Laman

Minggu, 23 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (372): Pahlawan Nasional Fatmawati (Bengkulu); Soekarno, Flores Bengkulu Padang Djakarta Bengkulu

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Nama Fatmawati sudah dikenal secara luas. Fatmawati, lahir di Bengkulu adalah istri Ir Soekarno yang kemudian menjadi Presiden Indonesia. Fatmawati adalah pahlawan Indonesia yang telah ditablkan sebagai Pahlawan Nasional. Pertemuan awal Fatmawati dengan Ir Soekarno bermula di Bengkulu, saat Ir Soekarno di pengasingan dipindahkan dari Flores ke Bengkulu.

Fatmawati (5 Februari 1923-14 Mei 1980) adalah istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga tahun 1967 dan merupakan istri ke-3 dari presiden pertama Indonesia, Soekarno dan ibunda dari presiden kelima, Megawati Soekarnoputri. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Fatmawati lahir dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah, dengan nama Fatimah. Orang tuanya merupakan keturunan Putri Indrapura, salah seorang keluarga raja dari Kesultanan Indrapura. Ayahnya merupakan salah seorang pengusaha dan tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Pada tanggal 1 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Soekarno, yang kelak menjadi presiden pertama Indonesia. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai lima orang putra dan putri, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Pahlawan Nasional Fatmawati? Seperti disebut di atas, Fatmawati adalah istri Ir Soekarno yang kemudian menjadi Presiden Indonesia. Perkenalan mereka dimulai di Bengkulu. Lalu bagaimana sejarah Fatmawati? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Nasional Fatmawati Asal Bengkulu; Ir Soekarno dari Flores ke Bengkulu, Padang, Djakarta dan Bengkulu

Sejarah awal Fatmawati kurang terinformasikan. Sejarah keluarganya di Bengkulu juga kurang terinformasikan. Sebagaimana diketahui, Fatmawati lahir dan besar di Bengkulu. Seperti disebut di atas, Fatmawati lahir tanggal 5 Februari 1923, Satu-satunya keterangan yang dapat ditelusuri adalah dari sisi Ir Soekarno yang kemudian menikah dengan Fatmawati (pada tanggal 1 Juni 1943). Pada tahun 1938 Ir Soekarno yang berada di pengasingan di Ende, Flores dipindahkan ke Bengkoeloe.

Haagsche courant, 05-05-1938: ‘Batavia, 5 Mei. (Aneta). Ir Soekarno yang pada waktu itu ditetapkan Flores sebagai tempat tinggalnya (pengasingan), sehubungan dengan tindakannya terhadap penguasa Belanda, kini telah ditetapkan Benkoulen sebagai tempat tinggalnya. Dia telah mengajukan transfer ke wilayah itu, karena dia akan dapat memanfaatkan pengetahuan teknisnya dengan lebih baik disana. Pemerintah telah mengabulkan permintaan ini. Ir Sukarno sudah tiba di Soerabaja hari ini’. Soerabaijasch handelsblad, 05-05-1938 memberitakan pagi ini Ir Soekarno yang sedang melakukan perjalanan bersama keluarganya dengan kapal KPM ‘Valentine’ tiba di Soerabaja. Soerabaijasch handelsblad, 05-05-1938 menyebutkan Ir Soekarno akan tiba di Tandjoeng Priok tanggal 8.

Setelah transit di Soerabaja. Ir Soekarno diberi kesempatan bertemu keluarganya termasuk orang tua. Namun saat keberangkatan banyak yang berubah. Ke Batavia tidak dengan kapal tetapi dengan kereta malam. Istrinya dan anak angkatnya tidak ikut. Di dalam kereta Ir Soekarno hanya dikawal oleh dua anggota PID (polisi intelijen Belanda).

Mengapa keluarganya tidak ikut lagi bersama Ir Soekarno. Saat keberangkatan istri dan anaknya yang melepaskan kepergian Ir Soekarno hanya didampingi oleh Radjamin Nasoetion. Dr Soetomo sedang sakit. Radjamin Nasoetion adalah anggota dewan kota (gemeenteraad) Soerabaja yang paling senior (wethouder). Dr Soetomo dan Radjamin Nasoetion adalah inisiator pendirian Partai Bangsa Indonesia (PBI) tahun 1930 yang kemudian PBI dan organisasi kebangsaan Boedi Oetomo merger tahun 1935 menjadi partai baru yakni Partau Indonesia Raja (Parindra). Pengurus Parindra antara lain MH Thamrin dan Parada Harahap. Ini bermula tahun 1927 Parada  Harahap, sekretaris Sumatranen Bond dan pemimpin surat kabar Bintang Timoer di Batavia berinisiatif membentuk federasi organisasi kebangsaan dengan mengungdang semua pemimpinya di rumah Prof Husein Djajadiningrat pada bulan September 1927. Hasil pertemuan ini dibentuk federasi yang disebut Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Dalam pertemuan juga diangkat ketua MH Thamrin (Kaoem Betawi) dan sebagai sekretaris Parada Harahap. Dalam pertemuan ini turut dihadiri perwakilan Pasoendan, Jong Islamieten Bond, Boedi Oetomo cabang Batavia, Studieclub Soerabaja yang diwakili Dr Soetomo dan Perhimpoenan Nasional Indonesia (PNI) Bandoeng yang diwakili Ir Soekarno. Program pertama pengurus PPPKI adalah membangun gedung (kini gedung di Jalan KenarI) dan mengadakan Kongres PPPKI yang akan diadakan pada bulan September 1928. Pada jelang Kongres PPPKI diketahui yang menjadi ketua panitia adalah Dr Soetomo (studieclub Soerabaja) dan sekretaris Ir Anwari (PNI).

Perubahan jadwal dan moda perjalanan Ir Soekarno dari Soerabaja ke Bengkoeloe diduga karena beritanya sudah heboh. Untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan Pemerintah Hindia Belanda mengubah dengan perjalnan diam-diam pada malam hari menggunakan kereta malam. De Indische courant edisi 07-05-1938 memberitakan bahwa PID melakukan perubahan dalam rencana perjalanan agar keberangkatan Soekarno bisa berlangsung diam-diam. Di Batavia sempat mampir di suatu kantor, lalu kemudian dengan kendaraan mobil Ir Soekarno dibawa ke pelabuhan Merak di Banten dan kemudian dengan kapal ke Teloek Betoeng.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-05-1938 menambahkan bahwa Soekarno pagi ini telah tiba di Batavia. Pada pukul 11 dengan mobil polisi ke Serang dan malam hari dari pelabuhan Merak (dengan kapal) menuju Oosthaven (Telok Betong?). Dari tempat terakhir ini, dengan kereta api menuju tempat tinggal yang ditunjuk di Benkoelen. Bataviaasch nieuwsblad, 10-05-1938 bahwa Soekarno sekarang telah tiba di bawah pengawasan seorang pejabat penyelidikan politik. Soekarno kemungkinan besar sudah tiba di Bengkoeloe tanggal 9 Mei. Foto: Aspirant-Controleur Benkoelen dan Ir Soekarno

Inilah awal Ir Soekarno berada di Bengkoeloe. Pada saat ini Fatmawati berusia 15 tahun. Usia sekolah menengah. Namun tidak diketahui apakah Fatmawati di Bengkoeloe melanjutkan studi ke MULO (paling dekat di Padang). Tampaknya tidak. Di Benkoeloe sendiri saat itu belum ada sekolah HIS (yang lulusannya menjadi syarat masuk MULO). Tapi okelah, tidak apa. Boleh jadi saat itu Ir Soekarno bahkan tidak peduli dengan Fatmawati karena usianya pada saat Ir Soekarno tiba masih remaja (15 tahun). Saat itu Ir Soekarno masih sibuk dengan fikirannya yang baru tiba dan coba mengenali satu per satu orang dewasa di Bengkoeloe, termasuk ayah Fatmawati.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Fatmawati: Ibu Negara Republik Indonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar