Laman

Sabtu, 30 April 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (561): Pahlawan Indonesia–Melayu Serumpun vs Serumpun Melayu; Austronesia, Melanesia, Polinesia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Penggunaan kata serumpun selama ini dipersepsikan biasa-biasa saja. Namun kata serumpun tersebut belakangan ini menjadi hangat terbicarakan. Hal ini sehubungan dengan masalah hubungan antara Malaysia dan Indonesia tentang isu (bahasa) Melayu. Kata serumpun sendiri menurut KBBI adalah (1) satu nenek moyang; satu keturunan; (2) sekumpulan (sekelompok) yang berasal dari satu induk (tentang tumbuhan, bahasa). Lalu isu Melayu itu dalam penggunaan kata serumpun dihubungkan dengan ras: Austronesia, Melanesia dan Polinesia.

Rumpun bahasa adalah sekumpulan bahasa-bahasa yang mempunyai perintis yang sama yaitu bahasa purba dari rumpun tersebut. Seperti halnya rumpun biologis, bukti keterhubungan antara bahasa-bahasa serumpun dapat diamati dari karakteristik bahasa-bahasa tersebut. Sebuah rumpun bahasa yang dapat diidentifikasi dengan tepat adalah sebuah kesatuan filogenetis yang berarti bahwa semua dari anggota rumpun bahasa tersebut diturunkan dari sebuah perintis dan semua bahasa turunannya dimasukkan ke dalam rumpun tersebut. Sebagian besar bahasa-bahasa di bumi adalah anggota dari sebuah rumpun bahasa, tetapi ada juga bahasa-bahasa (seperti bahasa isolat yang keterhubungannya dengan bahasa lain tidak diketahui atau dipertentangkan). Konsep rumpun bahasa didasarkan dari anggapan bahwa seiring dengan berjalannya waktu sebuah bahasa akan perlahan-lahan pecah menjadi bermacam-macam logat yang masing-masing pada akhirnya menjadi sebuah bahasa baru. Namun, persilsilahan bahasa lebih kabur daripada persilsilahan biologis karena bahasa dapat lebih mudah bercampur (baik karena kontak bahasa, penaklukan, atau perdagangan) sedangkan spesies biologis umumnya tidak dapat bersilang seperti itu. Pada kasus bahasa kreol dan bahasa campuran lainnya perintis dari bahasa tersebut berjumlah lebih dari satu. Namun kasus seperti ini bukanlah mayoritas dan kebanyakan bahasa yang ada di bumi dapat digolongkan secara jelas (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Melayu Serumpun atau Serumpun Melayu? Seperti disebut di atas, isu kata serumpun ini mengemuka dan semakin intens dibicarakan dalam hubungannya natara Indonesia dan Malaysia. Lantas bagaimana sejarah Melayu Serumpun atau Serumpun Melayu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia–Melayu Serumpun atau Serumpun Melayu: Austronesia, Melanesia dan Polinesia

Seperti halnya ras (genetik), bahasa juga diturunkan. Sejak terbentuknya ras, sejak itu pula terbentuknya bahasa dalam wujud kolektif. Kolektif-kolektif pengguna bahasa akan semakin berjarak dengan kolektif yang lainnya seiring dengan penyebaran geografis dan perjalanan waktu. Dalam hubungan ini, selain ras dan bahasa diturunkan, ras dan bahasa juga mengalami persebaran (perrubahan ras dan bahasa). Hal itulah mengapa pada masa ini di seluruh muka bumi telah terbentuk ras-ras yang berbeda dan bahasa yang berbeda-beda. Meski demikian, asal-usul ras dan bahasa itu menjadi penting diperhatikan, karena dari suatu tempat pada waktu tertentu di masa lalu bermula.

Ras dan bahasa berarti membicarakan manusia. Dimana manusias berasal di peta bumi yang luas ini, secara teori harus sesuai dengan kodrat manusia itu sendiri. Manusia yang lemah, harus tumbuh dan berkembang di lingkungan alam yang membuatnya tumbuh dan berkembang dengan baik. Ibarat benih akan tumbuh dengan baik di tanah yang subur. Namun kesuburun hanya syarat perlu, lalu diperlukan iklim yang sesuai untuk pertumbuhan (udara dan sinar matahari). Pada lingkungan serupa ini flora dan fauna tumbuh dengan baik, sepanjang tahun, yang menjadi sumber kehidupan manusia itu sendiri untuk tumbuh dan berkembang. Dimana lingkungan yang kondusif untuk manusia tumbuh, secara teoritis berada di lingkaran bumi yang disebut khatulistiwa.

Secara teoritis, dan sudah banyak yang membuktikan dari berbagai aspek, seperti arkelogi dan biologi genetika, manusia generasi pertama itu berasal dari Afrika, suatu manusia berkulit gelap. Wilayah Afrika ini sesuai dengan lingkungan manusia yang lemah untuk tumbuh dan berkembang, yang secara umum manusia Afrika ini menyebar ke dua arah di garis iklim yang sama di lingkar bumi khatulistiwa (ke arah barat dan ke arah timur). Dalam konteks inilah manusia generasi pertama diduga menyebar ke sebelah timur hingga Pasifik.

Namun tentu saja tida semua manusia generasi awal dari Afrika menyebar semua, ada yang tetap tinggal dan tumbuh dan berkembang di Afrika. Wilayah (barat dan timur) penyebaran baru seperti di Indonesia akan tumbuh dan berkembang. Oleh karena alam dan lingkungan yang sama wujud ras dan bahasa tidak berbeda jauh karena sama-sama di garis muka bumi yang sama (khatulistiwa). Oleh karena itu kita menjadi paham mengapa salah satu wujud kuno ditemukan di Jawa seperti manusia purba di Trinil (Pithecanthropus erectus) hingga Homo Sapiens dan kemudian adanya piramida purba Gunung Padang.  

Manusia generasi pertama di Indonesia (baca: pulau-pulau Nusantara) sudah tentu manusia generasi pertama yang hidup di Afrika. Pada generasi kedua, tidak ada penyebaran manusia dari garis permukaan bumi khatulistiwa ke selatan. Penyebaran justru ke wilayah utara dimana terdapat daratan yang luas dengan iklim yang lebih sejuk. Penyebaran ini bersifat vertikal; Afrika ke daratan Eropa, Amerika (selatan) ke daratan Amerika (utara) dan Nusantara ke daratan Asia (timur) serta pulau-pulau di selatan India ke daratan di Asia (tengah).

Tidak adanya penyebaran manusia ke selatan karena tidak adanya daratan yang sesuai kecuali sampai Afrika Selatan, Amerika Selatan dan Australia. Penyebaran manusia ke arah utara, di iklim yang sejuk, tetapi sumber daya kehidupannnya tidak sekaya dengan sumber daya kehidupan di lingkar bumi khatuslistiwa. Penyebaran manusia ke wilayah utara memiliki tantangan (kesulitan-kesulitan sendiri). Penyebaran ke wilayah utara (vertikal) adalah gelombang kedua dari penyebaran manusia generasi pertama (horizontal). Sebagaimana penyebaran manusia secara horizontal karena adanya tekanan populasi (kepadatan, peperangan), penyebaran ke utara juga akibat tekanan populasi. Manusia bagian dari populasi yang tertekan akan mencari jalan keluar ke wilayah baru, meski lingkungan alamnya yang lebih berat. Semakin ke utara tantangan lingkungan alam semakin berat seperti tanah-tanah yang tandus dan musim dingin yang sangat dingin.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Melayu Serumpun atau Serumpun Melayu: Bahasa Malaysia versus Bahasa Indonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar