Laman

Kamis, 27 Agustus 2020

Sejarah Manado (11): Sam Ratulangi, Sang Legenda di Sulawesi Utara; Riwayat Dua Dokter Hewan Sorip Tagor dan JA Kaligis

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini

Nama Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi yang disingkat Sam Ratulangi di Sulawesi Utara sangat dikenal dan melekat. Paling tidak nama Sam Ratulangi ditabalkan pada dua situs penting yakni Universitas Sam Ratulangi dan Bandara Sam Ratulangi. Namun tentu saja n nama Sam Ratulangi tidak hanya dikenal di Sulawesi Utara, paling tifak nama Sam Ratulangi juga dikenal di kota-kota lain sebagai nama jalan. Di Medan Sumatera Utara, jalan Sam Ratulangi menghubungkan jalan KH Agus Salim dan Cut Nyak Dien. Di Manado Sulawesi Utara jalan Sisingamangaraja menghubungkan jalan Hasanuddin dan jalan Lembong. .

Pada masa lampau sebelum nama Sam Ratulangi populer, ada dua nama terkenal yakni JA Kaligis dan Sorip Tagor. JA Kaligis lahir di Kakas, Minahasa Sulawesi Utara, sementara Sorip Tagor lahir di Padang Sidempuan, Angkola, Sumatra Utara. Sayang, tidak ada nama jalan JA Kaligis di Kakas apalagi di Manado. Idem dito tidak ada nama jalan Sorip Tagor di Padang Sidempuan apalagi di Medan. Namun untungnya, masih ada yang mengenal nama JA Kaligis di Manado. Nama Sorip Tagor sama sekali tidak dikenal di Medan, karena Sorip Tagor adalah BTL (seumur-umur tidak pernah ke Medan). Sorip Tagor adalah ompung (kakek buyut) dari artis Inez/Risty Tagor.

Bagaimana sejarah Sam Ratulangi? Tentu saja sudah banyak ditulis. Namun sejarah adalah sejarah. Itulah menariknya sejarah. Sejarah adalah narasi fakta dan data. Sejauh data belum berhenti, penulisan (studi) sejarah juga tidak pernah berhenti, lebih-lebih pada awal periode. Para sejarawan dituntut untuk memiliki kemampuan analisis, paling tidak dalam hal menemukan relasi satu sama lain dalam sejarah. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan, semua muncul tidak secara tiba-tiba (random). Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Sam Ratulangi: Jozias Ratulangi, Elias Kandou dan Willem Iskander

Nama Sam Ratulangi tidak bisa dilepaskan dengan nama Jozias Ratulangi. Meski bukan guru yang pertama di Residentie Manado, Jozias Ratulangi adalah salah satu putra Minahasa yang studi pertama ke Belanda. Nama Jozias Ratulangi paling tidak sudah dicatat pada tahun 1878 (lihat Bataviaasch handelsblad, 27-04-1878). Di dalam manifest kapal uap Prins van Oranje yang berangkat ke Nederland terdapat dua nama Jozias Ratulangi dan Elias Kandou. Jozias Ratulangi dan Elias Kandou adalah alumni sekolah guru (kweekschool) di Tondano ke Belanda dalam rangka studi lebih lanjut untuk mendapat akta guru LO (guru setara Eropa-Belanda). Mereka berdua ada adalah bagian dari program pemerintah mengirim guru muda studi ke Belanda.

Kweekschool Tondano dibuka pada tahun 1873, setahun sebelum Sati Nasoetian alias Willem Iskander pada tahun 1874 berangkat kembali ke Belanda untuk studi dalam rangka mendapatkan akta kepala sekolah (MO). Willem Iskander lahir di Pidoli Afdeeeling Mandailing en Angkola Residentie Tapanoeli dan setelah lulus sekolah dasar pemerintah, pada tahun 1857 berangkat ke Belanda untuk mendapatkan akta guru dan lulus pada tahun 1860 di Haarlem. Pada tahun 1861 Willem Iskander kembali ke kampong halaman dan pada tahun 1862 mendsirikan sekolah guru di Tanobato onderafdeeling Mandailing. Sekolah guru Tanobato adalah sekolah guru negeri ketiga di Hindia Belanda (yang pertama di Soeracarta tahun 1851 dan Fort de Kock tahun 1856). Pada tahun 1874 Willem Iskander kembali ke Belanda untuk studi mendapatkan akta kepala sekolah dengan membawa tiga guru muda Banas Lubis dari Tapanoeli, Raden Soerono dari Soeracarta dan Adi Sasmita dari Bandoeng. Jozias Ratulangi dan Elias Kandou adalah guru muda untuk meningkatkan mutu dengan studi lebih lanjut ke Belanda. Jozias Ratulangi kelak dikenal sebagai ayah dari Sam Ratulangi.     .

Jozias Ratulangi dan Elias Kandou tampaknya tidak kesulitan beradaptasi dan belajar di Amsterdam Belanda. Mereka berdua lulus tepat waktu. Dalam berita yang dimuat pada surat kabar Het nieuws van den dag: kleine courant, 23-09-1880 menyatakan lulus guru (LO) Raden Kamil kelahiran Moentilan, Joziah Ratulangi lahir di Tondano dan Elias Kandou lahir di Tonsea Lama. Pada akhir tahun 1880 Jozias Ratulangi dan Elias Kandou kembali ke tanah air. Ini dapat dilihat pada manifest kapal Prins van Oranje yang membawa mereka ke Batavia tanggal 4 Desember (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 06-12-1880). Dalam manifest ini juga terdapat nama Raden Kamil. Mereka semua di Belanda berada di bawah pengasuhan guru Kepala Sekolah di Amsterdam, D. Hekker (guru yang membimbing Willem Iskander pada tahun 1858-1860).

Sukses Jozias Ratulangi dkk studi di Belanda pemeriintah kembali mengirim guru muda dari Ambon yakni JH Wattimena dan ME Anakotta. Mereka berdua berangkat ke Belanda pada tahun 1881 dengan kapal Conrad dari Batavia (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 16-09-1881. Pada tahun 1884, JH Wattimena dikabarkan lulus sekolah guru di Amsterdam dan mendapat akta guru Lager Onderwijs (LO) (lihat Algemeen Handelsblad,  07-04-1884). Namun ME Anakotta meninggal selama pendidikan. JH Wattimena kembali ke tanah air. Dalam manifes kapal yang diberitakan Algemeen Handelsblad,  06-09-1884 terdapat nama JH Wattimena. Kapal Prins van Oranje yang ditumpangi JH Wattimena berangkat dari Amsterdam menuju Batavia pada tanggal 6 September 1884.

Jozias Ratulangi ditempatkan di sekolah guru (kweekschool) Tondano demikian juga E Kandou. Pada tahun 1885 Kandou dipindahkan ke Ambon (lihat  Bataviaasch handelsblad, 12-02-1885). Hingga tahun 1886 Jozias Ratulangi masih dipertahankan sebagai guru di Kweekschool Tondano (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-03-1886). Sementara koleganya sesama guru Raden Kamil masih di Kweekschool Magelang, sedangkan Darma Koesoema dipindahkan dari Fort de Kock ke Bandoeng, JH Wattimena dari Ambon dipindahkan ke Probolinggo.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perjuangan Sam Ratulangi: JA Kaligis dan Sorip Tagor

Sam Ratulangi pada bulan Mei 1905 berangkat dari Batavia dengan kapal Riemsdijk dengan rute Soerabaja, Bandjarmasin, Oost Borneo, Makassar dan Maluku (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 15-03-1905). Tidak diketahui dimana Sam Ratulangi transfer untuk menuju Manado. Kemudian Sam Ratulangi diketahui bersekolah di Koningin Wilhelmina School (KWS) Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-05-1907). Disebutkan Sam Ratulangi naik dari tingkat dua ke tingkat tiga Afdeeling A (IPA) Cursus tot Opleiding van Werktuigkunsdigen.

Dari keterangan ini diketahui Sam Ratulangi mulai masuk KWS pada tahun  1905. Pada tahun 1905 Sam Ratulangi pulang ke Manado. Besar dugaan Sam Ratulangi ke Batavia pada tahun 1905 untuk tes di KWS dan kemudian pulang ke Manado. Setelah dinyatakan diterima Sam Ratulangi kembali ke Batavia. Siswa yang diterima di KWS Cursus (kejuruan) adalah lulusan ELS. Sam Ratulangi diduga kuat adalah lulusan ELS Manado. Pada tahun 1907 di KWS untuk HBS (umum) naik dari kelas satu ke kelas dua adalah Nona ER Tangkau.

Sam Ratulangi lulus cursus tiga tahun di KWS jurusan Werktuigkunsdigen pada tahun 1908. Lulusan sekolah ini langsung ditempatkan untuk bekerja. Pada tahun 1912 Sam Ratulangi berangkat ke Belanda (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-03-1912). Tidak diketahui secara pasti tujuan Sam Ratulangi ke Belanda.

Pada tahun 1912 Sorip Tagor di Veeartsen School  Buitenzorg dinyatakan lulus dan mendapat gelar dokter hewan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 19-08-1912). Sorip Tagor diteria pada tahun 1907 pada tahun pertama sekolah Veeartsen School dibuka. Sebelum lulus, Sorip Tagor diangkat sebagai asisten dosen (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 16-08-1912). Pada tahun 1913, Sorip Tagor diangkat lagi sebagai asisten dosen di Sekolah Dokter Hewan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-08-1913). Tidak berapa lama kemudian (akhir tahun 1913), Sorip Tagor berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar dokter hewan penuh (setara dokter hewan Belanda). Beberapa bulan sebelumnya Soetan Casajangan tiba di tanah air dan sebelum diangkat menjadi direktur sekolah guru di Fort de Kock ditempatkan di sekolah ELS di Buitenzorg. Soetan Casajangan adalah penggagas organisasi mahasiswa Indische Vereeniging di Belanda pada tahun 1908.

 

Sebelum pulang ke tanah air pada bulan Juli 1913, Soetan Casajangan telah menulis buku berjudul 'Indische Toestanden Gezien Door Een Inlander' (negara bagian di Hindia Belanda dilihat oleh penduduk pribumi). Diterbitkan di Baarn oleh Percetakan Hollandia-Drukkerij. Buku ini adalah sebuah monograf (kajian ilmiah) setebal 48 halaman yang mendeskripsikan dan membahas tentang perihal ekonomi, sosial, sejarah budaya Asia Tenggara (nusantara) dan pertanian di Indonesia. Buku ini berangkat dari pemikiran bahwa sudah sejak lama penduduk pribumi merasakan adanya dorongan untuk penyatuan yang lebih besar yang kemudian dengan munculnya berbagai sarikat, antara lain Indisch Vereeniging (digagas oleh Soetan Casajangan), Boedi Oetomo (digagas oleh Wahidin) dan Sarikat Dagang Islam. Buku ini sangat mengejutkan berbagai pihak di kalangan orang Belanda baik di Negeri Belanda maupun di Hindia Belanda.

 

Dalam buku ini terang-terangan Soetan Casajangan menyinggung Undang-Undang di Hindia Belanda yang  membatasi konsesi untuk warga pribumi yang mana menurut Soetan Casajangan hanya orang Eropa hak konsesi dapat diberikan sementara penduduk pribumi asli haknya justru dirampas. Lebih lanjut, Soetan Casajangan mengutarakan tuntutan yang sangat mendasar bahwa persamaan di hadapan hukum bagi orang pribumi dan orang Belanda harus dengan segera diwujudkan. Menurut Soetan Casajangan  di Belanda sendiri tidak semua orang sifat, tabiat dan kebajikannya sama tapi toh diperlakukan sama di hadapan hukum. Di Hindia Belanda mengapa tidak? Untuk itu, menurut Soetan Casajangan pemerintah Belanda juga harus menyelenggarakannya di bidang pendidikan termasuk pengadaan beasiswa. Dalam buku ini, Soetan Casajangan juga menuntut kepada pihak pemerintah Belanda hal yang sama di bidang penerangan pertanian dan penggalakan perdagangan. Dengan kesamaan hukum tersebut pribumi akan mendapat kemajuan yang sama dengan orang-orang Belanda baik di bidang pendidikan, pertanian maupun perdagangan. Tulisan Soetan Casajangan ini juga mengkritik disparitas harga kopi dimana harga jual kopi lokal hanya dihargai sebesar f40 per pikul sementara harga jual kopi di pasar Eropa berkisar f70-f90 (rata-rata dua kali lipat per pikul).

Tidak lama setelah Soetan Casajangan tiba di tanah air, di Belanda muncul tulisan dalam seri “Onze Koloniën” yang diterbitkan oleh Hollandia Drukkerij di Baarn, sebuah brosur  tentang Sarikat Islam yang disebutkan pengarangnya adalah sosok tak dikenal: Gerungan SSJ Ratulangi, seorang Minahasa yang sementara tinggal di Amsterdam (lihat De expres, 31-01-1914). Surat kabar ini memberi komentar dengan nada bertanya: ‘Tidak jelas di mana pria ini mendapatkan keberanian untuk berpartisipasi dalam percakapan bernada tinggi tentang gerakan Jawa tertentu seperti Sarikat Islam’. Catatan: surat kabar De expres adalah surat kabar berbahasa Belanda (orang-orang Indo) yang dipimpin oleh EFE Douwes Dekker (sebelum ditangkap).

Bagaimana Sam Ratulangi menulis topik Sarikat Islam? Sebelumnya Soetan Casajangan telah menulis buku yang diterbitkan penerbit di Baarn yang didalamnya juga menyinggung soal Sarikat Islam, Indische Vereeniging dan Boedi Oetomo. Apakah Soetan Casajangan telah berdiskusi intens dengan Sam Ratulangi sebelum pulang ke tanah air? Nada tulisan Soetan Casajangan dan Sam Ratulangi bersesuaian. Soetan Casajangan sendiri sudah sejak lama gelisah dengan permasalahan di tanah air (dan itulah sebab mengapa Soetan Casajangan menggagas Indische Vereeniging di Leiden pada tahun 1908). Segera setelah lulus sekolah keguruan di Rijkskweekschool di Haarlem, Soetan Casajangan diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien (Organisasi para ahli/pakar bangsa Belanda di negeri Belanda dan di Hindia Belanda) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan pada tahun 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya.

 

Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).

 

...saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi).

Boleh jadi Sam Ratulangi menulis brosur dengan topik Sarikat Islam karena terinspirasi atau memang ada pembicaraab dengan Soetan Casajangan sehubungan dengan semakin hangatnya situasi politik di tanah air terutama gerakan tiga serangkai: Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat.

De Preanger-bode, 05-09-1913 melaporkan bahwa besok Tjipto dan Soewardi berangkat dari Bandoeng di bawah pengawasan polisi menuju Batavia kemudian ke Singapoera dan akan bergabung dengan EFE Douwes Dekker. Berita ini diperkuat oleh coresponden surat kabar Belanda di Batavia bahwa hari ini (Sabtu) Douwes Dekker, Tjipto dan Soewardi telah berangkat ke Eropa dengan kapal laut Jerman (lihat Algemeen Handelsblad, 07-09-1913).

Tiga revolusioner ini telah tiba di Belanda (lihat Bredasche courant, 03-10-1913). Disebutkan Para interniran di Den Haag. EFE Douwes Dekker, Tjipto dan Soewardi tiba di Den Haag kemarin, ditemani oleh istri mereka dengan kereta api. Di stasion mereka diterima oleh sekitar 30 anggota partai dengan musik yang dibawakan SP-marsch. Tidak diketahui mereka naik kereta api darimana apakah dari pelabuhan Belanda atau pelabuhan di selatan Prancis. Boleh jadi penyambutan ini diorganisir oleh Indische Vereeniging yang kini (1913) diketuai oleh Noto Soeroto. Boleh jadi Sam Ratulangi termasuk diantaranya.

Soetan Casajangan kemudian ditempatkan di Fort de Kock. Soetan Casajangan segera berangkat ke Fort de Kock. Soetan Casajangan bertemu dengan dua guru muda yang belum lama lulus di sekolah guru Fort de Kock. Lalu dua guru muda tersebut pada bulan Oktober 1913 berangkat ke Belanda. Dua guru muda itu adalah Dahlan Abdullah dan Tan Malaka. Lalu pada bulan Desember dari Buitenzorg, asisten dosen di Veeartsen School Buitenzorg Sorip Tagor Harahap berangkat studi ke Belanda.

Setelah tiga serangkai tiba di Belanda, seorang wartwan berhasil mewawancarai EFE Douwes Dekker. Hasil wawancara ini dimuat pada surat kabar Nieuwsblad van het Noorden, 06-10-1913.

Nieuwsblad van het Noorden, 06-10-1913: ‘Amsterdam, 6 Oktober. Editor Den Haag Persbureau Vas Dias di Amsterdam telah mengadakan pertemuan dengan pemimpin Indische Partij yang baru saja tiba di negara ini. Tuan Douwes Dekker ditemani Tjipto dan Raden Mas Soewardi, tiga pemimpin Indische Partij yang diasingkan. Douwes Dekker menjawab pertanyaan tentang apa yang membawanya ke Belanda, yaitu niat untuk meneruskan propaganda di Belanda dengan penuh semangat. Kami akan, menurut Tuan DD mengguncang opini publik dan menunjukkan ilegalitas pengasingan kami. Kami sudah diundang untuk keperluan ini oleh SDAP cabang Amsterdam [SADP adalah partai buruh sosial demokrat di Belanda,  Sociaal Democratische Arbeiders Partij] untuk menjelaskan kasus kami dalam pertemuan publik. Selain itu, dalam beberapa hari sebuah surat kabar mingguan De Indiers yang akan dieditori oleh Tjipto akan diterbitkan, dimana prinsip-prinsip kami akan dipertahankan. Kita! selanjutnya, Mr. DD melanjutkan, dalam pengertian keadilan rakyat Belanda dan perwakilan dari partai-partai paling progresif di Tweede Kamer untuk berharap bahwa penghentian akan dilakukan atas kesewenang-wenangan dan ketidakadilan dimana kami menjadi korban. Kami hancur secara finansial dan sosial oleh pembuangan ini. Dan mengapa brosur yang banyak dibahas yang ditulis oleh Soewardi ‘Als ik Nederlander was’ yang tidak mengandung hukuman dan bahkan lebih moderat daripada artikel yang ditulis oleh Het Volks tentang kemerdekaan. Mengenai pentingnya hasil pemilu untuk Hindia, DD berkomentar sebagai berikut: Meskipun kita tahu posisi Menteri Koloni yang baru, kita tahu bahwa itu sekarang akan menjadi masalah stimulasi penduduk pribumi yang tidak perlu, hari demi hari, dari perasaan religius penduduk pribumi itu. Memang benar bahwa tindakan yang tidak taktis dan provokatif itu telah membawa puluhan ribu anggota ke Sarikat Islam. Islam telah menjadi pengikat agama yang menyatukan penduduk pribumi. Menurutmu, tindakan Indisch Partij sudah membuahkan hasil?. Ini umumnya diakui di Hindia. Ada hasil yang terlihat dan tidak terlihat untuk ditunjukkan. peraturan pemerintah yang telah diumumkan bahwa mulai sekarang dengan upah yang setara untuk hubungan dan keterampilan yang sama akan diberikan kepada orang Eropa dan pribumi. Itu adalah salah satu poin utama dari program kami. Dalam pelayanan, bahkan di ketentaraan penduduk pribumi menjadi kurang diakomodir padahal mereka adalah penduduk asli. Ini akan berakhir sekarang. [Surat kabar] Lokomotif menyebutnya revolusioner yang tepat. Saya juga merujuk pada surat edaran 2014. Ini termasuk ancaman hukuman berat (bahkan pemecatan; perintah penduduk pribumi untuk diperlakukan sama dengan Eropa). Ini memang pengakuan tulus dari pemerintah Hindia Belanda bahwa sampai sekarang ada perbedaan Dalam surat edaran ini seseorang dapat benar-benar mengidentifikasi bagian-bagian yang dapat disaksikan diambil dari artikel utama Express. Perlakuan yang sama putih dan coklat juga salah satu dari klaim kami. Surat edaran ini diterbitkan ketika kami berangkat ke Belanda sebagai orang buangan. Saya masih dapat menunjukkan kepada Anda keputusan Departemen Kehakiman untuk memperkenalkan status sipil sesegera mungkin. Kami juga telah bekerja keras untuk mencapai hal ini. Dengan puas, kami telah mencatat pidato dari GG pada tanggal 31 Agustus diucapkan. Di dalamnya diumumkan pengambilan tindakan, perkenalan yang kami perjuangkan dan perjuangan untuk yang menganiaya kami. Saya menunjuk pada hukum kasus. Ada hak untuk orang ‘kulit putih’ dan untuk penduduk pribumi. GG telah mengumumkan penyatuan hukum. Dia juga berbicara tentang organisasi - pikiran Anda, bukan reorganisasi - tentang Onderwijs. Padahal belum ada organisasi pendidikan di Hindia. Juga pidato dari Perguruan Tinggi juga disebutkan. Ini adalah hasil nyata dari tindakan kita. Hasil yang tidak terlihat adalah tumbuhnya kesadaran diri, harga diri, tumbuhnya rasa persatuan, cinta untuk dan pengetahuan negara sendiri’.

Pengasingan tiga rovulusioner menjadi pembahasan semua surat kabar yang terbit di Belanda. Sebelumnya semua surat kabar Belanda di Hindia memonjokkan tokoh-tokoh Indische Partij dan Komite Boemi Poetra, bahkan surat kabar Locomotief yang terbit di Semarang yang investasinya sebagian besar dimiliki van Deventer ikut menyalahkan tokoh-tokoh tersebut. Di Belanda sudah ada surat kabar yang mulai sedikit membela. Surat kabar ini diduga surat kabar yang berhaluan sosialis yang menjadi organ ASDP yakni De tribune: soc. dem. weekblad.

Di kalangan pribumi muncul dari Dt. Radjiman, yang cenderung merendahkan dua revolusioner pribumi yang sedang diasingkan di Belanda (lihat  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 25-10-1913). 

Dalam pertemuan publik yang dilakukan oleh ASDP di Amsterdam dengan menghadirkan tiga revolusioner dari Hindia mendapat sambutan di ruangan yang penuh (acara yang dikutip harga tiket banyak peminat yang harus ditolak). Tjipto dan Soewardi seakan tidak berada di tempat pengasingan yang terasing tetapi di tengah yang kota yang simpati dengan mereka. Mereka seakan tidak berjuang melawan kesepian tetapi tetap justru berjuang seperti halnya di Bandoeng di tempat khalayak ramai di Amsterdam. Dalam rapat publik di Amsterdam, setiap orang yang berminat hadir ingin mendengat dua revolusioner. Tjipto dan Soewardi

Sementara itu di tanah air, pada tahun 1914 di Batavia Dr. Soetomo baru pulang berdinas dari Deli. Dr. Soetomo tiba di Batavia hatinya pilu dan sedikit marah. Dr. Soetomo merasa perlu berbicara di tengah anggota Boedi Oetomo. Satu-satunya cabang Boedi Oetomo yang dipimpin oleh orang muda adalah Boedi Oetomo cabang Batavia yang dipimpin oleh alumni STOVIA yakni Sardjito. Lalu Boedi Oetomo cabang Batavia mengadakan rapat umum (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-07-1914). Rapat publik ini diadakan di gedung Boedi Oetomo di Gang Kwinie 3 yang mana tema yang dibicarakan Dr. Soetomo tentang kontrak kuli di Deli. Dalam rapat publik di Boedi Oetomo cabang Batavia Dr. Soetomo dalam pidatonya berapi-api. Dr. Soetomo menyatakan: ‘Kita tidak bisa hidup sendiri’. Dr. Soetomo melanjutkan, ‘Kita tidak bisa hidup sendiri, bangsa kita Jawa tidak bisa terkungkung, kuli-kuli asal Jawa sangat menderita di Deli atas perlakuan yang tidak adil dari para planter pengusaha perkebunan asing’. Dr. Soetomo melanjutkan: ‘Banyak orang Tapanoeli yang pintar, mereka ada dimana-mana...kita tidak bisa hidup sendiri lagi’.

Pada tahun 1913 dan 1914 ini ada beberapa tokoh yang terhubung, paling tidak dalam aspek pemikiran, yakni: Soetan Casajangan (termasuk Sorip Tagor Harahap, Dahlan Abdoellah dan Tan Malaka), Tiga Serangkai (Tjipto, Dekker dan Soewardi), Dr Soetomo (termasuk Dr Sardjito), dan tentu saja dalam hal ini Sam Ratulangi. Di Belanda, Soetan Casajangan masih terhubung dengan dua mahasiswa lama yakni Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (tiba di Belanda 1911) dan Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soeangkoepon (tiba di Belanda 1910).

Untuk sekadar proyeksi: tokoh ini kelak menjadi tokoh politik di tanah air. Dr Soetomo sebagai ketua Partai PBI (dan kemudian Partai Parindra); Tan Malaka sebagai tokoh sosialis terkemuka, Dahlan Abdoellah sebagai Wali Kota Djakarta di era Jepang, Mangaradja Soangkoepon dan Sam Ratulangi dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai anggota Volksraad; Dr Sardjito sebagai Republiken dan rektor UGM yang pertama; Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara sebagai Menteri Pendidikan RI yang pertama yang kemudian digantikan oleh Soetan Goenoeng Moelia. Catatan: Soetan Casajangan meninggal tahun 1927.

Tiga serangkai telah terrpencar. EFE Douwes Dekker telah menetap di Geneva (Swiss). Paling tidak keterangan ini diketahui pada pertengah Juni 1914 (lihat De Maasbode, 27-06-1914). Dalam berita ini disebutkan bahwa Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo sedang sakit dan tengah dirawat di sebuah klinik swasta di Belanda. Dr. Tjipto menederita kelumpuhan. Pada bulan Maret 1914 Pemerintah Hindia pernah mengirimkan tawaran kepada Dr. Tjipto untuk menandatangani perjanjian tidak membuat agitasi dan diizinkan kembali  ke Hindia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 24-07-1914). Hal ini karena keahliannya (sebagai dokter) dibutuhkan di Hindia. Dalam perkembangannya diketahui permintaan Dr. Tjipto kepada Menteri Koloni dikabulkan tanggal 24 Juli untuk kembali ke tanah air karena alasan kesehatan (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 29-07-1914).

Bagaimana dengan Soewardi? Disebutkan bahwa Soewardi akan mengikuti studi untuk mendapatkan akte guru. Setibanya Dr. Tjipto di tanah air, berita tentang Douwes Dekker dan Soewardi juga muncul (De Sumatra post, 19-10-1914). Disebutkan atas permintaan Ratu, Dekker dan Soewardi juga untuk dibebaskan sebagai interniran dan dikembalikan ke Hindia.

 

Dalam perkembangannya, Sam Ratulangi, sang penulis brosur Sarikat Islam yang sudah kuliah di Amsterdam, terpilih menjadi ketua Indische Vereeniging pada tahun 1914. Lantas apakah terpilihnya Sam Ratulangi terhubung dengan Soetan Casajangan? Sebab Sam Ratulangi belum lama tiba di Belanda dan beberapa mahasiswa yang dekat dengan Soetan Casajangan juga belum lama tiba di Belanda seperti Sorip Tagor, Dahlan Abdoellah dan Tan Malaka. Terpilihnya Sam Ratulangi membingungkan seorang Belanda yang menulis di surat kabar yang kemudian dilansir surat kabar yang terbit di Batavia.

Bataviaasch nieuwsblad, 01-02-1915: ‘Indische Vereeniging. Telah terjadi perubahan total dalam struktur kepemmpinan Indische Vereeniging. Alih-alih RM Noto Soeroto, yang dipersenjatai sebagai perwira kavaleri cadangan, kini terpilih sebagai presiden Gerungan Ratulangie, yang studi matematika di Amsterdam. Dengan pilihan ini, perkumpulan yang beranggotakan umumnya Jawa ini telah mengambil posisi yang lebih liberal dan demokratis dan juga menolak aspirasi Islam, karena Ratulangie adalah seorang Kristen dari Minahassa. Yang ini tidak sepenuhnya tidak kita ketahuii...maka muncullah brosur Sarikat Islam darinya, selain itu ia juga memberikan ceramah yang sangat menarik tentang Minahasa. Ini adalah kehormatan, pria muda keras yang agak kontras dengan priajie yang lebih tenang dan formal. Karena majikan baru membawa hukum baru, Ratulangie membuat program kerja, yang akan kita bahas dibawah ini. Pertama-tama, kemudian, dalam sebuah rapat, dia mengemukakan dalam rapat posisi yang dia yakini harus diambil oleh asosiasi tersebut dalam kaitannya dengan berbagai arus politik dan lainnya, dan menyatakan dirinya sebagai pendukung kuat untuk tidak terseret dalam arus manapun, yaitu Ia ingin agar semua fakta dilakukan dengan benar. Namun, dalam beberapa kesempatan, pertanyaan politik telah diangkat di masa lalu dan perdebatan tersebut kemudian memunculkan ketidaksepakatan yang mendalam... berbagai ceramah. yang hingga saat ini diselenggarakan oleh para anggota Indische Vereeniging, yang pertemuannya selalu kami hadiri dengan senang hati. Tamu Tua. Den Haag, Desember 1914’.

Sam Ratulangi telah menyelesaikan pendidikannya dengan gelar guru MO. Untuk gelar guru LO diperolehnya pada tahun 1913 (suatu pencapaian yang pernah diraih sang ayah Joziah Ratulangi pada tahun 1880).

Ini juga berarti Sam Ratulangi telah mencapai apa yang pernah diraih oleh Soetan Casajangan yakni gelar guru LO tahun 1909 dan gelar guru MO pada tahun 1911. Sesama guru inilah yang memingkin ada persamaan tambahan antara Soetan Casajangan dan Sam Ratulangi. Soetan Casajangan adalah pribumi pertama yang meraih gelar guru MO (di Hindia Belanda sudah bisa enjadi direktur Kweekschool)..

Sam Ratulangi kemudian dikabarkan menikah dengan gadis Belanda bernama Suzanne Emilie Houtman (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 11-12-1915), Disebutkan ini adalah hari-hari awal pernikahan Gerungan SS Ratulangie, guru MO dengan Nona Suzanne Emilie Houtman dokter teori di Amsterdam. Gerungan, dulu sewaktu berada di Hindia Belanda bekerja untuk SS dan kemudian berangkat ke  Belanda untuk studi lebih lanjut. Geruangan adalah ketua Indische Vereeniging dan seorang propagandis idealis yang bersemangat untuk negara asalnya Minahassa’.

Beberapa bulan sebelumnya diberitakan RM S Soerjaningrat lulus ujian saringan masuk untuk berpartisipasi untuk mendapatkan akte guru hulp acte (LO) (lihat Haagsche courant, 18-06-1915). Ujian saringan itu dilakukan Sabtu malam. Beleum lama ini Dahlan Abdoellah dan Samsi dinyatakan lulus ujian akte guru (LO) di ‘sGravenhage (Bataviaasch nieuwsblad, 27-12-1915). Disebutkan Dahlan Abdoellah lulus untuk bahasa Melayu dan etnografi dan Samsi lulus untuk bahasa Jawa.

Terhadap perkawinan beda ras Sam Ratulangi surat kabar Sumatra post menyindir dengan kalimat ‘Tampaknya, setelah semua, beberapa domba yang sudah dipanggil melewati jembatan, seluruh kawanan akan mengikuti’ (lihat De Sumatra post, 21-12-1915). Seperti kita lahat nanti Soewardi Soerjaningrat juga menikah dengan gadis Belanda.

Bulan Juni 1916, Sorip Tagor lulus ujian kandidat dokter hewan di Rijksveeartsenijschool, Utrecht (lihat Algemeen Handelsblad, 19-06-1916). Ini suatu prestasi sendiri bagi mahasiswa pribumi untuk kali pertama mendapat pendidikan kedokteran hewan setara Eropa-Belanda.

Sam Ratulangi dan Soewardi Soerjaningrat menghadiri Kongres Pendidikan pertama yang diadakan di Belanda. Kongres pendidikan bertemakan Pendidikan untuk Pribumi di Hindia (lihat Het vaderland, 29-08-1916). Kongres ini tidak tanggung-tanggung sebagai keynote speakter Menteri Koloni Collijn dan para pembicara beberapa pakar pendidikan dan guru besar. Juga dihadiri utusan Katolik dan Kristen. Kongres ini tampaknya bersesuaian dengan forum dimana pada tahun 1911, Soetan Casajangan berpidato dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi). Berikut beberapa poin penting dari sejumlah pembicara dalam kongres tersebut.

Sam Ratulangie ingin melihat pengawasan pemerintah dikecualikan dari Sekolah Misi di daerah pagan dan daerah tanpa perlindungan. Lebih lanjut dikatakannya lebih memilih misi untuk mencurahkan energinya terutama ke daerah pagan dan animisme. Pengawasan terbatas pada guru dan pendidikan, bukan pada pikiran. Ratulangi menambahkan bahwa pendidikan misionaris tidak pada tempatnya di negeri-negeri yang beradab; itu di daerah-daerah yang tidak beradab, dimana ia harus menggunakan semua kekuatannya. sehingga tingkatnya tetap baik dan penduduk (Islam) tidak terluka dalam perasaannya. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat mempertimbangkan masalah utama apakah penduduk keberatan dengan pendirian sekolah misionaris. Berbicara sebagai anggota komunitas Islam pembicara menentang setiap ekspresi pengiriman. Kebanyakan orang tua enggan mengirim anak-anak mereka ke sekolah misionaris. Oleh karena itu, tugas Pemerintah adalah mendirikan sekolah negeri sebanyak mungkin. Sebagai seorang Mohammedan datang ke sekolah dengan penyesalan. Pendidikan publik tidak boleh dirugikan oleh dukungan yang berlebihan untuk pendidikan khusus. Pemerintah juga gagal ketika memungkinkan bahwa tujuan akhir dapat dicapai lebih cepat di sekolah kusus daripada di sekolah umum. Pembicara menunjukkan bahwa orang Jawa terpelajar dikatakan telah menyerap kualitas baik dari agama Kristen. Namun, orang-orang Jawa memahami agamanya sendiri lebih baik dari yang lain dan semua kebaikan itu juga ditemukan dalam agama itu. JJ Puister mengutip pernyataan Lord Roberts untuk berhati-hati dengan konsep agama mereka ketika berhadapan dengan ras lain. Ini dilakukan di sekolah-sekolah pemerintah, tetapi tidak di sekolah-sekolah misionaris, dimana pendidikan adalah sarana.  Sekolah misionaris dimasuki golongan penduduk Mohammedan karena kurangnya sekolah pemerintah. Orang-orang tidak menginginkan sekolah misionaris, mereka tidak ingin menjadi Kristiani. Pemerintah mendirikan sekolah sebanyak mungkin di wilayah Muhammadan. Dr. Laoh memberi contoh di Minahasa bahwa sebelum didirikan sekolah negeri sudah ada sekolah misi. Timbul perjuangan sekolah. Sebuah komisi telah dibentuk untuk mengubah sekolah negeri menjadi sekolah dakwah. Orang-orang keberatan, karena tingkat pendidikan akan diturunkan. Soerja Poetro menerima saran Soewardi bahwa pendidikan, karena takut pendidikan asli bertentangan dengan pendapat Mr Cramer bahwa mereka ingin meningkatkan pendidikan. Kongres berakhir, Abendanon mengucapkan kata penutup.

Sam Ratulangi dan Soewardi Soerjaningrat memiliki pandangan yang sama. Jika membaca makalah Soetan Casajangan berjudul 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' pada tahun 1911 terlihat bersesuaian. Ketiga tokoh pribumi ini kebetulan sama-sama di bidang pendidikan: Soetan Casajangan lulus guru MO tahun 1911, Sam Ratulangi lulus guru MO tahun sebelumnya dan Soewardi Soejaningrat tengah menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar guru LO. Tentu saja dalam kongres itu turut dihadirti rekan-rekan mereka sesama guru seperti Dahlan Abdoellah, Samsi dan Tan Malaka. Jika ingin diringkas para guru-guru pribumi di Belanda ini dapat dikatakan sebagai tokoh gerakan pendidikan bersifat nasionalis (the power of guru). Sioetan Casajangan menginginkan pendidikan untuk semua; Soewardi menginginkan pendidikan tanpa melukai perasaan penganut agama Islam; Sam Ratulangi menginginkan misionaris jangan di tempat beradab (yang sudah beragama).

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-11-1916: ‘di Amsterdam telah dipromosikan menjadi dokter medis, Mrs. Ratulangie, kelahiran Batavia’.

Pada saat ini terdapat trio Indische Vereeniging yakni Noto Soeroto (mantan ketua), Sam Ratulangi (ketua) dan Soewardi Soerjaningrat (eks tiga serangkai). Pada awal berdirinya Indische Vereeniging trio adalah Soetan Casajangan, Hoesein Djajadiningrat dan Raden Kartono (abang dari RA Kartini). Di bawah bayang-bayang trio sekarang sudah muncul trio baru yang akan menggantikan Sam Ratulangi dkk yakni Sarip Tagor, Dahlan Abdoellah dan Soetan Goenoeng Moelia. Kebetulan ketiganya berasal dari Soematra (yang tidak lain orang-orang yang cukup dekat dengan Soetan Casajangan).

Pada bulan Januari 1917 terbentuk Sumatra Sepakat yang coba merintis jalan untuk melakukan kampanye percepatan pembangunan di Sumatra. Hal ini karena selama ini, sejak Boedi Oetomo yang revolusioner tahun 1908 menjadi cooperative dengan pemerintah, seakan kue pembangunan ada di (pulau) Jawa yang menyebabkan terjadinya ketimpangan yang dalam antara Jawa dan luar Jawa. Persoalan ketimpangan ini juga pernah diapungkan Sam Ratulangi (lihat De locomotief, 04-01-1917). Organisasi Sumatra Sepakat yang juga disebut Anak Sumatra kepemimpinannya terdiri dari Sorip Tagor sebagai ketua, Dahlan Abdoellah sebagai sekretaris dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. Program Jong Sumatra ini untuk memberikan penerangan ke pemerintah kota-kota di Sumatra dengan menerbitkan majalah bulanan yang berisi kita pembangunan, pertanian, pendidikan dan masalah sosial lainnya. Organisasi ini juga mengumpulkan berbagai resources di Belanda seperti buku-buku untuk disumbangkan ke sekolah-sekolah di Sumatra. Pada bulan Desember 1917 disambut mahasiswa-mahasiswa asal  Sumatra di Jawa dengan mendirikan organisasi Jong-Sumatranen Bond (Jong Java sendiri sudah berdiri sejak 1915 termasuk anggotanya Soekarno). Ratulangi dkk juga telah mempromosikan (terbatas hanya) Minahasa. Noto Soeroto sendiri aktif mendukung Boedi Oetomo di Belanda.

Dalam kehidupan sehari-hari di Belanda, Sam Ratulangi tidak lagi sendiri, sudah menikah dengan gadis Belanda kelahiran Batavia. Sam Ratulangi juga dengan beslit MO mengajar di sekolah menengah di Belanda. Hal seperti ini pernah dilakukan Soetan Casajangan mengajar di sekolah menengah perdagangan di Amsterdam. Istri Sam Ratulangi juga sudah lulus kuliah dan mendapat gelar dokter. Kini, Nyonya Ratulangi Houtman bekerja di Den Dolder (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 23-08-1917). Disebutkan diangkat untuk periode dari 1 September hingga 31 Desember 1917 sebagai asisten psikiatri di Rijks-Universiteit Mevr. SE Ratulangie, b. Houtman, dokter di Den Dolder.

Sementara Sam Ratulangi sebagai ketua sudah ada yang menggantikannya di Indische Vereeniging yakni Loekman Djajadiningrat asal Banten (adik dari Hoesein Djajadiningrat). Dengan demikian Sam Ratulangi kini lebih bebas, lebih sejahtera dan lebih bahagia. Dalam situasi dan kondisi inilah Sam Ratulangi melanjutkan studi ke Zurich.

Sam Ratulangi di Zuricj ikut berpartisipasi pada tanggal 30 Juni dalam pembentukan Persatuan Pelajar Asia di Eropa yang diselenggarakan di Zurich. Sam Ratulangi terpilih sebagai Presiden (lihat De locomotief, 04-07-1918). Seperti Sam Ratulangi tidak sendiri lagi, maka dengan adanya persatuan pelajar Asia ini di Eropa, Indische Vereeniging tidak sendiri lagi. Sementara itu di Belanda muncul gagasan untuk penyelenggaraan Kongres Mahasiswa Hindia Belanda.

Peserta kongres meliputi organisasi mahasiswa Belanda (Indo), organisasi mahasiswa Cina dan organisasi mahasiswa pribumi (yang tergabung dalam Indische Vereeniging). Ketua Kongres Mahasiswa Hindia Belanda adalah HJ van Mook kelahiran Semarang (kelak menjadi Letnan Jenderal Belanda-NICA). Para pebicara dalam kongres ini dari Indische Vereeniging adalah Sorip Tagor, Dahlan Abdoellah.

Mahasiswa pribumi yang tergabung dalam Indische Vereeniging bersuara keras di dalam kongres ini. Sorip Tagor dan Dahlan Abdullah dari Sumatra Sepakat/Indische Vereeniging menamakan diri sebagai Indonesier (orang Indonesia). Ini untuk kali pertama muncul nama Indonesia di forum umum.

Tampaknya dengan usulan nama Hindia Belanda dengan nama Indonesia yang disampaikan Dahlan Abdoellah dan Sorip Tagor dari Sumatra Sepakat telah membuat populer keduanya diantara anggota Indische Vereeniging. Seperti halnya dulu Sam Ratulangi dengan brosur Sarikat Islam menjadi passwoord untuk menjadi pimpinan Indische Vereeniging. Kini giliran Dahlan Abdoellah mendapatkan itu yang menjadikannya terpilih sebagai ketua Indische Vereeniging yang baru. Sementara itu Sorip Tagor mulai mengurangi aktvitas politik dan fokus untuk menyelesaikan studi yang memasuki tahap thesis. 

Dalam kapasitasnya sebagai Presiden Persatuan Pelajar Asia di Zurich (Swiss-Jerman), Sam Ratulangi melanjutkan studi di Zurich ke tingkat doktoral. Sam Ratulangi menyelesaikan studinya di Zurich pada akhir tahun 1918 dengan meraih gelar doktor (Ph.D). Namun gelar ini kurang diakui di Belanda karena boleh jadi kualitas pendidikan di Belanda dianggap orang Belanda lebih tinggi jika dibandingkan di Belgia dan Zurich Swiss-Jerman. Hal ini berbeda dengan gelar doktor (Ph.D) yang diraih oleh Hoesein Djajadiningrat di Leiden pada tahun 1913. Dalam hal ini posisi kepangkatan dalam struktur kepegawaian di Belanda maupun di Hindia Belanda berbeda doktor yang diraih Hoesien Djajadningrat dengan doktor yang diraih oleh Sam Ratulangi. Persoalan ini juga pernah terjadi ketika Dr Abdoel Rivai meraih gelar doktor (Ph.D) bidang kedokteran di Belgia. Tampaknya diskriminatif pendidikan tidak hanya antara Belanda dengan prubumi tetapi juga antara Belanda dengan negara lain.

Sam Ratulangi hanya diangkat Pemerintah Hindia belanda sebagai guru sekolah menengah. Ini dapat dilihat pada beslit Menteri Koloni yang menyatakan Dr GSAJ Ratulangi di Amsterdam diserahkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk diangkat menjadi guru matematika dan fisika di pendidikan menengah (tot leeraar inde wis- en natuurkunde bij het middelbaar onderwijs). Dalam hal ini, jika hanya posisi ini yang didapat Sam Ratulangi, sesungguhnya sudah cukup dengan gelar guru MO yang diraihnya di Amsterdam pada tahun 1916.

Hal ini berbeda dengan yang dipahami terhadap Dr. Sarwono yang meraih gelar doktor (Ph.D) pada bidang kedokteran di Amsterdam tahun 1919. Dr Sarwono, Ph.D dicatat sebagai doktor kedua di Belanda (setelah Hoesein Djajadingrat).

Doktor-doktor berikutnya adalah Gondokoesoemo (hukum 1922); RM Koesoema Atmadja (hukum 1922); Sardjito (medis, 1923); Mohamad Sjaaf (medis, 1923); R Soegondo (hukum 1923); JA Latumeten (medis, 1924); Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi (hukum, 1925); R. Soesilo (medis, 1925); HJD Apituley (medis, 1925); Soebroto (hukum, 1925); dan Samsi Sastrawidagda (ekonomi, 1925); Poerbataraka (sastra, 1926); Achmad Mochtar (medis, 1927); Soepomo (hukum, 1927); AB Andu (medis, 1928); T Mansoer (medis, 1928); RM Saleh Mangoendihardjo (medis, 1928); MH Soeleiman (medis, 1929); M. Antariksa (medis, 1930); Sjoeib Proehoeman (medis, 1930); Aminoedin Pohan (medis, 1931); Seno Sastroamidjojo (medis, 1930); Ida Loemongga (medis, 1931); dan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (sastra dan filsafat, 1933). Catatan: cetak tebal adalah doktor-doktor asal Afdeeling Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli.

Sementara itu Sorip Tagor pada bulan Desember 1920 lulus ujian akhir (2de helft) di Rijksveeartsenijschool, Utrecht. Sorip Tagor diwisuda dan mendapat gelar dokter hewan (lihat Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 30-01-1921). Dr Sorip Tagor adalah dokter hewan (sarjana) pertama pribumi.

Secara kronologis studi Sorip Tagor sebagai berikut: Sorip Tagor terdaftar sebagai mahasiswa Rijksveeartsenijschool pada akhir tahun 1913 lalu mengikuti program matrikulasi (penyetaraan). Pada tahun 1915 kuliah tingkat satu (lulus ujian); tahun 1916 kuliah tingkat dua (lulus ujian kandidat dokter hewan); tahun 1917 kuliah tingkat tiga (lulus ujian); tahun 1918 kuliah tingkat empat (lulus ujian propa. dan melakukan riset); pada bulan Juni 1920 lulus ujian pertama atau ist helft. Terakhir pada bulan Desember 1920 lulus ujian 2de helft (eindexamen). Dr. Sorip Tagor meski aktif berorganisasi dan mempelopori gerakan politik mahasiswa di lingkungan organisasi mahasiwa Perhimpoenan Hindia, namun kelancaran studinya tetap berjalan normal. Seperti pernah dikatakannya bahwa 'studi dan politik sama pentingnya'. Setelah mendapat gelar dokter hewan, Sorip Tagor pulang ke tanah air. Di Batavia, Gubernur Jenderal mengangkat Sorip Tagor untuk menjadi dokter hewan di lingkungan istana. Penunjukan dan pengangkatan ini secara resmi berdasarkan surat keputusan Menteri Koloni No 89 tanggal 26 Mei 1921 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-09-1921).

Pada saat Sorip Tagor meraih gelar dokter hewan pertama tahun 1920, JA Kaligis baru tiba di Belanda. Dengan kapal Grotius berangkat tanggal 31 Januari dari Batavia menuju Amsterdam (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-01-1920). Surat kabar Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 14-10-1920 memberitakan bahwa JA Kaligis salah satu dari mahasiswa yang lulus ujian bagian pertama di Utrecht (kampus yang sama dengan Sorip Tagor).

Kursus dan program khusus (program magang) kedokteran hewan sudah ada sejak lama. Salah satu alumni kursus/program kedokteran hewan tersebut adalah Radja Proehoeman yang terdeteksi namanya sebagai dokter hewan tahun 1886. Setelah berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, pada tahun 1907 dokter hewan Radja Proehoeman ditempatkan di Padang Sidempoean (Bataviaasch nieuwsblad, 07-03-1907). Radja Proehoeman kelahiran Pakantan (Afdeeling Mandailing dan Angkola/Afdeeling Padang Sidempoean) adalah ayah dari Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D, Radja Proehoeman adalah orang yang membawa Sorip Tagor ke Buitenzorg pada tahun 1907 untuk mengikuti pendidikan Veesrtsen School yang baru dibuka.

 

Kursus kedokteran hewan di Buitenzorg pada tahun 1907 kemudian diubah statusnya menjadi sekolah Veesrtsen School yang diresmikan pada tahun 1910. Hal ini juga terjadi pada sekolah Landbouwschool ditingkatkan dan namanya diubah menjadi Middelbare Landbouwschool yang diresmikan tahun 1914. JA Kaligis yang terdaftar sebagai peserta kursus tahun 1907 terbilang sebagai lulusan pertama Veeartsen School tahun 1910. JA Kaligis awalnya siswa Landbouwschool yang naik ke tingkat dua pada tahun 1907. Sehubungan dengan pendirian Veeartsen School pada tahun 1907, dua siswa tingkat dua Landbouwschool ditransfer ke Veeartsen School salah satu diantaranya JA Kaligis yang ditempatkan sebagai siswa tingkat dua Veeartsen School (sementara Sorip Tagor dkk ditempatkan di tingkat satu Veeartsen School).

 

Dokter hewan pertama Indonesia bukan Radja Proehoeman maupun JA Kaligis. Radja Proehoeman hanyalah diploma sekolah kedokteran hewan (setara SMP); JA Kaligis hanyalah diploma sekolah kedokteran hewan (setara SMA). Dokter hewan pertama pribumi yang benar-benar sarjana adalah Dr. Sorip Tagor (setara Universitas) dari Rijksveeartsenij Hoogeschool te Utrecht. Sementara insinyur pertanian pertama pribumi yang benar-benar sarjana adalah Ir. Zainoedin Rasad (setara Universitas). Zainoedin Rasad diterima di Landbouwhoogeschool te Wageningen 1912. Setelah tujuh tahun, seperti halnya Dr. Sorip Tagor, akhirnya Zainoedin Rasad berhasil menjadi insinyur pertanian di Wageningen (lihat Algemeen Handelsblad, 29-09-1919). Idem dito dengan ini sarjana pendidikan pertama adalah Soetan Casajangan (gelar guru MO), bukan Sati Nasution alias Willem Iskander (1876) dan juga bukan JH Wattimena (1880) dan juga bukan Joziah Ratulangi (1881). Sarjana pendidikan kedua adalah Sam Ratulangi yang kemudian disusul Samsi Widagda. Untuk doktor pendidikan (Ph.D) pertama adalah Soetan Goenoeng Moelia. Veeartsen School baru ditingkatkan setara universitas (sarjana) pada tahun 1937.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar