Laman

Sabtu, 28 Agustus 2021

Sejarah Makassar (48): Pangkajene di Pantai Barat Sulawesi Dekat Maros; Pangkajene di Pedalaman Sidenreng Dekat Danau Tempe

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini  

Jangan salah dengan nama Pangkajene! Nama Pangkajene adalah dua kota dengan nama yang sama di provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) ibu kota di Pankajene. Sementara di kabupaten Sidenreng Rappang juga terdapat nama Pangkajene yang menjadi ibu kota kabupaten. Nama tempat dengan nama yang sama sangat lazim pada tempo doeloe, tetapi mengapa nama Pangkajene di wilayah Sulawesi Selatan sama-sama menguat menjadi kota (yang kini menjadi sama-sama ibu kota kabupaten)?.

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (sebelumnya disebut Kabupaten Pangkajene Kepulauan; tetap sama-sama disingkat Pangkep). Ibu kotanya adalah Pangkajene. Pada masa ini kabupaten Pangkep terdiri dari 13 kecamatan yang berada di daratan dan di pulau-pulau. Kecamatan yang terletak pada wilayah daratan: Pangkajene, Balocci, Bungoro, Labakkang, Ma’rang, Segeri, Minasa Te’ne, Tondong Tallasa, dan Mandalle. Di wilayah kepulauan adalah Liukang Tupabiring, Liukang Tupabiring Utara, Liukang Kalmas dan Liukang Tangaya. Penduduk Pangkep di daratan umumnya penutur bahasa Makassar, sedangkan di wilayaran pulau umumnya penutur bahasa Bugis (dialek Pangkep).

Lantas bagaimana sejarah Pangkajene di dekat Maros? Seperti disebut di atas Pangkajene di dekat Maros berbeda dengan Pangkajene pedalaman di Sidenreng dekat danau Tempe. Lalu apakah hubungan keduanya? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

 

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Pangkajene di Dekat Maros

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pulau-Pulau Dekat Pangkajene

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar