Laman

Jumat, 21 Mei 2021

Sejarah Riau (26): Candi di Muara Takus, Biaro Zaman Batak Kuno di Provinsi Riau; Candi Melayu di Provinsi Sumatra Barat

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Riau di blog ini Klik Disini  

Gambaran geografis zaman kuno berbeda dengan batas-batas wilayah pada masa kini. Seperti halnya kerajaan Melayu Riau berawal di Johor (kini Malaysia), juga kerajaan di wilayah hulu sungai Batanghari (kerajaan Mauli) berawal di Palembang (Sriwijaya). Lalu kerajaan Melayu di hulu sungai Batanghari (Darmasraya) bergeser ke hulu sungai Indragiri (di Tanah Datar, Sumatra Barat). Dalam hal ini candi Muara Takus dibangun di hulu sungai Kampar, kerajaan Johor belum eksis.

Kerajaan Siak Indrapura, kerajaan Melayu didirikan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung pada tahun 1723, setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor. Di wilayah Kerajaan Siak inilah terdapat candi Muara Takus yang dibangun sejaman dengan candi di hulu sungai Batanghari (kerajaan Mauli). Radja Singghasari dari Jawa (Kertanegara) menjalin kerjasama dengan Radja di Kerajaan Mauli yang menurut Schnitger (1935) keduanya sama-sama pendukung fanatik agama Boedha Batak (sekte Bhairawa) yang berpusat di Padang Lawas. Radja Adityawarman yang relokasi ke hulu sungai Indragiri juga pendukung fanatik sekte Bhairawa. Hal itulah mengapa karakteristik candi di Dharmasraya dan Muara Takus mirip dengan candi-candi di Padang Lawas.

Lantas bagaimana sejarah asal usul candi Muara Takus yang kini masuk wilayah provinsi Riau? Schnitger (1935) menyimpulkan bahwa candi-candi di Padang Lawas terhubung dengan candi di Muara Takus melalui candi yang terdapat di hulu sungai Rokan (candi Manggis). Lalu mengapa candi Muara Takus tidak terhubung dengan candi Dharmasraya di hulu sungai Batanghari? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Sekte Bhairawa: Agama Boedha Batak

Adityawarman disebut penerus dinasti Mauli dari Kerajaan Mauli dengan peninggalan situsnya kini terdapat di Dharmasraya. Adityarman dikukuhkan sebagai radja pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa. Dari nama gelar itu, selain namanya sendiri (Adityawarman) juga ada nama Rejendra (Chola) dan Mauli(mali). Tahun pengangkatan menjadi raja Adityawarman pada era Majapahit (pasca Singhasari). Untuk sekadar catatan dua tahun sebelumnnya (1345) Ibnu Batutah mengunjungi Sumatra.

Radja terakhr Singhasari adalah Kertanegara. Pada masa Kertanegara, Singhasari cukup berjaya. Hal itulah mengapa terjadi hubungan persahabatan dengan Kerajaan Aru (Panai) di daerah aliran sungai Barumun. Wujud  dari persahabatan itu terjadi pertukaran dalam bidang seni arsitektur dan seni aksara. Ini terlihat dari motif relief pada candi-candi Padang Lawas dan elemen pada aksara Batak. Radja Kertanegara meninggal pada tahun 1292 (tahun dimana Marcopolo mengunjungi Sumatra). Schnitger yang melakukan eskavasi di candi-candi Padang Lawas (1935) menyimpulkan Radja Kertanegara salah satu pendukung fanatik agama Bodha Batak yang disebut sekte Bhairawa. Catatan: Schnitger adalah seorang arkeolog internasional yang diangkat sebagai kepala dinas kepurbakalaan Hindia Belanda di Palembang. Sebelum ke Padang Lawas, Schnitger telah melakukan eskavasi di daerah aliran sungai Musi (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 13-04-1935), Sebelumnya Dr Schnitger telah banyak menemukan patung di Jawa antara lain patung Anoesjapati, pangeran Madjapahit yang terkenal, yang dibunuh oleh saudara iparnya pada tahun 1248 dan monumen pemakamannya di Kidal (selatan Malang) yang disebut titik tertinggi seni Jawa (Timur). Setelah itu Schnitger menemukan patung Raja Airlanga (meninggal 1048) dan Kertawardhana (meninggal 1389). Dr Schnitger juga telah melakukan eskavasi di candi Simangambat di hilir sungai Angkola di Siabu dan candi Muara Takus di hulu sungai Kampar Kanan. Dengan pengetahuan yang luas itulah Dr Schnitger, selama proses eskavasi di berbagai candi-candi di Padang Lawas, menyimpulkan Raja Kertanegara sebagai pendukung fanatik agama Boedha sekte Bhairawa.

Berita tentang kesimpulan Dr Schnitger tentang Radja Kertanegara sebagai pendukung fanatik Boedha sekte Bhairawa menjadi heboh (viral) di surat kabar di Jawa dan di Belanda. Mengapa? Para editor, para pengamat sejarah kepurbakalaan dan para pembaca menulis mulai mengaitkan dengan meninggalnya Radja Kertanegara di Singhasari (yang setelahnya) dengan munculnya Kerajaan Majapahit (yang beragama Hindoe). Tidak hanya itu, berita heboh muncul lagi karena Dr Schnitger juga menyimpulkan bahwa Radja Adityawarman juga pendukung fanatik agama Boedha (Batak) sekte Bhairawa.

Dr Schnitger kemudian di Palembang mengumumkan hasil temuannya pada eskavasi di Palembang bahwa ditemukan patung yang lebih muda (dari prasasati Sigoentang abad ke-8) yang harus terkait dengan prasasti di Telaga Batu (lihat De Indische courant, 27-06-1935). Patung tersebut adalah patung batu pertama yang ditemukan di Palembang yang terkait erat dengan seni orang Jawa (Tengah) tetapi tidak ada hubungannya dengan kuil-kuil Mangkoeboemi (abad ke-14 dan abad ke-15).

Dr Schnitger kemudian mengunjungi Jambi sesuai laporan adanya candi di hilir (delta) sungai Batanghari (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-09-1935). Para pengamat di Jawa kota ini pernah disebut Marcopolo. Candi yang berada di Jambi eksis sejaman dan ditaklukkan Sriwijaya pada tahun 664. Para pengamat mengatakan bahwa Jambi juga pernah tempat kedudukan raja-raja Shailendra (Sriwijaya) yang kala itu berhubungan dengan para raja Jawa untuk menaklukkan Malaka pada abad ke-8 dan memenggal kepala raja Kamboja pada abad ke-9. Namun karena bagian hilir sungai Batanghari belum diselidiki oleh seorang arkeolog masih menunggu hasil penyelidikan Schnitger,

Dr Schnitger juga mendapat laporan penemuan di Pasemah (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-12-1935). Dr Schnitger sebagai kepala (museum) kepurbakalaan di Palembang telah mendapat izin dari pemerintah setempat (Lampung) untuk dibawa temuan itu ke Palembang untu diselidiki lebih lanjut. Temuan itu berupa patung gajah yang diukir dari batu andesit dan memiliki panjang 2,17 meter yang diduga berasal dari Indo-Cina atau Tiongkok Selatan.

Apa yang menarik dari temuan-temuan Schnitger di Sumatra adalah tentang dua era masa kerajaan-kerajaan di Sumatra (sebelum dan sesudah invasi Chola dari India selatan). Pada tahun 1025, Rajendra Chola, Raja Chola dari India Selatan melancarkan invasi di kerajaan Kedah (Semenanjung), Panai di daerah aliran sungai Barumun (Kerajaan Aru) dan Sriwijaya di daerah aliran sungai Musi.

Berdasarkan tulisan-tulisan pada masa ini, dinasti Śailendra berasal dari Sumatra yang bermigrasi ke Jawa (Tengah) setelah Sriwijaya melakukan ekspansi ke tanah Jawa pada abad ke-7 dengan menyerang kerajaan Tarumanagara dan Kalingga. Sebagaimana diketahui pada prasasti Kedukan Bukit dibuat pada tahun 684. Dalam prasasti ini nama Minana disebut. Nama Minana ini pada masa ini adalah Binanga, pelabuhan Kerajaan Aru di muara sungai Panai di sungai Barumun (Padang Lawas). Berdasarkan penemuan Dr Schnitger (1935) di seputar Binanga inilah ditemukan candi-candi Boedha sekte Bhairawa.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Candi Muara Takus: Antara Rokan dan Kampar (Wilayah Kerajaan Aru)

Ada beberapa versi tentang masa awal Aditywarman. Namun yang lebih jelas Adityawarman pada tahun 1347 mendirikan kerajaan sesuai pada Arca Amoghapasa di Dharmasraya yang sekarang. Disebutkan kerajaan ini bernama Kerajaan Malayapura. Seperti disebut di atas gelar Adityawarman adalah Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli. Ini seakan kerajaan baru yang menggantikan kerajaan sebelumnya Kerajaan Mauli (suatu kerajaan yang terbentuk pasca invasi Chola). Arca Amoghapasa sendiri adalah patung batu yang menggambarkan Amoghapasa, suatu patung yang sebelumnya merupakan hadiah dari Kertanegara, raja Singhasari, untuk Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa di Kerajaan Mauli. Pada lapis arca inilah prasasti 1347 dipahatkan (disebut Prasasti Padang Roco di Dharmasraya).

Ada jarak yang jauh saat Kertanegara, raja Singhasari mengirim patung Amoghapasa ke hulu sungai Batanghari (Kerajaan Mauli) dengan Adityawarman menjadi raja pada prasasti tahun 1347. Kertanegara meninggal tahun 1292. Mengacu pada kesimpulan Schnitger bahwa raja Kertanegara dan raja Adityawarman sama-sama pendukung fanatik agama Boedha sekte Bhairawa.

Lantas mengapa Radja Adityawarman, Kerajaan Mauli (yang sudah menjadi kerajaan Malayu), relokasi ke hulu sungai Indragiri (situs Kerajaan Pagaroejoeng yang sekarang). Apakah karena adanya serangan dari Majapahit (Hindoe) kepada kerajaan-kerajaan di pantai timur Sumatra yang beragama Boedha, yang mana pusat agama Boedha sekte Bhairawa di Panai (Kerajaan Aru) di daerah aliran sungai Barumun. Dalam catatan Negarakertagama ditemukan nama-nama (pelabuhan) di pantai timur Sumatra seperti Mandailing, Panai dan Haru (Ambuaru).

Pelabuhan Mandailing berada di daerah aliran sungai Rokan, pelabuhan Panai di daerah aliran sungai Barumun dan pelabuhan Haru di daerah aliran sungai Ambuaru (sungai Jambu Air di Peureulak yang sekarang). Tiga pelabuhan ini, bersama palabuhan Baroes adalah pelabuhan Kerajaan Aru (Panai) di pedalaman.

Dalam serangan Majapahit ke pantai timur Sumatra, Kerajaan Sriwijaya yang sudah lama menurun berhasil dikalahkan Majapahit di bawah Patih Gajah Mada (beragama Boedha). Lalu mengapa Kerajaan Aru dan Kerajaan Pagaroejoeng masih eksis, sementara disebutkan nama Mandailing, Panai dan Haru dalam Negarakertagama. Ini mengindikasikan bahwa pasukan Majapahit hanya menaklukkan kota-kota pelabuhan tetapi tetap eksis Kerajaan Aru dan kerajaan Pagaroejoeng.

Patih Majapahit Gajah Mada disebut meninggal tahun 1364 dan Radja Hayamwuruk meninggal tahun 1389. Setelah meninggalnya Radja Hayam Wuruk disebutkan Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran. Kerajaan Aru dan Kerajaan Pagaroejoeng masih tetap eksis. Dalam catatan Tiongkok (Ma Huan) menyebut Kerajaan Aru Batak Kingdom terjalin hubungan yang erat, paling tidak selama ekspedisi-ekspedisi Cheng Ho (1402-1433).

Dalam catatan Ma Huan disebutkan bahwa radja Kerajaan Aru beragama Islam. Itu berarti bahwa Kerajaan Aru telah meninggalkan agama lama (Boedha sekte Bhairawa). Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim, karena itulah diduga ekspedisi Cheng Ho juga singgah di Kerajaan Aru (di muara sungai Barummun). Lantas sejak kapan Radja Kerajaan Aru beragama Islam (meninggalkan Boedha sekte Bhairawa)?.

Kerajaan Aru pada awalnya adalah penganut Boedha. Ini dapat diperhatikan pada peninggalan candi Simangambat di Siabu yang dibangun pada abad ke-8. Pelabuhan Binanga yang telah berkembang pesat, pusat Kerajaan Aru relokasi ke Binanga. Pada saat inilah Kerajaan Aru berinteraksi dengan pedagang-pedagang Boedha dari Indo China. Candi-candi baru dibangun. 

Seperti disebut di atas, Kerajaan Chola invasi ke selat Malaka dan menaklukkan Kedah, Panai (Kerajaan Aru) dan Sriwijaya. Invasi ini diduga tidak hanya karena faktor perdagangan yang berkiblat ke Tiongkok tetapi juga karena faktor perbedaan agama (Chola bergama Hindoe dan kerajaan-kerajaan di selat Malaka bergama Boedha). Hal itulah diduga mengapa ada candi Hindoe (Chola) dibangun di hulu sungai Barumun (candi Sangkilon, satu-satunya candi Hindoe).

Schnitger (1935) yang melakukan eskavasi di candi Sangkilon menyimpulkan bahawa candi Hindoe (peninggalan Chola) telah diubah menjadi candi Boedha. Schnitger berkesimpulan Kerajaan Aru telah menghianati Hindoe, kembali ke agama lama Boedha (candi Simangambat) tetapi dengan sekte yang baru dalam agama Boedha (sekte Bhairawa).

Selama invasi Chola, kerajaan baru muncul di hulu sungai Batanghari (Kerajaan Mauli) dan kerajaan di hulu sungai Kampar (candi Muara Takus). Schnitger (1935) yang melakukan ekskavasi terhadap laporan adanya candi di hulu sungai Rokan (candi Manggis) berkesimpulan bahwa ada jalur (kumunikasi) transportasi di satu sisi ke arah (candi Sangkilon) dan di sisi lain ke arah candi Muara Takus di hului sungai Kampar. Namun tidak ada indikasi Schnitger menghubungkan kerajaan di hulu sungai Batanghari (Dharmasraya) dan juga tidak ada indikasi Schnitger menghubungkan kerajaan di hulu sungai Batanghari dengan Kerajaan Sriwijaya di daerah aliran sungai Musi (hubungannya hanya di masa lalu dengan situs yang ditemukan di hilir sungai Batanghari candi Muaro Jambi).

Lantas mengapa kerajaan di hulu sungai Batanghari (Dharmasraya) disebut Kerajaan Mauli? Sementara itu, tidak ada indikasi Schnitger menhubungkan Kerajaan Mauli dengan Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Akan tetapi, Schnitger hanya  berpendapat bahwa ada kesamaan karakter candi di berbagai tempat yakni candi di sungai Langsat (candi Padang Roco), candi di hulu sungai Kampar (candi Muara Takus), candi di hulu sungai Rokan (candi Manggis) dan candi di hulu sungai Baraumun (candi-candi Padang Lawas). Apakah jalur transportasi yang dimaksud Schnitger antara candi Sangkilon dengan candi Manggis di satu sisi dan candi Manggis dengan candi Muara Takus (hingga candi Padang Roco) di sisi lain, merupakan jawaban bahwa para pemimpin (Kerajaan Aru) pada invasi Chola telah melarikan diri ke selatan dengan membangun pusat-pusat perdagangan (candi) di tiga hulu sungai besar (Rokan, Kampar dan Batanghari). Kerajaan di hulu sungai Batanghari inilah kemudian yang disebut Kerajaan Mauli (sebelum menjadi Kerajaan Malayu pada era Adityawarman). Nama Mauli tentu saja hanya ditemukan di wilayah Padang Lawas, tentu saja bukan hanya ucapan mauli(ate) tetapi juga nama kerajaan-kerajaan kecil seperti Janji (kerajaan) Mauli (tidak jauh dari candi Sangkilon). Lalu muncul pertanyaan apakah pasca invasi Chola para pemimpin Kerajaan Aru di Mauli telah kembali ke Padang Lawas? Lalu setelah itulah Kerajaan Aru bangkit kembali dengan sekte barunya Boedha sekte Bhairawa. Sementara Kerajaan Sriwijaya, pasca invasi Chola ini juga bangkit kembali.

Pasca invasi Chola, Kerajaan Aru dan Kerajaan Sriwijaya bangkit kembali. Seperti yang disebutkan di atas, di Kerajaan Aru terbentuk sekte baru agama Boedha (sekte Bhairawa), suatu sekte yang berbeda dengan agama Boedha di daerah aliran sungai Musi (Sriwijaya). Pada era baru kejayaan Kerajaan Aru inilah Padang Lawas terhubung dengan kerajaan di Jawa (Singhasari). Seperti disebut di atas, radja Singhasari Raja Kertanegara menjadi pendukung fanatik agama Boedha sekte Bhairawa sebagaimana disimpulkan Schnitger. Sekte Bhairawa tidak lazim di Jawa (hanya pada era Radja Kertanegara).

Kerajaan Mauli di hulu sungai Batanghari yang telah beragama Boedha sekte Bhairawa, pada tahun 1286 raja Kertanegara dari Singhasari pendukung fanatik sekte Bhairawa mengirim patung ke Kerajaan Mauli. Patung inilah kemudian yang diperkaya oleh Adityawarman pada tahun 1347 sehubungan dengan pengukuhannya sebagai raja di Kerajaan Mauli dengan nama baru Kerajaan Malayu.

Lantas bagaimana dengan munculnya candi Muara Takus di hulu sungai Kampar? Apa reaksi Kerajaan Aru dan Kerajaan Mauli? Hingga sekarang disebut masih misterius dalam arti tidak ada bukti-bukti yang belum dapat ditemukan. Pada saat penelitian Schnitger di candi Muara Takus, mencatat di kalangan masyarakat ada legenda (cerita lama) yang menyatakan bahwa wilayah ini pernah di serang orang Batak. Karena hanya legenda, Schnitger tidak menyimpulkan orang Batak yang dimaksud adalah Kerajaan Aru di Padang Lawas. Schnitger hanya berkesimpulan bahwa ada jalur penghubung (transportasi) dari candi Sangkilon di hulu sungai Barumun ke candi Manggis di hulu sungai Rokan dan candi Muara Takus di hulu sungai Kampar. Schnitger tidak mengindikasikan adanya hubungan transportasi dari Kerajaan Mauli ke Muara Takus. Namun jalur dari candi Sangkilon ke candi Muara Takus via candi Manggis sesungguhnya dapat disimpulkan bukti kebenaran legenda rakyat itu, karena Schnitger berkesimpulan bahwa ada kesamaan karakter candi di Padang Lawas, Rokan, Kampar dan Batanghari.

Seperti halnya legenda di sekitar candi Muara Takus, ada nama geografis yang pada awal era Pemerintah Hindia Belanda hanya ditemukan di dekat situs Dharmasraya (Kerajaan Mauli) dan di dekat situs Pagaroejoeng (Suroaso) yakni kampong Padang Lawas. Dua nama tempat dengan nama Padang Lawas ini sepintas tidak memiliki makna. Tetapi yang menjadi pertanyaan di dua tempat itu tidak terdapat padang lawas (padang yang luas). Kata ‘padang’ dan ‘lawas’ hanya ditemukan di Padang Lawas hulu sungai Barumun. Pada Prasasti yang ditemukan di Padang Lawas (Prasasti Batugana di candi Bahal 1), terdapat kata-kata ‘padang ….’, ‘batu ganam’ pada baris 6; ‘…. damarhaya’ pada baris 7; ‘hang daja kudhi haji’ dan ‘pannai’. Jika teks zaman kuno itu diartikan sekarang kata ‘padang ….’ adalah Padang Lawas, nama kabupaten, ‘batu ganam’ adalah Batugana, nama desa dikabupaten Padang Lawas, ‘…. damarhaya’ adalah Dharmasraya kini nama kabupaten di Sumatera Barat, ‘hang daya kudhi haji’ adalah gelar haji yang sekarang yang dalam hal ini sang raja bergelar tuan kadi haji dan ‘pannai’ adalah Panai atau Pane, nama kerajaan dan nama sungai di Padang Lawas. Bagaimana gelar ‘haji’ diartikan sekarang? Kita harus kembali mengingat kunjungan Ibnu Batutah pada tahun 1345.  Ibnu Batutah adalah orang Moor bergama Islam dari Afrika Utara (kini Tunisia). Kunjungan Ibnu Batutah tentu saja ada kaitannya dengan komunitas orang Moor di Sumatra setelah menyebar dari Spanyol pasca Perang Salib. Pedagang-pedagang orang Moor diduga yang berdagang ke Panai (Padang Lawas) pasca invasi Chola dan berakhirnya agama Boedha sekte Bhairawa yang menyebabkan Radja (Kerajaan Aru) bergama Islam (dan telah pergi ke Mekkah). Saat Mendes Pinto berrkunjung ke Kerajaan Aru Batak Kingdom pada tahun 1537 disebutnya Radja Aru bergama Muslim, militernya yang berjumlah 15.000 yang diantaranya sebanyak tujuh ribu didatangkan dari Indragiri, Jambi, Broenai dan Luzon yang diperkuat oleh orang-orang Moor. Nah dengan demikian, apakah ada kaitan antara teks Prasasti Batugana tentang ‘hang daja kudhi haji’ dengan laporan Mendes Pinto tentang Raja dari Kerajaan Aru beragama Islam dan bergelar haji. Tentu saja pengaruh Islam pertama kali masuk ke Nusantara di pelabuhan Barus sejak abad ke-7 dan menurut Mendes Pinto, Barus adalah pelabuhan Kerajaan Aru di pantai barat Sumatra. Dalam hubungan ini yang dalam literatur Eropa disebutkan Barus telah mengekspor kamper atau kapur barus dan kemenyan sejak abad ke-5 atau ke-6 M. Pada fase inilah diduga munculnya Kerajaan Aru yang berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit bertarih 682 yang mana isi teks prasasti itu terdapat nama Minana yang dalam  hal ini diduga kuat Binanga yang sekarang sebagai pelabuhan di pantai timur (pelabuhan Kerajaan Aru) tempat dimana ditemukan Prasasti Batugana. Jadi dalam hal ini awal Kerajaan Aru memiliki dua pelabuhan yakni di pantai barat di Barus dan di pantai timur di Minana atau Binanga. Masih dari catatan kuno di Eropa yang menyatakan bahwa Sumatra bagian utara pada abad ke-2 sebagai kaya kamper.

Oleh karena itu, Kerajaan Aru tidak hanya mampu menyerang kerajaan di hulu sungai Kampar (candi Muara Takus), tetapi Kerajaan Aru yang kaya dengan produk kamper adalah kerajaan besar sejak zaman kuno yang besar kemungkinan telah eksis pada abad ke-2 dan mampu bertahan hingga kunjungan Mendes Pinto ke Kerajaan Aru pada tahun 1537. Dalam hal ini candi Muara Takus di hulu sungai Kampar, nama sungainya merujuk pada kata ‘kamper’, yakni pelabuhan produk kamper ke Sriwijaya dan candi Manggis di hulu sungai Rokan, nama sungai yang merujuk pada kata ‘aru’ yang diartikan sebagai sungai seperti sungai B-aru-mun dan sungai Aroekan (aru-kan) yang kemudian dieja oleh pelaut-pelaut Portugis menjadi Rokan. Pada muara sungai Rokan inilah zaman doelo (pada era Majapahit) terdapat pelabuhan Kerajaan Aru yang disebut pelabuhan Mandailing (sebagaimana dalam Negarakertagama). Sebagaimana di Jawa, kerajaan yang kayalah yang mampu membangun candi-candi.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar