Laman

Kamis, 14 April 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (532): Pahlawan Indonesia dan Dr Tjan Tjoe Som Studi ke Belanda;Sinologi Universitas Leiden dan UI

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Siapa Tjan Tjoe Som? Dalam laman Wikipedia dengan entri Tjan Tjoe Som disebutkan sebagai guru besar Universitas Indonesia (UI) yang secara khusus memperhatikan bidang Sinologi. Namun narasi sejarahnya yang ditulis sangat minim. Okelah, Untuk memperkaya narasi sejarah Tjan Tjoe Som masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Mari!

Tjan Tjoe Som (1903-1969) adalah guru besar di Jurusan Sinologi, Universitas Indonesia, di Jakarta. Salah seorang murid bimbingannya adalah Mely G. Tan yang juga menjadi seorang Sinolog terkemuka di Indonesia. Tjan Tjoe Som dilahirkan di Surakarta dari sebuah keluarga Tionghoa Muslim. Tjoe Som belajar di Universitas Leiden, Belanda jurusan Sinologi dengan thesis Po Hu T'ung (Kelenteng Harimau Putih). Dia kemudian bekerja sebagai pustakawan di Perpustakaan Sinologi di Leiden. Ia menerbitkan thesisnya pada tahun 1949, dan pada tahun 1950 dia diangkat menjadi Profesor Filosofi Chinese di Leiden. Tjan pada tahun 1952 kembali ke Indonesia walaupun banyak yang kolega yang menginginkan ia tetap tinggal di Belanda. Ia dan saudaranya, Prof. Tjan Tjoe Siem disingkirkan oleh pemerintah Orde Baru karena menjadi anggota Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) yang dianggap sebagai organisasi onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah satu hasil tulisannya adalah Po Hu T'ung, The Comprehensive Discussions in the White Tiger Hall (Leiden: E.J. Brill, 1949 & 1952) (Wikipedia). Jadi teringat nama Ibu Mely G Tan yang pernah menjadi dosen saya dalam mata kuliah metodologi riset dan tentu saja suami beliau yang menjadi pimpinan saya dalam tim penelitian pengembangan transportasi di wilayah Jabodetabek (1994).

Lantas bagaimana sejarah Tjan Tjoe Som? Seperti disebut di atas, Tjan Tjoe Som adalah seorang guru besar du Universitas Indonesia tempo doeloe. Ada yang menyebut Tjan Tjoe Som adalah Bapak Sinologi Indonesia. Lalu bagaimana sejarah Tjan Tjoe Som? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan Dr Tjan Tjoe Som Studi ke Belanda: Sinologi Universitas Leiden dan UI

Nama Tjan Tjoe Som kali pertama diberitakan pada tahun 1917 (lihat De nieuwe vorstenlanden, 11-06-1917). Disebutkan di sekolah MULO di Solo lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua diantaranya Tjan Tjoe Som. Siswa-siswa di sekolah MULO Solo seperti halnya di kota-kota lain terdiri dari golongan Eropa/Belanda, Cina dan pribumi. Pada tahun 1921 Tjan Tjoe Som diberitakan lulus ujian bahasa Inggris (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-06-1921). Disebutkan lulus ujian  di Bandoeng untuk bidang bahasa Prancis dan bahasa Inggris yang mana Tjan Tjoe Som salah satu yang lulus bidang bahasa Inggris. Dari nama-nama yang lulus tersebut hanya Tjan Tjoe Som yang bernama non Eropa/Belanda.

Siswa yang diterima di sekolah menengah MULO adalah lulusan sekolah dasar berbahasa Inggris (HIS atau ELS). Lama studi adalah tiga tahun. Lulusan MULO dapat melanjutkan ke sekolah menengah seperti HBS atau lainnya. Jika Tjan Tjoe Som tahun 1917 naik ke kelas dua, jika dan hanya jika lancar studi, Tjan Tjoe Som lulus ujian akhir tahun 1919. Dengan membandingkan tahun 1921 lulus ujian bahasa Inggris, diduga Tjan Tjoe Som mengikuti sekolah/lembaga bahasa (Prancis dan Inggris) selama dua tahun (sejak 1919).

Sejak Tjan Tjoe Som lulus ujian bahasa Inggris di Bandoeng, tidak terdengar berita Tjan Tjoe Som lagi. Beritanya baru muncul kembali tahun 1929 (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 23-11-1929). Disebutkan Dr. WF Stutterheim menerbitkan tiga buku: (1)  A Javanese Period in Sumatran History; (2) Oudheden van Bali; dan (3) Tjandi Bara-Boedoer. Penerbitan buku-buku tersebut terkait dengan Tjan Tjoe Som.

Tiga buku ini saling terkait dalam hubungannya dengan sejarah dan kepurbakalaan. Dr. WF Stutterheim sendiri saat itu adalah kepala dinas kepurbakalaan. Dalam buku itu juga mengutip George Coedes. Prof N.J. Krom, Gabriel Ferrand dan Prof. J.Ph. Vogel yang mana WF Stutterheim melakukan koreksi berdasarkan data baru dengan beberapa kesimpulan antara lain bahwa Dinasti Sheilendra tidak memiliki Sriwijava (Palembang) sebagai wilayah utamanya, tetapi Jawa Tengah dan Jawa Tengah telah menjadi penerusnya, yaitu pada abad kedelapan dan kesembilan. Juga kesimpulan itu dikaitkan dengan keberadaan candi Borobudur. Disebut nama Bara-Boedoer dijelaskan Stutterheim. sebagian meniru Dr. Purbatjaraka sebagai "Biara Bukit" atau "Komplek Biara Bukit’. Tiga buku itu tiga terbitan ini dalam satu tahun, yang sangat memperkaya literatur tentang kepurbakalaan Jawa, Soematra dan Bali. Buku-buku tersebut diterbitkan oleh penerbit, firma Kolff di Weltevreden dan Tjan Tjoe Som di Solo. Risalah buku itu disarikan oleh Prof Dr CC Berg.

Tjan Tjoe Som di Solo, kampong halamannya telah menjadi penerbit. Boleh jadi Tjan Tjoe Som meneruskan usaha orangtua. Dalam hal ini, Tjan Tjoe Som telah terhubung secara langsung dengan peneliti sejarah dan kepurbakalaan Dr Stutterheim dan secara tidak langsung dengan Prof Berg. Hingga tahun 1932, Tjan Tjoe Som masih tinggal di Solo dan diketahui sebagai salah satu aktivis.

De Indische courant, 11-05-1932: ‘Sekolah Mulo di Solo. (Dari koresponden kami) Beberapa perwakilan dari asosiasi Pribumi, Tiong Hwa dan perhimpoenan orang Indo (Indoblijvers vereeniging) telah membentuk sebuah komite untuk membantu keterbatasan pendidikan dasar yang komprehensif bagi orang tua dan untuk mencari solusi untuk menyediakan pendidikan dasar menengah bagi para remaja yang tidak melanjutkan. Dalam seruannya kepada orang tua dikatakan. Komite yang akan kami perkenankan untuk berbicara lebih lanjut, sebagai berikut: Tahun lalu Muloschool dimulai dengan kira-kira. 100 siswa persiapan dan 125 di kelas 1, saat ini hanya ada ruang untuk sekitar. 70 kelas persiapan dan 100 di kelas 1. Krisis Muloschool, yang didirikan oleh perorangan, betapapun niatnya baik, tidak akan cukup membantu dan kelas malam yang diselenggarakan dan mahal tidak untuk kepentingan semua pihak. Disini, dalam pandangan kami, adalah tugas komunitas atau Pemerintahan Sendiri untuk membantu, dalam pandangan kami, tugas mereka untuk campur tangan dimana pemerintah tampaknya tidak berdaya. Untuk pernyataan dukungan atas kemungkinan permintaan kepada pemerintah untuk memberikan solusi yang lebih adil daripada pembatasan pendidikan menengah, seperti yang sedang terjadi disini, kami meminta Anda mengirim kartu nama atau sejenisnya ke salah satu alamat berikut: KRMH Woerjaningrat di Purwosari, Ong Siang Tjoen di Pasar Kembang, VL de Lannee de Bretancourt di Mangoendjajan, Soetedjo di Kadipolo, Tjan Tjoe Som di Pasar Pon, EJ van Naerssen di Pasar Legi, Singgih di Kadipolo dan Dr Satiman di Keprabon’. De locomotief, 02-01-1934: ‘Asosiasi. Federasi Asosiasi Pemuda Tiongkok. Pada tanggal 26 Desember. Di Tawang Mangoe, selama konferensi Chung Hsioh, dimana ketua dewan ketua Hua Chiao Tsin Nien Hui dan Shiong Tih Hui diundang sebagai undangan, sebuah federasi dari Asosiasi Pemuda Tiongkok yang besar ini didirikan. Dalam panitia kerja yang akan menentukan kegiatan, Chung Hsioh. Tjan Tjoe Som untuk HCTNH, See  Woon Howe dan Shiong Tih Hui Ir Tan Sin Houw.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Penelitian Sejarah Kuno Indonesia: Dr Tjan Tjoe Som hingga Generasi Masa Kini

Dalam perkembangannya Tjan Tjoe Som diketahui sudah berada di Belanda. Tidak terinformasikan sejak kapan Tjan Tjoe Som berangkat ke Belanda. Yang jelas pada tahun 1934 Tjan Tjoe Som masih berada di tanah air. Seperti halnya di tanah air aktif dalam organisasi, Tjan Tjoe Som di Belanda juga aktif dalam organisasi. Tjan Tjoe Som kali pertama diketahui di Belanda pada tahun 1936.

Soerabaijasch handelsblad, 16-04-1936: ‘Chung Hwa Hui di Belanda. Peringatan seperempat abad. Aneta memberi kabar dari Den Haag bahwa Chung Hwa Hui disana merayakan hari jadinya yang ke-25 kemarin. Sebuah pertemuan perjamuan dan resepsi diadakan, dimana anatara lain hadir Prof Duyvendak, Prof. Idema dan Prof. Swellengrebel. Pemimpin pemuda Cina Hindia Tjan Tjoe Som memberikan presentase tentang posisi orang Cina Hindia, menunjukkan kesalahan yang menyebabkan posisi ini memburuk. Dia mendorong solidaritas dan partisipasi nyata dalam politik. Asosiasi menerima surat ucapan selamat dari utusan Tiongkok untuk Belanda yang tidak bisa hadir’.  

Dalam hal apa Tjan Tjoe Som  di Belanda belum diketahui, apakah bekerja atau melanjutkan studi. Dalam suatu artikel dalam surat kabar De Indische courant, 04-05-1936 ada indikasi bahwa Tjan Tjoe Som tengah studi di Belanda. Beberapa bulan kemudian Tjan Tjoe Som diberitakan lulus ujian MO bahasa Inggris Akte A di Utrecht (lihat Christelijk sociaal dagblad voor Nederland De Amsterdammer, 05-08-1936). Disebutkan Tjan Tjoe Som tinggal di Leiden.

Akta guru MO adalah guru kepala, Lulus ujian MO setara dengan sarjana pendidikan (kira-kira lulusan IKIP yang sekarang). Di bawah akta guru MO adalah akta guru LO. Besar dugaan ujian yang diikuti oleh Tjan Tjoe Som pada tahun 1921 di Bandoeng adalah ujian akta guru LO bahasa Inggris. Setelah itu diketahui Tjan Tjoe Som kembali ke Solo. Besar dugaan di Solo, Yjan Tjoe Som mengahajar di sekokolah menengah MULO (swasta). Hal itulah mengapa Tjan Tjoe Som berpartisipasi dalam komite pengembangan sekolah MULO di Solo pada tahun 1932. Masih di Solo, pada tahun 1934 Tjan Tjoe Som sebagai salah satu ketua organisai pemuda Cina yang berpartisipasi dalam pembentukan federasi. Besar dugaan Tja Tjoe Som berangkat ke Belanda pada tahun 1934 atau beberapa bulanm setelahnya yang kemudian mengikuti program pendidikan untuk mendapat akta guru MO (lulius 1936).  Sebelum Tjan Tjoe Some, telah banyak guru-guru asal Indonesia (baca: Hindia) yang telah lulus dan mendapatkan akta guru MO yakni yang pertama Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan tahun 1911. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoengf Moelia tahun 1918 (kelak Menteri RI kedua), Sjamsi Sastra Widagda (1920); Dahlan Abdoellah 1921 dan lainnya. Soewardi Soejaningrat (kelak dikenal Ki Hadjar Dewantara) di Belanda hanya akta guru LO saja (lulus 1921).

Meski sudah lulus guru MO di Belanda, Tjan Tjoe Som tampaknya tidak segera pulang ke tanah air di kampong halamannya di Solo. Hal ini karena, paling tidak di dalam nama-nama penumpang kapal ke Batavia selama satu tahun kemudian setelah lulus MO. Pada tahun 1938 Tjan Tjoe Som berpartisipasi dalam suatu kongres pendidikan di Leiden.

Algemeen Handelsblad, 17-03-1938: ‘Pertemuan Mahasiswa Internasional. Ned. Komite Layanan Mahasiswa Internasional Belanda akan mengadakan konferensi di Leiden dari 28 Maret hingga 1 April untuk mahasiswa Belanda, Hindia Belanda, Cina, Inggris, dan India Inggris Subjek: "Pendidikan". Pembicara akan menghadirkan CF Strickland dari Inggris, Prof. Dr. J Ph. Vogel, Tjan Tjoe Som, Prof. Dr CC Berg serta seorang penutur bahasa Belanda-Indonesia dan Inggris-Indonesia. Bahasa yang akan digunakan adalah bahasa Inggris. Informasi lebih lanjut disediakan oleh sekretariat International Student Service, Breestraat 41, Leiden’.

Dalam kongres internasional pendidikan di Belanda itu terinformasikan bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris. Tjan Tjoe Som guru bahasa Inggris lulusaan akta gur MO bahasa Inggris di Belanda termasuk salah satu pembicara. Dalam kongres ini juga terinformasikan dua nama penting yakni Prof. Dr J Ph. Vogel dan Prof. Dr CC Berg yang dapat dihubungkan dengan penerbitan hasil penelitian Dr WF Stutterheim tahun 1929 dimana Tjan Tjoe Som berpartisipasi dalam penerbitannya. Paling tidak dalam hal ini sudah ada koneksi langsung atau tidak langsung mereka bertiga. Dalam konferensi dimana Tjan Tjoe Som pada hari kedua membawakan makalah berjudul „The relation of educatlon to indigenous inatitutions". (lihat Algemeen Handelsblad, 31-03-1938).

Dalam kongres mahasiswa internasional di Belanda tersebut, Tjan Tjoe Som mengindikasikan masih kuliah setelah mendapat akta guru MO. Besar dugaan setelah lulus MO, Tjan Tjoe Som melanjutkan studi lebih lanjut untuk mendapatkan gelar master, yang menjadi persyaratan untuk promosi ke tingkat doktoral.

Tjan Tjoe Som tidak teronformasikan hingga terjadi pendudukan Jerman di Belanda sejak bulan Mei 1940. Meski terjadi pendudukan dan pendidikan tinggi sempat ditutup tetapi kemudian universitas kembali dibuka. Mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia (Hindia Belanda), yang tidak bisa pulang ke tanah air karena telah terputus komunikasi sejak pendudukan Jerman, terus melanjutkan studi masing-masing. Tentu saja dalam hal ini Tjan Tjoe Som juga meneruskannya. Pada tahun 1941 diberitakan Tjan Tjoe Som lulus ujian sarjana (master) di Leiden dalam bidang Chineesch-Japansche .taalen -. letterkunde, (lihat Leidsch dagblad, 08-07-1941).

Sejumlah mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia di Belanda berhasil menyelesaikan pendidikan, tingkat sarjana, master dan doktoral saat pendudukan Jerman di Belanda masih berlangsung. Untuk yang lulus doktor (Ph.D) antara lain Ong Eng Die dalam bidang ekonomi di Amsterdam, Soemitro Djojohadikoesoemo dalam bidang ekonomi di Rotterdam dan Masdoelhak Nasoetion dalam bidang hukum di Utrecht. Di Belanda sendiri terdapat organisasi mahasiswa-mahasiswa sepertti Chung Hwa Hui untuk golongan Cina (didirikan 1911) dan Perhinpoenan Indonesia untuk golongan pribumi (didirikan 1908). Pada saat pendudukan Jerman ini para pemimpin Perhimpeioenan Indonesia yang anti fasis ditangkap yakni Parlindoengan Lubis (ketua), Sidhartawan (sekretaris) dan Mohamad Ildrem Siregar (bendahara). Sidhartawan meninggal dalam tahanan, Ildrem Siregat dibebaskan, sedangkan Parlindoengan Lubis terus ditahan di kamp NAZI.

Satu yang menarik dari bidang yang dipelajari oleh Tjan Tjoe Som adalah dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik kemudian mempelajari sastra bahasa Cina-Jepang. Mengapa Tjan Tjoe Som tertarik pada sastra dan bahasa Jepang? Bukankah saat itu di Indonesia (Hindia) terjadi gerakan anti Jepang diantara orang-orang Cina (sebagai solidaritas terhadap pendudukan Jepang terhadap China. Boleh jadi Tjan Tjoe Som bukan tergolong anti Jepang, tetapi seperti umumnya orang pribumi di Indonesia anti Belanda (sedikit pro ke Jepang).

Soal studi tentang Jepang, sudah ada orang Indonesia sebelumnya di Belanda. Pada tahun 1925 Sjamsi Sastra Widagda berhasil meraih gelar doktor di Amsterdam dengan tesis tentang perdagangan Jepang. Selanjutnya pada tahun 1933 tujuh revolusioner Indonesia, yang terbilang anti Belanda berangkat ke Jepang. Ketujuh revolusiner Indonesia itu dipimpin oleh Parada Harahap yang didalannya termasuk Dr Sjamsi Sastra Widagda dan Drs Mohamad Hatta berangkat ke Jepang pada bulan November 1933. `Mereka tiba kembali ke tanah air pada tanggal 14 Januari 1934 di Tandjoeng Perak Soerabaja, dimana pada hari yang sama Ir Soekarno diberangkatkan dari Tandjoeng Priok diasingkat ke Flores. Sebagaiman disebut di atas pada periode waktu itu Tjan Tjoen Som aktif berpartisipasi dalam pembentukan federasi pemuda Cina/Tionghoa di Solo (lihat De locomotief, 02-01-1934). Besar dugaan, dalam hal ini, Tjan Tjoe Som adalah salah satu pendukung fanatik (perjuangan) nasionalis Indonesia. Oleh karenanya Tjan Tjoe Som menjadi tidak kontraproduktif dengan memilihj sastra dan bahasa Jepang sebagai bidang kajiannya di Belanda.

Dalam perkembangannya, Belanda dibebaskan dari Jerman oleh Sekutu. Kebebasan Belanda kembali di Belanda. Para mahaiswa asal Hindia juga terasa ikut  terbebaskan.. Beberapa bulan kemudian, Kerajaaan Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Beberapa hari kemudian pada tnaggal 17 Agusrus 1945 di Djakarta diproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Algemeen Handelsblad, 05-09-1945: ‘Cina di Den Haag Merayakan Kemenangan. Pesta kemenangan kemarin dirayakan oleh koloni Cina di Den Haag dan diperkenalkan dengan prosesi eksotis yang memuncak dalam pertemuan yang dihadiri banyak orang di aula besar Kebun Binatang yang didekorasi dengan indah. Drs. Tjan Tjoe Som menunjukkan bahwa, sepanjang sejarah, budaya Cina selalu menaklukkan musuh yang menyerang, dan bahwa perlawanan empat belas tahun melawan Jepang muncul dari semangat cinta kebebasan Cina. Walikota De Monchy berharap bahwa periode kerjasama yang bermanfaat akan dimulai antara Belanda, Hindia Belanda dan Cina yang hebat. Tamzil berbicara atas nama Perhimpoenan Indonesia, setelah itu Prof. Burgers mengucapkan terima kasih kepada orang-orang Belanda. Atas nama panitia perayaan Cina, hadiah 1000 dan 500 gulden diserahkan kepada anggota gerakan perlawanan yang berduka dan Palang Merah. Sebuah koleksi juga mengumpulkan lebih dari 1.100 gulden. Tarian Cina dan Hindia mengisi acara antara istirahat. Yang hadir antara lain Alderman De Vries, para profesor Waterman, Duyvendack, Nieuwenhuizen dan Burgers, Mayor Baron Melvill van Carnbee atas nama MG. dan Boasson, sekretaris Kota;’. Het parool, 05-09-1945: ‘Cina merayakan kemenangan. Sebuah rekaman prosesi penuh warna dan aneh yang dilakukan oleh orang Tionghoa yang tinggal di sini di Belanda kemarin di  Den Haag. Sebelumnya, para korban perang telah diperingati di aula Kebun Binatang. Sebuah karangan bunga putih kecil ditempatkan di taman, dimana bunga-bunga diletakkan. Di aula yang didekorasi dengan penuh selera dan dihias dengan meriah, pesta kemenangan besar juga diadakan tadi malam. Banyak yang harus puas dengan tempat berdiri. Setelah membaca wasiat Dr. Sun Yat Sen, Drs Tjan Tjoe Som, ketua Chung Hwa Hui, asosiasi Cina angkat bicara.

Dalam berita tersebut diketahui yang menjadi ketua Chung Hwa Hui adalah Tjan Tjoe Som. Sedangkan ketua Perhimpoenan Indonesia, setelah Parlindoengan Lubis dutanggap dan masih di tanah militer Jeerman, adalah FKN Harahap. Pada bulan Mei FKN Harahap memimpin anggota Perhimpoenan Indonesia dalam suatu demonstrasi menuntuk kemerdekaan Indonesi di Jepang.

De bevrijding: weekblad uitgegeven door de Indonesische Vereniging Perhimpoenan Indonesia, 26-05-1945): ‘De vrijheidsbetogingen te Amsterdam (9 Mei 1945). Demonstrasi besar di Amsterdam dengan mengatasnamakan Perhimpunan Indonesia untuk menuntut kemerdekaan Indonesia yang berkumpul di lapangan Istana Kerajaan. Bendera Merah Putih menjulang diantara demonstrasi. Banyak orang Amsterdam yang mendukung demo ini dengan simpati. Beberapa orang Amsterdam juga ikut naik panggung untuk berbicara untuk mendukung kemerdekaan Indonesia termasuk Wali Kota Amsterdam...F. Harahap telah berpidato, yang mewakili atas nama Perhimpunan Indonesia untuk mengatakan beberapa kata. mengucapkan terima kasih kepada orang-orang Belanda untuk semua dukungan dan simpati ini, yang mana orang Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus memperjuangkan kemerdekaan.

Namun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan terjadi gerakan Belanda memasuki kembali wilayah Indonesia. Sudah barang tentu itu bertentangan dengan isi proklamasi kemerdeka. Orang-orang Belanda tetap ngotot masuk dan ingin menguasai Indonesia. Akibatnya perang yang terjadi. Disinilah orang Belanda diuji.

Sebagaimana diketahui Belanda belum lama dibebaskan dari Jepang. Selama pendudukan Jerman di Belanda, para mahasiswa Indonesia ikut berjuang. Ketika belum lama ini Belada terbebaskan, mahasiswa Indonesia agak sedidikit lega yang kemudian mengalihkan perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. Demonstrasi Indonesia di Belanda untuk mendapatkan kemerdekaan (dari Jepang) didukung orang Belanda. Akan tetapi ketika Indonesia diproklamasikan 17 Agustus 1945 Belanda lupa semuanya yang belum lama terjadi dengan mengorganisasikan orang-orang Belanda untuk menduduki  dan menguasai Indonesia (kembali). Belanda dalam hal ini tidak tahan uji, yang mengemuka adalah nafsu ingin menguasai demi keuntungan.

Sudah barang tentu di Indonesia ada pihak yang menerima Belanda (bekerjasama), sebaliknya di Belanda ada pihak Indonesia yang menjalin kerjasama dengan Belanda. Kerjasama tidak didasarkan atas kekuasaan tetapi dengan dasar harmoni. Mereka inilah kemudian yang membentuk Perhimpunan Belanda-Indonesia di Indonesia. Ini mengindikasikan tidak ada lagi sekat-sekat antara satu sama lain Belanda, Cina dan pribumi. Untuk mencapai tujuan itu, mereka yang tergabung dalam Perhimpunan Belanda-Indonesia di Belanda memajukan manifesto pada bulan Januari 1946 termasuk di dalamnnya yang menandatangani Tjan Tjoe Som (lihat De waarheid, 03-01-1946).

Manifesto itu pada intinya menyerukan kepada orang Belanda dan orang Indonesia yang tengah berselisih di Indonesia untuk saling menahan diri. Kedua belah pihak memilih untuk tidak menggunakan kekuatan senjata, tetapi untuk saling berkonsultasi. Dasar untuk ini haruslah pengakuan tanpa syarat atas hak Indonesia untuk memerintah sendiri, yang sampai kesepakatan akhir pada Konferensi Meja Bundar. Oleh karena itu memohon kepada Piagam Atlantik dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang keduanya telah ditandatangani oleh Belanda dan dimana prinsip kerjasama supranasional di satu sisi dan prinsip penentuan nasib sendiri bangsa-bangsa berlabuh di lainnya. Pengurus Nasional Perhimpunan Belanda-Indonesia Prof Dr dr JPB de Josselin de Jong, RM Soenito. Dr JA Verdoorn, JWB Riemens. RMR Woerjaningrat. Dr Ong Eng Die. HJ de Dreu. Selain ditandatangani oleh pengurus Perhimpunan Belanda-Indonesia, yang ikut menandatangi manifesto tersebut antara lain Prof Dr W Asselbergs (Anton van Dunkerque), Dr KJ Brouwer, Prof Dr GWJ Drewes, TM Daliloedin Loebis, Drs M Daroesman, FJ Goedhart (Pieter 't Hoen), E Gobée, FKN. Harahap, Mr T. Harahap-Soedjanadiwirja, GH van Heuven Goedhart, FJ Heyligers. J van de Kieft, AJ Koejemans, Prof Dr RD Kollewijn, Prof Dr H Kraemer, F Kuiper, Dr Parlindoengaan Loebis, W. Middendorp, LN Palar, Mr NDG Pamontjak, E Poetiray, HM van Randwijk. Prof J Romein, Geert Ruygers, SJ Rutgers, Prof. P Scholten, GH Slotemaker de Bruine, RM Setyadjit Soegondo, N Stufkens, BW Schaper, Tajibnapis, S Tas, Tjan Tjoe Som, JM den Uyl, Prof MW Woerdeman, K Woudenberg. TM Yoesoef, JJ Voskuil, JJ Buskes..

Perselisihan Belanda – Indonesia di Indonesia terus bergulir. Tjan Tjoe Som belum ingin kembali ke tanah air. Boleh jadi karena keadaan yang semakin kacau. Tampaknya Tjan Tjoe Som tetap bertahan di Belanda. Perjanjian Linggarjati sebenarnya sudah dapat diterima oleh para anggota yang tergabung dalam Perhimpoenan Belanda – Indonesia di Belanda. Akan tetapi menjadi bermasalah karena DPR Belanda mengubah kebijakan yang terkesan melanggar perjanjian Linggarjati yang merasa terganggu dengan fakta-fakta ini dan fakta-fakta lainnya, yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan keyakinannya (lihat De waarheid, 05-02-1947)

Disebutkan bahwa hal itu merusak dasar yang masuk akal dan dapat diterima secara moral untuk kerjasama di masa depan dengan Indonesia, HANYA MEMBANGUN DI ATAS YAYASAN LINGGADJATI DAPAT DAMAI DAN KEMAKMURAN BAGI BELANDA. NEGARA DAN INDONESIA. Lalu Pengurus Nasional Perhimpunan Belanda-Indonesia dan anggotanya di Belanda memajukan manifesto baru yang juga turut ditandatangani oleh Tjan Tjoe Som. Dari pihak Indonesia yang turut menandatangani manifesto tersebut, selain Tjan Tjoe Som adalah LN Palar; Dj. Pratomo; Tjiam Djoekhiam; Tjan Tjoe Som; T Loemban Tobing. Nama-nama yang turut mendantangani manifesto pertama sudah ada yang pulang ke tanah air seperti Dr Parlindoengan Loebis dan Dr Ong Eng Die serta Setjajit.

Dalam sotuasi dan kondisi yang belum menguntungkan dan menemukan jalan keluar perselisihan Belanda – Indonesia di Indonesia, Tja Tjoe Som tetap intens menyelesaikan studinya di Belanda. Seiring dengan adanya keinginan bersama antara pihak Belanda dan Indonesia dalam perdamaian dengan gencatan senjata yang kemudian akan dilanjutkan ke perundingan (KMB di Den Haag) Tjan Tjoe Som juga di Belanda sudah menuman proses penyelesaian studinya. Pada bulan Juli 1949 diberitakan lulus ujian doktoral (lihat Algemeen Handelsblad, 09-07-1949). Disebutkan Tjan Tjoe Som dinyatakan lulus sebagai doktor dalam bidang sastra dan filsafat (cum laude) dengan disertasi "Po Hu T' Ung: ‘The comprehensive discussions in the White Tiger Hall’.

Selesai sudah studi Tjan Tjoe Som di Belanda dan telah mencapai level tertinggi dalam pendidikan sebagai doktor. Satu yang tersisa dari berita ini adalah bahwa desertasi Tjan Tjoe Som tampaknya ditulis dalam bahasa Inggris. Bukankah Tjan Tjoe Som seorang guru bahasa Inggris di Solo yang lulus ujian akta guru LO bahasa Inggris di Bandoeng yang melanjutkan studi di Belanda dan telah meraig akta guru MO bahasa Ingris sebelum meneruskan studi untuk mendapat gelar master (Drs) dan doktor (Dr). Dsertasi bahasa Inggris akan memberi efek luas karena dapat dibaca secara internasional.

Dalam minggu-minggu terakhii di Den Haag perundingan antara Belanda dan Indonesia kemudian disepakati sejumlah perjanjian damai yang permberlakuannya dimaulai pada tangfgal 27 Desember 1949 bahwa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Tentu saja Tjan Tjoe Som sumringah. Akan tetapi Tjan Tjoe Som tidak buru-buru pulang ke tanah air. Hal ini karena Tjan Tjoe Som akan diangkat sebagai guru besar di Universitas Leiden (lihat Algemeen Handelsblad, 16-08-1950).

Sementara rekannya FKN Harahap akan kembali ke tanah air. FKN Harahap bersama istrinya yang tinggal di Imhofflaan No. 59 Amsterdam bersiap-siap pulang ke tanah air (De Vrije Pers: ochtendbulletin, 31-01-1950). Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-01-1951 memberitakan kembali di tanah air. Dari Calcutta FKN Harahap dengan pesawat KLM tiba di Bandara Kemajoran. Di tanah air, FKN Harahap memulai karir sebagai dosen di Akademi Wartawan di Batavia. FKN Harahap sendiri selesai studi tingkat master pada tahun 1946 (lihat Friesch dagblad, 10-07-1946). Disebutkan FKN Harahap berhasil ujian akhir di Vrije Universiteit, Amsterdam.

Hubungan Tjan Tjoe Som dan FKN Harahap terbentuk karena hubungan yang baik di Belanda antara relasi organisasi Perhimpoenan Indonesia dan organisasi Chung Hwa Hui. Besar dugaan bahwa Tjan Tjoe Som adalah ketua terakhir Chung Hawa Hui dan FKN Harahap sebagai ketua terakhir Perhimpoenan Indonesia.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dr Tjan Tjoe Som: Guru Besar Sinologi di Universitas Indonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar