Laman

Sabtu, 09 Januari 2021

Sejarah Banten (7): Sejarah Benteng Era VOC di Banten; Benteng Surosowan, Bastion Speelweijk dan Fort Karangantoe

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Benteng kuno tidak hanya di Batavia (Kasteel Batavia) dan sekitar. Benteng kuno juga terdapat di Banten. Benteng yang terkenal di Banten adalah Bastion Speelweijk, Benteng Bastion Speelweijk dibangun oleh Hendrick Cardeel sekitar Perang ‘Saudara’ Banten (1681-1684). Tentu saja tidak hanya benteng Speelweijk, juga ada benteng Surosowan dan benteng Karangantu. Benteng Speelweijk dibangun di pantai, tetapi kini situs benteng ini seakan berada jauh di daratan, Mengapa?

Setelah benteng Speelweijk dibangun, benteng baru dibangun di Tangerang, di Serpong, Tjiampea dan Leuwiliang di daerah aliran sungai Tjisadane. Benteng sendiri pada era VOC (Belanda) adalah untuk pusat pertahanan, pertahanan dari ancaman musuh. Benteng pertahanan juga dijadikan sebagai penanda pusat perdagangan baik yang sudah eksis maupun yang akan dikembangkan. Seperti disebut di atas, benteng utama Belanda (VOC) dibangun pada tahun 1619. Setelah ini benteng-benteng baru dibangun seperti di Risjwijk, Noordwijk, Angke, Jacatra dan Antjol. Benteng-benteng inilah yang menjadi menyatu satu sama lain sehubungan dengan pembangunan benteng di daerah sungai Tjiliwong seperti benteng Meester Cornelis, benteng Tandjoeng dan benteng Padjadjaran.

Lantas bagaimana sejarah benteng-benteng di wilayah (yurisdiksi) Banten? Seperti disebut di atas, salah satu yang terkenal adalah Benteng Speelweijk yang mana benteng ini pernah digunakan oleh Inggris. Lalu apa pentingnya sejarah benteng-benteng di Banten? Sejarah benteng-benteng adalah bagian dari sejarah Banten sendiri. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Benteng-Benteng di Banten

Tunggu deskripsi lengkapnya

Benteng Bastion Speelweijk

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar