*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini
Beberapa hari lalu nama Sekolah Tinggi Teknil Delft (sekarang TU Delft) menjadi perhatian para netizen Indonesia. TU Delft merupakan universitas teknologi tertua dan terbesar di Belanda, menempati peringkat ke-47 dunia dalam QS World University Rankings 2026. Fokus utamanya mencakup teknik sipil, teknologi air, hingga kedirgantaraan. Bukan tentang hal itu, tetapi tentang salah satu alumninya. Artikel ini membicarakan tentang sejarah orang Indonesia di TU Delft sejak alumni orang Indonesia pertama 132 tahun yang lalu. Sejarah Mahasiswa di Indonesia
Alumni Delft University of Technology (TU Delft) asal Indonesia memiliki kontribusi besar dalam bidang teknik dan teknologi, didukung oleh jaringan organisasi resmi di Indonesia. TU Delft Chapter Indonesia merupakan wadah resmi bagi para alumni di Indonesia untuk berjejaring dan berkolaborasi. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft berperan sebagai jembatan bagi mahasiswa aktif dan calon alumni, rutin mengadakan acara budaya dan akademik. Para lulusan TU Delft juga tergabung dalam payung besar Ikatan Alumni PPI (IAPPI) yang sering berkolaborasi dengan lembaga seperti BRIN. Banyak tokoh Indonesia lulusan TU Delft yang berkiprah di pemerintahan, akademisi, dan industri teknik: Bimo Sasongko: Menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Jerman (2020-2023) dan aktif dalam jaringan alumni TU Delft. Made Tri Ari Penia Kresnowati: Salah satu akademisi ternama yang tercatat dalam daftar alumni. Oetarjo Diran: Tokoh penerbangan Indonesia yang dikenal luas sebagai pakar kedirgantaraan. Pangeran Poerbojo: Tokoh sejarah Indonesia yang menempuh pendidikan di sana. Dwi Hartanto: Pernah menjadi mahasiswa doktoral di TU Delft sebelum terlibat dalam kasus klaim prestasi yang tidak akurat. Dwi Sasetyaningtyas: Alumni penerima beasiswa yang baru-baru ini menjadi perhatian publik terkait status kewarganegaraan dan pengabdian pasca-studi (AI Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah para alumni Teknik Delft (TU Delft) kembali ke tanah air dan berjuang? Seperti disebut di atas, para alumni TU Derlft kini menjadi perhatian, tetapi sejak temnpo doeloe sudah banyak orang Indonesia studi di Delft seperti Tan Tjioen Liang lulus tahun 1894, Sarengat (1920), Han Tiauw Tjong (1920), Soerachman (1922) dan seterusnya. Lalu bagaimana sejarah para alumni Teknik Delft (TU Delft) kembali ke tanah air dan berjuang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Para Alumni Teknik Delft (TU Delft) Kembali ke Tanah Air dan Berjuang; Tan Tjoen Liang, Raden Sarengat, Han Tiauw Tjong, Raden Soerachman, dkk
Technische Universiteit Delft (TU Delf) tempo doeloe bermula dari sekolah industri Industrie-School te Delft yang dibuka pada tahun 1842. Saat ini Edward Douwes Dekker di Indonesia (baca: Hindia Belanda) mengadvokasi penduduk Angkola Mandailing dari orang-orang Belanda yang rasis dalam menjalankan praktek penjajahan di afdeeling Angkola Mandailing. Edward Douwes Dekker saat itu sebagai Controleur di afdeeling Natal. Banyak penduduk Angkola Mandailing yang tidak tahan terhadap kekejaman Koffiestelsel lalu mengungsi ke wilayah pantai termasuk di Natal. Saat inilah Edward Douwes Dekker bereaksi dan memberi advokasi kepada para pengungsi. Akibat tindakan Edward Douwes Dekker Gubernur Pantai Barat Sumatra memecatnya dari jabatan Controleur lalu dihukum dengan tahanan rumah selama satu tahun di Padang.
Algemeen Handelsblad, 25-02-1842: ‘Sekolah Industri di Delft. Amsterdam, 23 Februari Rencana yang diumumkan untuk mendirikan Sekolah Teknik di Delft telah menarik perhatian luas. Banyak yang merasakan kebutuhan akan peningkatan pendidikan teknik di negara ini; tetapi orang-orang juga bertanya-tanya bagaimana kaum muda yang dididik di Delft akan menemukan pekerjaan yang sesuai. Industri tentu saja berada dalam kesulitan besar di negara kita; dan siapa pun yang mempertimbangkan populasi besar kota-kota kita, yang menderita kekurangan pekerjaan, seharusnya tidak menginginkan populasi ini diberi pekerjaan; bukan hanya pekerjaan, seperti di rumah-rumah amal dan rumah kerja, seperti memungut tali dan merajut kaus kaki; tetapi pekerjaan yang menguntungkan seperti yang disediakan oleh pabrik-pabrik yang berkembang. Siapa pun yang mengenal orang dan negara tidak yakin bahwa industri yang berkembang adalah sumber dukungan terbesar bagi perdagangan domestik dan luar negeri. Perdagangan luar negeri. Oleh karena itu, sangat diinginkan agar industri dapat berkembang di negara kita. Tetapi akankah itu terjadi? Sangat diragukan. Ada banyak alasan untuk keraguan ini: pertama, pajak tinggi, upah mahal, sementara kebalikannya terjadi di negara-negara pesaing. Kedua, negara kita kecil. Ketiga, bea impor dan ekspor, yang seharusnya melindungi industri, sangat rendah di sini dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya; namun perdagangan menunjukkan bahwa bea tersebut masih terlalu tinggi. Keempat, semangat penduduk kaya sangat menentang semua industri. Kelima, hampir semua perusahaan industri di negara ini telah gagal; dan yang bertahan pun jauh dari kata berkembang. Keenam, baik pemerintah maupun bangsa tidak memiliki gagasan yang kuat tentang nilai industri, atau tentang bagaimana mempromosikannya secara efektif; kita hanya perlu mempertimbangkan perubahan yang konstan dan tiba-tiba dalam sistem bea impor dan ekspor, baik di sini maupun di Jawa, dan opini serta keinginan yang bertentangan di surat kabar umum. Karena semua ini dan banyak sebab lainnya, yang terlalu panjang untuk disebutkan, situasi di negara kita terkait industri sangat memprihatinkan. Namun, jika negara kita ingin bertahan, industri harus menjadi salah satu perhatian utama, baik bagi bangsa maupun pemerintah. Menurut penulis, masa depan tanah air terutama bergantung pada hal ini. Atau, apa akibatnya ketika jumlah pengangguran dan orang yang tidak memiliki pekerjaan terus bertambah, ketika orang-orang sakit menderita beban yang begitu berat sehingga kegembiraan hidup, seolah-olah, hilang? Tidakkah akan tiba saatnya ketika sisa-sisa kaum borjuis semakin hancur, ketika beberapa pemilik modal kaya yang tersisa, yang kosmopolitan, akan meninggalkan negara ini, dalam banyak hal kurang beruntung, untuk menetap di daerah yang lebih istimewa? Tetapi sekarang, sekolah Delft; akankah sekolah itu memenuhi kebutuhan yang ada? Apa yang akan dilakukan kaum muda ketika mereka meninggalkan sekolah? Tidak ada kesempatan untuk mendirikan pabrik; tidak ada pendanaan; tidak ada pelindung; formalitas yang tak berujung; tidak ada perlindungan hukum. Tidak, sekolah Delft bisa menjadi baik dan unggul jika negara kita, seperti Prancis, seperti Uni Pabean, memiliki unsur-unsur untuk melihat sebuah industri lahir. Namun sekarang, karena segala sesuatunya berkonspirasi untuk menghambat perkembangan unsur-unsur menguntungkan yang disediakan oleh lokasi dan perdagangan bagi industri, sangat dikhawatirkan bahwa pada akhirnya, sekolah hanya akan berfungsi untuk membangkitkan ilusi dan menyebabkan kekecewaan besar di antara sejumlah anak muda yang berprestasi. Janganlah kita lupakan dalam keseluruhan masalah ini bahwa keberadaan dan perkembangan pabrik adalah cara alami dan terbaik untuk menciptakan keterampilan teknis. Peningkatan keterampilan teknis adalah konsekuensi yang diperlukan dari industri manufaktur yang berkembang. Di Inggris, tidak ada kebutuhan akan sekolah teknik. Sekolah-sekolah teknik tersebut mungkin berguna, tetapi mereka tidak dapat menciptakan industri manufaktur, dan kecerdasan para guru maupun para peserta magang tidak akan menciptakan atau membangunnya’.
Sekolah di Delft tersebut juga disebut School van industrie en handel te Delft (lihat Arnhemsche courant, 02-03-1842). Sekolah tersebut diharapkan menerjemahkan seluruh jangkauan penelitian di tanah kita melalui pendidikan teknik, di luar pelatihan teknik dan politeknik. Sementara itu di Delft sendiri sudah ada Koninklijke Akadcmij te Delft. Sekolah teknik yang baru tersebut kemudian diintegrasikan dengan Koninklijke Akadcmij te Delft. Sekolah teknik tersebut yang merupakan satu-satunya di Belanda dengan berbagai hambatan akhirnya menemukan jalannya sebagai sekolah tinggi yang berkualitas di Belanda. Sekolah teknik di Delft mulai mendapat perhatian di parlemen (Tweede Kamer).
Delftsche courant, 11-12-1860: ‘Akademi Delft. Meskipun kami telah memberikan laporan yang sangat akurat dalam edisi sebelumnya tentang apa yang dikatakan mengenai Akademi Delft dalam pertemuan Majelis Rendah Parlemen pada hari Rabu tanggal 2, kami menganggap tidak berlebihan, mengingat pentingnya masalah ini bagi kami khususnya, untuk melaporkan secara verbatim apa yang dapat dibaca dalam Suplemen Staatscourant, sebagai laporan resmi dari jalannya sidang di Majelis Rendah Parlemen (Tweede Kamer), Bapak Wiütgons: “Sehubungan dengan apa yang baru saja dikatakan, saya ingin menyampaikan beberapa patah kata mengenai pendidikan teknik tinggi; maksud saya akademi di Delft. Dari pihak saya, saya ingin mendesak Pemerintah untuk tidak mengabaikan kepentingan akademi ini, dan untuk melaksanakan usulan yang diajukan oleh dewan akademi kepada Menteri Dalam Negeri dan Koloni, sejauh mereka menganggap usulan ini sesuai dengan kepentingan umum dan tujuan akademi. Tuan-tuan, ini adalah masalah yang telah tertunda selama bertahun-tahun; Dan sangatlah diharapkan agar tindakan diambil dan peraturan ditetapkan untuk perluasan dan peningkatannya. Dalam salah satu dokumen yang dikeluarkan oleh Majelis ini, sebuah celaan ditujukan kepada akademi ini, lebih khusus lagi kepada mereka yang menyelesaikan studi mereka di sana; sebuah celaan yang tidak berdasar dan tidak pantas. Saya berani mengatakan bahwa kehidupan di Delft dijalani dengan baik dan penuh dengan pembelajaran yang berkualitas, dan bahwa, tentu saja dibandingkan dengan akademi lain, tidak ada yang buruk yang dapat dikatakan tentangnya. Tetapi kesalahannya terletak pada pembagian mata pelajaran. Ini perlu ditangani. Kaum muda sedang dibawa ke lautan yang tak terbatas. Regulasi yang tepat terhadap pendidikan itu sendiri bahkan lebih diperlukan; sudah saatnya proposal yang diajukan kepada Pemerintah oleh dewan akademi dipertimbangkan, dan perhatian Pemerintah diarahkan kepada proposal tersebut. . Ini terlepas dari peraturan pendidikan tinggi atau menengah, yang mungkin dibuat, dan jika kita menghargai manfaat nyata yang melekat pada lembaga tersebut, yang dapat memiliki konsekuensi yang sangat besar dan bermanfaat bagi masa depan negara, maka saya percaya saya dapat dengan sungguh-sungguh meminta Menteri untuk memfokuskan perhatiannya pada pendidikan teknik tinggi yang diberikan di sekolah politeknik di Delft, dan tidak takut akan peningkatan pengeluaran, yang akan menghasilkan buah yang begitu melimpah di masa depan’.
Saat akademi di Delft telah direspon pemerintah untuk diupgrade, seorang siswa lulusan sekolah dasar (ELS) di Jogjakarta berangkat ke Belanda bersama Residen Soerakarta yang akan cuti dua tahun ke Eropa. Siswa tersebut yang merupakan cucu Sultan Jogja bernama Ismangoen Danoe Winoto berangkat ke Belanda. Pada tanggal 24 Juni 1864 FN Nieuwenhuijzen dan keluarga serta Ismangoen Danoe Winoto berangkat dari Batavia dengan kapal uap Java menuju Belanda via Singapoera (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-06-1864).
Sebelum Ismangoen Danoe Winoto berangkat ke Belanda, sudah ada satu siswa pribumi yang telah berhasil studi di Belanda. Sati Nasoetion alias Willem Iskander atas biaya sendiri berangkat ke Berlanda tahun 1857. Pada tahun 1860 Willem Iskander lulus sekolah guru di Haarlem. Setelah kembali ke tanah air, pada tahun 1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru di Tanobato, Mandailing. Pada tahun 1864 Inspektur Pendidikan Pribumi CA van der Chijs mengunjungi sekolah guru di Tanobato. Dalam laporan pendidikan tahun 1864 CA van der Chijs menyimpulkan sekolah guru di Tanobato adalah yang terbaik dari dua sekolah guru lainnya yang berada di Soerakarta (didirikan tahun 1852) dan di Fort de Kock (didirikan tahun 1856). Surat kabar mengutip laporan tersebut, yang kemudian menjadi heboh di Jawa. Berbagai kritik bermunculan, bahwa pemerintah tidak becus dalam meningkatkan mutu pendidikan pribumi. Saat inilah Ismangoen Danoe Winoto berangkat studi ke Belanda. Kritik terus bergulir. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-11-1868: ‘Mari kita mengajarkan orang Jawa, bahwa hidup adalah perjuangan. Mengentaskan kehidupan yang kotor dari selokan (candu opium). Mari kita memperluas pendidikan sehingga penduduk asli dari kebodohan’. Orang Jawa, harus belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Awalnya Chijs mendapat kesan (sebelum ke Tanobato) di Pantai Barat Sumatra mungkin diperlukan seribu tahun sebelum realisasi gagasan pendidikan (sebaliknya apa yang dilihatnya sudah terealisasi dengan baik). Kenyataan yang terjadi di Mandailing dan Angkola bukan dongeng, ini benar-benar terjadi, tandas Chijs’. Tanggapan pemerintah sangat lamban, sementara sekolah guru Tanobato terus menghasilkan guru-guru berkualitas, sekolah guru yang asli yang berada di tangan seorang guru yang ahli. Baru pada tahun 1874 memberangkatkan tiga guru muda ke Belanda atas biaya (beasiswa) pemerintah untuk melanjutkan studinya (seperti yang pernah diraih Willem Iskander). Tiga guru muda tersebut adalah Raden Soerono dari Soerakarta, Raden Sasmita dari Bandoeng, dan Barnas Loebis dari Tapanoeli. Untuk menjadi pembimbing tiga guru muda tersebut, ditunjuk Willem Iskander yang juga diberi beasiswa untuk meningkatkan studinya lagi di Belanda. Oleh karena sekoilah guru di Tanobato ditutup. Willem Iskander diharapkan sepulang studi menjadi direktur sekolag guru yang baru di Padang Sidempean yang akan dibuka pada tahun 1879. Willem Iskander adalah kakek buyut Prof Andi Hakim Nasoetion, rektor IPB Bogor (1978-1987).
Ismangoen Danoe Winoto di Belanda tidak studi dalam keguruan, tetapi studi sekolah umum (HBS). Ismangoen Danoe Winoto tampaknya tidak menemui kesulitan dalam studi. Hal serupa ini juga dulu pernah dialami oleh Willem Iskander. Setelah lulus HBS, Ismangoen Danoe Winoto melanjutkan studi ke Akademi di Delft. Akhirnya tahun 1875 Ismangoen Danoe Winoto lulus studi (lihat De standaard, 15-07-1875).
Lulusan akademi di Delft berhak diangkat sebagai pejabat pemerintah (Ambtenar) di Hindia Belanda. Ismangoen Danoe Winoto dan kawan-kawan diangkat Menteri Koloni sebagai pegawai pemerintah di Hindia Belanda berdasarkan tanggal 28 Agustus (lihat Algemeen Handelsblad, 02-09-1875). Namun seiring dengan kelulusan Ismangoen Danoe Winoto dan penempatannya muncul isu yang mana Ismangoen Danoe Winoto yang berpendidikan lisensi Eropa/Belanda tetapi tidak bisa menjadi pejabat di lingkungan Eropa/Belanda di Hindia Belanda (lihat Bataviaasch handelsblad, 02-12-1875). Ismangoen Danoe Winoto, sesuai kebijakan pemerintah yang berlaku, pejabat pemerintahan hanya diperuntukkan untuk orang Eropa/Belanda. Orang pribumi di Hindia Belanda meski memiliki pendidikan lisensi Eropa/Belanda hanya dapat diangkat di pengadilan (Landraad) atau pejabat di lingkungan penduduk pribumi. Ismangoen Danoe Winoto meradang.
Willem Iskander di Belanda menyelesaikan studinya pada akhir tahun 1875. Namun Willem Iskander sangat bersedih. Mengapa? Tiga guru muda yang dibawanya pada tahun 1874 hanya tinggal satu orang dan belum selesai studi. Barnas Loebis meninggal dunia meninggal dunia pada bulan Juni 1875. Sementara Raden Soerono yang sakit berat, menurut dokter harus dibawa ke wilayah tropis untuk penyembuhannya. Namun Raden Soerono meninggal di tengah pelayan dan dikuburkan di Port Said (terusanb Suez).
Di tengah kesedihan Ismangoen Danoe Winoto (mendapat penolakan untuk jabatan di pemerintahan di Hindia Belanda karena bukan orang Belanda) dan Willem Iskander (karena kehilangan dua abak bimbingnya) di Belanda, secara alamiah mereka berdua menemukan jodohnya. Willem Iskander menikah dengan gadis Belanda pada tanggal 20 Januari 1876. Sehari kemudian pada tanggal 21 Januari 1876 Ismangoen Danoe Winoto menikah dengan CH van Steeden tanggal 28 Januari di Borculoo(Algemeen Handelsblad, 29-01-1876). Ismangoen Danoe Winoto alumni akademi di Delft setelah 10 tahun meninggalkan kampung halaman kembali ke kampung halaman di Hindia Belanda. Ismangoen Danoe Winoto berlayar dengan kapal Amalia (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 20-03-1876). Surat kabar yang terbit di Semarang De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-05-1876 mengutip berita dari surat kabar di Singapoera The Strait Times bahwa yang mendapat pesan telegram dari Prancis bahwa kapal Amalia yang mana diantara penumpang terdapat Ismangoen Danoe Winoto berlayar dari Prancis (Marseille) menuju Batavia via Terusan Suez dan Singapoera. Disebutkan di dalam manifes kapal ini Ismangoen Danoe Winoto tidak sendiri tetapi dengan istri.
Ismangoen Danoe Winoto adalah pribumi pertama lulusan Delft. Meski mendapat resistensi atas kualifikasi pendidikannya (akademi) di jabatan pemerintahan di Hindia Belanda, Ismangoen Danoe Winoto tetap kembali ke tanah air untuk berpatisipasi pada bangsanya yang tengah berada di bawah penjajahan Belanda. Ismangoen Danoe Winoto sendiri dengan gelar pendidikannya sebagai alumni Delft (yang di Belanda dianggap sangat berkualitas) dapat saja diterima bekerja di Belanda atau negara-negara lain di Eropa, tetapi Ismangoen Danoe Winoto tetap ingin pulang ke tanah airnya.
Apa yang menyebabkan mereka pulang? Tentu saja lagu kabangsaan “Tanah Airku”"Tanah Airku" belum ada saat itu. Willem Iskander, Ismangoen Danoe Winoto dan JH Watimena dkk kembali ke tanah air setelah studi tampaknya sangat berambisi untuk berpartisipasi dalam membangun bangsanya. Mereka berangkat studi ke Belanda saat itu masih tergolong masih sangat muda, seperti Willem Iskander masih berumur 17 tahun dan Ismangoen Danoe Winoto masih berumur 15 tahun. Keduanya berangkat atas biaya sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana Willem Iskander berangkat begitu sulitnya selama pelayaran (6 bulan) dan bagaimana dirinya sendiri saat itu hanya sorangan diri di Belanda.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Tan Tjoen Liang, Raden Sarengat, Han Tiauw Tjong, Raden Soerachman, dkk: Semua Kembali ke Tanar Air, Tapi Mengapa Kini Ada yang Tidak Kembali?
Lantas apa gunanya mempelajari masa lalu? Yang jelas apa yang pernah terjadi di masa lalu menjadi bahan refleksi untuk menentukan masa depan yang diinginkan. Tanpa mempelajari sejarahnya, tidak akan bisa melihat positioning yang sebenarnya, yang justru dengan mengatahui positioning itu sangat menentukan bagaimana sejarah dapat dilanjutkam dalam mengejar ambisi masa depan yang dapat dicapai. Mengenal bangsanya, akan lebih memahami kemana arah yang dituju dalam pembangunan bangsa. Ismangoen Danoe Winoto, alumni Delft tahun 1875 telah menunjukkan tekadnya.
Sejak Ismangoen Danoe Winoto, lulus di akademi di Delft tahun 1875, tidak ada lagi orang non-Eropa asal Hindia (baca: Indonesia) yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Belanda. Boleh jadi karena lulusan perguruan tinggi di Belanda bagi orang pribumi akan menghadapi tantangan di dunia kerja (karena harus menggeser posisi rasis orang-orang Belanda). Namun guru-guru pribumi tetap dikirim ke Belanda untuk melanjutkan studi. Tampaknya hanya lulusan guru-guru pribumi di Belanda yang tidak mendapat resistensi di Hindia Belanda. Hal itu karena lulusan guru-guru tersebut akan mengajar di sekolah-sekolah non Eropa di Hindia (guru untuk sekolah pribumi). Lulusan terakhir guru pribumi di Belanda adalah JH Wattimena yang diberitakan lulus sekolah guru di Amsterdam dan mendapat akta guru Lager Onderwijs (LO) (lihat Algemeen Handelsblad, 07-04-1884). Disebutkan dari 14 kandidat yang diuji oleh Universiteit Amsterdam empat siswa dinyatakan lulus, salah satu diantaranya JH Wattimena (dari Amsterdam). Dalam hal ini orang pribumi asal Hindia dapat bersaing dengan orang Belanda di sekolah guru di Belanda. JH Wattimena kembali ke tanah air. Dalam manifes kapal yang diberitakan Algemeen Handelsblad, 06-09-1884 terdapat nama JH Wattimena. Kapal Prins van Oranje yang ditumpangi JH Wattimena berangkat dari Amsterdam menuju Batavia pada tanggal 6 September 1884. Sekali lagi, dalam daftar penumpang ini tidak ada nama pribumi selain JH Wattimena. Ini menunjukkan bahwa sejauh itu, orang pribumi ke Belanda adalah suatu prestasi atau pengalaman sendiri. Di Batavia, JH Wattimena sudah barang tentu menghadap Gubernur Jenderal, sebagaimana dulu tahun 1861 Willem Iskander menghadap Gubernur Jenderal sepulang dari Belanda. Tidak lama kemudian, sebelum kapal yang membawa JH Wattimena tiba di Ambon sudah keluar beslitnya untuk ditempatkan sebagai guru di Kweekschool Ambon (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-11-1884). Setelah JH Wattimena kembali ke tanah air di Ambon, selesai sudah perjuangannya menempuh studi, jauh ke negeri Belanda.
Dalam perkembangannya, kritik orang-orang Belanda dari paksi golongan humanis di Hindia, mulai menunjukkan hasil. Satu yang penting bahwa di Hindia Belanda sudah diizinkan, dengan kuota tertentu untuk pribumi dan Cina memasuki sekolah menengah umum (HBS). Ini mengindikasikan bahwa lulusan HBS di Hindia dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Belanda (di Hindia Belanda belum ada perguruan tinggi). Seperti disebut di atas, Ismangoen Danoe Winoto pada tahun 1864 harus berangkat ke Belanda untuk studi lebih lanjut (di HBS). Mengapa? HBS pertama di Hindia baru dibuka pada tahun 1865 (KW III School) di Batavia. Di sekolah HBS di Batavia inilah kemudian orang non Belanda (pribumi dan Cina) diizinkan untuk bersekolah dengan kuota. Dua siswa non Eropa yang studi di HBS (KW III School) di Batavia kemudian melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Belanda, yakni Oei Jan Lee dan Tan Tjoen Liang.
Kehadiran Oei Jan Lee di Belanda telah membuat heboh. Surat kabar besar Algemeen Handelsblad memperhatikannya. Dalam Algemeen Handelsblad, 13-12-1881 kehadiran Oei Jan Lee adalah orang Cina yang pertama di Belanda yang dikomentari dengan sedikit reaktif yang memberi peringatakan bagi siswa-siswa Belanda. Disebutkan jika Oei Jan Lee berhasil menjadi pengacara maka orang-orang Cina akan memilihnya sebagai pengacara dan itu menjadi alarm bagi pengacara Belanda; dan juga jika Oei Jan Lee ini semakin banyak maka itu akan mengurangi peluang mahasiswa dan lulusan hukum Belanda berkarir di Hindia. Menurutnya dampaknya tidak terasa sekarang, tetapi akan terlihat nanti. Seperti halnya dulu Ismangoen Danoe Winoto yang “dibully”, Oei Jan Lee juga dibully orang-orang Belanda yang rasis. Oei Jan Lee tampaknya tidak peduli. Pada tahun 1885 Oei Jan Lee lulus ujian kandidat di bidang hukum di Rjiksuniversiteit te Leiden (lihat Het vaderland, 19-10-1885). Oei Jan Lee akhirnya lulus ujian dan mendapat gelar sarjana hukum (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 15-10-1888). Oei Jan Lee tampaknya belum puas, lalu melanjutkan studi ke tingkat doktoral. Pada bulan Januari 1889 Mr Oei Jan Lee meraih gelar doktor bidang hukum di Leiden (lihat Nieuwe Vlaardingsche courant, 16-01-1889).
Tidak seperti Oei Jan Lee yang memilih studi di bidang hukum (ujian masuk perguruan tinggi bidang ilmu social di Belanda). Tan Tjoen Liang lebih memilih di bidang teknik (ujian masuk bidang IPA). Tan Tjoen Liang sendiri sudah berada di Belanda (lihat Delftsche courant, 11-12-1883). Disebutkan di Politeknik di Delft terdaftar Tjoen Liang Tan, seorang Cina, putra kapten Cina di Buitenzorg. Tan Tjoen Liang menyelesaikan HBS lima tahun di Batavia pada tahun ini.
Di Belanda masih ada guru-guru muda, nama yang terakhir adalah JH Wattimena yang diberitakan lulus sekolah guru di Amsterdam dan mendapat akta guru Lager Onderwijs (LO) (lihat Algemeen Handelsblad, 07-04-1884). Tentu saja nama Ismangoen Danoe Winoto sangat dikenal luas di Hindia sebagai pejabat pemerintah dan diketahui sebagai orang pribumi pertama berpendidikan tinggi alumni Belanda (di Delft). Tan Tjoen Liang sudah pula mengetahuinya sebelum mendaftar ujian masuk perguruan tinggi di Belanda (sebagaimana pernah dialami oleh Ismangoen Danoe Winoto satu decade yang lalu). Tentu saja Tan Tjoen Liang sudah membaca berita di surat kabar dimana Oei Jan Lee dibully oleh orang-orang Belanda yang rasis. Sementara itu, Ismangoen Danoe Winoto setelah kembali ke tanah air pada tahun 1876 hanya dipinggirkan sebagai pegawai fungsional di secretariat Negara. Jabatan Ismangoen Danoe Winoto pada tahun 1884 ini hanya diberi sebagai Wakil Inspektur Pendidikan Pribumi karena sebagai pribumi tidak diberi hak sebagai Kepala (meski pangkatnya sudah memenuhi). Posisi Wakil Inspektur baru dibuat pertama kali karena Ismangoen Danoe Winoto. Seperti disebut di atas, Kantor Inspektur Pendidikan Pribumi didirikan pada tahun 1863 dimana orang pertama yang mengisinya adalah Mr CA van der Chijs (yang menemukan sekolah guru Tanobato sebagai yang terbaik di Hindia Belanda). Tan Tjoen Liang, seperti halnya Oei Jan Lee tidak peduli dengan perundungan bagi orang Non Eropa tersebut.
Pada tahun 1887 Tan Tjoen Liang lulus ujian transisi (overgangs-examen) di Polytechnische School di Delft (lihat Delftsche courant, 15-06-1887). Disebutkan sore ini di Polytechnische School di Delft diketahui hasil ujian transisi berdasarkan art 61, art 62, art 63, art 64 dan art 65. Nama-nama yang lulus ujian sarjana kedua (tweede gedeelte) art 64 (werktuigkundig ingenieur) antara lain Tan Tjoen Liang. Sekitar 100 mahasiswa yang lulus ujian transisi pada art yang berbeda-beda hanya Tan Tjoen Liang yang bernama non Eropa/Belanda. Tinggal selangkah lagi Tan Tjoen Liang mendapat gelar insinyur mesin.
Namun setelah itu nama Tan Tjoen Liang menghilang, yang diduga kerena ayahnya meninggal dan kembali ke Hindia di Buitenzorg. Di HBS Semarang, Raden Mas Oetojo lulus ujian akhir (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 08-06-1891). Disebutkan berita yang diterima dari surat kabar di Batavia, ujian akhir HBS sebanyak empat siswa lulus dimana Raden Oetojo dengan nilai 119 sebagai rangking kedua. Jika menghitung mundur lima tahun, jika dan hanya jika R Oetojo lancar studi, besar kemungkinan Oetojo diterima di HBS Semarang tahun 1886. Bandingkan dengan Oei Jan Lee lulus HBS di KWS Batavia tahun 1883. Sejauh yang dapat ditelusuri, orang pribumi pertama yang sekolah di HBS adalah R Oetojo. Pada saat Raden Oetojo lulus tahun 1891 di HBS Semarang, pada tahun ini Raden Kartono diterima.
Setelah beberapa tahun Tan Tjoen Liang kembali ke Belanda untuk menyelesaikan pendidikan di Delft dan berhasil menjadi insinyur mesin pada tahun 1894. Raden Kartono menyelesaikan studi di HBS Semarang pada tahun 1896 dan kemudian langsung berangkat ke Belanda dan diterima di Polytechnische School di Delft.
De avondpost, 30-12-1896: ‘Menyusul keputusan Gubernur Jenderal, menyamakan Tan Tjoen Liang, seorang Cina setara dengan orang Eropa, majalah Insulinde baru-baru ini menyatakan: ‘'Pasti ada cukup alasan untuk membuat orang Cina ini menjadi orang Eropa, seperti yang terjadi pada Oei Jan Lee, pengacara yang memperoleh gelar doktor di Belanda.' Memang, ada alasan yang sangat memadai disini. Yakni, Insulinde menulis sebagai berikut: “Tan belajar di Delft dengan dua langkah. Ia adalah putra mendiang kapten Cina di Buitenzorg, Tan Goan Piauw. Setelah lulus ujian kandidat untuk insinyur mesin di Delft, dia harus berhenti sekolah dan kembali ke Buitenzorg, dimana dia harus berperilaku lagi sesuai dengan kebiasaan orang Cina. Setelah harta warisan pamannya Tan Pauw dipisahkan, ia memiliki kekuatan untuk kembali ke Delft dan melanjutkan studinya yang terhenti. "Dalam daftar terbaru dari nama-nama yang tergabung 'Asosiasi Insinyur Sipil' di Delft, yang berisi insinyur, lulusan Sekolah Politeknik', ditemukan (pada baris No. 911) bahwa pada tahun 1894 diploma Insinyur Mesin diperoleh oleh Tan Tjoen Liang'.
Lembaga pendidikan di Belanda dan di Hindia Belanda berkembang dengan caranya sendiri-sendiri, mulai dari sekolah menengah hingga bertransformasi menjadi perguruan tinggi. Setelah berkembang Technische School dibentuk Polytechnische School (di Delft) dimana nama-nama Tan Tjoen Liang dan Raden Kartono). Demikian juga dengan sekolah guru kweekschool di Belanda kemudian dibentuk Rijskweekschool di Leiden Seperti kita lihat nanti dimana nama Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan Rijskweekschool di Leiden. Sekolah perdagangan (Handelschool) dengan dibentuknya Handelshoogeschool) dimana nama Sjamsi Widagda. Di Delft Polytechnische School ditingkatkan statusnya menjadi Technischehoogeschool te Delft. Di Wageningen Landbouwschoool kemudian dibentuk Landbouwhoogeschool; di Utreht sekolah kedokteran hewan (Veeartsenchool) menjadi Veearsenhoogeschool (dimana nama Sorip Tagor Harahap). Demikian seterusnya seperti Geneeskundigehoogeschool dan Rechthoogeschool. Dalam konteks inilah kemudian di Belanda sejumlah perguruan tinggi (hoogeschool) disatukan membentuk universitas. Nama Universiteit te Leiden paling tidak sudah disebut pada tahun 1770 (lihat Oprechte Haerlemsche courant, 05-04-1770); Universiteit van Groningen (lihat Algemeene konst- en letter-bode, voor het jaar 1803); Universiteit te Amsterdam (lihat Bijdragen ter bevordering van het onderwijs en de opvoeding, voornamelijk met betrekking tot de lagere scholen in Holland, 1812).
Rotterdamsch nieuwsblad, 25-09-1902: ‘Pemerintah bermaksud, jika kerja sama yang diperlukan dari Parlemen dapat diperoleh, untuk memberikan status universitas teknik kepada Sekolah Politeknik di Delft pada awal periode 1903/1804 dan mengkategorikan pendidikan yang diberikan di sekolah tersebut sebagai pendidikan tinggi’. Lihat Staatsblad tanggal 24 Juni 1905 No 215 terntang Surat Keputusan Penetapan Peraturan Perguruan Tinggi Teknik. (Sebagaimana keputusan ini telah diubah lebih lanjut)
Perubahan status Polytechnische School di Delft menjadi Technische Hoogeschool mengindikasikan peningkatan status dalam hal dalam hal standardisasi baik kualitas maupun (proses) kurikulum yang kurang lebih sama dengan Hoogeschool lainnya termasuk yang berada di dalam universitas. Dengan kata lain proses masuk mengikuti ujian nasional (seperti di Indonesia pada masa ini untuk penerimaan mahasiswa di universitas negeri). Secara resmi Technische Hoogeschool te Delft dimulai tahun 1905. Pada fase Technische Hoogeschool di Delft inilah terinformasikan kembali mahasiswa Indonesia diterima di Delft, yakni KJ Leatemia, Raden Mas Notodhiningrat, Raden Sarengat dan Raden Soerjowinoto.
De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 30-09-1914: ‘Ujian Akademik. Delft. (Technische Hoogeschool). Ujian propadeus di bidang teknik jalan dan pengairan: KJ Leatemia, Raden Mas Notodhiningrat, C Orth, Raden Sarengat, Raden Soerjowinoto, M. Valkenburg, JC Dekmatel; di bidang teknik mesin: CJB Doude van Troostwijk; di bidang teknik elektro: Nona MCC Terpoorten; di bidang kimia: SL Langedijk’.
Nama-nama KJ Leatemia, Raden Mas Notodhiningrat dan Raden Soerjowinoto sudah terinformasikan kehadirannya di Belanda pada saat pendirian organisasi mahasiswa pribumi di Leiden pada tahun 1908. Notodiningrat lulus dari HBS di Batavia tahun 1908 (lihat De locomotief, 03-06-1908). Raden Mas Notodiningrat berangkat ke Belanda pada tanggal 23 Juli dengan kapal ss Wilis dari Batavia dengan tujuan akhir Nederland yang singgah di Marseille tanggal 16 Agustus (lihat De avondpost, 19-08-1908). Yang berangkat bersamaan antara lain RM Koesoemo Oertajo, Ong Kie Hong. Raden Sarengat sendiri, setelah lulus HBS di Semarang, berangkat ke Belanda pada tahun 1911 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-07-1911). Notodiningrat lulus ujian propaedeutic teknik sipil di Delft pada tahun 1912 (lihat De Nederlander, 08-06-1912). Seperti disebut di atas, tampaknya Notodiningrat telah beralih dari teknik sipil ke taknik jalan dan pengairan. Mengapa? Tampaknya di Indonesia masih lebih dibutuhkan pembangunan jalan dan pengairan (irigasi) daripada pembangunan gedung.
Pada tahun 1908 Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan asal Padang Sidempoean mengundang semua pelajar/mahasiswa pribumi berkumpul di tempat kediamannya di Leiden. Dalam pertemuan ini disepakati pembentuk organisasi mahasiswa pribumi di Belanda dengan nama Indische Vereeniging. Sebagai ketua Soetan Casajangan dengan sekretaris/bendahara Raden Soemitro. Pada tahun 1911 sejumlah mahasiswa Cina asal Hindia mendirikan organisasi pelajar/mahasiswa yang diberi nama Chung Hwa Hui yang mana sebagai ketua Yap Hong Tjoen dari Jogjakarta.
Seperti disebut di atas pada tahun 1894 Tan Tjoen Liang meraih gelar insinyur di Polytechnische School di Delft. Sementara Raden Kartono yang diterima di Polytechnische School di Delft pada tahun berubah pikiran dan kembali dari awal studi sasatra di Universiteit te Leiden. Sejak itu tidak ada lagi orang Indonesia yang diterima Polytechnische School di Delft. Sejak Polytechnische School di Delft berubah status menjadi Technisch Hoogeschool di Delft tahun 1902, nama-nama orang Indonesia yang diterima adalah KJ Leatemia, Raden Mas Notodhiningrat, Raden Sarengat dan Raden Soerjowinoto.
Di Hindia Belanda sendiri belum ada perguruan tinggi. Yang sudah ada baru sekolah guru (kweekschool) menjadi Hogere Kweekschool; sekolah kedokteran Docter Djawa School di Batavia ke STOVIA (1902) dan NIAS (1915). Seperti kita lihat nanti perguruan tinggi baru dibentuk tahun 1920 Techische School menjadi Technische Hoogeschool di Bandoeng dan kemudian disusul Rechthoogeschool (RHS) di Batavia tahun 1924 dan Geneeskundigeschool (GHS) di atavia tahun 1927. Sementara Veeartsenschool yang dibuka tahun 1907 di Buirtenzorg menjadi Ned. Indie, Veeartsen School tahun 1928.
Pada tahun 1917 di Belanda diadakan Kongres Hindia, yang mana berpartisipasi seluruh mahasiswa asal Hindia baik orang Belanda, orang Cina maupun orang pribumi. Kongres Hindia pertama ini dipimpin HJ van Mook seorang mahasiswa Indologi di Akademi Delft. Saat ini yang menjadi ketua Indische Vereeniging adalah RM Notodiningrat seperti disebut di atas mahasiswa teknik di Delft.
Dalam persiapan mengikuti Kongres Hindia, Indische Vereeniging melakukan rapat yang dipimpin oleh RM Notodiningrat. Dalam rapat tersebut diputuskan yang menjadi perwakilan Indische Vereeniging dengan makalah di forum tersebut adalah Dahlan Abdoellah. Dalam rapat ini juga dipersiapkan materi makalah. Salah satu poin dari makalah tersebut adalah Indische Vereeniging mengusulkan pengadopsian nama Indonesia sebagai pengganti Hindia (Belanda). Forum Kongres Hindia tersebut menyetujui nama Indonesia. Sejak inilah nama Indonesia diadopsi (nama yang sudah umum di dunia akademik yang diusulkan JR Logan pada tahun 1850). Perwakilan Chung Hua Hui di Kongres Hindia tersebut adalah Han Tiauw Tjong mahasiswa di Delft. Dalam Kongres Hindia tahun berikutnya (1918) nama kongres sudah disebut Kongres Indonesia. Dalam hal ini RM Notodiningrat adalah adik dari RM Noto Soeroto (ketua Indische Vereeniging yang kedua yang menggantikan Soetan Casajangan).
Nama Indonesia tahun 1917 diadopsi semua pihak mahasiswa di Belanda (mahasiswa asal Hindia orang Belanda, orang Cina dan orang pribumi). Tentu saja dalam hal ini juga berkontribusi mahasiswa-mahasiwa di Delf yang berasal dari Hindia (Belanda, Cina dan pribumi). Mahasiswa di Delft antara lain JH van Mook, Han Tiauw Tjong dan RM Notodiningrat.
Hindia Poetra; orgaan van het Indonesisch Verbond van Studeerenden, jrg 1, 1918-1919: ‘Tren di Dunia Mahasiswa Indonesia di Belanda oleh Ratoe Langie. Seorang anggota dewan redaksi "Hindia Poetra" menyarankan agar saya menulis esai untuk majalah ini tentang topik yang disebutkan di atas. Saya menerima saran ini karena masalah ini sangat penting bagi saya. Apa yang akan saya katakan tentang ini sebagian besar didasarkan pada pengalaman saya sendiri; pengalaman saya sendiri dimulai pada awal tahun 1913, tetapi justru dalam enam tahun terakhir inilah pergerakan besar di dunia mahasiswa Indonesia terjadi. "Masalah kita yang sebenarnya adalah sosial", kata Tagore. Itu adalah politik yang panas. Saya tidak ingin masuk ke dalam diskusi di mana India Britania berlaku, tetapi bagi kita Indonesia, pernyataan ini haruslah: 'Masalah kita yang sebenarnya adalah sosial dan politik'. Masalah politik terpisah dari masalah sosial; Solusi untuk satu masalah tidak serta merta menjamin solusi untuk masalah lainnya. Masalah politik berpuncak pada antitesis penguasa versus yang diperintah, atau yang dapat diidentifikasi dengan sempurna sebagai: kapitalisme Eropa versus nasionalisme Indonesia. Hanya ada satu solusi, yang kini disepakati semua orang: partisipasi penuh rakyat Indonesia dalam pemerintahan negara. Masalah sosial tidak tunduk pada kontradiksi yang mencolok: ini adalah masalah rasial. Apa pertanyaannya? Penduduk Indonesia adalah mosaik ras dan suku; ia menunjukkan keragaman yang sama seperti kriteria budaya yang kita tetapkan. Tantangannya adalah: bagaimana menjaga keragaman ini tetap bersatu. Bangsa India kuno, yang menghadapi masalah yang sama, menemukan solusinya dalam sistem kasta: ras yang berbeda dikategorikan ke dalam kelompok sosial yang berbeda. Eropa, Amerika, Australia, dan Indonesia, yang dihadapkan dengan hal ini, memutus simpul tersebut. "Bertahan hidup yang terkuat", begitulah sebutannya, dan ras berwarna ditekan atau dikutuk untuk melakukan pekerjaan rendahan di masyarakat. Kita, di pihak kita, harus menolak doktrin brutal Barat bahwa yang terkuatlah yang bertahan hidup. Meskipun ini mungkin keadaan dalam sistem di mana Darwin menempatkan kerajaan hewan, untuk spesies hewan tertinggi, manusia, aspek lain ikut berperan: moralitas. Landasan sosiologis sistem kasta tidak berlaku ketika kita menerapkan kritik dari pengalaman modern: kita melihat orang-orang dari berbagai ras, kelas, dan bangsa yang paling beragam memenuhi fungsi sosial yang sama dengan keberhasilan yang sama. Garis pemisah antara ras tidak bertepatan dengan kesesuaian untuk berbagai kelompok sosial. Masalah sosial ini juga hanya memiliki satu solusi: toleransi sebesar mungkin, toleransi penuh. "Toleransi" dan "toleransi" sekali lagi adalah kata-kata yang tepat, karena keduanya mengandaikan rasa antagonism. Di sini, seperti di bagian lain, saya telah menahan diri dari argumen yang panjang. Keterbatasan ruang tidak memungkinkan mengutamakan satu di atas yang lain. Saya tidak bersalah karena sentimentalitas ketika saya menggunakan kata yang sering disalahgunakan: persaudaraan. Persaudaraan semua ras dan bangsa yang mendiami Indonesia adalah satu-satunya solusi abadi untuk masalah sosial kita. Ide dan cita-cita baru pertama kali mencapai negara-negara yang sangat maju; Dari mereka, cahaya baru memancar ke khalayak ramai, seperti sinar matahari pertama yang sudah ditangkap oleh puncak gunung ketika lembah-lembah masih diselimuti kegelapan dan kabut. Mahasiswa masa kini akan segera menjadi pemimpin spiritual; ini terutama berlaku untuk Hindia. Arus dalam kehidupan mahasiswa kontemporer akan tercermin dalam masyarakat masa depan. Pada tahun 1908, Indische Vereeniging (Asosiasi Indonesia) didirikan di Leiden; beberapa tahun kemudian, Chineese Vereeniging (Asosiasi Tionghoa); keduanya dicirikan oleh pembentukan kelompok berdasarkan kriteria etnologis yang terbatas. Pada awal tahun 1913, sebuah gerakan muncul di Amsterdam, Setia Tanah Hindia (STH), didirikan. Ide awalnya adalah untuk menyatukan semua ras di Hindia dalam satu asosiasi. Penulis artikel ini, yang menjabat sebagai ketua pertama asosiasi ini, mengalami perjuangan ide muda tersebut. Baik unsur Indo-Eropa maupun unsur pribumi terbukti reaksioner; Orang Tionghoa, yang awalnya menunjukkan kecenderungan untuk saling percaya dan berdamai, menarik diri setelah keputusan "Setia Tanah Hindia" Amsterdam untuk tidak menerima orang Tionghoa ke dalam asosiasi tersebut. Sebuah departemen STH. didirikan di Utrecht, yang dipimpin oleh Dr Doeve yang giat dan simpatik (pada saat itu seorang asisten di sekolah kedokteran hewan). (Hool) mengambil satu-satunya posisi yang benar: kesetaraan mutlak semua ras dalam asosiasi; tetapi keputusan Amsterdam yang fatal masih bergema di benak saat itu, bahkan kemudian. Kedua asosiasi tersebut mati muda; mereka tidak dapat bertahan lama setelah tokoh-tokoh terkemuka, di Amsterdam Dr Ratoe Langie-Houtman (saat itu seorang dokter junior) dan di Utrecht Dr Doeve, mengundurkan diri dari asosiasi. "Saat itu belum waktunya untuk gagasan persatuan" Dr Yap baru-baru ini dan dengan tepat mengamati. Jangan juga kita lupakan bahwa pada saat itu kaum muda, yang belum berpengalaman dalam kehidupan asosiasi, memimpin gerakan tersebut. Namun, sebuah gagasan vital selalu menyebar, meskipun mungkin ada saat-saat ketika gagasan itu tidak terlihat karena kabut tebal. Hal ini juga terjadi pada kita: selama beberapa tahun, tidak ada yang memperhatikan gerakan yang dimulai di Amsterdam, hingga gagasan rekonsiliasi muncul kembali di Den Haag pada akhir tahun 1916. Atas inisiatif Dr Yap, Dr Laboor, Soewardi Soerjaningrat, dan penulis artikel ini, asosiasi "De Arije Gedachte" (Pemikiran A-Rije) didirikan. Pengalaman yang diperoleh di STH. (Masyarakat Belanda untuk Studi Indonesia) mendorong kehati-hatian: tidak akan ada tujuan lain selain pertukaran ide. Warga negara Indonesia, Tionghoa, dan Belanda dapat bergabung sebagai anggota. Antusiasme awal segera memudar; tabir kelupaan juga menyelimuti asosiasi ini. Sekarang saya mengambil langkah yang tampaknya berani, tetapi yang sepenuhnya dapat saya benarkan. Pendirian Asosiasi Mahasiswa Indonesia merupakan kelanjutan dari gerakan enam tahun terakhir yang telah saya uraikan secara singkat. Bukan untuk merampas kehormatan yang pantas diterima para penggagas Leiden, tetapi siapa pun yang memiliki wawasan tentang kehidupan sebuah pemikiran muda pasti akan mengenali benang merah yang menghubungkan seluruh jalinan tersebut. Seperti api yang membara di tumpukan jerami yang mencari tempat untuk menyala, sebuah ide akan mencari kesempatan yang menguntungkan untuk mewujudkan dirinya. Sebuah ide, setelah diluncurkan, akan terus eksis di luar kendali kehendak manusia yang sadar. Pada awalnya, saya secara singkat berpendapat bahwa satu-satunya solusi untuk masalah sosial kita adalah ini: persaudaraan antar kebangsaan, ras, dan kelompok antar ras di Indonesia. Dalam ringkasan singkat saya tentang arus di dunia mahasiswa Indonesia, saya menunjukkan bahwa perkembangan semangat umum sedang menuju persatuan. Saya cukup percaya pada generasi mahasiswa ini untuk menghadapi masa depan dengan harapan, untuk teguh percaya bahwa suatu hari nanti, dalam waktu dekat, gagasan persatuan akan berkuasa di tanah air tropis kita. Ya, sungguh, suatu hari nanti, di atas pulau-pulau hijau Indonesia, bangunan megah Persatuan Nasional kita akan muncul dari perairan biru Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Bangunan itu akan menjadi saksi atas kehendak suci kita, bangsa Indonesia, untuk mempertahankan diri di antara bangsa-bangsa Asia Timur. Bukankah ini seperti suara tanah air kita yang berbicara kepada kita dengan kata-kata Béranger: "Wahai rakyat, bentuklah aliansi suci, dan berikanlah kekuatan kepadamu". Den Haag, 19 Agustus 1918. Tujuan, komposisi, dan keuangan Asosiasi Mahasiswa Indonesia (Didirikan pada 23 November 1917) Asosiasi ini bertujuan untuk: a. mempromosikan perkenalan, pergaulan, dan kerja sama para anggotanya, baik selama studi mereka di Belanda maupun setelahnya; b. mendorong para anggotanya untuk mempelajari studi Indonesia; c. menumbuhkan minat pada misi Indonesia Belanda yang tanpa pamrih di kalangan pemuda Belanda. Asosiasi ini berupaya mencapai tujuan ini dengan segala cara yang sah. (Pasal 2 Statuta). Anggota biasa adalah semua asosiasi atau cabang asosiasi di Belanda yang anggotanya secara eksklusif adalah warga negara Indonesia, Indo-China, atau Belanda yang sedang mempersiapkan diri untuk bekerja di Hindia Belanda. Anggota asosiasi adalah orang-orang yang termasuk dalam salah satu kelompok yang disebutkan di atas dan bukan anggota dari badan sebagaimana dimaksud dalam paragraf sebelumnya. Anggota yang berminat dapat berupa asosiasi, departemen asosiasi, atau orang-orang yang setuju dengan tujuan Asosiasi. (Pasal 4). Anggota biasa saat ini adalah: 1. Departemen Kursus Utama di Kampen (24 anggota), 2. Departemen Asosiasi Calon Misionaris Belanda (27 anggota), 3. Departemen Wageningen (136 anggota), 4. Asosiasi Calon Penanam di Deventer (50 anggota), 5. Chung Hwa Hui (56 anggota), 6. Lingkaran Hindia Belanda di Delft (10 anggota), 7. Asosiasi Hindia Belanda (36 anggota), 8. Asosiasi Hindia Belanda di LSC (49 anggota), 9. Asosiasi Indolog (94 anggota), 10. Subdepartemen Lingkaran Mahasiswa Hindia Belanda di Rotterdam (40 anggota), 11. Asosiasi Industri Hewan (17 anggota), 12. Asosiasi Calon Verifikator b. d. input dan output dan acc. di Belanda. India “Je Maintiendrai” (20 anggota), 13. Vereen Asosiasi Kadet India (69 anggota), 14. Van Verre, Ind. Vereen, vh USC (40 anggota), sementara sebagian dari NCSV dan asosiasi kedua di Delft juga akan bergabung. Sumber daya Asosiasi terdiri dari: a. kontribusi tahunan minimal ƒ0,25 (dua puluh lima sen) per kontributor dari setiap anggota biasa; b. kontribusi tahunan minimal ƒ0,25 (dua puluh lima sen) dari setiap anggota asosiasi; c. kontribusi tahunan minimal ƒ1. (satu guilder) dari setiap anggota yang berminat; d. kontribusi sukarela. (Pasal 9). Setiap orang harus mempertimbangkan keanggotaan mana yang harus mereka ikuti dan melaporkan keputusan mereka sesegera mungkin kepada sekretariat, Poort1andlaan 84, Delft.
RM Notodiningrat sebenarnya masih masa berkabung. Hal ini karena pada bulan Mei 1917 diberitakan ayahnya Pangeran Notodirodjo meninggal dunia di Djogjakarta (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-05-1917). Di Belanda ada empat putra Pangeran Notodirodjo, selain RM Notodiningrat juga ada RM Noto Kworo mahasiswa kedokteran, Noto Soeroto di fakultas hukum, RM Gondowinoto di fakultas hukum, RM Notosewojo di fakultas tekni (mesin). Ir Notodiningrat bersama saudaranya Dr Mr Goendowinoto pulang ke tanah air pada tahun 1919. Yang pulang tahun ini ada juga nama Sam Ratulangi, Soewardi Soerjadingrat yang keduanya telah menikah di Belanda dengan gadis Belanda. Yang juga pulang ke tanah air pada tahun ini adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia. Pelepasan itu dilakukan pada suatu pertemuan Indische Vereeniging yang dipimpin oleh Goenawan Mangoenkoesoemo (ketua Indische Vereeniging yang menggantikan RM Notodiningrat).
Akhirnya Raden Sarengat berhasil menyelesaikan studi di TH Delft dengan gelar insinyur (lihat De standaard, 09-07-1920). Disebutkan Raden Sarengat lahir di Karanganjar. Raden Sarengat segera kembali ke tanah air (lihat De nieuwe courant, 29-08-1920). Rekannya di Indische Vereeniging, Sorip Tagor Harahap lulus ujian akhir bulan Desember 1920 di Rijksveeartsenijschool, Utrecht. Pada fase inilah, nama Indonesia yang telah diadopsi oleh para mahasiswa di Belanda (termasuk mahasiswa di Delft) mulai diusulkan penggantian nama Hindia Belanda dengan nama Indonesia di parlemen Belanda (Tweede Kamer).
Het nieuws van den dag, 19-07-1921: ‘Usulan pemerintah sedang disusun. Namun, deskripsi wilayah Kerajaan dengan nama-nama yang definisinya tidak pasti, misalnya, Suriname dan Curaçao, tidak diizinkan. Oleh karena itu, para anggota yang berbicara di sini menyarankan—atau lebih tepatnya, akan lebih diinginkan untuk memberikan deskripsi yang lebih umum kepada Kerajaan, misalnya, yang mencakup wilayah di Eropa, Asia, dan Amerika. Beberapa anggota menganggap perlu untuk memberikan Konstitusi rumusan yang begitu luas pada kesempatan ini. Anggota-anggota ini mengantisipasi bahwa jika tidak, akan timbul kesulitan ketika merevisi undang-undang untuk Hindia Belanda; entah tidak mungkin untuk menentukan apa yang dianggap diinginkan, atau ini akan memerlukan revisi Konstitusi lainnya. Beberapa anggota ini secara khusus merujuk pada amandemen yang diusulkan di Volksraad oleh Anggota Van Hinloopen Labberton; Ia ingin memberi Hindia Belanda nama Indonesia. Namun, anggota lain mencatat bahwa lebih baik mempertahankan nama "Koloni," karena Hindia Belanda, dan khususnya Suriname dan Curaçao, hanyalah "koloni." Mereka menganggap nama "Indonesia" artifisial dan kurang memiliki dasar sejarah yang memadai’.
Dalam hal ini Ir Raden Sarengat dapat dikatakan insinyur ketujuh Indonesia (setelah Tan Tjoen Liang dan RM Notodiningrat, dkk). Sementara RM Notodiningrat yang menjadi lulusan ketiga di Delft. RM Notodiningrat sebagai ketua Indische Vereeniging pada tahun 1917 yang memimpin rapat untuk pengusulan nama Indonesia ke Kongres Hindia pada tahun 1917. Tentu saja Raden Sarengat juga hadir dalam Kongres Hindia tersebut. Catatan: Tahun 1922 nama Indonesia juga diusulkan di Volksraad di Batavia. Namun usul itu ditolak melalui voting. Meski demikian nama Indonesia tetap eksis dan Indische Vereeniging terus memperjuangkannya. Penduduk Indonesia di Hindia juga menjadikan Indonesia sebagai nama perjuangan.
Sementara itu sarjana pendidikan pertama Indonesia dengan gelar akta MO Radjioen Harahap adalah Soetan Casajangan (lulus tahun 1909) dan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia sebagai guru MO kedua (lulus tahun 1918). Sorip Tagor Harahap sarjana kedokteran hewan Indonesia pertama (lulus tahun 1921). Sejak Asmaoen sebagai dokter pertama (lulus 1907) dan yang kedua Abdoel Rivai (1908), mahasiswa Indonesia di Belanda umumnya studi, selain di bidang kedokteran adalah di bidang hukum, bidang sastra dan filsafat. Sarjana hukum pertama adalah Oei Jan Lee (1889) dan yang kedua RM Gondowinoto (1918); sarjana sastra pertama adalah Raden Kartono.tahun 1909 dan disusul Hoesein Djajadiningrat (1910).
Jumlah mahasiswa Indonesia yang studi di Belanda terus berdatangan, termasuk yang studi di Utrecht. Pada tahun 1933 Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia lulus dan meraih gelar doktor di bidang sastra dan filsafat di Leiden. Pada tahun 1933 ini nama Mohammad Thahir terinformasikan studi di Delft (lihat De locomotief, 07-07-1933). Teukoe Mohamad Thahir masih di Delft tahun 1934 (lihat Delftsche courant, 17-11-1934). Pada tahun 1936 AFP Siregar lulusan HBS di Medan terinformasikan di Delft. Pada tahun 1938 Mohamad Thahir lulus ujian kandidat teknik mesin (lihat Algemeen Handelsblad, 22-12-1938). Mohamad Thahir menyelesaikan studinya pada tahun 1941 (lihat Algemeen Handelsblad, 05-12-1941). Setelah terjadi pendudukan militer Jerman di Belanda, AFP Siregar yang studi di Delft melanjutkan studinya ke Zurich, Jerman. AFP Siregar meraih insinyur teknik kimia di Zurich. Sebagai tambahan Ir AFP tahun 1941 sudah berada di Bandoeng sebagai pegawai pabrik sendjata dan mesioe. Mohamad Thahir hingga 1945 masih berada di Delft (lihat Delftsche courant, 22-01-1945).
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-08-1953: ‘Beasiswa Stanvac. Pada tanggal 13 Agustus, Standard Vacuüm menganugerahkan beasiswa kepada Dudung Jachjasumitra dan Achmad Nur untuk studi di Fakultas Teknologi di Bandung. Dengan demikian, jumlah beasiswa yang dianugerahkan oleh Stanvac menjadi sepuluh, termasuk aplikasi untuk perguruan tinggi teknik di Bandung dan Delft, dan satu untuk Universitas Indonesia di Jakarta’. Het vaderland, 09-10-1956: ‘Koo Siu Ling yang berusia enam belas tahun mendaftar di Technische Hogeschool te Delft sebagai mahasiswi pertama di jurusan teknik penerbangan. Lahir di Malang dan bersekolah di sekolah menengah di Djakarta, Ki Siu Ling belum pernah ke Belanda sebelumnya. Ayahnya sebelumnya belajar di perguruan tinggi perdagangan di Rotterdam. Nieuwe Haarlemsche courant, 10-02-1964: ‘Kandidat insinyur Teknik Penerbangan (vliegtuigbouwkundig ing.) Nona Koo Siu Ling te Delft’. Algemeen Handelsblad, 14-07-1965: ‘Koo Siu Ling yang berusia 25 tahun, yang Jumat lalu menjadi wanita pertama yang memperoleh gelar teknik di bidang teknik penerbangan dari sekolah tinggi teknik Delft (Delftse TH). Ir Koo Siu Ling telah menempuh pendidikan selama sembilan tahun di Delft. Pada tahun 1956, ia lulus dari Sekolah Menengah Atas di Djakarta dan langsung berangkat ke Belanda untuk memulai studinya di TH pada musim gugur yang sama. Dari lebih dari 8.000 mahasiswa di Delft, hanya tujuh puluh yang perempuan. Selama studinya, dia bekerja selama dua bulan di pabrik Douglas di California. Orang tuanya hadir pada upacara diploma teknik pada hari Jumat. Mereka datang khusus dari Tokyo, tempat ayah Nona Koo adalah seorang ekonom di misi perdagangan Indonesia yang belajar di Rotterdam. "Tetapi jika Anda bekerja di profesi Anda, "Di mana Anda lebih suka melakukannya, di Belanda, Amerika, atau Indonesia?" kami ingin tahu. "Yah, sebagai orang Indonesia, saya akan kesulitan untuk akhirnya bekerja di Fokker, dan di mana saya akan bekerja, atau apakah saya akan bekerja, saya benar-benar tidak tahu. Tidak ada yang pasti saat ini". kata insinyur kedirgantaraan wanita pertama Delft itu’. Catatan: ayahnya bernama Kwee Djie Hoo. Lihat disini: Nama Ayah Ir Koo Siu Ling
Lantas, kapan Technisch Hoogeschool di Delft berubah status menjadi Universitas? Yang jelas hingga tahun 1957 namanya masih Technisch Hoogeschool di Delft. Pada tahun 1957 terinformasikan mahasiswa Technisch Hoogeschool di Delft berasal dari Indonesia.
Het vaderland, 30-03-1957: ‘Ujian akademik. Amsterdam, VU (Vrij Universiteit). Ujian kandidat Filsafat: FA vd Wal, Utrecht. Leiden. Ujian sarjana Hukum Belanda, program studi sejarah: CL Steenbergen, Den Haag. Delft. Ujian kandidat insinyur geodesi: LNM de Lange, Hoorn; ujian kandidat insinyur mesin: PJ Gerla, Hilversum; GD Heij, Breda; Ujian kandidat insinyur pesawat terbang: Diran Oetarjo, Delft; Ujian sarjana insinyur: C Roos, De Bilt; ujian sarjana insinyur pertambangan: AH Gans, Den Haag; G Ockeloen, Haarlem’.
Seperti disebut di atas, meski sudah dibuka Technisch Hoogeschool di Bandoeng pada tahun 1920, jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi ke Technisch Hoogeschool di Delft tetap ada. Diantara sarjana-sarjana teknik lulusan Technisch Hoogeschool di Delft ada dua mahasiswa Indonesia yang meraih gelar doktor (PhD). Han Tiauw Tjong lahir di Probolinggo meraih gelar doktor di Delft pada tahun 1922 dengan disertasi “De Industrialisastie van China”; dan Tan Sin Hok lahir di Tjipadang (Garoet) meraih gelar doktor di Delft pada tahun 1927 dengan disertasi berjudul “Over de Samenstelling en het Ontstaan van Krijt en Mergelgesteenten van de Molukken”.
Kedua doktor ini juga kembali ke tanah air di Indonesia. Tan Sin Hok bekerja di Atjeh dan Tan Sin Hok bekerja di Batavia. Sementara itu doktor-doktor Indonesia lainnya yang keseluruhan sebanyak 81 doktor umumnya di bidang kedokteran, hukum, sastra dan filsafat, kedokteran hewan dan ekonomi serta ada satu di bidang pertanian dan satu di bidang MIPA. Dalam hal ini termasuk Soemitro Djojohadikoesomo (ayah Presiden Prabowo) di bidang ekonomi lulus tahun 1942. Bagaimana dengan generasi Republik Indonesia (sejak 1945). Seperti disebut di atas pada tahun 1957 terinformasikan nama Oetarjo Diran. Bagaimana pula mahasiswa Indonesia di era Technische Universiteit Delft (TU Delft)?
Singkatnya lagi, nama Technische Universiteit Delft pertama kali terinformasikan pada tahun 1986 (lihat Telegraaf, 05-07-1986). Ini terlihat dalam iklan (maklumat) yang dikeluarkan universitas baru tersebut. Nama baru ini secara resmi dimulai pada tanggal 1 September 1986 (pada saat mulai tahun ajaran baru). Dalam iklan ini juga logo ditampilkan (sedikit berbeda dengan logo yang sekarang). Saat ini masih ada beberapa mahasiswa Indonesia yang studi di Derlft.
Algemeen Dagblad, 03-02-1987: ‘Kebakaran Hebat: 2 Tewas. Autopsi Mengungkap: Bukan Hanya Luka Bakar. Dari Reporter Kami di Delft. Kebakaran hebat yang terjadi dini hari kemarin di lingkungan Tanthof, Delft, merenggut nyawa mahasiswa Indonesia Sigit (22) dan Areija (23), yang sedang belajar ilmu komputer dan teknik kedirgantaraan di Universitas Teknologi Delft. Polisi meyakini keduanya terkena bom molotov dan karena itu telah memanggil tim investigasi kriminal regional Holland Selatan. Autopsi pada kedua korban mengungkapkan bahwa, selain luka bakar parah akibat kebakaran hebat tersebut, mereka juga menderita luka-luka lainnya. Polisi menolak untuk mengungkapkan jenis luka-luka tersebut’.
Sejatinya mahasiswa Indonesia studi di Delft tidak pernah putus bahkan sejak kelahiran sekolah teknik di Delft. Sejauh ini tidak seorangpun orang Indonesia yang studi di Delft sejak 1875 yang tidak kembali ke tanah air. Bagaimana dengan masa ini? Dalam konteks inilah beberapa hari lalu terungkap ada orang Indonesia yang sudah lulus di TU Delft tidak kembali ke tanah air yang menjadi perbicangan di medsos. Lantas apa hubungan Delft dengan Indonesia (sejak era Hindia Belanda).
Pemerintah Kerajaan Belanda (Raja Willem II) merasa perlu untuk mendirikan Akademi Kerajaan untuk melatih insinyur. Akademi Kerajaan ini didirikan di Delft yang dibuka tahun 1842. Seiring dengan rencana pendirikan Akademi Delft tersebut, mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Jean Chrétien Baud, 1833-1836) yang menjadi Menteri Koloni (yang menggantikan van den Bosch) mengusulkan di Akademi Delft didirikan cabang yang melatih pegawai negeri Hndia Timur. Untuk tujuan, Roorda diangkat sebagai profesor bahasa Oriental, geografi, dan etnologi di akademi tersebut. Kombinasi yang tampaknya aneh antara teknik dan pelatihan pegawai negeri dijelaskan oleh Baud sebagai berikut: "Sejak tahun 1826, apa yang disebut system budaya telah diperkenalkan di Hindia, sebuah sistem yang telah menciptakan kebutuhan bahwa pelatihan pegawai negeri tidak boleh hanya bersifat linguistik, tetapi juga industri dan komersial". Philippus Pieter Roorda van Eysinga adalah akademisi yang diduga pertama mempelajari tentang bahasa Melayu dengan laporannya berjudul “Beknopte Maleische Spraakkunst en Chrestomathie, met Italiaansch en Arabisch karakter, benevens een volledig Hoog en Laag Maleisch en Nederduitsch Woordenboek, met Italiaansch karakter” yang diterbitkan tahun 1839 oleh penerbit Broese. Pendirian Akademi Delft terjadi selama masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Pieter Merkus (1841-1844). Pendirikan cabang yang melatih pegawai negeri Hindia Timur di Akademi Delft menyebabkan Instituut voor de Javaansche taal di Surakarta harus dibubarkan (1 Februari 1843).
Setelah pendirian Akademi Delft, selepas Menteri Baud tidak lagi sebagai Menteri Koloni, muncul gagasan pemerintah kerajaan Belanda untuk mengubah persyaratan pengangkatan pegawai negeri, orang-orang Indo Eropa di Hindia Belanda memberi reaksi keras dan sebuah pertemuan diadakan pada tanggal 22 Mei di Harmonie yang memunculkan gerakan Mei 1848, di mana penduduk Eropa menyampaikan keluhan dan keinginan mereka.
Sebuah pidato kepada Raja dirancang, di mana sikap khusus diambil terhadap persyaratan pendidikan di Belanda dan kondisi pendidikan yang buruk yang terkait dengannya. Situasi tersebut dijelaskan dalam pidato sebagai berikut: "Karena tidak seorang pun dapat dipertimbangkan untuk posisi yang membutuhkan studi kecuali mereka telah memperoleh pengetahuan dan keahlian mereka di Belanda, secara alami tidak ada lembaga pendidikan tinggi atau menengah di Hindia Belanda. Oleh karena itu, perhatian pemerintah sejauh ini hanya terbatas pada sekolah dasar; sementara hanya ada sedikit lembaga swasta yang bahkan tidak melampaui pendidikan dasar. Namun, sekolah-sekolah pemerintah ini jauh dari cukup untuk memberikan kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari semua penduduk Belanda. Ratusan orang tumbuh dewasa di Jawa saja tanpa pernah bersekolah!”.
Gubernur Jenderal Hindia Belanda Rochussen kemudian mengusulkan kepada Pemerintah Tertinggi untuk memperluas kesempatan pendidikan di Hindia dan menghapus monopoli Delft. Sejauh ini sekolah yang ada bagi orang Eropa hanya setingkat sekolah dasar (ELS) dan itu hanya terdapat di sejumlah kota. Bersamaan dengan itu, Pemerintah Hindia Belanda juga menganggap perlu memperluas pendidikan bagi pribumi. Ini dimulai surat edaran Menteri Koloni tanggal 16 Januari 1845, yang ditujukan oleh Baud kepada Gubernur Jenderal, menjadi tindakan pendirian pendidikan pribumi untuk non-Kristen. Kita dapat mendengar motif yang membimbing pendirian sekolah-sekolah pribumi tersebut.
Setelah Rochussen secara pribadi mencari informasi selama perjalanannya ke Jawa, ia menyampaikan sarannya kepada pemerintahan tertinggi (Het Opperbestuur) pada tanggal 20 April 1848. Di dalamnya, ia menyatakan bahwa pelatihan pemimpin pribumi yang kompeten sangat diperlukan; ia menunjuk pada peraturan baru tentang keadilan dan kepolisian di kalangan penduduk asli, "yang mengasumsikan tingkat pendidikan dan peradaban yang jauh lebih luas daripada yang sebenarnya ada." Ia memperkirakan pengeluaran untuk sekitar dua puluh "sekolah berasrama" dan perguruan tinggi pelatihan guru yang dibutuhkan sebesar ƒ 25.000 per tahun. Ini masih belum cukup. Rijk, Menteri Angkatan Laut, yang juga memegang portofolio sementara koloni, menganggap perlu untuk mendengarkan kasus Profesor Roorda. Ia sekali lagi membahas secara rinci masalah yang telah mendapat perhatian khusus: bahasa yang akan digunakan di sekolah-sekolah baru, yang tidak dapat mereka sepakati. Akhirnya, Rijk memecahkan kebuntuan: setelah tiga tahun diskusi tentang masalah ini antara Gubernur Jenderal dan Menteri, ia menyatakan... bahwa ini adalah masalah implementasi yang dapat diserahkan kepada pemerintah Hindia. Oleh karena itu, ia membatasi diri untuk mengusulkan kepada Raja agar sejumlah dana tertentu dimasukkan dalam anggaran tahunan untuk pendidikan penduduk asli. Maka lahirlah Dekrit Kerajaan tanggal 30 September 1848, no. 95, yang memberi wewenang kepada Gubernur Jenderal "untuk mengalokasikan dari anggaran Hindia sejumlah ƒ 25.000 setiap tahun untuk pendirian sekolah-sekolah di kalangan orang Jawa, terutama ditujukan untuk pelatihan pegawai negeri sipil pribumi"!). Detail lebih lanjut tentang semua ini lihat CA Van der Chijs dalam Tijdschr. Bat. Jenderal XIV (1864), hlm. 254–304. Dengan demikian, sungguh luar biasa, pada masa ketika revisi konstitusi sedang diselesaikan dan nama Thorbecke memenuhi udara, sebuah keputusan mengenai pendidikan di Hindia Timur diambil, yang signifikansinya hampir tidak dapat dilebih-lebihkan. Memang benar: pelatihan pegawai negeri sipil pribumi pada awalnya masih menjadi fokus utama, dan gagasan pendidikan umum bagi seluruh penduduk pribumi baru terwujud kemudian. Namun janji tersebut, yang sudah termasuk dalam peraturan pemerintah tahun 1818, kini terwujud untuk pertama kalinya. Terutama karena alasan inilah tahun 1848, yang sangat penting dalam berbagai alasan lain, juga merupakan tonggak sejarah pendidikan di Hindia Timur. Pemerintah Hindia Belanda merealisasikannnya pada tahun 1848. Sebuah dekrit pemerintah tanggal 30 Agustus 1851, memberikan peraturan yang diperlukan untuk pendirian perguruan tinggi pelatihan, yang dipimpin oleh Dr W Palmer van den Broek, seorang lulusan Akademi Delft. Pengawasan sekolah dipercayakan kepada residen. Setelah buku teks bahasa Jawa dan Melayu yang dibutuhkan tiba dari Belanda, sekolah akhirnya dapat dibuka pada April 1852. Dengan demikian, masa persiapan berakhir, dan pendidikan pribumi, yang telah didirikan, dapat berkembang dengan tenang dan bertahap. Oleh karena itu, fondasi pendidikan pribumi di Jawa diletakkan sebelum peraturan pemerintah tahun 1854, yang mengkodifikasi kebijakan liberal terhadap Hindia, diselesaikan. Apakah peraturan pemerintah yang baru tersebut memiliki sedikit pengaruh bagi pendidikan di Hindia? Jawabannya dapat sebagai berikut. Siapa pun yang mengira bahwa draf pertama peraturan pemerintah, yang diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat pada Oktober 1851, pasti memberikan gambaran yang jelas tentang kebijakan pendidikan kolonial pemerintahan Thorbecke, akan kecewa dengan harapan mereka. Satu-satunya pasal yang berkaitan dengan masalah ini terutama menetapkan bahwa pendidikan Belanda akan diberikan "di mana pun jumlah penduduk Eropa membutuhkannya" dan bahwa Gubernur Jenderal selanjutnya berkewajiban untuk mempromosikan pendidikan bagi penduduk asli "sesuai dengan kebutuhan khusus mereka." Suara baru hampir tidak terdengar di sini seperti dalam memorandum penjelasan yang sangat singkat, yang hanya sedikit lebih dari merujuk pada ketentuan konstitusional baru (Pasal 194), di mana pendidikan telah dinyatakan sebagai "objek perhatian berkelanjutan" bagi pemerintah. Penetapan Hindia Belanda sebagai "provinsi yang dapat ditaklukkan," yang dikaitkan dengan deklarasi "bahwa, kecuali untuk kemakmuran penduduk asli, provinsi yang ditaklukkan itu akan terus memberikan Belanda manfaat materi yang menjadi tujuan dari akuisisi. Perlu ditambahkan di sini Fransen van de Putte adalah inisiator dari kebijakan pendidikan liberal di Hindia: dialah yang mengakhiri monopoli Akademi Delft dan membuka hubungan nasional di Hindia bagi orang-orang dari semua kebangsaan dan dengan pendidikan sebelumnya apa pun. Namun demikian, kesenjangan yang sensitif tetap ada selama Hindia Belanda masih kekurangan lembaga untuk pendidikan menengah dan persiapan pendidikan tinggi. juga menyadari hal ini. Pada tahun 1849, komite melaporkan kepada pemerintah bahwa mereka menganggap pendirian sekolah menengah sangat diinginkan, tetapi bahwa masalah ini "harus dikaitkan dengan pencabutan ketentuan yang memaksa orang tua dan wali untuk menyekolahkan anak-anak mereka di Belanda" karena jika tidak, hanya sejumlah kecil siswa yang akan mendaftar dalam pendidikan ini. Pemerintah kemudian memutuskan pada tahun 1852 untuk terlebih dahulu menunggu dan melihat apa hasil dari inisiatif swasta yang telah mengarah pada pendirian lembaga pendidikan menengah di sekitar Buitenzorg, "Institut Herwijnen," pada tahun 1851. Namun, ada beberapa harapan bahwa situasinya akan membaik. Menteri Pahud, yang hanya mengikuti dorongan maju Thorbecke dari jauh, menanggapi secara negatif keluhan yang diajukan pada Mei 1848: atas saran Baud, yang telah diangkat sebagai Anggota Dewan Negara, persyaratan pendidikan di Belanda tetap berlaku. Tetapi pada akhirnya, prospek perubahan tetap terbuka: "setelah hambatan-hambatan khusus yang masih menghalangi pendidikan ilmiah yang layak di Hindia telah dihilangkan sedemikian rupa sehingga pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu dapat diperoleh di sana". “Jika Anda memperoleh diploma Delft, maka saatnya telah tiba untuk mempertimbangkan perubahan dalam sistem yang ada mengenai kewajiban untuk mengikuti ujian di Belanda”. Demikianlah Pahud pada Januari 1851. Langkah penting pertama telah diambil dalam perjalanan menuju penghapusan monopoli Belanda. Kini giliran Hindia: segera setelah perkembangan sosial telah maju sedemikian rupa sehingga sekolah menengah dapat berkembang di sana, Belanda akan melepaskan hak eksklusifnya. Ketika Institut Herwijnen, setelah keberadaannya yang singkat, dibubarkan pada tahun 1856), gagasan tentang lembaga pemerintah untuk pendidikan menengah harus dihidupkan kembali. Komite utama berkonsultasi dengan anggota Dewan Hindia,
Lalu sekolah guru pribumi dibuka di Soerakarta pada tahun 1852. Seperti disebut di atas, Sati Nasoetion alias Willem Iskander berinisiatif melanjutkan studi keguruan ke Belanda tahun 1857 yang dengan akta guru Willem Iskander mendirikan sekolah guru di Tanobato, Mandailing, Tapanoeli pada tahun 1862. Dalam hal inilah Akademi Delft, mengambil peran dalam persiapan buku teks dan bahan bacaan untuk tujuan pemerintah. Pendirian sekolah, yang sejauh ini terhambat oleh kurangnya pengetahuan tentang bahasa asli di kalangan orang Eropa, kini tidak lagi menjadi masalah.
De Perez, yang telah ditugaskan oleh pemerintah dengan komite khusus mengenai pendidikan menengah. Negosiasi jangka panjang dan nasihat terbukti tidak lagi diperlukan: pada Januari 1859, raja mengizinkan pendirian sekolah tata bahasa di Batavia, yang akan menyandang namanya. Pada tahun 1860, sekolah tata bahasa Willem III dibuka. Rincian nasib sekolah ini—lembaga pemerintah pertama untuk pendidikan menengah yang didirikan setelah penghapusan "lembaga untuk wanita muda" pada tahun 1827—akan diberikan dalam bab selanjutnya. Namun, perlu dicatat segera bahwa sekolah baru ini bukanlah sekolah tata bahasa dalam pengertian saat ini. Dua departemen dibentuk: Departemen A enam tahun, ditujukan bagi mereka yang nantinya akan kuliah di universitas atau athenaeum, dan Departemen B empat tahun, yang meletakkan dasar bagi program pelatihan perwira di Breda (angkatan darat) dan Willemsoord (angkatan laut), untuk akademi di Delft, atau untuk "perdagangan dan industri". Pembagian antara kedua departemenDelft, atau untuk "perdagangan dan industri". Pemisahan antara kedua bagian tersebut terjadi setelah kelas terendah, sehingga nama modernnya istilah "gymnasium" (Gimnasium Willem III). Mengingat kebutuhan layanan tersebut, kelayakan untuk diangkat sebagai pegawai negeri sipil tidak boleh dibatasi hanya pada warga negara Belanda saja; seharusnya diperluas ke penduduk asli dan keturunan orang Eropa dan penduduk asli. Persaingan bebas dan umum harus berlaku dalam pemberian posisi; satu-satunya persyaratan untuk pengangkatan adalah "kompetensi, terlepas dari tempat dan cara kompetensi yang dibutuhkan diperoleh." Dengan demikian, Van de Putte merangkum pada bulan September 1864 usulan yang telah dia ajukan kepada Raja dan yang telah mendapat persetujuan Raja. "Monopoli buatan" Delft telah dipatahkan. Dekrit kerajaan tanggal 10 September 1864 menetapkan dua jenis ujian yang dapat memberikan akses ke layanan sipil: ujian pegawai negeri sipil tingkat rendah dan ujian pegawai negeri sipil tingkat tinggi). Yang pertama ditujukan untuk posisi yang lebih rendah: tujuannya adalah untuk "memungkinkan penempatan apa yang disebut anak-anak asli dan penduduk asli yang mungkin melamar posisi sebagai juru tulis, operator telegraf, atau posisi serupa dan dapat berguna dalam kapasitas tersebut." Ujian pegawai negeri sipil senior, seperti namanya, ditujukan untuk posisi pejabat yang lebih tinggi; pegawai negeri sipil di administrasi internal dari pangkat pengawas dan pegawai negeri sipil administrasi dengan pangkat kepala juru tulis atau lebih tinggi diharuskan untuk memiliki diploma ini. Seperti kita lihat nanti KW III School didirikan di Batavia pada tahun 1865.
Seperti disebut di atas, pada tahun 1864 Ismangoen Danoe Winoto berangkat studi ke Belanda. Lalu pada tahun 1874 Willem Iskander membawa tiga guru muda untuk melnajutkan studi keguruan. Ismangoen Danoe Winoto yang telah menyelesaikan studinya di HBS di BElanda tahun 1872 lalu melanjutkan studi ke Akademi Delft. Ismangoen Danoe Winoto lulus tahun 1875. Dalam hal ini Willem Iskander dan Ismangoen Danoe Winoto telah meletakkan fondasi bagi semangat pendidikan bagi pribumi.
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com















Tidak ada komentar:
Posting Komentar