Laman

Minggu, 09 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (344): Pahlawan Nasional Indonesia Ide Anak Agoeng Gde Agoeng di Bali; Federalis versus Republiken

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Ide Anak Agoeng Gde Agoeng adalah pahlawan Indonesia yang telah ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional (pahlawan asal Bali diusulkan Yogyakarta). Pada saat terbentuknya Negara Indonesia Timur (NIT) pada kabinet Perdana Menteri Nadjamoeddin Daeng Malewa (13 Januari 1947- 11 Oktober 1947), Ide Anak Agoeng Gde Agoeng adalah Menteri Dalam Negeri. Setelah Warrow, Ide Anak Agoeng Gde Agoeng sebagai perdana menteri memimpin kabinet Negara Indonesia Timur (sejak 15 Desember 1947) hingga digantikan oleh kabinet Perdana Menteri Patoean Doli Diapari Siregar.

Ida Anak Agung Gde Agung (24 Juli 1921-22 April 1999) adalah ahli sejarah dan tokoh politik Indonesia. Di Bali ia juga berposisi sebagai raja Gianyar, menggantikan ayahnya Anak Agung Ngurah Agung. Anaknya. Anak Agung meraih gelar Sarjana hukum (Mr.) dari Rechtshoogeschool te Batavia dan gelar doktor di Universitas Utrecht, Belanda, di bidang sejarah. Pada 1947 ia menjadi Perdana Menteri Negara Indonesia Timur. Dia mau kerja sama adalah dengan Republik Indonesia. Dia juga ingin bekerja sama dengan Partai Republik, yang disebut ‘Politik Sintesis’. Dia berhasil di negara bagian untuk mengambil posisi lebih independen. Partai Republik mengakui sebagai hasilnya, pada tahun 1948, Indonesia Timur, bahkan sebagai negara. Hasilnya adalah bahwa ada Partai Republik lainnya di Eastern Indonesia bersedia bekerja sama atau setidaknya penentangan mereka terhadap negara dimoderasi. Tetapi kontras antara ‘federalis’ dan ‘Unitarian’ (Republiken) tetap. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri maupun Menteri Luar Negeri pada era pemerintahan Presiden Soekarno. Selain itu ia pernah menjabat pula sebagai Dubes RI di Belgia (1951), Portugal, Prancis (1953), dan Austria  (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Ide Anak Agoeng Gde Agoeng? Seperti disebut di atas, Ide Anak Agoeng Gde Agoeng adalah seorang Republiken tetapi menjadi salah satu menteri utama dalam kabinet negara federalis Negara Indonesia Timur. Bagaimana bisa? Lalu bagaimana sejarah Ide Anak Agoeng Gde Agoeng? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Nasional Indonesia Ide Anak Agoeng Gde Agoeng di Bali

Anak Agung Gde Agung (AA Gde Agoeng) adalah putra Anak Agung Ngurah Agung dari Gianjar, pantai timur Bali. AA G Gde Agoeng melanjutkan studi ke Malang. Pada tahun 1938 Gde Agoeng lulus ujian naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat De Indische courant, 09-06-1938). Pada tahun 1939 Gde Agoeng lulus ujian akhir (lihat De Indische courant, 08-06-1939). Disebutkan ujian akhir HBS 5 di Malang lulus antara lain A Agoeng Gde Agoeng.

Lama studi di HBS Malang adalah lima tahun. Tiga tahun pertama adalah tingkat sekolah menengah pertama (MULO). Dua tahun terakhir adalah tingkat sekolah menengah atas. Lulusan MULO dari sekolah lain diterima pada kelas empat HBS. Apakah Gde Agoeng sejak tahun pertama atau berasal dari sekolah MULO ditempat lain tidak terinformasikan. Sekolah sejenis HBS adalah sekolah AMS yang lama studi enam tahun. Di Malang juga ada AMS.

AA Gde Agoeng melanjutkan studi ke Batavia, di fakultas hukum Rechthoogeschool. Pada tahun 1940 Gde Agoeng lulus ujian kandidat pertama (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-10-1940). Disebutkan di Rechthoogeschool lulus ujian kandidat pertama antara lain Anak Agoeng Gde Agoeng. Teman sekelasnya antara lain R Achmad Rosadi, Ch HA Merchelinus dan Lie Oen Lie.

Banyak tokoh muda tempo hari di sekolah hukum ini. Tiga yang pertama adalah panitia inti Kongres Pemuda 1927 yakni Soegondo (ketua), Mohamad Jamin (sekretaris) dan Amir Sjarifoeddin Harahap (sekretaris). Mahasiswa asal bali di sekolah ini yang pertama adalah I Goesti Ketoet Poedja, lulus ujian kandidat pertama 1932 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-10-1932). Setelah lulus dari Rechthoogeschool Batavia, I Goesti Ketoet Poedja segera pulang kampong ke Singaradja, Bali. I Goesti Ketoet Poedja tampaknya kurang tertarik partai politik (di Jawa). Meski demikian, I Goesti Ketoet Poedja di kampong halaman aktif memajukan pendidikan dan mendorng para siswa-siswa Bali untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Ini terlihat pada tahun 1936 I Goesti Ketoet Poedja ikut aktif dalam Balisch Studiefonds (lihat De Indische courant, 01-05-1936).

Pada tahun 1941 AA Gde Agoeng di Rechthoogeschool lulus ujian kandidat kedua (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-10-1941). Namun tampaknya semau aktivitas pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah Hindia Belanda harus berakhir. Hal ini karena sejak akhir tahun 1942 sudah mulai terjadi perang Pasifik di wilayah Hindia Belanda (baca: Indonesia). Pada bulan Maret 1942 Pemeriutah Hindia Belanda menyerah kepada (pemerintah pendudukan) militer Jepang. Semua orang-orang Belanda atau pribumi pendukung Belanda diinternir. Lalu bagaimana dengan AA Gde Agoeng? Kemungkinan besar pulang kampung di Ginajar, Bali.

Tingkat pendidikan yang telah diselesaikan AA Gde Agoeng baru sekitar separuh. Masih ada ujian sarjana pertama, ujian sarjana kedua dan ujuan akhir. Tidak terinformasikan siapa saja lulusan rechthoogeschool yang terakhir. Yang tercatat diantaranya adalah Mr Assaat dan Mr Abdoel Abbas Siregar dan Mr Ani Manoppo (sarjana hukum perempuan pertama). Dekan pertama fakultas hukum yang didirikan pada tahun 1924 ini adalah Prof Husein Djajadingrat, seorang mantan aktivis Indische Vereeniging di Belanda yang turut mendirikan organisasi mahasiswa pribumi tersebut di Belanda dimana Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan dan Husein Djajadiningrat sebagai sekretaris. Guru besar yang diangkat terakhir di Rechthoogeschool adalah Prof Soepomo pada tahun 1941 (lihat  De Sumatra post, 18-01-1941). Raden Soepomo juga anggota organisasi mahasiswa di Belanda yang mengikuti pendidikan hukum di Universiteit te Leiden dan menyelesaikan program doktor (Ph.D) pada tahun 1927.   .

Tunggu deskripsi lengkapnya

Federalis versus Republiken: Ide Anak Agoeng Gde Agoeng

Selama pendudukan militer tidak terinformasikan. Yang jelas kegiatan pendidikan tinggi hampir sepenuhnya tidak berjalan. Selain, dosen-dosen Belanda yang kembali ke Belnada juga semuanya ikut diinternir. Dosen-dosen pribumi atau tokoh yang berpendidikan tinggi umumnya dilibatkan dalam pemerintahan pendudukan militer Jepang dan sebagai pengajar untuk sekolah-sekolah tingkat menengah. Praktis tidak ada mahasiswa yang lulus menjadi sarjana selama pendudukan militer Jepang (1942-1945).

Sesungguhnya perang Pasifik tidak pernah berhenti meski Jepang sudah sepenuhnya berada di Indonesia. Australia dimana terdapat pengugsi Belanda dari Indonesia masih melakukan aktivitas dan memiliki kapal-kapal dan pesawat-pesawat yang turut mendukung militer Amerika Serikat melawan militer Jepang. Di wilayah pulau-pulau Pasifik pertempuran dengan militer Jepang masih terus berlangsung. Ketegangan antara militer Jepang dan militer Amerika Serikat terus beralngsung di wilayah timur Indonesia yang berbatasan dengan Papua bagian timur dan Maluku bagian timur laut. Meski demikian pasukan Jepang cukup kuat di Morotai dan Ternate serta Sorong dan Merauke. Ketika Kerajaan Jepang menyerah kepada Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat pada tanggal 17 Agustus 1945 wilayah Indonesia bagian timur sangat terbuka (dimana militer Jepang hanya wait en see). Beberapa hari kemudian di Djakarta kemerdekaan Indonesia diproklamasikan (17 Agustus 1945). Sejak menyerahnya Jepang, pasukan Sekutu segera ambil bagian memasuki wilayah Indonesia terutama pulau-pulau di luar Jawa dan Sumatra. Untuk Indonesia proses pelucutan senjata dan evakuasi militer Jepang dilakukan Sekutu/Inggris yang kemudian untuk wilayah Indonesia bagian timur (minus Sumatra, Jawa dan Kalimantan) didelegasikan kepada Australia oleh Sekutu/Inggris. Orang-orang Belanda yang berada di Australia segera melakukan konsolidasi yang ikut secara tidak langsung membantu Sekutu/Inggris dan Australia memasuki wilayah Indonesia dimulai dari Indonesia bagian timur. Sekutu/Inggris yang berbasi di Singapoera baru diizinkan RI memasuki Indonesia di Sumatra, Jawa dan Kalimantan pada bulan Oktober 1945 yang dalam perkembangannya Belanda/NICA menyusul di belakang Sekutu/Inggris memasuki Batavia, Semarang, Soerabaja dan Medan. Praktis pada bulan Januari 1946 Belanda/NICA sudah sangat kuat di Batavia. Dalam hubungan inilah kemudian Belanda/NICA pada bulan Maret 1946 mulai menginisiasi pembentukan cabang pemerintahan Belanda/NICA di Maluku, Sulawesi dan Soenda Ketjil (termasuk Bali dan Lombok).  Peran HJ van Mook saat ini sangat luas, sebagai Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjadi motot pembentukan cabang pemerintahan ini dengan memilih, menentukan dan mengundang para pemimpin lokal dalam suatu pertemuan yang kemudian disebut Konferensi Malino (di Makassar).

Dalam Konferensi Malino pada bulan Juli 1946, perwakilan dari Bali terdapat tiga orang yakni Soekowati dan Goesti Bagoes Oka (lihat  Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 27-06-1946). Tiga perwakilan lainnya dari Sonda Ketjil berasal dari Soembawa, Flores dan Timor barat. Hasil konferensi ada dibentuknya Negara Indonesia Timur dan Borneo dengan terlebih dahulu pembentukan dewan di masing-masing wilayah. Samentara saat ini sudah terjadi kolaborasi dengan Belanda/NICA, sebaliknya di Jawa dan Sumatra terus terjadi perang melawan militer Belanda/NICA. Ibu kota RI sejak Januari 1946 telah mengungsi ke Djogjakarta.

Lepas dari soal Belanda/NICA lebih dahulu menduduki wilayah Borneo dan wilayah Indonesia Timur (Groot Indonesia) termasuk Soenda Ketjil di belakang Sekutu/Inggris, apa yang menyebabkan para pemimpin lokal di dua wilayah itu begitu cepat mengikat kolaborasi dengan orang-orang Belanda (NICA)? Bukankah rekan sebangsa (yang diproklamasikan kemerdekaannya 17 Agustus 1846) masih habis-habis berjuang menolak kehadiran Belanda/NICA di  Jawa dan Sumatra? Kita tidak berbicara tentang penduduk di dua wilayah itu, tetapi para pemimpin yang hadir di Konferensi Malino/ Tentulah di dua wilayah itu ada pemimpin lokal yang tetap sebagai Republiken (yang tentunya kurang disukai oleh orang Belanda/NICA).

Setelah berbagai langkah dilakukan dalam pembentukan Negara Indonesia Timur dan  Borneo, termasuk kunjungan Soekawati dan Soeltan Hamid II ke Belanda, lalu akan diadakan pertemuan (konferensi) berikut di Denpasar (lihat Nieuwe courant, 14-11-1946). Disebutkan perwakilan Bali ke konferensi Denpasar tersebut telah ditentukan. Nama AA Gde Agoeng termasuk diantaranya.

Nieuwe courant, 14-11-1946: ‘Aneta melaporkan dari Batavia bahwa Paroeman Agoeng telah menunjuk badan perwakilan di Bali, melalui pemilihan sebagai anggota delegasi Bali untuk konferensi berikutnya di Den Pasar:  Anak Agoeng Ngoerah Ketaet Djelantik, Kepala Bagian Hukum Paroeman Agoeng; Goesti Bagoes Oka, sekretaris Paroeman Agoeng; Tjokorde Gde Rake Soekawati, Anggota Luar Biasa Dewan Pimpinan, Gde Panetja, Hakim Distrik di Den Pasar; Anak Agoeng Gde Agoeng, Kepala Daerah Gianjari; Made Mendra, ambtenaar yang berada di bawah Departemen Pendidikan; Anak Agoeng Pandji Tana, Kepala Daerah Boeleleng; untuk cadangan: Raden Soewarno, dokter di Den Pasar dan Panet Hadjidjojo, dokter di Singaradja.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar