Kamis, 01 Januari 2026

Sejarah Bogor (67): Nawangsari - J Soegiri, Guru Besar di Institut Pertanian Bogor (IPB); Siapakah Menteri Purbaya Yudhi Sadewa?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini 

Dr Ir Purbaya Yudhi Sadewa, PhD, Menteri Keuangan Republik Indonesia saat ini dari berbagai sumber terhubung dengan dua guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB): Prof Drh J Soegiri (dosen FKH) dan Prof Ir Nawangsari (dosen FMIPA). Apakah itu benar?


IPB University: Januari 1, 2009. Berita: ‘Turut Berduka Cita atas Meninggalnya Prof. Nawangsari Sugiri. IPB berduka cita atas meninggalnya Prof Nawangsari Sugiri (FMIPA IPB) pada Kamis, 1 Januari 2009, pukul 14.00 WIB.  Semoga amal ibadah almarhumah diterima di sisi-Nya, dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan (https://www.ipb.ac.id/news/). IPB University: 22 Nov 2025. Berita/Pendidikan: ‘Menteri Purbaya Kenang Masa Kecilnya di Kampus IPB: Rutinitas Jalan Pagi Bentuk Ketangguhan Saya. Sedikit yang tahu kisah masa kecil Menteri Keuangan RI, Dr Purbaya Yudhi Sadewa. Menteri Purbaya ternyata tumbuh besar di lingkungan Kampus IPB Dramaga. “Saya dari 1972 sampai 1983 hidup di Kampus IPB Dramaga, Jalan Anggrek nomor 12. Saya ingat, rumah di sini, sekolahnya di Bogor,” cerita Purbaya saat Kuliah Umum Menteri Keuangan RI di Grha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga (21/11). Dalam acara yang dihelat Himpunan Alumni (HA) IPB University itu, ia menyebut satu rutinitas Purbaya kecil yang menempanya menjadi sosok yang tangguh layaknya hari ini: jalan pagi. Ia mengisahkan, berjalan kaki sejak dini hari menuju sekolah kala itu menjadi tempaan yang membentuk kedisiplinan, ketangguhan mental, dan karakter kepemimpinannya saat ini. “Setengah lima udah bangun. Jam lima sudah jalan kaki. Dua kilometer dari rumah ke depan (kampus) (https://www.ipb.ac.id/news/). 

Lantas bagaimana sejarah J Soegiri dan Nawangsari, guru besar di Institut Pertanian Bogor (IPB)? Seperti disebut di atas, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa dihubungkan dengan dua nama professor tersebut? Lalu bagaimana sejarah J Soegiri dan Nawangsari, dua guru besar di Institut Pertanian Bogor (IPB)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Nawangsari-J Soegiri, Guru Besar di Institut Pertanian Bogor (IPB); Siapakah Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa

Universitas Indonesia pada fase peralihan dari era kolonial (Belanda) ke era kedaulatan (Indonesia) dilakukan pada tanggal 2 Februari 1950 yang mana pimpinan universitas berganti dari Prof. Dr. Wietse Radsma kepada Ir. RM Pandji Soerachman Tjokroadisoerio. Tanggal peralihan tersebut yakni tanggal 2 Februari 1950 menjadi titik tolak Universitas Indonesia secara resmi beradaulat. Fakultas yang ada adalah: Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum dan Sosial dan Fakultas Sastra dan Filsafat. Tiga fakultas ini berada di Djakarta. Ir. RM Pandji Soerachman Tjokroadisoerio meraih gelar insinyur teknik kimia di Universiteiot te Delft pada tahun 1921; Menteri Kemakmuran RI tahun 1945. 


Ada dua fakultas di Bandoeng: Fakultas Teknik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Alam; di Bogor ada dua fakultas: Fakultas Pertanian dan Fakulteit Kedokteran Hewan; Fakultas Hukum di Makassar; Fakulteit Kedokteran di Soerbaja. Disamping itu masih terdapat lembaga-lembaga (di Bogor, Bandoeng dan Soerabaja dan tentunya juga di Djakarta). Dekan Fakultas Pertanian di Bogor adalah Prof van Baren yang kemudian digantikan oleh Prof Dr HJ de Boer (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-04-1950). 

Mahasiswa-mahasiswa yang lulus ujian transisi pada masa transisi kedaulatan Indonesia ini di Bogor, di Fakultas Pertanian lulus ujian propaedeutik (bagian 1): Ang Khoen Swan, Gunawan Satari, Masman Bekti, dan Ong An Pang, dan ujian propaedeutik (bagian 2): Bachtiar Rivai (lihat Nieuwe courant, 04-02-1950); Sudibyo lulus ujian propaedeutik (bagian 1), Tjia Keng Hien lulus ujian kandidat (bagian 1), dan Go Ban Hong lulus ujian kandidat pertama dan kedua (bagian 1 dan 2) (lihat Nieuwe courant, 06-06-1950); Lulus ujian kandidat bagian pertama: RW Stubbs, J de Bie, Ong Thian Pa, O Hoetagaloeng, Liem Tjian Hing, dan ujian kandidat bagian kedua: BHH Borgman, Lauw Ing Biauw, Sie Kwat Soen (lihat Nieuwe courant, 01-09-1950); W Harjadi akhirnya berhasil menyelesaikan bagian pertama ujian propaedeutic (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-09-1950). Sementara itu di Fakultas Kedokteran Hewan antara lain: Moh. Ishak untuk ujian kandidat (tahun kedua) dan untuk ujian propaedeutis (tahun pertama): Asrul Sani, JH Hutasoit dan I Gde Njoman Djiwa Darmadja (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-02-1950).


Ir Tb Bachtiar Rifai kelak menjadi Rektor IPB (1964-1965). Nama Drh Asrul Sani kelak dikenal sebagai sastrawan dan sutradara terkenal. Nama ayah: Marah Sani Syair Alamsyah, nama ibu: Nuraini Nasution. Istri Drh Asrul Sani juga adalah artis cukup terkenal dengan nama Mutiara Sarumpaet (saudara dari  Ratna Sarumpaet). Drh Jannes Humuntal (JH) Hutasoit kelak dikenal sebagai Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Peternakan dan Perikanan periode 1983-1988 (namanya diabadikan sebagai Auditorium Fakultas Peternakan IPB). Prof Dr JH Hutasoit juga pernah menjadi Rektor IPB tahun 1966. Gunawan Satari dan Go Bang Hong kelak menjadi guru besar IPB. 

Sementara itu di Fakultas Kedokteran Hewan antara lain: Moh. Ishak untuk ujian kandidat (tahun kedua) dan untuk ujian propaedeutis (tahun pertama): Asrul Sani, JH Hutasoit dan I Gde Njoman Djiwa Darmadja (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-02-1950). Mahasiswa-mahasiswa yang diterima tahun 1950 adalah sebagai berikut: Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor antara lain Didi Soesetiadi, Djoko Soedarmo, Aryo Darmoko, Tan Hok Seng, Djoko Woerjokiratio, Sutopo Andar, A.A. Soerjadi Wiradisoerja, Soelistiyanto dan Tjetje Argawa. Pada tahun 1950 ini, di Fakultas Kedokteran Hewan jumlah mahasiswa sebanyak 50 orang (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 17-03-1950).


De nieuwsgier, 09-02-1951: ‘Di Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia Bogor: Lulus prop. bagian pertama: Soenarjo, Njoman Toja, R Th. B.Th, Rast. Karhi, Lauw Sik Liem, Nona Widowati Rusmiputro. Lulus Prop kedua: Soekarno, Masman Bekti, R Sadikin. R Gunawan Satari. Lulus ujian kad. bagian pertama: Tb Bachtiar Rifai, R Sudama Reksaputra dan untuk cand. bagian ke-2: Tjia Keng Hien. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-09-1951 Di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor, berikut ini lulus Ujian Kandidat: R. Moechidin Apandi, I Gde Njomun Djiwa Dharmadja, dan Ujian sarjana: JH Hutasoit, R Isa Wirahadiiedja, M Pandjaitan, dan Soebagio. Di Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, berikut ini lulus Ujian Kandidat II Pertanian: Ong Tbian Pa, Liem Tjian Hing, Ilutagalung; Ujian Kandidat I Pertanian: Soekarno, Ong An Pang, Gunawan Satari, Oey Béng Swan, Liem Tjiauw Gwan, R. Sadikin, dan Ibu A. Liem Swat Nio (dengan nilai maksimal); untuk ujian kandidat I Kehutanan: Mursaid Kromosudarmo, Aten Suwanda, R. Gazali. Subroto Prawotosudaimo, Muljadi Banuwidjojo, Junus Kartasubrata (dengan hormat): untuk ujian propaedeutiseh bagian ke-2: Lauw Sik Lim. Ang Khoen Swan, Njoman Toja, Karhi, W Sunarjo, Oen Tjeng Hien, Usman, Kampto Oetome, Sumarjo Juswopi-ahoto, R.Th. B.Th. Rast; untuk bagian ujian pendahuluan: Mohammad Weiss, (dengan istimewa), Tan Kim Hong, Bambang Puradjak, Sukisman Sastrosudiro, Wijoso, Ibnoe Soedjono, Soejono Natawidjaja, Soelemaa Partadisastra. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-11-1951 Di Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, pada bulan Oktober 1951, Salmon Padmanegara, Abdullah Hidir, Soepangat, JV Siahaan, dan Sumartono lulus ujian propaedeutik tahun pertama. Bapak Umarsono dan Kadarusman lulus ujian propaedeutik tahun kedua. 

Mahasiswa-mahasiswa yang diterima tahun 1951 adalah sebagai berikut: Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor antara lain R. Soetrisno, G. Boedihardjo, R. Soeprapto Sukardono dan Oeng Sie Boe. 


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-02-1952: ‘Lulusan dari "Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia di Bogor: insinyur pertanian, Sie Kwat Soen; ujian kandidat-2 bidang pertanian, J. de Bic; ujian kandidat-1 Pertanian, R Soemoto Koesoemodihardjo: ujian prop. bagian ke-2: Loemban Tobing, Sudibyu. Tan Kiem Gio dan Goentoro; ujian propa-1: Alibasah Kartapranata, J Pitoy, R Abdurachman Ardisasmita, Apandi Mangundikoro, Ngkan Putu Raka. Pandoe, Jadinnai. Sirwoso, Thung Tjiang Pek, Iman Kahanijn. Hadi Atmówasbono, Taioem. Jusuf Sutakarla, Emon Sajidi; Liem Bing Hwi. Poersono, Nona I Tan Tek Lee dan Rahajoe Iskak. Indische courant voor Nederland, 18-09-1952: Ujian. di Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, Agustus 1952. Lulus ujian kandidat bagian pertama bidang pertanian: Liem Swat Nio. Liem Tjiauw Gwan, Soemöro. Ujian kandidat bagian kedua bidang Kehutanan: Aten Suwanda, Moeljadi Banoewidjojo, Moersaid Kromosoedarmo (cum laude), Soebroto Prawoto Soedarmo. Kandidat bagian pertama bidang pertanian: Lauw Sik Liem. Yap Kim Tjong. A Th Rast, TJ Goentoro, Njoman Toja. Karhi, Ang Khoen Swan, R Kampto Utomo. Ujian kandidat bagian pertama bidang kehutanan: Soemarjo Joeswopranjoto, Soenarjo Hardjodarsono, Oen Tjeng Hien. Ujian kandidat bagian kedua bidang kehutanan: Nona Tan Tek Lee, Salmon Padmanegara. W Harjadi, Ibnu Soedjono, Abdullah Hidir, R Abdurrachman Ardisasmita, Soemartono, Nona Rahajoe Iskak. R Soetijoso Soeprapto, Ng Putu Raka. Ujian propa. pertama: Sarjadi, Sjamsuddin Hamid, Soemarsinggih, Siswadhi, Lie Tek An (cum laude), Rahardjo Sastrosuparto, Soetrisno Hadi, Hartono, Wahjudi, Harry Suseno, Nona Roekmowati. Hudoro Samsoe. F Soedjanadi, Moch. Harris, Aim Abdurrachim, FH Hildebrand. De nieuwsgier, 13-10-1952: ‘Di Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, berikut adalah mahasiswa yang lulus ujian pra-universitas pada bulan September 1952: Gazali, bagian kedua ujian pra-universitas, jurusan kehutanan. Usman, Ocmarsono, Soedibyo, dan Tan Kiem Gijbk, bagian pertama ujian pra-universitas, jurusan pertanian. Alibasjah Kartapranata, Supangat, Hadi Atmowasono, Bambang Doeradjak, dan Pandoc, bagian kedua ujian pra-universitas. Robcrto Soekarjo, Abdur Rachman, dan Soclaeman, bagian pertama ujian pra-universitas’. 

Mahasiswa-mahasiswa yang diterima tahun 1952 Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor antara lain Tb Achjani Atmakusuma, Sjahfri Sikar, Julcham Muslihun, R Soeharto Djojosoedarmo, B Soenarno, M Soewondo Djojosoebagio, Soegiri, R Titin Kartika, R Hartono, Hasan Zaini, MA Dasuki, R Darmawan, I Gusti Bagus Amitaba, Momo Kusnadi Hasan, Nawangsari dan Ong Sie Boe. Dalam hal ini Soegiri adalah nama yang diduga kuat kelak ayah dan Nawangsari ibu dari Dr Ir Purbaya Yudhi Sadewa, PhD (Menteri Keuangan Republik Indonesia). Di Fakultas Pertanian  yang diterima tahun 1952 ini antara lain Soenardi, Achmad Muhammad Satari, Oetomo, Ling Sioe Lie, Abu Dardak, Tb Soehaedi Wiraatmadja, Kang Biauw Tjwan, Andi Hakim Nasution. Nama-nama Achmad Muhamad Satari dan Andi Hakim Nasution kelak menjadi Rektor IPB. 


De nieuwsgier, 17-03-1953: ‘Bachtiar Rifai lulus sebagai insinyur pertanian dari Fakultas Pertanian di Bogor. Ini menjadikan Bachtiar sebagai orang Indonesia pertama yang lulus sebagai insinyur pertanian dari fakultas tersebut. Beliau kemudian diangkat sebagai asisten di fakultas tersebut’. De nieuwsgier, 03-06-1953: ‘Di Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia Bogor, lulusan: Insinyur Pertanian: O Hutagalung, R Sudama Reksapoetia, dan Lauw Ing Biauw. Ujian kandidat bagian kedua, jurusan Pertanian: Masman, Beku, Soekarno, dan On An Pang. Ujian kandidat bagian pertama, jurusan Pertanian: Tan Kim Hong, Thung Tjiang Pek, R Ng Ashadi Djojopranoto, dan Rr Widowati Rusmiputro. Ujian propaedeutik bagian kedua: JL Pitoy, RM Wijoso, dan Socpartono Siswopranoto. Ujian Propaedeutik bagian pertama: Simon Sutrisno, Saikin Suriawidjaja, R Ruswiono dan Rr Sularmi Tjitrosomo. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-06-1953: ‘Di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor, berikut ini lulus ujian propaedeutik: R Sabirin Judawinata; ujian persiapan: Arjo Darmoko, dan Rd. Soeherman. Berikut ini lulus ujian sarjan-1: JP Wowor, Soegeng. A Lestarto Dibjosoebroto. Moh Halil Wanitasasmita, Rustandi Danumihardja; dan ujian sarjana-2: Drs R Moh Isa Wiradihardja, Drs Soebagio, dan Drs. Moh. Iskak. Indische courant voor Nederland, 16-09-1953: ‘Aan de faculteit voor Landbouwwetenschappen te Bogor, slaagden Augustus voor het Propaedeutische examen eerste gedeelte: Soenardi (cum laude), Achmad Muhamad Satari (cum laude). Oetomo (cum laude), Ling Sioe LI (cum laude), Abu Dardak (cum laude), Tb. Soehaedi, R Wiraatmadja (cum laude), Kang Biauw Tjwan (cum laude), Andi Hakim Nasution (cum laude), Oetomo (cum laude), Ling Sioe Li (cum laude), Abu Dadak (cum laude). Tb. Soehaedi Wiraatmadja, Oestata Wiradinata, Koswara, Rd Sutjiptadi Sutarman. R Dudun Achmad Sudarma. M Sediono Darmawan R G Soetardi Mangundojo, R Muhd. Kuswanda Widjajakusumah. R Boedijono, A Rivai Safid, Sudarsono, R Winoto. Rochani Rasidi, Sampe Tonapa. Didiek Soekardi. A Pratiwanggono Sudirdjo, Burhan Amongpradja, Didi Sudarma, R Harjoto, R Setijono, BB Madeten, Hary Ardy Saputra. Mochtadji, Noemaliah Saftnin. Propaedeutisch examen tweede gedeelte: Tojib Hadiwidjaja. RM Sarjadi. Sjameoeddin Hamid, Soelaemsn. Lie Tek An (cum laude). Aim Abdurachim. Mas Slamet, Abdur’rachman, Jusuf Sutakaria. Candidaatsexamen eerste gedeelte, Landbouw: Tan Tek Lee, Bambang Durndjak. Ibnoe Soedjono, Imam Rahardio. Hadi Atmowasono. Soemartono, W Hariadi. Sutjoso Suprapto, Rahajoa Iskak. R Salmon Padmanagara. Candidnatsexamen eerste gedeelte. Bosbouw: Thung Liong Pho. Soederwono Hardjosoediro. R Supangat Dirdiosudarso, Apandi Mangkudikoro. Candidaatsexamon tweede gedeelte Landbouw: Lauw Sik Liem. R Karhi. R Gunawan Satari. Candidaatsexamen tweede gedeelte. Bosbouw: .Tunus Kartasubrata. Soemarto Joeswopranoto. Sunario Hardjodarsono. TM Loemban Tobing’.

JH Hutasoit lulus sarjana kedokteran hewan di Bogor pada tahun 1953 (lihat De nieuwsgier, 08-10-1953). Yang lulus ujian sarjana adalah Soenarjo dan M Pandjaitan.  Lalu bagaimana dengan Arsul Sani dan lainnya? Yang jelas pada tahun 1953 ini yang lulus ujian transisi untuk tingkat propaedeutis diantaranya Soegiri dan Achjani Atmakusuma. 


De nieuwsgier, 08-10-1953: ‘Ujian Universitas. Di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor, mahasiswa yang lulus ujian propaedeutik sebagai berikut: Tb Achjani Atmakusuma, Julcham Muslihun, R Soeharto Djojosoedarmo, Ong Sie Boe, I Gusti Bagus Amitaba, MA Dasuki, Soegiri, R Soenarno, dan Sjahfri Sikar; ujian kandidat: Tan Hok Seng, Sanoebari, dan Erom Wargadipoera; ujian sarjana pertama: Soejoto; dan ujian sarjana kedua: Soenarjo, Soepardi Dandesasmita, R Abdulrachman Prawirawinata, JH Hutasoit, dan M Pandjaitan’. De nieuwsgier, 21-10-1953: 'Di Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, berikut ini adalah hasil kelulusan pada Oktober 1953: Ujian Propaedeutik, bagian pertama: R. Ismoenandar Soedarman, R. Bagus Rubnajat, H Winanto, dan Tihardjo. Ujian Propaedeutik, bagian kedua: Wahjoedi. Ujian Calon, bagian pertama, spesialisasi pertanian: Abdullah Hidir. Ujian Calon, bagian pertama, spesialisasi kehutanan: Siahaan Mopul dan Mohamad Weiss (cum laude). Ujian kandidat bagian kedua, spesialisasi pertanian dan konstruksi: W. Oen Tjeng Hien'. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-06-1954: ‘Ujian. Di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, mahasiswa berikut lulus ujian propaedeutik, bagian pertama IV: Koesmariah Koesmana, Pek Han Liang, Sabirin Karim, R Sonarso, Soenarto, Soegiharso, R Suhud, R Soedradjat, dan Soedinarto. Untuk ujian propaedeutik, bagian kedua: R Sardjono Reksodimoeljo, Soeherman, Soejono Natawidjaja, F Sudjanadji. Untuk ujian kandidat, bagian pertama, di bidang pertanian: R Ng Ashardikoen Djojopranoto, Lie Tek An (cum laude), RM Sarjadi dan Tojib Hadiwidjaja. Untuk ujian kandidat, bagian kedua, di bidang pertanian: Kadarusman Nitidiputro, Tan Kim Hong, Thung Tjiang Pek, Usman. Insinyur pertanian: Liem Annie Swat Nio’.

Fakultas kedokteran hewan di Bogor memiliki 170 mahasiswa pada awal tahun 1954. Jumlah kebutuhan Indonesia setidaknya 600 dokter hewan. Sejauh ini baru ada  sebanyak 120 dokter hewan. Jumlah lulusan di dua fakultas yang ada (di Bogor dan Jogja) setiap tahunnya tampaknya masih sedikit. 


Het nieuwsblad voor Sumatra, 27-02-1954: ‘Untuk kelancaran pekerjaan, Indonesia membutuhkan setidaknya 600 dokter hewan. Saat ini, hanya ada 120 dokter hewan. Minat di bidang ini cukup baik, tetapi bisa jauh lebih baik, demikian dinyatakan. Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor memiliki 170 mahasiswa, dibandingkan dengan 106 di Jogja. Diharapkan 16 kandidat akan menyelesaikan studi mereka tahun ini’.


Jumlah 120 dokter hewan yang ada diduga kuat adalah alumni sekolah kedokteran hewan di Buitenzorg pada masa era Hindia Belanda. Mereka itu antara lain Dr Anwar Nasoetion (ayah dari Andi Hakim Nasoetion). Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, lulusan dokter hewan di Bogor baru pertama kali tahun 1954.


De nieuwsgier, 12-11-1954: ‘Berikut ini adalah lulusan fakultas kedokteran hewan di Bogor: R Mohammad Wirahadiredja, Mohammad Ishak, R Soepardi Danoesasmita, RA Rachman Prawiranata, dan Soenarjo. Ini adalah wisuda pertama lima dokter hewan sejak fakultas kedokteran hewan didirikan di Bogor’.

Sejak 1954 yang menjadi rektor Universitas Indonesia adalah Prof Dr Bahder Djohan (menggantikan Prof Dr Mr Soepomo, PhD). Fakultas-fakultas yang ada di Djakarta sudah semuanya orang Indonesia. Siapa yang menjadi dekan fakultas kedokteran hewan? Yang jelas dekan fakultas pertanian adalah Profesor Ir M Soebiarto. Pada tahun 1955 Ketua  (dekan) Fakultas Pertanian di Bogor, Profesor Ir M Soebiarto, terpaksa mengundurkan diri karena keberangkatannya ke Belanda. Profesor R Sutisno D Pusponegoro telah ditunjuk sebagai penggantinya (lihat Pada Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-03-1955). 


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-02-1952: ‘Insinyur Pertanian Pertama Bogor Meraih Gelar. Di hadapan seluruh anggota fakultas, Sie Kwat Socn mengikuti ujian teknik Ilmu Pertanian di Fakultas Ilmu Pertanian Bogor pada Rabu sore. Ini adalah kali pertama fakultas ini memberikan gelar teknik. Setelah ketua fakultas, Prof Dr LW Kuilman, membuka rapat yang terbuka untuk umum dan dihadiri oleh banyak mahasiswa, kandidat dipersilakan masuk, dan ujian dimulai di bawah pengawasan ketua panitia ujian, Prof. Dr. M. Hille Ris Lambers. Setelah ujian, fakultas melakukan musyawarah singkat, setelah itu Prof. Hille Ris Lambers mengumumkan kepada kandidat bahwa ia telah lulus ujian dan menganugerahinya gelar teknik. 

Sebelumnya yang menjadi ketua fakultas pertanian adalah Prof van Baren (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-04-1950). Disebutkan ketua (dekan) Fakultas Pertanian, karena kepergian Prof van Baren ke Belanda, beliau telah menyerahkan jabatannya sebagai ketua Fakultas Ilmu Pertanian di Universitas Indonesia kepada Prof Dr HJ de Boer di Bogor. Lalu kemudian digantikan oleh Prof Dr LW Kuilman. Dalam hal ini Profesor Ir M Soebiarto menggantikan Prof Dr LW Kuilman (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-06-1954). Disebutkan Prof Dr LW KuiJman, ketua Fakultas Ilmu Pertanian di Universitas Indonesia di Bogor, dan profesor fisiologi tanaman di fakultas tersebut, akan pensiun pada tanggal 30 Juni. Beliau telah menyampaikan kuliah perpisahan dan akan berangkat ke Belanda pada tanggal 7 Juli. Belum diketahui siapa yang akan menggantikannya sebagai ketua fakultas. Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 05-08-1954: ‘Ir Soebiarto, pejabat senior di Kementerian Pertanian Djakarta, diangkat sebagai ketua sementara fakultas pertanian di Bogor. 


De nieuwsgier, 11-02-1956: ‘Ujian universitas. Rustandi Danumihardja dan Soeratno (keduanya dengan predikat predikat sangat memuaskan) lulus ujian dokter hewan di fakultas kedokteran hewan di Bogor. Berikut juga yang lulus ujian masuk fakultas ini: Harimurti, M Gaus Siregar, Soeratmin, R Moch. Sirodz Wirahadiredja, Moejarso, Ang Sing Biauw, Sukelan, Soebadi, OTH Tambunan, Soepii, Moeljono Krishna, R Soenardi Partodidjojo, dan R. Hastowo’. Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 26-03-1957: ‘Ujian Universitas. Di Fakultas Pertanian Bogor, mahasiswa yang lulus ujian kandidat tahun pertama bidang sosio-ekonomi (SOSEK) adalah sebagai berikut: R Soesetyo, R Sudarmadi Sumadihardjo, Soedinarto, Rachmat Soebiapradja, dan Soerojo. Lulus ujian propa Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA): Koesmariah Koesmana, Sabirin Karim, M Effendy Manan, R Suhud, Najoan, Nanulaitta, dan Fachruddin. Lulus ujian kandidat tahun kedua peminatan ilmu alam (MIPA): RA Roesmilah Prawirodirdjo, R Tjoek Setijono Sosrodarsono, Sampe Tonapa, dan Sudarsono’.


Bagaimana pun penyelenggaraan perguruan tinggi di Indonesia, sejatinya terus berkesinambungan sejak era Pemerintah Hindia Belanda. Awalnya, lulusan-lulusan sekolah menengah di Hindia menalnjutkan studi ke perguruan tinggi di Belanda. Pada tahun 1920 perguruan tinggi pertama dibuka di Bandoeng (Technisch Hoogeschool te Bandoeng). Lalu pada tahun 1926 didirikan perguruan tinggi hukum (Rechthoogeschool) di Batavia dan kemudian disusul pendirikan perguruan tinggi kedokteran (Geneeskundige Hoogeschool) di Batavia. Salah satu lulusan, yang menjadi orang Indonesia pertama menjadi sarjana di dalam negeri adalah Ir Soekarno (meraih gelar insinyur teknik sipil di Bandoeng tahun 1926).


Pada tahun 1940 Middelbare Landbouwschool dan Veeartsen School di Buirtenzorg (baca: Bogor) dilebur dan kemudian menjadi Landbouw Hogeschool (Sekolah Tinggi Pertanian). Sementara itu, Fakultas Seni dan Filsafat (Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte) dibuka pada tanggal 1 Oktober 1940.dan memulai perkuliahan pertama pada tanggal 4 Desember 1940. Sejak 31 Oktober 1941 Sekolah Tinggi Pertanian di Bogor dikenal sebagai Landbowkundige Faculteit. Lalu dengan adanya tiga fakultas awal (teknik, hokum dan kedokteran), dan ditambah dua fakultas baru (pertanian/kedokteran hewan dan sastra/filsafat) dengan sendirinya pada tahun 1940 menjadi awal dibentuknya universitas (Universiteit van Indonesie). 

Mengapa nama universitas (pertama) ini diberi nama Universiteit van Indonesie? Tentu saja ada kaitannya dengan eskalasi perang di Asia Timur (invasi Jepang) dan gerakan di dalam negeri yang terus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia (GAPI/MRI). Penerimaan nama Indonesia di kalangan orang Belanda juga sebagai konsekuensi keinginan orang Belanda untuk merangkul orang Indonesia (jika terjadi perang melawan invasi Jepang). Satu yang jelas bahwa sejak 1940 ini suatu universitas telah didirikan di Indonesia. 


Salah satu mahasiswa yang diterima Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra dan Filsafat) di Universiteit van Indonesie adalah Ida Nasoetion.  Soerabaijasch handelsblad 28-08-1941 melaporkan Ida Nasoetion lulus ujian preliminary (kelas satu) di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte. Ida Nasoetion sangat tertarik dan menikmati kuliah di sekolah tinggi ini karena bakatnya di bidang sastra sejak masuk di Koning Willem III School. Ida Nasoetion lahir tahun 1922 dan mengikuti pendidikan dasar Eropa (ELS) di Sibolga. Keluarga mereka pindah ke Batavia sehubungan dengan ayahnya pindah tugas dari Sibolga ke Batavia. Pada tahun 1934 Ida Nasoetion didaftarkan di Koningin Wilhelmina School. Di sekolah elit Belanda ini Ida Nasoetion menempuh pendidikan enam tahun (SMP dan SMA). Bataviaasch nieuwsblad, 05-06-1935 melaporkan ujian transisi di K. W. III School yang mana diantaranya Ida Nasoetion dipromosikan dari kelas pertama ke kelas dua. Bataviaasch nieuwsblad, 29-05-1937 melaporkan siswa-siswa K.W. III School yang naik ke kelas empat yang mana terdapat nama I. Nasoetion (m), Pada pertengahan tahun 1940 Ida Nasoetion lulus ujian akhir di KW III School dan direkomendasikan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Negeri Belanda namun pilihannya jatuh pada Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte, Universiteit van Indonesie . 

Namun tidak lama kemudian terjadi pendudukan Jepang (1942), Siingkatnya setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia (1945), pada tahun 1946 kembali datang Belanda (NICA). Pada Januari 1946 dibentuk universitas Nood-Universiteit van Nederlandsch Indie. Mengapa kembali nama Nederlandsch Indie muncul kemali? Akan tetapi tidak lama kemudian pada tanggal 12 Maret 1947 semasa Prof. Dr. Cornelis Douwe de Langen nama Nood-Universiteit van Nederlandsch Indie diubah menjadi Universiteit van Indonesie (lihat Het nieuws: algemeen dagblad, 24-10-1947). Disebutkan Universiteit van Indonesie terdiri dari Fakultas Kedokteran (faculteiten der geneeskunde di Batavia, Fakultas Kedokteran Hewan dan Pertanian (faculteiten der dierengeneeskundie en van landbouw wetenschap) di Salemba 4 Djakarta. Selain itu terdapat Fakultas Hukum dan Sosial (faculteiten der rechts en sociale wetenschap) dan Fakultas Sastra dan Filsafat (faculteit der letteren en wijsbegeerte) di Wilhelminalaan 55 Djakarta. Fakultas lainnya adalah Fakultas Sains dan (faculteit der exacte wetenschap) dan Fakultas Teknik (faculteit van technische wetenschap) di Bandoeng. 


Pada saat dibukanya kembali 'Universitas Darurat' Universitas Indonesia terdiri dari delapan fakultas (faculteit)dan selusin lembaga (institute) yang semua di bawah naungan Universitas Indonesia (lihat Het nieuws: algemeen dagblad, 24-10-1947). Fakultas yang ada terdiri dari Fakultas Kedokteran (faculteiten der geneeskunde di Batavia, Fakultas Kedokteran Hewan (faculteiten der dierengenees kunde) dan Fakultas Pertanian (faculteit van landbouw wetenschap) di Bogor. Selain itu terdapat Fakultas Hukum (faculteiten der rechts), Fakultas Ilmu Sosial (faculteiten der sociale weten), Fakultas Sastra dan Filsafat (faculteit der letteren en wijsbegeerte). Fakultas lainnya adalah Fakultas Sains dan (faculteit der exacte wetenschap) dan Fakultas Teknik (faculteit van technische wetenschap) di Bandoeng. Lembaga/institut yang ada dan yang akan diadakan antara lain: pendidikan jasmani (instituut voor lichamelijke) di Bandung, dental institute (tandheelkundig instituut) di Surabaija dan pelatihan meteorologi di Bandoeng dan pelatihan guru yang akan diadakan. Iklan penerimaan Universiteit Indonesie, 24-10-1947 

Mahasiswa Indonesia yang mulai aktif kuliah lalu ikut berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia. Ketika situasi perkuliahan di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte, Universiteit van Indonesie sudah mulai kondusif, Ida Nasoetion langsung jiwa merdeka Ida Nasoetion tetap bergelora. Dengan dimulainya otonomi kampus, Ida Nasoetion bersama G. Harahap dari jurusan jurnalistik melihat celah ini dengan menggagas dan mendirikan perhimpunan mahasiswa.

 

Dengan kawan-kawan yang lain, Ida Nasoetion meresmikan organisasi mereka dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia yang disingkat PMUI pada tanggal 20 November 1947. Pada awal organisasi mahasiswa ini didirikan anggotanya baru sebanyak 30 mahasiswa dan lambat laun sebelum ulang tahun yang pertama anggotanya sudah menjadi 100 mahasiswa (hanya memperhitungkan yang di Batavia). Ida Nasoetion adalah presiden pertama perhimpunan mahasiswa Indonesia. Gelagat Ida Nasoetion dibalik memersatukan mahasiswa ini tercium juga oleh intelijen Belanda. Sebelumnya pada tanggal 5 Februari 1947 di Djogjakarta telah dibentuk organisasi Himpoenan Mahasiswa Islam yang dipimpin oleh Lafran Pane. 

Pada bulan Desember 1947 ada wacana untuk memindahkan Universiteit van Indonesie dari Batavia (Djakarta) ke Buitenzorg (Bogor). Alasannya lebih banyak kesempatan perumahan daripada di ibukota yang penuh sesak. Akan tetapi, pertanyaan besarnya adalah dimana universitas itu ditempatkan. Lalu dibentuk suatu komite untuk melakukan studi kelayakan. Hasilnya tidak ada keberatan dari pemerintah (Belanda) untuk menggunakan Istana Buitenzorg sebagai kandidat universitas. Sejumlah professor dari Belanda sudah dikontak untuk bergabung. Pemindahan pertama akan dilakukan bagi Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan (landbouwkundige en de veterinaire faculteit) yang kebetulan dulunya berlokasi di Buitenzorg (Bogor). Namun tidak bisa direalisasi segera karena militer masih menjadikannya sebagai garnisum (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 16-12-1947). 


Belum genap satu semester Ida Nasoetion menjabat Presiden PMUI, kabar buruk telah datang menimpanya. Koran De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 03-04-1948 melaporkan Ida Nasoetion hilang. Dalam berita itu dinyatakan sebagai berikut: ‘seorang esais Indonesia berumur 26 tahun, Ida Nasution hilang. Selama delapan hari penyelidikan tetap sejauh ini tanpa hasil. Mereka (Ida dan kawan-kawannya) berangkat pada tanggal 23 Maret di pagi hari dengan kereta api ke Buitenzorg, di mana mereka menghabiskan hari di sekitar Masing, Tjiawi’. Sementara itu, koran Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 05-04-1948 memberitakan sebagai berikut: ‘Sejak 23 Maret, seorang mahasiswa Indonesia Ida Nasution menghilang. Pada tanggal itu mereka ke Tjigombong untuk menghabiskan beberapa waktu di danau Tjigombong (kini, danau Lido). Namun, Ida Nasoetion yang akan kembali pada hari yang sama, tetapi hilang entah dimana. 

Situasi dan kondisi masih perang antara militer Belanda dengan militer/laskar Indonesia). Dalam perkembangannya, komite untuk persiapan Universiteit van Indoensie di Butenzorg (yang salah satu anggotanya Prof. Husein Djajanegara) membatalkan niat untuk pemusatan semua fakultas di Istana Buitenzorg karena terlalu sempit (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 08-04-1948). 


Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan sudah memulai aktivitas namun secara seremonial baru diresmikan pada tahun tanggal 20 November 1948. Peresmian Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan (faculteiten van landbouwwetenschap en van diergeneeskunde) ini berlangsung di gedung Umum Balai Penelitian Pertanian yang dihadiri senat Universiteit van Indonesie di Buitenzorg (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 13-11-1948). Namun perkuliahan belum efektif karena masih terjadi perang di sekitar Buitenzorg (lihat De nieuwsgier, 22-11-1948). 

Untuk menyukseskan Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan di Buitenzorg pemerintah mengganggap perlu melakukan rekonstruksi gedung. Departemen PU (departement van Waterstaat en Wederopbouw) telah membuat kompetisi desain. Juri telah menentukan pemenang. Pemenang pertama dengan judul ‘A 365’ dari  Ingenieursbureau Ingeneger en Vrijburg di Bandoeng dan pemenang ketiga adalah dengan judul ‘Studie’ oleh Friedrich Silaban, directeur Gemeentewerken te Buitenzorg. Desain akan dipamerkan pada minggu pertama bulan Februari di Landbouw Hogeschool di Buitenzorg (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 26-01-1949). 


Dalam perkembangannya, setelah ada peralihan dari Belanda ke Indonesia (1949) dalam bentuk RIS dibentuk Universiteit Indonesia tahun 1950. Presiden Universiteit Indonesia diangkat Ir. Soerachman yang diresmikan pada tanggal 2 Februari 1950. Sejak ini, secara umum, universitas negeri sudah eksis yakni universitas RI (Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta) dan iniversitas RIS (Universiteit Indonesia). 

Sejak tahun 1950 situasi dan kondisi perguruan tinggi di Indonesia sudah mulai berjalan kondusif. Namun seiring dengan semakin banyak Negara federal yang membubarkan diri maka pada tanggal 17 Agustus 1950, Presiden RIS Ir Soekarno menyatakan RIS dibubarkan. Keesokan harinya tanggal 18 diproklamasikan negarasa kesatuan RI (NKRI). Pada bulan September 1950 nama Univwersiteit Indonesia diubah namanya menjadi Universitas Indonesia dengan presidium Prof Dr Soepomo. Seperti disebut di atas, Universitas Indonesia terdiri sejumlah fakultas di berbagai kota termasuk di Bogor. Setiap fakultas sudah mulai berhasil mewisuda sarjana barunya. 


Di Bogor, sebelum fakultas kedokteran hewan di Bogor melahirkan sarjana baru, sudah dilakukan promosi doktor. Salah satu dokter hewan lulusan sekolah kedokteran hewan di Bogor di era Pemerintah Hindia Belanda (Veeartsen Hoogeschool van Nederlandsche Indie) Drh Mohamad Mansjoer dipromosikan menjadi doktor di bidang kedokteran hewan (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-03-1954) Disebutkan sidang disertasi PhD Moh. Mansjoer di Bogor. Mohamad Mansjoer menerima gelar doktor kedokteran hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor untuk disertasinya yang berjudul: "Penjelidikan tentang penjakit ingusan pada sapi dan kerbau di Indonesia, terutama di pulau Lombok". Sidang disertasi yang menarik perhatian besar ini merupakan yang kedua sejak berdirinya fakultas tersebut. Promotor adalah Prof Dr J Hoekstra. Salah satu proposisi dalam disertasi tersebut memicu diskusi menarik tentang apakah virus harus dianggap sebagai zat hidup atau mati. Kandidat tersebut mempertahankan pandangan yang pertama. Catatan: Lulus doktwer hewan tahun 1930 adalah Aboebakar Siregar, Amirin, Anwar Sjarif, Mohamad Mansjoer, ALA van Rees, Soebardji (lihat De koerier, 26-05-1930); 

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor mengumumkan bahwa 100 mahasiswa dapat diterima di fakultas ini yang ingin belajar di fakultas ini dengan kontrak untuk tahun ajaran 1954-1955. Persyaratannya adalah ijazah SMA, tidak lebih dari 23 tahun dan belum terdaftar. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh dari direktur SMA setempat (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 17-06-1954). Pada bulan November 1954 fakultas kedokteran hewan di Bogor mulai mewisuda dokter hewan yang pertama. Mereka itu adalah R Mohammad Wirahadiredja, Mohammad Ishak, R Soepardi Danoesasmita, RA Rachman Prawiranata, dan Soenarjo (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 11-11-1954). 


De nieuwsgier, 11-02-1953: ‘Pendidikan Tinggi. Berdasarkan dekrit Menteri Pendidikan, Bapak R Supardi Danusasmila diangkat sebagai Asisten Profesor Penyakit Dalam di Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor, efektif mulai 1 November 1952. Bapak B Seit, seorang dokter hewan di Balai Penjelidikan Pelernakan (Lembaga Penelitian Kedokteran Hewan) di Bogor, diangkat sebagai Profesor Madya Kedokteran dan Inseminasi Buatan di Fakultas Kedokteran Hewan, efektif mulai 1 September 1952’. De nieuwsgier, 14-10-1954: ‘Ujian Universitas. Di Fakultas Kedokteran Hewan Bogor, berikut ini yang lulus ujian propaedeutik: Abdurachman (dengan predikat cum laude), Sajoga (dengan predikat cum laude), Zainul Arilln (dengan predikat cum laude), Juntiwa (dengan predikat cum laude), I Gusti Njoman, T Temadja (dengan predikat cum laude), Wirasmono Sukotjo, I Gusti Njoman Sukla, R Hartone, R Hasan Sastrahadiprawira, Hasan Zalni, dan Rd Darman. Berikut ini yang lulus Ujian Kandidat: Rachmana, Abd Muis Nasution (dengan predikat cum laude), dan Kasmat. Berikut ini yang lulus ujian sarjana kedua: Rustandi (dengan predikat cum laude), Sumardi Sastrakusuma dan Suratno’.

Jumlah dokter hewan semakin banyak. Indische courant voor Nederland, 01-12-1954: ‘Ujian. Para mahasiswa berikut, JH Hutasoit dan M Pandjaitan, telah lulus ujian kedokteran hewan di Fakultas Kedokteran Hewan Bogor’. De nieuwsgier, 19-01-1955: ‘Di Fakultas Kedokteran Hewan Bogor, Indonesia, berikut ini lulus sebagai dokter hewan: Drs Soebagio, Drs Didi Atmadilaga, dan Drs R Achmad Mucklis’. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 31-05-1955: ‘Di Fakultas Kedokteran Hewan Bogor, Sri Hadiati dan Ibrahim lulus ujian propaedeutik mereka. Drs R Muchidin Apandi lulus sebagai dokter hewan’. 


De nieuwsgier, 20-10-1956: ‘Wakil Presiden Mohamad Hatta akan memberikan kuliah kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan, Kesehatan Hewan, dan Pertanian di Bogor pagi ini pukul 10.00 di Bioskop Kota Bogor dengan tema "Peran Mahasiswa dalam Pembangunan." Kuliah ini diselenggarakan oleh senat mahasiswa Universitas Indonesia, Koordinator Bogor’. 

Lalu bagaimana dengan di fakultas pertanian di Bogor? Fakultas pertanian di Bogor sejak tahun 1952 sudah mulai mewisuda sarjana baru, dan baru-baru ini diantaranya Tojib Hadiwidjaja (yang kemudian diangkat sebagai dosen di almamaternya). Ir Tojib Hadiwidjaja kemudian dipromosikan menjadi doktor pada tahun 1956.

.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-09-1956: ‘Tojib Hadiwidjaja, dosen fitopatologi dan kepala penelitian fitopatologi di Fakultas Pertanian Bogor, telah menerima gelar doktor ilmu pertanian. Upacara yang berlangsung di Kolese Nasional Bogor ini dihadiri oleh para profesor dari fakultas pertanian dan kedokteran hewan Bogor serta tamu undangan lainnya. Tojib meraih gelar doktornya dengan disertasi tentang "Kematian Dini Cengkeh". Tojib Hadiwidjaja saat ini merupakan satu-satunya doktor ilmu pertanian di Indonesia. Dr Tojib lahir pada 12 Mei 1919, di desa Sukahurip, Kabupaten Chiamis. Setelah menyelesaikan HIS dan MULO masing-masing pada tahun 1933 dan 1936, ia lulus dari Sekolah Menengah Pertanian di Bogor pada tahun 1939. Pada Mei 1955, ia memperoleh gelar sarjana dengan predikat cum laude di bidang teknik pertanian dari Fakultas Ilmu Pertanian Bogor’. Catatan: Arnhemsche courant, 13-07-1946: ‘Lulusan DOKTOR INDONESIA pertama di Wageningen. Dengan Pakaian Adat Menangskabau. Kemarin sore, Ir Sam Oedin menerima gelar doktornya di bidang ilmu pertanian di Ruang Senat Fakultas Pertanian untuk disertasinya yang berjudul: "Kotamadya Huissen" (De gemeente Huissen) sebuah contoh analisis sosio-geografis. Fakta bahwa seorang Indonesia menyelesaikan studinya di universitas Belanda dengan mencatat dalam sebuah risalah komprehensif hasil penelitian bertahun-tahun yang cermat tentang struktur sosio-geografis sebuah kotamadya Belanda, sekali lagi memberikan bukti adanya ikatan spiritual dan budaya yang erat antara Belanda dan Hindia, dan cara kandidat doktor, diapit oleh para nimfa-nya, mengambil tempatnya di Ruang Senat merupakan refleksi simbolis dari hal ini. Selain Ir. Oedin, mengenakan jubah Menangkabau yang elegan, duduk di sebelah kanan, didampingi oleh ayah angkatnya dari Belanda, Bapak F van Konijnenburg, dan di sebelah kiri, juga mengenakan pakaian formal Indonesia, adalah Bapak Soeleiman Tajib Hapis. Setelah pembimbing, Profesor Edelman, dan Profesor Sprenger menjawab sejumlah pertanyaan penting, "Komite Enam" bubar. Setelah Rektor Magnificus, Profesor Olivier, mengumumkan kepada Bapak Oedin (sekarang Dr Ir Oedin) bahwa ia telah dianugerahi gelar Doktor Pertanian. Profesor Edelman sangat senang dengan keberhasilan Bapak Oedin; profesor menganggap studi yang sangat objektif ini lebih berhasil daripada studi sebelumnya di bidang ini. Ia adalah orang Indonesia pertama yang menerima gelar doktor di Wageningen; banyak rekan senegaranya telah lulus ujian teknik. Ia juga merupakan mahasiswa Wageningen pertama yang meraih gelar doktor di bidang geografi sosial. Mengenai perkembangan masa depan doktor muda tersebut, Profesor Edelman mengungkapkan harapan bahwa, setelah kembali ke negara asalnya, ia akan mempertahankan semangat kritis dan reflektifnya dalam menilai keadaan di tengah pusaran konflik’. 

Sementara fakultas kedokteran hewan dan fakultas pertanian di Bogor terus menghasilkan lulusan-lulusan baru, juga di dua fakultas itu masing-masing sudah ada yang berhasil meraih gelar doktor. Dunia perguruan tinggi Indonesia mulai merekah. 


Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 06-03-1957: ‘Di hadapan Dewan Pengawas Universitas Indonesia, para dosen dan profesor, mahasiswa dari fakultas pertanian dan kedokteran hewan, serta beberapa pejabat pemerintah, Drs Tan Tek Heng dilantik sebagai profesor luar biasa bidang ekonomi di fakultas pertanian Bogor pada hari Sabtu di "Gedung Nasional". Drs Tan Tek Heng menyampaikan kuliah dengan topik "Deiders in het veld der economie" (Berkembang dalam Ekonomi). Seorang ekonom modern sebagai pemimpin sangat berbeda dengan homo eonomicus di masa lalu. Ekonom kontemporer harus memiliki rasa empati terhadap sesama manusia, karena tanpa rasa empati ini, yang merupakan berkat dari Tuhan, kita semua akan menghadapi kehancuran, menurut Drs Tan Tek Heng, antara lain, dalam kuliahnya. Drs Tan Tek Heng lebih lanjut menyatakan bahwa, selain fokus pada materi pokok, ekonom juga harus memperhatikan etika, sosiologi, dan psikologi. Drs Tan Tek Heng juga menyatakan bahwa ia percaya para ekonom saat ini sebagian besar terjangkit "penyakit manajerial." Menurut Drs Tan Tek Heng, para pemimpin ekonomi harus memiliki semangat demokratis dan menyingkirkan egoisme’. Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 18-06-1957: ‘Insinyur Pertanian. Mas Slamet lulus ujian teknik sosial-ekonomi di Fakultas Pertanian di Bogor’. Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 25-07-1957: ‘M Memet Adinata, seorang dokter hewan yang berafiliasi dengan Institut Pusat Penelitian Veteriner di Bogor, telah berangkat ke Denmark untuk mengikuti kursus tentang peternakan di bawah naungan FAO’. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-10-1957: ‘Di fakultas kedokteran hewan Universitas Indonesia di Bogor, berikut ini adalah mereka yang lulus ujian kedokteran hewan: Soetopo Andar, Erom Wargadipura, dan Soetrisno’. 


Hingga tahun 1957 ini berbagai fakultas (khususnya di Djakarta, Bandoeng dan Bogor) yang berada di bawah Universitas Indonesia sudah menghasilkan lulusan pendidikan sarjana dan lulusan pendidikan doktoral. Seperti disebut di atas, Universitas Indonesia dengan nama Universiteit Indonesie dimulai pada tahun 1948 (dan pada tahun 1950 sepenuhnya di bawah kedaulatan Republik Indonesia). Sejauh ini Universitas Indonesia terdiri dari delapan fakultas, yakni: (1) Fakultas Hukum (rechten); (2) Fakultas Ekonomi (economie); (3) Fakultas Teknik (techniek) di Bandoeng; (4) Fakultas MIPA (wisen natuurkunde) di Bandoeng; (5) Fakultas Kedokteran (medicijnen); (6) Fakultas Pertanian (landbouw) di Bogor; (7) Fakultas Sastra (literatuur) di Djakarta; dan (8) Fakultas Kedokteran Hewan (veerartsenijkunde) di Bogor.
 

Lulusan terawal pendidikan sarjana. (1) Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial: Mahasiswa-mahasiswa yang lulus pada masa transisi ini antara lain: Lulus tahun 1950 di Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial (faculteit voor rechtsgeleerdheid en sociale wetenschappen van de Universiteit van Indonesie) adalah Mej. Lo Gwat Wan, Mej. Rr Sri Widojati Notopradjo, BML Janz, Soeparman Sastrosoehardjo, Ko Eng Han dan Ong Tjing Boen (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 29-08-1950). Pada tahun 1951 yang lulus di Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial antara lain A. Moerad Astrawinata dan Auwjong Peng Koen (Nieuwe courant, 17-04-1951). Yang lulus tahun 1952 di Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial antara lain Soleiman Soeriadinata en Tagor Daulay. Pada tahun 1955 kembali Fakultas Hukum dan Sosial kembali beberapa kali menghasilkan lulusan. Diantara lulusan tersebut terdapat nama-nama Sheherazade Radjamin Nasution dan Mochtar Koesoemaatmadja. Pada tahun 1956 kembali Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Universitas Indonesia menghasilkan sarjana hukum (Meester in de Rechten), Dalam daftar yang lulus pada bulan Februari terdapat nama Aida Dalkit Harahap (Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 21-02-1956). (2) Fakultas Ekonomi: Lulusan pertama Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia adalah Drs Sie Bing Tat. yang berhasil lulus pada akhir Mei 1953, sementara lulusan kedua adalah Drs. Oei Kwie Tik pada bulan Agustus 1953 (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 26-08-1953). Hingga pada tahun 1955 Fakultas Ekonomi baru meluluskan tujuh mahasiswa. Ketujuh mahasiswa itu sudah barang tentu lulus pada tahun 1955. Tujuh mahasiswa pertama yang lulus ini diantaranya adalah Drs. Widjojo Nitisastro dan Drs. Tan Goan Tiang. Secara keseluruhan jumlah lulusan Fakultas Ekonomi, memang baru berjumlah tujuh sarjana, yakni (sesuai urutan kelulusan): (1) Drs. Sie Bing Tat, (2) Drs. Oei Kwie Tik, (3) Drs Saleh Siregar, (4) Drs Widjojo Nitisastro, (5) Drs R Dahmono, (6) HMT Oppusunggu, dan (7) Drs Tjiong Joe Lian. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-10-1956 membertatakan bahwa pada tanggal 12 Oktober telah lulus Toeti Warsokoesoemo di Fakultas Ekonomi di Djakarta yang membuatnya menjadi ekonom perempuan pertama yang dihasilkan oleh fakultas. Disebutkan Toeti Warsokoesoemo adalah asisten di proyek penelitian desa dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masjarakat (LPEM). Kepala LPEM yang baru adalah Drs. Widjojo Nitisastro. (3) Fakultas Pertanian di Bogor: Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 01-02-1952: ‘Insinyur Pertanian Pertama Bogor meraih gelar, Sie Kwat Soen. (4) Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor: JH Hutasoit dkk (1954). (5) Fakultas Kedokteran di Djakarta: De nieuwsgier, 01-10-1953: ‘Berikut ini adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Djakarta yang telah lulus ujian sarjana kedua: Daroemoeljo Prawirosoebroto, Tan Kok Siang, R Ashar Soeroso Moenandir, nona Thung Ing Hwa, nona Tan Tin Nio, dan Tan Eng Hoey. Berikut ini adalah lulusan yang telah lulus ujian sarjana kedua: nona Kartini Rohtialmo, Tan R. E., dan Poey Seng Hin. De nieuwsgier, 24-05-1954: Di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Djakarta, berikut ini adalah mereka yang telah lulus ujian kedokteran: JGE Wowor, BM Suwardjpno Surjoningrat, dan RM Suhirman Êrwin, Utari Suwardjono dan Liem Hian Tjong juga telah lulus ujian kedokteran’ (6) Fakultas Teknik di Bandoeng: Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 14-05-1955: ‘Berikut adalah para lulusan Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung: R Mansoer Wiriaatmadja di bidang teknik sipil dan Sjaban Ardisasmita, Oen Kiat, Suharman Doelhalim, King Djoe, dan Kwee Swan Tic di bidang teknik elektro’. Lulusan terawal pendidikan doktoral. (1) Doktor bidang: (a) Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor: Mansjoer (1952); AJ Darman. (b) Fakultas Pertanian di Bogor: Tojib Hadiwidjaja (1956). (c) Fakultas Ekonomi di Djakarta: Pada tahun 1954, Drs. Njoo Hong Hwie dosen di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia diberitakan menerima gelar Ph.D di bidang ekonomi (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 24-09-1954). Drs. Njoo Hong Hwie adalah mahasiswa Ph.D pertama di Fakultas Ekonomi. Para penguji dalam sidang desertasi tersebut adalah Drs. Koo Liong Bing, Ph.D dan Drs. Tan Goan Po, Ph.D. Drs. Njoo Hong Hwie berhasil mempertahankan desertasinya berjudul Solvabiliteit Perusahaan dengan promotor Prof. Drs. vd Velde, Ph.D (De nieuwsgier, 16-09-1954). Setelah Drs. Njoo Hong Hwie promosi tahun 1954 dan berhasil memperoleh gelar Ph.D, baru kemudian menyusul Mohamad Sadli dan Soebroto tahun 1957 (Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 04-11-1957). Disebutkan mahasiswa Ph.D [Mohamad] Sadli dan Soebroto untuk doktor di bidang ekonomi, hari ini, di aula pertemuan Universitas Indonesia di Djakarta, Mohamad Sadli dan Soebroto mempertahankan disertasi mereka untuk mendapatkan gelar doktor di bidang ekonomi. Mohamad Sadli mempertahankan disertasinya berjudul ‘Aspek Inter-regional Industrial Development’ dan Soebroto dengan desertasi berjudul ‘Ketentuan Perdagangan. (d) Fakultas Kedokteran: Dokter Poey Seng Hm, asisten dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Sudjono D Poesponegoro, menerima gelar doktor kedokteran pada hari Rabu atas tesisnya yang berjudul "Kwashiorkor (edema kelaparan) di Djakarta dan sekitarnya". Dalam disertasinya, Dr. Poey membandingkan hasil penelitian klinisnya tentang kwashiorkor dengan hasil di Afrika Tengah, Brasil, dan negara-negara lain. Dr. Poey Seng Hin lahir di Indramaju pada tahun 1920. Pada tahun 1954, ia lulus sebagai dokter dari Universitas Indonesia. Ia menghabiskan dua tahun untuk mempersiapkan tesisnya. Pembimbingnya adalah Prof. Dr. Soedjono D. Poesponegoro. Hari ini, Dr. Poey berangkat ke Amerika Serikat dan kemudian Guatemala untuk memperluas pengetahuannya. (b) Doktor Honoris Causa: Senat Universitas Gadjah Mada menilai dan memberikan gelar doktor honaris causa kepada Ir, Soekarno (lihat Nieuwe courant, 20-09-1951). Universitas Indonesia pada tahun 1956 untuk kali pertama memberikan gelar doktor honoris causa. Gelar pertama ini diberikan kepada Dr R Kodjat (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 27-06-1956). Mohamad Hatta di UGM tahun 1956. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Siapakah Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa? Para Lulusan Veeartsen School hingga Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor

Seperti disebut di atas, angkatan tahun 1952 (mahasiswa yang diterima tahun 1952) di Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor antara lain Achmad Muhamad Satari,  Andi Hakim Nasution, Soegiri dan Nawangsari. Satu per satu angkatan 1952 tersebut telah menyelesaikan studinya dan telah mendapat gelar insinyur pertanian dan gelar dokter hewan. 


Berdasarkan (daftar) alumni dokter hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (FKH UI) periode 1948-1963, nama-nama yang lulus dan mendapat gelar dokter hewan (Drh) tahun 1954 sebanyak delapan orang: M Ishak Wiradiredja, Soepandi Danoesasmita, Soenarjo Sastrohadinoto, Abd. Rahman Prawiranata, M Panjaitan, JH. Hutasoit, M Isa Wiradiredja dan Soebagio. Kedelapan dokter hewan yang baru tersebut semuanya angkatan tahun 1948. Itu berarti semuanya menyelesaikan dalam enam tahun. Angkatan 1948 ini bahkan ada yang baru selesai pada tahun 1959. Dalam daftar tersebut hanya satu mahasiswa yang lulus paling cepat (tepat waktu) yakni Abdoel Moeis Nasoetion, angkatan 1953 dan meraih gelar dokter hewan pada tahun 1957..


Berdasarkan (daftar) alumni dokter hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (FKH UI) periode 1948-1963, dicatat nama J Soegiri lulus dan mendapat gelar dokter hewan pada tahun 1959. Sementara nama Nawangsari dicatat lulus dan mendapat gelar dokter hewan pada tahun 1960. Angkatan 1952 bahkan masih ada yang baru selesai tahun 1962.

 

Achmad Muhamad Satari tahun 1958 mendapat gelar Insinyur dari Jurusan Kehutanan UI, kemudian gelar Master of Forestry dari Oregon State University pada  1961, dan PhD dalam bidang Soil Science dari Michigan State University pada 1967. Prof Dr Ir Achmad Memed Satari, MF menjadi Rektor IPB tahun 1970-1974 dan 1974-1978. Prof Dr Ir Achmad Memed Satari, MF meninggal dunia 4 April 2016 dalam usia 83 tahun (lahir 13 Maret 1933). Andi Hakim Nasution lahir tahun 1932. Pada tahun 1958 Andi Hakim Nasution lulus dengan predikat cum laude dan meraih gelar insinyur di bidang pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Indonesia. Enam tahun kemudian (1964), tanpa melalui jenjang master, ia meraih gelar Doctor of Philosophy di bidang Statistika Percobaan (Experimental Statistics) dari North Carolina State University, Amerika Serikat. Prof Dr Andi Hakim Nasution  adalah guru besar Statistika dan Genetika Kuantitatif Institut Pertanian Bogor (IPB) dan menjadi Rektor IPB 1978-1982 dan 1982-1987. Prof Dr Andi Hakim Nasution meninggal dunia 4 Maret 2002 (AI Wikipedia).

Lulusan Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor pada generasi-generasi terawal ini banyak yang menjadi dosen di almamaternya. Drh J Soegiri dan Drh Nawangsari tampaknya juga memilih menjadi dosen. Fakta bahwa dosen-dosen di Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor masih didominasi oleh akademisi (orang) Belanda.


Pendidikan kedokteran hewan (Veeartsen cursus) di Indonesia (baca: Hindia belanda) sudah dimulai pada tahun 1870an. Sekolah tersebut masih bersifat kursus yang awalnya diadakan di Soerabaja dan kemudian direlokasi ke Buitenzorg (baca: Bogor). Salah satu alumni adalah Si Badorang gelar Radja Proehoeman yang kemudian ditempatkan di Kinari (Afdeeling XIII en IX Kota). Pada tahun 1886 Radja Proehoeman mendapat cuti dan pulang ke kampong halaman di Pakantan di Onderfadeeling Klein Mandheling, Oeloe en Pakantan (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 22-06-1886). Radja Proehoeman dipindahkan ke ke kampong halaman di kota Padang Sidempoean. Pada tahun 1906 pemerintah meminta dokter hewan pribumi Si Badorang gelar Radja Proehoeman sebagai dokter hewan pemerintah tetap di Padang Sidempcean (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-09-1906). Sementara itu pemerintah telah membuka sekolah pertanian (Landbouwschool) di Buitenzorg (dibuka 1903). Pada tahun 1907 pemerintah akan membuka sekolah kedokteran hewan (Veeartsen School) di Buitenzorg. Salah satu siswa yang diterima (di kelas satu) adalah Sorip Tagor Harahap dari Padang Sidempoean. Dua siswa Landbouwschool ditransfer diantaranya JA Kaligis ditempatkan di kelas dua di Veeartsen School. Lulusan pertama Veeartsen School adalah JA Kaligis tahun 1910 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31-10-1910). JA Kaligis ditempatkan sebagai dokter pemerintah. Pada bulan Agustus 1912 hanya satu siswa yang dinyatakan lulus yaitu Sorip Tagor (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 19-08-1912). Lalu kemudian Sorip Tagor diangkat sebagai asisten dosen (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 16-08-1912). Pada bulan Oktober 1913 Sorip Tagor berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar dokter hewan penuh (setara dokter hewan Belanda). Bulan Juni 1916, Sorip Tagor lulus dan diterima sebagai kandidat dokter hewan di Rijksveeartsenijschool, Utrecht (lihat Algemeen Handelsblad, 19-06-1916). Ini menandakan babak baru bagi pribumi untuk memulai studi kedokteran di negeri Belanda. Sorip Tagor menjadi pionir, dokter hewan Indonesia pertama. Sorip Tagor lulus dari Rijksveeartsenijschool, Utrecht dan mendapat gelar dokter hewan (Dr) pada tahun 1920 (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 02-07-1920). Sorip Tagor kembali ke tanah air dan diangkat sebagai dokter hewan di lingkungan istana Gubernur General. Sementara itu, JA Kaligis pada tahun 1920 berangkat studi ke Belanda (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-01-1920). Mahasiswa Indonesia lainnya yang telah mendapat gelar sarjana tahun 1920 diantaranya Ir Soerachman yang lulus di fakultas teknik kimia di Universiteit te Delf. Ir Soerachman adalah orang Indonesia pertama sarjana teknik. Sebelumnya sudah ada beberapa orang Indonesia yang lulus sarjana kedokteran (seperti Abdul Rivai, 1908 dan F Laoh, 1909), sarjana keguruan (pendidikan) seperti Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, 1909 dan Ibrahim gelar (Soe)Tan Malaka, 1918; sarjana sastra (Husein Djajadinigrat, 1911) dan sarjana hukum (seperti Gondowinoto, 1918). Soetan Casajangan kelahiran Padang Sidempoean adalah pendiri Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) di Leiden tahun 1908). Dr(h) Sorip Tagor Harahap kelahiran Padang Sidempoean kelak lebih dikenal sebagai kakek (Ompung) dari Inez/Risty Tagor dan Deisti Astriani Tagor (istri Setya Novanto, mantan Ketua DPR). JA Kaligis lulus ujian sarjana pertama bagian kedua (lihat De Maasbode, 30-01-1921) dan menjadi dokter hewan. JA Kaligis menjadi dokter hewan yang kedua orang Indonesia. Dokter hewan berikutnya antara lain adalah Raden Soeratmo (lulus 1922) dan FK Waworuntu (lulus 1923) dan Tarip Siregar, lulusan Veeartsen School te Buitenzorg berangkat ke Belanda tahun 1927 dan dinyatakan lulus ujian dan mendapat gelar dokter (Dr) tahun 1930 di Veeartsenij Hoogeschool di Utrecht (lihat De Sumatra post, 07-10-1930). Tarip Siregar berangkat studi ke Utrecht atas dasar hadiah (beasiswa) yang diberikan pemerintah karena sukses dalam penelitian lapangan. Setelah sempat bekerja di Belanda, baru pada tahun 1932, Dr. Tarip kembali ke tanah air dan atas permintaannya sendiri (karena sudah tidak muda lagi?) untuk ditempatkan di tanah kelahirannya di Padang Sidempuan (Residentie Tapanoeli). Dr Tarip Siregar lebih dikenal sebagai ipar dari Sanoesi Pane dan kakek dari Dr Sangkot Marzuki Batoebara, PhD (Direktur Lembaga Eijkman 1992-2014). 

Hingga berakhirnya Pemerintah Hindia Belanda (1942) dan kemerdekaan Indonesia (1945) sudah ada orang Indonesia yang begelar doktor (PhD) sebanyak 83 orang (yang semuanya diperoleh di Eropa/Belanda kecuali 13 orang di Batavia). Doktor-doktor tersebut di berbagai bidang (kedokteran, sastra dan filsafat, hukum, ekonomi, kedokteran hewan, teknik dan matematika). Dalam daftar doktor Indonesia tersebut termasuk diantaranya Hoesein Djajadiningrat (1915; sastra); (satu-satunya perempuan) Ida Loemongga Nasoetion (1932, kedokteran); dan ayah dari Presiden Prabowo yakni Soemitro Djojohadikoesoemo (1943, ekonomi). Jumlah doktor generasi pertama saja (hingga tahun 1933) sudah sebanyak 55 orang.


Secara khusus diantara doktor-doktor tersebut hanya empat orang di bidang kedokteran hewan dan bidang pertanian, yakni: JA Kaligis (lahir di Kakas) di Utrecht dengan disertasi BIJDRAGE TOT DE KENNIS VAN ANAPLASMOSIS BIJ RUND EN BUFFEL (1922); Raden Soeratmo (lahir di Madioen) di Utrecht dengan disertasi EEN STUDIE VAN DE RUND VEETEELT IN DE RESIDENTIE KEDOE EN OMLIGGENDE REGENTSCHAPPEN (1923); FK Waworuntu (lahir di Sonder) di Utrecht dengan disertai BIJDRAGE TOT DE KENNIS VAN HET KONIJNEN-COCCIDIUM (1924); dan Thung Tjeng-Hiang (lahir di Buitenzorg) di Wageningen (bidang pertanian) dengan disertasi PHYSIOLOGISCH ONDERZOEK MET BETREKKING TOT HET VIRUS der BLADROLZIEKTE VAN DE AARDAPPELPLANT, SOLANUM TUBEROSUM L). Satu lagi orang Indonesia yang meraih gelar doktor di Wageningen (bidang pertanian) setelah kemerdekaan Indonesia adalah Sam Oedin       (lahir di Bandoeng) dengan disertasi DE GEMEENTE HUISSEN PROEVE EENER SOCIAAL-GEOGRAPHISCHE ANALYSE). Empat doktor tersebut tidak pernah terinformasikan sebagai dosen di sekolah kedokteran hewan dan sekolah pertanian di Buitenzorg/Bogor (mereka hanya bekerja di bidang pemerintahan). Dr R Soeratmo meninggal tahun 1942 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 02-03-1942). 

Pada saat fakultas kedokteran hewan dan fakultas pertanian di Bogor dibuka tahun 1948 (sebagai bagian dari Universiteit van Indonesie) doktor-doktor Indonesia tersebut di atas tidak terinformasikan sebagai dosen. Seperti disebut di atas, dekan di dua fakultas di Bogor tersebut sudah diisi oleh guru besar (orang) Indonesia. 


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-05-1957: ‘Dekan sementara Fakultas Pertanian di Bogor, Prof. Dr. Baihder Djohan, melantik anggota senat periode 1957-1958. Ketuanya adalah Soedarmadi dan wakil ketuanya adalah Effendi Salam’. 

Singkatnya: Pada tahun 1963 fakultas kedokteran hewan dan fakultas pertanian di Bogor dipisahkan dari Universitas Indonesia yang kemudian dibentuk Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan menambah tiga fakultas (fakultas peternakan, fakultas kehutanan dan fakultas MIPA). Besar dugaan, Drh Nawangsari yang merupakan dosen biologi diduga bergabung dengan fakukltas baru MIPA (sementara Drh J Soegiri tetap di fakukltas kedokteran hewan). Yang diangkat sebagai Presidium (Rektor) Institut Pertanian Bogor adalah Prof Dr AJ Darman. Dalam hal ini, AJ Darman adalah lulusan sekolah kedokteran di Buitenzorg (1932).


Yang lulus dan mendapat gelar diploma voor Indisch veearts pada tahun 1926 adalah Anwar Nasoetion; Moeso; Roza; Soetardjo (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-05-1926); tahun 1927 adalah  Pinajoengan Loemban Tobing, Samsoe, M Soebroto en M Wardojo (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 24-05-1927); tahun 1928 adalah Abas, Harsara, B Hoetamadi, Oedjoek Soepratigno, Sahar, Soemitro, Soesetio, B Soewoso, CCT Steiginga (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 22-05-1928); tahun 1929 adalah Alibasa Harahap, JC Lasut, NV Ratulangi, R Saleh Poespoderdjo Soeratman, Soesilo Sastroamidjojo (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-05-1929); tahun 1930 adalah Aboebakar Siregar, Amirin, Anwar Sjarif, Mohamad Mansjoer, ALA van Rees, Soebardji (lihat De koerier, 26-05-1930); tahun 1931 adalah Aboeazar, Asoen, H van Duiken, Kahar, Nazaroedin, L van Rumpt, Fr Sihombing, MT Sihombing, Soedibio, Soedjai, Soekarno, EP Teysse (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-05-1931); dan Arifin, Darman, Hari Rajo Pané, Harmaen, SSA Rampen, Soetisno (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-05-1932). Dalam hal ini Anwar Nasoetion (lulus 1926) adalah ayah dari Andi Hakim Nasoetion dan Darman (lulus 1922) adalah rektor IPB pertama. Dr. AJ Darman ditempatkan di Kediri (lihat Soerabaijasch handelsblad, 24-07-1933). Dr. AJ Darman kemudian dipindahkan ke Probolinggo. Pada tahun 1939 Dr. AJ Darman dipindahkan ke Soengei-Penoe, Djambie (lihat De Indische courant, 09-05-1939). Dr. AJ Darman dipindahkan lagi ke Pontianak (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-12-1940). Dr Darman, saat ini dokter hewan di Pontianak, telah ditunjuk sebagai dokter hewan kota di Medan (lihat Soerabaijasch handelsblad, 05-08-1941). Dr. AJ Darman masih berada di Medan hingga tahun `1949 (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 31-05-1949). Catatan: Dr AJ Darman lahir di Tjiandjoer, Anwar Nasoetion, lahir di Pidoli, Panyabungan. Anwar Nasoetion lulusan HIS Padang Sidempoean. Setelah lulus, Drh. Anwar Nasution baru diangkat menjadi dokter hewan pemerintah tahun 1930 di Batavia (lihat De Indische courant, 04-06-1930). Kemudian Anwar Nasution bertugas di sejumlah tempat di Hindia Belanda, antara lain di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-02-1938). Salah satu kontribusi Dr Anwar Nasution adalah membuat pedoman pengawasan daging hewan untuk diterapkan di seluruh wilayah Hindia Belanda hingga ke desa-desa (lihat De Indische courant, 27-06-1941).

Drh AJ D Bogor. Drh AJ Darman setelah pengakuan kedaulatan Indonesia (1949) pindah dari Medan dan diduga ke Jawa di Djakarta. Pada tahun 1953 Drh AJ Darman terinformasikan sebagai dosen fisiologi dan farmakologi di fakultas kedokteran hewan di Bogor. 


De nieuwsgier, 20-07-1953: ‘Dokter Indonesia ke Luar Negeri. Dr. Darman, dosen fisiologi dan farmakologi di fakultas kedokteran hewan di Bogor, akan melakukan perjalanan ke Montreal, Kanada, atas nama pemerintah Indonesia, untuk menghadiri Kongres Fisiologi ke-19. Setelah kongres ini, beliau akan menghabiskan waktu sekitar tiga bulan di Amerika Serikat untuk mempelajari aspek eksperimental dan ilmiah industri farmasi di sana. Kunjungan ke Swiss untuk mengunjungi pabrik-pabrik farmasi Swiss juga direncanakan. PIA juga mengetahui bahwa Prof Dr Sutarman, profesor fisiologi di fakultas kedokteran di Jakarta, akan melakukan perjalanan ke Amerika Serikat, atas biaya TCA, untuk lebih mendalami fisiologi penerbangan. Dr Darman dan Prof Sutarman kemungkinan akan berangkat ke Amerika Serikat bersama-sama’. De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 01-06-1955: ‘AJ Darman, Farmakolog Indonesia Pertama. Pada hari Sabtu, AJ Darman menerima gelar doktor dalam bidang kedokteran hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Standardisasi Biologis Digitalis Purpurea di Indonesia". Hal ini menjadikannya farmakolog Indonesia pertama. Promotornya adalah Prof Dr AM Ernst, profesor fisiologi dan farmakologi di fakultas tersebut. Disertasi setebal 128 halaman tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pembicaraan disertasi doktoral tersebut dilakukan oleh Prof Dr CD de Langen, seorang dokter penyakit dalam ternama dan mantan profesor di fakultas kedokteran di Djakarta, yang baru-baru ini tiba di Indonesia untuk perjalanan studi selama sebulan guna mengumpulkan data untuk sebuah buku tentang dinamika masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan’. Catatan: AJ Darman adalah orang ketiga yang meraih gelar doktor di fakultas kedokteran hewan di Bogor. 

Dr AJ Darman adalah dosen doktor fisiologi dan farmakologi di fakultas kedokteran hewan di Bogor yang pada tahun 1963 diangkat sebagai Presidium/Rektor Institut Pertanian Bogor (Prof. Dr. AJ Darman). Prof Drh AJ Darman tidak lama menjadi rektor IPB. Pada tahun 1964 Prof Drh AJ Darman digantikan oleh Prof Dr Ir Tb Bachtiar Rifai. 


Bachtiar Rifai meraih gelar insinyur pertanian pada tahun 1953 (alumni pertama fakultas pertanian di Bogor). De nieuwsgier, 01-06-1953: ‘Perubahan dalam Pendidikan Tinggi. I. TB Bachtiar Rifai diangkat, berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan, sebagai asisten pelaksana sementara untuk Departemen/jurusan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Djakarta, efektif mulai 1 April 1953’. De nieuwsgier, 17-03-1954: ‘Van Aartsen, Ekonomi pertanian Indonesia; ed. Pembangunan; Rp 20. Dalam volume ke-14 Pustaka Sardjana ini, Profesor Van Aartsen bertujuan untuk mengisi kekosongan dalam literatur tentang geografi dan ekonomi pertanian Indonesia. Buku ini ditujukan untuk khalayak yang lebih luas daripada mahasiswa di Fakultas Pertanian di Bogor. Ir Tb Bachtiar Rifai mengedit dan menerjemahkan naskah aslinya’.


Pada saat ini, seperti disebut di atas, Andi Hakim Nasoetion yang satu angkatan tahun 1952 dengan Drh Nawangsari dan Drh J Soegiri, setelah lulus tahun 1958 melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan meraih gelar doktor (PhD) di North Carolina State University tahun 1964 (setahun setelah IPB didirikan tahun 1963). Andi Hakim Nasoetion adalah doktor pertama luar negeri (Amerika) lulusan fakultas pertanian di Bogor.


Tb. Bachtiar Rifai diterima di Faculteit van Landbouwwetenschap van de Universiteit van Indonesië te Bogor tahun 1948. Pada tahun 1951 Tb Bachtiar Rifai lulus ujian kelas tiga (lihat De nieuwsgier, 09-02-1951). Lulus ujian kelas dua diantaranya Goenawan Satari. Pada tahun 1953 Bachtiar Rifai lulus ujian akhir dan mendapat gelar Insinyur (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 17-03-1953). Disebutkan Landbouwkundige Faculteit di Bogor telah meluluskan insinyur pertanian Indonesia pertama, Ir Bachtiar Rifai. Dia telah ditunjuk sebagai asisten di fakultas ini. Pada tahun 1953 ini Ir Tb Bachtiar Rifai diangkat berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan berlaku sejak 1 April 1953 sebagai asisten voor de afdeling landbouw-gemeenschappen van de Faculteit voor de landbouw van de Universiteit van Indonesie te Djakarta (lihat De nieuwsgier 01-06-1953). Seperti disebut di atas, Tojib Hadiwidjaja lulus sarjana pertanian di fakultas pertanian di Bogor Mei 1955 dengan predikat cum laude dan kemudian tahun 1956 meraih gelar doktor (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-09-1956). Disebutkan Tojib Hadiwidjaja, dosen fitopatologi dan kepala penelitian fitopatologi di Fakultas Pertanian Bogor, telah menerima gelar doktor ilmu pertanian dengan disertasi tentang "Kematian Dini Cengkeh". Tojib Hadiwidjaja saat ini merupakan satu-satunya doktor ilmu pertanian di Indonesia. 

Dr Ir  Andi Hakim Nasoetion, PhD diangkat menjadi dosen di IPB tahun 1965. Saat ini tahun 1965 yang menjadi rektor IPB adalah Prof Dr Ir Sajogyo (menggantikan Prof Dr Ir Tb Bachtiar Rifai). Siapa nama Sajogyo yang sebenarnya? Yang jelas, Prof Dr Ir Sajogyo digantikan oleh Prof Dr JH Hutasoit (sebagai Presidium IPB). 


Pada masa ini Prof Dr Ir Sajogyo terinformasikan meraih gelar Insinyur Pertanian tahun 1955 dari Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, kemudian meraih gelar Doktor pada tahun 1957 dan dikukuhkan sebagai guru besar tahun 1963. Pada masa ini juga ada yang menulis nama asli Sajogyo adalah Sri Kusumo Kampto Utomo. Nama Kampto Utomo sudah terinformasikan pada tahun 1950 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-09-1950). Disebutkan ujian akademi, di Fakultas Ilmu Pertanian Bogor, mahasiswa berikut lulus ujian propaedeutik (bagian 1): Nona M van der Meulen, nona Thung Touw Nio, Kadarusman, Oemarsono, R Goentoro TB, R Gazali, R Toto Kartama, Oesman, Kampto Utomo, Yap Kim Tjong, Tan Kim Giok, W Oen Tjong Hien, dan TM Loemban Tobing. Mahasiswa berikut lulus ujian propaedeutik (bagian 1): Oe Béng Swan, Ie Tjiang Soey, Liem Tjiauw Gwan, Ong An Pang, dan nona Liem Swat Nio. Indische courant voor Nederland, 12-09-1951: ‘Di Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, untuk ujian propaedeutik bagian ke 2: Lauw Sik Lim, Ang Khoen Swan, Njoman Toja, Karhi, Sunarjo, W Oen Tjeng Hien, Usman. Kampto Utomo, Sumarjo Juswopranoto, A Th B Th Rast’. Indische courant voor Nederland, 18-09-1952: ‘Di Fakultas Ilmu Pertanian Universitas Indonesia di Bogor, kandidat bagian pertama bidang pertanian: Lauw Sik Liem. Yap Kim Tjong. A Th B Th Rast, TJ Goentoro, Njoman Toja. Karhi, Ang Khoen Swan, R Kampto Utomo’. De nieuwsgier, 09-02-1954: ‘Untuk ujian kandidat jurusan pertanian bagian kedua: Njoman Tojo dan R Kampto Utomo’. Disebutkan di atas, Sajogyo lulus sarjana tahun 1955. Mengapa tidak terinformasikan? Apakah namanya (Kampto Utomo) telah diubah? Seperti disebut di atas Sayogyo meraih gelar doktor tahun 1957. Nama Kampto Utomo juga tidak terinformasikan. Yang terinformasikan tahun 1957 lulus ujian doctor adalah nama yang lain (lihat Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 13-03-1957). Disebutkan upacara mempertahankan doktor di Bogor. Pada tanggal 23 Maret, Dr GA de Weille akan mempertahankan disertasinya yang berjudul "Pengendalian Penyakit Busuk Daun dalam Kaitannya dengan Kondisi Iklim dan Cuaca" di Bogor, dan meraih gelar doktor di bidang ilmu pertanian. Upacara ini akan berlangsung di ruang anatomi Fakultas Kedokteran Hewan. Seperti disebut di atas, tahun 1956 Ir Tojib Hadiwidjaja prmosi doktor di Bogor (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-09-1956). Berdasarkan majalah “Indonesie; tweemaandelijks tijdschrift gewijd aan het Indonesisch cultuurgebied, jrg 9, 1956” nama Kampto Utomo sudah diberi gelar Ir (insinyur). Ini mengindikasikan bahwa Kampto Utomo sudah lulus. Catatan: Nama Kampto Oetomo paling tidak sudah terionformasikan pada tahun 1939 (lihat De Indische courant, 24-05-1939). Disebutkan di HBS Malang diadakan ujian masuk, yang lulus termasuk diantaranya R Kampto Oetomo.


Pada tahun 1966 Andi Hakim Nasoetion diangkat menjadi Dekan Fakultas Pertanian. Andi Hakim Nasoetion kemudian pada tahun 1971 diangkat menjadi Direktur Pendidikan Sarjana IPB. Dr Ir Andi Hakim Nasoetion, PhD menjadi guru besar IPB tahun 1972.


Sebagai Direktur Pendidikan Sarjana IPB, pada tahun 1973, Dr Andi Hakim Nasoetion, PhD menerapkan pola penerimaan masuk IPB melalui jalur undangan dan setiap mahasiswa harus mengikuti Program Pendidikan yang disebut TPB IPB. Andi Hakim Nasoetion menjadi direktur Sekolah Pascasarjana IPB yang dibuka tahun 1974 dengan Program Magister. Andi Hakim Nasoetion menjadi Rektor IPB tahun 1978 dan kemudian pada tahun 1978 dimulai Pendidikan Doktor di Sekolah Pascasarjana IPB.

Salah satu dosen IPB yang mengikuti program doktor di sekolah Pascasarjana IPB (yang dibuka tahun 1978) adalah Drh Nawangsari dengan promotor Prof Dr Soenarjo Sastrohadinoto. Drh Nawangsari mempertahankan disertasinya di bidang biologi pada tahun 1979 dengan judul "Beberapa Aspek Biologi Kodok Batu (Rana Blythi Boulenger, Ranidae, Anura, Amphibia) di Beberapa Wilayah Indonesia dan Kedudukan Taksanya”. Lantas apakah Drh Nawangsari merupakan lulusan doktor dari Sekolah Pascasarjana IPB?


Kapan.Dr Drh Nawangsari diangkat menjadi guru besar? Yang jelas sejak Andi Hakim Nasoetion menjadi Rektor IPB (sejak 1978) persyartan untuk diajukan sebagai professor harus memiliki pendidikan doktor. Dalam hal ini Dr Drh Nawangsari sudah memenuhi syarat. Satu yang masih lupa-lupa ingat, Dr Nawangsari pernah menjadi dosen biologi saya di TPB IPB pada awal tahun 1980an di ruang P-2. Oleh karena angkatan pertama IPB dimulai tahun 1963, maka nomor kode navigasi saya adalah IP20.0324.


Tunggu deskripsi lengkapnya


 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar