Laman

Jumat, 28 Agustus 2020

Sejarah Manado (12): Sejarah Bunaken di Teluk Manado; Pulau dan Taman Bawah Laut yang Indah, Destinasi Wisata Baru

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disin

Bunaken sangat terkenal di Manado. Sebuah pulau dimana taman lautnya sangat memesona seperti halnya taman laut di Lombok. Taman laut (pulau) Bunaken menjadi salah satu destinasi wisata di Manado. Anda ingin melihat taman laut Bunaken yang tenang dan indah? Jangan lupa membaca sejarahnya.

Menurut berbagai tulisan taman laut Bunaken baru ditemukan tahun 1975. Apa, iya? Taman laut sejatinya sudah terbentuk sejak tempo doeloe. Namun mengapa disebut baru ditemukan pada tahun 1975. Hal ini menurut berbagai tulisan baru pada tahun 1975 tersingkap keindahan bawah laut (pulau) Bunaken oleh suatu tim penyelam untuk mengeksplorasi alam bawah laut Bunaken yang menurut kisah berhantu. Tapi, okelah. Itu satu hal. Hal lainnya yang penting adalah bagaimana sejarah (pulau0 Bunaken sendiri.

Nama (pulau) Bunaken sendiri bukanlah baru, tetapi suatu nama lama. Pulau Bunaken tidak jauh dari pulau Manado Tua. Dalam sejarahnya, Manado Tua adalah Manado paling tua di district Minahasa. Lalu setua apa Bunaken. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Permulaan adalah awal mengukur sejarah setua apa. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Bunaken di Teluk Manado

Secara geografis, nama (pulau) Bunaken di teluk Manado baru diidentifikasi pada Peta 1879. Sejak lampau pulau ini hanya dipetakan sebagai sebuah pulau di tenggara pulau Manado Toea. Dengan dipetakannya pulau Boenaken. Maka itu adalah indikasi bahwa pulau Bunaken sudah mulai penting sebagai pulau yang dihuni penduduk dan memiliki arti penting dalam hubungannya dengan pulau Manado Toea dan pelabuhan Manado di muara sungai Tandano.

Wilayah teluk ini sudah dikenal sejak era Portugis. Orang-orang Portugis sudah pernah singgah di wilayah ini hingga kemudian pada tahun 1563, Sultan Hairoen dari Tèrnate mengirim putranya Baab (Babullah Datoe Sah) dengan beberapa kapal untuk menyerahkan pantai utara Celebès ini masuk pada otoritas Kesultanan Ternate. Sejak itu pengaruh Ternate (Islam) di wilayah teluk ini terasa. Masuknya misionaris J Kamp dari Ambon pada tahun 1817 ke wilayah teluk (Manado) dan daratan (Minahasa) telah mengubah atmosfir. Wilayah Manado dan sekitar dipisahkan dari Residentie Ternate pada tahun 1824 dan kemudian dibentuk Residentie Manado en Gorontalo berdasarkan surat keputusan 12 Juni 1824 No. 1 (Staatsblad No 28a). Peta 1991

Sehubungan dengan semakin intensnya cabang pemerintahan Hindia Belanda di Manado (Residentie Manado), pulau yang kemudian diidentifikasi sebagai Bunaken semakin berkembang. Perkembangan tersebut karena semakin banyaknya penduduk pulau Manado (Manado Toewa) yang bertempat tinggal di pulau tetangga (pulau Boenaken).

Pulau-pulau di teluk (Manado) pada awalnya dihuni oleh etnik Babotehoe. Mereka mendiami pulau Manado, pulau Boenaken dan lainnya. Pada era VOC, pos perdagangan di pulau Manado direlokasi Belanda ke muara sungai Tondano (1661) dan kemudian Pemerintah VOC membangun benteng tahun 1665 (Fort Asterdam). Wilayah benteng VOC inilah kemudian berkembang dan diidentifikasi sebagai Manado (cikal bakal kota Manado yang sekarang). Pulau Manado yang berada di teluk kemudian (hanya) disebut Manado Toewa (Oud Manado). Sementara wilayah Manado (baru) berada di wilayah (etnik) Minahasa yang berpusat di pedalaman di (danau) Tondano. Orang-orang pulau (Manado) juga membentuk perkampongan dekat benteng. Salah satu perkampongan Babotehoe (asli Manado) berada di kampong Sindoelang (Singkil dekat Manado) (lihat Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indie, 1925). Penduduk kampong Sindoelang kerap dianggap sebagai orang Minahasa, kernyataannya mereka adalah etnik Babotehoe seperti halnya penduduk pulau Manado Toewa dan pulau Boenaken. 
 
Hal
itulah mengapa pulau-pulau di teluk sejak tahun 1881 dimasukkan masuk wilayah district Manado (lihat  De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 16-06-1884). Disebutkan berdasarkan beslit pada tanggal 14 Desember 1881 No. 20 (Staatsblad No. 247) menetapkan bahwa district Manado yang sekarang (district Manado dan Residentie Manado) harus dihapuskan dan ditambahkan wilayah negorij Sindoelang dan negorij Ternate, serta pulau Boenaken, Menadotoewa, Siladin. Nain-besar, Nain-ketjil dan Mantehage district Aris Negri baroe-Klabat di bawah (Afdeeling Manado dan Residentie Manado) yang selanjutnya disebut District Manado dengan negorij Aris (Tikala) sebagai ibu kota (tempat kedudukan) kepala district. Berdasarkan peta kuno (Peta 1665) pulau tetangga pulau Oud Manado disebut pulau Tousari. Nama Bunaken diduga sebelumnya bernama Tousari.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bunaken: Destinasi Wisata Taman Bawah Laut

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar