Selasa, 14 Juli 2026

Sejarah Casajangan (10): Guru Tetaplah Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa; Dari Dja Endar Moeda hingga Parada Harahap


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Sejarah Casajangan berangkat untuk yang kali kedua ke Belanda tanggal 14 Februari dengan kapal “Patria” dari Tandjoeng Priok tujuan akhir Rotterdam (lihat Sumatra-bode, 12-02-1920). Ini sehubungan dengan cuti ke Eropa yang diberikan pemerintah selama delapan bulan setelah mengajar selama tujuh tahun. Banyak hal yang dilakukan di Belanda termasuk pertemuan dengan pengurus dan anggota Indisch Vereeniging. Sebagaimana diketahui, Soetan Casajangan adalah pendiri Indisch Vereeniging pada tahun 1908 di Leiden. Metode Riset Bisnis


Parada Harahap lahir pada 15 Desember 1899 di Pargarutan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Karier jurnalisnya dimulai ketika ia menjadi staf redaksi surat kabar Benih Merdeka. Kemudian dia kembali ke kampung halamannya dan memimpin surat kabar Sinar Merdeka (1919) dan memimpin majalah Poestaha. Surat kabarnya sebagian besar mengkritik kebijakan pemerintahan kolonial Belanda akibat kesewenang-wenangan mereka selama di Hindia Belanda. Selama dua tahun di Padangsidempuan, ia telah 12 kali terkena delik pers serta berulang kali keluar masuk penjara. Pada tahun 1922, ia pindah ke Jakarta menerbitkan mingguan Bintang Hindia, Bintang Timur dan Sinar Pasundan. Pada saat itu ia mulai memakai nama samaran Oom Baron Matturepeck yang diambil dari bahasa Batak (berarti suara dari kertas). Selain itu, ia adalah satu-satunya orang pertama yang mendirikan Akademi Wartawan di Jakarta. pada masa pendudukan Jepang, dia dipercaya menjadi pemimpin redaksi Surat Kabar Sinar Baroe. Menjelang masa kemerdekaan pada tahun 1945, ia masuk dalam susunan anggota BPUPKI yang dibentuk oleh Jepang di Jakarta. Dalam hal ini, dia adalah satu-satunya anggota BPUPKI yang berasal dari kalangan masyarakat Batak (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah guru tetaplah guru, pahlawan tanpa tanda jasa? Seperti disebut di atas, lulusan sekolah guru, menjadi guru dan kemudian berangkat ke Belanda 1904 untuk studi keguruan. Lulus akta guru LO tahun 1907, akta guru kepala MO tahun 1910, guru di Amsterdam, kembali ke tanah air menjadi guru dan kini 1920 mendapat cuti ke Eropa. Guru tetaplah guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Lalu bagaimana sejarah guru tetaplah guru, pahlawan tanpa tanda jasa? Lalu bagaimana sejarah bahasa Esperanto, Bahasa Indonesia bahasa pemersatu dunia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish

Minggu, 12 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto(3): Ernest Douwes Dekker dan Orang Indo di Belanda dan Indonesia; Diskriminasi, Integrasi, Asimilasi, Segregasi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Eduard Douwes Dekker tiba di Batavia tahun 1839 sebagai kelasi di kapal ayahnya. Di Batavia Eduard menjadi pegawai negeri (ambtenaar). Pada tahun 1842 dipindahkan ke Pantai Barat Sumatra. Oleh Gubernur AV Michiels ditempatkan sebagai Controleur di Natal. Pemberontakan di Angkola Mandailing menyebabkan banyak pemimpin dan penduduk eksodus ke Natal. Eduard mengadvokasi para pelarian namun dipandang pemerintah sebagai pelanggaran jabatan. Eduard dipecat dan dikenakan hukuman tahnan kota selama satu tahun di Padang. Eduard adalah saudara dari Jan Douwes Dekker yang merupakan kakek Ermest Douwes Dekker. Sejarah Bahasa Indonesia


Ernest François Eugène Douwes Dekker lahir di Pasuruan pada tanggal 8 Oktober 1879, sebagaimana yang dia tulis pada riwayat hidup singkat saat mendaftar di Universitas Zurich, September 1913. Ayahnya, Auguste Henri Eduard Douwes Dekker agen di bank Nederlandsch Indisch Escomptobank. Auguste memiliki darah Belanda dari ayahnya, Jan (adik Eduard Douwes Dekker alias Multatuli) dan dari ibunya, Louise Bousquet. Sementara itu, ibu Douwes Dekker, Louisa Neumann, lahir di Pekalongan dari pasangan Jerman-Jawa. DD terlahir sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara. Kakak perempuan dan laki-laki, yakni Adeline (1876) dan Julius (1878) lahir di Surabaya, sedangkan adik laki-lakinya Guido (1883) lahir di Meester Cornelis. Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije, anak dokter campuran Jerman-Belanda pada tahun 1903, dan mendapat lima anak, namun dua di antaranya meninggal sewaktu bayi (Edouard dan Sigmund, keduanya laki-laki), dan yang bertahan hidup semuanya perempuan (Louisa, Hedwig, dan Sieglinde). Perkawinan ini kandas pada tahun 1919 dan keduanya bercerai. Kemudian Douwes Dekker menikah lagi dengan Johanna Petronella Mossel, seorang Indo keturunan Yahudi, pada tahun 1927 (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Ernest Douwes Dekker dan orang Indo di Belanda dan Indonesia? Seperti disebut di atas, Ernest Douwes Dekker adalah seorang Indo yang kemudian menjadi antitesi Pemerintah Hindia Belanda. Dalam konteks inilah isu diskriminasi, integrasi, asimilasi dan segregasi mulai muncul. Lalu bagaimana sejarah Ernest Douwes Dekker dan orang Indo di Belanda dan Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Metode Riset Bisnis

Sabtu, 11 Juli 2026

Sejarah Tjipto (2): Organisasi Kebangsaan; Dari Medan Perdamaian, Sjarikat Tapanoeli, Boedi Oetomo hingga Indisch Vereeniging


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Pada tahun 1905 Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia. Dr Tjipto (Mangoenkoesoemo) dan Dr Abdoel Hakim (Nasoetion) yang sama-sama lulus keduanya ditempatkan di Stadsverband (rumah sakit kota) di Batavia sebagai dokter pribumi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-12-1905). Saat ini sudah ada organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia (baca: pribumi) yang telah terbentuk: Societeit Paroekoenan di Bandoeng (1897), Medan Perdamaian di Padang (1900), Vereeniging Ambon di Ambon (1900) dan Sjarikat Tapanoeli di Medan (1905). Sejarah Pers di Indonesia


Pada tahun 1907, Wahidin Soedirohoesodo melakukan kunjungan ke Stovia dan bertemu para pelajar dan menyerukan gagasan untuk membentuk organisasi yang dapat mengangkat derajat bangsa. Selain itu, Sudirohusodo juga ingin mendirikan sebuah organisasi di bidang pendidikan untuk bisa membantu biaya orang-orang pribumi yang berprestasi dan mempunyai keinginan untuk bersekolah. Selanjutnya, Soetomo bersama dengan Soeradji mengadakan pertemuan dengan para pelajar STOVIA yang lain, untuk membicarakan gagasan organisasi yang disampaikan oleh Sudirohusodo. Lalu diadakan pertemuan dan membentuk sebuah organisasi yang diberi nama "Perkumpulan Boedi Oetomo" pada tanggal 20 Mei 1908 di Batavia. Tokoh yang tercatat sebagai pendiri Boedi Oetomo terdiri dari 9 orang, yaitu Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Angka Prodjosoedirdjo, Mohammad Saleh, Raden Mas Goembrek, Soetomo, Soeradji Tirtonegoro, dan tentunya Wahidin Soedirohoesodo sebagai penggagasnya. Soetomo menjadi ketua dan Soelaeman Affandi Kartadjoemena, sebagai wakilnya. Pengurus lainnya terdiri dari Gondo Soewarno sebagai sekretaris I, dan Goenawan sebagai sekretaris II, serta bendahara yang dijabat oleh Angka Prodjosoedirdjo. Sisa pendiri lainnya menjabat sebagai komisaris (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah organisasi kebangsaan Indonesia? Seperti disebut di atas, saat Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia 1905 sudah ada sejumlah organisasi kebangsaan Indonesia. Lalu bagaimana sejarah organisasi kebangsaan Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Bahasa Indonesia

Jumat, 10 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto (1): Anak Seorang Guru, Tjipto Mangoenkoesoemo Studi di Sekolah Kedokteran; Docter Djawa school di Batavia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Tentang Tjipto Mangoenkoesoemo sudah banyak ditulis. Tentu saja ada yang dalam bentuk buku. Serial artikel ini tidak merujuk pada tulisan-tulisan yang sudah ada. Sumber utama yang digunakan dalam serial artikel ini adalah ‘sumber primer’ sejaman seperti surat kabar dan majalah. Oleh karena itu, dalam penulisan serial artikel ini dapat dikatakan upaya kembali untuk menulis sejarah Tjipto Mangoenkoesoemo. Sejarah Catur di Indonesia


Tjipto Mangoenkoesoemo dilahirkan pada 4 Maret 1886 di Pecangaan, Jepara. Ia adalah putra tertua dari Mangunkusumo, seorang priyayi rendahan. Karier Mangunkusumo diawali sebagai guru bahasa Melayu di sebuah sekolah dasar di Ambarawa, kemudian menjadi kepala sekolah pada sebuah sekolah dasar di Semarang dan selanjutnya menjadi pembantu administrasi pada Dewan Kota di Semarang. Sementara, sang ibu adalah keturunan dari tuan tanah di Mayong, Jepara. Cipto beserta adik-adiknya yaitu Gunawan, Budiardjo, dan Syamsul Ma’arif bersekolah di Stovia, sementara Darmawan, adiknya bahkan berhasil memperoleh beasiswa dari pemerintah Belanda untuk mempelajari ilmu kimia industri di Universitas Delft. Si bungsu, Sujitno terdaftar sebagai mahasiswa Rechtshoogeschool di Batavia. Ketika menempuh pendidikan di Stovia, Cipto mulai memperlihatkan sikap yang berbeda dari teman-temannya. Teman-teman dan guru-gurunya menilai Cipto sebagai pribadi yang jujur, berpikiran tajam, dan rajin. Berbeda dengan teman-temannya yang suka pesta dan bermain, Cipto lebih suka menghadiri ceramah-ceramah orang, baca buku, dan main catur. Baginya, Stovia adalah tempat untuk menemukan dirinya (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Tjipto Mangoenkoesoemo anak seorang guru studi di sekolah kedokteran? Seperti disebut di atas, tentang Tjipto Mangoenkoesoemo sudah banyak ditulis dan ada yang dalam bentuk buku. Lalu bagaimana sejarah Tjipto Mangoenkoesoemo anak seorang guru studi di sekolah kedokteran? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Metode Riset Bisnis

Rabu, 08 Juli 2026

Sejarah Casajangan (9): Guru Sekolah Guru di Djatinegara; Dari Indische Vereeniging ke Kongres Hindia hingga Kongres Pemuda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Soetan Casajangan adalah seorang guru. Guru tetaplah guru. Namun di luar kewajibannya untuk mengabdi sebagai guru, Soetan Casajangan terus meningkatkan studinya, membangun persatuan bangsa, banyak menulis termasuk di surat kabar dan majalah. Soetan Casajangan menjembatani antara orang Belanda dengan orang pribumi, mengadvokasi pentingnya percepatan peningkatan pendidikan pribumi. Jumlah mahasiswa menjadi semakin banyak yang kemudian di atas landasan persatuan mulai berpolitik dan berjuang untuk demi kemerdekaan Indonesia. Soetan Casajangan adalah inisiator pendirian Indische Vereeniging di Belanda tahun 1908. Deepublish


Pada periode pasca Perang Dunia I, Indische Vereeniging (IV) mulai mengalami proses politisasi secara bertahap. Salah satu tokoh penting dalam fase awal ini adalah Ahmad Subardjo, yang menjabat sebagai ketua organisasi pada periode 1919-1921. Dalam masa Kepemimpinannya, orientasi organisasi mulai bergeser dari perkumpulan mahasiswa yang bersifat sosial menjadi forum diskusi kebangsaan dan politik, dengan penekanan pada kesadaran nasional dan posisi Indonesia dalam konteks internasional. Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr Soetomo dan Herman Kartowisastro organisasi ini berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Saat itu istilah "Indonesier" dan kata sifat "Indonesich" sudah tenar digunakan oleh para pemrakarsa Politik Etis. Para anggota PI juga memutuskan untuk menerbitkan kembali majalah Hindia Poetra. Saat Iwa Koesoemasoemantri menjadi ketua pada 1923, PI mulai menyebarkan ide non-kooperasi yang mempunyai arti berjuang demi kemerdekaan tanpa bekerjasama dengan Belanda. Tahun 1924, saat M. Nazir Datuk Pamoentjak menjadi ketua, nama majalah Hindia Poetra berubah menjadi Indonesia Merdeka. Tahun 1925 saat Soekiman Wirjosandjojo nama organisasi ini resmi berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Meohamad Hatta menjadi ketua PI sejak awal tahun 1926 (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Soetan Casajangan guru di sekolah guru (Normaalschool) di Djatinegara? Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan adalah seorang guru. Guru tetaplah guru, namun kiprahnya di luar itu tidak terhingga banyaknya. Lalu bagaimana sejarah Soetan Casajangan guru di sekolah guru (Normaalschool) di Djatinegara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Mahasiswa di Indonesia

Minggu, 05 Juli 2026

Sejarah Casajangan (8): Perang Eropa dan Gerakan Indie Weerbaar; Dewan Volksraad dan Technisch Hooegeschool Bandoeng


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Apakah cara berpikir Soetan Casajangan bersifat intuitif? Soetan Casajangan ingin studi ke Belanda tetapi tidak bisa berbahasa Belanda. Soetan Casajangan belajar bahasa Belanda dan pada bulan Juni 1904 berangkat studi ke Belanda. Jumlah mahasiswa baru 15 orang di Belanda, Soetan Casajangan mendirikan organisasi mahasiswa Indische Vereeniging pada bulan Oktober 1908. Banyak pelajar pintar pribumi ingin studi ke Belanda tetapi tidak mampu, Soetan Casajangan menggagas Studiefonds. Segera setelah perang di Eropa meletus, Soetan Casajangan menggagas cara terbaik untuk mempertahankan negara Indonesia dari musuh asing. Soetan Casajangan lebih suka bermain catur daripada bermain sepak bola. Sejarah Mahasiswa di Indonesia


Indie Weerbaar (Pertahanan Hindia) adalah sebuah gerakan dan komite yang dibentuk pada tahun 1916 di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) untuk mengadvokasi pembentukan milisi sipil bumi putera demi memperkuat pertahanan militer koloni menghadapi Perang Dunia I. Gerakan ini memicu perdebatan sengit di kalangan tokoh pergerakan nasional serta mengubah arah perjuangan politik di Indonesia. Pengusaha dan tokoh pertahanan seperti KAR Bosscha mendirikan Comite Indie Weerbaar pada tahun 1916 untuk mendesak pembentukan milisi lokal yang melibatkan warga pribumi. Gagasan mengenai wajib militer bagi warga pribumi ini memecah opini organisasi pergerakan nasional di Indonesia. Organisasi seperti Budi Utomo dan sebagian tokoh Sarekat Islam (SI) mendukung gagasan ini. Mereka bersedia membantu pertahanan Belanda, namun dengan syarat (barter politik) agar pemerintah Belanda memberikan hak politik dan membentuk parlemen bagi rakyat Hindia Belanda. Pada awal tahun 1917, Comite Indie Weerbaar mengirimkan delegasi resmi ke Belanda, seperti Abdoel Moeis (wakil Sarekat Islam) dan Dwidjosewojo (wakil Budi Utomo). Pemerintah Kerajaan Belanda di Amsterdam akhirnya menolak usulan wajib militer atau milisi pribumi tersebut karena kekhawatiran persenjataan itu justru akan digunakan pribumi untuk memberontak (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah perang Eropa dan gerakan Indie Weerbaar? Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan memiliki cara berpikir yang cenderung intuitif berpikir secara alamiah sebelum dampaknya terlihat benar-benar nyata. Hal itulah mengapa perlu studi ke Belanda, mengapa organisasi mahasiswa didirikan, mengapa studiefond dibentuk dan mengapa perlu menggalang potensi penduduk untuk mempertahankan negara dan bangsa. Lalu bagaimana sejarah Oost en West dan gerakan Indie Weerbaar? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.