Selasa, 04 Agustus 2026

Sejarah Dr Tjipto (12): Guru Soewardi Soerjaningrat Dirikan Sekolah Taman Siswa; Guru Soetan Goenoeng Moelia Raih Doktor


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda tahun 1927. Bagaimana dengan Soewardi Soerjaningrat? Ada sejumlah guru lulusan Belanda, antara lain Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (tiba di Belanda 1904), Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia dan Sjamsi Sastrawidagda (keduanya 1911), Sam Ratulangi (1912); Soewardi Soerjaningrat, Dahlan Abdoellah, Tan Malaka (ketiganya 1913). Dalam perjalanan karir guru hanya satu yang mendirikan sekolah sendiri (Soewardi Soerjaningrat) dan hanya satu yang meraih gelar doktor. Soewardi Soerjaningrat kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Deepublish


Soewardi kembali ke Indonesia pada September 1919. Soewardi diingatkan oleh istrinya, Raden Ajeng Soetartinah, bahwa perjuangan juga dapat melalui pendidikan. Berbekal ilmu tentang pendidikan dan pengajaran di Belanda, Soewardi kemudian bergabung dengan sekolah binaan saudaranya, Perguruan Adhidarma Yogyakarta pada 1921. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang berencana untuk didirikannya.[butuh rujukan]Pada 3 Juli 1922, ia akhirnya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah guru Soewardi Soerjaningrat dan sekolah Taman Siswa? Seperti disebut di atas, sejumlah guru lulusan Belanda hanya satu yang mendirikan sekolah sendiri (Soewardi Soerjaningrat) dan hanya satu yang meraih gelar doktor (Soetan Goenoeng Moelia). Lalu bagaimana sejarah guru Soewardi Soerjaningrat dan sekolah Taman Siswa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Model Bisnis Era Teknologi Informasi

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Guru Soewardi Soerjaningrat dan Sekolah Taman Siswa; Guru Soetan Goenoeng Moelia Raih Gelar Doktor

Tunggu deskripsi lengkapnya

Guru Soetan Goenoeng Moelia Raih Gelar Doktor; Ki Hadjar Dewantara Menteri Pendidikan Pertama, Soetan Goenoeng Moelia Menteri Pendidikan Kedua

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar