Laman

Rabu, 26 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (378): Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Dr Lie Kiat Teng; Menteri Kesehatan Kabinet Ali (1953-1955)

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Siapa Lie Kiat Teng? Boleh jadi sejarahnya kurang terinformasikan. Lie Kiat Teng pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI (1953-1955). Ini mengindikasikan Lie Kiat Teng memiliki bagian sejarah bangsa Indonesia. Seharusnya setiap presiden, sakil presiden, perdana menteri, wakil perdana menteri dan para menteri Indonesia adalah pahlawan Indonesia..

Dr Lie Kiat Teng (17 Agustus 1912-21 Juli 1983) adalah Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam kabinet Ali Sastroamidjojo pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Setelah masuk Islam namanya berganti menjadi Mohammad Ali. Ia adalah anggota PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia). Lie Kiat Teng lahir di Sukabumi yang kemudian namanya berubah menjadi Mohammad Ali setelah menjadi mualaf pada tahun 1946. Beliau menempuh pendidikan di sekolah kedokteran Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Soerabaja. Setelah lulus, dia bekerja sebagai dokter pemerintah di Curup dan Bengkulu kemudian pindah ke perusahaan tambang di Rejang Lebong dan rumah sakit di Waringin Tiga. Pada masa pendudukan Jepang, dia menjabat sebagai kepala divisi kesehataan pemerintah. Setelah Indonesia merdeka, dia menjadi dokter di Palembang. Ali Sastroamidjojo kemudian menunjuk Lie Kiat Teng sebagai Menteri Kesehatan dalam Kabinet Ali I (1953-1955). Selama dua tahun berkiprah menjadi Menteri Kesehatan, dia mencetuskan ide pembangunan fakultas kedokteran pada Kongres IDI 1953. Salah satu hasil kerja beliau yang terkenal yaitu pembangunan RSUP Dr. Mohammad Hoesin dan sebagai tanda terima kasih, nama beliau diabadikan menjadi nama jalan di sekitar area rumah sakit. Lie meninggal di rumahnya di Jakarta. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Lie Kiat Teng? Seperti disebut di atas, Dr Lie Kiat Teng pernah menjadi Menteri Kesehatan RI. Tidak banyak Menteri Kesehaatan di awal era Republik Indonesia. Dari hanya beberapa, satunya adalah Dr Lie Kiat Teng. Lalu bagaimana sejarah Lie Kiat Teng? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan-Pahlawan Indonesia: Dr Lie Kiat Teng Lahir di Soekaboemi

Setelah lulus sekolah menengah MULO, Lie Kiat Teng melanjutkan studi kedokteran di Soerabaja, Nederlandsch Indie Artsen School (NIAS). Pada tahun 1934 Lie Kiat Teng lulus ujian transisi dari kelas empat ke kelas lima (lihat De Indische courant, 09-06-1934). Yang satu kelas dengannya antara lain Djamaan Biran dan Sjahboedin. Di bawah mereka satu tahun antara lain Hadrianus Sinaga dan Ibnoe Soetowo. Di atas mereka satu tahun antara lain P Dalimunthe. Di atasnya lagi antara lain Amir Hoesin Siagian dan Willer Hoetagaloeng. Nama-nama yang disebut seperti kita lihat aktif dalam era perang kemerdekaan. Seperti halnya Lie Kiat Teng, juga Hadrianus Sinaga pernah Menteri Kesehatan; Ibnoe Soetowo kepala jawatan minyak RI dan Willer Hoetagaloeng sebagai dokter pribadi Jenderal Soedirman di medan gerilya saat perang. Ibnoe Soetowo dan W Hoetagaloeng berpangkat Overste (Letnan Kolonel).

Sejarah sekolah kedokteran di Indonesia (baca: Hindia Belanda) dimulai pendirian sekolah kedokteran pribumi tahun 1851 yang kemudian dikenal Docter Djawa School (di RSPAD yang sekarang). Sekolah kedokteran ini kemudian ditingkatkan dengan namanya berubah menjadi STOVIA. Siswa-siswa yang diterima sejak awal adalah lulusan sekolah dasar (belakangan lulusan ELS atau HIS). Gelar yang diberikan adalah dokter Jawa atau pribumi (Inlandsch Arts). Lalu pada tahun 1913 dimana siswa yang diterima adalah lulusan setingkat MULO. Siswa yang diterima semua golongan Eropa/Belanda, Cina dan pribumi. Gelar yang diberikan dokter Hindia (Indisch Arts). Lalu pada tahun 1927 didirikan fakultas kedokteran di Batavia Geneeskundige Hoogeschool (GHS) dengan syarat masuk lulusan HBS atau AMS. Gelar yang diberikan Arts (setara Eropa). Lambat laun NIAS dianggap menjadi suksesi STOVIA. Beberapa tahun setelah pendirian NIAS dibentuk sekolah kedokteran gugi di kampus yang sama di Soerabaja (STOVIT).

Pada tahun 1937 Lie Kiat Teng lulus ujian transisi naik dari kelas enam ke kelas tujuh teoritis (lihat Soerabaijasch handelsblad, 26-06-1937). Yang bersamaan dengan satu kelas dengan Lie Kiat Teng antara lain Djamaan Biran, Djafar Siregar, nona RVF Kaunang, Sjahboedin, Ph Napitoepoeloe dan Lo Siauw Goen. Di atas mereka yang lulus ujian pertama Indisch Arts adalah Kwee Bie Boen.

Di sekolah kedokteran NIAS tidak ada kelas persiapan seperti di STOVIA (selama tiga tahun pertama). Tiga tahun pertama ini di STOVIA kira-kira setara lulus MULO. Seperti disebut di atas siswa yang diterima di NIAS adalah lulusan setara MULO (termasuk siswa yang telah menyelesaikan tingkat persiapan di STOVIA). Lama studi di NIAS adalah enam tahun pertama bersifat umum. Pada kelas tujuh terbagi dua bagian yakni kelas teoritis yang kemudian dilanjutkan kelas praktek. Untuk mendapat gelar dokter Hindia (Indisch Arts) harus lulus ujian pertama dan lulus ujian kedua. Di STOVIA setelah tiga tahun tingkat persiapan lalu dilanjutkan pada tingkat medik selama delapan tahun (tidak ada ujian praktek). Perbedaan NIAS dan GHS adalah syarat siswa diterima, dimana NIAS (lulusan MULO) dan GHS (lulusan AMS) dengan lama studi kurang lebih sama plus ujian praktek. Beberapa lulusan AMS atau HBS melanjutkan studi kedokteran ke Belanda.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dr Lie Kiat Teng di Tjoeroep, Ir Soekarno di Bengkoeloe: Berjuang di Sumatra Bagian Selatan

Setelah lulus dan mendapat gelar dokter Indisch Arts di NIAS Soerabaja, Lie Kiat Teng dipekerjakan (secara honorer) di bawah dinas kesehatan masyarakat (Nienast der Volksgezondheid) yang ditempatkan di Tjoeroep. Beberapa waktu kemudian Dr Lie Kiat Teng diangkat sebagai dokter pemerintah dengan tetap bertugas di Tjoeroep (lihat De Sumatra post, 17-07-1940).

Tjoeroep adalah ibu kota onderfadeeling Redjang di wilayah pedalaman Residentie Bengkoelen (antara kota Loeboeklinggau, Lahat dan kota Bengkoeloe). Kota ini adalah tempat bersejarah dimana tempo doeloe Radja Tiang Alam memudahkan pusat gerilyanya melawan otoritas Belanda dari district Ampat Lawang (1852). Di kota ini juga Mr Hazairin (pernah menjadi Menteri Dalam Negeri RI) melakukan studi adat Redjang untuk meraih gelar doktor di bidang hukum di Rechthoogesschool tahun 1938. Untuk mencapai kota Tjoeroep ini harus dari kota Bengkoeloe. Sebagaimana diketahui Ir Soekarno sudah sejak 1938 berada di Bengkoeloe dengan status pengasingan yang dipindahkanb dari Flores. Boleh jadi Ir Soekarno dan Dr Lie Kiat Teng berkenalan di kota Bengkoeloe ini dan berteman satu sama lain. Dalam hal ini Ir Soekarno meski disebut pengasingan di Bengkoelo, tetapi tidak terasing karena ada antara lain Dr Lie Kiat Teng. Sementara di kota Padang ada Mr Egon Hakim Nasoetion sebagai pengacara yang baru kembali tahun 1938 dari studi hukum di Belanda dan Mr Gele Haroen Nasoetion sebagai pengacara di Teloek Betoeng yang juga tahun 1938 pulang dari studi hukum di Belanda. Mr Egon Hakim (anak wakil wali kota Padang) dan Mr Gele Haroen sepupuan. Mr Egon Hakim Nasoetion adalah menantu MH Thamrin. Seperti kita lihat nanti Mr Egon Hakim menyelamatkan Ir Soekarno dengan menculik dan mengamankan saat mau dievakuasi oleh Belanda ke Australia saat militer Jepang mendarat. Mr Gele Haroen pada saat perang kemerdekaan adalah Residen Lampoeng. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe semuanya ada permulaan dan tidak muncul tiba-tiba secara independen tetapi memiliki relasi satu sama lain.

Pada saat Lie Kiat Teng datang ke Tjoeroep tahun 1939, wilayah distrcit Redjang dapat dikatakan belum berkembang. Perkembangan yang masif di Residentie Bengkoelen umumnya berada di wilayah pantai. Wilayah-wilayah pedalaman masih dalam pertumbuhan. Saat inilah seorang dokter, yang diduga dokter pertama yang ditempatkan di wilayah Tjoeroep. Meski demikian kota Tjoroep tidaklah terisolir karena kota ini dilalui jalan antara Bengkoeloe dan Lahat. Dari Lahat ke wilayah utara (district Sarolangoen) masih dihubungkan dengan lalu lintas angkutan sungai. Jalur kereta api dari Palembang hanya sampai di Lahat.

Redjang adalah sebuah district dari Residentie Bengkoeloe. District ini berbatasan dengan district Sarolangoen, Residentie Palembang di timur laut dan district Kerintji Residentie Zuid Sumatra’s Westkust (wilayah-wilayah perbatasan dari tiga residentie). Sebagaimana wilayah-wilayah perbatasan di pedalaman selalu yang belakangan mendapat perhatian pemerintahan dalam urusan pembangunan. Tiga wilayah ini saat kehadiran Dr Lie Kiat Teng tengah tumbuh dengan baik. Kepala district Redjang (demang) adalah Mohamad Hoesin. Sementara district Kerintji saat itu demangnya adalah Marah Hoesien gelar Radja Pandapoetan (ayah dari Mochtar Lubis). Sedangkan di district Saroelangoen demang yang pertama (1903-1916) adalah Mangaradja Gading (ayah dari Abdoel Hakim Harahap, Gubrnue Sumatra Utara pertama 1951-1953). Mereka inilah yang dapat dikatakan perintis di tiga wilayah terdalam tersebut dalam era Pemerintah Hindia Belanda.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dr Lie Kiat Teng: Menteri Kesehatan Kabinet Ali Sastroamidjojo

Kabinet Ali Sastroam`idjojo dengan perdana menteri Ali Sastroamidjojo (PNI) dibentuk dan secara resmi diumumkan pada tanggal 1 Agustus 1953. Sebagai wakil perdana menteri adalah Wongsonegoro dan Menteri Dalam Negeri Prof Hazairin (keduanya dari PIR). Meski demikian susuan kabinet ini belum final. Dalam perkembangan yang singkat dilakukan perombakan kabinet. Dua menteri baru masuk yakni Mohammed Hassan. yang saat ini menjadi Resident Coordinator di Sumatera Selatan, akan diangkat menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Dr Lie Kiat Teng dari Palembang sebagai Menteri Kesehatan (lihat Algemeen Handelsblad, 07-10-1953).

Posisi Menteri Kesehatan sebelumnya masih lowong dan diisi sementara oleh Menteri Penerangan Dr Ferdinan Loemban Tobing. Dr Lie Kiat Teng (dari PSII) mengisi jabatan yang masih kosong. Sedangkan Mr Mohamad Hasan (Gubernur Sumatra pertama, 1945) menggantikan Ir Roosseno (Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga) sementara Ir Roosseno digeser menjadi Menteri Perhubungan yang dijabat oleh  Abikoesno (PSII). Dr Lie Kiat Teng tetap bertahan hingga berakhirnya kabinet Ali Sastromidjojo (24 Juli 195) yang digantikan kabinet baru Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap. Sebelumnya PIR mengundurkan dari kabinet (23 Oktober 1954) sehingga Wakil Perdana Menteri Wongsonegara digantikan oleh Zainoel Arifin Pohan (NU) dan Menteri Dalam Negeri Hazairin diisi sementara Zainoel Arifinb Pohan sebelum diisi oleh Mr Soenarjo dan Menteri Rooseno digantikan oleh Dr Adnan Kapau Gani (mantan Gubernir Militer Sumatra Selatan).

Dr Lie Kita Teng segera menemukan banyak masalah akut dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Dalam satu kunjungan dinas di Soerabaja, Dr Lie Kiat Teng menyebutkan kekurangan dokter, rumah sakit penuh sesak, Dr Lie Kiat Teng menganjurkan para dokter swasta meluangkan waktunya satu hari dalam satu minggu untuk melayani mesyarkat yang kurang mampu (lihat  De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 07-12-1953).

Kementerian Keseahatan menurut Dr Lie Kiat Teng akan menyediakan dana untuk tahun anggaran ini sebesar `100.000.000 rupiah untuk pembangunan sejumlah rumah-sakit baru (lihat Indische courant voor Nederland, 16-01-1954). Menteri Lie yang dikenal sebagai Mohamad Ali menyatakan dari semua rumah sakit baru yang akan dibangun tiga perempatnya akan digunakan untuk daerah di luar Jawa.  

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar