Laman

Minggu, 19 September 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (120): Frank dan Sumber Data Hoax; Strategi Metode Taktik dalam Pengumpulan Data Penulisan Sejarah

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Apa itu frank? Masyarakat milenial sekarang kerap mendengar kata itu. Dalam pembuatan konten di video (Youtube) sejumlah youtuber melakukan tindakan skenario seorang-olah itu benar-benar secara alamiah terjadi. Ini tentu saja akan masuk ranah delik dat dan informasi dan dapat dikenal sanksi sesuai dengan undang-undang ITE (informasi dan transaksi elektronik). Dalam dunia akademik masalah serupa ini sudah lama dibicarakan yang disebut etik (etik penelitian, etik pers, etik seni dan sebagainya). Hukuman terhadap mereka yang secara sengaja dan sadar melakukan pelanggaran etik (termasuk plagiat) akan terkena hukum adat dunia akademik (jika di lingkuangan kampis, dosen yang melakukan akan diturunkan pangkatnya atau dikeluarkan, mahasiswa dianulir tulisannya dan dapat dikeluarkan).

Frank adalah soal etik tentang soal salah atau benar. Dalam dunia akademik salah adalah bersifat alamiah (tidak sengaja) tetapi dapat diperbaiki. Namu jika frank (sengaja menipu) dalam dunia transaksi elektronik tidak hanya dianjurkan untuk diperbaiki (dihapus dan dimaafkan) tetapi pengenaan hukum terus berjalan. Dalam dunia akademik penekanannya pada kebenaran, kejujuran dan keadilan (veritas, probitas, iustitia) sebagaimana motto yang diusung Universitas Indonesia yang sekarang. Karya-karya seni (sastra) seperti Karl May kita dapat terkecoh bagaimana dia bercerita seakan-akan kita percata dia pernah ke Amerika (Wild West). demikian juga Asmaraman Kho Ping Ho seakan-akan dia pernah ke Tiongkok. Nyatanyas kedua penulis itu tidak pernah sekalipun. Itu sah-sah saja, dan karena bersifat seni (sastra) mereka tidak menyebut sumbernya. Berbeda dengan artikel-artikel pada blog ini yang bersifat sains (akademik) banyak pembaca saya (termasuk diantara mereka wartawan) menyangka saya rajin ke perpustakaan (dalam arti teknis) padahal nyatanya saya tidak pernah ke perpustakaan, apalagi perpustakaan di Belanda. Saya hanya mengumpulkan data melalui internet (baik dalam bentuk peta, teks, foto maupun data digital video termasuk video drone, googlemap. Googleearth). Jadi, intinya dalam dunia informasi bukan terletak pada metode yang diterapkan tetapi pada norma akademik (kode etik). Frank adalah pelanggaran norma dalam pengumpulan data, dan hoax adalah pelanggaran norma dalam penyajian informasi. Dalam dunia penulisan sejarah, harus tetap waspada pada data yang bersumber dari frank dan hoax.

Lantas bagaimana sejarah frank dan hoax? Seperti disebut di atas, dalam membangun informasi sangat tergantung data. Dalam hal ini untuk mencapai kebenaran, kejujuran dan keadilan harus selalu dikedapankan. Data harus diteliti dan diverifikasi. Mengapa begitu? Karena data juga ada yang masuk kategori frank dan kategori hoax. Ketelitian yang dilandasi prinsip kebenaran, kejujuran dan keadilan dalam dunia informasi (termasuk dunia penelitian) harus tetap dijalankan, jika tidak ingin di bully, dianulir dan dihukum. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Frank dan Sumber Data Hoax

Frank, dalam arti konten video Youtube masa kini, juga sebenarnya terdapat dalam bentuk lain apakah teks atau foto/gambar. Frank yang terungkap ke permukaan adalah frank yang menjadi heboh karena sudah menjadi viral. Bagaimana dengan yang tidak/belum viral dan kurang mendapat perhatian, termasuk teks? Vidoe (dan teks) itu akan tersimpan menjadi bagian masa lalu, seiring dengan berjalannya waktu. Frank masa kini akan menjadi frank masa lampau. Nah, dalam konteks inilah, ditemukan frank masa lampau yang kerap dijadikan sebagai sumber data dalam penulisan sejarah.

Frank adalah satu hal, sedangkan hoax adalah hal lain lagi. Sebagaimana frans, hoax juga sudah ada di masa lampau, yang juga kerap dirujuk sebagai sumber data dalam penulisan sejarah. Hoax di masa lampau bermula dari kejadian dimana terjadi persaingan antara satu pihak dengan pihak yang lain, termasuk persaingan militer atau persaingan sesama bangsa Eropa termasuk di Hindia Timur (Hindia Belanda/Indonesia). Tentang sejarah hoax sudah dideskripsikan pada artikel lain dalam blog ini. Namun topik hoax pada artikel ini lebih menekankan pada kesalahan merujuk data dalam penulisan sejarah (yang bersumber dari hoax).

Frank dan hoax pada masa kini sebagai bagian dari sejarah. Namun dalam penulisan narasi sejarah, bukan konten dari frank dan hoax itu yang menjadi perhatian kita, tetapi bagaimana frank dan hoax tersebut dijadikan sebagai sumber data dalam penulisan sejarah. Memang banyak penulis yang tidak menyadari. Namun, frank dan hoax sebagai sumber rujukan data apalagi dalam penulisan sejarah jelas meresahkan. Mengapa? Narasi yang ditulis (yang bersumber dari data masa lampau itu) dikhawatirkan akan dikutip kemudian pada generasi berikutnya. Dan, faktanya itu banyak ditemukan pada narasi sejarah masa kini, tidak hanya tentang soal peristiwa biasa-biasa saja juga kejadian-kejadian penting dan genting.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Strategi dan Taktik Pengumpulan Data dalam Penulisan Sejarah

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar