*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Semua gerakan di Indonesia (baca: Indonesia) dimulai oleh orang-orang Belanda khususnya orang Indo, yang kemudian terbentuk Indisch Bond tahun 1898. Gerakan tersebut lalu meluas ke berbagai sisi. Pada tahun 1900 di Padang Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda menginisiasi pendirian organisasi kebangsaan Indonesia (pertama) diberi nama Medan Perdamaian (Dunia Perdamaian). Pada tahun 1901 organ Medan Perdamaian berupa majalah diberi nama Insulinde. Pada tahun 1903 Dja Endar Moeda mulai mengirim sejumlah guru untuk studi ke Belanda. Dalam konteks inilah kemudian terbentuk Indisch Partij. Singkatnya Republik ini tidak diciptakan oleh satu orang, tidak satu organisasi, juka tidak satu bangsa, tetapi semuanya ada permulaan Sejarah Sepak Bola di Indonesia
Sebagai seorang Indo, Douwes Dekker merasa terjadinya diskriminasi yang membeda-bedakan status sosial antara Belanda totok (asli), Indo (campuran), dan Bumiputera (pribumi) oleh pemerintah Hindia Belanda. Kedudukan dan nasib para Indo tidak jauh berbeda dengan Bumiputera. Di Bandung, sudah sejak lama terdapat organisasi Indo-Eropa seperti organisasi Indische Bond yang berdiri tahun 1899 (1898) dan organisasi Insulinde yang berdiri tahun 1907. Kedua organisasi tersebut bertujuan untuk mengangkat derajat kaum Indo dalam bidang sosial-ekonomi dan menjalin perserikatan dengan Belanda tanpa memisahkan diri dari negara induk. Pemikiran ini tentu saja bertolak belakang dengan Dekker. Dalam pidatonya di hadapan anggota Indische Bond tanggal 12 Desember 1911 Dekker membangkitkan semangat kaum Indo untuk memberontak dan melepaskan diri dari pemerintah kolonial. Dan karena jumlah kaum Indo yang sedikit, maka mereka harus bersama-sama dengan kaum Bumiputera berjuang dengan kaum Indo menjadi pelopor. Lalu terbentuk Panitia Tujuh..Pada tanggal 6 September 1912, Panitia Tujuh melakukan suatu rapat di bawah pimpinan Dekker di Bandung dan hasilnya terbentuk perhimpunan baru bernama Indische Partij (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Indisch Bond dan Indisch Partij di Indonesia? Seperti disebut di atas, semuanya dimulai dari Indische Bond yang kemudian terbentuk Indisch Vereening di Belanda (1908) dan Indisch Partij di Indonesia yang kemudian Dr Tjipto ikut bergubung dengan Indisch Partij. Lalu bagaimana sejarah Indisch Bond dan Indisch Partij di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Indisch
Bond dan Indisch Partij di Indonesia; Bagaimana Dr Tjipto Menjadi Anggota
Indisch Partij?
Republik ini dibangun oleh banyak orang dari berbagai pihak. Namun seperti disebut di atas semua perjuangan yang dilakukan dengan berbagai metode masing-masing ada permulaannya. Organisasi-organisasi kebangsaan sudah didirikan, jumlahnya semakin banyak. Orang-orang pribumi juga semakin banyak yang terpelajar, tidak hanya yang studi di Hindia juga yang studi di Eropa/Belanda. Pada tahun 1912 adalah pemulaan untuk meninjau semua yang telah dilakukan, memetakan semua yang ada, untuk menarik garis jalan yang akan dituju.
Di seluruh wilayah Hindia Belanda, administrasi pemerintahan semaki rapih semakin kuat. Kerapihan dan kekuataan administrasi tersebut di sisi lain menyebabkan tekanan kepada warga Hindia Belanda semakin kuat. Indisch Bond (di Batavia), Medan Perdamaian (di Sumatra), Boedi Oetomo (di Jawa) dan lainnya di Hindia hanya berjuang secara lembut dengan hanya bersifat incremental. Demikian juga dengan Indische Vereeniging, Vereeniging Moederland en Kolonien dan Indisch Genootscap di Belanda setali tiga uang. Pada tahun 1912 ini suatu komite yang terbentuk di Bandoeng melakukan revolusi di tubah Indisch Bond dengan tujuan untuk mempertegas metode perjuangan radical untuk mencapai hak yang sama dan kemerdekaan.
Sebelum Komite Bandoeng melakukan revolusi di tubuh Indisch Bond di Batavia, di Belanda diadakan pertemuan umum Indisch Vereeniging pada tanggal 11 Desember 1911. Ini juga sehubungan dengan terbitnya buku “Dor Duisternis tot Licht” yang disusun oleh JH Abendanon yang diterbitkan oleh Indisch Vereeniging melalui penerbit GCT van Dorp en Co di Den Haag. Iklan pertama dimuat di surat kabar Het vaderland, 27-06-1911.
Het vaderland, 27-06-1911: ‘Buku yang luar biasa. Dikumpulkan dalam satu volume dan diterbitkan (dengan judul Door Duisternis tot licht, gedachten van Raden Adjeng Kartini Melalui Kegelapan Menuju Cahaya, pemikiran Raden Adjeng Kartini. Diterbitkan oleh GCT van Dorp en Co., Semarang, Surabaya, Den Haag) sejumlah surat dari Raden Adjeng Kartini, wanita muda Jawa yang luar biasa (ia meninggal pada usia 25 tahun), yang hidupnya yang singkat memberikan kontribusi besar pada pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan spiritual beberapa wanita Jawa terkemuka, dan dengan demikian membuka bagi kita, orang Eropa, perspektif baru tentang disposisi spiritual orang Jawa pada umumnya. Kartini, seperti yang ia sukai dipanggil dalam surat-suratnya, adalah salah satu putri dari almarhum Bupati Japara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Bapak Abendanon bertemu dengannya, sebagai kepala Departemen Pendidikan, Ibadah, dan Industri, selama perjalanan resmi yang dilakukan dengan tujuan berkonsultasi dengan Bupati dan istrinya serta ketiga putri mereka, yang telah mereka berikan pendidikan liberal Eropa, tentang apa yang dapat dilakukan untuk pengembangan intelektual gadis-gadis Jawa dari kelas atas dan bawah. Surat-surat dan fragmen surat yang diterbitkan, yang ditujukan kepada Bapak Abendanon dan keluarganya serta kepada berbagai tokoh pria dan wanita terkemuka di negara kita dan di tempat lain (di antara yang terakhir juga Profesor Anton te Jena, yang baru-baru ini tampil di Jerman sebagai pembela kebijakan kolonial kita, dan istrinya), menjadi bukti kecerdasan dan kehidupan emosional yang sangat berkembang, ditambah dengan keinginan yang mendalam untuk mengangkat rasnya secara intelektual dan spiritual, dan khususnya perempuan dan anak perempuan. Akibatnya, koleksi ini merupakan sumber yang hampir tak habis-habisnya untuk mempelajari pola pikir dan kehidupan spiritual orang Jawa dan perempuan Jawa. Siapa pun yang ingin melakukan sesuatu demi kepentingan perkembangan ras Jawa tidak boleh melewatkan buku ini. “Namanya akan tetap diberkati”, demikian Bapak Abendanon mengenang di akhir kata pengantarnya wanita terkemuka ini di antara orang Jawa dan masyarakat lain di Kepulauan Jawa, yang baginya ia seperti Aurora berjari mawar, menunjuk dari kegelapan menuju cahaya pagi kemajuan, yang hanya dapat diperoleh melalui peningkatan jiwa dan pikiran. Namanya pun akan diberkati di antara ras kulit putih, yang telah ia dekatkan dengan rasnya sendiri melalui ide-idenya”. Tujuan penerbitan ini, selain membangkitkan simpati, adalah untuk mengamankan kerja sama banyak pihak untuk pendirian sekolah berasrama dan sekolah harian bagi putri-putri kepala suku asli, seperti yang telah dibayangkan oleh penulis. Batu fondasi untuk lembaga tersebut telah diletakkan secara finansial. Dengan mengingat hal ini, kami juga ingin menarik perhatian khusus pada buku yang luar biasa ini’.
HJ Abendanon adalah mantan Menteri Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda (1900-1905). Setelah kembali ke Belanda bergabung dengan Vereeniging Oost en West (orang-orang Belanda yang mendukung pemikiran dalam hubungannya kerjasama orang Belanda dan orang pribumi) di Den Haag. Organisasi inilah yang banyak berkontribusi dalam politik etik.
Pada tahun 1908 HJ Abendanon mendatangani Soetan
Casajangan di kediamannya di Leiden untuk mengkonfirmasi Soetan Casajangan dalam pendirian organisasi
mahasiswa pribumi di Belanda. Soetan Casajangan menjawab masih menundanya
karena kesibukan studi. Beberapa bulan kemudian pada tanggal 25 Oktober 1908 di
kediamana Soetan Casajangan didirikan organisasi mahasiswa pribumi dengan nama
Indisch Vereeniging. Di alamat yang sama juga berada tempat kediaman Raden
Kartono. Pada tahun 1910 masa jabatan Soetan Casajangan sebagai ketua Indisch
Vereeniging berakhir dan kemudian diserahkan kepada ketua terpilih Dr Ph Laoh. Namun
jabatan itu hanya dijabat Ph Laoh karena akan segera kembali ke tanah air. Ph
Laoh menikah di Belanda tanggal 1 Desember (lihat De courant, 02-12-1910). Ph
Laoh dan istri pada tanggal 3 Desember 1910 dengan kapal ss Rindjani dari
Rotterdam berangkat ke Batavia (lihat De Maasbode, 04-12-1910). Dalam manifest kapal
dicatat Dr Ph Laoh dan istri naik di Marseille (Prancis). Boleh jadi pasangan muda
ini bermulan madu di kereta api dari Belanda ke Prancis (Marseile). Jabatan ketua
Indisch Vereeniging diserahkan kepada Hoesein Djajadiningrat yang belum lama
lulus ujian (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 19-10-1910). Disebutkan
Raden Mas Hoesein Djajadiningrat telah lulus (cum laude) ujian sarjana (Drs) dalam
bidang bahasa dan sastra kepulauan Hindia Timur di Universitas Leiden. De Maasbode,
19-06-1911: ‘Leiden, 19 Juni. Lulus ujian kandidat dalam bidang hokum Raden
Mars Noto Soeroto. Algemeen Handelsblad, 11-08-1911: ‘Koresponden "Bat. Nbl"
di Batavia melaporkan bahwa Drs Raden Hoessein Djajadiningrat akan tiba di
Hindia menjelang akhir tahun ini. Setelah meraih gelar sarjana sastra, beliau
kemungkinan akan ditugaskan untuk mempelajari bahasa-bahasa daerah. Pada bulan
Oktober Soetan Casajangan diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien untuk
berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan pada bulan
Oktober 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan
makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan
pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya:
Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and
Gentlemen).
..saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi).
Dalam pertemuan Indisch Vereeniging pada tanggal 24 Desember 1911 banyak hal yang dibicarakan yang pertama adalah sehubungan dengan kepulangan Drs Hoesein Djajadinigrat ke tanah air. Ketua Indische Vereeniging diserahterimakan dari Drs Hoesein Djajadinigrat kepada Noto Soeroto.
Dalam pertemuan ini juga turut dihadiri guru muda yang dikirim Boedi Oetomo belum lama tiba di Belanda, Sjamsi Widagda yang dititipkan kepada Soetan Casajangan (yang saat ini Soetan Casajangan sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool di Haarlem dan Rotterdam). Sebagaimana diketahui Soetan Casajangan adalah satu-satunya mahasiswa pribumi yang mengambil bidang keguruan, lulus akta LO tahun 1907 dan lulus akta MO pada tahun 1909.
Het vaderland, 16-02-1912: ‘Pemikiran Raden Adjeng Kartini’. Dengan senang hati saya membaca pidato Raden Mas Noto Soeroto tentang "Pemikiran Raden Adjeng Kartini" (disampaikan pada pertemuan tanggal 21 Desember 2011 untuk Indische Vereeniging). Seperti yang disebutkan dalam kata pengantar buku yang disusun oleh JH Abendanon, disebutkan buku ini adalah publikasi pertama Indische Vereeniging, yang juga akan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Melayu, agar semua warga negara di seluruh Hindia dapat memperhatikan pemikiran wanita terhormat itu, yang merasakan dengan sangat akurat dan mendalam apa yang kurang di Hindia, dan pada saat yang sama dengan sangat baik membedakan poin-poin dalam karakter nasional yang membutuhkan perbaikan atau modifikasi, atau yang perlu dikembangkan lebih lanjut ke arah yang benar. Justru pemikiran-pemikiran tersebut, yang berasal dari simpati dan empati salah satu warga negara yang paling terhormat, akan menjadi dorongan khusus bagi Hindia. Namun, beberapa detail kecil menarik perhatian saya. Judul, serta apa yang dinyatakan pada halaman 5 dan 6, mungkin menimbulkan kecurigaan bahwa "pemikiran" ini pada saat itu telah memberikan dorongan bagi pendirian Indische Vereeniging. Siapa pun yang sedikit familiar dengan sejarah Indisch Vereeniging akan tahu bahwa organisasi ini didirikan atas inisiatif Soetan Casajangan Soripada. Banyak juga yang membaca pidato yang disampaikan akan bertanya pada diri sendiri: "Apa yang telah dilakukan Indisch Vereeniging hingga saat ini dalam semangat Kartini?" "Apakah dia (Kartini) hanya mendapatkan dukungan dari para pemuda bangsanya sendiri setelah menyampaikan pidato ini?" Tidak, tentu tidak! Pemikirannya sudah mulai berpengaruh. Pada pertemuan tahunan terakhirnya, Boedi-Oetomo memutuskan untuk mengirim satu atau lebih guru ke Belanda, sehingga setelah menyelesaikan studi mereka, mereka dapat "bekerja dengan lebih produktif di negara mereka sendiri untuk mewujudkan cita-cita kita (Kartini)" (hlm. 23), dengan mengingat: "Berikan pendidikan dan pengasuhan kepada orang Jawa" (hlm. 23). Dan bukan hanya di Jawa, tetapi di seluruh Hindia Belanda, kebangkitan ini terlihat jelas. Saat ini, beberapa orang Batak dan Melayu sudah belajar di negara ini untuk membantu mewujudkan, setelah menyelesaikan studi mereka, cita-cita yang sangat diinginkan Kartini di tanah air mereka sendiri. “Berikan pendidikan dan pengasuhan kepada Hindia!” Tidak seorang pun dapat mengklaim, setelah membaca pidato yang disampaikan kepada “Vereeniging Moederland en Kolonien” oleh Soetan Casajangan Soripada, bahwa Hindia pada umumnya tidak merasakan dengan sangat jelas bahwa mereka kekurangan hal ini; dapat berpendapat bahwa pemikiran Kartini ini hanya dapat berfungsi sebagai untaian lampu bagi Indisch Vereeniging, dan saat ini tidak mewujudkan gagasan utama Pemuda Hindia; dapat berpendapat bahwa pemikiran ini belum dikaji secara menyeluruh. Saya ingin melihat referensi sederhana terhadap fakta-fakta ini, yang sudah dapat dipastikan, ditambahkan ke dalam pidato yang sangat simpatik tersebut. Terima kasih atas publikasinya: JACS. V’.
Di tanah air (Hindia), pada awal tahun 1912 terbit surat kabar baru berbahasa Belanda di Bandoeng, De expres. Surat kabar ini dipimpin dan pemimpin redaksi EFE Douwes Dekker yang edisi pertama terbit hari Jumat, 01-03-1912. Sudah barang tentu, EFE Douwes Dekker terus mengamati perkembangan dan dinamikan orang-orang pribumi di Belanda yang tergabung dalam Indisch Vereeniging. Lantas apakah surat kabar De expres akan menjadi organ (corong) dari Indische Bond?
Sejak Indische Bond didirikan tahun 1898 di Batavia tidak pernah terinformasikan memiliki organ baik sebagai majalah atau surat kabar. Organisasi kebangsaan pribumi pertama yang didirikan di Padang tahun 1900 telah memiliki organ sendiri berupa majalah bulanan yang diberi nama Insulinde di bawah pemimpin redaksi Dja Endar Moeda. Sementara Boedi Oetomo di Jawa maupun Indisch Vereeniging di Belanda belum memiliki organnya masing-masing. Majalah “Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West” adalah organ dari Vereeniging Oost en West, organisasi yang lebih berfokus pada pemikiran daripada aksi yang didirikan tahun 1899 dan mulai pada tahun 1901 menerbitkan majalah tersebut. Organisasi sejenis didirikan tahun 1901 dengan nama Vereeniging Moederland en Kolonien. Organisasi tertua adalah Indisch Genootschap yang didirikan di Den Haag pada tahun 1854. Sementara itu organisasi sejenah sudah lama ada di Hindia yakni Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen didirikan di Batavia tahun 1778.
Bagaimana Dr Tjipto Menjadi Anggota Indisch Partij? Bagaimana Pula Soewardi Soerjaningrat Menjadi Anggota Indisch Partij?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar