Laman

Jumat, 11 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (59): Wilayah Indonesia Zaman Kuno, Konstruksi Sejarah; Eksplorasi Keberadaan Candi dan Prasasti


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Analisis keberadaan candi dan data prasasti hanya terbatas pada penggambaran wujud candi dan isi prasasti yang dibandingkan dengan aspek yang terkait pada candi dan teks prasasti di tempat lain. Tampaknya belum ada studi yang mengagregasi data candi dan data prasasti. Peluang itulah yang akan dieksplorasi dalam artikel ini, seperti apa arsitektur (wilayah) Indonesia pada zaman kuno. Tentu saja pada zaman kuno berbasis pada wujud kerajaan-kerajaan, sementara pada masa kini dalam wujud negara yang terbagi ke dalam provinsi-provinsi.

Gambaran sejarah zaman kuno sebenarnya sudah dibuat sebagai bagian awal Sejarah Indonesia. Akan tetapi dalam narasi sejarah zaman kuno ini yang berumber dari data candi dan data prasasti hanya mengcapture pada kasus-kasus tertentu saja seperti prasasti Mulawarman (abad ke-4) dan prasasti Kedukan Bukit (abad ke-7), candi Borobudur (abad ke-8) dan candi Prambanan abad ke-9. Oleh karena itu kita tidak dapat membaca seluas mungkin peristiwa sejarah zaman kuno dan semulus apa garis continuum perjalanan waktu sejarah. Akibatnya kita tidak mendapatkan gambaran (wilayah) Indonesia zaman kuno di Aceh (prasasti Neuse abad ke-11) di Sumatra Utara (prasasti Batugana abad ke-14), di Sulawesi Utara (prasasti Watu Rerumeran), Sulawesi Selatan (prasasti Seko), Nusan Tenggara Barat (prasasti Wadu Tunti).

Lantas bagaimana arsitektur wilayah Indonesia zaman kuno? Seperti disebut di atas tidak tergambar dalam narasi Sejarah Indonesia. Gambaran arsitektur (wilayah) Indonesia jauh lebih luas jika dibandingkan pada masa kini (NKRI). Oleh karena itu arsitektur (Wilayah) Indonesia haruslah dipandang sebagai wujud Nusantara. Dalam hal ini digunakan data candi dan data prasati. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe berupa candi dan prasasti dari yang tertua.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Wilayah Nusantara: Sejarah Kerajaan-Kerajaan, yang Kuat Berjaya

Dr. Ridwan Saidi pernah menulis dan menerbitkan buku tipis dengan judul besar ‘Rekonstruksi Sejarah Indonesia’ (2018). Itu dapat diduga karena kegalauan, ada nafsu besar untuk mengoreksi narasi sejarah tetapi tenaga kurang. Sebaliknya, narasi sejarah Indonesia dari waktu ke waktu itu-itu saja tak pernah diubah meski data-data baru semakin terbuka. Para sejarawan (ahli sejarah) seakan mati langkah: ‘maju kena, mundur kena’. Dalam paragraf promosi buku Bung Ridwan Saidi itu, sebagai ringkasan buku, berikut:

‘Rekonstruksi Sejarah Indonesia sebuah buku yang mengoreksi penulisan mapan sejarah Indonesia yang didominasi mitos. Antara lain mitos tentang kerajaan Sriwijaya dan Tarumanagara yang sama sekali tanpa dukungan fakta dan data pembanding. Saidi menyayangkan fakta sejarah sejati tentang kerajaan Saparua yang menurut Mendez Pinto menjadi faktor stabilitas Asia Tenggara abad XVI M tak ditampilkan. Juga kehebatan kerajaan Pasuruan yang berhasil menghancurkan agresor Yahudi pada tahun 1539-1540 tak dimunculkan karena ketidaktahuan sejarahwan Indonesia. Saidi juga meluruskan arti teks prasasti- prasasti di Jawa yang kacau balau’.

Ridwan Saidi, yang bukan sejarawan, terjebak dengan idiom-idiom khas yang jarang digunakan oleh para ahli sejarah, seperti ‘sejarah Indonesia yang didominasi mitos’, ’kerajaan Saparua yang menurut Mendez Pinto menjadi faktor stabilitas Asia Tenggara abad XVI M tak ditampilkan’, ‘ketidaktahuan sejarahwan Indonesia’. ‘meluruskan arti teks prasasti- prasasti di Jawa yang kacau balau’.

Lantas bagaimana hasil kerja para sejarawan Indonesia yang terlibat dalam penulisan buku ‘Kamus Sejarah Indonesia’ (versi pemerintah), justru mengundang kontroversi, seperti tokoh agama pendiri NU tidak disebut, idem dito dengan tokoh militer Indonesia Jenderal Abdul Haris Nasution. Tapi kanyataannya begitulah, yang menyebabkan disana sini muncul kegalaun. Tentu saja tidak hanya Ridwan Saidi.

Sejarah Indonesia memang tidak hanya perlu diluruskan, tetapi juga perlu dilengkapi sehingga gambar utuh narasi Sejarah Indonesia tampak bermartabat sebagaimana ‘sejarah adalah narasi fakta dan data’. Fakta dan data selengkap-lengkapnya (tidak dipilah pilah untuk dipilih). Dalam artikel ini difokuskan pada bagian (part) sejarah zaman kunonya. Seperti yang dianjurkan Ridwan Saidi, tetap menggunakan bukti candi dan prasasti tetapi dengan metode analisis Total Sejarah ala Reid dengan interpretasi yang jernih.

Dalam penelitian Sejarah Indonesia tidak hanya dilihat dari atas (masa kini) juga dilihat dari bawah (masa lampau). Itu juga masih berisiko sebab bagian di bawah tidak terlihat, demikian juga bagian di atasnya tidak terlihat. Oleh karena itu supaya bisa dilihat keseluruhan kita juga harus lihat dari samping. Dengan demikian akan terlihat struktur (rangka) Sejarah Indonesia secara lengkap. Dalam persfektif metodologis inilah kita gunakan ‘total sejarah’ (semua aspek atau semua aspek yang mendukung) untuk mengisi struktur (ruang dan waktu) sehingga terwujud arsitektur Sejarah Indonesia yang sebenarnya (lengkap dan akurat). Dalam framework serupa ini tidak ada yang terlupakan dan semua menjadi proporsional (tidak ada yang dibesar-besarkan dan tidak ada yang dikerdilkan).

Bukti Sejarah Indonesia terawal adalah candi dan prasasti. Berdasarkan bnkti yang ada dianalisis dan diinterpretasi. Seperti ditampilkan dalam tabel di atas, secara umum situs zaman kuno terkesan hanya terkonsentrasi di Sumatra Utara (hanya di Tapanuli Selatan) dan di semua wilayah di Jawa (barat, tengah dan timur).

Dalam berbagai tulisan disebutkan Kerajaan Tarumanagara yang pertama eksis (abad ke-5). Sebelum terbentuk Kerajaan Singhasari dan suksesinya Majapahit, Kerajaan Sriwijaya terbentuk pada abad ke-7. Diduga kuat Kerajaan Tarumanagara diserang (dihancurkan) Kerajaan Sriwijaya. Lantas apakah ada kerajaan yang mendahului sebelum Kerajaan Sriwijaya eksis? Lalu apakah ada kerajaan yang sudah eksis sebelum terbentuk Kerajaan Tarumanagara. Ibarat sekarang, sangat naif mengatakan Indonesia itu dimulai sejak 1945.  Jelas ada yang mendahuluinya, bahkan jika diurut ke belakang akan tersambung hingga ke Majapahit, Singhasari, Sriwijaya, Tarumanagara dan demikian seterusnya ke zaman kuno. Lalu apakah ada kerajaan yang terus eksis (sepanjang masa)? Tergantung melihatnya. Jika orang buta ingin mengenal gajah, pada saat tertentu digambarkannnya suatu ekor (karena ekor yang dipegangnya), pada waktu berikutnya persepsinya berubah karena yangdipegangnya gading, demikian seteruinya. Padahal dari dulu gajah itu adalah gajah dan tetap gajah dan gajah itu masih tetap berada di depan mata, hanya saja mata kita buta. Kapan mata kita terbuka?

Candi dan prasasti lebih awal (era Hindoe Boedha) ditemukan di Vietnam yang disebut prasasti Vo Champ (abad ke-3), candi Batujaya (abad ke-4), prasasti Muara Kaman (abad ke-4), prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo dan  Kota Kapur (abad ke-7) dan candi Sojomerto dan candi Canggal di Magelang (abad ke-8). Lalu bagaimana hubungan satu sama lain prasast-prasastui awal ini.

Keterangan awal tentang Hindia Timur (nusantara) dicatat oleh seorang ahli geografi Yunani Ptolomeus (90-168 M), Disebutkan bahwa pulau Sumatra bagian utara adalah sentra produksi kamper. Pada abad-abad berikutnya di dalam literatur Eropa disebutkan Megasthenes (290 ) nama Tabrobana (yang diduga kata lain nama pulau Sumatra yang disebut Ptolomeus) dan pada abad ke-5 disebutkan kamper diekspor dari pelabuhan yang disebut Barus (kota pelabuhan di pantai barat Sumatra). Berdasarkan berita Tiongkok (dinasti Tang) disebutkan (kerajaan) Sriwijaya telah mengirim utusan ke Tiongkok pada 670. Tahun ini adalah 12 tahun lebih awal dari keberadaan prasasti Kedukan Bukit 682 M. Baru sekian abad kemudian muncul berita tentang nusantara dari Eropa dalam catatan Marco Polo yang mengunjungi bagian utara Sumatra pada abad ke-13 dan kemudian pada abad ke-14 dengan kunjungan Friar Odoric dan Ibnu Batutah (seorang Moor asal Tunisia). Pada saat kehadiran Ibnu Batutah di kawasan selat Malaka pada tahun 1345 terdapat dua kerajaan besar di Hindia Timur yakni Kerajaan Aru dan Kerajaan Majapahit.

Awal peradaban (asing) di Hindia Timur diduga kuat bermula di pantai barat Sumatra, yang kemudian meluas hingga ke Jawa dan Semenanjung Malaka. Barus sebagai pelabuhan ekspor kamper diduga menjadi gambaran awal tentang keberadaan kerajaan awal di Hindia Timur. Dalam perkembangannya diketahui Barus adalah pelabuhan Kerajaan Aru di pantai barat Sumatra dan Binanga di pantai timur Sumatra.

Pada awal era Portugis, Tome Pires dan Barbosa dalam tulisan-tulisan mereka saling tertukar nama Bata, Aru dan Barus. Mereka tampaknya tidak bisa melihat secara keseluruhan, karena dari pantai barat diwakili Barus, dari pantai timur diwakili nama Aru (di utara Atjeh dan di selatan Pagaroejoeng) dan di pedalaman disebut Bata[k]. Faktanya adalah Kerajaan Aru di Tanah Batak termasuk pelabuhan Barus di pantai barat. Boleh jadi hal itu yang menyebabkan komandan Portugis di Malaka mengirim utiusan Mendes Pinto pada tahun 1537 ke Kerajaan Aru di pedalaman yang beribukota Panaju (Panai atau Pane). Dari laporan Mendes Pinto inilah diketahui wilayah yurisdiksi Kerajaan Aru coast to coast dan di arah utara mencapai wilayah Gajo dan di arah selatan mencapai Rokan dan Pasaman. Dalam laporan Mendes Pinto ini juga diketahui bahwa tentara Kerajaan Aru sebanyak 15.000 yang mana diantaranya sebanyak 7.000 berasal dari Indragiri, Jambi, Broenai dan Luzon yang diperkuat oleh pedagang-pedagang Moor (beragama Islam dari Afrika Utara seperti Marokok dan Tunisia). Sementara Kerajaan Atjeh yang belum lama terbentuk didukung militer Kerajaan Turki.

Kerajaan Aru diduga kuat lebih awal eksis jika dibandingkan kerajaan-kerajaan di Jawa (Tarumanagara dengan candi Batujaya abad ke-4). Seperti disebut di atas keberadaan (kerajaan) Sriwijaya sudah diketahui di Tiongkok sebelum tahun prasasti Kedukan Bukit dibuat pada tahun 682 M. Seperti yang disebut di atas pada abad ke-8 diketahui keberadaan prasasti Sojomerto dan prasasti Canggal (di kerajaan-kerajaan di Jawa bagian tengah). Prasasti-prasasti tentu saja ada kaitan satu sama lain, karena fase awal ini kerajaan-kerajaan yang ada belum banyak. Antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya karena ada faktor penghubunga. Religi dan kebudayaan adalah faktor-faktor yang menyertai. Faktor produk dan perdagangan adalah faktor pertama dan yang terpenting.

Keberadaan Kerajaan Aru, selain mengacu pada catatan Ptolomeus (abad ke-2) dan laporan Eropa tentang keberadaan pelabuhan Barus (abad ke-5), juga dapat diketahui berdasarkan prasasti Kedukan Bukit 682 M. Disebutkan Raja Dapunta Hyang Nayik dari Binanga dengan 20.000 tentara tiba di (kerajaan) Sriwijaya di Hulu Upang (yang diduga kuat di Bangka yang sekarang). Pada dekade-dekade ini terdapat tiga raja bergelar Dapunta, yakni Raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanāga (lihat prasasti Talang Tuo 684 M) dan Dapunta Selendra (lihat prasasti Sojomerto). Dalam hal ini Dapunta Hyang Nayik adalah Raja dari Kerajaan Aru dengan ibu kota di Binanga  Ini bersesuaan nama Binanga dalam prasasti Kedukan Bukit 682 M dan laporan Mendes Pinto tahun 1537 dimana ibu kota Kerajaan Aru di Panaju (Panai atau Pane) yang kini sungai Batang Pane bermuara di sungai Barumun di kota Binanga (kini Binanga ibu kota kecamatan di Padang Lawas Tapanuli Selatan, kawasan dimana terdapat banyak candi-candi).

Pada abad ke-7 ini di nusantara, seperti disebut di atas diketahui ada tiga raja yang bergelar Dapunta yakni raja dari Kerajaan Aru (Dapunta Hyang Nayik), raja dari Kerajaan Sriwijaya (Dapunta Hyang Sri Jayanāga) dan raja dari Kerajaan Kalingga (Dapunta Selendra). Tiga raja dan kerajaan ini tentulah saling terkait dan memiliki hubungan baik. Bagaimana hal itu terkait dapat dijelaskan berdasarkan prasasti Kota Kapur (686 M).

Disebutkan pada prasasti Kedukan Bukit tentang kehadiran Raja Dapunta Hyang Nayik di Hulu Upang (Bangka) dalam rangka memperkuat (mungkin juga untuk mengukuhkan raja) Sriwijaya (nama raja Sriwijaya ditemukan pada prasasti Talang Tuo 684 M). Pada prasasti Kota Kapur (686 M) disebutkan bala tentara Sriwijaya telah berangkat menyerang kerajaan di Jawa yang tidak mau bekerjasama (diduga dalam hal navigasi pelayaran perdagangan). Kerajaan yang diserang ini diduga kuat adalah Kerajaan Tarumanagra yang sudah eksis sejak abad ke-4. Nama Kerajaan Tarumanegara diduga kuat terkait dengan prasasti Muara Kaman Kutai. Seperti disebut di atas prasasti Muara Kaman bertarih abad ke-4. Kerajaan Tarumanagara yang berada di Jawa bagian barat diduga kuat hancur (oleh Sriwijaya) yang mana sebagian pimpinannya melarikan diri ke pedalaman (lihat juga prasasti Ciaruteun, Ciampea Bogor dan prasasti Cidangiang, Pandeglang) dan sebagian yang lain diduga kuat ke pantai timur Kalimantan (Muara Kaman Kutai?). Hal itulah diduga kuat prasasti Muara Kaman diduga awalnya berada di Kerajaan Tarumanegara (candi Batujaya). Sementara eksistensi Kerajaan Tarumangera ditunjukkan adanya  kemiripan bentuk tulisan antara prasasti Cidangian dengan prasasti Tugu yang diduga dibuat orang yang sama di satu sisi dan di sisi lain dari isi teks ada kemiriipan antara prasasti Tugu dan prasasti Muara Kaman Kutai tentang satuan nilai jumlah ekor sapi. Seperti kita lihat nanti, kerajaan yang berada di Jawa bagian tengah (diduga Kerajaan Kalingga) bersedia bekerjasama dengan Kerajaan Aru-Kerajaan Sriwijaya. Dalam perkembangannya Kerajaan Kalingga mengukuhkan kerajaan Kajara di Magelang (lihat prasasti Canggal 732 M). Gelar Raja Kajara  diberi gelar Dapunta (lihat prasasti Canggal 732 M, prasasti Ligor). Kerajaan Kajara di Magelang inilah yang diduga menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram (Kuno) dengan candinya yang terkenal Borobudur dan Prambanan.

Semua prasasti-prasasti yang disebut di atas beraksara Pallawa dengan bahasa Sanskerta. Sebab saat itu lingua franca adalah bahasa Sanskerta di dalam navigasi pelayaran perdagangan di nusantara (Sumatra, Jawa dan mungkin Kalimantan). Seperti disebut di atas, tarih tertua aksara Pallawa diketahui abad ke-4 (prasasti Muara Kaman). Prasasti ini telah ikut dibawah ke pantai timur Kalimantan (Muara Kama) saat terjadi serangan Sriwijaya kepada Kerajaan Tarumanagara. Lantas bagaimana kedudukan prasasti Vo Cahn di Vietnam yang disebut sebagai prasasti tertua di Asia Tenggara?.

Prasasti Vo Cahn beraksara Pallawa dalam bahasa Sanskerta yang menurut para ahli diperkirakan dibuat pada abad ke-2 atau ke-3. Prasasti ini ditemukan di Vo Chan, Vietnam. Seperti halnya prasasti Muara Kaman, prasastu Vo Cahn terbilang jauh dari arah barat (India selatan) tempat datangnya para pedagang pengguna bahasa Sanskerta. Penyebaran pengguna bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa ini seiring dengan perkembangan kerajaan-kerajaan yang dimulai dari Kerajaan Aru dengan pelabuhan utama kampernya di Barus. Seperti kita lihat nanti prasasti Vo Chan mengindikasikan seorang raja termasyhur meningkahkan putrinya dengan raja (baru) di Vietnam. Karena itulah prasasti ini dibuat (abad ke-2 atau abad ke-3). Siapa raja termasyhur itu diduga kuat raja dari Sumatra bagian utara (Kerajaan Aru). Tentulaha kerajan yang kuat dan maju memiliki kemampuan untuk membiayai dan membuat prasasti. Dalam hal ini prasasti Vo Cahn terdapat di wilayah terpencil (Vietna) tetapi yang menginisiasi, membiayai dan membuat dari kerajaan di pusat (peradaban) di pantai barat Sumatra (Kerajaan Aru). Hal serupa ini yang terjadi denagn prasasti Muara Kaman yang terdapat di wilayah terpencil (KutaI) namun dengan konteks yang berbeda. Prasasti Muara Kaman dibuat di Jawa pada abad ke-4. Ini sesuai dengan eksistensi kerajaan Taruma Negara (abad ke-4). Dalam prasasti ini disebut rajanya bernama Mulawarman. Pada akhir abad ke-7 Kerajaan Tarumanegara diserang oleh Kerajaan Sriwijaya (lihat prasasti Kota Kapurr 686 M).Apa yang menyebabkan Kerajaan Sriwijaya menyerang kerajaan di Jawa (Tarumanagara). Pertama, karena Kerajaan Tarumanagara yang tengah berkembang menjadi saingan dari Kerajaan Aru. Untuk itu, Raja Kerajaan Aru Dapunta Hyang Nayik mengukuhkan Sriwijaya sebagai suatu kerajaan dan memperkuat kerajaan Sriwijaya dengan menambah pasukan untuk ke Jawa (lihat prasasti Kedukan Bukit 682 M). Gelar raja Sriwijaya Sri Nagajaya yang telah diberikan adalah (juga) Dapunta Hyang (lihat prasasti Talang Tuo 684 M).). Jadi sebelum serangan ke Jawa kerajaan Sriwijaya (Boedha) sudah dikukuhkan oleh Kerajaan Aru (Boedha). Dalam serangan ke Jawa dengan kekuatan penuh, dibuat prasasti di wilayah-wilayah Sriwijaya tentang perjanjian untuk tetap patuh kepada raja raja Sriwijaya (prasasti Telaga Batu) dan di Bangka (prasasti Kota Kapur 686 M). Seperti halnya prasasti Vo Cahn, tiga prasasti Srieijaya ini diinisiasi dan dibuat Kerajaan Aru. Dalam serangan Sriwijaya ke Jawa ini, Kerajaan Tarumanagara yang Hindoe (candi Batujaya) hancur. Para pemimpin Tarumanagara sebagian melarikan diri ke pedalaman dan sebagian yang lain ke pantai timur Kalimanan (Kutai). Prasasti-prasasti juga dibawa ke Kutai. Hal itulah mengapa di Kutai terdapat prasasti (yang dibuat di Jawa). Hal itu pula mengapa nama-nama raja di Tarumanagara memiliki kesamaan seperti Aswawarman dan Mulawarman (prasasti Muara Kaman Kutai); Jayasingawarman dan Purnawarman (prasasti di pedalaman Jawa barat). Satuan yang digunakan dalam prasasti Muara Kaman dan prasasti Jawa barat satuan nilainya adalah jumlah ekor sapi (suatu indikasi wilayah Kerajaan Tarumanagara di Jawa barat surplus sapi). Dengan demikian pada abad ke-4 terdapat dua kerajaan kuat (Kerajaan Aru dan Kerajaan Tarumanagar; tentu saja pada saat ini belum ada Kerajaan Sriwijaya dan baru dikukuhkan pada tahun 682 M).

Umur prasasti Vo Cahn terbilang paling tua di Asia Tenggara tetapi sebaliknya lokasi ditemukan prasasti berada di tempat paling terpencil (mirip kasusnya dengan prasasti Muara Kaman). Secara teoritis bahwa sosiogeografis yang lebih tua berada pada posisi yang lebih dekat. Ini sedikit bertentangan dengan catatan geografi Ptolomeus pada abad ke-2 sentra produksi kamper berada di pulau Sumatra bagian utara. Hubungan antara kerajaan di Sumatra bagian utara (Kerajaan Aru) dengan prasasti Vo Cahn di Vietnam dapat diperhatikan dalam teks prasasti

Berdasarkan prasasti Vo Cahn dapat diinterpretasi bahwa Radja Sri Mara (dari Sumatra) telah menikahkan putrinya dengan anggota keluarga kerajaan di Vo Cahn yang mana suaminya telah dinobatkan menjadi raja. Dalam hal ini prasasti dibuat (pada abad ke-3) saat peristiwa penobatan raja yang dikukuhkan oleh raja Sri Mara. Dalam prasasti disebutkan sang raja besar (Sri Mara) berdoa agar kepada sang ayah yang telah pergi (meninggal) dan kepada sang anak yang menjadi raja (sang menantu) agar masuk sorga dan berjaya di dunia. Sri Raja adalah raja dari Kerajaan Aru. Kawasan ditemukannya gelar Mara untuk raja-raja (hingga kini). Prasasti lainnya di Indochina adalah prasasti Dong Yen Chau prasasti berbahasa Cham yang ditulis dalam aksara Pallawa ditemukan di Đông Yen Châu, tidak  jauh dari ibu kota lama Kerajaan Champa di Indrapura. Prasasti mengindikasikan pengaruh agama Hindu, kemiripan tata bahasa dan kosakata yang digunakan dalam prasasti ini dengan prasasti-prasasti berbahasa Melayu Kuno.

Kelak di wilayah di sekitar ditemukan prasasti Vo Cahn dan prasasti Đông Yen Châu terbentuk kerajaan Champa dan kerajaan Khmer. Kerajaan Champa (bahasa Cham: Nagarcam) suatu kerajaan yang terbentuk pada abad ke-7. Tetangga Champ adalah Khmer di Kamboja, penganut agama Boedha dengan karakteristik sinkretisme antara Boedha, Hindoe, animisme dan pemujaan terhadap leluhur (suatu agama yang mirip di Kerajaan Aru, Boedha sekte Bhairawa).

Nama Cham dan nama Khmer (serta nama Cambodia) mirip nama kamper, suatu produk zaman kuno dengan sentra produksi di bagian utara pulau Sumatra yang diekspor dari pelabuhan Barus (kapur Barus atau kamper). Barus sendiri adalah pelabuhan Kerajaan Aru di pantai barat Sumatra. Dengan memperhatikan hubungan satu sama lain, orang-orang Cham dan orang-orang Khmer diduga awalnya dua pihak yang disebutkan pada prasasti Vo Cahn (abad ke-3). Orang Cham adalah pemilik kerajaan dan orang Khmer adalah keturunan orang-orang Kerajaan Aru yang ikut menyertai putri raja yang menikah sebagaimana pada prasasti Vo Cahn. Dua kelompok etnik ini Cham (Champa Vietnam) dan Khmer (Kamboja) sendiri terbilang adalah orang tropis di Indochina dengan bahasa mirip bahasa Melayu. Dua kelompok etnik ini kini adalah dua kelompok minoritas di Vietnam dan Kamboja. Lantas bagaimana terbentuknya etnik Khmer yang menjadi tetangga etnik Cham? Itu tentu saja bermula jauh di masa lampau (lihat prasasti Vo Cahn). Dari era itulah terbentuk navigasi pelayaran perdagangan antara bagian utara Sumatra (Kerajaan Aru) dan kawasan Laut China selatan.

Bagaimana migrasi lebih lanjut orang Sumatra ke Indochina dapat dijelaskan dengan menggunakan prasasti prasasti Ligor (Thailand) dan prasasti Laguna (Filipina),

Pada prasasti Ligor di pantai timur Thailand selatan dekat dengan Malaysia (Nakhon Si Thammarat) berupa pahatan yang ditulis pada dua sisi batu dimana bagian pertama disebut prasasti Ligor A (manuskrip Viang Sa) sedangkan bagian lainnya disebut prasasti Ligor B berangka tahun 775 M, Prasasti ini tampaknya ada hubungannya dengan prasasti Kota Kapur dan prasasti Canggal (Selendra) seperti disebut di atas. Pada manuskrip Ligor A berisi tentang raja Sriwijaya yang mendirikan Trisamaya caitya untuk Kajara, sedangkan manuskrip Ligor B berangka tahun 775 berisi tentang nama Visnu yang bergelar Sri Maharaja dari keluarga Śailendravamśa. Tampaknya prasasti ini menceritakan tentang pengangkatan raja di Jawa, kerajaan yang didirikan Sriwijaya (lihat prasasti Canggal). Prasasti Ligor tidak mengindikasikan tentang di Ligor sendiri. Dan tentu saja belum ada pengaruh dari kerajaan di Jawa. Mengapa? Pada tahun-tahun ini tentu saja kerajaan di Jawa belum lama terbentuk dan masih terkonsentrasi di dalam negeri. Oleh karena itu pengaruh kerajaan di Jawa belum sampai di Semenanjung dan Indochina (maupun Filipina). Yang sudah memiliki pengaruh mencapai kawasan laut China selatan ini adalah Kerajaan Aru (lihat prasasti Vo Cahn abad ke-3). Sementara itu, Sriwijaya lebih berorientasi di selatan (dan Jawa). Hal ini dapat diperhatikan pada prasasti-prasasti Karang Brahi, Jambi (abad ke-7), Telaga Batu, Palembang (abad ke-7), Palas Pasemah, Lampung (abad ke-7). Plumpungan, Salatiga (750), Mañjuçrighra, candi Sewu, Prambanan, Klaten (792 M), Raja Sankhara, Sragen (abad ke-8), Kayumwungan, Sukabumi, Kediri (804 M)., Kayumwungan, Karangtengah, Temanggung (824 M), Karangtengah, Temanggung (824 M), Gandasuli I dan II, candi Gondosuli, Temanggung (832) dan prasasti Siwagrha (856 M). Sedangkan Kerajaan Aru lebih berorientasi di wilayah utara (seputar Laut China Selatan). Lantas mengapa Ligor menulis keberadaan Sriwijaya dan raja Selendra di Jawa. Hal itu dapat dikaitkan kembali dengan prasasti Kedukan Bukit (682 M) dan prasasti Kota Kapur (686 M). Pasukan yang dibawa Raja Dapunta Hyang Nayik dari Binanga sebanyak 20.000 diduga kuat termasuk pasukan yang dikumpulkan dari Ligor dan Vo Chan. Kemenangan di Jawa itu diduga sebagai peringatan karena pasukan Ligor juga turut berpartisipasi ke Jawa (prasasti Ligor sisi-A) dan keberhasilan dinasti Seilendra membangun candi atas bantuan penduduk Kajara (prasasti sisi-B, 775 M). Eksistensi kerajaan di Jawa diketahui berdasarkan prassti Sojomerto yang menceritakan silsilah keluarga raja pertama dinasti Seilenrda dengan gelar Dapunta (awal abad ke-7) dan prasasti Canggal membangun candi (732 M). Dalam hal inilah adalah hubungan nama gelar Dapunta Hyang Nayik (Kerajaan Aru), Dapunta Hyang Sri Nagajay (Kerajaan Srieijaya) dan Dapunta (Kerajaan Kajara)

Kekuasan Kerajaan Aru tidak hanya di Vietnam (Champ) dan Kamboja (Khmer) tetapi juga di Filipina. Bagaimana pengaruh Kerajaan Aru di Filipina dapat diperhatikan pada prasasti Laguna yang ditemukan di teluk Manila pulau Luzon.

Prasasti Laguna terbuat dari perunggu ini bertarih 900 M berbahasa Sanskerta dan Pallawa (Melayu Kuno). Isi prasasti mengindikasikan kerajaan-kerajaan di sekitar teluk (Tondo, Pila, Pilalan dan Nayaman) tunduk pada raja yang termasyhur di Binwangan. Dengan mengacu pada prasasti Kedukan Bukit 682 M yang disebut di atas, Raja (Kerajaan Aru) Dapunta Hyang Nayik beribukota di Minanga (Padang Lawas). Besar dugaan nama Binwangan pada prasasti Laguna adalah Binanga (prasasti Kedukan Bukit). Wilayah di pintu teluk Manila pada masa ini (provinsi Bataan) dikenal populasi (ernik) Ayta yang karakteristiknya mirip dengan populasi etnik Batac di pulau Palalawan yang keduanya memiliki banyak kemiripan dengan etnik Batak (Kerajaan Aru). Nama Ayta mirip nama Bata di provinsi Bataan. Nama-nama geografis di wilayah provinsi Bataan ini banyak yang mirip dengan nama-nama di Angkola Mandailing (Padang Lawas, Kerajaan Aru).

Sebelum berakhirnya milenium pertama, paling tidak terdapat tiga kerajaan besar yakni Kerajaan Aru di utara, Kerajaan Sriwijaya di tengah dan Kerajaan Mataram (Seilendra) di selatan. Pada saat invasi Kerajaan Chola (India selatan) pada tahun 1022 Kerajaan Aru yang beribukota di Binanga atau Panai dan Kerajaan Sriwijaya yang beribukota di muara sungai Batanghari (kota Jambi yang sekarang) terkena dampaknya. Invasi Chola yang juga menyerang Kerajaan Aru (Panai) dan Kerajaan Sriwijaya ini dapat dilihat pada prasasti Tanjore (1030 M). Sementara itu kerajaan di pedalaman Jawa (Seilendra) aman.

Pada pendudukan Chola ini para pemimpin Kerajaan Aru melarikan diri ke berbagai arah, ke pedalaman, ke hulu sungai Batanghari dan ke kawasan Laut China Selatan. Para pemimpin Kerajaan Sriijaya sebagian melarikan diri ke daerah aliran sungai Musi (Palembang) dan sebagian ke Jawa. Mengapa? Kerajaan Sriwijaya memiliki hubungan politik dengan kerajaan di Jawa sementara Kerajaan Aru memiliki hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan di Laut China Selatan (Ligor, Laguna dan Vo Cahn dan Dong Yen Chau. Para pemimpin Kerajaan Aru yang melarikan diri ke hulu sungai Batanghari membentuk Kerajaan Mauli (kelak disebut Dharmasraya).

Ada beberapa nama lagi yang disebut pada prasasti Tanjore yakni Kadaram dan Malaiyur serta Mayirudingam, Mappapalam, Mevilimbangan, Valippanduru, Takkolam, Madamalingam, Ilamuri-Desam dan Nakkavaram serta Ilangasogam. Seperti halnya pada parasasri disebut ‘gerbang kemakmuran’ Sriwijaya dan ‘kolam air’ Panai, juga disebut Torano kota pedalaman Kadaram, benteng di atas bukit Malaya dan Mayurudingamm dikelilingi parit.

Nama-nama tempat yang disebut tersebut adalah nama-nama kota pelabuhan atau ibukota. Nama Kadaram diketahui nama lama Kedah, Malaiyur diduga kuat Malaka, Madamlingam sebagai Mandailing, Ilamuri sebagai Lamuri dan Ilangasogam sebagai Binanga-Sunggam (kini nama desa Binanga dan desa Sunggam tidak jauh dari Pane atau Panai di Padang Lawas). Keberadaan Kadaram diduga sudah eksis sejak lama. Haln ini diduga terkait dengan ditemukannnya candi Kedah sejak abad ke-5 (satu-satunya candi di Malaysia) dan prasasati Cherok Tokkun (bukit Tokkun) di pulau Penang yang diduga dibuat pada abad ke-5. Isi prasasti tentang pengakuan Manikatha kepada Raja Ramaunibha, Bahasa yang digunakan pada prasasti ini adalah bahasa Pali (Ceylon).

Pengaruh (kerajaan) Chola dapat diperhatikan adanya prasasti-prasasti aksara Nagari berbahasa Tamil (India selatan) yang merupakan aksara dan bahasa di Kerajaan Chola (suksesi aksara Pallawa bahasa Sanskerta). Prasasti berbahasa Tamil tersebut terdapat di Barus, Tapanuli (prasasti Lobu Tua bertarih 1088) dan Aceh (prasasti Neuse bertarih abad ke-11 atau abad ke-12). Di wilayah pedalaman di Kerajaan Aru juga terdapat nama sungai Angkola (yang juga nama distrik). Pengaruh Chola lainnya di Kerajaan Aru adalah candi Sangkilon, satu-satunya candi Hindoe di Padang Lawas, tidak jauh dari Binanga.

Kerajaan Aru adalah kerajaan yang unik, memiliki sistem (struktur) pemerintahan bukan bersifat monarki atau oligarki seperti di Sriwijaya dan Jawa, tetapi bersifat federasi (semacam republik pada masa kini). Kerajaan Aru dipimpin oleh beberapa raja yang mana salah satu dipilih sebagai raja yang bersifat primus interpares. Oleh karena itu di dalam berbagai prasasti penyebutan raja tidak tunggal dengan gelar yang panjang tetapi dua sampai empat raja dengan nama pendek (lihat prasasti Sitopayan 1 dan prasasti Sitopayan 2).  Sistem pemerintahan ini bahkan masih berlaku hingga sekarang (pemerintahan tradisonal) yang mengacu pada prinsip ‘dalihan na tolu’. Prinsip inilah yang juga ditemukan pada prasati Laguna (Filipina), prasasti Reremeran di Minahasa (Sulawesi Utara) dan prasasti Seko (Toraja Sulawesi Selatan). Tiga kawasan yang disebut terakhir ini adalah berada pada pengaruh Kerajaan Aru. Prinsip yang sama juga kelak ditemukan di (kepulauan) Maluku, yang juga berada di bawah pengaruh Kerajaan Aru. Tentu saja jangan lupa prinsip ini juga terdapat di pulau Sumbawa (lihat prasasti Wadu Tunti) dan Minangkabau (sejak era Adtyawarman, 1347). Oleh karena itu kerajaan federasi ala dalihan na tolu ini bersifat dinamis, bisa bertambah besar (luas) dan bisa menjadi lebih kecil (anggota federasi berkurang). Hal itulah mengapa Kerajaan Aru Batak Kingdom abadi bahkan hingga ini hari sebagai tiga luhat utama di Tapanuli bagian selatan (Angkola, Mandailing dan Padang Lawas). Basisnya adalah kerajaan huta, unit terkecil dalam pembentukan federasi (kerajaan yang lebih besar). Federasi Kerajaan Aru bahkan sampai ke Filipina (prasasti Lagnna 900 M), Dharmasraya (prasasti Batugana abad ke-11). Pada era Portugis federasi ini menurut Mendes Pinto (1537) federasi Kerajaan Aru ini terdiri juga mencakup Indragiri, Jambi, Brunai dan Luzon. Ini mengindikasikasikan bahwa Kerajaan Aru sejak lama sudah memiliki hubungan politik di (Indragiri dan Jambi pada era invasi Chola) dan Brunai (prasasti Ligor, sisi-A dan sisi B 775 M) da Luzon (prasasti Laguna, 900 M)

Berdasarkan bukti-bukti yang ada seperti yang disebut di atas, sesungguhnya bahwa Kerajaan Sriwijaya tidak pernah berurusan di sekitar Laut China Selatan, sungai Kampar, sungai Indragiri dan hulu sungai Batanghari (wilayah yurisdiksi Kerajaan Aru). Kerajaan Sriiwiaja berurusan di Sumatra bagian selatan dan pulau Jawa (terutama Jawa Tengah). Dengan kata lain kemitraan Kerajaan Aru dan Kerajaan Sriwijaya yang dibangun sejak 682 M secara politis satu ikatan tetapi dalam pembagian wilayah berbeda. Kerajaan Aru di utara, Kerajaan Sriwijaya di selatan.

Untuk memperjelas hubungan kemitraan Kerajaan Aru dan Kerajaan Sriwijaya ini dapat ditemukan pada prasasti Nalanda di Bihar India 860 M. Dalam prasasti ini disebutkan permintaan Sri Maharaja dari Swarnadvipa (pulau Sumatra) untuk membangun sebuah biara Boedha di Nalanda. Raja yang masyhur dari Sumatra ini tidak disebutkan apakah Raja Kerajaan Aru atau Raja Kerajaan Sriwijaya. Disebutkan dalam prasasti Raja Sumatra yang memiliki banyak tentara, Jika diperhatikan lebih cermat raja asyhur dari Sumatra ini adalah raja dari Kerajaan Aru. Mengapa? Hanya Kerajaan Aru yang memiliki biara atau candi (candi Simangambat), sementara di wilayah Kerajaan Sriwijaya pada saat itu belum memiliki candi. Kerajaan Aru jauh lebih kaya dari Kerajaan Sriwijaya karena produk eskpor kamper dan kemenyan. Sebagaimana disebut dalam prasasti Nalanda, kerajaan masyhur dari Sumatra ini memiliki banyak tentara. Dengan kata lain hanya kerajaan kaya yang mampu membiayai tentara dan candi serta prasasti. Hal itulah mengapa sejak awal Kerajaan Aru memperkuat Kerajaan Sriwijaya ekpansi ke Jawa semata-mata untuk urusan perdagangan. Kerajaan Aru yang memiliki banyak devisa dari perdagangan kamper dan kemenyan serta emas membutuhkan komoditi beras dari Jawa (penghasil beras yang melimpah). Dalam hal ini nilai tukar kerajaan Jawa (sejak dinasti Tarumanagara hingga dinasti Seilendra) adalah beras, yang dibutuhkan Kerajaan Aru (maupun Kerajaan Sriwijaya).

Tunggu deskripsi lengkanya

Wilayah Nusantara Fase-2: Kerajaan Aru, Sriwijaya, Singhasari dan Majapahit

Pasca invasi Chola, Kerajaan Aru dan Kerajaan Sriwijaya bangkit kembali. Para pemimpin Kerajaan Aru yang melarikan diri ke hulu sungai Batanghari sebagian kembali ke Kerajaan Aru. Demikian juga para pemimpin Kerajaan Aru yang melarikan diri ke kawasan Laut China Selatan kembali ke Kerajaan Aru, Para pemimpin Kerajaan Aru yang kembali bersatu ini kemudian terbentuklah percampuran berbagai aliran agama (Hindoe, Boedha dan pagan) yang dikenal sebagai sekte Bhairawa. Pengaruh Hindoe muncul dalam sekte ini karena para pemimpin Kerajaan Aru yang bertahan sudah sempat Hindoe (Chola) dan juga ada yang kembali pagan (di pedalaman), Dari Kerajaan Aru inilah di nusantara berkembang dan meluas sekte Bhiarawa (hal ini menurut Schnitger 1935 dari karaktersitik candi-candi di Padang Lawas (Panai dan Binanga). Lalu bagaiman dengan Kerajaan Mauli (lihat prasasti Grahi).

Prasasti Grahi adalah prasasti yang terdapat di Chaiya, Thailand selatan berbahasa Khmer. Prasasti bertarikh 1183 ini tertulis pada lapik arca Buddha perunggu di wihara Wat Hua Wiang. Prasasti Grahi menurut pembacaan Coedes adalah sbb.: ‘11006 (sic)[2] çaka thoḥ nakṣatra ta tapaḥ sakti kamrateṅ añ Mahārāja çrīmat Trailokyarājamaulibhūṣanabarmmadeba pi ket--jyeṣṭha noḥ buddhabāra Mahāsenāpati Galānai ta cāṃ sruk Grahi ārādhanā ta mrateṅ çrī Ñāno thve pra--timā neḥ daṃṅon mān saṃrit bhāra mvay tul bir ta jā byāy mās tap tanliṅ ti ṣthāpanā jā prati--mā mahājana phoṅ ta mān sarddhā ‘anumodanā pūjā ṇamaskāra nu neḥ leṅ sa -- pān sarvvajñatā--…ha ta jā…’. Terjemahan: Pada tahun Saka 1105 (1183),[2] atas perintah Kamraten An Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusanawarmadewa, hari ketiga bulan naik bulan Jyestha, hari Rabu, Mahasenapati Gelanai yang memerintah Grahi menyuruh mraten Sri Nano membuat arca Buddha. Beratnya 1 bhara 2 tula, dan nilai emasnya 10 tamlin. Arca ini didirikan agar semua orang yang percaya dapat menikmati, memuliakan, dan memujanya di sini .... mencapai kemahatahuan ..’. Berdasarkan prasasti Grahi Raja Kerajaan Mauli, Kamraten An Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusanawarmadewa diduga telah menyebarkan agama sekte Bhairawa di kerajaan-kerajaan di Laut China Selatan. Kerajaan Mauli adalah vassal dari Kerajaan Aru. Nama Mauli adalah nama Batak (maksudnya bukan mauli ate = terimakasih) tetapi Maulibgusana Warmadewa. Salah satu gelar raja Mauli adalah Maulibgusana yang dalam bahasa Batak (bahkan pada masa ini) sebagai ‘orang yang agung dan pemurah). Pada fase ini juga ditemukan dua prasasti di Singapura. Prasasti pertama berbentuk empat segi, selebar sedepa (1,7 meter) dan mempunyai tulisan yang dipahat. Prasasti tersebut dijumpai di ujung tanjung berhasa Sanskerta. Dalam prasasti Singapura ini diceritakan seorang raja yang bergelar Raja Suran yang telah menaklukkan seluruh Tanah Melayu sampai ke Temasik yang didalam prasasti menceritakan segala kisah penaklukannya. Kedua prasasti tersebut dibuat dekat laut. Pada prasasti kedua menceritakan Raja Suran Batu. Boleh jadi nama Raja Suran Batu dalam prasasti adalah Raja Soetan di Batugana (lihat juga prasasti Batugana yang ditemukan pada candi Bahal 1 abad ke-12) atau yang terkait dengan sungai Rokan yang juga wilayah Kerajaan Aru yang kini nama kecamatan yakni eks kerajaan di kecamatan Hulu Sutam dan eks kerajaan di kecamatan Ujung Batu. Dalam prasasti Batugana ini disebut untuk seluruh wilayah Panai (Kerajaan Aru) dimana disebut dalam prasasti nama Dharmasraya. Dalam prasasti nama Batugana juga disebut

Pada saat perkembangan Kerajaan yang pesat ini, Kerajaan Singhasari di Jawa yang juga tengah berkembang menjalin perdagangan dengan Sumatra (Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Aru). Tampaknya salah satu Raja dari Singhasari tertarik dengan sekte Bhairawa ini. Raja tersebut adalah Raja Kertanegara, salah satu pendukung fanatik agama Batak sekte Bhairawa. Kerajaan Mauli di hulu sungai Batanghari dan Kerajaan Khmer juga telah menjadi pendukung sekte Bhairawa. Atas dasar inilah Raja Kertanegara memberi hadiah  patung (arca) Amoghapasa kepada Kerajaan Mauli pada tahun 1286 M. Dengan modal inilah kemudian Kerajaan Singhasari menyerang Kerajaan Sriwijaya (non sekte Bhairawa). Para pemimpin Kerajaan Driwijaya melarikan diri ke pedalaman. Namun Radja Kertanegara tidak berahan lama karena meninggal. Kerajaan Singhasari menurun dan kemudian muncul Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Sriwijaya pasca berakhirnya Kerajaan Singhasari bangkit kembali. Kerajaan Aru semakin kuat karena telah didulung oleh pedagang-pedagang Moor beragama Islam. Sehubungan dengan meningkatnya komunitas Orang Moor di selat Malaka, utusan Moor Ibnu Batutah berkunjung pada tahun 1345 termasuk ke kerajaan-kerajaan di Laut China Selatan. Di Kerajaan Mauli diangkat raja baru Adityawarman tahun 1347. Kisah lama terulang kembali. Kerajaan Sriwijaya yang mulai bangkit diserang Kerajaan Majapahit di bawah Patih Gajah Mada. Lantas mengapa Majapahit tidak menyerang Kerajaan Mauli dan Kerajaan Aru?

Kerajaan Aru semakin kuat karena dukungan dari pedagang-pedagang Moor. Kerajaan Mauli yang telah diproklamirkan oleh Raja Adityawarman sebagai kerajaan Malayu mulai merekolasi ibu kota dari hulu sungai Batanghari ke hulu sungai Indragiri di Pagaroejoeng. Radja Adityawarman meninggal tahun 1375. Seperti halnya Raja Kertanegara, Raja Adityawarman juga menurut Schnitger salah satu pendukung fanatik agama Batak sekte Bhairawa.

Kerajaan Aru (pengaruhnya) begitu luas. Tidak hanya bagian utara pulau Sumatra tetapi juga termasuk Semenanjung, pantai timur Indochina dan Filipina. Kawasan di Indochina lebih bernuansa Sumatra bagian utara. Nama Khmer dan Champa diduga merujuk pada nama Kamper. Pada masa ini etnik Khmer dan Champa adalah minoritas di Vietnam. Pada masa ini diantara dua kawasan etnik ini terdapat nama district Ma Da yang berperilaku mirip orang Batak di Padang Lawas. Sumatra Utara. Ma Da (dalam bahasa Mandarin Kuno, Ma=Ba dan Da=Ta) yang berati Ma Da sama dengan Bata. Distrik Ma Da berada di sekitar danau Tri An berada di provinse Dong Nai (suatu wilayah tropis) yang dihuni kelompok etnik minoritos yang bahasa berbeda dengan Viet(nam) yang mayoritas. Dalam hal ini nama Nai merujuk pada nama Batak.Tentu saja nama danau An juga merujuk pada gelar raja Kerajaan Mauli. Nama district Mada [Bata] di provinis Dong Nai [Nai] berdekatan dengan provinsi Bataan di teluk Manila. Sebagai tambahan nama Morong di provinsi Bataan dan nama Morong di Trengganu (pantai timur Semenanjung Malaya) dekat prasasti Ligor, suatu nama yang mirip dengan nama Morang di Kerajaan Aru (kabupaten Padang Lawas yang sekarang).

Seperti dipertanyakan di atas mengapa Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit tidak berani menyerang Kerajaan Mauli dan Kerajaan Aru. Kerajaan Majapahit yang mengakuai keberadaan dua agama (Boedha dan Hindoe) mengapa hanya menyerang Sriwijaya. Di satu sisi boleh jadi karena Radja Adityawarman sejak 1347 telah merelokasi ibu kota ke pedalaman (dari hulu sungai Batanghari ke hulu sungai Indragiri di Pagaroejoeng). Strategi ini akan menjadi penghambat pergerakan pasukan Majapahit di daratan di pedalaman. Lalu bagaimana dengan Kerajaan Aru? Besar dugaan karena terlalu kuat buat Majapahit, sebab Kerajaan Aru memiliki aliansi yang kuat dengan pedagang-pedagang Moor dan Tiongkok. Namun meski demikian, mengapa misalnya tidak dicoba, soal kalah dan menang itu hal lain. Lalu mengapa Patih Gajah Mada terkesan lebih menjalin persahabatan dengan Kerajaan Aru (seperti halnya pada era Kerajaan Singhasari yang dipimpin Raja Kertanegara)?

Pertanyaan ini sangat sulit, justru pertanyaan baru yang muncul. Patih Gajah Mada tidak begitu jelas asal-usulnya, bukan golongan bangsawan di Kerajaan Majapahit. Gajah Mada seakan muncul sebagai seorang profesional.  Apakah Gajah Mada juga penganut agama Boedha Batak sekte Bhairawa? Sekte yang diadoposi di Kerajaan Mauli (Dharmasraya) yang berasal dari Kerajaan Aru. Lantas mengapa Gajah Mada membangun prasasti Radja Kertanagara (Singhasari) yang mengadopsi sekte Bhairawa? Prasasti Singhasari di dalam pembangunan monumen Kertangara dibangun tahun 1351 (lihat prasasti Singhasari di Singosari Malang bertarih 1351 M). Gajah Mada meninggal tahun 1364 M. Apakah Gajah Mada keturunan dari Kerajaan Mauli atau Kerajaan Aru? Apakah pembangunan monumen untuk Kertanagara itu atas permintaan Radja Adityawarman di Kerajaan Mauli (Dharmasraya)? Apakah kematian atau moksa Gajah Mada terkait dengan ini semua? Apakah ini bukti Gajah Mada enggan menyerang Kerajaan Mauli dan Kerajaan Aru? Apakah Gajah Mada adalah keturunan Tiongkok di Kerajaan Aru? Dalam bahasa Mandarin Kuno, nama Bata[k] diucapkan atau ditulis Ma Da. Dengan demikian, Gajah Mada adalah Gajah Bata[k]. Di wilayah Kerajaan Aru banyak gajah, sementara di Jawa sudah punah.

Tunggu deskripsi lengkanya

Wilayah Nusantara Fase-3: Kerajaan Aru, Majapahit, Pagaroejoeng, Malaka dan Pajajaran

Kerajaan Sriwijaya di daerah aliran sungai Musi sudah lama berlalu, lalu kemudian menyusul Kerajaan Mauli Dharmasraya berakhir di hulu sungai Batanghari. Suksesi Kerajaan Dharmasraya adalah terbebentuk Kerajaan Pagaroejoeng di hulu sungai Indragiri. Kerajaan Majapahit hanya bertahan di pulau Jawa (timur). Kerajaan Pagaroejoeng terus melakukan konsolidasi di pedalaman, sebagaimana juga di pedalaman Jawa (Kerajaan Pajajaran). Hanya Kerajaan Aru yang terus eksis dan melebarkan pengaruhnya. Kerajaan Aru yang beribokta Binanga menjadi pelabuhan terpenting di pantai timur Sumatra (sementara di pantai barat Sumatra di Barus). Kerajaan Aru mulai bekerjasama dengan pedagang-pedagang Moor.

Pengaruh navigasi perdagangan Kerajaan Aru sebelumnya tidak pernah lebih jauh dari Bangka dan daerah aliran sungai Musi. Sebaliknya pengaruh pedagang-pedagang dari Jawa (sejak Singhasari) dapat mencapai Kerajaan Aru. Pengaruh pedagang-pedagang Sriwijaya di Jawa telah digantikan oleh pedagang-pedagang Jawa dari Kerajaan Singhasari dan lalu kemudian dilanjutkan oleh pedagang-pedagang Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu pengaruh perdagangan Kerajaan Aru di daerah aliran sungai Musi sudah lama telah sepenuhnya digantikkan oleh pedagang-pedagang dari Jawa. Saat itulah diduga pedagang-pedagang Kerajaan Aru memperluas navigasi pelayaran perdagangan ke Sulawesi dan Maluku. Sebelum perluasan navigasi pelayaran perdagangan ke Sulawesi dan Maluku, pedagang-pedagangan Kerajaan Aru sudah sejak berabad-abad melakukan aktivitas perdagangan di seputar Laut China Selatan. Indikasi itu paling tidak diketahui pada abad ke-3 (prasasti Vo Cahn). Eksistensi navigasi pelayaran perdagangan itu masih terus berlanjut pada abad ke-10 (prasasti Dong Yen Chau abad ke-4, prasasti Ligor-A abad ke-7 dan prasasti Ligor-B 775 M, prasasti Laguna 900 M). Eksistensi navigasi pelayaran perdagangan Kerajaan Aru sempat terhambat pada era invasi Chola abad ke-11. Pasca invasi Chola itulah Kerajaan Aru bangkit kembali. Kerajaan Aru terhubung kembali secara intens dengan kerajaan-kerajaan di seputar Laut China Selatan. Saat inilah raja-raja di Kerajaan Aru menghianati Hindoe (pasca Chola) dan kembali ke Boedha tetapi dengan sekte baru, Bhairawa (campuran Hindoe, Boedha dan pagan-penyembahan terhadap leluhur). Kerajaan di Vietnam menjadi sekte Bhairawa. Saat kebangkitan Kerajaan Aru dengan agama baru (Bhairawa) terbentuk hubungan perdagangan dengan Kerajaan Singhasari (didirikan 1222, suksesi Kerajaan Kediri) yang tengah berkembang. Raja-raja Singhasari mengadopsi sekte Bhairawa. Raja terkenal Singhasari, Kertanegara salah satu pendukung fanatik sekte Bhairawa. Pada saat inilah Raja Kertanegara memberi hadiah arca ke Kerajaan Mauli (cabang dari Kerajaan Aru) yang juga sekte Bhairawa. Dalam situasi dan kondisi inilah Kerajaan Singhasari menyerang Kerajaan Sriwijaya (yang Boedha, bukan sekte Bhairawa). Raja Kertanegara meninggal tahun 1292. Kerajaan Singhasari kemudian digantikan Kerajaan Majapahit (1293).

Kerajaan Aru menjadi semakin kuat dengan kolaborasi dengan pedagang-pedagang Moor. Pedagang-pedagang Moor mengikuti rute navigasi pelayaran perdagangan Kerajaan Aru hingga ke Laut China Selatan. Setelah raja-raja Kerajaan Aru mengadopsi Islan (dari pedagang-pedagang Moor), raja-raja di seputar Laut China Selatan melalui pedagang-pedagang Moor juga mengadopsi agama Islam seperti di Brunai, Ligor, Champa dan Luzon (teluk Manila).

Sebelum kehadiran pedagang-pedagang Moor di (pulau) Sulawesi, penduduk asli Minahasa dan Toraja sudah beberapa lama menjalankan sekte Bhairawa yang sangat menghormati leluhur. Introduksi sekte Boedha ini dapat diperhatikan pada prasasti Watu Rerumeran (Minahasa) dan prasasti Seko (Toraja). Pengaruh Kerajaan Aru di pulau Sulawesi )bagian utara dan bagian selatan) tidak hanya dilihat dari makna yang terkandung dalam dua prasasti, tetapi juga dari kosa kata elementer dalam bahasa Minahasa (inang, amang, mate, ate, dila dan sebagainya) dan kosa kata elementer dalam bahasa Seko dan sekitar (tor atau to, roha, matua, seko.losung batu, daliang dan sebagainya). Tentu saja tidak hanya itu, seperti di Filipina, nama-nama geografis di Minahasas dan Seko-Toraja juga banyak yang mirip dengan nama tempat di Kerajaan Aru seperti Minanga (Binanga adalah ibu kota Kerajaan Aru). Di wilayah Luwu gelar bangsawan diantaranya Aru. Aksara yang berkembang juga di Minahasa dan Seko-Toraja yang juga terjadi di Filipina adalah aksara yang mirip dengan aksara di Kerajaan Aru. Hal itu pula diduga aksen bicara orang Minahasa dan Seko-Toraja mirip aksen pendudukan Padang Lawasa (Kerajaan Aru).

Tunggu deskripsi lengkanya

Wilayah Nusantara Fase-4: Kerajaan Demak, Aceh, Ternate, Pagaroejoeng, Johor

Tunggu deskripsi lengkanya

Wilayah Nusantara Fase-5: Kerajaan Aceh, Ternate, Banten, Mataram, Gowa, Palembang, Banjarmasin, Sisingamangaraja

Tunggu deskripsi lengkanya

Wilayah Nusantara Fase-6: Kerajaan Jogjakarta dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Jawa Tengah dan Tapanuli)

Tunggu deskripsi lengkanya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar