Laman

Senin, 20 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (305): Pahlawan Nasional Alexander Andries Maramis, Anak Andries Alexander Maramis;Sarjana Hukum

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Seperti nama Ratulangi, nama AA Maramis juga dikenal luas. Sejarah AA Maramis sudah barang tentu telah ditulis. Namun sejarah tetaplah sejarah. Setiap pahlawan Indonesia, sejarahnya haruslah ditulis selengkap mungkin, namun tetap berpedoman pada sejarah sebagai narasi fakta dan data. AA Maramis termasuk yang memiliki sejarah yang lengkap. Sayang tidak ditulis semuanya. Karena itulah sejarah AA Maramis perlu ditulis kembali.

Alexander Andries Maramis atau AA Maramis (20 Juni 1897 – 31 Juli 1977) adalah pejuang kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional. Dia pernah menjadi anggota BPUPKI dan KNIP. Ia juga pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama. Keponakan Maria Walanda Maramis ini menyelesaikan pendidikannya dalam bidang hukum pada tahun 1924 di Belanda. Alexander Andries Maramis lahir di Manado ayah Andries Alexander Maramis (nama pertama dan tengah dibalik) dan ibu Charlotte Ticoalu. Tantenya adalah Pahlawan Nasional Indonesia Maria Walanda Maramis. Alex Maramis belajar di sekolah ELS di Manado, kemudian masuk sekolah HBS di Batavia dan berteman dengan Arnold Mononutu yang juga dari Minahasa dan Achmad Soebardjo. Pada tahun 1919, Maramis berangkat ke Belanda dan belajar hukum di Universitas Leiden. Selama di Leiden, Maramis terlibat dalam organisasi mahasiswa Indische Vereeniging. Pada tahun 1924, ia terpilih sebagai sekretaris perhimpunan tersebut. Maramis lulus dengan gelar Meester in de Rechten (Mr.) pada tahun 1924. Ia kemudian kembali ke Indonesia dan memulai kariernya sebagai pengacara di Pengadilan Negeri di Semarang pada tahun 1925. Setahun kemudian ia pindah ke Pengadilan Negeri di Palembang. (Wikipedia).:

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Nasional AA Maramis? Seperti disebut di atas, AA Maramis berasal dari Minahasa (keponakan dari Maria Walanda Maramis) dan teman baik Arnold Mononutu. Lalu bagaimana sejarah AA Maramis? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Nasional Alexander Andries Maramis, Anak Andries Alexander Maramis: Manado, Batavia, Leiden

Setelah lulus sekolah dasar HBS di Manado, AA Maramis melanjutkan studi ke Batavia di sekolah menengah HBS. Pada tahun 1912 (lihat De expres, 14-05-1912). Disebutkan lulus ujian dari kelas satu ke kelas dua di HBS antara lain AA Maramis. Teman satu kelasnya antara lain R Soewignjo, E Tangkau, W Patiwael, Raden Alisabah Soeriadiningrat, Raden Nagbehi Soewarsi Koesoemo,, Raden Amat Soebardjo, Raden Panoedjoe, Raden Goernita Soebrata, Raden Apiet Sastradiningrat. Pada tahun ini di Bandoeng terjadi agitasi terhadap otoritas pemerintah dimana tiga orang akan diasingkan ke Belanda yakni Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat dan EF Douwes Dekker, Surat kabar De Expres yang terbit di Bandoeng dipimpin oleh EF Douwes Dekker.

Nama (marga) Maramis sudah tersebar di berbagai tempat di Hindia Belanda dengan berbagai profesi dan tingkatannya. AA Maramis diduga adalah anak dari AA Maramis. Nama AA Maramis diketahui pensiun sebagai juru tulis di kantor Residen di Manado tahun 1894 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-12-1894).

Pada tahun 1913 AA Maramis lulus ujian naik dari kelas dua ke kelas tiga (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 13-05-1913). Disebutkan di Prins Hendrik School Afdeeeling H HBS 3 tahun lulus ujian naik ke kelas tiga antara lain AA dan Raden Apiet Sastradiningrat. Tampaknya Soebardjo ditransfer dari KW III Maramis dan Mas Amat Soebardjo. Semua teman-temannya yang disebut di atas ada dalam daftar kecuali Raden Alisabah Soeriadiningrat, Raden Nagbehi Soewarsi Koesoemo, ke PHS. Catatan: Mas Amat Soebardjo lulus ujian masuk di KW III tahun 1911 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-05-1911).

 

Prins Hendrik School (PHS) di Batavia dibuka tahun 1911 yang juga menyelenggarakan pendidikan sekolah umum HBS 3 tahun dan HBS 5 tahun, Siswa yang diterima adalah lulusan sekolah dasar ELS. Dalam hal ini AA Maramis dkk terbilang sebagai angkatan pertama. Sebagaimana kita lihat nanti nama-nama yang lulus dari sekolah ini antara lain (urutan tahun) Mohamad Hatta (lulus 1921 kelak Wakil Presiden RI), Ida Loemongga Nasution (lulus 1921, kelak dokter perempuan pertama Indonesia bergelar doktor/Ph.D tahun 1930 di Univ, Amsterdam), Abdoel Hakim Harahap (Gubernur pertama Sumatra Utara), Anwar Makarim (kakek Nadiem Makarim) dan Soemitro Djojohadikoesoemo (ayah Prabowo Soebianto). Pada tahun 1913 ini, bulan Desember Sorip Tagor Harahap lulus dari Veeartsenschool di Buitenzorg melanjutkan studi ke Utrecht (Dokter hewan pertama Indonesia, lulus di Univ, Utrecht tahun 1920). Sorip Tagor Harahap adalah kakek Risty/Inez Tagor. Pada tahun ini Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, pendiri Indische Vereeniging di Belanda tahun 1908, pulang ke tanah ait bulan Juli dan ditempatkan sebagai guru di ELS Buitenzorg (sudah barang tentu Soetan Casajangan bertemu Sorip Tagor karena sama-sama satu kampong di Padang Sidempoean). Ida Loemongga Nasution dan Abdoel Hakim Harahap juga asal kota Padang Sidempoean.

Oleh karena PHS belum menyelenggarakan HBS 5 tahun, maka siswa-siswa yang ingin melanjutkan ke HBS 5 tahun ditransfer ke sekolah Koning Willem III School (di Batavia). Yang transfer termasuk AA Maramis. Pada tahun 1914 AA Maramis lulus ujian naik dari kelas tiga ke kelas empat di KW III (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-04-1914). Disebutkan di Koning Willem III School lulus ujian dari kelas tiga ke kelas empat antara lain AA Maramis. Dalam daftar ini termasuk diantaranya Mohamad Nazir, Raden Koento, JG Kajadoe, Mas Amat Soebardjo dan Raden Hilman Djajadiningrat.

Yang lulus ujian dari kelas empat ke kelas lima hanya ada satu siswa yang berbama pribumi yakni Raden Mas Soerachman. Setelah lulus RM Soerachman melanjutkan studi ke Univ. Delft teknik kimia. RM Soerachman adalah pribumi pertama yang lulus dari Delft. Sedangkan mahasiswa pertama di univ. tersebut adalah Raden Kartono (abang RA Kartini) tahun 1896 (lulusan HBS V Semarang). Raden Kartono adalah mahasiswa pertama pribumi di Belanda (yang kedua Soetan Casajangan). Ir Soerachman menjadi menteri pada kabinet pertama. Mohamad Nazir juga melanjutkan studi (hukum) ke Belanda dan pernah menjadi ketua Indische Vereeniging (1924-1925). Pribumi pertama lulus di KW III adalah Husein Djajadiningrat (abang Hilman Djajadiningrat dari Banten) yang juga melanjutkan studi ke Belanda pada tahun 1906 (ketua Indische Vereeniging yang kedua). Achmad Soebardjo juga melanjutkan studi ke Belanda (hukum). Achmad Soebardjo juga pernah menjadi ketua Indische Vereeniging.

Setelah ujian AA Maramis sempat pulang kampong ke Manado. Pada bulan Juni sudah kembali ke Batavia  dengan kapal ss Overstraeten dari Manado via Makassar (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-06-1914). Pada tahun 1915 AA Maramis naik ke kelas lima (lihat De Preanger-bode, 24-04-1915). Dalam daftar tidak ada nama Raden Koento dan Kajadoe (tetapi ada nama Raden Mas Jasir).

Pada tahun ini (1915) Dr Soetomo lukusan STOVIA (pendiri organisasi kebangsaan Boedi Oetomo tahun 1908) baru pulan dari Deli bertugas selama 2.5 tahun. Di Batavia Dr Soetomo meminta ketua Boedi Oetomo cabang Batavia, Dr Sardjito untuk diadakan rapat umum. Dr Sardjito setuju. Dalam pertemuan yang dihadiri ratusan anggota, Dr Soetomo berbicara dan meminta perhatian kepada anggota Boedi Oetomo bahwa katanya ‘kita’ tidak bisa lagi sendiri. Di Deli banyak kuli asal Jawa yang menderita karena ordonansi poenalie sanctie, Di luar sana banyak orang pintar-pintar terutama orang Tapanoeli dan Minahasa. Sebagaimana diketahui dalam statuta hanya disebut untuk (penduduk) Jawa dan Madoera. Kuli asal Jawa pertama didatangkan ke Deli tahun 1875. Dr Soetomo menghimbau agar bekerjasama dengan pihak lain. Inilah awal misi nasional muncul di tubuh Boedi Oetomo (tidak lagi sebatas orang Jawa dan Madura). Dr Soertomo dan Dr Sardjito dapat dikatakan yang pertama yang mengusung visi persatuan nasional. Pada tahun 1918 terbentuk Jong Ambon dan Jong Java (yang mana tahun sebelumnya sudah terbentuk Jong Sumatra). Pada tahun 1918 ini seorang krani Parada Harahap membongkar kasus poenalie sacntie dan tulisannya dimuat di surat kabar Benih mardika di medan yang kemudian menjadi heboh di Jawa (Dr Soetomo saat itu sedang bertugas di Palembang dan tentu saja tersenyum, sesuai ramalannya terhadap orang Tapanoeli yang berhaluan nasional). Sebagaimana diketahui di Medan sudah ada organisasi kebangsaan yang diberi nama Sarikat Tapanoeli didirikan tahun 1907 (organisasi kebangsaan pertama didirikan di Padang oleh Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda tahun 1900 yang diberi nama Medan Perdamaian). Seperti kita lihat nanti, pada tahun 1920 di Jong Java cabang Soerabaja, Soekarno (siswa HBS) mengusulkan agar di Jong Java dibolehkan menggunakan bahasa Melayu termasuk di majalah Jong Java (karena di dalam statutanya bahasa resmi adalah bahasa Belanda dan bahasa tidak resmi bahasa Jawa). Soekarno diperingatkan keras oleh pengurus dan hampir dipecat (setelah dinegosiasikan). Cara berpikir Soekarno ini didukung oleh Mohamad Tabrani. Kelak pada tahun 1926 Mohamad Tabrani adalah ketua Kongres Pemuda pertama di Batavia; Dr Sardjito menjadi rektor UGM pertama. Dr Soetomo dan Soekarno tentu sudah dikenal luas.

Akhirnya AA Maramis lulus ujian akhir tepat waktu (sejak dari PHS hingga di KW III) sebagaimana diberitakan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-05-1916. Dalam berita ini disebutkan dari tim pertama (tim D.) lulus ujian akhir Thung Tjeng Hiang, A Prins Winkler, H Rusting, nona PH Boerma, AA Maramis dan PJ Spiuijt. Tujuh kandidat diberikan her dan dua  ditolak (tinggal kelas). Setelah lulus apa yang dilakukan AA Maramis kurang terinformasikan, Apakah memasuki dunia kerja atau mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. Demikian juga tidak terinformasikan Mohamad Nazir dan Mas Amat Soebardjo.

Yang jelas terjadi berita viral pada tahun 1917. Di Ambon diadakan pertemuan umum yang dihadiri 4.000 massa memprotes tidak adanya perwakilan masyarakat Ambon (Maluku) di Volkraad (lihat De locomotief, 07-06-1917). Uniknya dalam pertemuan umum ini diputuskan untuk menunjuk Soetan Casajangan sebagai wakil masyarakat Ambon di Volksraad. Saat itu Soetan Casajangan adalah direktur sekolah guru Kweekschool Ambon. Komite pengusul beralasan Soetan Casajangan telah banyak membantu masyarakat Ambon. Salah satu yang berada di belakang pengusulan ini adalah Dr WH Tehupelory (yang meraih gelar dokter di Belanda tahun 1909 yang juga anggota Indische Vereeniging). Organisasi Hindia Insulinde di Semarang mendukung pengusulan Soetan Casajangan (lihat De locomotief, 08-10-1917). Pada bulan ini diberitakan Soetan Casajangan, direktur Kweekschool Ambon dipromoasikan menjadi asisten dari direktur departemen dalam negeri (BB) di Batavia JH Nieuwenhuljs (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 19-10-1917). Dalam perkembangannya muncul desas-desus dari sebagian mayarakat Ambon yang menolak pengusulan Soetan Casajangan karena bukan orang Ambon (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-11-1917). Meski demikian pemerintah masih tetap membuat nama Soetan Casajangan beralamat di Batavia dalam daftar kandidat (lihat  Sumatra-bode, 13-12-1917). Penolakan itu kemudian menjadi aksi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-01-1918). Saat inilah terbentuk organisasi kepemudaan masyarakat Ambon yang diberi nama Jong Ambon. Tidak lama kemudian diresmikan Jong Java. Pemerintah yang juga disetujui Menteri Koloni menerima penolakan Soetan Casajangan oleh masyarakat Ambon (lihat Het vaderland, 07-02-1918). Lalu muncul kandidat baru Soselisa. Lalu protes berbalik yang ditolak oleh kubu yang mengusung Soetan Casajangan dalam pertemuan massa di Ambon (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-05-1918). Alasannya karena Soselisa tidak kapabel untuk mewakili orang Maluku di Volksraad. Disebutkan Soselisa hanya memiliki beslit ujian klein ambtenaar jika dibandingkan Soetan Casajangan (lulusan Belanda) (lihat De Indier, 30-05-1918 dan Bataviaasch nieuwsblad, 06-06-1918). Namun yang menjadi pertanyaan mengapa tidak muncul nama WH Tehupelory (yang juga lulusan Belanda). Akhirnya Soselisa yang diangkat menjadi anggota Voklsraad. Sementara itu di Batavia dibentuk organisasi kebangsaan Bataksche Bond (lihat De Sumatra post, 15-11-1919). Disebutkan sebuah asosiasi baru didirikan di Batavia dengan nama Bataksche Bond, pengurus terdiri dari ketua Dr Abdoel Rasjid Siregar, wakil ketua: R. St. Casajangan, sekretaris Abdoel Hamid dan Mararie Siregar, bendahara W. Faril L Tobing, Satu berita penting lainnya pada akhir tahun 1919 ini adalah Soetan Casajangan diundang oleh Vereeniging Oost en West (sebelumnya Moederland en Kolonien) di Amsterdam untuk berbicara (presentasi). Soetan Casajangan berangkat bulan Januari (bertepatan dengan cuti panjangnya setelah mengabdi sejak 1913). Aksi reaksi yang terjadi diantara masyarakat Ambon/Maluku tersebut diduga yang menyebabkan dibentuknya organisasi kebangsaan (yang berhaluan nasional) di Semarang pada tahun 1920 yang dipimpin oleh AJ Patty yang diberi nama Sarikat Ambon (sarikat yang mirip saarikat Bataksche Bond, plural dan nasional).

Sehubungan dengan berbagai aktivitas Vereeniging Oost en West, baik di Belanda maupun di Hindia, di Batavia diadakan pertemuan di gedung sekolah guru Kweekschool Goenoeng Sahari yang dipimpin oleh Leberton yang dihadiri oleh berbagai organisasi kebangsaan dan organisasi kepemudaan (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 25-02-1919). Dalam forum ini berbicara sejumlah orang termasuk Dr Sardjito yang membawakan makalah yang intinya tentang persatuan antar suku yang berbeda di Hindia dan membantu siapa saja.

Dokter-dokter di Hindia memiliki organisasi yang disebut Vereeniging van Indische Geneeskundigen yang juga memiliki organ sendiri berupa majalah (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-07-1919). Dalam edisi terbaru terdapat topik Hooger Onderwijs yang dibahas yang disarikan dari Handelingen van den Volksraad dan Vrijzinning Weekblad yang juga menyertakan hasil wawancara dan juga proposal Dr Abdoel Rivai, Schumman et al di Volskraad tentang isu perubahan lembaga pendidikan menjadi lembaga pendidikan universitas. AE Sitsen. direktur sekolah kedokteran NIAS di Soerabaja menyatakan bahwa untuk mencapai universitas kedokteran itu, harus memiliki pelatihan kejuruan medis menengah lebih dahulu. Pendapat ini ditentang dalam artikel oleh Sitsen, Rivai dan A de Waart (direktur STOVIA). Dalam kaitan itu, disebutkan sebuah komite akan dibentuk untuk studi lebih lanjut tentang subjek ini, yang diketuai oleh Kepala Inspektur Layanan Kedokteran Sipil (BGD). Paralel dengan komite itu suatu komite juga dibentuk di Vereeniging van Indische Geneeskundigen yang terdiri dari J Kajadoe di Weltevreden, Abdoel Rasjid Siregar di Batavia dan Raden Soetomo di Palembang. Catatan: Sementara diskusi bidang kedokteran, di pihak lainnya nun jauh di Belanda sedang dirancang pembentukan fakultas teknik (di Bandoeng) yang akan dibuka tahun 1920.

Di tengah semakin intensnya kegiatan Ver. Oost en West dan gonjang-ganjing tentang perguruan tinggi kedokteran, tiga lulusan KW III berangkat secara terpisah menuju Belanda. Mas Amat Soebardjo berangkat dengan kapal ss Sindoro tanggal 22 Mei dari Batavia dengan tujuan akhir Rotterdam (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-05-1919). Sedangkan AA Maramis dan [Mohamad] Nazir [Datoek] Pamoentjak dengan kapal ss Willis dari Padang tanggal 30 Mei (lihat Sumatra-bode, 27-05-1919). Hanya mereka bertiga di dua kapal itu nama pribumi. Keberangkatan mereka bertiga ke Belanda diduga kuat untuk melanjutkan studi. Lalu yang menjadi pertanyaan apa yang mereka lakukan bertiga sejak lulus HBS bulan Mei 1916 (bukankah itu waktu yang cukup lama?).

Sementara itu, Dr Sardjito masih tetap bertugas di Batavia. Sedangkan Dr Soetomo sepulang dari Deli, ditempatkan ke Ngawi dan kemudian ditempatkan ke Palembang (hingga sekarang). Namun dalam perkembangannya, pada tahun ini tiga dokter lulusan STOVIA yang telah bekerja pada pemerintah akan melanjutkan studi kedokteran ke Belanda. Mareka bertiga adalah Dr Sardjito (Batavia). Dr Soetomo (Palembang) dan Dr Mohamad Sjaaf (Medan). Catatan: lulusan STOVIA disebut Indisch Arts (hanya berlaku di Hindia), sedangkan lulusan di Belanda dengan gelar Arts (setara Eropa/Belanda). Pada tahun ini (1919) di Belanda Dr Sarwono berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) bidang medis.

Kapal yang membawa AA Maramis dan Mohamad Nazir akan merapat pada tanggal 3 Juli di pelabuhan Rotterdam (lihat De Maasbode, 08-07-1919). Siapa yang menjemput mereka? Tentu saja para anggota Indische Vereeniging. Itulah fungsi utama bagi calon mahasiswa pendatang baru. Soetan Casajangan pada tahun 1905 pernah menulis artikel di majalah Bintang Hindia yang beredar luas di Hindia, yang intinya salah satu fungsi orang Indonesia di Belanda adalah menyambut kehadiran calon mahasiswa baru dan memberi informasi bagi siswa-siswa yang masih duduk di sekolah tentang sekolah-sekolah yang dapat dipilih di Belanda serta tip persiapan selama di tanah air dan selama perjalanan serta selama studi di Belanda. Hal itulah mengapa nama Soetan Casajangan selalu diingat oleh para anggota Indische Vereeniging. Soetan Casajangan tidak hanya memelopori siswa-siswa pribumi di Hindia untuk studi di Belanda, juga Soetan Casajangan yang memelopori didirikannya organisasi mahasiswa Indische Vereeniging (bahkan hingga ini hari masih eksis dengan nama Perhimpunan Indonesia).

Raden Kartono tidak pernah sampai memikirkan hal yang detail serupa ini. Soetan Casajangan adalah seorang guru yang melanjutkan studi ke Belanda pada tahun 1905. Saat itu mahasiswa Indonesia masih satu orang, yakni Raden Kartono. Kegadiran Soetan Casajangan menjadi orang kedua. Raden Kartono lulusan HBS Semarang tahun 1896 pada tahun ini sudah tiba di Belanda. Tidak lama setelah kehadiran Soetan Casajangan dan artikelnya di majalah Bintang Hindia tahun 1905, dalam waktu singkat (tiga tahun) pada tahun 1908 ketika Soetan Casajangan membentuk organisasi mahasiswa di Belanda jumlah mahasiswa sudah sekitar 20an orang. Saat AA Maramis tiba di Belanda tahun 1919, jumlah mahasiswa Indonesia sudah ada 100an orang. Setelah kembali ke tanah air bulan Juli 1913, Soetan Casajangan pada awal Januari akan kembali ke Belanda untuk memenuhi undangan Vereeniging Oost en West untuk berpidato (suatu undangan yang pernah diterimanya pada tahuhn 1911, saat Soetann Casajangan lulus dan mendapat gelar sarjana pendidikan). Seperti kita lihat nanti, Soetan Casajangan berangkat dari Batavia tanggal 14 Februari 1920 dengan kapal ss Patria (lihat Sumatra-bode, 12-02-1920).  

AA Maramis di Belanda tidak terinformasikan apa yang tengah dilakukan, apakah sudah langsung masuk kuliah atau sedang mempersiapkan diri untuk memasuki universitas. Berita yang ada adalah Dr Soetomo dan Dr Mohamad Sjaaf berangkat ke Belanda dengan kapal ss Rindjani tanggal 15 November (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-11-1919). Dalam manifes kapal tercatat keduanya sama-sama membawa istri. Bagaimana Mas Amat Soebardjo juga tidak terinformasikan. Yang jelas pada bulan April 1920 diketahui bahwa Mas Amat Soebardjo sudah menjadi ketua Indische Vereeniging (lihat Sumatra-bode, 08-06-1920).

Disebutkan hari Sabtu, 17 April di Den Haag diadakan pertemuan umum di Indische Vereeniging. Ketua, Mas Soebardjo membuka pertemuan. Berdasarkan majalah Kolonial Weekblad, Mr Z Stokvis memberikan kuliah (presentasi umum). Mr Stokvis menyatakan bahwa Iindische Vereeniging bersimpati padanya, Mr Stokvis adalah Direktur Urusan Pribumi di Hindia. Mr Stokvis membahas topik pendidik dan kerjasama. Soetan Casajangan dalam pertemuan turut hadir. Soetan Casajangan berpendapat bahwa bahasa Belanda masih tetap diperlukan selama itu diperlukan untuk menggantikan bahasa Belanda dengan bahasa Melayu. Sepuluh tahun yang lalu saya dan Noto Soeroto telah menulis itu yang dimuat pada surat kabar Nieuw Rotterdam Courant. Lebih lanjut dikatakan Soetan Casajangan bahwa ini adalah pertanyaan terbuka apakah orang pribumi yang terceragkan di sini (Belanda, red) tidak mengasingkan diri dari Hindia? Yang lalu dijawabnya bahwa seseorang yang merasa dirinya berada di tempatnya, ia kembali kesana (Hindia, red). Dalam pertemuan ini juga hadir Dahlan Abdoellah (ketua Indische Vereeniging sebelumnya) mengomentasi Stokvis bahwa dia mengakui bahwa terlalu sedikit pekerjaan yang telah dilakukan (dengan bahasa Belanda bagi pribumi), tetapi perbaikan telah terjadi. Namun, apakah orang Hindia itu cukup dipercaya? Pendidikan di Hindia sedang didorong ke pihak Belanda. Mr Stokvis menjawab dan berpendapat bahwa ini soal bagaimana memajukan apa yang disebut mengajar. Pendidikan hanya berjalan kesana ke arah Belanda dimana bahasa Belanda adalah bahasa resmi, sebaliknya di Hindia bukan bahasa Belanda. Saat ini tidak ada perbedaan antara calon mahasiswa Belanda dan Hindia. Tapi sejauh menyangkut mahasiswa bagi Stokvis tempat pertama adalah belajar, setelah itu [Anda] bebas di bidang politik. Terakhir, pada kesempatan itu, Stokvis menjelaskan bahasa dan berpendapat bahwa bahasa di Hindia dapat digunakan untuk tujuan ini, karena bahasa menyesuaikan dengan kebutuhan.

Bagaimana Mas Amat Soebardjo menjadi ketua Indische Vereeniging tentulah sesuatu yang luar biasa. Bukankah Mas Soebardjo masih mahasiswa junior di Belanda. Bandingkan dengan Dahlan Abdoelah yang datang ke Belanda tahun 1913 bersama Sorip Tagor Harahap (yang mana tahun ini Sorip Tagor telah menyelesaikan studi dan mendapat gelar sarjana kedokteran hewan/setara Eropa/Belanda). Boleh jadi ini suatu regenerasi bahwa yang muda yang mengurus rumahtangga Indische Vereeniging. Namun biasanya, sejak era Soetan Casajangan yang menjadi pengurus adalah mahasiswa yang bersedia sukarela dan bisa membagi waktu antara organisasi dan studi. Hal ini sebenarnya bukan hal baru, Pada saat pembentukan Indische Vereeniging tahun 1908 yang mana sebagai ketua Soetan Casajangan yang menjadi sekretaris adalah Raden Soemitro (lulus HBS Semarang yang baru tahun itu tiba di Belanda). Lalu, bagaimana studi Mas Soebardjo, apakah dia sudah kuliah dan di fakultas dan universitas mana? Yang jelas AA Maramis baru bulan-bulan ini lulus ujian persyaratan masuk universitas (lihat Nederlandsche staatscourant, 20-10-1920).

Disebutkan dalam berita itu sertifikat kompetensi untuk belajar di universitas pada fakultas kedokteran dan matematika dan fisika diberikan antara lain AA Maramis. Dalam daftar ini tidak ada nama Soebardjo dan Mohamad Nazir, yang ada adalah nama-nama Belanda dan Cina. Sementara itu, Dr Soetomo dan Dr Mohamad Sjaaf yang datang langsung kuliah (lihat Algemeen Handelsblad, 20-11-1920). Disebutkan Raden Soetomo dan Mohamad Sjaaf lulus ujian medis pertama di Universiteit Amsterdam. Sedangkan Dr. Sardjito diketahui dengan kapal ssGoentoer berangkat dari Tandjoeng Priok tanggal 8 Desember 1920 dengan tujuan akhir Rotterdam (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-12-1920).

Pada tahun 1920 ini AA Maramis sudah mendapatkan sertifikat masuk universitas pada bidang (fakultas IPA) kedokteran, matematika dan fisika. Ini mengindikasikan AA Maramis akan memasuki sekolah-sekolah IPA seperti kedokteran, kedokteran hewan, pertanian dan teknik. Ujian sertifikat ini hanya ditujukan kepada calon mahasiswa dari luar Belanda seperti Hindia dan Suraame (semacam ujian persamaan) yang akan memilih uiversitas negeri. Seperti disebutkan di atas, pada saat pertemuan yang diadakan di Indische Vereeniging, Mr Stokvis menyatakan bahwa saat ini calon mahasiswa Belanda dan calon mahasiswa Hindia diperlakukan sama dan memang terbukti dapat diraih oleh calon mahasiswa Hindia seperti AA Maramis tersebut.

Dalam pertemuan Indische Vereeniging juga dihadiri oleh Soetan Casajangan. Soetan Casajangan yang diundang Vereeniging Oost en West akan berpidato. Ini mengindikasikan bahwa Soetan Casajangan di Belanda masih dianggap tokoh terpenting di Indische Vereeniging. Soetan Casajangan berpidato di hadapan para anggota organisasi ahli dan peminat Hindia tersebut pada tanggal 28 Oktober 1920 dengan makalah 19 halaman yang berjudul :'De associatie-gedachte in de Nederlandsche koloniale politiek (modernisasi dalam politik kolonial Belanda). Dalam forum yang diadakan di Amsterdam itu juga dihadiri oleh Sultan Yogyakarta. Soetan Casajangan tetap dengan percaya diri untuk membawakan makalahnya. Berikut beberapa petikan isi pidatonya:

 

Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).

 

    ....saya berterimakasih kepada Mr. van Rossum, ketua organisasi...yang mengundang dan memberikan kesempatan kembali kepada saya...di hadapan forum ini....pada bulan 28 Maret 1911 (sekitar sepuluh tahun lalu)...saya diberi kesempatan berpidato karena saya dianggap sebagai pelopor pendidikan bagi pribumi...ketika itu saya menekankan perlunya peningkatan pendidikan bagi bangsa saya...(terhadap pidato itu) untungnya orang-orang di negeri Belanda yang respek terhadap pendidikan akhirnya datang ke negeri saya..dan memenuhi kebutuhan pendidikan (yang sangat diperlukan bangsa) pribumi. Gubernur Jenderal dan Direktur Pendidikan telah bekerja keras untuk merealisasikannya..yang membuat ribuan desa dan ratusan sekolah telah membawa perbaikan..termasuk konversi sekolah rakyat menjadi sekolah yang mirip (setaraf) dengan sekolah-sekolah untuk orang Eropa..

 

    Sekarang saya ingin berbicara dengan cara yang saya lakukan pada tahun 1911...saya sekarang sebagai penafsir dari keinginan bangsaku..politik etis sudah usang..kami tidak ingin hanya sekadar sedekah (politik etik) dalam pendidikan...tetapi kesetaraan antara coklat dan putih...saya menyadari ini tidak semua menyetujuinya baik oleh bangsa Belanda, bahkan sebagian oleh bangsa saya sendiri...mereka terutama pengusaha paling takut dengan usul kebijakan baru ini...karena dapat merugikan kepentingannya..perlu diingat para intelektual kami tidak bisa tanpa dukungan intelektual bangsa Belanda..organisasi ini saya harap dapat menjembatani perlunya kebijakan baru pendidikan. saya sangat senang hati Vereeniging Moederland en Kolonien dapat mengupayakannya...karena anggota organisasi ini lebih baik tingkat pemahamannya jika dibandingkan dengan Dewan..’.

 

Sebagai kilas balik pidato Soetan Casajangan pada tahun 1911 yang dapat dibaca dalam makalahnya. Saat itu (1911) baru lulus sarjana pendidikan di Belanda. Jadi dalam hal ini Soetan Casajangan konsisten dari masa ke masa untuk memajukan pendidikan pribumi. Dalam forum yang diadakan pada tahun 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya.

 

Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).

 

    ..saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi).

Last but not least. Bagaimana dengan Mohamad Nazir dan Mas Soebardjo. Keduanya baru mendapat sertifikat masuk perguruan tinggi setahun setelah AA Maramis memperolehnya (lihat De Maasbode, 21-07-1921). Disebutkan Ujian Masuk Universitas Negeri di Utrecht 20 Juli. Sebanyak 12 calon fakultas teologi, dll dan 12 calon fakultas kedokteran, dll. Yang lulus diploma B antara lain MN Datoek Pamoentjak dan A Soebardjo, 

Masa kepengurusan Mas Amat Soebardjo berakhir. Pada tahun 1921 ini yang menjadi ketua adalah Dr Soetomo (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant,  28-06-1921). Disebutkan R Soetomo sebagai ketua dan Mohamad Sjaaf sebagai sekretaris Indische Vereeniging. Mas Amat Soebardjo lulus ujian kandidat pada tahun 1922 (lihat Haagsche courant, 24-10-1922). Lantas bagaimana dengan Mohamad Nazir? Mohamad Nazir pada tahun ini disebut lulus ujian kandidat (lihat De Preanger-bode, 22-01-1923). Dalam rekapitulasi kelulusan tahun 1922 ini juga dinyatakan Dr Sardjito lulus ujian arts.

AA Maramis diduga kuat diterima di unversiteit pada tahun 1920, Pada tahun 1925 AA Maramis lulus ujian doktoral (lihat Arnhemsche courant, 20-06-1924). Disebutkan di Universiteit te Leiden, lulus ujian doktoral (Mr) AA Maramis. AA Maramis kembali ke tanah air.

Mohamad Nazir hingga tahun 1928 masih disebut mahasiswa. Demikian juga dengan Achmad Soebardjo (sebelumnya Mas Amat Soebardjo). Mereka ini teta tergabung dalam kepengurusan Mohamad Hatta di PI dalam perjuangan yang menjalin hubungan dengan organisasi internasional. Pada tahun 1929 Achmad Soebaedjo alias Abdoel Manaf masih di Belanda tetapi sudah disebut gelar Mr.

Di tanah air Mr AA Maramis diizinkan pemerintah menjadi advocaat en procureur di wilayah kerja Raad van Justitie di Semarang (lihat De locomotief, 16-02-1925).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Mr AA Maramis: Menteri pada era Perang Kemerdekaan Indonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar