Laman

Senin, 31 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (388): Pahlawan Indonesia Armijn Pane; Sanoesi Pane dan Pahlawan Nasional Prof Drs Lafran Pane

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dengan mengingat Armijn Pane, akan teringat Sanoesi Pane. Dua tokoh sastrawan dan  bidang kebudayaan pada zamannya. Mengingat Armijn Pane dan Sanoesi Pane akan teringat pula pahlawan Indonesia yang telah ditabakan sebagai Pahlawan Nasional, Prof Drs Lafran Pane (pendiri HMI di Jogjakarta, 1947). Ketiganya terhubung karena memiliki orang tua yang sama di Padang Sidempoean. Saudara perempuan mereka yang tertua bernama Poetir Chairani Pane menikah dengan Dr Tarip Siregar (peneliti terbaik era Hindia Belanda). Salah satu cucu mereka adalah Prof Sangkot Marzuki, Ph.D (mantan Direktur Lembaga Eijkman).

Armijn Pane (18 Agustus 1908-16 Februari 1970) adalah seorang Sastrawan. Pada tahun 1933 bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru. Salah satu karya terkenal ialah novel Belenggu (1940). Setelah lulus ELS di Bukittinggi, Armijn Pane melanjutkan studi kedokteran STOVIA di Batavia (1923) dan NIAS, Surabaya (1927) dan kemudian pindah ke AMS-A di Solo (lulus pada 1931) jurusan sastra barat. Armijn Pane pernah menjadi wartawan surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya (1932), mingguan Penindjauan (1934) dan surat kabar Bintang Timoer (1953). Ia pun pernah menjadi guru di Taman Siswa di berbagai kota di Jawa Timur. Menjelang kedatangan tentara Jepang, ia duduk sebagai redaktur Balai Pustaka. Pada zaman Jepang, Armijn bersama abangnya Sanusi Pane, bekerja di Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) dan menjadi kepala bagian Kesusastraan Indonesia Modern. Sesudah kemerdekaan, ia aktif dalam bidang organisasi kebudayaan. Ia pun aktif dalam kongres-kongres kebudayaan dan pernah menjadi anggota pengurus harian Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) (1950-1955). Ia juga duduk sebagai pegawai tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Bagian Bahasa) hingga pensiun. Tahun 1969 Armijn Pane menerima Anugerah Seni dari pemerintah RI karena karya dan jasanya dalam bidang sastra. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Armijn Pane? Seperti disebut di atas, Armijn Pane (adik dari Sanoesi Pane dan abang dari Lafran Pane) adalah sastrawan besar Indonesia. Ayah mereka adalah pensiunan guru yang juga sastrawan lokal dengan novelnya yang terkenal Tolbok Haleon  (Hati yang Kemarau), roman pertama kali terbit di Medan tahun 1933. Lalu bagaimana sejarah Armijn Pane? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia Armijn Pane; Sanoesi Pane dan Pahlawan Nasional Prof Drs Lafran Pane

Armijn Pane lahir di Moearasipongi (afdeeling Padang Sidempoean, residentie Tapanoeli) pada tahun 1908. Abangnya, Sanoesi Pane juga lahir di kota Moearasipongi tahun 1905. Ayah mereka Soetan Pangoerabaan Pane berdinas sebagai guru di kota tersebut. Lalu kemudian dipindahkan ke Padang Sidempoean. Setelah pensiun, Soetan Pangoerabaan Pane menjadi pengusaha dan sebagai pensiunan guru tetap menulis sejarah dan sastra lokal (Zuid Tapanuli). Usaha orang tuanya di bidang perdagangan yang berbasis di tiga kota (Padang Sidempoean, Sibolga dan Sipirok (tempat kelahirannya).

Pada tahun 1879 di kota Padang Sidempoean (ibu kota afdeeling Angkola en Mandailing) dibuka sekolah guru (kweekschool). Pada tahun 1881 guru baru, Charles Adrian van Ophuijsen ditambahkan di Kweekschool Padang Sidempoean. Pada tahun 1885 ibu kota Residentie Tapanoeli dipindahkan dari Sibolga ke Padang Sidempoean. Pada tahun-tahun ini didirikan sekolah Eropa (ELS) di Padang Sidempoean. Nnamun dalam perkembangannya ibu kota residentie dipindahkan lagi ke Sibolga. Pada tahun 1905 Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust sehubungan dengan Residentie Sumatra’s Oostkust ditingkatkan menjadi province (nama afdeeeling Angkola Mandailing diubah menjadi afdeeling Padang Sidempoean). Pada tahun-tahun ini ELS juga dipindahkan ke Sibolga. Sejak 1914 sekolah HIS didirikan di Padang Sidempoean di eks gedung kweekschool yang ditutup. Pada tahun 1919 sekolah HIS dibuka di Kotanopan. Direktur pertama HIS Kotanopan ini adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia yang baru pulang studi dan mendapat akte guru MO di Belanda. Soetan Goenoeng Moelia kelak menjadi Menteri Pendidikan RI yang kedua (menggantikan Ki Hadjar Dewantara).

Setelah menyelesaikan sekolah dasar HIS (berbahasa Belanda) di Padang Sidempoean tahun 1920, Sanoesi Pane melanjutkan ke sekolah MULO di Batavia. Lalu pada tahun 1923 Armijn Pane menyelesaikan sekolah dasar ELS di Sibolga melanjutkan studi ke STOVIA di Batavia. Pada tahun 1926 Armojn Pane lulus ujian transisi di STOVIA naik dari kelas dua ke kelas tiga tingkat persiapan (lihat De Indische courant, 14-05-1926). Satu kelas dengan Armijn Pane antara lain Mas Samadikoen, R Mohamad Roem, Tjan Joe Hok, nona RR Siti Kamsiah. Sementara di bawah mereka satu tahun antara lain Soleiman Siregar, Mas Santoso dan Pang Siregar. Sedangkan di atas mereka satu tahun antara lain Abdoel Abbas Siregar. Assaat, Abdoel Moerad dan Djaidin Poerba. Armijn Pane dan teman satu kelas yang disebut di atas, pada tahun 1927 lulus ujian transisi (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-05-1927. Demikian juga kakak mereka yang disebut di atas.

Seperti disebut di atas, siswa yang diterima di STOVIA adalah lulusan sekolah dasar HIS atau ELS. Lama studi di STOVIA dengan tahapan yakni tiga tahun pada tingkat persiapan, tujuh tahun pada tingkat medik plus dua kali ujian praktek. Gelar yang diberikan adalah dokter pribumi (Inlandsch Arts). Sejak 1913 didirikan sekolah kedokteran NIAS di Soerabaja. Siswa yang diterima adalah lulusan MULO atau sederajat dari semua golongan (Eropa/Belanda, Timur/Cina dan pribumi). Lama studi tujuh tahun plus dua kali ujian praktek. Gelar yang diberikan dokter Hindia (Indisdch Arts). Pada tahun 1927 ini didirikan fakultas kedokteran GHS di Batavaia. Siswa yang diterima lulusan AMS (enam tahun) atau HBS (lima tahun) dari semua golongan. Tahapan studi ujian kandidat pertama, ujian kandidat kedua, ujian dokter pertama, ujian dokter kedua dan ujian dokter ketiga. Gelar yang diberikan dokter (Arts). Catatan: Pada tahun 1924 didirikan fakultas hukum RHS di Batavia, Siswa yang diterima lulusan HBS dan AMS dari semua golongan. Lama studi sama dengan GHS. Gelar yang diberikan Meester in de Rechten (Mr).

Pada tahun 1927 ini  Armijn Pane, Mohamad Roem serta kekak kelas mereka Abdoel Abbas Siregar dan Assaat tidak melanjutkan studi di STOVIA. Armijn Pane melanjutkan studi  (transfer) ke NIAS di Soerabaja. Sementara Mohamad Roem, Abdoel Abbas Siregar dan Assaat transfer ke AMS Afdeeling B (MIPA) di Weltevreden  (Batavia). Mohamad Roem di kelas empat sedangkan Abdoel Abbas Siregar dan Assaat di kelas lima. Pada tahun 1928 ketiganya lulus ujian transisi, Mohamad Roem naik kelas ke kelas empat sedangkan Abdoel Abbas Siregar dan Assaat naik kelas enam (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-05-1928). Armijn Pane naik kelas dua di NIAS (lihat De Sumatra post, 22-08-1928). Armijn Pane tidak melanjutkan studi di NIAS, tetapi diterima di AMS Solo Afdeeling Letter. Pada tahun 1929 Armijn Pane lulus ujian transisi di AMS Solo naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat De nieuwe vorstenlanden, 04-05-1929).    

Sanoesi Pane setelah menyelesaikan seeekolah MULO di Batavia, melanjutkan studi ke sekolah guru Kweekschool Goenoeng Sahari di Batavia dan lulus tahun 1925. Masih pada tahun 1925 diterima di Rechthoogeschool tetapi berhenti. Pada 1926 Sanoesi Pane sebagai pengajar di Kweekschool Goenoeng Sahari. Pada tahun 1928 tidak lama setelah Kongres Pemuda 1928 berangkat ke India. Pada tahun 1931 Kweekschool Goenoeng Sahari dipindahkan ke Lembang (Sanoesi Pane juga pindah ke Lembang). Tampaknya Sanoesi Pane dan Armijn Pane lebih tertarik pada dunia sastra, jurnalistik dan pendidikan seperti ayah mereka di Padang Sidempoean. Seperti di sebut di atas, ayah mereka Soetan Pangoerabaan Pane pensiunan guru tetap meneruskan kegiatan bidang sastra dan mengelola surat kabar di Sibolga. Novel Soetan Pangoerabaan Pane berjudul Tolbok Haleon diterbitkan tahun 1933 di Medan.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Armijn Pane dan Pudjangga Baroe: Menerjemahkan Buku Habis Gelap Terbitlah Terang (RA Kartini)

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar