Laman

Kamis, 16 September 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (114): Thomas Stamford Raffles, Sejarawan Indonesia? Raffles adalah Letnan Gubernur Jenderal

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Banyak sejarawan Indonesia pada masa lampau era VOC dan era Hindia Belanda. Mereka antara lain Georg Eberhard Rumphius dan Francois Valentijn, Radermacher dan William Marsden. Lantas apakah Letnan Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles seorang sejarawan Indonesia? Bukankah Raffles seorang pejabat tertinggi di Indonesia pada era pendudukan Inggris 1811-1816? Apakah Raffles masih memiliki waktu untuk memahami sejarah ketika posisinya setara presiden?

Sir Thomas Stamford Bingley Raffles lahir di Inggris tanggal 6 Juli 1781. Ayahnya, Kapten Benjamin Raffles, terlibat perdagangan budak di Kepulauan Karibia dan meninggal mendadak ketika Thomas masih berusia 15 tahun, sehingga keluarganya terperangkap di dalam hutang. Ia langsung mulai bekerja sebagai seorang juru tulis di London untuk Perusahaan Hindia Timur Britania, perusahaan dagang setengah-pemerintah yang banyak berperan di dalam penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh Inggris di negara lain. Pada 1805 ia dikirim ke pulau yang kini dikenal sebagai Penang, di negara Malaysia, yang saat itu masih bernama Pulau Pangeran Wales. Itulah awal-mula hubungannya dengan Asia Tenggara. Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa pada tahun 1811, ketika Kerajaan Inggris mengambil alih Jawa dari tangan Kerajaan Belanda. Pendudukan Inggris berakhir tahun 1816.

Siapa sesungguhnya Raffles? Seperti disebut di atas, Raffles pernah menjadi Letnan Gubernur Jenderal di Indonesia (1811-1816). Lalu apakah Thomas Stamford Raffles sorang sejarawan Indonesia? Siapa yang peduli. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Thomas Stamford Raffles: Penang, Semenanjung Malaka

Thomas Stamford Raffles berasal dari keluarga biasa, bukan bangsawan Inggris. Ayahnya diduga hanya seorang pelaut internasional yang telah mencapai kedudukan sebagai kapten kapal. Nama Thomas Stamford (TS) Raffles baru kali pertama diberitakan tahun 1812 sebagai Luitenat Jenderal Inggris di Jawa (lihat Java government gazette, 29-02-1812).  Siapa TS Raffles sebelumnya tidak diketahui secara jelas. Yang jelas, yang berperan penting dalam penduduk Jawa adalah Gubernur Jenderal Lord Minto yang berkedudukan di India (Calcutta). Invasi militer Inggris ke Sumatra berlangsung sejak 1779 dengan memindahkan skuadron Inggris yang bermarkas di Madras direlokasi ke pantai barat Sumatra di Bengkoeloe.

Nama (marga) Raffles tidak diketahui secara jelas darimana, apakah Inggris atau Prancis. Nama Raffles kali pertama diberitakan sebagai bagian dari militer (kerajaan) Prancis dalam ekspansi di Eropa (lihat Nouvelles extraordinaires de divers endroits, 25-03-1760). Pada dekade-dekade oni di berbagai belahan bumi juga tengah bergejolak. Di Jawa, orang-orang Cina melakukan pemberontakan terhafap kekuasaan VOC di Batavia (sejak 1740) dan kegelisahan penduduk Amerika Serikat terhadap kekuasaan Inggris (yang memuncukan perang sejak 1760an (yang berakhir dengan kemerdekaan) Amerika Serikat (1774). Nama Raffles adalah pasukan yang ditakuti di Eropa. Pada tahun 1770 juga diketahui nama Raffles sebagai seorang kapten kapal laut (Caesar) yang melakukan pelayaran dari Jamaica baru tibadi London (lihat Rotterdamse courant, 18-09-1770). Raffles nama kapten kapal ini tampaknya warga Inggris.  

Sebagai Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, nama TS Raffles cepat melejit dan diberitakan dari waktu ke waktu di berbagai surat kabar di Hindia maupun di Eropa. Letnan Gubernur Jenderal Raffles menjadi tangan kanan Gubernur Jenderal Lord Minto di Calcutta. Sebagai catatan, sebelum pendudukan Inggris di Jawa (1811) orang-orang Inggris tidak banyak di Jawa, Pedagang-pedagang Inggris hanya ditemukan di pantai barat Sumatra dan selat Malaka. Tidak adanya hubungan Belanda (sejak VOC) dengan Aceh, menyebabkan posisi Inggris di Sumatra dan Selat Malaka semakin kuat. Orang-orang Inggris sendiri sudah sejak tahun 1775 membentuk koloni di Australia (yang jumlahnya dari waktu ke waktiu semakin banyak).

Dalam posisi ini, Inggris sebenarnya sudah mengepung Belanda (VOC) di pusatnya di Jawa. Saat terjadi invasi, sebelum pendudukan di Jawa 1811, Inggris dengan mudah merangsek ke Borneo dan Sulawesi. Orang-orang Inggris di Sumatra dan Australia jua menjadi faktor penting dalam pendudukan Jawa. Dalam tempo singkat sejak terjadinya invasi praktis VOC hanya tinggal di Jawa dan Maluku dan kemudian sejumlah pedagang VOC hanya bertahan di (wilayah) Ternate. Dalam posisi terkepung ini, sebenarnya Jawa dengan mudah untuk diduduki dan hanya tinggal menunggu waktu saja (pada tahun 1811).

Thomas Stamford Raffles, yang sudah dianggkat menjadi Letnan Gubernur Jenderal. Menariknya, tidak memilih beribukota di Batavia, tetapi lebih memilih di Buitenzorg dan Semarang (tentu saja di Batavia masih sangat banyak orang-orang Belanda, wait en see). Namun tentu saja bukan karena itu (saja) Raffles menghindari Batavia tetapi lebih memilih bagian pedalaman di Buitenzorg dan bagian pantai di Semarang, Sebagaimana diketahui sudah sejak lama terdapat jalur kereta api yang menghubungkan Buitenzorg dengan Semarang melalui Soekaboemi, Bandoeng, Sumedang dan Chirebon. Mengapa Raffles memilih dua tempat itu tetap menjadi misteri hingga ini hari.

Sementara pedagang-pedagang Belanda (sejak VOC) terus bertahan di Ternate (karena tidak bisa dikalahkan Inggrsi, karena pribumi mendukung VOC), dan untuk urusan di luar Jawa, kecuali di pantai barat Sumatra, kota-kota lainnya ditangani oleh para komandan militer seperti di Amboina, Makassae, Bandjarmasin, Palembang dan sebagainya, Letnan Gubernur Jenderal Raffles membagi pulau Jawa ke dalam 16 residentie, yang masing-masing dipimpin oleh Residen. Seperti dirinya, para Residen di Jawa tersebut umumnya dari sipil. Apakah seyakin itu Raffles menangani wilayah Jawa yang padat penduduk? Tampaknya. Iya. Banyak pemimpin penduduk (bupati) yang menerima Inggrsi. Namun ada satu wilayah yang membuat kesulitan Inggris yakni di Residentie Jogjakarta. Apa pasalnya?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pendudukan Inggrsi di Jawa: The History of Java

Pada tahun 1817, dua volume buku berjudul The History of Java terbit di Inggris. Buku ini ditulis oleh Thomas Stamford Raffles, mantan Letnan Gubernur Jenderal di Hindia Timur (Jawa). Buku ini menjadi warisan Raffles di Jawa dan pada saat yang bersamaan di Hindia Belanda, Gubernur Jenderal tengah sibuk melakukan konsolidasi pemerintahan di Hindia Belanda setelah penyerahan dari Inggris tahun 1816. Pada tahun buku ini terbit, di Belanda sebuah penerbit ( di Den Haag) mendapat hak untuk menerbitkan buku The History of Java dalam bahasa Belanda (lihat Nederlandsche staatscourant, 18-07-1817). Buku ini tentu saja dari sudut Belanda dipandang sebagai berkah. Karena akan berguna bagi orang-orang Belanda baik di Belanda maupun di Hindia Belanda. Terbitan bahasa Belanda ini dalam dua volume dengan lampiran peta-peta.

Boleh jadi orang-orang terutama pedagang-pedagang Inggris kecewa berat terutama yang masih berada di Sumatra dengan penyerahan (kembali) Jawa kepada Belanda. Prang-orang Inggrsi meninggalkan Jawa dan bergeser ke Sumatra dan Semenanjung serta Australia. Lalu apakah Raffles seberat itu kecewanya? Sudah barang tentu. Karena istrinya meninggal di Jawa dan dimakamkan di Buitenzorg tahun 1814. Raffles yang single parent di Inggris, tentu masih sedikit bisa tersenyum karena karya besarnya dua jilid sudah selesai dan tengah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Buku inilah yang akan terus abadi menemani istrinya di dalam kubur di Jawa.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar