Laman

Selasa, 19 Januari 2021

Sejarah Museum (3): Renaisans Indonesia Sejak 1846; Taal, Letter, Oudheid, Penning, Natuur, Volkenkunde, Landbouw, Nijverheid

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Museum dalam blog ini Klik Disini 

Adakah sejarah renaisans Indonesia? Masalahnya bukan soal ada atau tidak ada seperti di Eropa, namun soal siapa yang bersedia menulisnya. Renaisans tentu saja adalah kata yang bersifat generik dan dapat digunakan di suatu kawasan. Lantas apakah renaisans Indonesia hanya latah? Bukan soal latah atau tidak, tetapi apakah ada gambaran yang mirip di masa lampau seperti halnya renaisans di Eropa? Tentu saja ada tampa harus kita cari, karena faktanya ada. Jadi, persoalannya adalah siapa yang bersedia menulisnya.

Renaisans (bahasa Prancis: Renaissance) atau Abad Pembaharuan adalah kurun waktu dalam sejarah Eropa dari abad ke-14 sampai abad ke-17, yang merupakan zaman peralihan dari Abad Pertengahan ke Zaman Modern. Pandangan-pandangan tradisional lebih menyoroti aspek-aspek Awal Zaman Modern dari Renaisans sehingga menganggapnya terputus dari zaman sebelumnya, tetapi banyak sejarawan masa kini lebih menyoroti aspek-aspek Abad Pertengahan dari Renaisans sehingga menganggapnya sinambung dengan Abad Pertengahan. Renaisans adalah sebuah gerakan budaya yang berkembang pada periode kira-kira dari abad ke-14 sampai abad ke-17, dimulai di Italia pada Akhir Abad Pertengahan dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Gerakan Renaissance tidak terjadi secara bersamaan di seluruh Eropa, gerakan ini juga tidak terjadi secara serentak melainkan perlahan-lahan mulai dari abad ke 15. Persebaran itu ditandai dengan pemakaian kertas dan penemuan barang metal. Kedua hal tersebut mempercepat penyebaran ide gerakan Renaissance dari abad ke-15 dan seterusnya. Sesudah mengalami masa kebudayaan tradisional yang sepenuhnya diwarnai oleh ajaran Kristiani, orang-orang kini mencari orientasi dan inspirasi baru sebagai alternatif dari kebudayaan Yunani-Romawi sebagai satu-satunya kebudayaan lain yang mereka kenal dengan baik. Kebudayaan klasik ini dipuja dan dijadikan model serta dasar bagi seluruh peradaban manusia (Wikipedia).

Okelah kalau begitu? Lalu bagaimana sejarah renainsans Indonesia? Tentu saja awal renainsans Indonesia dimulai pada era Hindia Belanda. Itu bermula ketika para pegiat ilmu pengatahuan dan seni di Batavia (baca: Jakarta) mulai menyadari bahwa Hindia Belanda berbeda dengan Belanda. Ibu Pertiwi (Vaderland) tidak lagi dapat dijadikan sebagai referensi dalam mengambil langkah tindakan. Memang tidak, tentu saja, tidak disebut dengan nama konsep renainsans, tetapai nyatanya Gubernir Jenderal setuju dan memulai meotivasi. Bagaimana semua itu bermula? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Renaisans Indonesia: Era Hindoe, Islam dan Eropa

Bagaimana penduduk Indonesia di pulau-pulau seperti Sumatra, Jawa dan Kalimantan di zaman kuno (permulaan kebudayaan padi dan beras) hanya samar-samar bisa dijelaskan. Semakin jelas dan mudah dipahami ketika pedagang-pedagang India berdatangan untuk berniaga dengan terbentuknya koloni-koloni di berbagai tempat (era Hindoe) yang kemudian disusul pedagang-pedagang dari Arab dan Persia (plus orang-orang Moor beragama Islam dari Afrika Utara) yang juga membentuk koloni-koloni di pantai (era Islam) dan terakhir pedagang-pedagang Eropa (Portugis, Belanda dan lainnya) yang juga membentuk koloni-koloni (tidak hanya di pantai juga di pedalaman). Semakin mendekat ke masa sekarang semakin mudah dijelaskan.

Pedagang-pedagang Eropa (khususnya) Belanda keterlibatan pemimpin (Raja) negara (kerajaan) sangat intens jika dibandingkan dengan para pendahulu mereka (di era Hindoe dan era Islam). Hal inilah yang mengindikasikan kedekatan dan hubungan yang intens (keterikatan) antara asal (di Eropa) dengan tujuan (Hindia Timur). Pembentukan organisasi yang lebih besar dimungkinkan dengan menamabah elemen militer untuk menyatukan pulau-pulau yang terpisah di dalam satu wilayah yurisdiksi. Pembentukan kesatuan yang solid ini semakin nyata setelah berakhirnya VOC (1799) dan dibentuknya Pemeritah Hindia Belanda.

Penjelasan tentang Indonesia (baca: Hindia Timur) semakin mudah dipahami sejak era VOC (Belanda) karena ketersediaan data yang lengkap dan akurat. Orang-orang Belanda tidak hanya rajin mencatat apa yang ada dan apa yang terjadi, juga catatan-catatan tersebut dalam bentuk peta dan dokumen tersimpan dengan baik (sehingga bisa baca hingga ini hari). Dalam hal inilah kita pada masa ini memahami bagaimana awalnya orang-orang Belanda di Hindia Timur merasa menjadi bagian dari Belanda (Eropa) tetapi dalam perjalanan waktu di era Pemerintah Hindia Belanda mereka mulai menyadari bahwa Indonesia (baca: Hindia Belanda) terpisah jauh dari Eropa dan dalam semua hal berbeda dengan di Belanda. Pendekatan cara berpikir Eropa (Belanda) tidak lagi sepenuhnya tepat diterapkan, tetapi untuk membangun kemajuan di Hindia Belanda (baca:Indonesia) harus mulai mengedepankan dengan cara berpikir penduduk asli (Indonesia). Sebagai contoh ptaktis secara tak sadar orang-orang Belanda sudah terbiasa makan nasi dan semakin hari semakin intens berinteraksi dengan penduduk asli. Pergeseran cara berpikir inilah yang dalam hal ini dapat disebut renaisans di Hindia Belanda (baca: Indonesia).

Sebelum renaisans Indonesia, sejak pelayaran pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman (1595-1597), orang-orang Belanda datang dengan motif perdagangan yang kemudian dibentuk organisasi yang mapan sejak 1619 (VOC) yang berpusat di Batavia. Pada tahun 1665 Pemerintah VOC mengubah kebicakannya dari perdagangan yang longgar di pantai-pantai dengan kebijakan yang baru dimana penduduk asli (Indonesia) dijadikan sebagai subjek. Untuk itu dilakukan berbagai ekspedisi ke pedalaman dan membentuk koloni-koloni baru di pedalaman. Diantara Gubernur Jenderal VOC (1690-1704) ada satu orang yang lahir di Hindia yaitu Willem van Outhoorn. Lahir di Larike, Leihitu, Amboina, Mei 1635. Willem van Outhoorn semasa menjadi Gubernur di Amboina mendukung upaya yang dilakukan oleh Georg Eberhard Rumphius dalam penyelidikan botani di seluruh Hindia yang kemudian dibanti oleh Saint Martin di Batavia. Upaya penyusunan buku botani tujuh jilid ini tidak selesai karena Rumphius meninggal tetapi digantikan oleh Sain Martin ketiga Willem van Outhoorn menjadi Gubernur Jenderal. Usaha ini dilanjutkan oleh Cornelis Chastelein di Depok setelah meninggalnya Saint Martin. Benih-benih ilmu pengetahuan ini di Hindia Timur berjalan sangat lambat hingga muncul kesadaran dan inisiatif Radermacher pada tahun 1782 membentuk lembaga ilmu pengetahuan dan seni di Batavia (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Sejak 1665 kebijakan Pemerintah VOC tidak berubah. Pemerintah VOC bubar pada tahun 1799, Dalam perkembangannya wilayah yang menjadi yurisdiksi (pemerintah) VOC kemudian diambil alih kerajaan dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda yang ditindaklanjuti dengan pengadministrasian wilayah di seluruh Hindia Timur. Lembaga ilmu pengetahuan dan seni Batavia yang didirikan tahun 1782 tetap eksis.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perkembangan Lebih Lanjut: Hindia Belanda Menjadi Indonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar