Sabtu, 21 Februari 2026

Sejarah Indonesia Jilid 10-5: AI di Penulisan Sejarah, Sejarah Itu Narasi Fakta dan Data; Ini Tentang Buku Sejarah Indonesia 10 Jilid


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Apakah sudah terbit buku “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” sebanyak 10 jilid dalam bentuk ebook? Tampaknya belum. Sebagaimana pernah dijanjikan Kementerian Kebudayaan bahwa buku Sejarah Indonesia sebanyak 10 jilid akan dibuka akses ke publik pada bulan Februari ini dalam bentuk ebook (gratis). Hari ini sudah berada di hari-hari terakhir bulan Februari. Mengapa buku 10 jilid itu perlu kita baca? Sejarah adalah narasi fakta dan data, narasi tentang yang benar-benar terjadi dan ada buktinya. Buku-buku yang Sudah Diterbitkan


Kecerdasan Buatan (AI) memungkinkan sejarawan untuk memproses volume data yang sangat besar dalam waktu singkat melalui teknik text-mining. Platform seperti Transkribus menggunakan teknologi AI untuk membaca dan mentranskripsikan tulisan tangan kuno (seperti Latin abad pertengahan atau Gotik) yang sulit dibaca mata manusia. AI tidak hanya membantu dalam bentuk teks, tetapi juga dalam menghidupkan kembali masa lalu secara visual. Alat seperti HyperWrite atau Squibler dapat membantu menyusun draf narasi peristiwa sejarah atau fiksi sejarah berdasarkan basis data yang luas. Meskipun efisien, penggunaan AI dalam sejarah memiliki risiko yang signifikan. AI sering menghasilkan "halusinasi" berupa referensi atau kutipan palsu dan dapat membawa bias dari data pelatihan yang digunakan. Terdapat kekhawatiran bahwa AI dapat menyederhanakan peristiwa kompleks secara berlebihan atau menciptakan narasi sejarah palsu (deepfake). Menirukan tokoh sejarah dengan AI berisiko meremehkan pengalaman hidup asli individu tersebut. Secara umum, AI dianggap sebagai alat bantu, bukan rekan penulis. Untuk mendapatkan hak cipta penuh, kontribusi kreatif manusia tetap menjadi syarat utama (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah AI dan penulisan sejarah (sejarah adalah narasi fakta dan data)? Seperti disebut di atas, Indonesia sekarang telah memiliki buku sejarah terbaru sebanyak 10 jilid. Apakah isi buku itu sesuai dengan dinamika kebangsaan dalam arus global? Itu satu hal. Lalu bagaimana sejarah AI dan penulisan sejarah (sejarah adalah narasi fakta dan data)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

AI dan Penulisan Sejarah, Sejarah adalah Narasi Fakta dan Data; Tentang Buku Sejarah Indonesia 10 Jilid

Apakah perlu mempercai sepenuhnya AI? Dalam urusan data dan informasi sejarah, AI dapat dijadikan sebagai alat pemandu awal apa yang sedang dipikirkan, namun dalam urusan memastikan dan menyimpulkan bukan urusan AI lagi. Lalu urusan siapa? Tentu saja menjadi urusan setiap orang yang berpikir. AI tetaplah sebagai alat bantu saja. Mari tanyakan AI siapa orang Indonesia yang menjadi sarjana pertama. AI menjawab sebagai berikut: 


“Mahasiswa Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar sarjana adalah Raden Mas Panji Sosrokartono (sering disebut Sosrokartono). Beliau adalah kakak kandung dari pahlawan nasional RA Kartini. Ia mulai menempuh pendidikan tinggi di Belanda pada tahun 1898, awalnya di Polytechnische School di Delft (jurusan teknik sipil) sebelum pindah ke Universitas Leiden. Beliau lulus dari Fakultas Sastra Timur, Universitas Leiden, dan meraih gelar sarjana (Doctorandus) pada tahun 1908. Dijuluki "Si Jenius dari Timur", ia dikenal menguasai puluhan bahasa asing (sekitar 26 hingga 37 bahasa) dan pernah bekerja sebagai wartawan perang untuk koran Amerika, The New York Herald Tribune. Hari Sarjana Nasional: Sebagai bentuk penghormatan atas pencapaiannya, tanggal lahir Sosrokartono, 29 September, diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional di Indonesia”. 

Lantas apakah jawaban AI menjadi kesimpulan yang pasti? Yang jelas itu menjadi wilayah penyelidikan sejarah. Oleh karena itu setiap orang harus memastikannya, setiap orang harus mengujinya apakah benar atau tidak (valid) dengan kerangka berpikir yang sesuai (reliabel). Pertama: apa definisinya Indonesia? Kedua, tunjukkan kejadian yang sebenarnya dan berikan bukti yang dapat diverifikasi. Lalu yang ketiga: analisis dan simpulkan apakah jawaban AI dapat diterima atau ditolak. 


Pada tahun 1860 Sati Nasoetion alias Willem Iskander lulus ujian sekolah guru di Amsterdam dengan sertifikat (lihat Nieuwe bijdragen ter bevordering van het onderwijs en de opvoeding, voornamelijk met betrekking tot de lagere scholen in het Koningrijk der Nederlanden, voor den jare 1860, Volume 30, D. du Mortier en zoon). Ismangoen Danoe Winoto lulus akademi pemerintahan di Delft tahun 1875 (lihat De standaard, 15-07-1875). Willem Iskander dan Ismangoen Danoe Winoto bukan sarjana. Willem Iskander lulus setingkat sekolah menengah; Ismangoen Danoe Winoto lulus akademi tiga tahun. Pada tahun 1880 Oei Jan Lee lulus ujian naik dari kelas tiga ke kelas empat di sekolah menengah (HBS) K Willem III School di Batavia (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 11-08-1880). Demikian juga Tan Tjoen Liang lulus tanpa syarat. Nama-nama Raden Mas Notodirodjo, Moentadjieb dan Raden Mas Soemito tidak ada dalam daftar yang lulus ujian. Apakah mereka bertiga gagal/menunda studi? Pada kelas terendah yang naik ke kelas dua semuanya nama-nama Eropa/Belanda. Praktis nama-nama non Eriopa/Belanda yang dinyatakan lulus pada tahun 1880 hanya Oei Jan Lee dan Tan Tjoen Liang. Dalam daftar kelulusan HBS di K Willem III hanya terdapat nama Tan Tjoen Liang, naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1881). Nama Tan Tjoen Liang hanya satu-satunya non Eropa/Belanda untuk semua kelas. Lalu bagaimana dengan Oei Jan Lee? Oei Jan Lee melanjutkan studi HBS di Belanda (lihat Algemeen Handelsblad, 13-12-1881). Tan Tjioen Liang kemudian terinformasikan sudah berada di Belanda (lihat Delftsche courant, 11-12-1883). Disebutkan di Politeknik di Delft terdaftar Tjoen Liang Tan, seorang Cina, putra kapten Cina di Buitenzorg (kini Bogor). Oei Jan Lee lulus ujian akhir HBS di Leiden (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 09-07-1884). Disebutkan di Leiden ujian (ujian masuk perguruan tinggi) di Gymnasium diantaranya Oei Jan Lee afdeeling a (bidang hukum). Pada tahun 1885 Oei Jan Lee lulus ujian kandidat di bidang hukum di Rjiksuniversiteit te Leiden (lihat Het vaderland, 19-10-1885). Oei Jan Lee akhirnya lulus ujian dan mendapat gelar sarjana hokum tahun 1888 (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 15-10-1888). Oei Jan Lee tampaknya belum puas, lalu melanjutkan studi ke tingkat doktoral. Pada tanggal 16 Januari 1889 Mr Oei Jan Lee meraih gelar doktor bidang hukum di Leiden (lihat Nieuwe Vlaardingsche courant, 16-01-1889). Disertasi Oei Jan Lee lahir di Banda berjudul “Over de aansprakelijkheid des Verkoopers voor de verborgen gebreken der verkochte zaak” (Mengenai tanggung jawab Penjual atas cacat tersembunyi pada barang yang dijual). Setelah sempat menunda kuliah, Tan Tjioen Liang akhirnya menyelesaikan studinya di Delft dengan mendapat gelar insinyur mesin di tahun 1894.

Raden Kartono di HBS Semarang lulu pada tahun 1896 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-06-1896). Disebutkan diadakan ujian HBS di  Batavia dimana salah satu yang lulus adalah Reden Pandji Sosro Kartono. Raden Kartono berangkat ke Belanda (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-07-1896). Disebutkan kapal Prinses Marie dengan tujuan Nederland berangkat tanggal 16 Juli. Dalam manifes kapal terdapat nama Raden Kartono. Seminggu kemudian surat kabar di Bandoeng memberitakan Raden Kartono, anak dari Bupati Djapara disebutkan akan kuliah di Polytechnische School di Delft (lihat De Preanger-bode, 27-07-1896). Keberadaan Raden Kartono sebagai mahasiswa di Belanda diberitakan tahun 1898 (lihat De Telegraaf, 10-08-1898). Disebutkan Raden Mas Pandji Sosro Kartono, anak dari bupati Japara sebagai mahasiswa di Delft. 


De nieuwe vorstenlanden, 03-10-1898: ‘Sosro Kartono, penerjemah terkemuka teks-teks Jawa wajang-orang, seperti yang diketahui umum, adalah putra bupati Japara dan hingga kini belajar di Sekolah Politeknik di Delft. Namun, ia menunjukkan sedikit keinginan atau bakat dalam bidang teknik dan karena itu meminta izin kepada ayahnya untuk meninggalkan Delft dan mempelajari bahasa-bahasa Oriental di kepulauan kita di Universitas Leiden. Bupati Japara baru-baru ini mengirimkan telegram persetujuannya atas permintaan ini. Ia juga sibuk mengajar beberapa bait Melayu (pantun) kepada para penyanyi jalanan Italia. Tambahan yang sangat disambut baik ini untuk repertoar jalanan Italia bagi pengunjung Pameran di Den Haag akan dibuka dengan "Nina bobo" yang terkenal di dunia, yang dengannya banyak wanita Indonesia di Den Haag ditidurkan oleh bayi mereka. Demikianlah Insulinde’. 

Lalu apakah Raden Kartono telah mengundurkan diri sebagai mahasiswa teknik di Delft? Dalam rapat umum kongres bahasa dan sastra ke-25 di Den Haag,  diundang Raden Mas Sosro Kartono untuk berbicara tentang pengaruh bahasa Belanda di Jawa (lihat Soerabaijasch handelsblad, 28-09-1899). Raden Kartono menjadi begitu penting di Belanda. Boleh jadi hal itu karena Raden Kartono dapat dikatakan pribumi (paling) terpelajar di Belanda. 


Dalam perkembangannya nama Raden Kartono di Polytechnische School di Delft tidak terinformasikan lagi. Mengapa? Apakah Raden Kartono gagal? Di Belanda sekolah tinggi teknik (Polytechnische School) hanya satu-satunya di Delft. Satu yang pasti siswa asal Hindia non Eropa/Belanda yang telah berhasil di kampus teknik tersebut adalah Tan Tjioen Liang. Pada tahun 1901 diberitakan nama Raden Kartono di Delft, tetapi tidak di Polytechnische School (lihat De nieuwe courant, 25-08-1901). Disebutkan dalam ujian negara untuk universitas dari tanggal 22 hingga 24 Augustus yang mana terdapat 8 kandidat untuk faculteiten der godgeleerdheid der rechtsgeleerdheid en der letteren en wijsbegeerte (fakultas fakultas teologi, hukum, dan sastra dan filsafat). yang mana lima kandidat lulus diantaranya Raden Mas Pandji Sosro Kartono. 

Raden Kartono tampaknya tidak mencapai tujuan awalnya untuk menjadi sarjana tekni (insinyur). Raden Kartono mulai lagi tahun 1901 dari awal untuk masuk universitas (dalam bidang ilmu-ilmu sosial). Sementara itu, di Belanda terinformasikan Abdoel Rivai tengah mengikuti studi kedokteran di Amsterdam. Abdoel Rivai kelahiran Bengkoelen tiba di Belanda tahun 1899. 


Pada tahun 1903 Raden Kartono lulus ujian kandidat dalam bidang bahasa dan sastra kepulauan Hindia Timur (lihat Algemeen Handelsblad, 30-06-1903). Disebutkan di Leiden, lulus ujian kandidat in de taal en letterkunde van den Oost-lndischen Archipel, RM P Sosrokartono’. 

Pada tahun 1903 dua guru dari pantai barat Sumatra berangkat ke Belanda. Kedua guru tersebut adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, guru di Padang Sidempoean alumni sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempoean; Baginda Djamaloedin asisten redaksi majalah Insulinde di Padang, alumni sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock (kini Bukittinggi). 


Sambil kuliah, Abdoel Rivai juga adalah anggota redaksi majalah dwibulanan Bintang Hindia yang diterbitkan di Amsterdam. Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin kemudian turut bergabung. Pada tahun 1905, Soetan Casajangan menulis artikel di Bintang Hindia yang pada intinya mengajak para putra-putri pribumi di Hindia untuk melanjutkan studi di Belanda. Guru tetaplah guru. Soetan Casajangan di dalam artikel itu juga  mendeskripsikan universitas mana yang bisa dipilih serta memberi tip bagaimana mempersiapkan diri di Hindia, petunjuk selama pelayaran ke Belanda dan bagaimana beradaptasi di Belanda. Sirkusi majalah Bintang Hindia dengan agen utama di Bandoeng. Sejak itulah tampaknya jumlah pelajar pribumi di Hindia mengalir cepat untuk studi ke Belanda. Pada tahun 1907 Soetan Casajangan lulus ujian akhir mendapat akta guru LO (akta guru untuk mengajar di sekolah Eropa/ELS). Soetan Casajangan tidak segera kembali ke tanah air, tetapi melanjutkan studi keguruannya untuk mendapatkan akta guru MO (mengajar di sekolah menengah). Pada tahun 1908 Soetan Casajangan menginisiasi pendirikan organisasi pelajar/mahasiswa pribumi yang diberi nama Indische Vereeniging yang mana sebagai ketua adalah Soetan Casajangan dengan sekretaris dijabat Raden Soemitro. Lalu di dalam rapat tersebut dibentuk komisi untuk menyusun statuta (AD/ART) yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa yang berdomisili di Leiden yakni Soetan Casajangan, RM Soemitro, Hoesein Djajadiningrat dan Raden Mas Kartono. Pada tahun 1908 ini Soetan Casajangan dan Raden Kartono terinformasikan tinggal di alamat yang sama di Leiden. 

Lantas bagaimana dengan studi Raden Kartono? Yang jelas pada tahun 1908 ini ada sejumlah mahasiswa pribumi yang telah menyelesaikan studinya. Pada bulan Desember 1907 Asmaoen lulus ujian akhir di Amsterdam (lihat Het vaderland, 21-12-1907). Abdoel Rivai lulus ujian dokter di Amsterdam pada bulan juni 1908 (lihat De Telegraaf, 13-06-1908). 


Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Dr Asmaoen lahir di Malang adalah pribumi pertama yang studi di Belanda yang berhasil meraih gelar sarjana (bidang kedokteran). Pada bulan Juni 1908 Dr Asmaoen kembali ke tanah air dengan menumpang kapal ss Vogel berangkat dari Amsterdam (lihat Haagsche courant, 01-06-1908). Indische Vereeniging didirikan di kediaman Soetan Casajangan di Leiden pada tanggal 25 Oktober 1908. Abdoel Rivai belum puas dengan studinya dan masih di Belanda untuk melanjutkan studi ke tingkat doktoral. Sementara itu salah satu mahasiswa pribumi JE Tehupeiory meninggal dunia (lihat Algemeen Handelsblad, 27-12-1908). 

Pada bulan Maret 1909 Raden Kartono akhirnya berhasil menyelesaikan studinya (lihat De locomotief, 09-03-1909). Disebutkan pribumi lulus ujian sastra Raden Sosrokartono di Leiden mendapat gelar sarjana in de talen en letterkunde van den Oost-Indischen archipel. Bagaimana dengan Soetan Casajangan? Soetan Casajangan juga lulus ujian akhir untuk mendapatkan akta guru MO pada tahun 1909 ini. 


Seperti dikutip di atas (AI) bahwa mahasiswa Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar sarjana adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Narasi ini tampaknya tidak tepat. Fakta bahwa mahasiswa asal Hindia (baca: Indonesia pada masa ini) pertama yang meraih gelar sarjana adalah Oei Jan Lee (kelahiran Banda lulus tahun 1889), lalu kemudian disusul Tan Tjioen Liang (kelahiran Bogor lulus tahun 1894), Raden Asmaoen (kelahiran Malang lulus 1907); Abdoel Rivai (kelahiran Bengkulu tahun 1908); dan kemudian Raden Mas Kartono (kelahiran Jepara lulus tahun 1909). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Tentang Buku Sejarah Indonesia 10 Jilid; Apakah Sesuai dengan Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global?

Sejarah adalah narasi fakta dan data, kejadian yang pernah terjadi da nada buktinya. Narasi sejarah akan diwariskan. Namun narasi sejarah adalah juga bidang perhatian riset, maka  narasi sejarah juga senantiasi ada yang mengujinya, apakah di masa lalu, pada masa ini maupun pada masa dating. Hal itu juga nanti pada saat semua orang dapat mengakses buku Sejarah Indonesia 10 Jilid, apakah sesuai dengan dinamika riset dalam arus global yang semakin terbuka dan bersifat digital. Dalam hal ini narasi sejarah berdasarkan AI juga perlu diuji: siapa orang pribumi pertama yang menggunakan nama Indonesia.. 


AI menarasikan sebagai berikut: “Orang pribumi pertama yang menggunakan nama "Indonesia" adalah Ki Hajar Dewantara. Ia menggunakan istilah tersebut pada tahun 1913 saat mendirikan biro pers di Belanda dengan nama Indonesisch Pers-bureau. Perhimpunan Indonesia adalah organisasi pergerakan nasional pertama yang secara resmi menggunakan nama "Indonesia" pada tahun 1925 (sebelumnya bernama Indische Vereeniging). Mohammad Hatta merupakan tokoh yang gencar mempopulerkan nama ini di forum internasional melalui aktivitas politiknya bersama Perhimpunan Indonesia. M Tabrani adalah tokoh yang pertama kali mengusulkan nama "Bahasa Indonesia" (menggantikan istilah Bahasa Melayu) pada Kongres Pemuda I tanggal 2 Mei 1926. Secara historis, nama "Indonesia" sendiri pertama kali dicetuskan oleh orang asing, yaitu James Richardson Logan (seorang pengacara Skotlandia) dan George Samuel Windsor Earl (etnolog Inggris) pada tahun 1850”. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

 *Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar