Laman

Jumat, 24 Desember 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (313): Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Andi Azis; Belanda Mengakui Kedaulatan Indonesia 27-12-1949

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam sejarah Indonesia banyak individu baik sipil maupun piliter mengalami pasang surut, termasuk yang dialami oleh pemuda Andi Azis. Banyak yang memulai karir militer seperti KNIL (Belanda) dan Peta (Jepang). Namun perjalanan karir militer Andi Azis harus berakhir di kampongnya sendiri di Makassar. Pasalnya memberontak pada institusinya sendiri, APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). Apakah Andi Azis, pahlawan Belanda?

Andi Abdul Azis (19 September 1924 – 11 Januari 1984) adalah seorang tentara semopat masuk TNI. Andi Azis seorang Bugis di Sulawesi Selatan, pada tahun 1930-an dibawa seorang pensiunan Asisten Residen ke Belanda dan tahun 1935 memasuki Leger School, tamat tahun 1938 lalu meneruskan ke Lyceum sampai tahun 1944. Andi Azis masuk Koninklijk Leger dan berada di pihak Belanda pada masa pendudukan militer Jerman (Nazi). Andi Azis kemudian pindah ke Inggris dan mengikuti pelatihan pasukan komando. Pada tahun 1945 mengikuti skolah calon Bintara di Inggris dan menjadi sersan kadet yang kemudian dikirim ke Colombo dan Calcutta dengan pangkat Sersan. Setelah Jepang menyerah Andi Azis sebagai komandan regu dikirim ke Jawa mendarat di Djakarta tanggal 19 Januari 1946 dan ditempatkan di Cilincing. Pada tahun 1947 mendapat kesempatan cuti panjang ke Makassar dan mengakhiri dinas militer tetapi kemudian kembali lagi ke Djakarta masuk kepolisian tetapi pertengahan 1947 dipanggil lagi masuk KNIL dan diberi pangkat Letnan Dua yang selanjutnya menjadi Ajudan Senior, Sukowati (Presiden NIT). Pada tahun 1948 Andi Azis dikirim lagi ke Makassar dan diangkat sebagai Komandan kompi dengan pangkat Letnan Satu dengan 125 orang anak buahnya (KNIL) dan kemudian masuk TNI. Dalam susunan TNI (APRIS) dinaikkan pangkatnya menjadi kapten dan tetap memegang kompinya tanpa banyak mengalami perubahan. Pasukan Andi Azis akhirnya ikut memberontak di dalam tubuh APRIS di Makassar selama bulan April sampai Agustus 1950. Andi Aziz dalam sidang militer tahun 1953, saksi mantan Presiden NIT Sukawati dan Let.Kol Mokoginta tidak meringankan yang akhirnya dihukum penjara 14 tahun (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Andi Azis? Seperti disebut di atas, Andi Azis memulai karir di militer yang bermula di Belanda yang kemudian situasi dan kondisi membawanya kembali ke kampong halaman di Makassar, Apa yang membuat karirnya harus berhenti di Makassar? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Andi Azis: Era Perang Kemerdekaan Indonesia hingga Era Pengakuan Kedaulatan Indonesia

Wilayah Indonesia begitu luas, situasi dan kondisi di setiap wilayah berbeda-beda. Gambaran itulah yang terjadi pada saat Ir Soekarno memproklamirkan kemerdekaan seluruh bangsa Indoesia pada tanggal 17 Agustus 1945.  Proklamasi diadakan tiga hari setelah Kerajaan Jepang mengumumkan menyerah kepada Sekutu (yang dipimpin Amerika Serikat).

Yang dimaksud seluruh bangsa Indonesia, adalah wilayah yang diduduki oleh meliter Jepang (pemerintan pendudukan militer Jepang) setelah Pemerintah Hindia Belanda menyerah. Dengan kata lain wilayah Indonesia yang diperjuangkan oleh para revolusioner Indonesia sejak tahun 1928 (Kongres PPPKI dan Kongres Pemuda) adalah wilayah nusantara yang telah secara definitif menjadi bagian wilayah yurisdiksi Pemerintah Hindia Belanda. Batas-batasnya sudah begitu jelas, itu berarti mulai dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote.

Setelah proklamasi, pada saat pembentukan pemerintahan ditunjuk dan diangkat sejumlah gubernur: Sumatra, wilayah Jawa dibagi tiga, Kalimantan (minus Borneo Utara, Sulawesi, Maluku –Papua (bagian barat) dan Soenda Ketjil minus timor Portugis. Gubernur di Sulawesi adalah Sam Ratulangi dan Gubernur Maluku-Papau Latuharhary.

Saat itu banyak hal/masalah yang belum jelas. Orang-orang Jepang wait en see’ para interniran Eropa/Belanda masih di penjara dan kamp konsentrasi dan belum terinformasikanya kemerdekaan dan bentuk pemerintahan Republik Indonesia. Dua hal yang pertama menjadi alasan Sekutu/Inggris memasuki wilayah Indonesia yang telah diproklamirkan. Namun persoalan berikutnya muncul, Kerajaan Belanda ingin memngambilalih kembali wilayah Indonesia (eks Hindia Belanda) dengan berbagai negosiasi dengan Inggris yang kemudian melakukan konsolidasi dan masuk ke wilayah Indonesia tepat berada di belakanga

Sekutu?inggris yang melakukan tugas melucuti dan mengevakuasi militer Jepang dan pemulihan para interniran Eropa/Belanda. Baik terhadap Sekutu/Inggris dan NICA/Belanda muncul perlawanan  (yang menjadi awal perang kemerdekaan). Perlawanan dengan mudah dipatahkan Sekutu?Inggris yang telah mendelegasikan kepada Australia untuk wilayah Indonesia Timur (Groote Oost). Sementara perlawanan masih kuat di Jawa dan Sumatra, NICA/Belanda mulai menginisiasi pembentukan pemerintahan di wilayah Groote Oost yang didahului dengan diadakan Konferensi Denpasar (18-24 Desember 1946), yang yang dalam konferensi tersebut dibentuk Negara Indonesia Timur (NIT) yang mana dipilih sebagai kepala negara Tjokorda Gde Raka Soekawati. Idem dito Negara-negara berikutnya terbentuk seperti Negara Pasoendan, Negara Jawa Timur, Negara Sumatra Timur dan Negara Sumatra Selatan.  

Keputusan Konferensi Denpasar telah mengabaikan isi proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, memandulkan tugas dan fungsi tiga gubenur yang telah ditunjuk dan diangkat serta memberi peluang bagi masyarakat Indonesia Timur untuk menekan dan melemahkan para pejuang di wilayah tersebut. Konferensi Denpasar ini juga tidak peduli lagi dengan perjuangan rekan sebangsa, para Republiken (Republik Indonesia) di Jawa dan Sumatra. Dalam fase ini, satu masa, di Negara Indonesia Timur pada Kabinet Ide Anak Agung Gde Agung (15 Desember 1947-12 Januari 1949) sempat ada sedikit dukungan pada Republik Indonesia. Kabinet ini mengundurkan diri sebagai protes terhadap Belanda/NICA atas terjadinya agresi militer kedua (jatuhnya ibu kota RI  Jogjakarta). Meski demikian, NIT show must go on.

Perundingan Roem Royen (April 1949) menghendaki adanya gencatan senjata yang kemudian dilanjutkan ke perundingan KMB di Den Haag. Dalam hubungan ini ibu kota RI di Jogjakarta dipulihan dengan mengembalikan pemimpin pemerintah RI dari pengasingan. Lalu hasil KMB mengakuai kedaulatan Indonesia sebagai RIS dalam wujud eksistensi negara-negara federal seperti NIT. Sebagai Presiden RIS adalah Ir Soekarno dan sebagai Perdana Menteri RIS Drs Mohamad Hatta. Pengakuan tersebut berlaku sejak tanggal 27 Desember 1949. Ibu kota RIS di Djakarta.

Sebagai bagian dari RIS, Republik Indonesia (minus negara-negara federal) membentuk pemerintahan dengan ibu kota di Djogjakarta. Mr Assaar sebagai Presiden, Dr Abdoel Halim sebagai Perdana Menteri dan Abdoel Hakim Harahap sebagai Wakil Perdana Menteri. Pemerintahan RI ini membentyuk kabinet baru yang terdiri dari sejumlah menteri.

Dalam hal ini para Republiken (pengusung NKRI) masih cukup kuat dan begerdak dengan gardan dua, yakni selain pemerintahan RI di Jogjakarta, juga di pemerintahan pusat (RIS) dan bahkan di berbagai negara federal masih banyak Republiken bahkan di Indonesia Timur seperi di Makassar. Pada fase inilah kehadiran Andi Azis di Indonesia.

Sebagai tentara, Andi Azis tiba di Indonesia dan mendarat di Djakarta tanggal 19 Januari 1946 (saat itu Belanda/NICA telah menguaasai Djakarta dan ibu kota RI sejak 1 Januari telah dipindahkan ke Jogjakarta. Setelah terbentuknya NIT. pada tahun 1947 Andi Azis pulang ke kampong di Makassar dan mengakhiri dinas militer tetapi kemudian kembali lagi ke Djakarta masuk kepolisian tetapi pertengahan 1947 dipanggil lagi masuk KNIL dan diberi pangkat Letnan Dua sehubungan dengan dilaksanakannya agresi militer Belandsa/NICA yang dimulai tanggal 21 Juli 1947. Selepas masa agresi militer ini, Letnan Andi Azis ditempatkan di ibu kota NIT di Makassar sebagai Ajudan Senior, Sukowati (Presiden NIT). Dalam perkembangannya Andi Azis pada tahun 1948 ke Makasar dan diangkat sebagai Komandan kompi dengan pangkat Letnan Satu dengan 125 orang anak buahnya (KNIL).

Pada permulaan RIS (Presiden Ir Soekarno dan PM Drs Mohamad Hatta) dibentuk Angkatan Perang RIS (APRIS) dengan Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP) Jenderal TB Simatoepang dan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Mayor Jenderal Abdoel Haris Nasution. Dalam hal ini APRIS terdiri dari KNIL dan TNI. Para tentara pribumi di KNIL di berbagai daerah terutama di negara-negara federal di-TNI-kan termasuk Andi Azis dan anggota pasukannya di Makassar dengan mendapat kenaikan pangkat dimana Andi Azis sendiri menjadi Kapten TNI.

Belum lama terbentuk RIS, TNI terbilang baru selesai konsolidasi, sejumlah negara-negara federal mengalami ‘masuk angin’. Para pemimpin negara-negara ferderal di Jawa menyatakan bergabung dengan RI (berpusat di Djogjakarta) dan kemudian membubarkan negaranya. Yang lebih seru di Negara Sumatra Timur demonstrasi anti negara federal muncul yang lalu kemudian dilakukan referendum pada bulan April yang kemudian hasilnmya dimenangkan oleh para Republiken . Akibatnya Negara Sumatra Timur dibubarkan dan kembali ke NKRI. Praktis hanya tinggal Negara Indonesia Timur yang eksis sebagai negara federal.

Pada saat negara-negara federal di dalam RIS satu per satu bergabung dengan NKRI dan hanya tinggal Negara Indonesia Timur maka pendukung negara federalis di NIT (termasuk TNI eks KNIL) mulai gelisah. Sementara para pendukung NKRI di NIT terus menjalin kontak dengan Pemerinrtah RI di Djogjakarta. Saat inilah Kapten Andi Azis dengan pasukannya yang didukung beberapa menteri di kabinet NIT melakukan pemberontakan di Makassar yang bertujuan untuk mempertahankan NIT sebagai negara yang lepas dari NKRI (lihat Het Parool, 05-04-1950). Gerakan yang serupa juga muncul di Ambon, tidak untuk mempertahan NIT, tetapi membentuk negara sendiri yang disebut Republik Maluku Selatan (RMS).

Het Parool, 05-04-1950: ‘MESIN GUN SALVOS BREAKING SILENCE. Pemberontak Makassar menduduki kota yang juga meliputi pelabuhan dan pemancar radio. Aksi terhadap upaya pembubaran Indonesia Timur sebagai negara, ibu kota di Makassar, telah diambil sepenuhnya oleh tentara pemberontak. Komandan pasukan ini, seorang Indonesia berusia 26 tahun, menyatakan bahwa anak buahnya tidak lagi menjadi anggota KNIL dan telah berjuang untuk mempertahankan Indonesia bagian timur sebagai negara merdeka. Mereka menentang upaya pencaplokan Indonesia Timur ke Republik di Djokja. Seorang juru bicara tentara Indonesia (TNI) di Jakarta menyatakan harapan bahwa perselisihan dapat diselesaikan melalui negosiasi. Para pemberontak menangkap komandan RIS Letnan Kolonel Mokoginta dan 140 tentara meliputi perwira dan anak buahnya, merebut pintu masuk ke area pelabuhan dan beberapa kementerian dan memasuki stasiun radio. Aksi itu terjadi hanya empat puluh lima menit sebelum sembilan ratus orang tentara Indonesia (TNI) yang dibawa dengan kapal, akan tiba di Makassar. Pemberontakan ini merupakan puncak dari serangkaian insiden antara pendukung negara kesatuan Indonesia (NKRI) dan mereka yang ingin Indonesia timur dipertahankan sebagai negara otonom di dalam Indonesia Serikat (RIS). Pemerintah pusat di Jakarta telah memutuskan untuk mengirim 900 orang mantan anggota TNI ke Indonesia bagian timur meskipun ada saran yang tidak menguntungkan dari pemerintah negara bagian. Anggota kabinet (NIT) di Makassar kemudian menyatakan secara terbuka: ‘Kami akan menendang mereka ke laut segera setelah mereka berani mendarat’, lapor AP. Sementara itu, markas besar tentara Belanda di Jakarta (KNIL)telah melaporkan: ‘Pemberontakan telah pecah di Makassar. Pihak Belanda melakukan segala kemungkinan untuk mencegah pasukan di bawah komando Belanda ‘terlibat’. Sebagian besar pasukan Belanda telah meninggalkan Indonesia Timur, tetapi beberapa perwira memimpin divisi dari KNIL. Waikelo dan Bontekoe, dua kapal yang akan menurunkan sembilan ratus pasukan, belum berusaha memasuki pelabuhan. Para pemberontak 'diperintahkan oleh. Kapten Andi Abdul Azis, mantan sersan KNIL, yang juga bertugas dalam perang dengan pasukan udara Inggris, 'setan merah'. Azis mengatakan setelah tindakan pertama: 'Kami harus bertindak untuk mencegah pasukan Republik dari Djokja (TNI) datang ke Indonesia bagian timur (NIT). Jika mereka sampai disini, akan ada gangguan. Kami ingin mencegahnya’. Force majeure besar terjadi hari masih gelap ketika para pemberontak yang mengenakan seragam hijau semak diam-diam menduduki posisi mereka dan menembakkan salvo pertama ke udara di atas markas pasukan di tengah tempat itu. Penjaga membalas tembakan, tetapi perlawanan sia-sia karena penyerang melebihi jumlah mereka. Sepuluh orang dikabarkan tewas. Komandan Belanda, Kolonel Schotborgh yang dibangunkan oleh penembakan itu dan kemudian mengikuti jalannya pertempuran, berdiri dengan piyama di depan rumahnya. Ketika ditanya apa yang terjadi, dia berkata: ‘Saya tidak tahu apa-apa, mereka tidak memberi tahu saya’. Beberapa jam setelah dimulainya aksi, para pemberontak menerima bantuan dari setidaknya delapan ratus tentara pribumi KNIL, yang mengumumkan bahwa mereka sekarang bagian dari tentara Indonesia Timur. Parlemen Indonesia Timur sedang rapat dalam sidang darurat. Menurut laporan kemudian, semua koneksi dengan dunia luar terputus setelah pemberontak menduduki kantor telegraf selain stasiun radio. Sebelumnya dilaporkan bahwa penembakan telah berakhir dan bahwa jalan-jalan dipatroli oleh pemberontak. Jelas, menurut Aneta, bahwa KNIL berada di luar aksi, meskipun seragam penyerang dan penggunaan mobil militer memberi kesan yang berbeda, sebagian besar pemberontak mengenakan ban lengan merah dan putih. Markas dan barak KNIL ditempatkan di bawah pengawasan ketat. Hubungan antara Indonesia bagian timur (NIT) dan Jakarta (RIS) telah memburuk akhir-akhir ini. Banyak orang di Indonesia Timur sangat kritis terhadap sikap Jakarta terhadap penghapusan negara bagian. Pemerintah Indonesia Timur tidak berhasil menolak pengiriman pasukan federal ke Makassar. Diasumsikan bahwa setelah kedatangan militer, Djokja akan menuntut dengan kekuatan yang lebih besar agar Indonesia Timur dibubarkan sebagai sebuah negara federal. Negara Indonesia Timur (NIT) dibentuk pada bulan Desember 1946. Ini terdiri dari lima belas daerah otonom. Populasi diperkirakan sebelas juta. Secara ekonomi, daerah tersebut (NIT) 83 persen bergantung pada kopra’.

Apa yang bisa dibaca pada berita yang dikutip diatas, Kapten Andi Azis telah melakukan tindakan yang serius. Mungkin diantara masyarakat NIT terbelah, tetapi bagi pemerintah pusat di Batvia (RIS) dan pemerintah di Djogjakarta (RI) adalah tindakan yang tidak dapat diampuni meski ada kesan terselubung ‘akan dinegosiasikan’. Kapten Andi Azis menjadi dalam posisi sulit, kerana secara resmi Belanda (KNIL) tidak terlibat dan akan mencegas keterlibatan KNIL. Namun tentu saja kendali atas KNIL hanya pada tentara yang berasal dari Belanda, tidak pada tentara pribumi yang tetap sebagai KNIL (atau KNIL yang sempat menjadi TNI). Penangkapan terhadap komandan RIS Letnan Kolonel Mokoginta dan terbunuhnya 10 tentara (yang notabene RIS/TNI) mutlak tidak diterima TNI (yang secara defacto telah secara bertahap menggantikan posisi KNIL di wilayah-wilayah federal).

Apakah Kapten Andi Azis salah perhitungan? Tentu saja tidak, karena besar dugaan di belakang Kapten Andi Azis berada oknum Belanda mewakili kepentingan Belanda. Salah satu anggota kabinet NIT telah nyata berseberangan di RI/RIS. Pemberontakan Andi Azis diduga terhubung dengan proklamasi RMS dan posisi Papua di dalam isi perjanjian KMB. Dalam hal ini di mata Belanda, wilayah Soenda Ketjil (Bali dan Nusantara) boleh bergabung dengan NKRI tetapi tidak dengan pulau Sulawesi dan kepulauan Maluku yang harus disatukan dengan Papua. Lantas bagaimana dengan wilayah Sulawesi bagian utara (khususnya Minahasa)? Tidak ada indikasi akan melepaskan diri dari NKRI lebih-lebih yang menjadi korban di Makassar dari tindakan pasukan Andi Azis ini terkait dengan perwira asal Manado (Minahasa).

Dalam peristiwa Makassar ini di kalangan militer menjadi terdiri dari sejumlah entitas, yakni: TNI (RI Djogjakarta), Tentara RIS (RI Djogjakarta/KNIL yang di-TNI-kan), Tentara KNIIL (Belanda) dan Tentara Andi Azis (Tidak KNIL dan tidak TNI) dan juga bukan tentara RIS lagi). Demikian juga dianatara para pemimpin/Menteri NIT terbagi ke dalam beberapa entitas yakni RIS, NIT, Belanda dan RI. Sebagaimana diketahui masih banyak orang-orang Belanda di Indonesia termasuk di NIT khususnya di Makassar. Tentu saja masih banyak yang RI yang diam yanh wait en see.

Dalam konteks sejarah, RI Djogjakarta adalah garis continuum perjuangan para revolusioner Indonesia sejak tahun 1920an dimana saat itu muncul tokoh-tokoh muda nasional seperti Soekarno, Mohamad Hatta, Parada Harahap. Mohamad Tabrani dan WR Soepratman. Sedangkan RIS (Djakarta) juga adalah garis continuum yang sejaman dengan yang pertama yang berhaluan cooperative seperti MH Thamrin dan Dr Soetomo, Sedangkan NIT atau kelompok yang ingin memisahkan diri sendiri seperti Andi Azis dkk dan pentolan RMS adalah berhaluan Belanda (menganggap Belanda adalah sebagai Bapak atau pelindung). Kelompok yang terakhir ini lahir di wilayah-wilayah yang hanya minoritas yang menentang/menekan otoritas Pemerintah Hindia Belanda seperti di Kalimantan, Soenda Ketjil, Sulawesi, Maluku dan Papua. Meski demikian diantara pemimpin penduduk di antara wilayah-wilayah NIT tersebutjuga terdapat yang bersifat nasionalis seperti kelompok Sarikat Ambon yang bermla di Semarang dan kelompok Celebes (unumnya dari Minahasa seperti Sam Ratulangi). Dalam kelompok Jong Celebes juga sangat jarang terdengar yang mewakili entitas Makassar. Dalam hal ini karakteristik wilayah-wilayah yang tergabung/digabungkan dengan NIT adalah sejak dari awal khas.  

Satuan tentara APRIS, di bawah komando komandannya, Kapten Andi Abdul Azis, secara mandiri memimpin markas dan barak Korps Polis Militer serta menduduki markas APRIS dan menangkap pasukan yang diangap sebagai pendudukan tersebut (RIS). Dalam hubungan ini, pada Rabu sore, pemerintah Negara Indonesia Timur mengeluarkan sebuah komunike yang menyatakan menyesalkan bahwa terlepas dari semua tindakan yang telah diambil oleh Kapten Abdoel Azis (lihat Nieuwe courant, 06-04-1950).

Komunike ini dinyatakan lebih lanjut sementara ini pemerintah NIT tidak dapat mencegah aksi militer tak terduga ini dan telah mengarahkan aparat polisi lagi di pelabuhan. Banyak bangunan umum dan layanan vital telah dijaga ketat Kondisi umum sesuai komunike sampai pukul satu, kehidupan telah berjalan seperti biasa dan perkantoran serta pelayanan berjalan normal Pemerintah NIT segera menginformasikan kepada pemerintah RIS. Mayor Cartwright, salah seorang pengamat militer UNCL yang berada di Makassar, melakukan mediasi Rabu pagi dengan menyampaikan nasehat Pangdam Mokoginta/Pangdam APRIS di Indonesia Timur dan ditujukan kepada Mayor Worang di atas kapal KPM Waikelo yang berlabuh di Makassar. Menurut pesan ini, debarkasi batalion harus dicegah. Setelah beberapa jam berdiskusi, Mayor Cartwright kembali dengan membawa surat dari Mayor Worang kepada Komandan Mokoginta. Sementara itu Komandan Mokogifita untuk sementara telah dibebaskan oleh Kapten Azis atas permintaan Presiden Indonesia Timur dan Mokoginta kini tinggal di istana presiden (NIT), yang dalam hal ini sehubungan dengan percakapan telepon antara Makasser dan Djakarta mengenai peristiwa tersebut.

Sulit ditebak apa yang terjadi dan apa yang dipikitkan oleh Kapten Andi Azis. Mengapa Kapten Azis melepaskan Letnan Kolonel Mokoginta atas permintaan Presiden NIT? Apakah itu cara Kapten Andi Azis untuk melindungi dirinya, yang mulai menyadari tidak akan sebanding dengan pasukan TNI yang tengah berada di perairan Makassar yang dipimpin oleh Major Worang? Tampaknya ada kesan tidak ada lagi yang mendukungnya apakah dari sisi pemerintah NIT maupun KNIL di Makassar. Semua terkesan telah lepas tangan. Komunikasi yang intens dengan Djakarta melalui Letnan Kolonel Mokoginta di rumah presiden NIT belum diketahui arahnya kemana.

Pemerintah NIT menyatakan polisi negara tidak terlibat dalam kasus ini (lihat Nieuwe courant, 06-04-1950), Polisi negara telah bertugas kembali dan kehidupan mulai normal kembali. Lantas apakah ini hanya semata-mata internal tentara? Persaingan antara TNI/RIS yang dikirim dari Djakarat (Letnan Kolonel Mokoginta) dan TNI/eks KNIL di NIT yang dipimpin oleh Kapten Andi Azis? Saat ini pasukan Mayor Worang (TNI) sedang wait en see di perairan Makassar. Semua pertanyaan yang muncul di seputar peristiwa dapat dilihat kembali pada isi Proklamasi Kapten Andi Azis pada Rabu pagi yang dibacakan melalui Radio Makassar, Dalam proklamasi ini dinyatakan: ‘Panglima, nakhoda pasukan APRIS Andi Abdul Azis, menyatakan atas nama prajurit yang berperang dibawahnya, sejauh mereka belum dimasukkan dalam garis APRIS oleh pemerintah RIS, bahwa karena keadaan, karena terpaksa, atas kemauan sendiri pada tanggal 5 April 1950 pada pukul satu dini hari telah memisahkan diri dari satuan KNIL dan berangkat sebagai pejuang-pejuang bebas demi pelestarian Negara Indonesia Timur. Dalam proklamasi itu mencantumkan kalimat ‘keadaan-keadaan yang dimaksud’ sebagai berikut: ‘bahwa meskipun ada protes-protes yang tegas, sebagaimana dinyatakan dalam mosi yang disahkan oleh suatu majelis KNII, prajurit-prajurit, sebagaimana diterbitkan pada 5 April, bertentangan dengan kesepakatan dan terlepas dari janji Perdana Menteri (Mohamad Hatta) dan Menteri Pertahanan (Hamengkoeboewono) RIS di Djakarta, tanpa persetujuan terlebih dahulu dari pemerintah NIT dan TNI-tentara APRIS yang terdiri dari sekitar 1.000 orang pasukan dari Djakarta ke Makassar’. Sebagaimana keadaan selanjutnya proklamasi ini menyebutkan, ‘teror dan intimidasi yang berlaku dan infiltrasi gerombolan bersenjata, semua ini bertujuan untuk likuidasi yang cepat dan efisien dari Negara Indonesia Timur’.

Isi proklamasi Kapten Andi Azis yang diumumkan melalui radio tetap masih samar-sama dan ada pada dua tingkatan yang berbeda. Andi Azis pada level militer dan Presiden NIT pada level pemerintahan. Terkesan bahwa Presiden NIT menginginkan tetap eksis agar Soekawati tetap berkuasa apakah itu dalam kerangka RIS atau melepaskan diri dari RI (di Djogja). Bagi Kapten Andi Azis, jika itu benar, bahwa dia tidak berafiliasi lagi dengan KNIL dan hanya berjuang untuk tujuan kemerdekaan NIT, boleh jadi ini menjadi peluang politiknya di dalam karir militer. Bukankah saat itu Kapten Andi Azis sedang dalam tekanan TNI yang mana tengah terjadi TNIsasi di NIT (kahadiran pasukan Letnan Kolonel Mokoginta) dam lebih-lebih dengan kehadiran 1,000 orang pasukan TNI yang dipimpin Major Worang. Jadi, bagi Kapten Andi Azis hanya ada dua kata: lanjut atau selesai; hidup atau mati.Apa yang dirasakan Kapten Andi Azis ini dari sisi dirinya sesuai dengan dari sisi Presiden Soekowati dan koleganya akan terjadi de-NIT-sasi seiring dengan semakin menguatnya TNI (sebelaiknya KNIL semakin berkurang). Oleh karena itu dua level itu (pemerintahan Soekowati dan militer Andi Azis) tampaknya terjadi relasi, meski Presiden Soekawati terkesan secara diplomatis seakan tidak tahu apa yang terjadi.

Peristiwa Andi Azis tempaknya bersifat game theory. Pemerintah pusat mengetahui apa yang diinginkannya, demikian juga pemerintah federal (daerah) NIT mengetahai apa yang diinginkannya. Namun kedua belah sama-sama tidak memberitahukan itu kepada satu sama lain. Hal itu dapat disimak pada isi proklamsi Andi Azis bahwa kehadiran 1.000 orang TNI yang dipimpin Major Worang tidak dikomunikasikan dalam arti tidak ada kesepakatan dengan pemerintah NIT. Dalam hal ini sesungguhnya Presiden Soekowati langsung tidak langsung terlibat dalam peristiwa Andi Azis ini. Lalu bagaimana dengan janji PM Mohamad Hatta dan Menteri Pertahanan Hamengkoeboewono? Dalam eskalasi politik saat ini posisi Mohamad Hatta yang menjadi pendukung utama negara-negara federalis (RIS) dalam posisi lemah. Mohamad Hatta terkepung oleh para pendukung NKRI yang notabene ‘alumni Djogjakarta’ yakni Presiden Soekarno, Menteri Pertahanan Hamengkoeboewono dan jajaran tampuk militer (KASAP TB Simatoepang dan KASAD Abdoel Haris Nasution). Dalam hal ini Mokoginta dan Worang di NIT adalah perpanjangan tangan Abdoel Haris Nasution. Sementara itu di jajaran Kabinet hanya terbilang Mohamad Hatta sendiri, sebab Soeltan Hamid II telah dicopot dan Menteri Dalam Negeri Ide Anak Agung Gde Agung sesungguhnya pendukung NKRI? Meski sesama Bali, Ide Anak Agung Gde Agung sebenarnya berbeda haluan dengan Tjokorda Gde Raka Soekawati. Ide Anak Agung Gde Agung adalah mantan Perdana Menteri NIT dan Tjokorda Gde Raka Soekawati masih sebagai wali negara (presiden) NIT. Nun, di Djogjakarta sana Presiden RI adalah Mr Assaat; Perdana Menteri Dr Abdoel Halim dan Wakil Perdana Menteri Abdoel Hakim Harahap sebagai republiken sejati.

Gerakan membubarkan RIS dan gerakan menolak bergabung NKRI isunya sudah meluas kemana-mana di tingkat internasional. Pada level pemerintahan saling wait en see. Pemerintahan RIS tentu saja tidak berkomentar apa-apa tentang isu yang terjadi; demikian juga pers Belanda menginformasikan bahwa otoritas resmi Belanda di Den Haag menolak berkomentar dalam bentuk apa pun tentang peristiwa di Indonesia. Den Haag dalam menyikapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia secara eksklusif merupakan urusan internal RIS. Yang panas justru pada lembaga-lembag non pemerintah maupun editorial surat kabar di Belanda.

Satu editorial di surat kabar Belanda meski malu-malu kucing menyatakan 'Kami bertanya-tanya apakah waktunya belum tiba sekarang ketika Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Indonesia harus campur tangan untuk membantu penduduk negara bagian (misal NIT) untuk mengekspresikan diri mereka pada pertanyaan apakah ingin mempertahankan negara federal (NIT) atau ingin bergabung menjadi negara kesatuan (NKRI). Kepastian tentang ini harus diberikan sesegera mungkin melalui cara hukum yang damai, jika ini tidak terjadi, perkembangan yang kacau di Indonesia tidak dapat dihentikan. Letnan Kolonel Mokoginta (kiri) dan Kapten Andi Azis (kanan).

Dalam kasus ini tentu omong kosong jika Kapten Abdi Azis bertanggungjawab sepenuhnya atas terjadinya peristiwa. Kapten Abdi Azis hanya memiliki kekuatan satu kompi. Dalam posisi itu pasukannya dapat berhadapan dengan pasukan di bawah Letnan Kolonel Mokoginta. Yang jelas saat itu KNI:L sesuai kebijakan semakin berikurang di Makassar dan TNI akan semakin ditingkatkan. Tanpa ada dukung KNIL yang tersisa di Makassar dan dukungan dari pemerintah NIT tidaklah mungkin Kapten Andi Azis melakukan seperti itu. Hanya saja dalam kasus ini baik KNIL dan pemerintah NIT sedang bermain aman.

Dalam perkembangannya mulai muncul reaksi. Dr. Warouw, mantan Perdana Menteri Indonesia Timur (yang saat ini tinggal di Den Haag), tanggal 6 menuduh Republik Indonesia Serikat (RIS) secara terang-terangan melanggar struktur dan esensi republik dan menyalahgunakan kedaulatan yang dialihkan kepadanya dengan menghancurkan sebagian besar negara bagiannya. Ia juga menuduh Indonesia Timur (NIT) terancam (lihat Nieuwe courant, 08-04-1950). Inilah sebenarnya yang dapat dikatakan jawaban terhadap game theory. Dr Warrow dalam hal ini pendukung federal (RIS) tetapi menyayangkan tindakan yang terjadi di Makassar yang justru menjadi alasan pusat (Djakarta) ke arah untuk melemahkan negara federalis (NIT).

Namun Kapten Andi Azis, nasi sudah menjadi bubur, maka dinikamti saja  dan sudah kepalang basah. Saat ada perintah dari KASAD Major Jenderal Abdoel Haris Nasution agar datang ke Djakarta untuk melapor.  Tentulah dengan perbuatannya tidak akan berani datang (karena bisa sebaliknya justru ditangkap). Pada hari Kamis Kapten Andi Azis mangatakan diahadapan pasukannya tentang berita pemanggilan itu. Andi Azis menjawab sendiri: ‘Tidak, tidak! dan selanjutnya menyatakan: ‘Sekali NIT, Tetap NIT;. Namun menurut Kapten Abdi Azis akan mengumumkan bahwa dia akan menjawab panggilan itu secara tertulis.

Perdana Menteri NIT saat ini adalah Ir Patuan Diapari Siregar, anak Batak pula, perdana menteri yang belum lama diangkat. Namun dimana dia? Apkah dia sedang berada di luar Makassar pada saat terjadi kejadian dan baru akan berangkat ke Makassar? Apakah Ir Patoean Diapari sedang pulang kampong atau sedang di Djogjakarta berkunjung kepada teman sekampungnya dari Padang Sidempoean, Wakil Perdana Menteri RI Abdoel Hakim Harahap? Ataukah Ir Patoean Diapari sedang mendiskusikan situasi dan kondisi terakhir di NIT dengan KASAD  Major Jenderal Abdoel Haris Nasoetion. Seperti halnya, Ide Anak Agung Gde Agung (yang saat ini sebagai Menteri Dalam Negri RIS), Ir Patoean Diapari dan Dr Sam Ratulangi juga adalah pendukung NKRI. Lantas apakah Ir Patuan Diapari di NIT adalah wakil pemerintah pusat (RIS) dan koneksi pemerintah RI di Djogjakarta?

Penolakan Kapten Andi Azis tidak digubris, show must go on. Yang jelas Letnan Kolonel Mokoginta dijemput dengan pesawat ke Makassar untuk melapor ke Djakarta. Dalam pesawat ini Mokoginta didampingi oleh Menteri Penerangan NIT Dr Sam Ratulangi. Perdana Menteri NIT Ir Patoean Diapari Siregar.tetap di Makassar sebagai jaga gawang (lihat Nieuwe courant, 08-04-1950). Dalam edisi ini juga juga dilaporkan Aneta bahwa pada hari Kamis pagi bahwa Kapten Abdul Azis akan dinyatakan ‘penjahat’ jika dia tidak mematuhi perintah untuk mempertanggungjawabkan tindakannya di Djakarta. Andi Azis juga akan dilarang dan dikenai hukum jika mereka tidak mematuhi perintah untuk kembali ke markas/barak mereka.

Sementara itu Sekjen Kementerian Penerangan Roeslan Abdoel Gani di Djakarta mengatakan ‘Ini kasus yang sangat serius, tetapi karena pengaruhnya terbatas pada kelompok kecil yang tidak signifikan, pemerintah percaya bahwa kasus Makasser tidak membahayakan Republik Indonesia Serikat. Hingga saat ini cukup banyak elemen di lingkungan pemerintahan NIT yang memiliki itikad baik untuk mencapai solusi damai dan tentu saja tidak setuju dengan perjuangan rakyat Indonesia di antara mereka sendiri. Dalam edisi ini juga Kementerian Pertahanan RIS, bahwa sejumlah prajurit KNIL yang masih berada di bawah komando Belanda ikut serta dalam kerusuhan di Makasser,

Andi Azis lahir tanggal 19 September 1924, putra dari pemimpin lokal (zelfbestuur) di Afdeeling Barroe (lihat Nieuwe courant, 08-04-1950). Disebutkan, sebelum perang Abdi Azis berada di Belanda untuk belajar. Dia berada pada fase seluruh perang di Belanda yang tengah diduduki Jerman. Karir militernya dimulai setelah perang, di sebuah pusat pelatihan dekat Calcutta ia menerima bagian utama dari tentara penerjun. Pada tanggal 30 Maret 1950 yang lalu Letnan Andi Azis, dengan kompi yang ditempatkan di bawahnya secara sukarela dipindahkan ke APRIS (lepas dari KNIL), dimana ia diberi pangkat Kapten. Lima hari kemudian, Andi Azis mengidentifikasi dirinya sebagai Kapten Azis melalui kudeta militernya yang sama sesatnya dengan di Bandoeng, dimana tentara lain mencoba memaksakan politik melalui kudeta militer. Akan segera dilupakan bahwa hari-hari kudeta militer sudah udang dan lama berlalu, bahwa praktek semacam ini hanya ‘berhasil;’ ketika dilakukan di tingkat internasional (adanya pihak asing yang terlibat),

Kapten Andi Azis yang menolak perintah pusat dengan mengalangi untuk memasok makanan kepada tentara di dua kapal. Andi Azis mengatakan biarkan mereka kelaparan dan kehausan dan segera kembali ke Djawa. Namun Perdana Menteri Ir Patoen Diapari memaksakan pengiriman pasokan itu dan berhasil. Mengapa Ir Patoean Diapari tidak takut risiki dengan tindakan pemasokan makakan tersebut ke kapal? Entahklah! Lalu bagaimana dengan Kapten Andi Azis. Tampaknya dia hanya bermusuhan dengan institusinya dan tujuan pribadinya (lihat Nieuwe courant, 08-04-1950): ‘Kapten Azis menyatakan menyesal telah menumpahkan darah Indonesia [karena sudah ada yang terbunuh baik di pihaknya maupun pihak Mokoginta]. ‘Kita semua orang Indonesia, kita bersaudara’ katanya; hanya ada kesalahpahaman dan kesalahpahaman itu membuat kita saling berhadapan. Aku benci harus tampil, tapi aku tidak punya pilihan lain. Kami mengajukan diri ke APRIS tetapi semua permintaan dan mosi kami tidak dijawab. Batalyon lain [Major Worang] dikirim untuk menggantikan kita; dimana kita akan tinggal? Saya berharap pertumpahan darah dapat dihindari sebanyak mungkin, tetapi jika harus, kita akan pergi ke akhir yang pahit’.  

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kapten Andi Azis: Mengapa Harus Memberontak, Apakah Pahlawan Belanda?

Wilayah-wilayah sisa republik terutama Djogjakarta dan Tapanoeli memiliki karakteristik sosio ekonomi politik yang kirang lebih sama, hidup dari pertanian, masyarakatnya lebih homogen dan berada di pedalaman, masyarakat yang nemiliki pandangan politik yang seragam dan memiliki musuh yang sama: penjajah Belanda. Sedangkan di wilayah negara-negara federal yang terbentuk terbilang beragam dan antara satu daerah federal dengan daerah federal lainnya berbeda. Bagaimana sejarah terbentuknya menjadi negara federal juga berbeda-beda. Negara federal Negara Indonesia Timur sangat khas.

Wilayah yang kali pertama menjadi negara federal adalah Negara Pasoendan (West Java). Negara ini pula yang lebih awal membubarkan diri sebagai negara federal. Negara federal Sumatra Timur terbentuk karena terjadinya social revolution dan pembubarannya juga didahului oleh suatu demosntrasli besar-besaran yang akhinya diadakan referendum yang hasilnya dimenangkan oleh para Republiken. Sedangkan Negara federalis Negara Indonesia Timur sangatlah unik pula: memiliki sejarah kolonial (Belanda) yang panjang sejak era VOC, wilayah yang disatukan oleh laut yang berjauhan satu sama lain dengan karakteristik ekonomi dan sosia budaya (suku dan agama) yang berbeda yang dalam perjalanan sejarah masing-masing daerah mengerucut menjadi cooperative kepada Belanda (Pemerintah Hindia Belanda). Sejarah ini sama-sama dipahami bersama antara penduduk asli dan orang-orang Belanda. Hanya sebagian kecil diantara wilayah-wilayah yang berbeda di NIT yang memiliki pandangan nasionalis, anti penjajah (anti Belanda). Oleh karena itu NIT sebagai negara federalis sangat sulit membubarkan diri dan menjadi negara federal yang tersisa setelah negara-negara federal yang lain bubar (sebelumnya yang terakhir dibubarkan adalah Negara Sumatra Timur setelah referendum). Di Negara Indonesia Timur, golongan yang terbagi dua ini, pendukung negara federalis dan pendukung NKRI. Pendukung NKRI terbilang relatif kecil, suaranya sayup-sayup ditelan angin besar yang dominan pro-federal. Uniknya lagi daerah-daerah di NIT ini banyak golongan mudanya yang menjadi KNIL bahkan sejak awal terutama Ambon/Maluku, Manado/Minahasa dan Bali/Nusa Tenggara. Andi Azis adalah seorang KNIL yang dapat diakatakan KNIL sejati dan Soekowati karena bawaan sejarah adalah pro-Belanda sejati. Sebaliknya para Republiken sejati (Soekarno, presiden; Hamengkoeboewono, Menteri Pertahanan; Abdoel Hakim Harahap, wakil perdana RI di Djogjakarta; serta KASAP Jenderal TB Simatoepang dan KASAD Major Jenderal Abdoel Haris Nasution) terutama dari wilayah Jawa dan Tapanoeli menganggap perli para Republiken di NIT harus dibantu. Hal itulah mengapa ada gerakan penggabungan NIT menjadi NKRI tetapi mendapat perlawanan dari pro-federalis yang kini mengarah pada pro-kemerdekaan (pemisahan NIT dari RI) yang dilncarakan oleh Kapten Andi Azis (yang paling ekstrim pada waktu yang bersamaan proklamasi RMS).

Dalam fase kritis pemberontakan yang dilancarkan oleh Kapten Andi Azis, pemerintah pusat/militer telah meminta Kapten Andi Azis datang ke Djakarta melaporkan diri. Namun seperti disebut di atas, Andi Azis menolak dan bahkan mengancam para pasukan Major Worang di tengah laut kelaparan dan kehausan. Namun Perdana Manteri NIT Ir Patoean Diapari Siregar bersikeras memasok makanan ke kapal, sedangkan Letnan Kolonel Mokoginta yang didampingi Menteri Penerangan NIT Sam Ratulangi berangkat ke Djakarta memenuhi panggilan. Sebelumnya riak-riak yang mengindikasikan bahwa warga di NIT khususnya yang berada di Makassar terbelah dan lalu mulai menarik jarak dengan aksi keras Kapten Abdi Azis dan aksi halus Soekowati. Pada level pelajar di Makassar terjadi aksi demonstrasi menunntut pembubaran NIT dan ingin bergabung dengan NKRI. Para pelajar yang berdemostrasi di Makassar terlihat dalam foto melengkapi diri dengan bambu runcing. Dalam hal ini Kapten Andi Azis dengan pasukannya sebeanrnya telah mendapat lawan yang setara di Makassar (TNI/APRIS dan para pelajar). Apakah Kapten Andi Azis tidak memahami apa yang belum lama terjadi di wilayah Sulawesi Selatan dalam kasus Westerling?

Demonstrasi pelajar di Makasar ini seakan mengingatkan demonstrasi yang pernah terjadi di Medan (Negara Sumatra Timur). Demonstrasi di Negara Sumatra Timur (NST) bersifat total yang dipimpin oleh Dr Djabangoen Harahap dan Mr Gading Josua Batubara, tidak hanya peladjar juga berbagai lapisan masyarakat dan bahkan para wanita. Para pendukung pro-federal mengirim delegasi ke Djakarta dan menemui Perdana Menteri Mohamad Hatta, sebaliknya para pro-NKRI juga mengirim delegasi ke Djakarta, tidak menemui Mohamad Hatta tetapi menemui Presiden Soekarno. Akhirnya sidang kabinet memutuskan untuk dilakukan referendum di Negara Sumatra Timur, seperti disebut di atas dimenangkan oleh para republiken (NST tamat).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar