk studi ke Belanda. Mangaradja Soeangkoepon cukup lama di Batavia, boleh jadi mempersiapkan perwakilan firma mereka yang dihubungkan dengan di Amsterdam. De Sumatra post, 19-01-1915: ‘Kapal ss Loudon dari Batavia pada tanggal 18 Januari dengan tujuan Belawan dimana dalam manifest kapal tercatat nama AM Soangkoepon’. Boleh jadi Mangaradja Soeangkoepon juga mendirikan perwakilan firma di Medan. 

Mangaradja Soangkoepon adalah orang Indonesia pertama yang studi di bidang perdagangan (ekonomi). Sebelumnya, Soetan Casajangan adalah orang Indonesia pertama yang mengajar bahasa Melayu di Belanda di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam. Sementara itu, Sjamsi Widagda diangkat lagi bulan September 1915 sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan. Pada tahun 1915 ini Sjamsi Widagda mengambil kursus bahasa Melayu dan etnografi di Den Haag. Pada bulan September 1915 Sam Ratulangi lulus akta guru MO bidang Matematika.

 

Sejarah sekolah perdagangan (handelschool) di Belanda sudah lama (siswa yang diterima lulusan sekolah dasar ELS), tetapi perguruan tinggi perdagangan (handelshooheschool) masih terbilang sangat baru (mahasiswa yang diterima lulusan HBS). Pada tahun 1898 seorang pendidikan perdagangan mengusulkan perlunya perguruan tinggi perdagangan (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 06-01-1898). Pengamat tersebut menilai sekolah perdagangan yang ada di Belanda sangat berantakan jika dibandingkan dengan negara-negara lain Belgia, Prancis dan Jerman serta Jepang. Pengamat tersebut juga berpendapat sekolah perdagangan kita harus diperluas secara besar-besaran, setidaknya sekitar 20 sekolah perdagangan harus didirikan jika ingin setara dengan pendidikan komersial di Jerman. Sejak inilah kualitas sekolah perdagangan di Belanda ditingkatkan dan jumlahnya semakin bertambah. Seperti disebut sebelumnya, pada tahun 1909 Soetan Casajangan diangkat sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan kemudian juga di Rotterdam. Seperti disebut di atas, pada tahun 1910 Mangaradja Soangkoepon (lulusan ELS di Padang Sidempoean) tiba di Belanda yang kemudian studi di Handelschool di Rotterdam. 

Pada tahun 1915 ini Abdul Firman gelar Mangaradja Soangkoepon yang dulu sebagai pegawai pemerintah di bidang kepabeanan kembali memasuki pemerintahan. Abdul Firman gelar Mangaradja Soangkoepon ditempatkan sebagai opziener di kantor Asisten Residen Asahan di Tandjong Balai, Oost Sumatra (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-11-1915). Sementara Soetan Casajangan dipindahkan sebagai guru di Fort de Kock ke sekolah guru di Amboina. 


Pada bulan Agustus 1916 Sjamsi Widagda kembali diangkat guru bahasa Melayu di Handelschool dan juga lulus akta guru MO. Pada bulan Agustus 1917 Sjamsi Widagda kembali diangkat guru bahasa Melayu di Handelschool di Rotterdam. Pada tahun 1917 ini di Belanda diadakan Kongres Hindia yang meliputi seluruh mahasiswa asal Hindia (Belanda, Cina dan pribumi). Dalam hal ini Indisch Vereeniging yang diketuai oleh Notodiningrat telah menunjuk Dahlan Abdoellah sebagai pembawa makalah. Indisch Vereeniging akan menyampaikan di forum agar nama Hindia Belanda digantikan dengan nama Indonesia. Dalam Kongres Hindia 1917 ini nama Indonesia diterima semua pihak dan diadopsi sebagai nama baru untuk Hindia Belanda. Selain Dahlah Abdeollah membawakan makalah, sejumlah anggota Indisch Vereeniging yang berbicara di dalam forum kongres tersebut adalah Sorip Tagor Harahap dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Sjamsi Widagda juga turut dalam kongres tersebut. Dalam Kongres Hindia untuk tahun berikunya, 1918, nama kongres sudah diubah menjadi Kongres Indonesia. 

Pada tahun 1918 terinformasikan Sjamsi Widagda lulus ujian masuk Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam. Bagaimana bisa? Besar dugaan akta MO yang digunakannya menjadi syarat mengikuti ujian perguruan tinggi. Dalam hal ini Sjamsi Widagda adalah orang Indonesia pertama di perguruan tinggi perdagangan (ekonomi). 


Sementara itu, organisasi mahasiswa Indonesia (Indische Vereeniging) yang didirikan sejak 1908 dengan presidennya Soetan Casajangan telah banyak berperan menjadi jembatan antara orang-orang pribumi di Belanda dengan orang-orang Belanda yang mendukung kemajuan bangsa Indonesia. Soetan Casajangan bekerja sama dengan berbagai komunitas orang Indo dan orang Belanda yang mencintai pembangunan di Hindia seperti Vereeniging Moederland en Kolonien dan Indisch Genootschap telah banyak memberi kontribusi positif terhadap percapatan kemajuan di Hindia. Selanjutnya wujud pencapaian itu peran Indisch Vereeniging tersebut antara lain pembentukan parlemen (Volksraad) yang dimulai pada tanggal 18 Mei 1918 di Batavia dan pemebentukan komite di Belanda untuk pendirian perguruan tinggi (hoogeschool) di Hindia. Seperti dilihat nanti perguruan tinggi tersebut di bidang teknik yakni Technische Hoogeschool (THS) di Bandoeng yang akan dibuka pada tanggal 3 Juli 1920. 

Pada bulan Desember 1919 Soetan Casangan asisten Inspektur Pribumi di Batavia mendapat cuti selama satu tahun ke Belanda. Soetan Casajangan yang mendapat cuti ke Eropa yang mulai berlaku tanggal 7 Februari 1920 memanfaatkannya untuk berangkat ke Eropa.  Pada tanggal 14 Februari 1920 Soetan Casajangan berangkat dengan kapal ss Patria 14 Februari dari Tandjoeng Priok dengan tujuan akhir Rotterdam (lihat Sumatra-bode, 12-02-1920). Sudah barang tentu Soetan Casajangan selama di Belanda akan memiliki kesempatan bertemu dengan pengurus dan anggota Indische Vereeniging termasuk Sjamsi Widagda. 


Selama di Belanda, Soetan Casajangan diundang kembali oleh Vereeniging Moederland en Kolonien (Oost en West) untuk berpidato di hadapan para anggota organisasi pada tanggal 28 Oktober 1920. Soetan Casajangan berbicara di dalam forum bergengsi tersebut dengan makalah 19 halaman yang berjudul: 'De associatie-gedachte in de Nederlandsche koloniale politiek (modernisasi dalam politik kolonial Belanda). Dalam forum ini juga diundang dan dihadiri oleh Soeltan Djogjakarta. Soetan Casajangan, sebagaimana dulu pernah berbicara di forum yang sama tahun 1911 (setelah Soetan Casajangan lulus sarjana), tetap dengan percaya diri untuk membawakan makalahnya. Berikut beberapa petikan isi pidato Soetan Casajangan: 


Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen). 


‘....saya berterimakasih kepada Mr. van Rossum, ketua organisasi...yang mengundang dan memberikan kesempatan kembali kepada saya...di hadapan forum ini....pada 28 Maret 1911 (sekitar sepuluh tahun lalu)...saya diberi kesempatan berpidato karena saya dianggap sebagai pelopor pendidikan bagi pribumi...ketika itu saya menekankan perlunya peningkatan pendidikan bagi bangsa saya...(terhadap pidato itu) untungnya orang-orang di negeri Belanda yang respek terhadap pendidikan akhirnya datang ke negeri saya (pendirian THS di Bandoeng yang dibuka tahun 1920)..dan memenuhi kebutuhan pendidikan (yang sangat diperlukan bangsa) pribumi. Gubernur Jenderal dan Direktur Pendidikan juga telah bekerja keras untuk merealisasikannya..yang membuat ribuan desa dan ratusan sekolah telah membawa perbaikan..termasuk konversi sekolah rakyat menjadi sekolah yang mirip (setaraf) dengan sekolah-sekolah untuk orang Eropa.. 


Sekarang saya ingin berbicara dengan cara yang saya lakukan pada tahun 1911...saya sekarang sebagai penafsir dari keinginan bangsaku..politik etis sudah usang..kami tidak ingin hanya sekadar sedekah (politik etik) dalam pendidikan...tetapi kesetaraan antara coklat dan putih...saya menyadari ini tidak semua menyetujuinya baik oleh bangsa Belanda, bahkan sebagian oleh bangsa saya sendiri...mereka terutama pengusaha paling takut dengan usul kebijakan baru ini...karena dapat merugikan kepentingannya..perlu diingat para intelektual kami tidak bisa tanpa dukungan intelektual bangsa Belanda..organisasi ini saya harap dapat menjembatani perlunya kebijakan baru pendidikan. saya sangat senang hati Vereeniging Moederland en Kolonien dapat mengupayakannya...karena anggota organisasi ini lebih baik tingkat pemahamannya jika dibandingkan dengan Dewan Hindia..’ 

Berita telegram yang dimuat surat kabar di Semarang (De Locomotief) tentang pertemuan Soetan Casajangan dengan mahasiswa Indonesia di Belanda menjadi viral di Indonesia. Sejumlah surat kabar di Hindia melansir berita dari Semarang tersebut termasuk surat kabar yang terbit di Bandoeng, De Preanger-bode, 23-04-1920. Pertemuan Soetan Casajangan dengan mahasiswa Indonesia di Belanda lebih lengkapnya dimuat majalah di Belanda. 


Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 20, 1920, no. 17, 22-04-1920: ‘Mahasiswa Pribumi. Mengenai hal ini, Bapak Stokvis, Inspektur Pendidikan Menengah di Hindia Belanda, memberikan ceramah untuk Indisch Vereeniging pada hari Sabtu, 17 April lalu pukul 19.30 di ruang 2 kafe "Hollandais", Groenmarkt, Den Haag. Ketua, Mas Soebardjo, membuka pertemuan dan menyatakan bahwa tujuan Indisch Vereeniging adalah untuk mencari dan menjalin kontak. Beliau mencatat bahwa ini sangat sulit dan oleh karena itu menyambut baik telah menemukannya pada seseorang yang berada di pusat gerakan Hindia. Bapak Stokvis menyatakan simpatinya kepada Indisch Vereeniging. Bagaimanapun, asosiasi ini terdiri dari para pemuda yang lingkup aktivitasnya nantinya akan berada di Hindia. Lalu, kondisi apa yang harus dipenuhi oleh mahasiswa pribumi yang belajar di negara ini? Apa yang harus dia lakukan, dan apa yang harus dia hindari? Ia meminta agar pidatonya dianggap sebagai nasihat kebapakan dan merujuk pada “Surat Terbuka kepada Para Mahasiswa Hindia di Belanda”, Semarang 9-4-1919, yang termasuk, antara lain, dalam NRCt 17-5-1919. Pembicara mengharapkan balasan atas surat itu akan diberikan, tetapi hampir tidak ada balasan sama sekali. Pembicara tidak termasuk dalam kelompok orang Belanda kolonial yang bertujuan untuk meningkatkan status mereka. Ia dapat memahami bahwa ada mereka yang belajar di sini yang merasa enggan untuk kembali ke negara mereka, di mana mereka merasa didominasi. Sentimen ini dapat sangat bervariasi dan bermanifestasi dalam berbagai cara. Misalnya, anggaplah semua orang Belanda tiba-tiba meninggalkan Hindia. Apa konsekuensinya? Kekacauan! Hindia tidak siap untuk ini. Lebih lanjut, pembicara menyentuh masalah bahasa pengantar dalam pengajaran penduduk pribumi. Seorang Belanda mendukung bahasa Melayu, bahasa asli Belanda. Di Hindia, tidak cukup guru yang tersedia untuk memberikan pendidikan menengah dalam bahasa Jawa atau Melayu. Ini sudah menjadi masalah yang sulit di sekolah menengah umum di Yogyakarta. Sentimen juga dapat bermanifestasi dalam cara lain, sebagai sumber wawasan yang masuk akal, bukan sebagai nyala api yang berkobar, tetapi sebagai aliran sungai yang tenang. Untuk mencapai tujuan, keberanian, ketekunan, dan pengorbanan diri dituntut dari siswa. Apakah kualitas-kualitas ini terpenuhi oleh mereka yang belajar di negara ini? Banyak yang datang ke Belanda untuk belajar setelah lulus ujian akhir sekolah menengah, namun tanpa panggilan. Seringkali, jurusan yang diambil adalah yang tampaknya terbaik. Ini menyebabkan kekecewaan. Indisch Vereeniging adalah garda depan pasukan masa depan; ia tidak boleh kalah, ia harus berprestasi. Para anggota harus saling berkonsultasi dan membagi peran di antara mereka sesuai dengan bakat masing-masing. Mereka harus menganggap diri mereka sebagai pionir, dengan tujuan utama untuk memungkinkan tanah air mereka mencapai peringkat di antara bangsa-bangsa Asia Timur yang memang pantas mereka dapatkan. Pembicara membatasi diri pada pengantar ini dan mengharapkan debat. Bapak Soetan Casajangan berpendapat bahwa Belanda harus tetap berada di Hindia selama mereka dibutuhkan di sana. Namun, bahasa Belanda harus digantikan oleh bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Namun, mengenai para pionir pertama, mereka yang berhasil akhirnya berhenti. Pembicara sendiri juga demikian. Di Hindia, orang harus menerima pokok bahasan sebagaimana adanya sekarang, seperti halnya di Belanda, misalnya, 300 tahun yang lalu. Bapak Stokvis menyatakan bahwa ia tidak menganggap Belanda tidak diperlukan di Hindia. Namun, ia menganggap pengajaran bahasa Melayu atau Jawa oleh Belanda tidak mungkin. Hal ini seharusnya dicegah. Kebijakan pendidikan pemerintah datang terlambat. Bapak Casajangan menjawab dan mengatakan bahwa penduduk pribumi sendirilah yang harus menjadi penjelasan awal dalam hal ini. Penduduk pribumi menginginkan kerja sama. Bapak Noto Soeroto menganggap bahasa-bahasa Hindia tidak cocok, bahkan bagi penduduk pribumi, untuk mewakili gagasan Barat. Ia menunjukkan bahwa nasib pionir adalah akhirnya akan jatuh. Bapak Stokvis menjawab. Kapten Bannink meminta kesempatan berbicara atas dasar sejarah. Sepuluh tahun yang lalu, ia berhubungan dengan Bapak Noto Soeroto melalui tulisan Bapak Soeroto di NRCt. Dalam arti tertentu, ia kemudian mengambil langkah pertama menuju Hindia Belanda. Masih menjadi pertanyaan terbuka apakah para mahasiswa Hindia yang belajar di sini tidak menjadi terasing dari Hindia Belanda. Jika seseorang merasa betah di Hindia Belanda, biarlah ia kembali ke sana. Tuan Abdoellah berbicara tentang Surat Terbuka dari Tuan Stokvis. Ia mengakui bahwa terlalu sedikit pekerjaan yang telah dilakukan, meskipun perbaikan akan segera terjadi. Namun, apakah Hindia Belanda dipercayakan dengan cukup banyak hal? Pendidikan di Hindia Belanda diarahkan ke sisi Belanda. Tuan Stokvis menjawab dan berpendapat bahwa penduduk pribumi Hindia Belanda harus memajukan negaranya dengan berprestasi. Pendidikan berjalan ke arah Belanda hanya jika bahasa pengantar adalah bahasa Belanda; jika tidak, pendidikan berjalan ke arah Hindia Belanda. Kapten Vermeer kembali ke Surat Terbuka, yang telah ia tanggapi. Pembicara berbeda pendapat dengan Tuan Stokvis dan terus membela posisinya. Bagaimanapun, kegagalan selalu mungkin terjadi, dan fakta bahwa hal itu tidak terlalu buruk dalam kasus ini terbukti dari fakta bahwa nama-nama yang sama terus-menerus disebutkan. Dan justru di antara mereka, terdapat mereka yang unggul di bidang lain. Tuan Vermeer mengajukan banding kepada laporan Komite Studi "Timur dan Barat". Keluhan Belanda terhadap Hindia Belanda adalah keterlibatannya dalam politik. Apakah ini kemudian dilarang bagi mahasiswa? Apa yang dilakukan dan telah dilakukan oleh mahasiswa Rusia dan Polandia saat belajar di luar negeri? Dan itu dipuji. Dan mengapa tidak di sini? Apakah karena takut akan nasionalisme? Saat ini, tidak ada perbedaan antara calon mahasiswa Belanda dan Hindia Belanda. Bapak Stokvis tidak ingin menyebutkan fakta atau nama. Konsep arahan etis sering digunakan dalam arti meremehkan. Tetapi sejauh menyangkut mahasiswa, belajar berlaku untuknya terlebih dahulu dan terutama; setelah itu, ia bebas, juga dalam bidang politik. Pembicara terus menetapkan standar yang ketat dan tinggi untuk dan terhadap mahasiswa. Bapak Pandoe Soeradhiningrat mengeluh tentang kemunduran. Mahasiswa Hindia Belanda telah dirugikan oleh Belanda sejak awal. Ia meminta perlakuan yang sama antara sekolah-sekolah Belanda-Hindia dengan sekolah-sekolah Belanda. Bapak Stokvis menolak permintaan ini. Bapak Noto Soeroto menyatakan bahwa terlalu banyak yang diharapkan dari orang Hindia. Orang-orang memandangnya sebagai Übermensch (manusia super), padahal ia hanyalah manusia biasa. Kebetulan, seringkali hanya kemampuan orang tuanya, yang membawanya untuk belajar. Bapak Stokvis mengatakan bahwa, justru karena kesulitan besar yang harus diatasi oleh orang Hindia dalam melakukannya, ia selalu menghormati penduduk pribumi yang lulus ujian akhir HBS. Dan karena penduduk pribumi ini telah membuktikan bahwa materi yang tepat ada dalam diri mereka, justru karena alasan inilah ia menetapkan dan mempertahankan persyaratannya. Lebih lanjut, ia membahas perdebatan tentang isu-isu pendidikan yang terperinci dan lingkaran setan yang mengelilinginya. Terakhir, Bapak Stokvis mengklarifikasi masalah bahasa pengajaran dan berpendapat bahwa bahasa Indonesia dapat digunakan untuk tujuan ini, karena bahasa tersebut beradaptasi sesuai kebutuhan’. 

Tampaknya nama Soetan Casajangan masih menjadi penting di Belanda sebagai sosok yang mampu menjembatani antara orang-orang pribumi dengan orang-orang Belanda yang mendukung kemajuan di Hindia yang tergabung dalam dalam Vereeniging Moederland en. Koloniën dan Indisch Genootschap. Dalam hal inilah, perang Soetan Casajangan di Belanda akan diestafetkan kepada Sjamsi Widagda. Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan adalah orang yang membimbing Sjamsi Widagda sejak tiba di Belanda tahun 1911. Sekarang, Sjamsi Widagda, tidak hanya telah lulus guru dengan akta LO dan akta MO (seperti yang diperoleh Soetan Casajangan), juga Sjamsi Widagda sudah menjadi mahasiswa Indonesia pertama di Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam. 


De avondpost, 07-05-1921: ‘Indisch Genootschap (Masyarakat Hindia). Setelah pembentukan Vereeniging Moederland en Koloniën” dan Indisch Genootschap, pada tanggal 4 bulan ini, dengan nama Indisch Genootschap, diputuskan untuk mengangkat semua anggota dewan dari kedua asosiasi tersebut sebagai anggota dewan baru kecuali Bapak Dr E. Moresco, yang telah mengundurkan diri karena jadwal kerja yang padat, dan Soetan Casajangan, yang telah mengundurkan diri karena akan berangkat (pulang) ke Hindia. Dewan baru sekarang terdiri dari: Prof C van Vollenhoven, ketua; WC Berkhout, wakil ketua; Jhr JC van Reigersberg Versluys, bendahara; Th GG Yaletto, sekretaris; Dr. Tj Mees, sekretaris tambahan. Anggota: KM van Deventer-Maas dan Mr D van Blom, AW Cremer, GL Gongrijp Jr., JSC Kasteleyn, J van Kuyk, G Nypels, JB van Rossum, Samsi Sastrawdagda, Prof. DG Stibbe, JWJ Wellen dan JE Wenkebach’. 

Soetan Casajangan berangkat ke tanah air pada tanggal 7 Mei (lihat De Maasbode, 08-05-1921). Disebutkan kapal ss Patria dari Rotterdam dengan tujuan akhir Hindia pada tanggal 7 Mei. Di dalam manifest kapal terdapat nama RS Casajangan Soripada. Pada bulan Mei 1921 ini, Mohamad Hatta lulusan PHS Batavia berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi. Sementara itu di Indisch Genootschap (Masyarakat Indonesia) di Belanda, orang pribumi diwakili oleh Sjamsi Widagda (Soetan Casajangan sudah kembali ke tanah air). 


Selama Soetan Casajangan berada di Belanda perguruan tinggi THS Bandoeng dibuka pada tanggal 3 Juli 1920. Soetan Casajangan dan Soeltan Djogja saat ini tengah berada di Belanda. Sebagaimana diketahui pada tahun 1918 Soeltan Djogja mengusulkan THS didirikan di Djogja dengan memberikan lahan secara cuma-cuma, namun dalam perkembangannya komite pendirian lebih memilih THS didirikan di Bandoeng. 

Tidak lama setiba Soetan Casajangan di tanah air, terinformasikan pada tahun ajaran kedua di THS Bandoeng pada bulan Juli 1921 sejumlah mahasiswa diterima dari golongan pribumi antara lain Soekarno (lulusan HBS Soerabaja) dan M Anwari (lulusan AMS Jogja). Pada bulan September 1921 Mohamad Hatta (lulusan PHS Batavia) diterima di Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam. 


Pada tahun 1923 Sjamsi Widagda lulus sarjana (Drs) di Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam. Lalu dua tahun berikutnya tahun 1925 Sjamsi Widagda meraih gelar doktor di Nederland Handelshoogeschool di Rotterdam. Dalam hal ini, Sjamsi Widagda adalah ekonom pertama Indonesia dan juga doktor ekonomi pertama Indonesia. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar