*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini
Sejarah minyak bumi di Indonesia
dimulai pada tahun 1885 dengan penemuan komersial pertama di Telaga Tunggal,
Langkat, Sumatera Utara oleh Aeilko Jans Zijlker, setelah eksplorasi awal
dimulai tahun 1871. Industri ini berkembang pesat di bawah kolonial Belanda
(termasuk sumur Matilda, Balikpapan 1897) dan kemudian dikelola negara melalui
Pertamina (didirikan 1957).
Sejarah minyak di Indonesia memiliki perjalanan yang sangat panjang. Ini bermula para penjelajah Belanda yang terinspirasi oleh kesuksesan pengeboran minyak pertama di Amerika Serikat pada tahun 1859. Pada tahun 1871 Jan Reerink melakukan pengeboran pertama di Cibodas, Majalengka, Jawa Barat. Meski ditemukan rembesan minyak, hasilnya tidak komersial. Pada tahun 1883 Aeilko Jans Zijlker menemukan rembesan minyak di Telaga Said, Langkat, Sumatera Utara yang menjadi cikal bakal berdirinya perusahaan minyak Belanda Royal Dutch Shell. Lalu tahun 1897 dimulai pengeboran di Balikpapan (Sumur Matilda). Dalam hal ini Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) anak perusahaan Royal Dutch Shell lalu menguasai sebagian besar lapangan minyak. Sebagian yang lain Standard Oil & Caltex perusahaan asal Amerika Serikat mulai mengeksplorasi wilayah Sumatera dan menemukan lapangan minyak raksasa seperti Minas di Riau pada akhir 1930-an. Pada masa ini, Hindia Belanda menjadi salah satu produsen minyak terbesar di Timur Jauh. Setelah merdeka, pada tahun 1957 Pemerintah mendirikan PT Perusahaan Minyak Nasional (Permina) untuk mengelola ladang minyak di Aceh. Penggabungan dua perusahaan negara (Pertamin dan Permina) tahun 1968 dibentuk Pertamina, yang menjadi pengelola tunggal industri migas nasional berdasarkan UU No. 8 Tahun 1971 (AI Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah awal penemuan sumber minyak di Bumi Nusantara? Seperti disebut di atas, itu dimulai oleh para penjelajah Belanda setelah penemuan batubara dan kemudian disusul penemuan minyak. Lalu bagaimana sejarah awal penemuan sumber minyak di Bumi Nusantara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Awal Penemuan
Sumber Minyak di Bumi Nusantara; Sumber Energi Pertama Batubara Kemudian Minyak
Tunggu deskripsi lengkapnya
Sumber Energi Pertama Batubara Kemudian Minyak: Sumber Energi Terbarukan Indonesia (surya, hidro, panas bumi, bioenergi, angin dan gelombang laut )
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Sepak Bola Como 1907 di Italia dan Hartono Bersaudara”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar