Laman

Kamis, 24 Maret 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (491): Pahlawan Indonesia – Noto Soeroto Studi di Leiden; Indische Vereeniging dan Soetan Casajangan

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam sejarah awal mahasiswa-mahasiswa pribumi di Belanda, nama RM Noto Soeroto sama populernya dengan nama Soetan Casajangan (pendiri Indische Vereeniging). Satu yang membedakan RM Noto Soeroto dengan mahasiswa pribumi lainnya adalah riwayat RM Noto Soeroto yang sangat lengkap dan beragam. Yang jarang dimiliki mahasiswa pribumi yang lain adalah menikah dengan gadis Belanda dan menjadi perwira dalam cadangan militer Belanda.

Raden Mas Noto Soeroto (5 Juni 1888 – 25 November 1951) adalah wartawan, penulis, aktivis budaya, penari, dan penyair. Ia adalah penyair Jawa pertama yang karya-karyanya dikenal dalam kesusasteraan Belanda. Ia banyak diingat akan syair prosanya, yang banyak dipengaruhi oleh Rabindranath Tagore. Noto Soeroto adalah putera Pangeran Ario Notodirodjo (1858-1917), putera Paku Alam V. Noto Soeroto merupakan penganjur "politik asosiasi", dimana orang Belanda dan Indonesia harus menggabungkan sifat-sifat terbaiknya - rasionalisme Barat di jantung Timur. Ia dikirim ayahnya ke Belanda untuk belajar. Noto Soeroto belajar hukum di Universitas Leiden, menjadi sarjana namun tak mencapai magister. Ia mendapat penghasilan sebagai redaktur Nederlandsch-Indië Oud en Nieuw dan menerbitkan buah pemikirannya dalam berbagai media cetak (Bandera Wolanda, Het getij, Wederopbouw, De Gids, Oedaya, De Tijdspiegel). Ia juga salah satu pendiri Perhimpunan Hindia dan menjadi pimpinannya antara tahun 1911-1914. Pada tahun 1918, Noto Soeroto menikah dengan Jo Meijer, seorang wanita Belanda. Dari pernikahan tersebut lahirlah Rawindo (1918), Dewatya (1922), dan Harindro Dirodjo (1928). Jo, Rawi dan Dewi kelak aktif dalam melawan pendudukan Nazi di Belanda. Di awal tahun 1932, ia kembali ke Hindia Belanda tanpa keluarganya. Dalam pendudukan Jepang di Indonesia, Noto Soeroto dianggap bekerja sama dengan angkatan kolonial Belanda sehingga disiksa Jepang. Setelah mangkatnya Mangkunagara VII, ia mencoba karier kewartawanan di De Locomotief. Noto Soeroto meninggal dalam keadaan miskin. Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah RM Noto Soeroto? Seperti disebut di atas, RM Noto Soeroto memiliki riwayat yang sangat lengkap. Mahasiswa pribumi di Belanda, aktivis organisasi, penulis dan seorang perwira. Lalu bagaimana sejarah RM Noto Soeroto? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan RM Noto Soeroto: Studi di Leiden

Setelah menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Belanda, Raden Mas Notosoeroto melanjutkan studi ke sekolah menengah (HBS). Pada tahun 1902 RM Notosoeroto lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 09-05-1902). Satu kelas dengan Notosoeroto antara lain Raden Soedjono, Jap Soei Tjiong, Raden Achmat dan Raden Mas Aboesono. Di atas mereka satu tahun antara lain Raden Noer Singgih, Raden Mas Moeliono dan Raden Ambija Soedikbijo. Di atasnya lagi yang naik ke kelas empat antara lain Raden Mas Kworo dan Raden Mas Soerardjo. Pada tahun 1903 RM Notosoeroto lulus ujian naik ke kelas tiga (lihat De nieuwe vorstenlanden, 08-05-1903).

Pada tahun 1903 Dr AA Fokker datang ke Hindia dan bertemu dengan pesiunan guru yang menjadi jurnalis di Padang, Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda. Fokker sepakat dengan Dja Endar Moeda membantu dalam penerbitan majalah dwimingguan di Belanda, Bintang Hindia. Tidak lama kemudian Dja Endar Moeda menyusul datang ke Belanda dengan membawa dua guru, guru senior Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan dan guru junior yang sebelumnya membantunya dalam menerbitkan majalah Insulinde, Djamaloedin. Dua guru ini akan menjadi editor bersama Dr Abdoel Rivai yang beranngkat sendiri dari Batavia. Soetan Casajangan adalah adik kelas Dja Endar Moeda lulusan sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean. Sedangkan Djamaloedin lulusan Kweekschool Fort de Kock. Pada awal tahun 1905 Soetan Casajangan pulang sebentar ke kampongnya di Padang Sidempoean karena ingin melanjutkan studi keguruan di Belanda. Soetan Casajangan berangkat bulan Juli dari Batavia menuju  kembali ke Belaanda. Pribumi yang sudah kuliah di Belanda baru satu orang yakni Raden Kartono (abang dari RA Kartini, lulusan HBS Semarang tahun 1896).

Pada tahun 1904 di HBS Semarang, RM Notosoeroto lulus ujian naik ke kelas empat (lihat De locomotief, 26-04-1904). Pada tahun 1905 RM Notosoeroto lulus ujian naik ke kelas lima (lihat De locomotief, 25-04-1905). Yang lulus bersama antara lain Raden Soedjono dan Jap Soei Tjong. RM Ambija Soedibijo mengalami ujian her. Akhirnya Raden Mas Notosoeroto lulus ujian akhir di HBS Semarang tahun 1906 (lihat De locomotief, 21-05-1906). Ini mengindikasikan RM Notosoeroto lancar dalam studi, tidak pernah ketinggalan kelas/menunda studi.

Di Belanda sudah ada sejumlah pribumi yang melanjutkan studi, selain Raden Kartono dan Soetan Casajangan, juga Djamaloedin melanjutkan studi di sekolah Landbouwschool di Waginingan, Abdoel Rivai studi kedokteran di Amsterdam, Raden Soemitro yang meneruskan sekolah HBS di Leiden, Soetan Casajangan dan Raden Kartono tinggal di alamat yang sama di Leiden.

Pada bulan Juli 1906 RM Notosoeroto berangkat ke Belanda (lihat De locomotief, 20-07-1906). Disebutkan kapal ss Ophir berangkat dari Batavia dengan tujuan akhir Nederland dimana dalam manifes kapal terdapat nama Raden Mas Noto Soeroto. Separuh dari penumpang kapal adalah militer yang telah selesai bertugas di Hindia dan hamya nama Notoseroto yang bernama non Eropa/Belanda. Diperkirakan pertengahan buklan Agustus 1906 RM Notosoeroto tiba di Belanda.

Setelah berada di Belanda, RM Notosoeroto mulai mempersiapkan ujian nasional perguruan tinggi (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 18-08-1908), Disebutkan lulus ujian sertifikat kompetensi studi pada Universitas di Fakultas Kedokteran, Sains dan Fisika diberikan kepada, diantaranya adalah Notosoeroto. Ujian ini semacam UMPTN pada masa ini.

Di universitas mana dan fakultas apa RM Notosoeroto diterima belum diketahui secara pasti. Yang jelas di Belanda, mahasiswa senior Soetan Casajangan berinisiatif mendirikan organisasi mahasiswa prribumi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-01-1909). Disebutkan Indische Vereeniging didirikan. Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, sebuah perhimpunan pribumi asal Hindia telah dibentuk di Belanda. R Soetan Casajangan menulis kepada Colonial Weekly untuk mengatakan hal berikut tentang perkumpulan tersebut.

'Pada bulan Juni tahun ini, JH Abendanon datang menemui saya dan bertanya apakah saya pernah berpikir untuk mendirikan perkumpulan untuk orang Hindia. Saya menjawab pertanyaan ini dengan iya dan kemudian dia mendesak saya untuk melanjutkan rencana saya yang bermanfaat ini. Kemudian saya memilih salah satu orang Hindia sebagai rekan saya, yaitu R. Soemitro Lalu kami mengirim undangan ke semua orang Hindia yang studi di Belanda untuk menghadiri pertemuan pembentukan. Pada tanggal 25 Oktober kami, lima belas orang Hindia, berkumpul di tempat saya, di Leiden, dan pertemuan pertama diadakan. Saya meminta Soemitro untuk menghadiri pertemuan; R. Hoesein Djajadiningrat adalah sekretaris sementara. Anggaran Dasar disetujui pada prinsipnya dengan suara bulat dan diputuskan untuk mendirikan 'Indische Vereeniging'. Kemudian kami melanjutkan untuk memilih pengurus. Presiden terpilih: R. Soetan Cssajangau Soripada, sekretaris dan bendahara RM Soemitro. Sebuah komite dibentuk untuk menyusun AD/ART yang terdiri dari dari R, Soetan Casajangan, RM Soemitro, RMP Sosro Kartono dan R Hoesain Djajadiningrst, Pada tanggal 15 November pertemuan kedua diadakan di Den Haag. Itulah sejarah 'Indische Vereeniging. Dalam statuta kita membaca bahwa Vereeniging menyandang nama "Indische Vereeniging" dan didirikan di Den Haag. Tujuannya adalah untuk memajukan kepentingan bersama orang Hindia di Belanda dan untuk tetap berhubungan dengan tanah air di Hindia, penduduk pribumi di Hindia. Asosiasi berupaya untuk mencapai tujuan ini dengan: mempromosikan interaksi antara orang Hindia di Belanda, mendorong orang Hindia untuk datang dan belajar di Belanda dengan melakukannya: dengan memberikan informasi tentang studi dan tempat tinggal di Belanda, dengan membantu orang Hindia yang baru tiba, dan dengan memberikan semua informasi yang mungkin tentang Belanda atas permintaan. Anggota biasa hanya boleh orang Hindia yang tinggal di Belanda. Kami berharap asosiasi muda ini menemui keberhasilan’.Catatan: R, Soetan Casajangan, RM Soemitro, RMP Sosro Kartono dan R Hoesain Djajadiningrst berempat sama-sama tinggal di Leiden (yang lainnya di Amsterdam, Den Haag, Haarlem, Delft dan Wageningen).

RM Notosoeroto diketahui studi (fakultas) hukum di Leiden (lihat De Maasbode, 01-04-1909). Disebutkan bahwa dewan redaksi majalah Melayu-Belanda untuk pemuda Hindia dan Cina, yang muncul di sini di Belanda, sekarang lengkap dan terdiri sebagai berikut: Pemimpin redaksi adalah Clockener Brousson dengan anggota R Soetan Casajangan Soripada, guru Batak ternama, RM Noto Soeroto, studi hukum di Leiden, putra Pangeran Noto di Redjo dari keluarga Pakoe Alam, seorang bangsawan Jawa dan Amaroellah gelar Soetan Mangkoeto, seorang Melayu dari Pantai Barat Sumatera, mantan asisten guru di Idi di Aceh. Dalam hal ini tampaknya bidang studi RM Notosoeroto berubah menjadi bidang sosial (hukum). Padahal dalam ujian nasional masuk perguruan tinggi di Belanda Notosoetoro pada pilihan IPA (sebagaimana jurusannya di HBS).

Majalah yang diterbitkan tersebut adalah majalah Bandera Wolanda (lihat Deli courant, 03-04-1909). Penerbitan majalah baru ini menjadi semacam pengganti majalah sebelumnya Bintang Hindia yang berhenti terbit (dimana pada awalnya Soeran Casajangan juga menjadi anggota redaksi tahun 1903-1905). Setelah satu persatu keluar dari Bintang Hindia yakni Soetan Casajangan (melanjutkan studi keguruan), Djamaloedin (studi pertaniaan) dan Abdoel Rivai (studi kedokteran) direkrut lagi tiga editor yang didatangkan dari Hindia termasuk diantaranya Amaroellah. Jadi dalam hal ini RM Noto Soeroto adalah pendatang baru dalam bidang jurnalistik (di Belanda).

RM Notosoeroto tampaknya memiliki selera yang berbeda. Dalam sebuah artikel surat permbaca yang dimuat pada surat kabar De nieuwe courant, 10-05-1909 menyatakan sangat mengangumi bintang-bintang ksatria yang diberikan pemerintah Kerajaan Belanda kepada yang berprestasi pada setiap tahun, termasuk kegembiraanya ada sejumlah orang pribumi yang mendapatkan tanda bintang tersebut. Notosoeroto mengharapkan orang pribumi yang mendapatkan bintang menjadi lebih banyak. Boleh jadi itu karena ayahnya Notordiredjo termasuk yang mendapatkannya. Harapan Notosoeroto dalam artikel surat pembaca itu kemudian dikutip editor surat kabar De Preanger-bode, 19-07-1909 dan kemudian berbagai surat kabar.

Pendapat RM Noto Soeroto tersebut telah menjadi viral di berbagai surat kabat di Hindia maupun di Belanda. Pendapat Notosoeroto tersebut disandingkan dengan adanya protes tentara pribumi asal Jawa di Soerabaja beberapa waktu sebelumnya. Tentara Jawa tersebut tidak puas situasi dan kondisi yang ada di dalam ketentaraan karena tentara pribumi dibedakan sebagai kelas yang berbeda dengan gaji dan proyeksi karir yang tidak akan bisa dicapai pribumi. Protes ini kemudian telah mempengaruhi pemuda pribumi khususnya pemuda Jawa untuk memasuki dua militer. Dalam hubungannya dengan protes itu, pendapat Noto Soeroto yang dianggap terpeljar di Belanda menjadi sebagai angin segar di kalangan Belanda, dalam hal ini dalam pers (berbahasa) Belanda. RM Noto Soeroto menjadi seakan dijadikan role model dalam pemuda yang berpikiran maju, ke arah orientasi Belanda. Sebaliknya protes (mantan) tentara itu telah memicu dan menggelinding diantara penduduk yang mulai menyadari ketidakadilan dalam semua aspek, tidak hanya di dalam tubuh militer (berlawanan dengan puja puji Notosoeroto tentang Belanda).  

Tentu saja RM Noto Soeroto harus dimaklumi, karena masih muda. Namun persoalannya banyak mahasiswa pribumi (dalam hal ini di Belanda) yang muda-muda termasuk Raden Soemitro (sekretaris Indische Vereeniging). RM Notosoeroto berpendapat bukan tanpa disadari, tetapi sebaliknya dengan sadar mengembangkan opini ini sambil tetap memperhatikan opini yang berbeda dari dua pihak yang berbeda (orang Belanda dan orang prbumi). Oleh karena opini Notosoeroto ini ditulis dalam pers (berbahasa) Belanda di Belanda dengan sendirinya menjadi penting dalam perhatian orang-orang Belanda baik di Hindia maupun di Belanda, Pada bulan Juli RM Notosoeroto artikelnya dimuat di Nieuw Rotterdam Courant yang isinya terkait dengan pendidikan pribumi (lihat De locomotief, 03-11-1909). Opini ini juga mendapat banyak perhatian. Dalam hubungan ini, RM Notosoeroto, lewat opininya di surat kabar menjadikan namanya spesial diantara pers Belanda.

Sebaliknya, mahasiswa-mahasiswa pribumi lainnya di Belanda tidak seperti gaya Notosoeroto yang sentripetal ke luar, tetapi sentripugal ke dalam bagaimana mereka lancar studi, semakin banyak pribumi yang datang studi ke Belanda dan bagaimana mengingat situasi dan kondisi tanah air tentang penduduknya, bagaimana menumbuhkan dan membuatnya berkembang. Opini-opini Notosoeroto sebenarnya arahnya sama dengan mahasiswa-mahasiswa yang lainnya, seperti Soetan Casajangan, Tidak ada yang salah;. Hanya saja pilihan tidak bergeraknya yang berbeda. Soetan Casajangan dan kawan memulai dari belakang, dari permasalahan dasar penduduk dan (juga) mahasiswa juga termasuk peningkatan pendidikan pribumi, sedangkan Notosoeroto justru bergeak dari depan yang memperjuangkan kesamaan denga orang Eropa/Belanda, seperti bintang ksatria. Dengankata lain Notosoeroto pendekatan yang digunakannya menarik gerbong, sedangkan Soetan Casajangan dkk dengan pendekatan mendorong gerbong. Namun bahayanya pendekatan Notosoeroto ini memiliki implikasi bahwa hanya sebagian kecil pribumi (termasuk dirinya) yang terbang jauh dan terbang tinggi diantara pribumi, Sedangkan Soetan Casajangan dkk akan bergerak bersama, meski pelan tapi pasti (karena gerbongnya besar). Boleh jadi pendekatan yang diusung Soetan Casajangan ini yang menyebabkan mengapa sebelumnya Soetan Casajangan memerlukan perkumpulan (sebagai wadah persatuan dan kesatuan). Seperti kita lihat nanti Notosoeroto berjuang bagai lone ranger tentang tanah air di Belanda, sebaliknya Soetan Casajangan kembali ke tanah air menjadi direktur sekolah guru dan R Soemitro menjadi bupati (hidup bersama dengan pribumi).

Keberanian RM Noto Soeroto, yang dapat mengundang polemik, di pers (berbahasa) Belanda adalah satu poin yang penting. Suara pribumi, via Notosoeroto dapat bergaung di mata dan telinga orang Belanda (di Hindia maupun di Belanda). Namun yang ada hanya Noto Seoroto sendiri. Ibarat pohon kelapa menjulang tinggi diantara pepohonan besar akan mudah tersambar petir. RM Notoseoeroto yang berapi-api, terkesan ingin bergegas dan cenderung tidak sabar, sebaliknya Soetan Casajangan dkk lebih cenderung agak bersabar tetapi ada kemajuan yang dihasilkan meski itu kecil.

Pribumi pertama yang memulai polemik di surat kabar (berbahasa( Belanda ini adalah Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, pemimpin surat kabar Perta Barat di Padang. Polemik Dja Endar Moeda ini terjadi pada tahun 1899. Ibarat kendaraan, gaya yang kini dilakukan Notosoeroto dalam membawa kendaraan adalah dengan menekas gas (gaspol) sedangkan Dja Endar Moeda dengan menekan rem sambil menukar gigi (rtendah atau tinggi). Ketika kebijakan baru GG ingin memperluas penggunaan bahasa Belanda di bidang pendidikan bahkan hingga sekolah dasar, Dja Endar Moeda protes bahwa itu tidak mungkin, bahkan menurut Dja Endar Moeda untuk pengajaran di sekolah guru bahasa Belanda sebaiknya jangan menjadi kewajiban tetapi sebagai pilihan. Ketika orang-orang Belanda mengumpulkan dana secara nasional (termasuk pribumi kaya dan Cina ikut menyumbang) untuk membantu transvaal di Afrika Selatan, Dja Endar Moeda protes bahwa bantun itu lebih penting untuk mengangkat drajat penduduk pribumi yang berada di sekitar anda daripada orang de Boer di Afrika Selatan. Pada tahun 1905 Dja Endar Moeda disudutkan dengan pasal delik pers yang lalu kemudian Dja Endar Moeda divonnis pengadilan dengan hukuman cambuk dan diusir dari koat Padang. Gaya Dja Endar Moeda inilah yang kini berkembang diantara para anggota mahasiswa pribumi yang tergabung dalam Indische Vereeniging, minus RM Noto Seoroto. Bukankah gayanya sama dengan Dja Endar Moeda? Seperti disebut di atas Dja Endar Moeda dan Soetan Casajangan sama-sama lulusan sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean. Seperti kita lihat nanti, gaya kedua anak Padang Sidempoean akan diikuti junior mereka di Batavia, Parada Harahap, jurnalis berpengaruh di Batavia (sejak 1923).

RM  Notosoeroto dan Soetan Casajangan tidak lama di majalah Bandera Wolanda *mungkin sudah ditutup). Soetan Casajuangan menjadi editor pada majalah Bintang Perniagaan (diterbitkan  (diterbitkan oleh Fa. B.J. Rubens & Co.). Soetan Casajangan sendiri sudah lulus guru akta LO tahun 1909 (dan lulus akta MO tahun 1911) dan mengajar di sekolah pedagangan Handelschool di Amsterdam. Pada fase ini diterbitkan majalah (Jawa) di Belanda yang diterbitkan oleh Het Huis Oud en Nieuw yang diberi nama Oedaja (Oedyana Para Prajifna) dengan editor Dr Boenjamin. Dalam edisi (pertama) bulan April 1910 salah satu artikel ditulis oleh RM Notosoeroto dengan judul ‘Masa depan kita juga dalam perdagangan dan pelayaran (lihat Algemeen Handelsblad, 11-05-1910). RM Notosoerorot juga menulis artikel di majalah Het Huis Oud en Nieuw (lihat  Algemeen Handelsblad juga 30-05-1910).

RM Notoseoroto kembali menulis artikel di surat kabat Nieuw Rotterdam Courant yang menyoriti peran Boedi Oetomo dalam peningkatan status kesehatan masyarakat di Jawa (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 09-07-1910). Untuk sekadar menambahkan Boedi Oetomo didirikan mahasiswa STOVIA pada Mei 1908 di Batavia antara lain R Soetomo, R Goenawan dkk. Namun pada kongres pertama di Jogjakarta pada bulan Oktober dikooptasi oleh para senior yang mana ketua terpilih bupati Karanganjar. Setelah tiga tahun kepengurusan baru dipimpin oleh Notokoesoemah. Namun baru satu tahun ketua Boedi Oetomo mendapat kririik yang kemudian mengundurkan diri pada tahun 1912. Sebagai pengganti ketua dalam kepengurusan baru adalah Notodiredjo (ayah dari RM Notosoeroto).

Bagaimana tentang studi RM Notosoeroto di Leiden yang tinggal di Den Haag tidak terinformasikan. Sementara rekan-rekan mereka sudah ada yang menyelesaikan, paling tidak separuhnya, seperti Abdoel Rivai, Boenjamin dan Laoh telah lulus dokter, Soetan Casajangan lulus sekolah guru akta LO dan Raden Kartono dalam bidang Indologi. Yang jelas pada tahun 1910 dikabarkan RM Notosoeroto berminat bergabung dengan kadet cadangan militer Belanda (lihat Bredasche courant, 30-07-1910). Sebagaimana sebelumnya RM Notosoeorot pernah penulis artikel berjudul ‘Pertahanan Jawa dengan bantuan Jawa’ yang dimuat pada surat kabar Nieuwe Rotterdam Courant). Apakah ada kaitan ide-ide Notosoeto tentang bintang ksatria dan pertahanan dan tentara pribumi dengan keinginan bergabung dengan militer Belanda mungkin terkait. RM Noto Soeroto memang berbeda.

Tunggu deskripsi lengkapnya

RM Noto Soerot: Indische Vereeniging dan Soetan Casajangan

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar