Sabtu, 11 Juli 2026

Sejarah Tjipto (2): Organisasi Kebangsaan; Dari Medan Perdamaian, Sjarikat Tapanoeli, Boedi Oetomo hingga Indisch Vereeniging


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Pada tahun 1905 Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia. Dr Tjipto (Mangoenkoesoemo) dan Dr Abdoel Hakim (Nasoetion) yang sama-sama lulus keduanya ditempatkan di Stadsverband (rumah sakit kota) di Batavia sebagai dokter pribumi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-12-1905). Saat ini sudah ada organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia (baca: pribumi) yang telah terbentuk: Societeit Paroekoenan di Bandoeng (1897), Medan Perdamaian di Padang (1900), Vereeniging Ambon di Ambon (1900) dan Sjarikat Tapanoeli di Medan (1905). Sejarah Pers di Indonesia


Pada tahun 1907, Wahidin Soedirohoesodo melakukan kunjungan ke Stovia dan bertemu para pelajar dan menyerukan gagasan untuk membentuk organisasi yang dapat mengangkat derajat bangsa. Selain itu, Sudirohusodo juga ingin mendirikan sebuah organisasi di bidang pendidikan untuk bisa membantu biaya orang-orang pribumi yang berprestasi dan mempunyai keinginan untuk bersekolah. Selanjutnya, Soetomo bersama dengan Soeradji mengadakan pertemuan dengan para pelajar STOVIA yang lain, untuk membicarakan gagasan organisasi yang disampaikan oleh Sudirohusodo. Lalu diadakan pertemuan dan membentuk sebuah organisasi yang diberi nama "Perkumpulan Boedi Oetomo" pada tanggal 20 Mei 1908 di Batavia. Tokoh yang tercatat sebagai pendiri Boedi Oetomo terdiri dari 9 orang, yaitu Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Angka Prodjosoedirdjo, Mohammad Saleh, Raden Mas Goembrek, Soetomo, Soeradji Tirtonegoro, dan tentunya Wahidin Soedirohoesodo sebagai penggagasnya. Soetomo menjadi ketua dan Soelaeman Affandi Kartadjoemena, sebagai wakilnya. Pengurus lainnya terdiri dari Gondo Soewarno sebagai sekretaris I, dan Goenawan sebagai sekretaris II, serta bendahara yang dijabat oleh Angka Prodjosoedirdjo. Sisa pendiri lainnya menjabat sebagai komisaris (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah organisasi kebangsaan Indonesia? Seperti disebut di atas, saat Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia 1905 sudah ada sejumlah organisasi kebangsaan Indonesia. Lalu bagaimana sejarah organisasi kebangsaan Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Bahasa Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Organisasi Kebangsaan; Dari Medan Perdamaian, Sjarikat Tapanoeli, Boedi Oetomo dan Indisch Vereeniging

Lulusan sekolah guru pribumi dan lulusan sekolah kedokteran pribumi telah mencoba melangkah di depan dalam menerjemahkan situasi dan kondisi pribumi di Hindia. Di luar pekerjaan utama mereka, memanfaatkan waktu untuk memberi kontribusi terhadap kebutuhan pendudukan pribumi dengan cara-cara yang sesuai untuk kemajuan bangsa ke depannya. Salah satu guru yang terbilang pionir dalam urusan berbangsa ini adalah Dja Endar Moeda. 


Pada tahun 1893 Dja Endar Moeda pension sebagai guru di Singkil lalu berangkat haji ke Mekah. Sepulang dari Mekah, Dja Endar Moeda memilih tinggal di Padang. Naluri guru segera muncul ketika banyak penduduk usia sekolah tidak tertampung di sekolah pemerintah, Dja Endar Moeda mendirikan sekolah swasta. Dalam hal ini, Dja Endar Moeda, guru tetaplah guru. Pada tahun 1895 penerbit surat kabar Pertja Barat menawarkannya untuk posisi redaktur, Dja Endar Moeda tidak keberatan. Seorang jurnalis Belanda bertanya kepadanya mengapa seorang guru terjun ke dunia jurnalistik. Dja Endar Moeda menjawab enteng: “pendidikan dan jurnulistik sama pentingnya; sama-sama mencerdaskan bangsa”. Singkatnya, Dja Endar Moeda pada tahun 1900 mengakuisisi surat kabar Perja Barat beserta percetakannya. Dja Endar Moeda juga menerbitkan surat kabar baru Tapian Na Oeli. Motto surat kabar Pertja Barat diubah menjadi: “Oentoek Sagala Bangsa”. Tidak cukup sampai disitu, Dja Endar Moeda menginisiasi organisasi kebangsaan (multi etnik) di Padang yang diberi nama Medan Perdamaian dan sekaligus menjadi direkturnya. Pada tahun 1902 Dja Endar Moeda menerbitkan majalah bulanan Insulinde yang sekaligus menjadi organ dari Medan Perdamaian. Topik-topik yang dimuat di Insulinde perihal pembangunan seperti pertanian dan industry kerajinan rumah tangga dan social budaya termasuk peningkatan penduduk pribumi dan mendorong terjadi perubahan ke arah kemajuan. Dja Endar Moeda “mengirim” salah satu asistennya di majalah Insulinde, Baginda Djamaloedin pada tahun 1903 untuk melanjutkan studi ke Belanda. Pada tahun 1904 Dja Endar Moeda kembali mengirim adik kelasnya guru di Padang Sidempoean Soetan Casajangan untuk melanjutkan studi ke Belanda. Di Belanda, Baginda Djamaloedin diterima di sekolah pertanian di Wageningen dan Soetan Casajangan diterima di sekolah keguruan di Haarlem. Baginda Djamaloedin lulus dari sekolah guru di Fort de Kock tahun 1899. Dja Endar Moeda lulus sekolah guru di Padang Sidempoean tahun 1885 dan Soetan Casajangan lulus dari sekolah guru Padang Sidempoean tahun 1889. 

Pada saat Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia tahun 1905, Dja Endar Moeda terkena delik pers di Padang dan dihukum. Dja Endar Moeda dihukum dengan cambuk dan diusir dari kota Padang. Dja Endar Moeda meminta bantuan adiknya (pensiun dini dari guru) untuk menggantikan posisinya di Padang (untuk mengurus pendidikan dan pers). Dja Endar Moeda kemudian hijrah. Di Medan, Dja Endar Moeda bersama pengusaha Hadji Ibrahim mendirikan organisasi kebangsaan baru Sjarikat Tapanoeli. Satu-satunya surat kabar berbahasa Melayu di Medan adalah Pertja Timor di bawah penerbit surat kabar Sumatra Post. Pemimpin redaksi surat kabar Pertja Timor di Medan adalah Mangaradja Salamboewe sejak 1902 (juga lulusan sekolah guru di Padang Sidempoean). 


Tjipto Mangoenkoesoemo dan Abdoel Hakim (Nasoetion) beruntung lulus sekolah kedokteran Docter Djawa School karena langsung ditempatkan keduanya sebagai dokter pribumi di rumah sakit kota (Stadsverband). Disebut beruntung karena pendidikan di sekolah Docter Djawa School sangat ketat dan banyak yang gagal sebelum menyelesaikan studinya menjadi dokter. Beberapa siswa yang gagal di Docter Djawa School yang juga menjadi kolega Dr Tjipto semasih kuliah, tidak patah arah, lalu kemudian terjun ke dunia jurnalistik. Dua yang terpenting dalam hal ini adalah Tirto Adi Soerjo dan Abdoel Moeis. Pada tahun 1900 Raden Mas Tirto Adisoerjo lulus ujian transisi naik dari kelas tiga ke kelas empat tingkat medik (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-01-1900). Untuk lulus menjadi dokter harus lulus kelas enam medik. Sementara itu di kelas satu tingkat persiapan terdapat nama Abdoel Moeis. Pada tahun 1902 nama Tirto Adhi Soerjo di Batavia terinformasikan sebagai redaktur surat kabar berbahasa Melayu Pembrita Betawi di bawah kepala redaktur Wijbrand (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-05-1902). Abdoel Moeis pada tahun 1903 terinformasikan lulus ujian pegawai pemerintah (klein ambtenaar) di Fort de Kock (lihat Sumatra-bode, 20-01-1903). De locomotief, 07-11-1903: ‘Menurut surat kabar Mataram, RM Soewardi dan RM Soero di Poero, di antara yang lain, sedang mengikuti ujian tertulis yang diadakan di Djokja untuk para calon yang ingin dilatih sebagai dokter Djawa di sekolah terkait di Batavia’. RM Soewardi pada tahun 1904 lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua di tingkat persiapan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Daftar dokter pribumi di Hindia berdasarkan penempatan menurut beslit pengangkatan tahun 1905 (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie, 1906). 

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo harus berpisah dengan kawan lamanya Dr Abdoel Hakim Nasoetion. Pada tahun 1906 Tjipto Mangoenkoesoemo oleh Geneeskundigen Dienst (Jawatan Layanan Medis) dipindahkan dari Batavia ke Amoentai (lihat Soerabaijasch handelsblad, 25-09-1906). Dengan kapal ss GG Daendels Dr Tjipto berangkat menuju Bandjar (lihat De locomotief, 24-10-1906). Dr Abdoel Hakim Nasoetion dipindahkan ke kampong halaman di Padang Sidempoean.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 07-11-1906: ‘Oleh Jawatan Pelayanan Medis Sipil, ditempatkan dari Batavia ke Padang Sidempoeau, dokter pribumi Abdoel Hakim’. Dr Abdoel Hakim Nasoetion cukup lama di Padang Sidempoean. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 25-04-1910: ‘dokter pribumi ke Bindjei (pantai timur Sumatera), Abdoel Hakim’. 

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tidak lama di Amoentai, Zuid Borneo (lihat Soerabaijasch handelsblad, 22-04-1907). Disebutkan kapal ss GG Daendels berangkat dari Bandjarmasing dimana Dr Tjipto salah satu penumpangnya. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian ditempatkan di Demak (dekat dengan kampong halamannya). 


Pada tahun 1907 di sekolah kedokteran Batavia (STOVIA) RM Soewardi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik (lihat De locomotief, 10-10-1907). Yang juga satu kelas dengan RM Soewardi adalah Abdoel Rasjid Siregar, Mohamad Joesoef, Mohamad Sjaaf dan Raden Soesilo. 

Pada bulan Juli 1908 terinformasikan organisasi kebangsaan Boedi Oetomo telah didirikan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-07-1908). Penjelasan yang lebih rinci dapat dibaca surat sekretaris Boedia Oetomo Soewarno yang dimuat pada surat kabar yang terbit di Semarang (lihat De locomotief, 24-07-1908). 


Disebutkan antara lain:…berapa banyak yang sudah mencoba membuat perkumpulan, perkumpulan dengan tujuan untuk memajukan perkembangan orang Jawa, orang-orang yang cerdas, penuh inisiatif, penuh energi, orang-orang seperti Soediro Husodho, yang telah melakukan perjalanan setengah (pulau) Jawa, telah memohon tujuan suci di hampir setiap priyayi,…sayangnya, semua orang itu merasa sangat kecewa tanpa ada harapan. Kini, apakah kami ragu-ragu untuk mengulangnya? Kami pikir sebaiknya tidak menyebarkan ide-ide kami kepada orang tua, tetapi untuk mengarahkan langkah kami ke arah yang lebih muda, orang-orang yang hidup di bawah urgensi keadaan yang sama seperti kami. berpikiran sama, di antara kawan-kawan kami di sekolah pertanian dan kedokteran hewan di Buitenzorg, di sekolah-sekolah kepala di Bandoeng, Magelang dan Probolinggo, di sekolah guru di Bandung, Djokja dan Probolinggo, dan PPKn di Surjbayn, yang diharapkan dapat lebih memahami kami…Memang benar bahwa perkumpulan kami Boedi-Utomo melihat cahaya hari pada tanggal 20 Mei 1908 dan keanggotaannya sekarang sekitar. 650 orang….Bagaimana kita harus mencapai tujuan kita akan ditentukan lebih rinci oleh Badan Pusat yang akan dibentuk pada bulan Poeasa berikutnya di Djokja. Sampai sidang umum disana kami menuntut bahwa setiap asosiasi, mengejar tujuan yang sama, dikirim dari antara delegasinya. Anggaran dasar asosiasi juga belum diadopsi….Dalam beberapa hari terakhir beberapa surat kabar mencurahkan artikel-artikel menarik untuk upaya sungguh-sungguh dari beberapa Jawa tiga Raden Adjeng Japara, bupati Demak. Temanggoeng, Karanganjar, Koetoardjo dll, yang usaha-usaha pers kita lihat untungnya diapresiasi hampir secara universal. Dengan gembira kami mengetahui hal ini; untuk saat ini kesulitan besar untuk tidak dipahami oleh para pemimpin rakyat yang ditunjuk dihilangkan dan kita dapat melepaskan sikap spekulatif kita. Para pemimpin itu sekarang tampaknya memiliki gagasan yang sama seperti kita; mereka ingin menempuh jalan yang sama seperti yang kita lakukan…kami segera memberitahukan kepada ketiga adjeng dewan Japara tentang keberadaan dan tujuan perkumpulan kami Boedi Oetomo, dengan permintaan untuk mendirikan suatu perkumpulan lokal, dan juga menyatakan keinginan kami bahwa kami dengan senang hati akan bergabung dengannya…Kami berharap kerjasama ini akan menghasilkan organisasi yang kuat. Benar saja, dorongan ini seharusnya tidak datang dari kita anak-anak muda; namun, kami tidak menuduh siapa pun telah gagal dalam tugasnya. Ternyata waktu untuk beraksi belum tiba, hari kehidupan baru bagi orang Jawa mungkin baru menyingsing, tetapi masa kebodohan pasti sudah berakhir’. 

Dari keterangan sekretaris Soewarno ini banyak yang diketahui tentang latar belakang pembentukan Boedi Oetomo di Batavia. Terinformasikan Boedi Oetomo didirikan para mahasiswa di Batavia tanggal 20 Mei 1908. Dari informasi tersebut juga sudah terinformasukan sejauh apa yang dilakukan dan apa yang akan diagendakan segera (untuk mencapai masa depan). Tampaknya gerakan Boedi Oetomo yang dimotori oleh Soetomo, Soewarno dkk ini yang didukung di dalam tempat dimana mahasiswa kuliah telah memicu golongan senior untuk melihat perspektif baru tidak hanya membentuk organisasi yang akan bersinergi dengan Boedi Oetomo. Salah satu pembentukan organisasi senior ini (Algeeenen Javaanschen Bond) berada di Djogjakarta yang besar kemungkinan diinisiasi oleh Dr MB Wahidin Soediro Hoesodo. 


Bataviaasch nieuwsblad, 01-09-1908: ‘De Javanenbond.—Dari Djokja kabar baik telah diterima bahwa divisi terorganisir pertama dari Algeeenen Javaanschen Bond telah dibentuk disana. Pimpinan Departemen terdiri dari MB Soediro Hoesodo, Presiden, RM Pandji Broto Atmodjo, Wakil Presiden, HK Yang Mulia Pangeran Hario Notodirodjo, Bendahara Pertama, M. Ng. Soemo di Sastro, Bendahara, M.Ng. D. Widjo Bisnojo, Sekretaris Pertama, R. Ng. Sosro Soegondo. Sangat menyenangkan melihat bersatu dalam pemerintahan ini seorang pria seperti Pangeran Notodirodjo, wakil bangsawan tertinggi Jawa, dan putra-putra sejati rakyat seperti presiden, bendahara dan sekretaris pertama. Dipahami bahwa pengurus divisi ini bukanlah pengurus organisasi Boedi Oetomo di Djokja, melainkan pengurus divisi pertama Algemeenen Javaanschen Bond. Bukan tidak mungkin sebagian pengurus ini akan diangkat menjadi pengurus pusat yang akan dibentuk dalam kongres nasional, sehingga jabatan mereka di dewan departemen harus terisi. Pengurus di Djokja telah menunjuk Pangeran Hario Notodirodjo, Raden Toemenggoeng Poerbokoesoemo dan RM Toemenggoeng Djajeng Irawan sebagai anggota kehormatan’. Dalam berita ini juga terdapat berita bahwa dari Djokja juga mendapat pesan bahwa sekolah guru (kweekschool) disana akan disediakan sebagai akomodasi menginap bagi anggota Asosiasi Boedi Oetomo yang datang dari luar untuk menghadiri kongres selama liburan poeasa. Jadi mereka tidak perlu khawatir tentang akomodasi bermalam’. 

Dari berita ini De Javanenbond adalah satu hal, sedangkan Boedi Oetomo yang terbentuk yang juga telah memiliki cabang termasuk di Djokjakarta yang akan melakukan kongres pada bulan puasa adalah hal lain lagi. Boedi Oetomo umumnya adalaj junior, sedangkan organisasi yang dibentuk baru di Djogjakarta (De Javanenbond) adalah golongan senior. Lantas apakah golonga junior (Boedi Oetomo) akan merangkul senior di Djogja atau sebeliknya golongan senior di Djogja ini akan bergabung dengan Boedi Oetomo? Ini akan dapat dilihat pada Kongres Boedi Oetomo di Djokjakarta yang akan diadakan tanggal 4,5 dan 6 Oktober 1908. 


Bataviaasch nieuwsblad, 05-10-1908: ‘Djokja, 4 Oktober. Asisten residen Djokja menghadiri sesi kemarin malam; residen tidak hadir. Siang ini, pada pembukaan kongres, tampak bahwa ketua telah bekerja lembur dan sedang sakit. Ketua saat ini, RM Broiowidjojo, membuka sesi. Saya pribadi mengetahui bahwa para bupati yang hadir kemarin malam tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan Radjiman; hal yang sama berlaku untuk para pangeran Pakoe Alam. Hari ini residen juga tidak hadir; begitu pula bupati Magelang, meskipun bupati Kotoardjo hadir. Agendanya adalah pembacaan rancangan anggaran dasar dan peraturan internal, yang akan diadopsi secara definitif setelah berkonsultasi dengan penasihat hukum. Masa berlaku asosiasi ditetapkan selama 29 tahun dalam Anggaran Dasar. Tujuannya adalah untuk berkontribusi pada pembangunan masyarakat Jawa, perjuangan mereka untuk bertahan hidup diselesaikan dengan cara yang diperbolehkan dan sah. Dewan utama dan dewan cabang akan sepenuhnya berada di tangan orang Jawa. Dewan utama diangkat untuk tiga tahun dan langsung berhak untuk dipilih kembali. Non-Jawa dapat diterima sebagai anggota serikat. Para anggota membayar iuran minimum, yang akan ditentukan oleh masing-masing cabang. Pertemuan tahunan akan diadakan antara tanggal 15 Ramadan dan 15 Sawal (poeasa). Bahasa organ resmi adalah Melayu yang mudah dipahami. Terjadi pertukaran ide yang hidup tentang berbagai hal, di mana Bupati Temanggoeng juga ikut serta. Diputuskan bahwa semua sub-asosiasi dan cabang harus menyandang nama Boedi Oetomo. Sekretaris pertama, seorang pembicara yang hebat dan pendebat yang terampil, memperjuangkan kekuatan persatuan dalam pidato yang halus dan menggugah, yang disambut dengan tepuk tangan. Ini diikuti oleh Boediardjo, menteri pendidikan pribumi, yang, dalam sumpah yang pantas, mendesak agar tidak ada perubahan mendadak yang diharapkan; pertumbuhan bertahap menjamin umur panjang. Pada pukul seperempat sepuluh, diadakan pertemuan, di mana fotografer Cephas mengambil foto. Setelah dewan dibuka kembali, pemilihan pengurus utama berlangsung, di mana cabang-cabang Batavia, Buitenzorg, Bandung, Magelang, Djogja I dan II, Probollingo, dan Surabaya mencalonkan kandidat. Berikut ini adalah kandidat yang dicalonkan untuk jabatan presiden (seperti yang telah disebutkan beberapa kali): RM. Atmodirono, anggota dewan di Semarang, Mas Wahidln Soedirohoesodo, Mas Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter di Damak, bupati Karanganjer, Mas Mangoenkoesoemo, guru di Semarang, Mas Boediardjo (yang, dengan rasa terima kasih, dianggap kurang mampu untuk bertugas di pengurus utama): Mas Dwidjosewojo, guru di Djocja, R Kamil, inspektur pendidikan pribumi, Pangoran Notodirodjo, bupati Probolinggo, bupati Sitoebondo dan bupati Serang. Setelah pemungutan suara, bupati Karangaanjar terpilih diangkat menjadi presiden, maka orang lain akan ditunjuk. Perwakilan Bupati Karanganjar mengucapkan terima kasih atas dukungannya dalam hal ini dan akan menyampaikan keputusannya; ia berharap bupati akan menerima mandat tersebut. Berikut ini kemudian diangkat: Wahidin dan Atmodirono sebagai wakil. Para pengurus lainnya Dwidjosewojo, guru Bahasa Jawa di perguruan tinggi keguruan di Djocja, seorang orator yang baik, jujur ​​dan semangat; Mas Sasrosoagauda, ​​guru Bahasa Melayu di Djocja; Mas Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter di Demak, seorang demokrat yang independen dan bersemangat; Mas Wahidin Soedirohoesodho, seorang dokter Jawa yang populer di Djokja, seorang pria yang sangat populer; Raden Mas Ario Soenadiepoetra, kepala djaksa Bondowoso, seorang pria demokratis yang energik dan independen, Raden Adipatl Dauoekoesoema, bupati Magelang, dikenal sangat progresif, RM Pandi Gonda Atmadja, janda Pakoe Alaman RM. Pandi Gonda Soemaris, kepala djaksa Soerakarta. Kepala djaksa Bondowoso adalah seorang Madoera, selainnya Javanese. Kesan terhadap para wakil rakyat terpilih sangat baik; semua yang terpilih adalah orang-orang progresif. Nama-nama wakil rakyat terpilih disambut dengan tepuk tangan. Pada pukul dua belas siang, hari kedua kongres ditutup. Kesan keseluruhannya adalah bahwa ini bukanlah urusan Timur, melainkan sebuah kongres, di mana hal-hal berikut dapat disorot sebagai pencapaian yang menggembirakan: keberanian, ekspresi pemikiran yang tegas, bahkan kepada para pemimpin, argumentasi yang termotivasi dalam membela keyakinan, dan yang terpenting, ekspresi terbuka dari suasana hati dan perasaan yang sampai sekarang tetap tak terucapkan. Oleh karena itu, kongres ini merupakan keberhasilan yang tak terbayangkan, dan dapat dianggap sebagai titik balik dalam perselisihan kolonial kita. Semua yang terpilih hadir, kecuali presiden. Bupati Magelang telah diberitahu melalui telegram tentang hasil deklarasi tersebut. Saya memahami bahwa ada rencana untuk mencari berbagai bupati untuk bertindak sebagai penasihat bagi dewan utama’. ‘Penutupan Kongres. Djokja, 5 Oktober. Setelah beberapa diskusi lebih lanjut mengenai badan resmi, kontribusi untuk badan tersebut telah ditetapkan sementara sebesar tiga gulden setahun; akan dikurangi seiring meningkatnya sirkulasi. Sekretaris Pertama menyampaikan pidato penutup, di mana beliau memohon kelonggaran dari para hadirin dalam penilaian kongres pertama ini. Pukul 11 ​​pagi kongres ditutup diiringi tepuk tangan meriah. Dapat dipastikan bahwa kongres nasional Jawa pertama ini sukses besar’. 

Dalam Kongres Boedi Oetomo yang pertama ini juga turut dihadiri oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo bahkan ayahnya juga Mangoenkoesoemo guru di Semarang hadir. Uniknya ayah dan anak ini juga menjadi kandidat dalam pemilihan presiden. Presiden terpilih adalah bupati Karanganjar. Dalam kepengurusan oleh presiden juga disertakan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Namun satu hal yang terkesan bahwa organisasi kebangsaan Boedi Oetomo yang didirikan para mahasiswa di Batavia bulan Mei telah terkooptasi oleh para senior di Djogjakarta. Kantor Pusat Boedi Oetomo di Djogjakarta, sementara di Batavia hanya menjadi salah satu cabang saja. Apakah para mahasiswa kecewa dengan situasi dan kondisi yang terjadi? 


Soerabaijasch handelsblad, 20-10-1908: ‘Kongres pertama Boedi Oetomo diadakan di Djokdjakarta. Pada pertemuan asosiasi Boedi Oetomo, yang diselenggarakan di Djokdjakarta 3 Oktober 1908 (Kongres pertama Boedi Oetiomo, red) pemerintah menanggapi pertanyaan dari Bupati Temanggoeng bahwa di luar Djawa sudah ada asosiasi sejenis, (seperti cabang) Medan Perdamaian di Fort de Kock yang didirikan 17 Oktober 1907. Organisasi Medan Perdamaian (sebagaimanai) diketahui bertujuan untuk mewakili kepentingan anggota dan populasi dalam satu kata: kemajuan. Untuk mencapai tujuan, organisasi Medan Perdamaian telah diputuskan menerbitkan majalah (maandelijksch) yang akan dicetak dan diterbitkan oleh penerbit pribumi Dja Endar Moeda di Padang yang akan berisi ilmu sehari-hari yang berguna dan yang diperlukan di bidang pertanian, peternakan, industri, pendidikan, kesehatan di kampung, keadilan, dll. Organisasi (cabang) Fort de Kock ini sudah memiliki anggota 700 orang’. 

Satu yang jelas bahwa peserta kongres pertama Boedi Oetomo sudah mengetahui adanya Medan Perdamaian. Organisasi kebangsaan Medan Perdamaian didirikan tahun 1900 di Padang. Medan Perdamaian adalah organisasi yang tidak eksklusif bagi dirinya sendiri. Medan Perdamaian ketika masih dipimpin oleh direktur (ketua) Dja Endar Moeda pada tahun 1902 sebagaimana dilaporkan De Locomotief (edisi 21-08-1902) bahkan telah memberi sumbangan bagi peningkatan pendidikan di Semarang sebesar f144.90 yang diserahkan melalui Charles Adrian van Ophuijsen yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pendidikan Province Sumatra;s Westkust (Pantai Barat Sumatra). Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa Medan Perdamaian, organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia membuktikan sifatnya yang Hindia Belanda. 


Ada persamaan dan ada perbedaan antara Medan Perdamaian dengan Boedi Oetomo. Platform organisasi (baru) Boedi Oetomo sesungguhnya persis sama dengan organisasi (lama) Medan Perdamaian. Yang membedakan adalah Medan Perdamaian tetap cenderung bersifat multi etnik (nasional), sedangkan Boedi Oetomo cenderung bersifat kedaerahan yang didalam statutanya hanya dibatasi Jawa dan Madoera. Medan Perdamaian adalah organisasi kebangsaan para senior sedangkan Boedi Oetomo dibentuk oleh para junior (mahasiswa) lalu terkooptasi oleh para senior yang menyebabkan organisasi kebangsaan Boedi Oetomo untuk semua lapisan mulai dari golongan junior (mahasiswa) hingga para senior (para pejabat). 

Pada bulan Oktober 1908 ini, nun jauh disana, di Belanda, Soetan Casajangan menginisiasi pembentukan organisasi mahasiswa Indonesia. Pada tanggal 25 Oktober 1908 di kediamanan Soetan Casajangan berkumpul sebanyak 15 mahasiswa Indonesia dan sepakat mendirikan organisasi mahasiswa di  Belanda yang diberi nama Indisch Vereeniging. Dalam pertemuan ini disepakati prinsip statuta dan kepengurusan secara aklamasi menunjuk Soetan Casajangan sebagai presiden dan Raden Mas Soemitro sebagai sekretaris bendahara. Dari statuta dapat dipahami Indische Vereeniging bersifat nasional yang juga sesuai namanya Hindia (baca: Indonesia). Lalu bagaimana reaksi Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dengan berdirinya organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda? Yang jelas berita Kongres Boedi Oetomo baru diberitakan di Belanda pada minggu kedua bulan November 1908 (dan menjadi viral). Sementara pembentukan Indische Vereeniging baru terinformasikan di Belanda pada akhir bulan Desember 1908. 


Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 8, 1908, No. 52, 24-12-1908: 'Indische Vereeniging. Di Belanda, telah dibentuk persatuan orang-orang Hindia yang belajar disana, R Soetan Casajangan menulis tentang hal ini di Koloniaal Weekblad sebagai berikut: Tiga tahun lalu saya sudah merencanakan untuk membentuk sebuah sarikat untuk orang-orang Hindia di Belanda. Karena saya terlalu sibuk pada saat itu, saya tidak dapat melaksanakan rencana saya segera. Pada bulan Juni tahun ini [Juni 1908, red], Mr. JH Abendanon datang mengunjungi saya dan bertanya apakah saya pernah berpikir untuk memberikan bantuan kepada orang Hindia. Saya menjawab pertanyaan ini dalam persetujuan dan kemudian dia mendorong saya untuk melanjutkan rencana saya yang bermanfaat itn. Mengenai hal ini langkah pertama yang saya lakukan meminta salah satu orang mahasiswa pribumi dari Hindia sebagai staf saya, namanya R Soemitro. Lalu kami mengirim undangan ke semua orang pribumi Hindia yang belajar di Belanda untuk menghadiri pertemuan. Pada tanggal 25 Oktober, kami, sebanyak lima belas orang Hindia, berkumpul di tempat saya, di Leiden, dan pertemuan pertama diadakan. Saya meminta Soemitro untuk memimpin pertemuan, R Hussein Djajadiningrat ditunjuk sebagai sekretaris sementara. Statuta sementara disetujui yang pada prinsipnya berisi dasar Indische Vereeniging yang diputuskan secara prinsip. Kemudian kami melanjutkan untuk memilih pengurus. Pemimpin terpilih: R. Soetan Casajangan Soripada, Sekretaris dan merangkap bendahara  RM Soemitro. Komite terdiri dari R. Soetan CS, RM Soemitro, RMP Sosro Kartono dan R. Hoesain Djajadiningrat yang diangkat untuk menyusun AD dan peraturan lebih lanjut (ART). Pada tanggal 15 November pertemuan kedua diadakan di Den Haag. Kita dapat membaca AD tersebut sebagaimana diwartakan surat kabar Bat. Nbld yang menulis, antara lain, bahwa Vereeniging pribumi menyandang nama Indische Vereeniging dan berkedudukan di Den Haag. Tujuannya adalah untuk mempromosikan kepentingan bersama orang Hindia di Belanda dan untuk tetap berhubungan dengan Hindia. Orang Hindia sebagai penduduk asli Hindia Belanda. Vereeniging berusaha mencapai tujuan ini dengan: mempromosikan asosiasi antara orang Hindia di Belanda, mendorong orang siswa Hindia untuk belajar di Belanda. Untuk menjelaskan yang terakhir, peraturan internal (ART) menyatakan: Asosiasi berusaha mendorong orang Hindia untuk belajar di Belanda dengan melakukan hal berikut: dengan memberikan informasi untuk memberikan informasi tentang studi dan tinggal di Belanda, dengan membantu orang-orang Hindia yang baru tiba dan dengan memberikan semua informasi yang mungkin tentang Belanda berdasarkan permintaan. Anggota biasa hanya bisa orang Hindia yang tinggal di Belanda. Kami berharap asosiasi pemuda ini berhasil. Leiden, 22 Desember 1908’. 

Sudah barang tentu antara Boedi Oetomo dengan Indische Vereeniging di Belanda tidak bisa diperbandingkan karena berbeda skala. Boedi Oetomo hanya bisa dibandingkan dengan Medan Perdamaian di Padang dan Sjarikat Tapanoeli di Medan. Mungkin yang bisa dibandingkan adalah antara Indische Vereeniging di Belanda dengan Boedi Oetomo afdeeling (cabang) Batavia yang para pengusunya adalah mahasiswa (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 19-01-1909). Namun keduanya memiliki visi yang berbeda: Indische Vereeniging di Belanda bersifat nasional, sementara Boedi Oetomo cabang Batavia sesuai induknya di Djogjakarta hanya sebatas kedaerahan (Jawa dan Madoera). 


Bataviaasch nieuwsblad, 19-01-1909: ‘Pertemuan propaganda pada Sabtu malam dan Minggu pagi. Pada hari Minggu pagi pertemuan besar pertama perkumpulan Boedi Oetomo, cabang Weltevreden (Batavia), berlangsung di Kebun Binatang (Tjikinie). Ringkasannya sebagai berikut: Pertemuan dibuka oleh wakil ketua Raden Soewarno. Dalam pertemuan Miggu pagi hadir sekitar 300 orang termasuk juga turut diundang sejumlah orang Belanda. Lalu kemudian forum dipimpin oleh ketua Raden Soetomo. Sekitar empat puluh orang yang hadir memberikan pidato singkat yang kuat dalam bahasa Belanda atas permintaan beberapa orang yang hadir, termasuk terjemahan singkat pidato yang disampaikan oleh Pak Soewarno yang disampaikan dalam bahasa Melayu. Ketua Soetomo menyampaikan keinginan agar pihak Eropa juga ikut serta dalam perdebatan tersebut. Permintaan ini dipenuhi oleh Tuan Charles Miyll. Beberapa mahasiswa juga berbicara seperti Goenawan (Mangoenkosoemo) dan Mas Soeradji. Yang juga berbicara adalah Ernest Douwes Dekker dan W van der Sluit, guru di sekolah KW III Batavia. Secara keseluruhan ada 40 orang yang berbicara. Pesan telegraf ucapan selamat telah tiba dari pengurus utama, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter di Demak, sesaat sebelum pertemuan ditutup’. 

Pada bulan Agustus 1909, terinformasikan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo telah mengundurkan diri sebagai dokter pemerintah (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-08-1909). Disebutkan terhitung sejak 15 Agustus 1909, atas permintaan sendiri, diberhentikan dengan hormat dari dinas pemerintahan, dokter pribumi di Demak (Semarang), Mas Tjipto. Lantas apa yang terjadi dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo? Apa yang terjadi dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo? Namun tidak lama kemudian terinformasikan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mengajukan izin ke Jawatan Pelayanan Medis (lihat De locomotief, 26-08-1909). Disebutkan Jawatan Pelayanan Medis. Diterima untuk praktik kedokteran, bedah, dan kebidanan di tempat-tempat yang tidak memiliki dokter atau apoteker, mantan dokter pribumi Mas Tjipto. Tidak lama kemudian lagi, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mengundurkan diri dari Boedi Oetomo. 


De locomotief, 12-10-1909: ‘Boedi Oetomo. Koresponden kami di Yogyakarta menulis kepada kami pada tanggal 11 Oktober: Setelah rapat umum diadakan pada hari Sabtu oleh anggota asosiasi Boedi Oelomo, rapat umum pertama dari kongres dua hari tersebut dilanjutkan pada Minggu malam. Rapat ini dihadiri oleh banyak penduduk asli, termasuk beberapa wanita, serta beberapa orang Eropa dan Cina. Aula besar gedung perkumpulan cukup penuh, tetapi orang mendapat kesan bahwa suasana sakral tahun sebelumnya agak memudar. Presiden RTA Tirtokesoemo, Bupati Karanganjar, menyampaikan pidato pembukaan, menyambut para hadirin, menyampaikan rasa terima kasih atas minat yang terlihat dari banyaknya peserta, dan mengapresiasi bahwa penduduk Yogyakarta telah memberikan izin untuk mengadakan kongres ini di Kota Sultan sekali lagi. Beliau selanjutnya mengumumkan bahwa, dengan menyesal, dua anggota dewan telah meminta untuk mengundurkan diri dari jabatannya, yaitu Mas Tjipto, pensiunan dokter-djawa dari Demak, dan RM Soeriodipoetro (seorang Madoera), kepala djaksa di Bondowoso. Sebagai gantinya, Bupati Japara dan Bupati Magelang telah terpilih pada rapat umum sehari sebelumnya (yang terakhir telah memberitahukan penerimaannya atas pemilihan tersebut). Akhirnya, ia menunjukkan bahwa tujuan kongres ini terutama untuk mempromosikan Boedi Oetomo dan untuk sekali lagi menjelaskan dengan jelas apa tujuan sebenarnya dari asosiasi tersebut. Setelah itu, sekretaris, Mas Dwidjosewojo, seorang guru di perguruan tinggi pelatihan guru pribumi di Djokja, menyampaikan laporan tentang apa yang telah dilakukan selama setahun terakhir dan, pada saat yang sama, untuk sekali lagi menyoroti tujuan asosiasi tersebut. Ia menunjukkan bahwa belum banyak hasil nyata yang dapat ditunjukkan, dan menjelaskan alasan utamanya. Dewan utama pada awalnya secara efektif ditugaskan untuk melakukan semuanya, dan ini tidak layak; mereka tidak dapat melaksanakan semua pekerjaan. Lagipula, anggota dewan utama masing-masing memiliki pekerjaan khusus untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga mereka, sehingga mereka tidak dapat mencurahkan banyak waktu untuk kepentingan asosiasi dan tidak dapat sering bertemu untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, telah diputuskan untuk mengambil jalan yang berbeda dan memberikan lebih banyak kemandirian kepada dewan cabang, sementara dewan utama sendiri akan memiliki kepemimpinan umum. Cabang-cabang sekarang dapat menyusun peraturan internal mereka sendiri, tentu saja sesuai dengan anggaran dasar asosiasi, dan tunduk pada persetujuan lebih lanjut dari dewan utama. Lebih lanjut, mereka juga akan mempertahankan kendali atas 90 persen dari kontribusi seksi mereka sendiri, untuk menggunakannya demi kepentingan seksi tersebut, atau sesuai keinginan seksi tersebut, sementara hanya 10 persen dari kontribusi yang akan disalurkan ke dewan utama untuk menjaga kepentingan umum. Pengaturan ini juga akan mencegah seksi mana pun mudah tersinggung, seperti yang telah terjadi beberapa kali, karena mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan terkait proposal yang diajukan kepada dewan utama, atau percaya bahwa dewan utama tidak cukup memperhatikan proposal tersebut. Pembicara mencatat bahwa dewan utama selalu memberikan perhatian semaksimal mungkin pada semua proposal, tetapi dalam melakukannya selalu harus mempertimbangkan secara serius pro dan kontra untuk akhirnya memilih apa yang dianggap terbaik. Namun, ia mengakui bahwa dewan-dewan seksi seringkali lebih mampu daripada dewan utama untuk menilai apa yang berguna atau diperlukan di bidang keahlian mereka, dan oleh karena itu ia menyatakan harapan bahwa pengaturan baru ini akan memuaskan. Pembicara lebih lanjut menunjukkan bahwa ketika mengevaluasi pekerjaan, seseorang harus selalu ingat bahwa tidak ada yang sempurna, dan bahwa setiap orang cenderung berpikir bahwa ia tahu lebih baik. Selanjutnya, Dwidjosewojo berbagi beberapa informasi mengenai penyusunan anggaran dasar dan permohonan badan hukum. Semua ini membutuhkan banyak waktu. Badan hukum yang diminta belum diberikan, tetapi kemungkinan akan segera diberikan. Setelah itu, ia menyebutkan 17 cabang Boedi Oetomo. Keadaan keuangan tidak cemerlang karena masih terlalu sedikit anggota. Karena alasan ini, propaganda harus dilakukan untuk mendapatkan lebih banyak anggota. Selanjutnya, sekretaris menyampaikan beberapa informasi mengenai kegiatan cabang-cabang, dan khususnya cabang Kiaten, di mana pekerjaan dilakukan dengan tekun dan giat. Beberapa ceramah telah diadakan di sana yang menarik banyak minat, dan kursus bahasa Belanda telah dibuka di sana yang dapat diakses oleh semua orang secara gratis. Di Kiaten, orang-orang telah berulang kali bekerja dengan giat. Mereka bersikeras agar tidak mengeluarkan biaya di luar kemampuan saat merayakan pesta, dan dengan tegas memperingatkan agar tidak berjudi dan mengonsumsi minuman keras. Sebelumnya, mereka telah mengikat diri secara kontrak untuk menahan diri dari perjudian dan minuman keras. dengan ancaman denda, yang akan diberikan kepada pejabat cabang dan kepada orang yang menangkap pelanggar. Di Kiaten, upaya dilakukan untuk memberikan anggota pemahaman yang benar tentang perdagangan dengan mengumpulkan uang dalam bentuk saham satu guilder, memperdagangkannya, dan membagikan dividen kepada pemegang saham. Tujuannya di sini bukanlah keuntungan moneter kecil, melainkan untuk memberikan pemahaman yang baik tentang kerja sama, dan sebagainya. Dewan cabang Kiaten juga memperoleh persetujuan dari kepala administrasi setempat bahwa festival Ongkowijoe (sejenis festival) di mana orang kecil selalu menghabiskan banyak uang, telah dihapuskan. Pembicara menjadikan cabang Kiaten sebagai contoh dan mencatat bahwa banyak hal dapat dicapai dengan cara ini. Selanjutnya, giliran Mohammed Talm', asisten guru di Batavia, yang berbicara kurang jelas. Ia menekankan pentingnya pendidikan dan menyatakan pendapatnya bahwa banyak hal dapat dilakukan di bidang ini jika dana dari dana misi digunakan untuk tujuan tersebut. Ia mencatat bahwa uang ini saat ini sebagian besar disimpan dan ditumpuk tanpa guna di panti asuhan, sementara hanya digunakan untuk memperbaiki misi sesekali, dan untuk membantu haji ini atau itu, dll., yang tidak lagi melihat cara mudah lain untuk mencari nafkah. Ia mendesak agar beberapa individu swasta di antara orang Eropa juga mendirikan sekolah dan memungut biaya sekolah yang hampir tidak lebih dari yang diperlukan untuk pemeliharaan bangunan, penerangan, dll. Ia percaya bahwa banyak hal dapat dilakukan untuk penduduk asli di bidang pendidikan tanpa banyak biaya. Ia secara khusus menunjuk ke Batavia; ia menyebut kota ini besar dan indah, tetapi menambahkan bahwa sebagian besar penduduk asli di sana sama bodohnya dengan hampir di mana pun di Hindia Belanda. Ia lebih lanjut menunjukkan bahwa tempat sangat jarang tersedia untuk penduduk asli di sekolah-sekolah Eropa. Seorang kepala distrik Tionghoa dari Kiaten menyatakan persetujuan penuh dengan apa yang dikatakan Muhammad Tahir, dan bertanya kepada dewan utama apakah, secara umum, uang dari dana misi tidak dapat digunakan untuk tujuan pendidikan demi kepentingan penduduk asli. Presiden menjawab bahwa ia pikir ide itu sangat bagus, tetapi tidak tahu apakah itu dapat dengan mudah diimplementasikan. Selanjutnya, sebuah ceramah yang menarik disampaikan oleh R. Sastrowidjono, djaksa dari Sragen. Beliau memulai dengan doa berkat untuk Buda Utomo dan mendoakan agar perkumpulan tersebut berumur panjang. Beliau menyatakan bahwa kita tidak boleh terlalu berharap banyak dari perkumpulan tersebut di beberapa tahun pertama. Beliau membandingkan Buda Utomo dengan jmi yang belum selesai, tetapi terus berkembang, perlahan namun pasti. Beliau menekankan bahwa setiap permulaan itu sulit, tetapi dengan ketekunan banyak hal yang dapat dicapai. Pembicara kemudian membandingkan anggota perkumpulan dengan semut, yang meskipun makhluk yang sangat kecil, mencapai banyak hal melalui upaya bersama—sesuatu yang tidak akan kita harapkan dari mereka, jika mempertimbangkan setiap makhluk secara individual. Lebih lanjut, beliau membandingkan Boedi Oetomo dengan pohon muda yang belum dapat diharapkan berbuah. Kita tidak dapat memaksa pohon muda tersebut untuk berbuah, tetapi jika kita bersabar, pohon muda itu akan tumbuh besar dan kemudian pasti berbuah. Beliau mengatakan bahwa BO didirikan oleh kaum muda, tetapi karena alasan itu, para tetua tidak boleh acuh tak acuh terhadap perkumpulan tersebut. Tidak, mereka harus mendukung kaum muda dan bekerja sama dengan mereka. R Sastrowidjono kemudian menunjukkan bahwa di kalangan penduduk asli tidak ada kelas menengah, terutama kelas menengah pedagang. Meskipun demikian, menurut para pembicara, hal ini dapat berjalan dengan sangat baik, tetapi semangat perdagangan harus terlebih dahulu dibangkitkan. Masyarakat harus diajari untuk berdagang. Lebih lanjut, ia menganjurkan kesederhanaan dalam kehidupan rumah tangga. Ketika ditanya apakah penduduk asli umumnya hidup terlalu boros, ia menjawab negatif, tetapi mereka tentu dapat menghemat banyak uang dengan memberikan berbagai macam salad. Ia juga memperingatkan terhadap perjudian dan minuman keras dan sangat mendesak perekrutan anggota untuk Budi Utomo. Ia menunjukkan bahwa banyak yang masih memiliki gagasan yang salah tentang perkumpulan tersebut, tetapi karena alasan itu, mereka yang memahami upaya tersebut dengan baik harus berusaha untuk menjelaskannya kepada orang lain. Pembicara ini menyimpulkan dengan mengatakan bahwa kekayaan suatu negara tidak terletak pada pendapatan moneter, atau pada kepemilikan bangunan besar, dll., tetapi pada kepemilikan warga negara yang terdidik, beradab, dan kuat. Saya dapat menambahkan bahwa berbagai pembicara mendapat tepuk tangan meriah setelah pidato mereka selesai. Dengan ucapan terima kasih terakhir atas minat yang ditunjukkan, presiden menutup malam pertama kongres ini’. 

Apa yang terjadi dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo? Tidak lama setelah mengundurkan diri dari dokter pemerintah, lalu Dr Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian juga mengundurkan diri dari organisasi kebangsaan Boedi Oetomo. Praktis Dr Tjipto Mangoenkoesoemo hanya menjadi anggota Boedi Oetomo di tahun pertama.

 

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-10-1909: ‘Turun gunung! Reporter dari Bat. Nbl. Selanjutnya dinyatakan: “Kesimpulan keseluruhan dari pertemuan kedua ini, terutama sehubungan dengan keberhasilan besar kongres pertama, tidaklah baik. Banyak yang berpendapat bahwa Boedi Oetomo sedang mengalami kerugian besar, namun cara untuk mengatasinya tentu dapat ditemukan. (*) Dengan demikian, menjadi lebih jelas dari sebelumnya bahwa seorang presiden yang digaji dan independen sangat diperlukan, (**) sementara penguatan unsur bupati di dewan utama justru patut disayangkan. Oposisi yang sehat dan kuat dari minoritas di dewan utama, yang diperlukan sebagai insentif untuk bertindak, masih hampir sepenuhnya kurang, sementara minoritas yang terdiri dari dua anggota (Tjipto dan Soeria di Poetra), yang tidak diragukan lagi dua orang yang sangat menyadari konsekuensi dari upaya Boedi Oeiorno, merasa terpaksa meninggalkan arena politik di bawah tekanan dari otoritas yang lebih tinggi. Kepemimpinan kongres juga kurang terpuji; tampaknya pendapat yang keliru berlaku bahwa penyelenggaraan kuliah (beberapa di antaranya bahkan hampir tidak terkendali) dapat dianggap sebagai sarana propaganda yang cukup, sementara keputusan atau resolusi gagal terwujud. Akibatnya, semua pekerjaan terus berlanjut untuk menanggung cap ketidakjelasan. (§) Namun, tidak perlu langsung sependapat dengan pendapat yang diungkapkan di sana-sini bahwa keberadaan Boedi Oetomo sudah dalam bahaya akibat degenerasi; selama prinsip-prinsip demokrasi masih dijunjung tinggi, kita dapat dengan tenang menunggu apa yang akan dicapai pada tahun asosiasi mendatang". * Yang mana? ** Dibayar? Dan atau tidak ada uang! § Persis seperti ide saya. Omong kosong. (§§) "Tunggu saja dan lihat!" kata dokter kepada penderita tuberkulosis. 

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tampaknya tidak nyaman di Boedi Oetomo. Lantas bagaimana pandangannya terhadap Indisch Vereeniging di Belanda? Dan bagaimana pula pandangannya terhadap Boedi Oetomo cabang Batavia? Yang jelas di Boedi Oetomo cabang Batavia ada adiknya Goenawan Mangoenkoesoemo yang masih kuliah di STOVIA. Pada bulan November terinformasikan melalui iklan sudah tinggal di Poerwosoekarjo (lihat De nieuwe vorstenlanden, 01-11-1909). Disebutkan Mas Tjipto, seorang dokter swasta pribumi, menetap di sini. Batangan, kediaman Dokter Djawa, Poerwosoekarjo’. Catatan: Batangan berada diantara kota Pati dan kota Rembang. 


Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 01-01-1910: ‘Pembicaraan Hindia. Saya masih jauh dari selesai berbicara tentang "Boedi-Oetomo," dan, saya harap, para pembaca saya juga belum selesai mendengarkan tentang subjek itu. Sebuah pengalihan dari "selesai mendengarkan"! Sebuah obrolan didengarkan, dan kebalikan dari "selesai berbicara" adalah "selesai mendengarkan"; berhenti berbicara, kebalikan dari berhenti mendengarkan! Bukankah itu seni kata-kata yang paling murni? Dalam Pembicaraan saya yang terakhir, saya mengutip, antara lain, pidato Mas Tjipto pada rapat umum "Boedi-Oetomo" di Djokja, di mana ia menyarankan untuk menjembatani kesenjangan antara penindas dan yang tertindas, agar dapat bekerja sama untuk kepentingan rakyat. Seorang kepala suku di Semarang, yang menghadiri pertemuan tersebut, ketika ditanya oleh seorang jurnalis tentang kesannya, menganggap usulan menjembatani kesenjangan antara kulit putih dan cokelat sebagai tugas yang mustahil. Seorang Mas Tjipto, menurut kepala suku tersebut, mengusulkan untuk menerima orang Eropa ke dalam persatuan juga; dengan demikian kesenjangan antara kulit putih dan cokelat akan dipersempit. Di sini saya harus mencatat secara singkat bahwa Mas Tjipto berbicara tentang menjembatani, yang tidak sama dengan mempersempit; yang terakhir lebih radikal. Sekarang kembali ke kepala yang diwawancarai. Mas Tjipto yang baik ingin mempersempit kesenjangan — maaf, menjembataninya — tetapi kesenjangan itu kemungkinan akan tetap ada selamanya — seperti halnya dengan menjembatani. Perbedaan sifat, pandangan, dan gagasan antara orang Eropa dan penduduk asli begitu besar sehingga tidak akan pernah ada pertanyaan tentang menjembataninya, sesuatu yang, terlebih lagi, tidak diinginkan atau diharapkan oleh siapa pun. Seperti yang kita lihat, si pesimis yang dimaksud menggunakan ungkapan "meredam" di satu waktu dan "menghancurkan" di waktu lain, sehingga ia menganggap tidak hanya peredaman—yang kita setujui dengannya—tetapi juga menjembatani itu tidak mungkin—yang tidak mudah kita setujui—sementara ia juga meramalkan kematian dini bagi "Boedi-Oetomo". Secara lokal, perkumpulan orang Jawa dapat bermanfaat di bidang sosial, tetapi penduduk asli belum siap untuk persatuan umum. Jumlah anggota semakin berkurang, dan beberapa tidak membayar iuran, sebuah kelemahan dari penduduk asli. Tidak ada debat yang diadakan, dan dewan utama tidak dapat menunjukkan telah mencapai apa pun hingga saat ini. Dorongan untuk pendirian lebih banyak muncul dari bawah, dan dewan saat ini memiliki jumlah Bupati yang dipertanyakan. Kami telah menunjukkan aspek yang dipertanyakan ini, menurut pandangan beberapa anggota, sebelumnya: Bupati dan "Boedi-Oetomo" tidak berima! Secara lokal, perkumpulan orang Jawa dapat memberikan manfaat sosial, menurut pendapat kepala, yang pandangannya tampaknya disetujui oleh dewan utama "BO", sesuai dengan keputusannya untuk memberikan kemandirian yang lebih besar kepada cabang-cabang. Bahwa ini adalah penilaian yang tepat dibuktikan oleh cabang Klaten, yang telah mencapai banyak kebaikan dalam waktu singkat keberadaannya. Tidak heran jika djaksa di Srageni, yang mendirikan cabang itu sebagai wakil djaksa di Klaten, menunjukkan hal ini pada kongres dengan puas, dan pidatonya karenanya agak bernuansa optimis. "Saya bersyukur kepada Tuhan", kata Raden Sastro Widiono, "bahwa 'BO' kini telah berdiri selama satu tahun. Meskipun usianya masih muda, Serikat ini telah bekerja dengan baik. Ia berharap ini akan membuat banyak orang yang saat ini menolak karena iri kepada para pesulap, karena mereka sendiri belum mampu mengambil inisiatif, untuk merenung. Itu sangat disayangkan, tetapi juga disayangkan bahwa di kalangan anak muda, banyak yang begitu sombong dan meremehkan para tetua, seolah-olah mereka tidak bisa belajar apa pun dari mereka. Baik jika tua dan muda bekerja bersama secara harmonis. Pertama dan terpenting, Serikat membutuhkan uang; meskipun beberapa orang Jawa mengklaim bahwa bahkan kontribusi 0,25 gulden pun terlalu banyak bagi mereka, uang harus dikumpulkan. Uang itu dapat dihemat dengan menahan diri dari hal-hal tertentu, sebagai persembahan "BO", misalnya, bermain, minum, berpesta, bermain game, anggur dan minuman keras, dll. Pembicara mendesak untuk mempraktikkan penghematan, belajar dalam skala sederhana, menahan diri dari mengadakan pesta besar, atau dari mendukung parasit di antara anggota keluarga; Kecanduan judi dan penyalahgunaan alkohol harus diperangi. Divisi Klaten memberikan bukti bahwa "BO" dapat mencapai kemajuan yang cukup besar dalam hal ini. Di masa lalu, perjudian sangat marak di sana, tetapi sekarang tidak lagi; di masa lalu juga banyak minum-minuman keras, tetapi sekarang hanya kopi dan teh yang dikonsumsi di pesta-pesta. Pembicara mengakhiri pidatonya yang sangat dipuji dengan menunjukkan bahwa pembangunan dan karakter merupakan kebesaran sejati suatu bangsa. Tidak heran jika ketua kongres memberikan pujian kepada Klaten dan menjadikan aktivitas ajudan tersebut sebagai contoh bagi divisi-divisi lain, yang kini telah menjadi lebih mandiri. Bahwa Raden Sastro Widjono dihargai baik oleh divisi Klaten, yang didirikan oleh para anggota, maupun oleh atasannya, terbukti dari fakta bahwa, bahkan setelah promosi dan transfernya, ia tetap menjabat sebagai presiden di Klaten atas permintaan terhormat presiden, sementara ia menerima cuti setiap bulan untuk pergi ke sana mewakili kepentingan "BO" penuh semangat. Dalam Causerie selanjutnya, kita akan kembali ke bagian model Klaten, yang kemudian akan kita gunakan untuk mengakhiri seri Boedi-Oetomo ini. CAUSEUR’. Catatan: Penulis dengan nama inisial Z de B yang diduga adalah singkatan dari Zacharias de Beer. 

Nun jauh di sana, di Belanda, Soetan Casajangan lulus ujian akta guru kepala (MO) pada bulan Agustus 1910. Pada ulang tahun kedua Indische Vereeniging, posisinya sebagai ketua kemudian diestafetkan kepada Dr Ph Laoh. Namun begitu, Soetan Casajangan belum segera kembali ke tanah air. Hal itu boleh jadi karena Soetan Casajangan sudah bekerja sebagai guru di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam. Setelah lebih leluasa, Soetan Casajangan kemudian merintis pembentukan Studiefond (dana pendidikan). Soetan Casajangan diundang untuk berbicara di forum Vereeniging Moederland en Kolonien (wadah bagi orang-orang Belanda pencinta Hindia di Belanda). Dalam kesempatan yang diadakan pada tanggal 28 Maret 1911, Soetan Casajangan membawakan makalah berjudul 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya:

 

Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).

 

‘...saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya...saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi)’. 

Dalam menerjemahkan situasi dan kondisi penduduk pribumi tampaknya Soetan Casajangan dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo memiliki cara berpikir yang kurang lebih sama. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo di satu sisi mengusulkan untuk menerima orang Eropa/Belanda ke dalam persatuan yang dengan demikian kesenjangan antara kulit putih dan cokelat akan dipersempit. Sementara Soetan Casajangan melihat dari sisi lainnya jika tidak akan tetap ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaannya. 


Dr Tjipto Mangoenkoesoemo sendiri tampaknya tidak lama di Batangan yang kemudian pindah ke Soerakarta. Namun terinformasikan kembali Dr Tjipto Mangoenkoesoemo akan pindah ke Malang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 24-04-1911). Disebutkan oleh Pejabat Sementara Kepala Inspektur, Kepala Dinas Dokter Sipil: Dengan persetujuan lebih lanjut dari Pemerintah, untuk sementara ditempatkan di bawah wewenang Residen Pasoeroean, untuk secara aktif dikerahkan demi kepentingan memerangi wabah di Afdeeling Malang, yaitu Residentie Pasoeroean, Bapak Tjipto, Dokter Swasta Lokal di Soerakarta’. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Dari Medan Perdamaian, Sjarikat Tapanoeli, Boedi Oetomo dan Indisch Vereeniging; Mengapa Dr Tjipto Mangoenkoesoemo Keluar dari Boedi Oetomo dan Mengapa Bersedia Masuk Indisch Partij?

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo telah menjadi memiliki kebebasan sendiri. Tidak lagi sebagai pegawai pemerintah (dokter pribumi), Dr Tjipto Mangoenkoesoemo juga tidak lagi di dalam organisasi Boedi Oetomo. Lalu apakah kemudian Dr Tjipto Mangoenkoesoemo akan menggunakan pikirannya secara bebas? Tidak ada yang mengetahui. Sejauh ini tidak ada tulisan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang dapat dibaca. Semua orang hanya bertanya-tanya. 


Namun begitu, ada yang menarik bagi jurnalis Bat. Nbl pada saat Kongres Boedi Oetomo pertama 1909, yang mana Dr Tjipto Mangoenkoesoemo menyarankan untuk menjembatani kesenjangan antara penindas dan yang tertindas, agar dapat bekerja sama untuk kepentingan rakyat. Jurnalis tersebut menanyakan itu kepada pengurus lainnya yang dijawab bahwa usulan menjembatani kesenjangan antara kulit putih dan cokelat sebagai tugas yang mustahil. Menurut pengurus tersebut, Mas Tjipto mengusulkan untuk menerima orang Eropa ke dalam persatuan juga; dengan demikian kesenjangan antara kulit putih dan cokelat akan dipersempit. Usulan tersebut yang tidak berterima di Boedi Oetomo diduga yang menjadi pemicu mengapa kemudian Dr Tjipto Mangoenkoesoemo keluar dari Boedi Oetomo (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-10-1909). 

Sehubungan dengan epidemik (wabah) di Malang, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo kini (1911) tinggal di Malang. Sementara itu, terinformasikan EFE Douwes Dekker di Bandoeng akan menerbitkan majalah baru "Het Tijdschrift" yang edisi pertama akan terbit pada tanggal 1 September 1911 (lihat De nieuwe vorstenlanden, 14-08-1911). Majalah/jurnal baru ini akan mengusung tema kolonial-politik, sosiologis, dan budaya umum, dengan karakter kontemplatif, non-polemik, dan memiliki kontributor internasional dengan mengundang contributor dari berbagai keahlian termasuk dari Eropa/Belanda. Dalam edisi pertama itu disebutkan terdapat artikel Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Lantas bagaimana EFE Douwes Dekker memilih Dr Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai salah satu kontributornya? 


EFE Douwes Dekker adalah seorang Indo, seorang jurnalis yang sudah barang tentu memperhatikan semuanya. Sudah barang tentu EFE Douwes Dekker mengetahui Dr Tjipto Mangoenkoesoemo telah keluar dari pemerintah dan juga telah keluar dari Boedi Oetomo. Sebagaiamana diketahui di surat kabar bahwa Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mengusung perlunya untuk menjembatani kesenjangan antara kulit putih dan cokelat dengan menerima orang Eropa/Belanda ke dalam persatuan yang dengan demikian kesenjangan antara kulit putih dan cokelat akan dipersempit. Sementara EFE Douwes Dekker pernah menghadiri pertemuan propaganda Boedi Oetomo afdeeling Batavia yang didalamnya EFE Douwes Dekker turut berbicara (yang saat itu Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tidak hadir tetapi mengirim telegram yang dibacakan oleh panitia. 

Artikel Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang dimuat di majalah/jurnal "Het Tijdschrift" berjudul “Geestelijke Immobiliteit Geêischt” (Diperlukan Ketenangan Pikiranl). Artikel ini adalah satu-satunya di dalam edisi pertama tersebutyang kontributornya orang pribumi (sebagaimana selama ini di Belanda, artikel-artikel Soetan Casajangan di surat kabar maupun di majalah/jurnal). Artikel yang terdapat di "Het Tijdschrift" ini dapat dikatakan adalah tulisan pertama Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang dapat dibaca umum. Tentu saja banyak orang yang ingin membacanya. 


De locomotief, 09-09-1911: ‘Dari Pers. “Ketenangan Pikiran Diperlukan”. Dalam edisi pertama jurnal "Het Tijdschrift", kita menemukan sebuah artikel karya Tjipto Mangoenkoesoema, di mana ia menarik perhatian pada sistem kasta yang berlaku di sini, pada dualisme masyarakat, yang terdiri dari pemisahan masyarakat antara orang Barat dan orang Timur. Sebelumnya ia menganggap pemisahan itu sebagian besar dijelaskan dan dimotivasi oleh fakta bahwa segelintir orang asing harus memerintah penduduk asli yang jauh lebih kuat, tetapi percaya bahwa zaman telah berubah. Administrasi yang teratur telah diperkenalkan, dan penyalahgunaan feodalisme telah lenyap. Kemudian ia melanjutkan: “Secara apriori telah ditetapkan bahwa perubahan keadaan ini telah memengaruhi esensi orang Jawa. Betapa sering terdengar pernyataan bahwa mereka mulai kehilangan karakter nasional mereka yang khas. Banyak yang mengamati perubahan karakter ini dengan ketidakpuasan, dan tidak jarang terdengar keluhan bahwa kebajikan Jawa kuno—kesopanan dan kepatuhan—semakin tertekan. Orang asli dianggap sedang dalam proses metamorfosis, dan memang menjadi subjek yang kurang simpatik, yang—diharapkan—akan memberi penguasa mereka banyak pekerjaan di masa depan. Dan langkah-langkah telah dirancang untuk melawan hal ini. Hingga ke tingkat ekstrem.”. Penulis mengingat, misalnya, pertanyaan tentang pembusukan, yang dibahas beberapa waktu lalu, tetapi enggan untuk membahasnya lebih lanjut. Namun, ia menunjukkan bahwa Hindia sedang mengalami periode evolusi yang berbeda, menyebutkan perkembangan besar peluang perdagangan, yang tentu saja didukung oleh lokasi yang menguntungkan. Dan kemudian ia bertanya apakah Hindia tidak akan memiliki populasi kosmopolitan di masa depan, yang menimbulkan pertanyaan tentang tempat apa yang akan ditempati oleh penduduk asli di dalamnya. Jawabannya sulit, karena manusia tidak akan pernah sama; sifatnya berubah. Penulis percaya: “Orang Jawa, tentu saja, tidak dapat menjadi pengecualian dari aturan ini. Dualisme lama antara bangsawan dan bukan bangsawan (atau dalam bahasa Jawa: antara ben dara dan kawoela), yang sekarang lebih jelas dan nyata antara kulit putih dan kulit cokelat, pada umumnya telah menjadikan mereka makhluk yang membutuhkan bimbingan, dari siapa—sejauh ini, dan di masa depan—tidak banyak inisiatif yang muncul. Mungkinkah sebaliknya, mengingat bahwa berabad-abad ia ditolak haknya untuk menghakimi? Hanya darinya kepatuhan yang tidak pernah terpuji dituntut, dan sekali lagi kepatuhan? Namun, hal yang aneh adalah begitu banyak orang menganggap karakter nasional kita begitu tetap sehingga banyak orang—bahkan mereka yang berwenang—menganggap kita tidak memiliki disposisi dan karakter spiritual. Orang-orang jelas terkejut dengan hal ini, dan merasa jengkel karenanya, jika kita tidak tetap tidak terpengaruh oleh perubahan keadaan. Betapa berbedanya praktik telah mengajari kita!” Begitu penjajahan Barat mulai berkembang, dan begitu Eropanisme menembus pedalaman Hindia, penduduk asli berubah menjadi pribadi yang berbeda, yang banyak dikeluhkan. Apa gunanya keluhan ini? Perubahan itu ada; kita harus memperhitungkannya. Di sisi lain, hal itu membenarkan harapan bahwa, dengan perkembangan kehidupan sosial yang progresif, penduduk asli pun tidak akan tertinggal. Tidak logis dalam penilaian dan juga tidak adil adalah mereka yang, mengabaikan hal ini, ingin menjaga agar orang Jawa—seperti yang disebut—tetap "tidak tercemar"—yaitu, fosil spiritual—dengan demikian mengakui, seperti yang terlihat, bahwa perkembangan mengikuti garis Barat harus dianggap "merusak." Ketidakmasukakalan ini sangat mencolok, mengingat perubahan yang kita lihat pada karakter nasional Jawa sepenuhnya sejalan dengan evolusi yang sehat. Karena, bagaimanapun juga—dan para ahli di bidang ini juga telah menyatakan—karakter nasional Jawa justru dicirikan oleh hal ini: bahwa perbedaan kelas sosial semakin memudar. Perbudakan mulai digantikan oleh kerja sama yang ramah, ungkapan rasa hormat yang wajib menjadi usang, dan kesopanan timbal balik menggantikannya; pelaksanaan perintah yang bijaksana semakin dibedakan dengan kepatuhan mekanis, dan di tengah semua ini, interaksi antara kelas atas dan bawah menjadi lebih akrab, lebih bebas, dan lebih bercirikan interaksi orang-orang yang setara.” Dan ia menyimpulkan demikian: “Sekarang pengaruh pemerataan dari interaksi modern terasa di semua lapisan penduduk asli, bukankah sudah saatnya untuk secara bertahap meninggalkan ‘dualisme’? Bukankah akan lebih bermanfaat untuk mendorong perkembangan alami masyarakat adat, daripada menghambatnya, dengan memprioritaskan bahwa orang Jawa harus tetap menjadi orang Jawa—sebuah semboyan yang kaku yang dapat diinterpretasikan dengan berbagai cara?”. 

Dengan membaca artikel Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang dimuat di majalah/jurnal "Het Tijdschrift", orang mulai mengetahui Dr Tjipto Mangoenkoesoemo posisinya dimana. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mengkrtitik adanya lapisan dalam masyarakat Jawa yang tengah berubah sehubungan dengan semakin rapihnya administrasi kolonial dan adanya kesenjangan antara coklat dan putih yang semakin menganga. Namun ke depan harus ada upaya untuk menjembataninya yang akan terbentuk sinergi satu sama lain. 


Hingga sejauh ini, begitu lama orang pribumi diam dalam kesunyian, paling tidak sudah ada dua orang pribumi terpelajar, guru Soetan Casajangan dan dokter Tjipto Mangoenkoesoemo yang sudah tersadar dan kemudian mulai menerjemahkan situasi dan kondisi yang dihadapi bangsanya (penduduk pribumi) dalam konteks perubahan menuju kemajuan orang pribumi dan mempersempit kesenjangan yang ada antara pribu dan Belanda dan antara coklat dan putih dengan kerjasama. Di horizon adalah menuju “hak yang sama”, tetapi keduanya sejauh ini belum sampai kesitu dalam mengungkapkannya di publikasi umum. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar