Minggu, 01 Maret 2026

Sejarah Indonesia Jilid 6-5: Nama Indonesia dan Kongres Hindia di Belanda 1917; Nama-Nama Mahasiswa Usulkan Nama Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Dja Endar Moeda pernah menyatakan di Padang pada tahun 1897 bahwa pendidikan dan jurnalis sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mendirikan organisasi kebangsaan Indonesia pertama di Padang dengan nama “Medan Perdamaian”. Organisasi kebangsaan Indonesia pertama di Belanda didirikan oleh Soetan Casajangan pada tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging. Setelah Indische Vereeniging mengusulkan nama Indonesia dalam Kongres Hindia 1917 di Den Haag, Sorip Tagor pada tahun 1919 menyatakan bahwa pendidikan dan politik sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”. Sejarah Bahasa Indonesia


Meskipun pencetusan nama Indonesia secara ilmiah dimulai sejak 1850 oleh George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan, penggunaan nama tersebut dalam konteks politik formal oleh mahasiswa Indonesia di Belanda tercatat pada Kongres Hindia 1917 (Indische Congres) yang diselenggarakan di Den Haag. Pada kongres ini, gagasan untuk menggunakan nama "Indonesia" sebagai pengganti "Hindia Belanda" mulai menguat di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Evolusi Penggunaan Nama: 1850: Nama Indonesia awalnya dicetuskan oleh George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan sebagai istilah geografis untuk kepulauan Hindia Timur; 1917: Nama "Indonesia" diusulkan secara lebih luas dalam forum Kongres Hindia sebagai identitas bangsa; 1922: Indische Vereeniging mulai menggunakan kata "Indonesia" dalam tujuan politiknya; 1925: Organisasi tersebut resmi berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia; 1928: Nama Indonesia dikukuhkan secara nasional melalui Sumpah Pemuda; 1945: Nama Indonesia diadopsi dalam konstitusi negara Republik Indonesia (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah nama Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917? Seperti disebut di atas, nama Indonesia diusulkan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Indische Vereeniging dalam pada Kongres Hindia 1917 di Den Haag. Dalam hal ini siapa saja nama-nama mahasiswa yang hadir dalam pengusulan nama Indonesia tersebut? Lalu bagaimana sejarah nama Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Mahasiswa di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Nama Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917; Nama-Nama Mahasiswa yang Hadir dalam Pengusulan Nama Indonesia

Pada tahun 1911 Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pendiri dan ketua Indische Vereeniging di Belanda diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien (Organisasi para ahli/pakar bangsa Belanda di negeri Belanda dan di Hindia Belanda) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan pada tahun 1911 ini, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya. Beberapa kutipannya sebagai berikut: 


Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen): “...saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya” (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi). 

Soetan Casajangan menyelesaikan pendidikan dengan akta MO (sarjana pendidikan setingkat IKIP pada masa kini) tahun 1909. Pada tahun 1909 ini juga Raden Kartono (abang RA Kartini) menyelesaikan studi dalam bidang sastra. Soetan Casajangan  dan Raden Kartono tinggal di alamat yang sama di Leiden. Meski demikian keduanya belum segera kembali ke tanah air. Soetan Casajangan dengan sertifikat sarjananya mengajar bahasa Melayu di sekolah Handelschool di Amsterdam. 


Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 8, 1908, No. 52, 24-12-1908: ‘"Indische Vereeniging" (Perhimpunan Hindia). Kami sudah lama mengetahui bahwa sebuah asosiasi mahasiswa India di negara ini sedang dalam proses pembentukan. Ketika kami baru-baru ini membaca laporan tentang hal ini di surat kabar utama, kami bertanya kepada Bapak R. Soetan Casajangan tentang hal itu dan menerima balasan berikut: Leiden, 22 Desember 1908. "Menanggapi surat Anda kemarin, dengan sopan saya memberitahukan hal berikut: Tiga tahun yang lalu, saya sudah berencana untuk mendirikan sebuah asosiasi untuk orang India di negara ini. Karena saya terlalu sibuk saat itu, saya tidak dapat melaksanakan rencana saya. Pada bulan Juni tahun ini, Bapak JH Abepdanon datang menemui saya dan bertanya apakah saya pernah mempertimbangkan untuk mendirikan sebuah asosiasi untuk orang-orang India. Saya menjawab ya, dan beliau kemudian mendorong saya untuk melanjutkan rencana yang bermanfaat ini. Saya kemudian memilih salah satu orang India sebagai kolaborator saya, RM Soemitro. Kami lalu mengirim surat kepada semua orang Hindia yang belajar di Belanda. Janji temu untuk menghadiri pertemuan pendirian. Pada tanggal 25 Oktober 1911, pukul 14.00, kami, 15 orang Hindia, berkumpul di kediaman saya, Hoogewoerd 49, Leiden, dan pertemuan pertama diadakan. Saya menginstruksikan Soemitro untuk memimpin pertemuan; R Hoesein Djajadiningrat adalah sekretaris sementara. Setelah pidato pembukaan oleh ketua sementara, draf anggaran dasar dan peraturan internal dibacakan. Anggaran dasar sementara disetujui secara prinsip dengan suara bulat dan diputuskan untuk mendirikan "Indische Vereeniging". Kemudian kami melanjutkan pemilihan pengurus. a. R Soetan Casajangan Soripada terpilih sebagai ketua asosiasi. b. RM Soemitro diangkat sebagai sekretaris dan bendahara. Atas nama asosiasi, ketua sementara mengucapkan terima kasih kepada Soetan Casajangan Soripada atas inisiatifnya dan mengucapkan selamat kepada kedua pria tersebut atas pengangkatan mereka. Sebuah komite, yang terdiri dari R Soetan Casajangan Soripada, RM Soemitro, RM P Sosro Kartono, dan R Hoesain Djajadiningrat ditunjuk untuk menyusun lebih lanjut anggaran dasar dan peraturan. Pertemuan kedua diadakan di Den Haag pada tanggal 15 November 1911. Ketua membuka pertemuan, dan komite membahas anggaran dasar dan peraturan; anggaran dasar ditinjau dan disetujui satu per satu dan kemudian diadopsi secara bulat. Ketua mengucapkan terima kasih kepada komite, anggota asosiasi, dll., dan menutup pertemuan. Inilah sejarah "Indische Vereeniging". Jika Anda bermaksud untuk membagikan ini di majalah mingguan kami, juga sebagai insentif untuk bergabung sebagai donatur, dll., maka ini mendapat simpati penuh saya. Pada saat yang sama, saya juga mengirimkan salinan anggaran dasar dan peraturan kepada Anda”. Dari anggaran dasar ini (yang juga tersedia untuk dibaca di meja baca di Heuïstraat 17), kami mengutip beberapa pasal: Pasal 1. Perhimpunan ini bernama “Indische Vereeniging” (Perhimpunan Hindia) dan didirikan di Den Haag. Pasal 2. Tujuan Perhimpunan adalah untuk mempromosikan kepentingan bersama warga Hindia di Belanda dan untuk menjaga kontak dengan Hindia Belanda. Yang dimaksud dengan warga Hindia adalah penduduk pribumi Hindia Belanda. Pasal 3. Perhimpunan berupaya mencapai tujuan ini dengan: a. Mempromosikan interaksi antar warga Hindia di Belanda. b. Mendorong warga Hindia untuk datang dan belajar di Belanda. Pasal 2 Anggaran Dasar memberikan penjelasan¹ untuk hal ini: Perhimpunan berupaya mendorong warga Hindia untuk datang dan belajar di Belanda dengan: a. memberikan informasi tentang belajar dan tinggal di Belanda; b. membantu warga Hindia yang baru tiba; c. memberikan semua informasi yang mungkin tentang Belanda atas permintaan. Lebih lanjut, Pasal 5 Anggaran Dasar menyatakan: Perhimpunan terdiri dari: a. Anggota biasa; b. Anggota kehormatan; c. Donatur. Pasal 6. Hanya warga Hindia yang tinggal di Belanda yang berhak menjadi anggota. Pasal 7. Anggota kehormatan adalah mereka yang telah memberikan jasa khusus kepada Perhimpunan. Mereka diangkat atas rekomendasi dewan atau tiga anggota, dengan setidaknya 3/4 suara sah yang diberikan. Pasal 8. Donatur adalah mereka yang membayar biaya keanggotaan tahunan minimal ƒ3 atau sejumlah uang minimal ƒ15. Tidak perlu kami tambahkan bahwa kami sangat menyarankan pembaca kami untuk mendukung Perhimpunan yang berharga ini sebagai tanda minat dengan menjadi sponsor”. 

Seperti dikutip di atas, Indische Vereeniging sendiri didirikan di Leiden tahun 1908 yang diinisiasi oleh Soetan Casajangan. Pada tahun 1911 masa jabatan ketua Indische Vereeniging Soetan Casajangan setelah melalui pemilihan terpilih Noto Soeroto yang akan menjadi ketua Indische Vereeniging.


Pada tahun 1911 Soetan Casajangan menginisiasi pendirian Studiefond (dana pendidikan) bersama Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon. Pendirian Studiefond dimaksudkan untuk mengumpulkan dana dari berbagai sumber untuk membiayai mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kesulitan dana di Belanda. Studiefond juga memberi bantuan finansial awal bagi pelajar Indonesia yang sedang mempersiapkan keberangkatan studi ke Belanda. Sementara itu, dalam Kongres Boedi Oetomo tahun 1911 yang diadakan di Jogjakarta disebutkan program utama Boedi Oetomo adalah memperluas jangkauan pendidikan dan peningkatan kualitas guru Jawa. Pada tahun 1911 ini juga Pengurus Boedi Otomo mengirim satu guru muda bernama Sjamsi Sastra Widagda ke Belanda untuk studi keguruan yang dititipkan kepada Soetan Casajangan. 

Untuk menanggapi atas didirikannya Indische Partij di Bandoeng Noto Soeroto merasa perlu untuk memberi reaksi. Intinya, Noto Soeroto menyatakan Indische Vereeniging didirikan sebagai fondasi untuk jangka panjang dan hanya ditujukan untuk membangun bangsa sendiri (baca: bangsa pribumi). Indische Vereeniging dan Indische Partij memiliki tujuan yang sama tetapi dengan cara yang berbeda. 


De Sumatra post, 17-02-1913: ‘Suara pribumi di Belanda tentang Indische Partij. Noto Soeroto, salah satu pemimpin mahasiswa pribumi di Belanda, menulis di "Nieuwe Courant" Den Haag sebuah opini tentang Indische Partij dari sudut pandang Indische Vereeniging, yang menyatukan penduduk pribumi yang tinggal di Belanda. Mengingat komitmen terhadap perjuangan untuk hak dan kemajuan Hindia, dan karena itu juga kita, penduduk pribumi, kita tidak boleh bersimpati kepadanya (Douwes Dekker)", kata Noto Soeroto. "Dan bahkan kemudian, kita dapat sepenuhnya setuju dengan Partai Hindia pada prinsipnya. Menurut pandangan Doouwes Dekker, apa yang menjadi ciri khas Indiers sejati ini? Dia melihat mereka, bukan dalam ras, atau dalam keseimbangan, tetapi semata-mata dalam perasaan tanah air kita, Hindia. Tidak ada kontradiksi berdasarkan perbedaan kelahiran geografis, misalnya. Terdapat antitesis antara penduduk pribumi yang lahir di Hindia Belanda dan penduduk Belanda "totok". Jika seseorang mencari keseriusan penduduk pribumi yang belajar atau pernah belajar di Belanda, ia akan menemukan bahwa penghargaan dan kasih sayang merupakan inti utamanya. Terhadap segala sesuatu yang bahkan sedikit pun mendekati "kebencian," sebuah sentimen yang dulu kita anggap, di antara kita penduduk pribumi, bukanlah ide yang baik. Mungkinkah sebaliknya? Kita tidak belajar untuk memahami karakter suatu bangsa dengan lebih baik selain di negara itu sendiri, dengan mempelajari tentang rakyatnya; hubungan dan kontak antara kita dan individu-individu dari bangsa itu yang pada akhirnya menunjukkan arah di mana kita menyimpulkan penilaian kita terhadap bangsa itu. Tidak ada yang lebih mencolok daripada sentimen lembut dari bangsa Belanda ini, yaitu bahwa, sebagai tanggapan terhadap tuntutan populer, "kerja sama yang ramah dengan Belanda" termasuk konversi tujuan perhimpunan penduduk pribumi yang tinggal di Belanda, telah dimasukkan. Kita melihat bahwa arah Indische Partij dan Indische Vereeniging cenderung menuju tujuan yang sama, atau setidaknya tampak demikian, lanjut Noto Sieroto. Sudah menjadi sifat penduduk Belanda bahwa, pada akhirnya, semua orang memiliki cita-cita yang sama, masing-masing dalam kapasitas dan lingkupnya sendiri, oleh karena itu para pendukung gerakan baru ini harus menunjukkan dukungan mereka, setidaknya. Namun, jika kita melanjutkan perbandingan, kita akan melihat bahwa arahnya secara bertahap semakin menjauh daripada mendekat. Pertama, jarak yang tepat dari tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi ini, tujuan besar: pembebasan tanah dan rakyat Hindia. Indische Partij menginginkan pemisahan diri dari Belanda sebagai negara merdeka, di mana setiap anggota harus menangani detail mekanisme yang rumit. Namun, kita tidak tahu bagaimana Indische Partij membayangkan negara merdeka tersebut. Misalnya, turis India dengan bahasa gaul yang ada di sana pada abad pertama belum begitu matang. Oleh karena itu, Indische Vereeniging tidak menetapkan tujuan yang terlalu tinggi dan hanya bertanya pada diri sendiri tujuan apa yang, menurut perhitungan manusia, dapat dicapai. Kemudian, hal itu sampai pada kesimpulan mengenai upaya mereka dalam pengembangan masyarakat, ekonomi, dan politik, dll. Kami juga bersimpati dengan upaya boikot dan propaganda Indische Partij, ancaman kekerasan, dan bahasa provokatif yang membangkitkan emosi. Indische Vereeniging berupaya menjalin kerja sama yang ramah di antara orang pribumi dan orang Belanda. Tidak perlu membandingkan para pendahulu terlalu jauh. Perbedaannya dapat dijelaskan dalam beberapa kata: Indische Partij yang anti-Nsderlandsch-nationaal, sedangkan Indische Vereeniging mencegah yang mengandung benih perselisihan dan keresahan, yang justru merupakan kerja sama yang intens di masa kini; yang kedua berupaya mendekati gagasan persatuan dari begitu banyak orang hebat. Sentimen ini lazim dalam berbagai cara di antara kita: misalnya, malas; tanpa ketamakan, lesu, baik di kalangan pribadi maupun di antara orang asing. Semoga kebaikan Tjipto menyertai Indische Partij, jika keselamatan sejati negara dan rakyat kita adalah apa yang diinginkannya’. Catatan: Indische Vereeniging dibangun di atas kemampuan pribumi di Belanda (melalui pendidikan) sementara Indische Partij dalam konteks kemampuan orang Indo/Belanda di Hindia (dalam konteks ekonomi).

Soetan Casajangan telah membangun fondasi yang kuat bagi bangsa Indonesia (baca: pribumi) di Belanda, yakni mendirikan organisasi pelajar/mahasiswa Indische Vereeniging tahun 1908 dan Studiefond tahun 1911 yang bertujuan untuk meringankan pelajar/mahasiswa pribumi di Belanda. Dalam hal ini Soetan Casajangan guru tetaplah guru, guru dengan status sarjana pendidikan (akta MO). Sementara itu di tanah air, telah didirikan Indische Partij di Bandoeng pada tahun 1912. Namun Indische Partij harus dibubarkan pada bulan Maret 1913. 


Indische Partij adalah partai politik pertama di Hindia Belanda yang secara terang-terangan menuntut pemisahaan Hindia Belanda dari Belanda. Didirikan pada 25 Desember 1912 di Bandung oleh EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Semboyan Indische Partij adalah "Indie voor Indiers" (Hindia untuk orang Hindia). Indische Partij bertujuan menyatukan seluruh golongan masyarakat di Hindia Belanda (baik pribumi maupun keturunan Indo, Cina, dan Arab). Karena dianggap subversif dan berbahaya bagi stabilitas kolonial, pemerintah Belanda menolak status badan hukum IP pada 4 Maret 1913. Pimpinan partai akhirnya membubarkan organisasi ini pada 31 Maret 1913. Ketiga pendiri diasingkan ke Belanda berangkat dari Batavia pada tanggal 6 September 1913. Suksesi Indische Partij adalah organisasi bernama “Insulinde”. 


Pada bulan Februari 1913 Soetan Casajangan kembali ke tanah air berangkat dari Amsterdam. Soetan Casajangan akan diangkat sebagai direktur sekolah guru di Fort de Kock (kini Bukittinggi). Sebelum berangkat ke tanah air, Soetan Casajangan mendelegasikan Studiefond ke Indische Vereeniging yang masih dijabat oleh Noto Soeroto. Soetan Casajangan juga pada tahun 1913 kembali menerbitkan buku di Belanda yang diberi judul “Indische toestanden gezien door een Inlander” (Kondisi di Hindia dilihat dari sudut pandang penduduk asli) yang diterbitkan Uitgever Hollandia-Drukkerij di Baarn.


Sebelum ditempatkan sebagai direktur sekolah guru pribumi di Fort de Kock, untuk sementara waktu ditempatkan di sekolah ELS di Buitenzorg (kini Bogor). Pada saat ini yang menjadi assisten dosen di sekolah kedokteran hewan (Veeartsenschool) di Buitenzorg adalah Sorip Tagor Harahap. Saat Soetan Casajangan sudah berada di Fort de Kock mengetahui ada dua guru muda alumni sekolah guru tersebut yang terbilang cakap di Soeliki bernama Dahlan Abdoellah dan Saidi Ibrahim gelar Maharadja Soetan di Padang yang sebelumnya mengajar di Soeliki (guru yang digantikan oleh Dahlan Abdoellah). Pada akhir tahun 1913 Sorip Tagor, Dahlan Abdoellah dan Saidi Ibrahim gelar Maharadja Soetan alias Tan Malaka sudah terinformasikan di Belanda. Tentu saja pada tahun 1913 ini di Belanda yang terhubung dengan Soetan Casajangan masih ada sepertti Toedoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, Mangaradja Soangkoepon dan Sjamsi Sastra Widagda. Sementara itu, saat Soetan Casajangan tiba di Padang dan Fort d Kock seniornya Dja Endar Moeda pemimpin surat kabar Pertja Barat telah diusir dari Padang setelah terkena delik dengan hukuman cambuk pada tahun 1907. Dja Endar Moeda pendiri organisasi kebangsaan pertama di Pada tahun 1900 sudah berada di Medan sebagai pemimpin surat kabar Pewarta Deli. Seperti dikutip di atas, Dja Endar Moeda pernah menyatakan di Padang pada tahun 1897 bahwa pendidikan dan jurnalis sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”. Dja Endar Moeda, pensiunan guru yang menjadi jurnalis adalah orang yang membawa Soetan Casajangan ke Belanda untuk melanjutkan studi tahun 1903. Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda sendiri adalah kakak kelas Soetan Casajangan di sekolah guru Padang Sidempoean. Kebetulan Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan, Soetan Goenoeng Moelia, Mangaradja Soangkoepon dan Sorip Tagor sama-sama kelahiran Padang Sidempoean. 

Soetan Casajangan sudah berada di tanah air sebagai direktur sekolah guru. Namun buah pikirannya di Belanda terus menggelinding. Buah pikiran yang disampaikannya dalam pidato di hadapan forum Vereeniging Moederland en Kolonien pada tahun 1911 dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (Peningkatan Pendidikan bagi Masyarakat Pribumni) dan bukunya yang diterbitkan di Belanda pada tahun 1913 berjudul “Indische toestanden gezien door een Inlander” (Kondisi di Hindia Dilihat dari Sudut Pandang Penduduk Pribumi). 


Soetan Casajangan adalah orang Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana pendidikan (akta MO) pada tahun 1909. Untuk mendapatkan akta MO harus terlebih dahulu mendapatkan akta LO. Lalu siapa berikutnya? Pada bulan September 1915 Sam Ratulangi diberitakan telah lulus ujian dan mendapat akta guru MO Matematika (lihat Het vaderland, 13-09-1915). Tan Malaka mendapat akta guru MO tahun 1916. Bagaimana dengan yang lainnya? Sjamsi Widagda mendapat akta guru LO di Belanda tahun 1913, tetapi kemudian melanjutkan studi di bidang perdagangan (ekonomi); Toedoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia lulus ujian akta guru LO pada tahun 1915 di Leiden. Pada bulan Juni 1915 Dahlan Abdoellah diberitakan lulus ujian guru acta LO di Den Haag (lihat Het vaderland, 03-06-1915). Pada bulan ini diberitakan RM Soewardi Soerjaningrat lulus ujian saringan masuk untuk berpartisipasi untuk mendapatkan akte guru hulp acte atau LO (lihat Haagsche courant, 18-06-1915). Guru-guru muda inilah yang berpartisipasi aktif dalam Kongres Pendidikan di Belanda tahun 1916. 

Pada tahun 1916 Kongres Pendidikan Hindia diadakan di Belanda. Kongres pendidikan Hindia di Belanda ini membahas soal pendidikan bagi golongan Eropa/Belanda. Timur asing/Cina dan pribumi. Sudah barang tentu para anggota Indische Vereeniging akan turut menghadirinya. 


De avondpost, 21-03-1916: ‘Kongres Pendidikan Hindia. Kami telah diinformasikan: Kongres Pendidikan Hindia pertama akan diadakan pada tanggal 28, 29, dan 30 Agustus di Belanda. Topik-topik berikut akan dibahas: 1. Sejauh mana penggabungan pendidikan untuk kepentingan semua kelompok penduduk di Hindia Belanda diinginkan dan mungkin dilakukan? a. Bagaimana penggabungan ini harus dicapai? b. Jika penggabungan tidak diinginkan atau mungkin dilakukan: prinsip apa yang harus diterapkan pada pendidikan dasar dan menengah untuk kelompok penduduk non-Eropa ini? Pembicara: HJF Bord, mantan penasihat urusan Cina di Hindia Belanda; C Lekkerkerker, inspektur Hindia Belanda; A van Witzenburg, mantan guru Hindia Belanda. 2. Tempat apa yang harus ditempati oleh bahasa-bahasa asli, termasuk Cina dan Arab, dalam pendidikan, di satu sisi, dan bahasa Belanda di sisi lain? Pembicara: AG Boes, mantan inspektur pendidikan dalam negeri; HJE Borel; Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, sastra Jawa. 3. Atas dasar apa hubungan timbal balik antara pendidikan dasar dan menengah, serta hubungan dengan lembaga pendidikan menengah, harus dibangun? Pembicara: Prof Dr J Boeke van Leidieu; J Habbeina, mantan inspektur pendidikan internal; direktur. HD Tjeenk "Willink", Direktur Sekolah Pertanian Kol., Deventer. 4. Prinsip-prinsip apa yang membimbing pendidikan untuk kepentingan kelompok penduduk non-Eropa, berdasarkan misi Kristen? Hubungan apa yang seharusnya ada antara pemerintah dan misi sehubungan dengan pengawasan pendidikan? Pembicara: Dr N Adriani, Afiliasi dari Perhimpunan Alkitab Belanda; H Colijn, Anggota Senat (sendirian untuk pertanyaan kedua); Pastor Van Lith dari Moisintilan. 5. Apakah MULO di Hindia Belanda hanya berupa pendidikan sementara, atau haruskah juga mencakup pendidikan persiapan? Bagaimana pendidikan ini harus diorganisir? Pembicara: H Colijn; J den Hollander, residen dengan cuti; J Jonkers, guru residen dengan cuti. 6. Bagaimana pendidikan anak perempuan, yang termasuk dalam kelompok penduduk non-Eropa, harus didirikan? Tempat apa yang harus ditempati dalam pendidikan ini: sebagian bahasa asli, termasuk bahasa Cina dan Arab; sebagian bahasa Belanda? Apakah sekolah berasrama diperlukan untuk pendidikan ini? Jika ya, atas dasar apa? Apakah pelatihan bagi perempuan dari kelompok populasi non-Eropa untuk menjadi guru itu diinginkan? Jika ya, bagaimana hal ini harus dilakukan? Pembicara: A Limburg; inspektur sekolah distrik, mantan kepala sekolah di Tomohon; Nona MS van der Willigen, guru, sedang cuti. Haruskah guru yang berasal dari kelompok populasi non-Eropa diberi ruang yang cukup, termasuk dalam pendidikan yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar? Apakah pelatihan mereka, dengan dukungan negara, juga diinginkan di negara asal mereka? Dengan cara apa pelatihan ini harus diberikan? Bagaimana pelatihan ini harus diatur? Pembicara: Baginda Dahlan Abdoelllah, guru Melayu; Th Hilgers, mantan guru di Hindia; D Koelewijn, di Yogyakarta’. 

Dalam Kongres Pendidikan ini ada dua nama pribumi yang akan mengambil bagian Dahlan Abdoellah, guru bahasa Melayu dan Soewardi Soerjaningrat, sastra Jawa. Seperti disebut di atas Dahlan Abdoellah sudah lulus akta LO tahun 1915, sementara pada tahun 1915 Soewardi Soerjaningrat baru lulus ujian saringan masuk untuk untuk mendapatkan akte guru LO. Bagaimana dengan guru-guru pribumi lainnya di Belanda yang sudah mendapat akta guru LO seperti Sam Ratulangi (dan juga sudah mendapat akta MO), Tan Malaka, Sjamsi Widagda, Soetan Goenoeng Moelia? Dalam hal ini Soewardi Soerjaningrat tidak mewakili guru tetapi dalam bidang sastra (Jawa).

 

Namun dalam perkembangannya dalam Kongres Pendidikan yang akan segera diselenggarakan tidak ada lagi nama Soewardi Soerjaningrat (lihat De nieuwe courant, 05-07-1916). Mengapa? Boleh jadi topik yang akan dibicarakan hanya fokus pada bidang pendidikan/keguruan saja. Jadwalnya tetap di Den Haag pada tanggal 28, 29, dan 30 Agustus. Pada hari pertama sidang akan dipimpin JH Abendanon, mantan direktur OE dan N. di Hindia Belanda. Hari kedua pagi dipimpin JH. Abendanon. Hari ketiga pagi hari sipimpin Dr N Adriani, mantan misionaris, pada sore hari, dipimp[in HJ Abendanon dimana pada topik VII (Haruskah seorang guru yang berasal dari kelompok penduduk non-Eropa diberi tempat yang cukup, juga dalam pendidikan yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar? Apakah pelatihan mereka, dengan dukungan pemerintah, juga diinginkan di negara asal? Bagaimana pelatihan ini harus diatur? Diantara pembicara adalah Baginda Dahlan Abdoellah, guru Melayu. Sementara itu Dr D A Rinkes, penasihat urusan pribumi diminta memberikan saran mengenai bahasa-bahasa pribumi dan bahasa Arab dan Raden Kamil, wakil inspektur pendidikan pribumi di Semarang, diminta memberikan saran umum. Catatan: Raden Kamil adalah guru senior, lulus sekolah guru di Belanda pada tahun 1880. 

Pada jelang Kongres Pendidikan tersebut, pengurus baru Indisch Vereeniging dipimpin oleh Raden Loekman Djajadiningrat (lihat Dagblad van Zuid-Holland en 's-Gravenhage, 09-08-1916). Dalam kepengurusan ini Dahlan Abdoellah disebut sebagai archivaris.  Dalam hal ini tampaknya Dahlan Abdoellah memiliki portofolio tinggi di dalam Kongres Pendidikan. Selain pengurus Indische Vereeniging, juga sudah lulus akta guru LO di Belanda dan memiliki pengalaman mengajar di Hindia sebagai guru lulusan sekolah guru. Kongres Pendidikan Hindia pertama ini di bawah naungan Yang Mulia Pangeran Belanda, dengan Menteri Koloni, Th B Pleyte, sebagai ketua kehormatan. Raden Kamii, wakil inspektur pendidikan pribumi di Semarang, telah diundang ke kongres untuk memberikan rekomendasi umum. (lihat Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 25-08-1916). Disebutkan laporan tercetak dari publikasi umum ini akan diterbitkan. 


De nieuwe courant, 30-08-1916: ‘Bagindah Dahlan Abdoellah membahas beberapa bagian dari saran pendahuluannya. Pertama, pendidikan desa, yang sepenuhnya diberikan oleh guru asli dan masih sangat tidak memadai. Pembicara menganggap rasional untuk menggabungkan sekolah desa dan sekolah kelas dua menjadi satu sekolah komunitas. Sekolah kelas dua juga tertinggal, baik karena jumlah guru yang tidak mencukupi maupun pelatihan guru yang tidak memadai. Kemudian ia membahas pendidikan dasar Hindia, yang memiliki bahasa Belanda dalam kurikulumnya, yang meliputi sekolah Belanda-Cina, sekolah peribumi kelas satu atau sekolah Belanda-priobumi, dan sekolah dasar Eropa. Pembicara menganggap diinginkan bahwa guru non-Eropa harus menempati tempat yang menonjol dalam pendidikan anak-anak non-Belanda. Haruskah bahasa Belanda tetap menjadi media pengajaran? Guru non-Eropa, dalam hal apa pun, harus diberi ruang yang cukup. Untuk guru di sekolah-sekolah di mana bahasa Belanda adalah media pengajaran, ia menganggap pelatihan menyeluruh di Belanda diinginkan’. 

Nun jauh di tanah air, Soetan Casajangan yang sebelumnya direktur sekolah guru di Fort de Kock sumringah memperhatikan berita-berita tentang Kongres Pendidikan Hindia di Belanda dimana Dahlan Abdoellah berbicara mewakili pendidikan pribumi di Hindia. Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan adalah yang mendorong Dahlan Abdoellah untuk melanjutkan studi keguruan ke Belanda. Dahlan Abdoellah tidak hanya telah mendapat akta guru LO juga menjadi pembicara dalam Kongres Pendidikan Hindia di Belanda. Pada tahun 1916 ini Soetan Casajangan di Hindia menjadi salah satu kandidat untuk Adjunct-inspecteurs van het Inlandsch onderwijs (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-07-1916). Soetan Casajangan saat ini sebagai direktur sekolah guru di Amboina. 


Dagblad van Zuid-Holland en 's-Gravenhage, 29-08-1916 (Diringkas yang dianggap perlu saja): ‘Kongres Pendidikan Hindia. Dimulai dengan pameran. J van Aildel, ketua panitia pameran, menyampaikan sambutan pengantar untuk membuka pameran, yang bertujuan untuk merangsang persaingan di antara penulis dan ilustrator untuk mencapai yang terbaik di bidang ini. Pembicara berharap bahwa pameran tersebut akan berkontribusi pada keberhasilan kongres. Abendanon berterima kasih kepada panitia pameran atas kerja mereka. Di tengah tepuk tangan meriah dari para hadirin, ketua kemudian memberikan penghargaan kepada Profesor Kern yang baru tiba, yang, bahkan di usia lanjut, terus menunjukkan minat pada Hindia yang dicintainya. Sekretaris, Witsemburg, kemudian mengumumkan bahwa telegram yang mengumumkan pembukaan kongres dan memberikan penghormatan kepada Ratu telah diterima. Pemberitahuan ketidakhadiran telah diterima dari, antara lain, Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat serta dari Bapak Colijn dan Bapak Idehburg. Pembicara berikut tidak dapat hadir: H Colijn, J. den Hollander, D. Koelewijn, dan Pastor van Rijth. J den Hollander digantikan oleh Dr Van Geuns, Bapak Koelewijn oleh Dr Adriani, dan Pastor van Lith oleh Pastor van Rijckevoisel. Setelah para peserta berkeliling pameran, agenda selanjutnya adalah: Sejauh mana penggabungan pendidikan untuk kepentingan semua kelompok penduduk di Hindia Belanda diinginkan dan mungkin dilakukan? a. Bagaimana penggabungan ini harus dicapai? b. Jika penggabungan tidak diinginkan atau mungkin dilakukan: prinsip apa yang harus diterapkan pada pendidikan dasar dan menengah untuk kelompok penduduk non-Eropa? Rekomendasi awal tentang subjek ini telah dikeluarkan oleh Bapak TIJF Borel, mantan penasihat Urusan Cina di Hindia Belanda; C Lekkerkerker, mantan inspektur pendidikan; dan A van Witzenburg, mantan guru Hindia Timur. Mengambil alih palu dari Bapak Abendanon untuk diskusi topik ini….C Lekkerkerker, menjelaskan sarannya, mengatakan bahwa aturan pedagogis umum tidak boleh diabaikan, tetapi masyarakat Hindia harus diperhitungkan: "Principal reiterei" (berbagi kepala sekolah) bahkan lebih tidak dapat diterima di Hindia Timur daripada di Belanda. Pembicara menentang penyatuan pendidikan dasar, bukan karena ia menentang anak-anak pribumi, Cina, dan Eropa berbagi bangku yang sama, tetapi karena alasan pedagogis. Keberatan terhadap kegagalan mungkin akan berkurang. Pembicara ingin menunda pertanyaan tentang apakah penyatuan mungkin dilakukan hingga kongres cicit kita. Penyatuan tentu akan mungkin dilakukan dalam pendidikan berkelanjutan. Alasan praktisnya adalah: diperlukan satu set materi pengajaran, dan kurangnya sumber daya yang memadai. Dengan memberikan pendidikan Eropa secara eksklusif kepada penduduk asli, kita tidak menciptakan orang-orang yang berkarakter. Tetapi kita juga tidak boleh menghilangkan semua prasangka Eropa. Tidak ada keberpihakan, tidak ada yang berlebihan. Konsep-konsep baru diperkenalkan dengan menghubungkannya dengan yang lama. Unsur-unsur peradaban India harus dimasukkan ke dalam sistem pendidikan sesegera mungkin. Untuk tujuan ini, sistem pendidikan harus diubah dan ditingkatkan. Banyak perempuan sekarang harus beristirahat dari ketidaktahuan, tetapi itu tidak boleh terus berlanjut. Anak harus dipersiapkan untuk menghidupi dirinya sendiri. Kita tidak boleh berlebihan jika siswa asli masih membuat kesalahan idiom. Banyak waktu terbuang untuk itu. Koreksi kesalahan-kesalahan ini dapat diserahkan kepada pendidikan menengah. Asimilasi ras akan menjadi alasan mengapa dalam 25 tahun, orang-orang tidak akan lagi peduli sama sekali tentang pertanyaan: asli, Cina. atau orang Eropa di ruang kelas. Witzenburg akan menjelaskan tidak hanya saran awalnya tetapi juga saran Borel. Pembicara sepenuhnya setuju dengan Borel tentang penggabungan tersebut. Penggabungan ini bukanlah pertanyaan yang dapat diselesaikan secara matematis. Ini adalah pertanyaan tentang wawasan, yang banyak dapat dikatakan tetapi tidak ada yang dapat dibuktikan. Apakah penggabungan itu diinginkan? Itu tergantung pada kita apakah kita menerimanya atau tidak. Pertanyaannya bukanlah apakah itu diinginkan, tetapi apakah hal itu perlu dan harus terjadi. Di sini juga, pepatah berlaku: "Di masa lalu terdapat masa kini," dan seterusnya. Pembicara yakin bahwa persatuan ras akan datang. Ketika kita melihat perang berkecamuk di sekitar kita, kita bertanya pada diri sendiri: Apakah ini hasil dari berabad-abad? Dan pembicara berkata: tidak! Ini adalah gejala dari penyakit yang Kita akan menang. Persatuan terdengar di depan mata. Tugas besar menanti kita, orang-orang Belanda yang netral. Banyak yang diharapkan dari Belanda yang kecil ini. Penduduk asli harus menjadi setara dengan orang Eropa dalam hal pembangunan. Oleh karena itu, kita harus membawa peradaban Eropa dan bahasa Belanda kepada mereka. Meskipun hari penyatuan belum lama tiba, kita harus tetap memperhatikan hari penggabungan. CR Bakhuizen dari Link ke-3 percaya bahwa pendidikan orang Cina harus menjadi fokus utama kaum muda ini. Mereka berhak atas kompensasi. PH Fromberg melewatkan satu poin dalam saran pendahuluan mengenai penggabungan. Pertama, pembicara menentang serangan ketua terhadap orang Cina, orang Indo-Cina, sebuah serangan yang menurut pembicara tidak beralasan. [Wlarent] Jika tidak ada "orang Cina", JP Coen tidak akan dapat mengunjungi Batavia, dan kongres ini tidak akan diadakan (tawa dan tepuk tangan). Bagaimanapun, mereka berhak diperlakukan setara dengan orang asing yang paling diistimewakan, dan itu adalah orang Eropa. Jadi perlakukan mereka sebagai orang Eropa! (tepuk tangan.) Pembicara menyatakan dirinya mendukung amalgamasi. CE Bafre menunjukkan bahwa bagi penduduk asli, pengajaran moralitas dan agama tidak dapat dipisahkan. Pembicara kemudian meneliti bagaimana orang Inggris berhasil menjaga pengajaran moralitas tetap terpisah dari agama. Pembicara percaya, berdasarkan kesulitan memisahkan moralitas dan agama di antara penduduk asli, dan karena semua pendidikan dibangun di atas ideologi bangsanya sendiri, bahwa amalgamasi pendidikan asli dan Eropa tidak akan mungkin terjadi. Dr Yap menyampaikan pidato Bapak Bakhuizen van den Brink. Ratoe Langi, dari Menado, menyatakan bahwa ia setuju dengan Bapak Barre. Rapat sore terutama dikhususkan untuk membahas pertanyaan II: Tempat apa yang seharusnya ditempati oleh bahasa-bahasa pribumi, termasuk Ohlan dan Arab, dalam pendidikan, di satu sisi, dan bahasa Belanda di sisi lain? Rekomendasi pendahuluan dikeluarkan oleh AG Boes, mantan inspektur pendidikan pribumi; HJT Borel, mantan penasihat urusan Cina; dan Raden Mas Suardhy Suryaningrat, sarjana sastra Jawa. Bapak Boes memperingatkan terhadap terlalu banyaknya pengaruh Belanda dalam pendidikan pribumi. Hanya sebagian kecil penduduk pribumi yang akan mendapat manfaat dari hal ini. Unifikasi akan tercapai sampai batas tertentu. Namun, masyarakat luas tidak akan memperoleh keuntungan dari hal itu. Kita tidak boleh memaksakan atau berupaya keras untuk menyatukan apa yang tidak seharusnya disatukan. Pembicara keberatan bahwa penentangan terhadap Belanda dalam pendidikan berasal dari Belanda dan bahwa para pendukungnya adalah penduduk asli. Oleh karena itu, pembicara senang bahwa guru Melayu, Dahlan Abloellah, mendukung pembicara dalam hal ini. Alasan orang Cina tetap bertahan di sekolah-sekolah ini adalah karena mereka menginginkan bahasa Belanda, tetapi di samping bahasa Cina. Soewardy Soierjaningrat menyatakan: "Masalah bahasa tidak dapat dinilai secara terpisah dari tuntutan masyarakat Hindia. Bahasa komunikasi umum di Hindia adalah bahasa Melayu; itu adalah bahasa komunikasi antara berbagai kelompok penduduk—dan antara kelompok-kelompok ini dan orang Eropa. Bahasa ini mudah dipelajari" untuk menumbuhkan rasa kebersamaan. Bahasa Melayu dituturkan oleh lebih dari 20 juta orang Jawa. Bahasa Cina hanya akan signifikan bagi orang Cina; bahasa Arab tidak signifikan bagi penduduk Hindia. Adapun bahasa Belanda: pada periode ini, bahasa tersebut merupakan kunci menuju pengetahuan Barat. Tetapi 'bahasa ibu' tidak boleh diabaikan. Di masa depan, Hindia akan memiliki dua bahasa pribumi resmi: Melayu dan Jawa. Bahasa-bahasa lainnya akan memainkan peran yang mirip dengan bahasa Frisia di Belanda. Akhirnya, Reker memastikan bahwa Asosiasi Indo-Cina pada dasarnya setuju dengan pembicara. PH Fromberg senang bahwa penduduk asli setuju bahwa bahasa mereka harus menjadi bahasa pengantar. Pembicara ingin menyampaikan beberapa patah kata untuk mendukung bahasa Cina. Kita tentu harus mempertimbangkan orang Cina, terutama dengan gerakan nasional yang sedang berlangsung di antara mereka. Dr Yap Hong Tjoen ingin menghilangkan kesan yang diciptakan oleh saran awal Borel bahwa akan baik untuk memerangi sekolah-sekolah Cina swasta. Indo-Cina berharap agar ikatan budaya dengan saudara-saudara mereka di tanah air tidak terputus. Masih banyak yang diharapkan dari Tiongkok, dan itulah mengapa mempromosikan pendidikan Cina sangat diinginkan. Selanjutnya dalam agenda adalah pertanyaan III: "Atas dasar apa keterkaitan antara pendidikan dasar dan menengah, dan lembaga-lembaga untuk pendidikan menengah, harus didasarkan?". Penasihat awal: Prof Dr J Boeke, profesor di Leiden; J. Habbema, mantan inspektur pendidikan pribumi; dan Dr HD Tjeenk Willink, direktur Sekolah Bendungan Kolonial di Deventer. Prof J Boeke secara singkat membahas prinsip-prinsip umum yang diuraikan dalam pendahuluannya. Setelah balasan dari Soewardy Soerjanigrat, ketua menutup hari pertama konferensi’. 

Dahlan Abdoellah adalah satu-satunya pemakalah dari pihak Indische Vereeniging. Namun diantara anggota Indische Vereeniging yang hadir juga terdapat yang memberikan tanggapan, antara lain Ratoe Langi, Soewardy Soerjaningrat, Nona Siti Soendari, Nona Kandow, Baginda Zainoedin Rasad serta tentu saja Dahlan Abdoellah.

 

Het vaderland, 30-08-1916 (Diringkas yang dianggap perlu saja): ‘Kongres Pendidikan Hindia. Pelatihan para guru perempuan ini harus disesuaikan dengan sifat sekolah tempat mereka dituju dan harus berada di bawah kepemimpinan Eropa, menurut usulan terakhir pembicara. Pembicara hanya membahas pendidikan anak perempuan dari latar belakang yang lebih terdidik. (Pembicara, karena orang awam tidak tertarik pada keseimbangan spiritual antara pria dan wanita. Pembicara khawatir bahwa baik orang Cina sejati maupun orang Arab tulen tidak akan mempercayakan pendidikan anak perempuan mereka kepada kita kecuali mereka sepenuhnya ter-Eropakan. Tetapi kemudian dia tidak akan menginginkan sekolah Cina-Belanda atau Arab-Belanda. Nona MC v d Willigen, pemerintah harus menangani masalah pendidikan anak perempuan. Penduduk asli harus dididik baik dalam hati maupun pikiran. Dan sampai sekarang kita hanya memperhatikan pendidikan pikiran. Pendidikan moral harus dimulai sejak dalam kandungan. Dan bagaimana dia bisa mendidik jika dia sendiri belum dididik? Ia ingin pendidikan dimulai dari kedua sisi: dengan sekolah swasta, seperti sekolah Kartini, dari atas ke bawah, dan dengan sekolah pemerintah; dan dari bawah ke atas. Indische, dengan alasan, berdasarkan berbagai angka, bahwa jumlah anak perempuan yang mencari pendidikan terus meningkat, dan peningkatan ini semakin cepat. Dewan Provinsi menyatakan mendukung pendidikan bersama (koedukasi). Raden Mas Soewardy Soerjaningrat juga menentang saran awal Limburg. Ketika pembicara melihat sekelilingnya di Belanda, ia bertanya-tanya: apakah orang-orang ini yang seharusnya membudayakan kita? (Tepuk tangan) Setiap agama harus dilarang dari sekolah berasrama di kalangan Muslim; tidak boleh ada semangat Kristen atau Islam yang berkuasa. Lebih baik tidak menyebarkan agama yang berbeda di sekolah, tetapi di luar sekolah. Ia juga menentang sekolah-sekolah yang berada di bawah manajemen Eropa. Nona Köndou, sebagai seorang wanita Minahasa, ingin mempertimbangkan masalah ini dari perspektif Minahassa. Ia menunjukkan Bahwa beberapa pemuda di Minahassa telah menerima pendidikan menengah, bahkan beberapa di antaranya pendidikan tinggi. Namun, pendidikan untuk anak perempuan tidak memadai, dan itu menghambat hubungan yang baik dalam pernikahan. Oleh karena itu, pembicara menginginkan lebih banyak pendidikan bagi perempuan Minahassa daripada yang dapat diberikan oleh sekolah dasar. Lekkerkerker, mantan inspektur pendidikan pribumi, mengatakan bahwa keberatan terhadap pendidikan bersama antara laki-laki dan perempuan hanya berlaku hingga usia 10-12 tahun. Pendidikan perempuan akan sangat terganggu jika sekolah terpisah didirikan untuk anak perempuan hingga usia 10 dan 12 tahun. Ini sama saja dengan mengatakan kepada penduduk asli bahwa tidak benar jika anak laki-laki dan perempuan bersekolah. Selain itu, tidak akan pernah ada cukup guru perempuan pribumi. Sebagian besar guru perempuan menikah sebelum menyelesaikan studi mereka. Untuk 1.000 guru perempuan, dibutuhkan 243.000 anak perempuan yang sedang menjalani pelatihan. Anak-anak perempuan ini membutuhkan pendidikan terpisah setelah usia 12 tahun. Pemerintah, misi, dan individu swasta harus memusatkan upaya mereka pada hal ini. Sesuatu juga perlu dilakukan untuk anak-anak yang belum belajar bahasa Belanda. Nona Siti Soendari berbicara dalam bahasa Malayu. Pidatonya diringkas dalam bahasa Belanda oleh Bapak Soewardy. Nona Siti Soendari membatasi diri pada pengembangan perempuan Jawa, karena hanya beliau yang dapat berbicara tentang hal itu. Perempuan membutuhkan pengembangan agar mampu membesarkan anak. Mereka juga membutuhkan perkembangan seiring dengan perkembangan laki-laki, agar mereka tidak mencari kesenangan di tempat lain dan karena mereka tidak akan mencari istri dari negara lain. Mengenai bahasa, bahasa terbaik adalah bahasa ibu, bahasa Jawa. Mereka juga harus belajar bahasa Melayu, karena itu adalah bahasa umum. Mereka juga harus belajar bahasa Belanda untuk perkembangan mereka selanjutnya. Sekolah kebidanan dan sekolah berasrama harus dihubungkan. Agama Islam dapat dipelajari, tetapi tidak boleh ada paksaan. Orang Jawa dilahirkan untuk menjadi guru, dan oleh karena itu harus ada guru perempuan Jawa. Rasad, seorang siswa dari Sumatera Barat di Sekolah Pertanian di Deventer, juga membantah posisi Limburg mengenai dorongan untuk pendidikan anak perempuan pribumi. Abendanon bertanya kepada Lekkerkerker apakah beliau tidak lupa bahwa pendidikan campuran bukanlah tanggung jawab kita, tetapi tanggung jawab masyarakat pribumi. Sangat penting agar anak perempuan dapat melanjutkan perkembangan mereka bahkan setelah pubertas, dan ini harus dilakukan di sekolah terpisah, karena keberatan terhadap pendidikan bersama antara laki-laki dan perempuan sangat kuat di kalangan penduduk asli, tetapi juga di kalangan orang Cina. 

Bisa jadi tidak semua anggota Indische Vereeniging hadir karena alas an yang berbeda-beda. Untuk mereka yang baru selesai ujian dapat hadir, tetapi bagi yang sedang menghadapi ujian besar dugaan tidak bisa hadir. Baginda Zainoedin Rasad bisa hadir karena belum lama ini lulus ujian (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 17-07-1916) Disebutkan di Middelbare Koloniale Landbouwschool te Deventer lulus ujian transisi dari kelas dua ke kelas tiga. Sementara itu Sorip Tagor lulus ujian setelah kongres (lihat wan di Utrecht (lihat Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad, 27-09-1916). Disebutkan Sorip Tagor lulus ujian kandidat dalam bidang kedokteran di Utrecht. 


Tampaknya yang hadir di Kongres Pendidikan Hindia di Belanda dari golonga pribumi sedangka studi di Belanda. Raden Kamil, wakil inspektur pendidikan di Semarang diundang hadir untuk memberi saran. Nona Siti Soendari juga tampaknya yang di dalam forum (menggunakan bahasa Melayu) diundang hadir. Pada bulan Novermber Nona Siti Soendari terinformasikan kembali ke tanah air (lihat Het nieuws van den dag, 30-11-1916). Disebutkan kapal ss Rembrandt berangkat dari Amsterdam tanggal 1 Desember 1916 dengan tujuan akhir Batavia terdapat nama penumpang non Eropa/Belanda: Nona Siti Soendari Darmabrata, Li Tjwan Hien, Soedibio Ambia. Raden Adjeng Siti Soedari sebelumnya dikenal ex-redactrice van het eerste javaansche vrouwenblad (lihat De Preanger-bode, 16-03-1915). Catatan: Raden Soedibio Ambio pertama terinformasikan, setelah lulus HBS Semarang berangkat ke Belanda tahun 1908 (lihat Sumatra-bode, 10-07-1908). Pada tahun 1913 Raden Ambia Soedibio dengan tiga anak berangkat ke Belanda (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 13-08-1913). Bagaimana dengan Li Tjwan Hien? Lulus HBS di Belanda (lihat Verzameling van verslagen en rapporten behoorende bij de Nederlandsche Staatscourant, 1915). Disebutkan yang lulus antara lain  Sian Kee Teng, geb. te Bandjermassin 6 Januari 1896; Tjwan Hien Li, geb. te Djombang 30 December 1893. Ujian notaris Negara di Den Haag. Bagian pertama yang berhasil antara lain Tjwan Tien Li di Amsterdam (lihat Het Centrum, 17-08-1915). 


Pada fase yang bersamaan dengan Kongres Pendidikan Hindia di Belanda, juga terjadi di tanah air dimana munculnya gerakan pribumi untuk mempertahankan diri (Indie Weerbaar). Apakah dalam hal ini penyelenggaraan Kongres Pendidikan Hindia di Belanda memiliki kaitan dengan munculnya gerakan Indie Weerbaar di Hindia? Yang jelas saat ini di Eropa tengah terjadi perang. 


Perang Negara di Eropa (dan koloni-koloninya) dipicu oleh pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria-Hungaria di Sarajevo oleh nasionalis Serbia, Gavrilo Princip. Secara politis mulai pada tanggal (seperti dilihan nanti baru mereda dengan gencatan senjata pada tahun 1918). Dalam Perang Eropa ini terbentuk dua blok: Blok Sekutu (Allied Powers) terdiri Britania Raya, Prancis, Rusia, Italia (sejak 1915), dan Amerika Serikat (sejak 1917); Blok Sentral (Central Powers) terdiri Kekaisaran Jerman, Austria-Hungaria, Kekaisaran Ottoman (Turki), dan Bulgaria.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Nama-Nama Mahasiswa yang Hadir dalam Pengusulan Nama Indonesia: Sorip Tagor, Notodiningrat, Dahlan Abdoellah, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Lainnya

Orang pribumi sudah banyak yang terpelajar. Pada tahun 1917 banyak yang telah meraih gelar sarjana (kedokteran, pendidikan/keguruan, bahasa dan sastra serta hukum) di Belanda, diantaranya sudah ada dua mahasiswa yang meraih gelar doktor. Tentu saja masih sangat banyak yang tengah studi di Belanda (sekitar 50 orang). Hingga saat ini orang pribumi asal Hindia hanya bisa studi perguruan tinggi di Belanda (di Hindia belum ada perguruan tinggi). 


Pada tahun 1917 di Belanda, pada bulan Januari dibentuk satu sub organisasi Indische Vereeniging dengan nama Sumatra Sepakat yang bertujuan untuk mendorong percepatan permbangunan di Sumatra. Selama ini pembangunan di Sumatra jauh tertinggal dari pembangunan di Jawa. Keanggota organisasi percepatan pembangunan di Sumatra terdiri dari pelajar/mahasiswa asal Sumatra di Belanda. Dewan terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota komisaris (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka (lihat De Sumatra post, 31-07-1919). 

Seperti disebut di atas, Kongres Pendidikan Hindia telah diadakan di Den Haag pada bulan Agustus 1916. Mahasiswa pribumi yang tergabung dalam organisasi mahasiswa pribumi Indische Vereeniging turut berpartisipasi aktif. Hingga tahun 1917 ini baru satu mahasiswa pribumi yang telah menjadi sarjana pendidikan yakni Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, yang juga menjadi inisiator pendirian Indische Vereeniging di Leiden pada tahun 1908. Soetan Casajangan kembali ke tanah air pada tahun 1913 yang kemudian menjadi direktur sekolah guru di Fort de Kock (Bukittinggi). Sejak 1915 hingga trahun 1917 ini Soetan Casajangan masih menjadi direktur sekolah guru di Amboina. 


Indie Weerbaar (Hindia yang Dapat Dipertahankan) adalah sebuah gerakan dan usulan yang diprakarsai pada tahun 1916 untuk membentuk milisi pribumi guna mempertahankan Hindia Belanda. Hal ini dipicu oleh eskalasi Perang Eropa yang terus meningkat yang di satu sisi Belanda sulit mempertahankan diri di Eropa dan di sisi lain di Hindia khawatir Belanda tidak mampu melindungi lagi dari ancaman Negara lain yang berperang di Eropa maupun Negara-negara lainnya di Asia. Tujuan dari usulan tersebut adalah untuk menciptakan pasukan paramiliter atau "pertahanan sipil" yang terdiri dari penduduk pribumi daripada hanya sekadar mengandalkan KNIL (Tentara Kerajaan Belanda di Hindia). Singkatnya pada tahun 1917 ini, Comite Indie Weerbaar mengirim delegasi ke Belanda, termasuk tokoh-tokoh pribumi seperti Abdoet Moeis (Sarekat Islam) dan perwakilan dari Budi Utomo, untuk mengajukan petisi kepada Ratu Wilhelmina untuk pembentukan milisi. Gerakan ini menyebabkan perpecahan di dalam Sarekat Islam. Anggota radikal seperti Semaoen sangat menentangnya, dengan alasan bahwa masyarakat pribumi tidak seharusnya membela penindas mereka, sementara pemimpin moderat seperti HOS Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis mendukungnya sebagai batu loncatan menuju kekuasaan politik. Pemerintah Belanda menolak gagasan milisi pribumi penuh, karena khawatir bahwa penduduk setempat yang bersenjata dan terlatih pada akhirnya dapat berbalik melawan pemerintahan kolonial (Pemerintah Hindia Belanda). Meskipun pada akhirnya milisi tersebut tidak pernah sepenuhnya terwujud seperti yang dibayangkan, seperti dilihat nanti, tekanan tersebut berkontribusi pada pembentukan Volksraad pada tahun 1918. 

Saat gerakan Indie Weerbaar bergulir, Soetan Casajangan meski sudah jauh berada di bagian timur Hindia di Amboina tampaknya merasa perlu untuk membina kerukunan antar warga dari sudut pandang ras/etnik, agama dan adat (Kristen, Muslim, dan Arab) dalam membentuk persatuan/kerukunan yang baik/tinggi. Dalam hal ini, sejatinya Soetan Casajangan sudah selesai dengan dirinya, bahkan hal itulah yang ,menjadi kekuatannya secara spiritual sebangsa pada tahun 1908 ketika berinisiatif mendirikan organisasi pelajar/mahasiswa di Belanda Indische Vereeniging. 


Het vaderland, 06-06-1917: ‘Dari Semarang, pesan berikut dikirim ke NR. Courant: Sebuah delegasi yang terdiri dari 5 orang, Kristen, Muslim, dan Arab, berangkat dari Ambon ke Buitenzorg pada tanggal 27 Mei, di bawah bimbingan Bapak Raden Soetan Casajangan Soripada, untuk membahas masalah Ketahanan Hindia (Indië Weerbaar) dan kepentingan lainnya. Bapak Talakna menjadi wakil ketua dan Bapak Rakarbessy menjadi sekretaris cabang Ambon dari Asosiasi Insulinde’.
 

Pada tahun 1917 ada sejumlah hal yang menjadi perhatia. Usulan Kongres Hindia yang akan diadakan pada akhir tahun 1917 yang diketuai oleh HJ van Mook (mahasiswa/organisasi mahasiswa Indologi di Leiden) terus dimatangkan. Sementara itu satu delegasi para pemimpin pribumi dari Hindia tiba Belanda untuk mengkonfirmasi usulan mereka dalam Indie Weerbaar. Di pihak lain sebagai tindak lanjut hasil Kongres Pendidikan Hindia yang diadakan akhir tahun 1916 di Belanda mulai dimunculkan rencana pendirian perguruan tinggi di Hindia. 


De locomotief, 14-08-1917: ‘Sekolah Politeknik di Hindia Belanda. Diketahui bahwa sebuah komite, yang anggotanya adalah CJK van Aalst, ketua, JBA Jonckheer, bendahara, H Colyn, Herbert Cremer, VVF van Heukelom, VH ter Kuile, FV van Lennep, H Loudon, JW MacDonald, AC Mees, Ph J Roosegaarde Bisschop, BE Ruys, G. Vissering, dan JW Ijzerman, ingin mendirikan Sekolah Politeknik di Hindia Belanda. Sejumlah besar dana telah terkumpul untuk tujuan ini. Dengan jaminan dukungan keuangan yang substansial tersebut, komite merasa dapat secara resmi memberitahukan rencana mereka kepada delegasi Asosiasi Indië Weerbaar. Upacara ini berlangsung pada tanggal 30 Mei di gedung Perusahaan Perdagangan Belanda. Selain para anggota Coinité tersebut di atas, hadir pula JB van Heutsz, mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda; JT Cremer, mantan Presiden Perusahaan Dagang Belanda dan mantan Menteri Koloni; Tuan A Muller dan Van Walree, direktur Perusahaan Dagang Belanda; SP van Eeghen, Ketua Kamar Dagang; dan banyak lainnya. Turut hadir pula "Indië Weerbaar" yang terdiri dari Pangeran Ario Koesoemodiningrat, Raden Toemenggoeng Danoe Soegondo, D van Hinloopen Labberton, Mas Ngabehi Dwidjo Sewojo, Kapten WV Rhemrev, FLaoh, dan Abdoel Moeis. Pembicara pertama adalah CJK van Aalst, yang membawa rekan-rekan anggota Komite untuk meminta persetujuan mereka atas rencana penyelenggaraan upacara ini di gedung Perusahaan Dagang Belanda, yang telah berdiri di Hindia Belanda sejak tahun 1826 dengan nama "De Factorij". Beliau selanjutnya menyebutkan niat semua orang, bekerja sama dengan pemerintah, untuk "berupaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial penduduk Hindia Belanda, yang telah terikat dengan rakyat Belanda selama berabad-abad oleh ikatan yang erat dan kuat melalui pengetahuan dan penghargaan timbal balik". "Ketika kami", lanjut pembicara, "menerima laporan dari Hindia tahun lalu bahwa minat yang besar diungkapkan di sana mengenai pertahanan yang lebih kuat terhadap kepulauan Hindia Belanda dari kekerasan asing, dan ketika minat itu terwujud dalam niat untuk mengirim delegasi ke Belanda untuk secara pribadi menyampaikan keinginan penduduk Hindia di sini, kami di Belanda sangat senang akan hal ini. Kunjungan ini dengan jelas menunjukkan ikatan antara Belanda dan Koloni dengan cara yang terlihat oleh semua orang". "Pemenuhan tujuan sebenarnya mengapa Anda datang ke sini terletak di depan", lanjut pembicara, "di luar lingkup kontak Anda dengan rakyat Belanda… Oleh karena itu, kami telah memutuskan untuk melanjutkan dengan pembentukan sebuah asosiasi, yang tujuannya adalah untuk mendirikan sebuah sekolah di Hindia Belanda, yang akan menyandang nama Institut Pendidikan Tinggi Teknik di Hindia Belanda, di mana para insinyur Indonesia dapat dilatih di lembaga pendidikan tersebut… Dengan tujuan untuk mendapatkan jumlah siswa yang cukup, kami saat ini sedang mempertimbangkan untuk mengatur penerimaan siswa sedemikian rupa sehingga mereka yang berhasil menyelesaikan sekolah MULO dapat diterima di lembaga ini… Asosiasi yang didirikan di negara ini akan memiliki badan pengatur di sini, tetapi organ utamanya akan berada di Hindia Belanda, yaitu Dewan Direksi, di mana berbagai elemen masyarakat Hindia Belanda akan terwakili. Inilah rencana kami, Tuan-tuan, yang ingin kami bagikan kepada Anda sebelum keberangkatan Anda ke Hindia Belanda… Sebagai penutup, Tuan-tuan. Saya telah menyimpan kabar baik yang diterima tadi malam, yang pasti akan sangat menggembirakan Anda semua, yaitu bahwa FIM telah membujuk Ratu untuk menyetujui bahwa asosiasi yang akan didirikan akan menyandang nama Institut Kerajaan untuk Pendidikan Teknik Tinggi di Hindia Belanda, di mana Ratu kita yang terhormat telah menunjukkan minatnya yang tinggi pada institut masa depan. (Tepuk tangan meriah)…Kesempatan selanjutnya diberikan kepada Bapak Raad Toemenggoeng Danoe Segoudo, Bupati Magelang. "Dengan minat dan kepuasan yang tak terkatakan," katanya, "kami mendengarkan kata-kata Anda…Semoga Institut Pendidikan Tinggi Teknik ini berdiri sebagai wujud nyata dari sentimen yang membawa kita ke sini sebagai anggota delegasi Indië Weerbaar (India yang Tangguh): hubungan erat antara Hindia Belanda dan Belanda… Bapak Ketua, apa yang Anda sampaikan di akhir pidato Anda sangat menyenangkan kami. Bahwa Yang Mulia, Ratu kami yang terhormat, telah menunjukkan minat yang begitu besar terhadap pendirian Institut ini, pasti akan terdengar dengan antusiasme yang besar di seluruh Hindia Belanda’. 

Pada bulan Oktober 1917 diadakan pertemuan tahunan Indische Vereeniging yang mana dalam pertemuan ini dilakukan pergantian pengurus baru. Yang terpilih sebagai ketua adalah Notodiningrat (mahasiswa teknik di Delft). Dalam pertemuan ini juga dibahas dengan kesertaan Indische Vereeniging dalam Kongres Hindia yang akan diadakan pa bulan November. Satu yang penting dalam kesertaan itu ditunjuk Dahlan Abdoellah sebagai perwakilan yang berdiri di podium kongres. Format baru majalah Hindia Poetra juga dibicarakan.


De nieuwe courant, 14-10-1917: ‘Indische Vereeniging. Pada Sabtu malam, di Koffieguis di Zuid Holland diadakan rapat tahunan dan mengadakan pemilihan pengurus baru. Yang terpilih adalah RM Noto Dhiningrat (ketua), Soerjomihardjo (sekretaris), RM Tjohro-adi-Soerjo (bendahara), Baginda Dahlan Abdoellah (pengawas) dan RM Noto Soeroto (arsiparis). Sebagai delegasi dan pembicara di Kongres Hindia ditunjuk Dahlan Abdoellah, penunjukan telah diterima. Memutuskan untuk mengadakan rapat umum pada hari Sabtu pertama setiap bulan, dimana topik-topik penting tentang tanah air akan dibahas, dan pertemuan luar biasa selanjutnya, jika memungkinkan kuliah, juga dari orang luar, akan berlangsung. Salah satu anggota secara sukarela memberikan ceramah di setiap pertemuan tentang ekspresi gerakan Hindia, yang tawarannya diterima dengan sepenuh hati oleh pertemuan tersebut. Kelompok-kelompok lokal juga akan didorong untuk mengadakan pertemuan secara berkala. Organ perhimpunan Hindia-Poetra selanjutnya akan muncul pada interval yang tidak teratur, berisi seperti ceramah dan pengumuman, juga di mana artikel oleh anggota dan lainnya akan dimasukkan, dan bukan hanya risalah dan laporan tahunan’. Catatan: Pembentukan organ/corong Indische Vereeniging yang diberi nama Hindia Poetra, gagasannya mulai awal tahun 1916 (lihat De Nederlander, 04-02-1916). Namun baru pada kepenguruan Notodiningrat ini akan direalisasikan. 

Perwakilan Indische Vereeniging dalam Kongres Hindia sudah terinformasikan (lihat De Nederlander, 08-11-1917). Disebutkan tanggal 23 en 24 ini dalam Indisch Studenten-Congress akan diwakili Baginda Dahlan Abdoellah (Amsterdam) dari Indische Vereeniging dan Han Tiauw Tjong (Den Haag) dari Chieesche Vereeniging Chung Hwa Hui. 


De nieuwe courant, 23-11-1917: ‘Pertemuan dan Asosiasi. Kongres Mahasiswa Hindia. Leiden, 23 November. Asosiasi Mahasiswa Indologi, yang didirikan pada 2 Oktober 1902, merayakan ulang tahun lustrum keduanya hari ini dengan sebuah kongres di mana tiga tesis akan dipertahankan: satu oleh seorang pribumi, satu oleh seorang Cina, dan satu oleh seorang Belanda, yang dianggap mewakili gerakan intelektual di masing-masing dari tiga kelompok etnis utama, lebih khusus lagi gerakan intelektual yang membedakan setiap kelompok dari kelompok lainnya. Semua asosiasi mahasiswa Indo/Belanda yang ada di negara ini diundang ke kongres ini. Lebih lanjut, kemungkinan pembentukan Federasi akan dibahas dengan dewan asosiasi-asosiasi ini, yang akan mencakup dan menyatukan mahasiswa Hindia di Belanda, dan yang ruang lingkupnya dapat dibatasi sesuai dengan kelemahan awalnya, sehingga dapat diperluas kemudian. Hari ini, pagi hari, Baginda Dahlan Abdoellah (Den Haag) akan mempertahankan posisi Indische Vereeniging, dan sore hari, Han Tiaüw Tjong (Den Haag) akan mempertahankan posisi Chineesche Vereeniging. Setelah itu, akan diadakan makan bersama di "Indery, Vergulden Turk", dan kemudian pertemuan dewan untuk membahas pembentukan federasi yang disebutkan di atas. Besok pagi, presiden Asosiasi Indolog, HJ van Mook, akan berbicara, membela posisi Belanda. Setelah itu, akan diadakan thé dansant di Stadsgehoorzaal, yang akan mengakhiri perayaan tersebut. Dewan asosiasi penerbitan saat ini terdiri dari para pria berikut: HJ van Mook, presiden; W Hoven, presiden sementara; MPE de Man, quaestor; LA van Hecking Colenbrander, assessor I, dan JW de Stoppelaar, assessor II. Kongres dibuka pagi ini sekitar pukul 10.00. Auditorium kecil universitas itu penuh sesak dengan peserta kongres, yang terdiri exclusively dari mahasiswa yang terdaftar di universitas-universitas Belanda, yang bidang pekerjaannya nantinya akan berada di Hindia. Konferensi ini dihadiri oleh Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia), Chineesche Vereeniging Chung Hwa Hui, Asosiasi Mahasiswa Indologi dari Korps Mahasiswa Utrecht “Van Verre” (Dari Jauh), Asosiasi Onze Koloniën (Koloni Kita) di Delft, seksi mahasiswa dari Asosiasi Timur dan Barat (Leiden), Asosiasi Koempoelan Tani Djawi (Wageningen), dan subseksi Pertanian Tropis dan Kehutanan dari Asosiasi Mahasiswa di Wageningen. HJ Van Mook membuka kongres dengan pidato yang secara singkat menguraikan asal usul dan tujuan pertemuan ini. Kolaborasi yang lebih erat antara semua intelektual yang akan bekerja di Hindia di masa depan, yang belum pernah terjadi kecuali melalui asosiasi lokal atau sepihak dan berskala kecil, diyakini akan tercapai dalam skala yang lebih luas di masa mendatang. Sebagai langkah pertama menuju tujuan ini, untuk menyatukan orang-orang yang melakukan perjalanan ke daerah tropis dengan wawasan dan tujuan yang berbeda, kongres ini sekarang diselenggarakan. Untuk memastikan keberhasilan kongres pertama ini, Asosiasi Indolog mengamankan kerja sama dari Indische Vereeniging dan Chung Hwa Hui. Hasilnya, akan dimungkinkan untuk menilai apakah kongres ini memberikan dasar untuk melanjutkan jalur ini dan, jika perlu, menghubungkannya dengan pengembangan rencana lain untuk kerja sama yang efektif antara Indische Vereeniging. Pembicara kemudian menyampaikan sambutan hangat kepada para delegasi dari dewan asosiasi yang hadir, mengucapkan terima kasih atas tanggapan mereka terhadap undangan tersebut. Akhirnya, HJ Van Mook menyampaikan harapan terbaiknya untuk keberhasilan kongres ini. Setelah itu, Baginda Dahlan Abdoellah, sebagai juru bicara Indische Vereeniging, diberi kesempatan untuk menyampaikan usulan berikut: “Kita, orang Indonesia, merupakan komponen utama penduduk Hindia Belanda, dan karena itu, kita berhak untuk memiliki bagian yang lebih besar dalam pemerintahan negara daripada yang telah kita miliki selama ini” 

Satu yang penting dalam Kongres Hindia (Indisch Congres) tahun 1917 ini (tepatnya 23 November 1917) perwakilan Indische Vereeniging Dahlan Abdoellah yang telah ditunjuk pengurus telah mengadopsi nama Indonesia dan meminta perhatian kongres bahwa orang Indonesia, yang merupakan komponen utama penduduk di Hindia Belanda, dan karenanya berhak untuk memiliki bagian yang lebih besar dalam pemerintahan negara daripada yang telah ada selama ini. Sementara itu Han Tiauw Tjong ketua asosiasi Cina Chung Hwa Hui mengamini apa yang disampaikan oleh Dahlan Abdoellah, menyatakan “Cina tidak menginvasi Hindia dan karena itu tidak berlebihan kami disambut disana, menjadi kolaborator yang sangat diperlukan untuk pembangunan negara’. 


De nieuwe courant, 03-10-1917: ‘Pertemuan dan Asosiasi. Kongres Mahasiswa Hindia. Kami menerima pesan dari Leiden: Dewan Asosiasi Indolog (Mahasiswa) di sini mengusulkan untuk merayakan lustrum ke-3 pada bulan November dengan Kongres Mahasiswa Hindia, yang akan berlangsung selama dua hari. Pada kongres ini, tiga tesis akan dipertahankan: satu oleh seorang Indonesia, satu oleh seorang Cina, dan satu oleh seorang Belanda, yang dianggap mewakili orientasi spiritual dalam masing-masing dari tiga kelompok etnis utama, khususnya orientasi spiritual yang membedakan setiap kelompok dari yang lain. Lebih lanjut, pertemuan yang meriah akan memungkinkan anggota kongres untuk berinteraksi secara pribadi. Semua asosiasi mahasiswa Hindia dan, sejauh mungkin, semua Indolog yang tidak terorganisir diundang ke kongres. Pembentukan Federasi Hindia akan dibahas dengan dewan asosiasi-asosiasi ini, yang harus mencakup dan menyatukan mahasiswa Hindia di Belanda, dan ruang lingkupnya dapat dibatasi sesuai dengan kelemahan awalnya, dengan kemungkinan perluasan di kemudian hari. Chung Hwa Hui telah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan dewan dan untuk memastikan posisi Cina; Indische Vereeniging akan melakukan hal yang sama untuk bagian Indonesia’. Nama Indonesia sebelumnya sudah terinformasikan (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 08-02-1917). Penyebutan orang Indonesia (Indonesier) paling tidak sudah terinformasilkan pada tahun 1898 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 20-12-1898).

Nama Indonesia sudah diadopsi oleh mahasiswa Belanda dan mahasiswa Cina atas usul Indische Vereeniging. Seperti disebut di atas, nama Indonesia diintroduksi oleh orang Inggris (Logan) dan kemudian dipopulerkan oleh akademisi orang Jerman (Bastian) dan selanjutnya diterima diantara orang-orang akademisi Belanda di Hindia. Dalam hal ini, seperti disebut di atas, nama Indonesia bukan asing diantara orang-orang terpelajar pribumi, terutama pelajar/mahasiswa di Belanda. Ini juga mengindikasikan bahwa orang pribumi sudah mengenal secara luas nama Indonesia, nama yang sudah beredar luas dalam literatur akademik. Dalam kongres tahun 1918 nama Indische Congres (Kongres Hindia) nama kongres sudah disebut dengan nama Indonesia Congres (kongres kedua yang diadakan di Wageningen tanggal 30 Agustus 1918) dengan topik perguruan tinggi.


Dalam Kongres Indonesia 1918 ini pembicara mewakili Indische Vereeniging adalah Dr Goenawan Mangoenkoesoemo (ketua Indische Vereeniging). Yang turut berbicara di forum diskusi antara lain Ny Ratulangi dan Dahlan Abdoellah. Topik yang dibicarakan dalam kongres 1918 adalah hubungan antara Oost en West. Kongres ini disebut kongres pertama Indonesia Congres (mengacu pada penamaan nama kongres). Salah satu hasil kongres adalah dibentuknya organisasi/perhimpunan Indonesia dengan nama Indonesisch Verbond van Studeerenden (lihat De locomotief, 28-11-1918). Organisasi ini yang merupakan gabungan mahasiswa Belanda, Cina dan pribumi mendorong dan mendesaknya penyediaan perguruan tinggi di Hindia (lihat Het vaderland, 02-02-1919). Dan juga Hindia Poetra menjadi organ Indonesisch Verbond van Studeerenden. Catatan: Bagaimana asal-usul diadakannya Kongres Hindia tahun 1917 dapat dibaca pada tulisan HJ van Mook yang dimuat di dalam majalah “Hindia poetra; orgaan van het Indonesisch Verbond van Studeerenden”, jrg 1, 1918-1919”. Lantas siapa Goenawan Mangoenkoesoemo? Goenawan Mangoenkoesoemo, adik Dr Tjipto tersebut adalah salah satu pendiri Boedi Oetomo di Batavia pada tahun 1908. Dr Goenawan Mangoenkoesoemo adalah asisten dosen di STOVIA di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-07-1916). Goenawan Mangoenkoesoemo berangkat ke Belanda pada awal Januari 1917 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 02-01-1917). Disebutkan kapal ss Sindoro berangkat dari Batavia tanggal 3 Januari ke Belanda dimana para penumpang antara lain Goenawan Mangoenkoesoemo dan istri, Abdoel Moeis, Dwidjosewojo, Pangeran Ario Koesoemodiningrat, RT Danoesoegondo dan RM Waloeja. Mengapa ada rombongan pemimpin pribumi ke Belanda? Pada tanggal 27 Maret 2017 diadakan sidang Tweede Kamer dimana "Van Heutz versus Van der Maaten" adalah tema yang diangkat oleh Troelotra (Sosialis), melanjutkan pidatonya yang sempat terputus pada hari Jumat, dalam refleksinya mengenai amandemen Pasal 113 Peraturan Hindia Belanda, yaitu, mengenai rencana Indie Weerbaar (Hindia yang Tangguh) dan mengenai karakter gerakan tersebut di Hindia Belanda. Ia menanggapi apa yang dikatakan Jenderal Van Heutz tentang "Hindia yang Tangguh" pada pertemuan Liga Liberal Bebas, dengan ungkapan-ungkapan dalam brosur Van der Maaten dan menggambarkan semangat yang diungkapkan oleh penduduk pribumi terpelajar pada pertemuan-pertemuan yang diadakan di Hindia Belanda mengenai kelemahan kelas penguasa untuk mempertahankan kepemilikan mereka dengan "bantuan" yang diperlukan dari yang diperintah….Pembicara telah membacakan telegram yang menyatakan bahwa 99 orang SI menentang Indie Weerbaar. Delegasi yang disebut pembicara diduga adalah rombongan satu kapal pada bulan Januari dalam hubungannya dengan Indie Weerbaar. Bagaimana denghan Goenawan Mangoenkoesoemo? Tampaknya tidak kembali ke tanah air tetapi akan tetap di Belanda untuk melanjutkan studi (hal itulah diduga mengapa membawa istri). Perlu juga ditambah disini ada juga nama Goenawan (saja) yang berprofesi sebagai jurnalis yang tergabung dalam SI (dimana juga terdapat nama Abdoel Moeis).

Nama Indonesia yang diusulkan perwakilan delegasi Indische Vereeniging dalam kongres tahun 1917 pada intinya, usulan nama Indonesia dalam pidato Dahlan Abdoellah mirip dengan pidato Soetan Casajangan pada tahun 1911. Dalam pidato Dahlan Abdoellah, terminologi ‘coklat vs putih’ yang diapungkan Soetan Casajangan pada tahun 1911 telah tergantikan dengan terminology yang baru yakni Indonesia. Ini dengan sendirinya, Indische Vereeniging melalui juru bicara Dahlan Abdoellah telah melanjutkan perjuangan Soetan Casajangan. Dalam konteks inilah menjadi penting arti keberadaan Indische Vereeniging di Belanda dan arti penting mengapa dulu Soetan Casajangan merasa perlu menginisiasi pembentukan organisasi pelajar/mahasiswa pribumi di Belanda. 


Setelah posisinya di Hindia Poetra digantikan yang lain, Soewardi Soerjaningrat akan menangangi kantor berita Indonesia (lihat De Telegraaf, 13-09-1918). Disebutkan kantor berita dan perdagangan brosur Indonesia (Indonesisch Persbureau en Brochurehande) akan segera didirikan, yang bertujuan untuk menerbitkan brosur tentang isu-isu penting di Hindia dan sebagainya mungkin di Belanda. Pengurus biro adalah Soewardi Soerja Ningrat, mantan redaktur "Hindia Poetra". Pendirian kantor berita Indonesia ini diduga terpicu dengan telah didirikannnya kantor berita Aneta yang diinisiasi oleh Barretty di Batavia tahun 1917. Dalam perkembangannya diketahui kantor berita Indonesia hanya sukses dalam borosurnya, sebaliknya kantor berita Aneta sukses dalam beritanya. Sementara majalah Hindia Poetra diadopsi oleh Indonesisch Verbond van Studeerenden, akan tetapi kantor berita/brosur Indonesia tidak lama kemudian menghilangan. Mengapa? Satu yang jelas Soetan Goenoeng Moelia lulus ujian dengan memperoleh akta guru MO (Middlebare Onderwijzer) tahun 1918 dan RM Soewardi Soerjaningrat mendapat akta guru LO. Keduanya akan kembali ke tanah air. RM Soewardi Soerjaningrat kembali ke tanah air dengan kapal uap ss Wilis RM Soewardi Soerjaningrat diperkirakan tiba di Tandjong Priok pada awal Scptember (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-08-1919). 

Demikianlah perjalanan sejarah pelajar/mahasiswa pribumi di Belanda. Sekarang namanya sudah disebut pelajar/mahasiswa Indonesia. Semua itu bermula dari pendirian Indische Vereeniging di Belanda pada tahun 1908 yang diinisiasi oleh Soetan Casajangan. Dalam hal ini Soetan Casajangan tidak hanya seorang guru yang visioner, juga memperjuangkan ketidakadilan yang dihadapi teman sebangsanya, penduduk pribumi dalam peningkatan pendidikan termasuk berjuang untuk mendapatkan hak pribumi pada pendidikan yang lebih tinggi. Pada tahun 1919 ini di Belanda yang menjdi ketua Indische Vereeniging adalah Dahlan Abdoellah. Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan adalah yang mendorong Dahlan Abdoellah untuk melanjutkan studi ke Belanda tahun 1913 (saat mana Dahlan Abdoellah sebagai direktur sekolah guru di Fort de Kock), Bagaimana dengan Tan Malaka yang juga didorong Soetan Casajangan untuk melanjutkan studi ke Belanda tahun 1913? Yang jelas Toedoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia sudah kembali ke tanah air pada tahun 1918. Namun begitu masih ada lagi nama “anak didik” Soetan Casajangan yang masih berada di Belanda yakni Samsi Sastrawidagda dan Sorip Tagor Harahap. 


Pada edisi Hindia Poetra edisi Januari 1919, Sorip Tagor di dalam majalah Hindia Poetra, pada menulis artikel yang pada intinya mengatakan bahwa 'studi dan kegiatan politik sejalan dalam organisasi'. Sorip Tagor dengan kata-kata pedas mengatakan 'jika Perhimpoenan Hindia menghindari politik, organisasi tidak akan mencapai apapun dalam bentuk manfaat bagi penduduk Indonesia, baik hari ini maupun masa datang'. Sorip Tagor juga dalam tulisan mempersalahkan sejumlah mahasiswa asal Jawa dari keluarga ningrat yang tak punya perhatian terhadap situasi umum di Hindia dan keadaan kehidupan wong cilik (lihat Harry A. Poeze  et al: “Di negeri penjajah: orang Indonesia di negeri Belanda, 1600-1950”). Sementara itu Samsi Widagda menulis artikel, dengan beberapa pernyataan diantaranya ‘Jika kita orang Indonesia (Indonesiers) bersaing dengan orang Eropa, kita akan kalah dari orang Barat di Eropa dalam persaingan, sedangkan orang Barat di Timur akan kalah dari orang Indonesia. Semoga terhibur bagi kita orang Indonesia untuk masa depan yang ingin kita lihat dibebaskan untuk kita…Mari kita jujur mengakui orang Indonesia bahwa kita masih dalam proses sosialisasi ekonomi. Kita belum bisa berdiri di atas kaki sendiri, kita masih harus bekerja keras untuk menaklukkan diri kita sendiri. Hanya dengan begitu kita dapat terlibat dalam perjuangan sosial melawan apa yang menghalangi jalan kita. Namun untuk mencapainya kita masih perlu terlalu banyak dukungan, dukungan dari teman-teman, yang tidak boleh kita anggap sebagai musuh, atau menjadikan mereka musuh. Perjuangan ekonomi mereka melawan kita juga harus menguatkan kita, dalam keinginan kita untuk maju secara ekonomi. (lihat Het vaderland, 03-10-1919). 

Soetan Casajangan, setelah bekerja untuk pemerintah selama enam tahun lebih, sejak bulan Februari 1920 diberikan cuti selama delapan bulan ke Eropa (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-12-1919). Pada saat cuti tahun 1920 ini Soetan Casajangan (yang saat itu menjadi asisten Inspektur Pendidikan Pribumi) di Batavia yang akan berangkat ke Eropa/Belanda juga diundang Vereeniging Moederland en Kolonien untuk menghadiri forum para peminat dan ahli Hindia di Belanda tersebut yang akan diadakan pada tanggal 28 Oktober 1920 di Belanda. Soetan Casajangan untuk kedua kalinya di depan para anggota Vereeniging Moederland en Kolonien berdiri dengan makalah 19 halaman yang berjudul 'De associatie-gedachte in de Nederlandsche koloniale politiek (modernisasi dalam politik kolonial Belanda). Berikut beberapa petikan isi pidatonya: 


Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).

 

“....saya berterimakasih kepada Mr van Rossum, ketua organisasi...yang mengundang dan memberikan kesempatan kembali kepada saya...di hadapan forum ini....pada bulan 28 Maret 1911 (sekitar sepuluh tahun lalu)...saya diberi kesempatan berpidato karena saya dianggap sebagai pelopor pendidikan bagi pribumi...ketika itu saya menekankan perlunya peningkatan pendidikan bagi bangsa saya...(terhadap pidato itu) untungnya orang-orang di negeri Belanda yang respek terhadap pendidikan akhirnya datang ke negeri saya..dan memenuhi kebutuhan pendidikan (yang sangat diperlukan bangsa) pribumi. Gubernur Jenderal dan Direktur Pendidikan telah bekerja keras untuk merealisasikannya…yang membuat ribuan desa dan ratusan sekolah telah membawa perbaikan…termasuk konversi sekolah rakyat menjadi sekolah yang mirip (setaraf) dengan sekolah-sekolah untuk orang Eropa…” 


“Sekarang saya ingin berbicara dengan cara yang saya lakukan pada tahun 1911...saya sekarang sebagai penafsir dari keinginan bangsaku..politik etis sudah usang..kami tidak ingin hanya sekadar sedekah (politik etik) dalam pendidikan...tetapi kesetaraan antara coklat dan putih...saya menyadari ini tidak semua menyetujuinya baik oleh bangsa Belanda, bahkan sebagian oleh bangsa saya sendiri...mereka terutama pengusaha paling takut dengan usul kebijakan baru ini...karena dapat merugikan kepentingannya..perlu diingat para intelektual kami tidak bisa tanpa dukungan intelektual bangsa Belanda..organisasi ini saya harap dapat menjembatani perlunya kebijakan baru pendidikan...saya sangat senang hati Vereeniging Moederland en Kolonien dapat mengupayakannya...karena anggota organisasi ini lebih baik tingkat pemahamannya jika dibandingkan dengan Dewan [pemerintah kolonial]...”. 

Soetan  Casajangan dengan caranya sendiri tetap santun namun dengan memiliki intensi yang tinggi. Soetan Casajangan menggarisbawahi “kami tidak ingin hanya sekadar sedekah (politik etik) dalam pendidikan, tetapi kesetaraan antara “coklat” dan “putih”. Demikian cara guru berjuang untuk memperjuangkan bangsanya. Dalam forum ini juga turut dihadiri oleh Soeltan Djogja. Pidato Soetan Casajangan ini dan kehadiran Soeltan sangat strategis dan boleh jadi menjadi bentuk kehadiran orang Indonesia di Belanda. Sebagaimana disebut di Indonesia, nama Indonesia, selain sudah diadopsi orang pribumi, juga nama Indonesia sudah diterima diantara orang-orang terpelajar Belanda. 


Satu yang penting dalam pidato Soetan Casajangan pada forum Vereeniging Moederland en Kolonien di Belanda tahun 1920 dimana Soetan Casajangan dengan tegas menyatakan “kami tidak ingin hanya sekadar sedekah (politik etik) dalam pendidikan, tetapi kesetaraan antara “coklat” dan “putih”. Sudah barang tentu, yang dimaksudkan Soetan Casajangan dalam hubungannya dengan adanya rencana pendirian perguruan tinggi (teknik) di Indonesia. Mereka yang berinisiatif tersebut adalah anggota dari Vereeniging Moederland en Kolonien. 

Pernyataan Soetan Casajangan “kami tidak ingin hanya sekadar sedekah (politik etik) dalam pendidikan, tetapi kesetaraan antara “coklat” dan “putih” kurang lebih sama dengan yang disampaikan Soetan Casajangan pada tahun 1913 dalam forum Vereeniging Moederland en Kolonien. Seperti disebut di atas, Soetan Casajangan menyatakan sebagai berikut: “saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya”. Intinya, begitulah caranya guru dalam berjuang dan memperjuangkan bangsanya. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar