Minggu, 01 Maret 2026

Sejarah Indonesia Jilid 6-5: Nama Indonesia dan Kongres Hindia di Belanda 1917; Nama-Nama Mahasiswa Usulkan Nama Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Dja Endar Moeda pernah menyatakan di Padang pada tahun 1897 bahwa pendidikan dan jurnalis sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mendirikan organisasi kebangsaan Indonesia pertama di Padang dengan nama “Medan Perdamaian”. Organisasi kebangsaan Indonesia pertama di Belanda didirikan oleh Soetan Casajangan pada tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging. Setelah Indische Vereeniging mengusulkan nama Indonesia dalam Kongres Hindia 1917 di Den Haag, Sorip Tagor pada tahun 1919 menyatakan bahwa pendidikan dan politik sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”. Sejarah Bahasa Indonesia


Meskipun pencetusan nama Indonesia secara ilmiah dimulai sejak 1850 oleh George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan, penggunaan nama tersebut dalam konteks politik formal oleh mahasiswa Indonesia di Belanda tercatat pada Kongres Hindia 1917 (Indische Congres) yang diselenggarakan di Den Haag. Pada kongres ini, gagasan untuk menggunakan nama "Indonesia" sebagai pengganti "Hindia Belanda" mulai menguat di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Evolusi Penggunaan Nama: 1850: Nama Indonesia awalnya dicetuskan oleh George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan sebagai istilah geografis untuk kepulauan Hindia Timur; 1917: Nama "Indonesia" diusulkan secara lebih luas dalam forum Kongres Hindia sebagai identitas bangsa; 1922: Indische Vereeniging mulai menggunakan kata "Indonesia" dalam tujuan politiknya; 1925: Organisasi tersebut resmi berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia; 1928: Nama Indonesia dikukuhkan secara nasional melalui Sumpah Pemuda; 1945: Nama Indonesia diadopsi dalam konstitusi negara Republik Indonesia (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah nama Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917? Seperti disebut di atas, nama Indonesia diusulkan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Indische Vereeniging dalam pada Kongres Hindia 1917 di Den Haag. Dalam hal ini siapa saja nama-nama mahasiswa yang hadir dalam pengusulan nama Indonesia tersebut? Lalu bagaimana sejarah nama Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Mahasiswa di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Nama Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917; Nama-Nama Mahasiswa yang Hadir dalam Pengusulan Nama Indonesia

Pada tahun 1911 Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pendiri dan ketua Indische Vereeniging di Belanda diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien (Organisasi para ahli/pakar bangsa Belanda di negeri Belanda dan di Hindia Belanda) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan pada tahun 1911 ini, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya. Beberapa kutipannya sebagai berikut: 


Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen): “...saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya” (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi). 

Soetan Casajangan menyelesaikan pendidikan dengan akta MO (sarjana pendidikan setingkat IKIP pada masa kini) tahun 1909. Pada tahun 1909 ini juga Raden Kartono (abang RA Kartini) menyelesaikan studi dalam bidang sastra. Soetan Casajangan  dan Raden Kartono tinggal di alamat yang sama di Leiden. Meski demikian keduanya belum segera kembali ke tanah air. Soetan Casajangan dengan sertifikat sarjananya mengajar bahasa Melayu di sekolah Handelschool di Amsterdam. 


Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 8, 1908, No. 52, 24-12-1908: ‘"Indische Vereeniging" (Perhimpunan Hindia). Kami sudah lama mengetahui bahwa sebuah asosiasi mahasiswa India di negara ini sedang dalam proses pembentukan. Ketika kami baru-baru ini membaca laporan tentang hal ini di surat kabar utama, kami bertanya kepada Bapak R. Soetan Casajangan tentang hal itu dan menerima balasan berikut: Leiden, 22 Desember 1908. "Menanggapi surat Anda kemarin, dengan sopan saya memberitahukan hal berikut: Tiga tahun yang lalu, saya sudah berencana untuk mendirikan sebuah asosiasi untuk orang India di negara ini. Karena saya terlalu sibuk saat itu, saya tidak dapat melaksanakan rencana saya. Pada bulan Juni tahun ini, Bapak JH Abepdanon datang menemui saya dan bertanya apakah saya pernah mempertimbangkan untuk mendirikan sebuah asosiasi untuk orang-orang India. Saya menjawab ya, dan beliau kemudian mendorong saya untuk melanjutkan rencana yang bermanfaat ini. Saya kemudian memilih salah satu orang India sebagai kolaborator saya, RM Soemitro. Kami lalu mengirim surat kepada semua orang Hindia yang belajar di Belanda. Janji temu untuk menghadiri pertemuan pendirian. Pada tanggal 25 Oktober 1911, pukul 14.00, kami, 15 orang Hindia, berkumpul di kediaman saya, Hoogewoerd 49, Leiden, dan pertemuan pertama diadakan. Saya menginstruksikan Soemitro untuk memimpin pertemuan; R Hoesein Djajadiningrat adalah sekretaris sementara. Setelah pidato pembukaan oleh ketua sementara, draf anggaran dasar dan peraturan internal dibacakan. Anggaran dasar sementara disetujui secara prinsip dengan suara bulat dan diputuskan untuk mendirikan "Indische Vereeniging". Kemudian kami melanjutkan pemilihan pengurus. a. R Soetan Casajangan Soripada terpilih sebagai ketua asosiasi. b. RM Soemitro diangkat sebagai sekretaris dan bendahara. Atas nama asosiasi, ketua sementara mengucapkan terima kasih kepada Soetan Casajangan Soripada atas inisiatifnya dan mengucapkan selamat kepada kedua pria tersebut atas pengangkatan mereka. Sebuah komite, yang terdiri dari R Soetan Casajangan Soripada, RM Soemitro, RM P Sosro Kartono, dan R Hoesain Djajadiningrat ditunjuk untuk menyusun lebih lanjut anggaran dasar dan peraturan. Pertemuan kedua diadakan di Den Haag pada tanggal 15 November 1911. Ketua membuka pertemuan, dan komite membahas anggaran dasar dan peraturan; anggaran dasar ditinjau dan disetujui satu per satu dan kemudian diadopsi secara bulat. Ketua mengucapkan terima kasih kepada komite, anggota asosiasi, dll., dan menutup pertemuan. Inilah sejarah "Indische Vereeniging". Jika Anda bermaksud untuk membagikan ini di majalah mingguan kami, juga sebagai insentif untuk bergabung sebagai donatur, dll., maka ini mendapat simpati penuh saya. Pada saat yang sama, saya juga mengirimkan salinan anggaran dasar dan peraturan kepada Anda”. Dari anggaran dasar ini (yang juga tersedia untuk dibaca di meja baca di Heuïstraat 17), kami mengutip beberapa pasal: Pasal 1. Perhimpunan ini bernama “Indische Vereeniging” (Perhimpunan Hindia) dan didirikan di Den Haag. Pasal 2. Tujuan Perhimpunan adalah untuk mempromosikan kepentingan bersama warga Hindia di Belanda dan untuk menjaga kontak dengan Hindia Belanda. Yang dimaksud dengan warga Hindia adalah penduduk pribumi Hindia Belanda. Pasal 3. Perhimpunan berupaya mencapai tujuan ini dengan: a. Mempromosikan interaksi antar warga Hindia di Belanda. b. Mendorong warga Hindia untuk datang dan belajar di Belanda. Pasal 2 Anggaran Dasar memberikan penjelasan¹ untuk hal ini: Perhimpunan berupaya mendorong warga Hindia untuk datang dan belajar di Belanda dengan: a. memberikan informasi tentang belajar dan tinggal di Belanda; b. membantu warga Hindia yang baru tiba; c. memberikan semua informasi yang mungkin tentang Belanda atas permintaan. Lebih lanjut, Pasal 5 Anggaran Dasar menyatakan: Perhimpunan terdiri dari: a. Anggota biasa; b. Anggota kehormatan; c. Donatur. Pasal 6. Hanya warga Hindia yang tinggal di Belanda yang berhak menjadi anggota. Pasal 7. Anggota kehormatan adalah mereka yang telah memberikan jasa khusus kepada Perhimpunan. Mereka diangkat atas rekomendasi dewan atau tiga anggota, dengan setidaknya 3/4 suara sah yang diberikan. Pasal 8. Donatur adalah mereka yang membayar biaya keanggotaan tahunan minimal ƒ3 atau sejumlah uang minimal ƒ15. Tidak perlu kami tambahkan bahwa kami sangat menyarankan pembaca kami untuk mendukung Perhimpunan yang berharga ini sebagai tanda minat dengan menjadi sponsor”. 

Seperti dikutip di atas, Indische Vereeniging sendiri didirikan di Leiden tahun 1908 yang diinisiasi oleh Soetan Casajangan. Pada tahun 1911 masa jabatan ketua Indische Vereeniging Soetan Casajangan setelah melalui pemilihan terpilih Noto Soeroto yang akan menjadi ketua Indische Vereeniging.


Pada tahun 1911 Soetan Casajangan menginisiasi pendirian Studiefond (dana pendidikan) bersama Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon. Pendirian Studiefond dimaksudkan untuk mengumpulkan dana dari berbagai sumber untuk membiayai mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kesulitan dana di Belanda. Studiefond juga memberi bantuan finansial awal bagi pelajar Indonesia yang sedang mempersiapkan keberangkatan studi ke Belanda. Sementara itu, dalam Kongres Boedi Oetomo tahun 1911 yang diadakan di Jogjakarta disebutkan program utama Boedi Oetomo adalah memperluas jangkauan pendidikan dan peningkatan kualitas guru Jawa. Pada tahun 1911 ini juga Pengurus Boedi Otomo mengirim satu guru muda bernama Sjamsi Sastra Widagda ke Belanda untuk studi keguruan yang dititipkan kepada Soetan Casajangan. 

Untuk menanggapi atas didirikannya Indische Partij di Bandoeng Noto Soeroto merasa perlu untuk memberi reaksi. Intinya, Noto Soeroto menyatakan Indische Vereeniging didirikan sebagai fondasi untuk jangka panjang dan hanya ditujukan untuk membangun bangsa sendiri (baca: bangsa pribumi). Indische Vereeniging dan Indische Partij memiliki tujuan yang sama tetapi dengan cara yang berbeda. 


De Sumatra post, 17-02-1913: ‘Suara pribumi di Belanda tentang Indische Partij. Noto Soeroto, salah satu pemimpin mahasiswa pribumi di Belanda, menulis di "Nieuwe Courant" Den Haag sebuah opini tentang Indische Partij dari sudut pandang Indische Vereeniging, yang menyatukan penduduk pribumi yang tinggal di Belanda. Mengingat komitmen terhadap perjuangan untuk hak dan kemajuan Hindia, dan karena itu juga kita, penduduk pribumi, kita tidak boleh bersimpati kepadanya (Douwes Dekker)", kata Noto Soeroto. "Dan bahkan kemudian, kita dapat sepenuhnya setuju dengan Partai Hindia pada prinsipnya. Menurut pandangan Doouwes Dekker, apa yang menjadi ciri khas Indiers sejati ini? Dia melihat mereka, bukan dalam ras, atau dalam keseimbangan, tetapi semata-mata dalam perasaan tanah air kita, Hindia. Tidak ada kontradiksi berdasarkan perbedaan kelahiran geografis, misalnya. Terdapat antitesis antara penduduk pribumi yang lahir di Hindia Belanda dan penduduk Belanda "totok". Jika seseorang mencari keseriusan penduduk pribumi yang belajar atau pernah belajar di Belanda, ia akan menemukan bahwa penghargaan dan kasih sayang merupakan inti utamanya. Terhadap segala sesuatu yang bahkan sedikit pun mendekati "kebencian," sebuah sentimen yang dulu kita anggap, di antara kita penduduk pribumi, bukanlah ide yang baik. Mungkinkah sebaliknya? Kita tidak belajar untuk memahami karakter suatu bangsa dengan lebih baik selain di negara itu sendiri, dengan mempelajari tentang rakyatnya; hubungan dan kontak antara kita dan individu-individu dari bangsa itu yang pada akhirnya menunjukkan arah di mana kita menyimpulkan penilaian kita terhadap bangsa itu. Tidak ada yang lebih mencolok daripada sentimen lembut dari bangsa Belanda ini, yaitu bahwa, sebagai tanggapan terhadap tuntutan populer, "kerja sama yang ramah dengan Belanda" termasuk konversi tujuan perhimpunan penduduk pribumi yang tinggal di Belanda, telah dimasukkan. Kita melihat bahwa arah Indische Partij dan Indische Vereeniging cenderung menuju tujuan yang sama, atau setidaknya tampak demikian, lanjut Noto Sieroto. Sudah menjadi sifat penduduk Belanda bahwa, pada akhirnya, semua orang memiliki cita-cita yang sama, masing-masing dalam kapasitas dan lingkupnya sendiri, oleh karena itu para pendukung gerakan baru ini harus menunjukkan dukungan mereka, setidaknya. Namun, jika kita melanjutkan perbandingan, kita akan melihat bahwa arahnya secara bertahap semakin menjauh daripada mendekat. Pertama, jarak yang tepat dari tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi ini, tujuan besar: pembebasan tanah dan rakyat Hindia. Indische Partij menginginkan pemisahan diri dari Belanda sebagai negara merdeka, di mana setiap anggota harus menangani detail mekanisme yang rumit. Namun, kita tidak tahu bagaimana Indische Partij membayangkan negara merdeka tersebut. Misalnya, turis India dengan bahasa gaul yang ada di sana pada abad pertama belum begitu matang. Oleh karena itu, Indische Vereeniging tidak menetapkan tujuan yang terlalu tinggi dan hanya bertanya pada diri sendiri tujuan apa yang, menurut perhitungan manusia, dapat dicapai. Kemudian, hal itu sampai pada kesimpulan mengenai upaya mereka dalam pengembangan masyarakat, ekonomi, dan politik, dll. Kami juga bersimpati dengan upaya boikot dan propaganda Indische Partij, ancaman kekerasan, dan bahasa provokatif yang membangkitkan emosi. Indische Vereeniging berupaya menjalin kerja sama yang ramah di antara orang pribumi dan orang Belanda. Tidak perlu membandingkan para pendahulu terlalu jauh. Perbedaannya dapat dijelaskan dalam beberapa kata: Indische Partij yang anti-Nsderlandsch-nationaal, sedangkan Indische Vereeniging mencegah yang mengandung benih perselisihan dan keresahan, yang justru merupakan kerja sama yang intens di masa kini; yang kedua berupaya mendekati gagasan persatuan dari begitu banyak orang hebat. Sentimen ini lazim dalam berbagai cara di antara kita: misalnya, malas; tanpa ketamakan, lesu, baik di kalangan pribadi maupun di antara orang asing. Semoga kebaikan Tjipto menyertai Indische Partij, jika keselamatan sejati negara dan rakyat kita adalah apa yang diinginkannya’. Catatan: Indische Vereeniging dibangun di atas kemampuan pribumi di Belanda (melalui pendidikan) sementara Indische Partij dalam konteks kemampuan orang Indo/Belanda di Hindia (dalam konteks ekonomi).

Soetan Casajangan telah membangun fondasi yang kuat bagi bangsa Indonesia (baca: pribumi) di Belanda, yakni mendirikan organisasi pelajar/mahasiswa Indische Vereeniging tahun 1908 dan Studiefond tahun 1911 yang bertujuan untuk meringankan pelajar/mahasiswa pribumi di Belanda. Dalam hal ini Soetan Casajangan guru tetaplah guru, guru dengan status sarjana pendidikan (akta MO). Sementara itu di tanah air, telah didirikan Indische Partij di Bandoeng pada tahun 1912. Namun Indische Partij harus dibubarkan pada bulan Maret 1913. 


Indische Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda yang secara terang-terangan menuntut pemisahaan Hindia Belanda dari Belanda. Didirikan pada 25 Desember 1912 di Bandung oleh EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Semboyan Indische Partij adalah "Indie voor Indiers" (Hindia untuk orang Hindia). Indische Partij bertujuan menyatukan seluruh golongan masyarakat di Hindia Belanda (baik pribumi maupun keturunan Indo, Cina, dan Arab). Karena dianggap subversif dan berbahaya bagi stabilitas kolonial, pemerintah Belanda menolak status badan hukum IP pada 4 Maret 1913. Pimpinan partai akhirnya membubarkan organisasi ini pada 31 Maret 1913. Ketiga pendiri diasingkan ke Belanda pada tanggal 6 September 1913. Suksesi Indische Partij adalah organisasi bernama “Insulinde”. 


Pada bulan Juli 1913 Soetan Casajangan kembali ke tanah air. Soetan Casajangan akan diangkat sebagai direktur sekolah guru di Fort de Kock (kini Bukittinggi). Sebelum berangkat ke tanah air, Soetan Casajangan mendelegasikan Studiefond ke Indische Vereeniging yang masih dijabat oleh Noto Soeroto. Soetan Casajangan juga pada tahun 1913 kembali menerbitkan buku di Belanda yang diberi judul “Indische toestanden gezien door een Inlander” (Kondisi di Hindia dilihat dari sudut pandang penduduk asli) yang diterbitkan Uitgever Hollandia-Drukkerij di Baarn.


Sebelum ditempatkan sebagai direktur sekolah guru pribumi di Fort de Kock, untuk sementara waktu ditempatkan di sekolah ELS di Buitenzorg (kini Bogor). Pada saat ini yang menjadi assisten dosen di sekolah kedokteran hewan (Veeartsenschool) di Buitenzorg adalah Sorip Tagor Harahap. Saat Soetan Casajangan sudah berada di Fort de Kock mengetahui ada dua guru muda alumni sekolah guru tersebut yang terbilang cakap di Soeliki bernama Dahlan Abdoellah dan Saidi Ibrahim gelar Maharadja Soetan di Padang yang sebelumnya mengajar di Soeliki (guru yang digantikan oleh Dahlan Abdoellah). Pada akhir tahun 1913 Sorip Tagor, Dahlan Abdoellah dan Saidi Ibrahim gelar Maharadja Soetan alias Tan Malaka sudah terinformasikan di Belanda. Tentu saja pada tahun 1913 ini di Belanda yang terhubung dengan Soetan Casajangan masih ada sepertti Toedoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, Mangaradja Soangkoepon dan Sjamsi Sastra Widagda. Sementara itu, saat Soetan Casajangan tiba di Padang dan Fort d Kock senior ya Dja Endar Moeda pemimpin surat kabar Pertja Barat telah diusir dari Padang setelah terkena delik dengan hukuman cambuk pada tahun 1907. Dja Endar Moeda pendiri organisasi kebangsaan pertama di Pada tahun 1900 sudah berada di Medan sebagai pemimpin surat kabar Pewarta Deli. Seperti dikutip di atas, Dja Endar Moeda pernah menyatakan di Padang pada tahun 1897 bahwa pendidikan dan jurnalis sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”. Dja Endar Moeda, pensiunan guru yang menjadi jurnalis adalah orang yang membawa Soetan Casajangan ke Belanda untuk melanjutkan studi tahun 1903. Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda sendiri adalah kakak kelas Soetan Casajangan di sekolah guru Padang Sidempoean. Kebetulan Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan, Soetan Goenoeng Moelia, Mangaradja Soangkoepon dan Sorip Tagor sama-sama kelahiran Padang Sidempoean. 

Soetan Casajangan sudah berada di tanah air sebagai direktur sekolah guru. Namun buah pikirannya di Belanda terus menggelinding. Buah pikiran yang disampaikannya dalam pidato di hadapan forum Vereeniging Moederland en Kolonien pada tahun 1911 dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (Peningkatan Pendidikan bagi Masyarakat Pribumni) dan bukunya yang diterbitkan di Belanda pada tahun 1913 berjudul “Indische toestanden gezien door een Inlander” (Kondisi di Hindia Dilihat dari Sudut Pandang Penduduk Pribumi). 


Soetan Casajangan adalah orang Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana pendidikan (akta MO) pada tahun 1909. Untuk mendapatkan akta MO harus terlebih dahulu mendapatkan akta LO. Lalu siapa berikutnya? Pada bulan September 1915 Sam Ratulangi diberitakan telah lulus ujian dan mendapat akta guru MO Matematika (lihat Het vaderland, 13-09-1915). Tan Malaka mendapat akta guru MO tahun 1916. Bagaimana dengan yang lainnya? Sjamsi Widagda mendapat akta guru LO di Belanda tahun 1913, tetapi kemudian melanjutkan studi di bidang perdagangan (ekonomi); Toedoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia lulus ujian akta guru LO pada tahun 1915 di Leiden. Pada bulan Juni 1915 Dahlan Abdoellah diberitakan lulus ujian guru acta LO di Den Haag (lihat Het vaderland, 03-06-1915). Pada bulan ini diberitakan RM Soewardi Soerjaningrat lulus ujian saringan masuk untuk berpartisipasi untuk mendapatkan akte guru hulp acte atau LO (lihat Haagsche courant, 18-06-1915). Guru-guru muda inilah yang berpartisipasi aktif dalam Kongres Pendidikan di Belanda tahun 1916. 

Pada tahun 1916 Kongres Pendidikan Hindia diadakan di Belanda. Kongres pendidikan Hindia di Belanda ini membahas soal pendidikan bagi golongan Eropa/Belanda. Timur asing/Cina dan pribumi. Disebutkan dalam kongres ini Dahlan Abdoellah, guru bahasa Melayu sebagai salah satu anggota dari salah satu komisi/bidang pada kongres tersebut. 


Pada tahun 1916 Indische Vereeniging disebutkan diketuai oleh Raden Loekman Djajadiningrat (lihat Dagblad van Zuid-Holland en 's-Gravenhage, 09-08-1916). Dalam kepengurusan ini Dahlan Abdoellah disebut sebagai archivaris. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Nama-Nama Mahasiswa yang Hadir dalam Pengusulan Nama Indonesia: Sorip Tagor, Notodiningrat, Dahlan Abdoellah, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Lainnya

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar