*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sepak Bola Indonesia di blog ini Klik Disini
Artikel ini sudah lama artikel dibuat, tetapi tidak kunjung diupload. Namun kabar duka hari ini tanggal 19 Maret 2026 pemilik klub Como bahwa Bapak Michael Bambang Hartono dikabarkan meninggal dunia di Singapura. Klub Como 1907 tengah berduka. Namun demikain nama Michael Bambang Hartono akan selalu dikenal oleh supporter Coma 1907. Semoga klub fenomenal ini terus Berjaya di bawah dukungan sang adik Robert Budi Hartono. Sejarah Sepak Bola di Indonesia
Como 1907 adalah klub sepak bola Italia yang saat ini berkompetisi di Serie A, kasta tertinggi liga Italia. Klub ini menjadi sangat populer di Indonesia karena dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia, yaitu Keluarga Hartono (Grup Djarum) melalui anak perusahaan mereka, SENT Entertainment. Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono sejak 2019 mengakuisisi klub yang berada di kota peguinungan di pinggir danau Como. Dukungan finansial mereka, Como dinobatkan sebagai klub sepak bola dengan pemilik terkaya di Italia menurut Forbes. Kabar Duka Terbaru: Pada 19 Maret 2026, klub secara resmi menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya salah satu pemiliknya, Michael Bambang Hartono. Saat ini klub dilatih oleh legenda sepak bola Cesc Fabregas dari Spanyol. Markar klub berada di Stadion Giuseppe Sinigaglia yang terletak di pinggir Danau Como. Klub ini dibeli saat berada di Serie D (divisi empat) setelah mengalami kebangkrutan, lalu berhasil promosi beruntun hingga mencapai Serie A pada musim 2024/2025. Identitas klub dikenal dengan julukan I Lariani dan identik dengan warna biru kerajaan (royal blue) (AI Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di Como, Italia? Nah, itu dia: jarang ditulis. Pada masa ini hanya terinformasikan telah dimiliki oleh Hartono Bersaudara, klub yang awalnya berada di Serie-D tetapi kini dalam waktu singkat sudah di Serie-A dan moga-moga segera berpartisipasi dalam Liga Champion Eropa. Lalu bagaimana sejarah Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di Como, Italia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Pers di Indonesia
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.
Klub Como 1907 di Danau
Pegunungan di Como, Italia; Klub Hartono Bersaudara dari Serie-D, Kini Serie-A
Kota Como dapat dikatakan adalah kota tua. Ketika kota Como di wilayah Lombardy di bawah Kerajaan Spanyol menjadi bagian yang diperintah oleh gubernur Spanyol dari Milan. Wilayah Italia sendiri berada di bawah kerajaan Spanyol sejak 1559. Saat ini pelaut-pelaut Spanyol dan pelaut Portugis sudah mencapai seluruh muka bumi.
Sebagaimana diketahui setelah pelaut-pelaut Portugis mencapai Maluku pada tahun 1511, lalu kemudian pelaut-pelaut Spanyol menyusul mencapai Maluku. Pelaut-pelaut Portugis berlayar dari Eropa ke Timur melalui Afrika Selatan, hingga ke India, lalu mencapai Malaka dan Maluku. Sementara pelaut-pelaut Spanyol berlayar menuju barat melalui Amerika Selatan dan kemudian melintasi Lautan Pasifik hingga mencapai pulau Zebu di Filipina dan Maluku pada tahun 1521.
Berdasarkan pengetahuan (buku dan peta orang-orang Portugis dan Spanyol), ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman dimulai pada tahun 1595 dengan berlayar melalui Afrika Selatan dan pada akhir tahun 1596 mencapai pantai narat pulau Sumatra di pulau Enggano. Sejak itu ekspedisi Belanda ke Maluku semakin intens. Pada tahun 1605 pelaut-pelaut Belanda di bawah pimpinan Admiral van Hagen berhasil menaklukkan benteng Portugis di Amboina. Pada tahun 1612 kembali pelaut-pelaut Belanda menaklukkan Portugis di pulau Solor dan Koepang (Timor). Sementara Spanyol tidak tergoyahkan di Filipina, lalu pos perdagangan utama Belanda (VOC) direlokasi dari Amboina ke Batavia (kini Jakarta).
Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 20-09-1620: ‘Venesia, 4 September. Situasi Gryson (seperti yang tertulis dari Italia) belum membaik, karena Gubernur Milan memberikan bantuan semaksimal mungkin kepada para pemberontak di Voltolina, dan telah menyiapkan 1.500 orang untuk dikirim ke sana; namun, mereka tidak mengenakan lambang Raja Spanyol, melainkan lambang Paus, yaitu Kunci Santo Petrus. Sementara itu, segala macam persiapan militer sedang dilakukan di Como dan wilayah yang sama, untuk terlebih dahulu menangani Gryson dengan serius’.
Wilayah Lombardia pada masa ini adalah sebuah wilayah administratif di Italia Utara yang terletak di antara pegunungan Alpen dan Lembah Po. Ibu kota berada di Milano (Milan). Dalam perkembangannya wilayah adminstrasi Lombardia (Lombardy) berkembang yang kini terdiri dari 12 provinsi: Milan, Bergamo, Brescia, Como, Cremona, Lecco, Lodi, [Akhir] Matua, Monza dan Brianza, Pavia, Sondrio, dan Varese. Di wilayah Lombardia ini terdapat tiga danau besar: Danau Como, Danau Garda, dan Danau Maggiore.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Klub Hartono Bersaudara dari
Serie-D, Kini Serie-A: Kota Como dan Promosi Indonesia
Wilayah Comodi Lombardia adalah provinsi terjauh Italia di sebelah utara (berbatasan dengan Swiss). Sebagaimana diketahui, Swiss awalnya juga masuk wilayah kekuasaan Austria. Sebagai wilayah paling terpencil di Italia di pegunungan Alpen, provinsi Como sejatinya baru baru mendapat perhatian pada tahun 1903. Ini sehubungan dengan adanya konsesi pembangunan kereta api listrik dari Milan hingga ke Como.
Soerabaijasch handelsblad, 04-11-1903: ‘Kereta api listrik. Di Italia, uji coba penting dengan kereta api listrik akan segera dilakukan. Perusahaan Milan Utara telah diminta untuk menerapkan traksi listrik pada jalur-jalurnya, dengan panjang gabungan 293 Km, yang sebagian besar membentang ke danau-danau. Untuk tujuan ini, mereka bermaksud memanfaatkan Sungai Liro yang berarus deras, sebuah aliran sungai pegunungan yang berasal dari Splugen dan mengalir ke Danau Como. Sebuah pembangkit listrik akan dibangun di Chiavenua untuk tujuan ini, yang akan memasok tenaga listrik berkinerja tinggi. Rencananya, operasi ini akan dimulai pada tahun 1905, bersamaan dengan pembukaan Terowongan Simplon’.
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




Tidak ada komentar:
Posting Komentar