Laman

Minggu, 24 Mei 2020

Sejarah Bogor (65): Sejak Kapan Nama Buitenzorg Dikenal? Kapan Nama Bogor Dicatat? Buitenzorg Menjadi Bogor, 1950


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini
 

Sejak kapan nama Buitenzorg dikenal? Kapan nama Bogor dicatat? Dua pertanyaan ini mungkin sebagian orang tidak terlalu menganggap penting-penting amat. Namun pertanyaan ini menjadi penting ketika pada tahun 1950 Pemerintah Indonesia (RIS) secara resmi mengganti nama Buitenzorg menjadi Bogor. Lantas muncul pertanyaan baru, apakah sebelum disebut Buitenzorg namanya sudah disebut Bogor? Pertanyaan yang tidak penting menjadi pertanyaan penting, bukan? Untuk sekadar catatan awal nama Buitenzorg sejatinya sudah ada sejak lama, tetapi secara resmi nama Buitenzorg baru diberlakukan pada tahun 1810 (lihat Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810). Meski demikian, nama lain (Bogor) juga tetap dipertahankan, nama Buitenzorg ditujukan kepada orang-orang Eropa/Belanda dan nama Bogor ditujukan dan untuk menjaga eksistensi pribumi.

Amsterdamse courant, 18-12-1759
Nama Batavia muncul setelah Jan Pieterszoon Coen memimpin invasi ke Kerajaan Jactra tahun 1619. Dua tahun berikutnya muncul nama benteng Kasteel Batavia. Benteng inilah yang kemudian menjadi asal-usul Batavia sebagai nama suatu tempat. Nama Jacatra [baca: Jakarta] lambat laun terpinggirkan. Ketika Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, secara resmi pada tahun 1950 nama kota Batavia diganti dengan nama Djakarta. Pada era pendudukan Jepang secara informal nama Batavia telah digantikan dengan nama Djakarta.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah barang tentu memerlukan jawaban. Sejauh ini tidak ada yang memikirkannya apalagi menulisnya. Boleh jadi karena soal asal-usul nama tempat tidak dianggap penting [(lihat Sejarah Bogor (1)]. Namun begitu, untuk menambah pengetahuan, dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.  

Nama Buitenzorg

Dalam laporan-laporan ekspedisi pertama ke hulu sungai Tjiliwong (sejak 1687) tidak pernah teridentifikasi nama (tempat) Bogor. Nama-nama tempat yang telah diidentifikasi antara lain Katoelampa, Paroeng Benteng, Bantar Kemang, Baranang Siang, Babakan, Sempoer, Kampong Baroe, Tjiloear, Kedong Halang, Kedong Waringin (Tjiwaringin) dan Kedong Waringin. Nama Buitenzorg justru lebih dahulu muncul daripada nama Bogor. Nama Buitenzorg paling tidak sudah dicatat pada tahun 1749 (lihat catatan Kasteel Batavia, Daghregister 3 Dessember 1749). Disebutkab para pejabat tinggi (VOC) berangkat ke Buitenzorg.

Nama Buitenzorg diduga terkait dengan upaya Gubenur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun villa di dekat benteng Fort Padjadjaran (di titik singgung terdekat antara sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane). Area benteng dan villa ini kini menjadi posisi GPS Istana Bogor. Gustaaf Willem baron van Imhoff menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC antara tahun Mei 1743 hingga November 1750. Sebelum berakhir masa jabatan van Imhoff, disebutkan dalam Daghregister ke Buitenzorg pada tangga 19 April 1750 dan kembali ke Batavia pada tanggal 19 Mei 1750. 

Pada tanggal 19 Mei 1752 diterima surat dari Luytenant Jan Andries Duurkoop dari Buitenzorg. Surat ini diduga suatu indikasi bahwa Buitenzorg, tempat dimana villa mantan Gubernur Jenderla van Imhoff berada telah diserang (dari Banten). Sebagaimana ditulis di berbagai sumber villa ini telah terbakar. Luytenant Jan Andries Duurkoop adalah komandan di benteng Padjadjaran. Kelak diketahui Majoor Jan Andries Duurkoop adalah pemilik land West Tandjoeng.

Pada tanggal 17 November 1753 Gubernur Jenderal [Jacob Mossel] berkunjung ke Buitenzorg. Besar dugaan kunjungan Mossel ini, villa Buitenzorg telah dibangun kembali. Villa ini menjadi villa kedua Mossel setelah villa di land Antonij yang dibelinya dari Jusninus Vinke (kini menjadi RSPAD). Land ini kemudian disebut Weltevreden. Catatan: pemilik land ini pertama kali adalah Cornelis Chastelein (pemilik land Depok). Mansion Weltevreden dan villa Buitenzorg kemudian dibeli oleh Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra (1761-1775).

Lambat laun nama Buitenzorg menjadi populer. Tidak hanya nama sebuah tempat di pegunungan (hulu sungai Tjiliwong), tetapi juga nama Buitenzorg sudah ditabalkan sebagai nama kapal (communiter) antara Amsterdam-Batavia (lihat Amsterdamse courant, 18-12-1759). Nama kapal ini diduga ditabalkan oleh Gubernur Jenderal [Jacob Mossel. Nama Buitenzorg juga ditemukan di dekat Amsterdam (lihat Amsterdamse courant, 15-04-1760). Tidak begitu jelas mana yang lebih ada Buitenzorg di dekat Amsterdam atau Buitenzorg di dekat Batavia. Seperti disebut di atas, nama tempat Buitenzog di dekat Batavia paling tidak sudah eksis sejak tahun 1749.

Petrus Albertus van der Parra meninggal selagi menjabat Gubernur Jenderal pada tahun 1775. Petrus Albertus van der Parra digantikan oleh Jeremias Riemsdijk. Hanya sekali saja Riemsdijk ke Buitenzorg selama beberapa hari antara tanggal 7 Agustus 1776 hingga 21 Agustus 1776. Jeremias Riemsdijk meninggal 3 Oktober 1777.  

Selama era VOC tidak ada indikasi di Buitenzorg terdapat nama (kampong) Buitenzorg. Juga tidak ditemukan pada lukisan-lukisan yang dibuat oleh Josh Rach (1772) maupun laporan ekspedisi Radermacher (1777).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Nama Bogor

Nama Bogor di Buitenzorg kali pertama muncul pada tahun 1823 (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 09-12-1823). Disebutkan nama suatu tempat di Jawa, Buitenzorg atau Bogor (Buitemzorg of Bogor). Keterangan ini mengindikasikan bahwa Buitenzorg juga disebut Bogor. Keterangan serupa juga ditemukan adalam buku, Johannes Olivier, Eerste handleiding tot de aardrijkskunde van Nederlandsch Indie, 1830).

Surinaamsche courant, 01-05-1832
Nama Bogor juga ditemukan di district Bekassi. Disebutkan tanah almarhum (Jeremias) van Riemsdijk dijual yang terletak di land Bogor, Sambilangan dan Soengei Boeaja di sepanjang sungai Bekasi. Lahan-lahan di daerah aliran sungai Bekasi tersebut telah dimiliki Jeremias van Riemsdjik, Gubernur Jenderal VOC (1775-1777). Saat itu mansion Riemsdijk berada di (land) Antjol. Pada saat Gubernur Jenderal, Jeremias van Riemsdjik juga membeli lahan di Tjiampea yang kemudian dijadikan sebagai tanah partikelir pada tahun 1778 (land Tjiampea). Besar dugaan nama land Riemsdijk di Bekasi merujuk pada sebutan Buitenzorg sebagai Bogor.

Penjelasan nama Bogor muncul dari seorang pelancong yang pernah datang ke Buitenzorg. Pelancong tersebut menulis hasil perjalanannya tersebut yang kemudian dimuat di surat kabar dan dilansir oleh Surinaamsche courant, 01-05-1832. Di dalam tulisan ini disebutkannya bahwa wilayah (district) Buitenzorg penduduk menyebutnya Bogor setelah van Imhoff membangun villa. Bogor adalah sebutan penduduk untuk Buitenzorg.

Keterangan tersebut menjelaskan bahwa penduduk menyebut Buitenzorg sebagai Bogor. Ini dapat diartikan bahwa Bogor tidak mengacu pada suatu nama kampong, tetapi merujuk pada pelafalan (pengucapan) oleh penduduk dari nama Buitenzorg. Hal ini diperkuat bahwa sejak era VOC tidak ada indikasi suatu kampong dinamai Bogor.

Lantas sejak kapan nama Buitenzorg disebut penduduk dengan Bogor? Dalam hal ini dapat dihubungkan dengan penamaan land Bogor di daerah aliran sungai Bekasi pada era Gubernur Jenderal Jeremias van Riemsdijk. Penyebutan Bogor untuk Buitenzorg diduga muncul antara tahun 1745 (sejak van Imhoff membangun villa) dan tahun 1775 (sejak van Riemsdijk menamai landnya dengan Bogor). Dengan demikian, usia nama Buitenzorg dan nama Bogor relatif bersamaan (seumur).

Bataviaasch handelsblad, 19-02-1859
Kedua nama Buitenzorg dan Bogor sama-sama eksis. Buitenzorg tidak menggantikan Bogor, tetapi Bogor merujuk pada Buitenzorg sebagai sebutan lain. Hal itulah dalam berbagai tulisan ditulis Buitenzorg of Bogor (Buitenzorg atau Bogor). Hal ini berbeda dengan Batavia yang mana Batavia menggantikan Jacatra. Tidak ditemukan tulisan yang menyebut Batavia of Jacatra. Nama Jacatra lebih dulu eksis daripada Batavia, namun kemudian Batavia menggantikan Jacatra. Oleh karena nama Buitenzorg atau Bogor penyebutan nama tempat yang sama maka keduanya tetap eksis. Dalam satu pengumuman lelang sebagaimana dimuat pada surat kabar  Bataviaasch handelsblad, 19-02-1859 dalam bahasa Belanda disebut Buitenzorg sementara dalam bahasa pribumi (bahasa Melayu) disebut Bogor).

Kasus nama Soekaboemi berbeda dengan nama Batavia (Jacatra) dan Buitenzorg (Bogor). Nama Soekaboemi diintroduksi pada suatu kawasan tanah partikelir yang notabene luas lahan tersebut seluas district Goenoeng Parang. Lambat-laun nama Soekaboemi menggantikan nama Goenoeng Parang (seperti kasus Batavia menggantikan Jacatra). Dalam kasus Bogor, nama Buitenzorg diintroduksi tetapi kemudian nama tersebut dinamai penduduk dengan nama Bogor. Apakah nama Bogor sebagai pelafalatan penduduk untuk Buitenzorg? Boleh jadi. Ini mirip pelafalan Batavia oleh penduduk menjadi Betawi.

Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van NI, 1869
Nama (tempat) Bogor tidak hanya penyebutan penduduk untuk Buitenzorg, tetapi juga di berbagai wilayah. Berdasarkan buku geografi dan statistik Hindia Belanda Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie, 1869 Bogor sebagai nama kampong dicatat berada di Bekasi (seperti disebut di atas), di Keboemen, Koeningan, Indramajoe, Kediri, Pekalongan dan Panaroekan. Lantas muncul pertanyaan? Mengapa tidak ada nama kampong Bogor di hulu sungai Tjiliwong (Buitenzorg), tetapi ada di daerah aliran sungai Bekasi dan wilayah-wilayah lain? Satu yang pasti di hulu sungai Tjiliwong sejak 1687 dibangun benteng VOC yang disebut benteng Fort Padjadjaran. Sejak van Imhoff membangun villa tahun 1745 di dekat benteng ini kemudian dikenal area tersebut sebagai Buitenzorg (tempat peristirahatan di luar kota). Seperti disebut di atas sejak munculnya penyebutan nama tempat Buitenzorg juga muncul nama Bogor. Adanya nama kampong Bogor di daerah aliran sungai Bekasi diduga karena terkait dengan keberadaan benteng VOC Fort Bekassie (areanya kemudian disebut Sambilangan, tidak jauh dari nama Bogor sehingga land milik Jeremias van Riesmdijk disebut land Bogor, Sambilangan en Soengei Boeaja. Pada era VOC benteng-benteng dijaga oleh pasukan pribumi pendukung militer VOC yang dipimpin oleh seorang Luitenant atau Sergeant Eropa-Belanda. Para pasukan pribumi inilah yang diduga kuat membuka perkampongan di dekat benteng, katakanlah kampong Bogor di Bekasi. Idem dito di Batavia dan Tangerang, di dekat benteng-benteng muncul nama kampong Bali, kampong Makassar, kampong Melajoe, kampong Ambon, kampong Tambora dan sebagainya. Munculnya nama-nama kampong di berbagai wilayah lain (Keboemen, Koeningan, Indramajoe, Kediri, Pekalongan dan Panaroekan) diduga kuat karena faktor (eks) pasukan pribumi pendukung VOC yang pernah bertugas di Buitenzorg atau Bogor.

Adanya pendapat bahwa Bogor berasal dari pohon aren yang mati (bokor) dan Baghar (Arab) kurang realistik karena bokor hanya berdasarkan (analisis) toponimi. Analisis toponimi ini terdapat dalam buku yang disebut di atas (Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie, 1869). Sementara Baghar diduga dihubungkan dengan nama tempat Baghar di wilayah jajahan Prancis di Afrika (lihat Algiers en Tunis in 1845). Dalam hal ini, nama Bogor menyebar ke berbagai wilayah dari Buitenzor of Bogor.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar