*Lihat juga Youtube Channel disini: Poestaha Depok
**Untuk melihat semua artikel Sejarah Amir Sjarifoeddin di blog ini Klik Disini
Dalam artikel sebelumnya, apa yang dinarasikan tentang sejarah Amir Sjarifoeddin Harahap di Wikipedia terdapat banyak kekeliruan dan kesalahan. Kita pada masa ini hanya bertanya-tanya mengapa narasi tersebutkan terbentuk? Dari mana sumber data awalnyanya? Artikel ini kembali menarasikan kembali sejarah Amir Sjarifoeddin Harahap berdasarkan fakta dan data. Fakta yang mencerminkan peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi dan didukung data tertulis dari sumber-sumber sezaman. Buku "Sejarah Klub Como 1907" oleh Akhir Matua Harahap (xvi, 826 hlm) telah terbit. Lihat disini: https://deepublishstore.com/produk/sejarah-klub-como-1907/?srsltid=AYCX9vL6f-cq346zKo4ckKoQ1YFUi8hzn9zJHCWACD31Odr_KD90I8W7
Amir berangkat ke Leiden. Tak lama setelah kedatangannya dalam kurun waktu 1926–1927 dia menjadi anggota pengurus perhimpunan siswa Gymnasium di Haarlem, selama masa itu pula Amir aktif terlibat dalam diskusi-diskusi kelompok kristen misalnya dalam CSV-op Java yang menjadi cikal bakal GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia). Ia tinggal di rumah guru pemeluk Kristen Calvinis, Dirk Smink, dan di sini juga Mulia menumpang. Namun pada September 1927, sesudah lulus ujian tingkat kedua, Amir kembali ke kampung halaman karena masalah keluarga, walaupun teman-teman dekatnya mendesak agar menyelesaikan pendidikannya di Leiden. Kemudian Amir masuk Rechtshoogeschool te Batavia dengan bantuan beasiswa pemerintah kolonial,[2] dan menumpang di rumah Mulia (sepupunya) yang telah menjabat sebagai direktur sekolah pendidikan guru di Jatinegara. Kemudian Amir pindah ke asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106, ia ditampung oleh senior satu sekolahnya, Mohammad Yamin (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Amir Sjarifoeddin kembali ke tanah air? Seperti disebut di atas, Amir Sjarifoeddin Harahap kembali ke tanah air pada tahun 1927. Amir Sjarifoeddin Harahap tidak melanjutkan pendidikan tinggi di Belanda, tetapi di Batavia (kini Jakarta). Saat Amir Sjarifoeddin Harahap dalam pelayaran ke tanah air, di Belanda para pemimpin Perhimpoenan Indonesia ditangkap. Lalu bagaimana sejarah Amir Sjarifoeddin Harahap kembali ke tanah air? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Buku Sejarah Bahasa Indonesia klik disini





