Tampilkan postingan dengan label Sejarah Indonesia di Piala Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Indonesia di Piala Dunia. Tampilkan semua postingan

Sejarah Jakarta (89): Kelapa Gading, Tidak Hanya Sekadar Nama Tempat; Geografis Berada Antara Poelo Ketjil - Poelo Gadong


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Apakah ada sejarah Kelapa Gading? Yang jelas area Kelapa Gading masa kini cukup terkenal. Bagaimana pun, sejarah Kelapa Gading tentu saja perlu didokumentasikan, bukan karena ia kini terkenal tetapi karena nama Kelapa Gading mengambil nama kelapa berwarna gading. Tentu saja bukan pula karena warnanya gading tetapi karena jenis kelapa gading sudah sangat dikenal sejak tempo doeloe. Penggunaan kalapa dalam penamaan suatu tempat paling tidak sudah dikenal sejak era Pakwan-Padjadjaran: Coenda Calapa (Soenda Kalapa), nama pelabuhan terkenal di muara sungai Tjiliwong.

Peta 1903 dan Now
Penggunaan nama kelapa dalam menamai suatu tempat diduga karena alasan navigasi pada tempo doeloe, bukan karena alasan geografis. Pohon kelapa, tidak hanya banyak manfaatnya mulai dari batang, daun, buah dan airnya, tetapi juga vigour pohon kelapa dapat menjulang tinggi di antara pohon-pohon besar. Pohon kelapa secara fisiologis tidak tumbuh di rawa, tetapi di tanah yang kuat karena akarnya yang pendek (monokotil). Pohon kelapa diduga salah satu jenis pohon purba yang tersisa (daunnya yang tahan panas dan tahan angin badai). Selain itu, pohon kelapa bisa tumbuh terpisah dari daratan seperti di Poeloe Kalapa. Pohon kelapa juga kerap digunakan sebagai menara pengintai. Satu batang pohon kelapa tentu saja tidak ekonomis, karena itu tanaman kelapa harus ditanam banyak dalam suatu budidaya (untuk menghasilkan minyak goreng). Karena itu muncul nama-nama Kebon Kalapa (dekat Istana Presiden yang sekarang), Pondok Kalapa (di Jakarta timur yang sekarang) dan Kalapa Dua di wilayah selatan dan wilayah barat Jakarta. Itulah kisah heroik tanaman kalapa, Rayuan Pulau Kelapa membuat kita tergoda untuk menulis sejarah Kalapa Gading. Seperti halanya nama Kelapa, nama Rawa juga banyak ditemukan nama tempat di Jakarta.

Kalapa Gading [kini, Kelapa Gading] suatu nama kampong tempo doeloe pada masa ini menjadi suatu area yang ditabalkan menjadi nama sebuah kecamatan di wilayah Jakarta Utara. Kecamatan ini terdiri dari tiga kelurahan: Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading Timur dan kelurahan Pegangsaan Dalam hubungan ini ada pertanyaan kecil keluruhan mana yang lebih dulu ada (barat atau timur?), Pertanyaan lainnya adalah apakah ada nama kelurahan Pegangsaan Satu? Pertanyaan-pertanyaan kecil ini memnjadi password kita untuk menjawab pertanyaan besar tentang sejarah Kelapa Gading. Untuk itu, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Indonesia di Piala Dunia (5): Riwayat Hidup Pemain Sepak Bola Indonesia di Piala Dunia di Prancis, 1938; Latar, Karir dan Masa Tua


*Lihat semua artikel Sejarah Indonesia di Piala Dunia di blog ini Klik Disini 

Indonesia (baca: Hindia Belanda) pernah berpartisipasi di Piala Dunia 1938 di Prancis. Ada sebanyak 17 pemain yang berangkat ke Prancis. Pertandingan Indonesia melawan Hungaria dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 1938 di stadion Kota Rheims. Sebelas pemain yang diturunkan adalah Mo Heng, Samuels, Hukom, Anwar, F. Meeng, Nawir (c), Pattiwael, Zomers, Darmadji, Taihitu dan Hong Djien.

Bataviaasch nieuwsblad, 07-06-1938
Sebanyak 16 negara. Format turnamen sisten knock-out. Indonesia kalah dari Hungaria dengan skor 0-6; dan Belanda kalah dari Cekoslawakia 0-3. Dua tim langsung angkat koper. Namun kedua tim melakukan pertandingan sendiri frieendly match di Amsterdam pada tanggal 22 Juni 1938. Skuad Indonesia: Mo Heng, Hukom, Samuels, Nawir (c), Meeng, Anwar, Hong Djien, Soedarmadji, Zomers, Pattiwael dan Taihitu. Indonesia kalah 2-9. Pencetak gol Indonesia adalah Pattiwael dan Taihitu.

Dua pertandingan tersebut adalah dua pertandingan tim Indonesia di Eropa yang secara resmi tercatat dalam FIFA dan KNVB.  Selanjutnya hingga ini hari tidak pernah terjadi. Ini mengindikasikan mereka ini adalah pemain-pemain Indonesia yang pertama dan yang terakhir bermain di dalam pertandingan resmi di Eropa. Namun sangat disayangkan riwayat para pemain ini tidak tercatat dengan baik. Padahal mereka adalah duta sepak bola Indonesia di level sepak bola bergengsi: Piala Dunia. Untuk itu, artikel ini mendeskripsikan riwayat para pemain-pemain tersebut.

Indonesia di Piala Dunia (4): Indonesia vs Hungaria Piala Dunia Prancis 1938; Siaran Pandangan Mata dari Reims via Erres Radio


*Lihat semua artikel Sejarah Indonesia di Piala Dunia di blog ini Klik Disini
 

Beberapa hari ke depan para ‘gibol’ akan menikmati pesta sepak bola Piala Dunia di Moskow, Rusia melalui siaran langsung (live) yang menghadirkan tim-tim elit dunia dari 32 negara. Siaran langsung tersebut dapat diakses melalui berbagai channel: televisi (Trans TV), radio (RRI) dan video (live streaming). Dengan keterlibatan RRI untuk kali pertama dalam siaran langsung Piala Dunia akan memperluas exposure Piala Dunia, bahkan sampai ke pelosok-pelosok tanah air.

Soerabaijasch handelsblad, 02-06-1938
Pada tahun 1938 ketika Indonesia (baca: Hindia Belanda) berpartisipasi dalam Piala Dunia di Prancis penduduk Indonesia juga mendapat akses langsung melalui siarang langsung pandangan mata. Ini terjadi ketika Indonesia bertemu Hungaria di kota Rheim Prancis. Siaran langsung pandangan mata ini dilakukan oleh Erres Radio. Formasin tim Indonesia melawan tim Hungaria ini terdiri dari delapan orang pribumi, dua orang Belanda dan satu orang Tionghoa. Boleh dikatakan meski bernama Nederlandsch Oost Indie sejatinya adalah tim yang melawan Hungaria tersebut adalah (putra asli) Indonesia.

Bagaimana kisah siaran langsung pandangan mata Piala Dunia di tanah air tentu saja menarik untuk diketahui. Dan bagaimana pula jalannya pertandingan dan sambutan warga Rheims khususnya dan warga Prancis umumnya, tentu juga menarik disimak. Lantas bagaimana kisah siaran langsung pandangan mata itu sendiri dalam dunia sepak bola Indonesia masa kini?. Itu semua juga menarik untuk diperbandingkan.

Indonesia di Piala Dunia (3): Liga Paling Kompetitif di Rumania; Apakah Klub Sepak Bola Indonesia Kini Semakin Kompetitif?


*Lihat semua artikel Sejarah Indonesia di Piala Dunia di blog ini Klik Disini

Liga sepak bola Indonesia yang disebut Liga-1 mulai tampak kompetitif. Ini terlihat pada persaingan klub-klub Liga-1 yang baru menyelesaikan putaran (minggu) keempat. Dari 18 klub yang berkompetisi tidak satu pun klub disebut dominan. Dari masing-masing klub yang telah menyelesaikan pertandingan keempat hanya mendapat poin maksimal 8 (Persipura). Sebaliknya klub yang berada di peringkat terakhir memiliki pon 2 (Arema FC). Ini menggambarkan bahwa selisih poin peringkat teratas (maksimal) dengan peringkat terbawah (minimal) hanya 6 poin.

Setiap klub pada peringkat atas memiliki potensi meraih poin maksimal sebesar 12. Namun pada peringkat pertama hanya 8 poin (hanya satu klub). Poin 7 diraih oleh 4 klub, poin 6 sebanyak 3 klub; poin lima sebanyak 5 kluib; dan poin 4 diraih oleh 3 klub. Dua klub lainnya memperoleh poin 3 dan poin 2. Dari hasil ini hanya tinggal dua klub yang belum terkalahkan (Persipura dan Balu United). Sementarav peringkat terbawah (poin 2), meski belum pernah menang, tetapi mampu draw 2 kali.   

Pertanyaannya seberapa kompetitif Liga-1 saat ini. Dengan memperhatikan pertandingan hingga minggu keempat, apakah tingkat kompetitit Liga-1 pada pertandingan keempat menggambarkan tingkat kompetitif untuk paruh musim atau untuk satu musim? Untuk menjawab pertanyaan itu kita perlu mengukur dan juga membandingkan hasilnya dengan tingkat kompetitit liga yang lain.

Indonesia di Piala Dunia (2): Egy Maulana Vikri; Serangan Netizen ‘Gibol’ Indonesia Bantu FIFA Mengentaskan Anarkis & Rasis


*Lihat semua artikel Sejarah Indonesia di Piala Dunia di blog ini Klik Disini

Egy Maulana Vikri, pemain sepak bola muda Indonesia yang bermain di klub Lechia Gdansk menyebabkan kehebohan di Polandia. Kehadiran Egy Maulana Vikri, tidak hanya mengusik suporter sepak bola di Polandia, tetapi juga para pemain sepak bola Polandia di dalam negeri maupun di luar negeri. Suporter sepak bola Polandia menjadi tampak kekanak-kanakan. Mereka merasa hebat, dan menganggap Egy Maulana Vikri datang dari sepak bola dunia ketiga.

'Egy Effect' di Atmosfir Dunia Sepak Bola Eropa
Sikap anggap remeh ini, tidak hanya muncul dari suporter Lechia Gdansk, klub Egy Maulana Vikri, juga dari suporter yang menjadi lawan-lawan Lechia Gdansk. Yang tidak diduga sikap itu juga muncul dari mantan-mantan pemain dan pelatih klub tersebut. Tidak hanya itu, ternyata beberapa pemain sepak bola Polandia yang bermain di luar negeri juga terkesan meremehkan. Hanya petinggi klub Lechia Gdansk yang sadar perekrutan Egy Maulana Vikri sebagai keputusan yang tepat: keputusan teknis dan keputusan ekonomis.   

Egy Maulana Vikri sendiri adalah bagian dari dunia sepak bola modern di era milenial. Hal ini tampaknya kurang dipahami oleh para suporter Poandia. Ketika, mereka coba menyinggung perasaan suporter Indonesia, baru mereka paham atmosfir dunia sepak bola telah berubah. Hal ini berbeda dengan publik sepak bola di Prancis, yang lebih elegan. Bahkan orang Prancis sedari dulu justru ingin tahu Indonesia ketika pemain sepak bola Indonesia berlaga di Prancis pada Piala Dunia 1938.

Indonesia di Piala Dunia (1): Kisruh Antara Indonesia vs Israel (Swedia, 1958); Prediksi Indonesia, Palestina dan Israel (Qatar, 2022)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia di Piala Dunia dalam blog ini Klik Disini


Kemarin (01/12/17), pembagian grup Piala Dunia (FIFA World Cup) 2018 di Rusia telah diundi. Dalam pembagian grup Piala Dunia ini memang tidak terdapat nama Indonesia dan Israel. Kedua negara ini hanya dimungkinkan bertemu di event Piala Dunia saja. Hal ini karena Israel sudah sejak lama ‘dikeluarkan’ dari Asia (AFC) oleh Indonesia. Keluarnya Israel dari Asia dan ‘ditampung’ di Eropa (UEFA) adalah kememangan politik Indonesia terhadap Israel. Lantas apa yang akan terjadi jika suatu waktu keduanya harus bertemu dalam penyelenggaraan Piala Dunia?

Kapten Indonesia vs Hungaria PD 1938: Sama-sama dokter
Mulai hari ini (02/12/17) dan beberapa hari ke depan di Banda Aceh diselenggarakan Aceh World Solidarity Tsunami Cup (Tsunami Cup 2017). Tim Nasional yang berpartisipasi: Indonesia, Brunai Darussalam, Mongolia dan Kyrgistan. Christiano Ronaldo, pemain internasional Portugal memiliki hubungan dengan (sepak bola) di Aceh. Beberapa waktu yang lalu FIFA merilis peringkat negara-negara anggota FIFA. Satu yang menarik: Peringkat Palestina untuk kali pertama melampaui peringkat Israel.

Konsekuensi apa lagi yang kemungkinan terjadi di masa yang akan datang dalam Piala Dunia antara Indonesia dan Israel dan antara Palestina dan Israel? Untuk memprediksi hal tersebut, kita dapat mempelajari sejarah sepak bola Piala Dunia itu sendiri. Pada tahun 1938 Indonesia dijadwalkan bertemu dengan Jepang. Pada tahun 1954 Indonesia dijadwalkan bertemu dengan Israel. Pada tahun 2022 apa yang akan terjadi dengan Indonesia, Palestina dan Israel di Piala Dunia di Qatar?