Laman

Kamis, 12 Mei 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (585): Pahlawan Indonesia–Pendidikan di Malaysia Sejak Era Inggris; Guru Didatangkan dari Indonesia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Pelembagaan pendidikan sejak awal di negara Malaysia (baca: wilayah Semenanjung termasuk Penang dan Singapoera) pada dasarnya memiliki pengalaman yang kurang lebih sama dengan di Indonesia (baca: Hindia Belanda). Namun dalam perjalanan sejarah masing-masing, terutama sejak 1824 proses pelembagaan pendidikan mengalami perbedaan yang dari waktu ke waktu terus melebar. Oleh karennya sejarah pendidikan di Malaysia dan sejarah pendidikan di Indonesia berbeda. Meski demikian ada fase tertentu dalam sejarah pendidikan di Malaysia para guru datang atau didatangkan dari Indonesia.

Sistem pendidikan di Malaysia diselia oleh Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM). Pendidikan Malaysia boleh didapatkan dari sekolah tanggungan kerajaan, sekolah swasta atau secara sendiri. Sistem pendidikan dipusatkan terutamanya bagi sekolah rendah dan sekolah menengah. Kerajaan negeri tidak berkuasa dalam kurikulum dan aspek lain pendidikan sekolah rendah dan sekolah menengah, sebaliknya ditentukan oleh kementerian. Hanya pendidikan di sekolah rendah diwajibkan dalam undang-undang. Oleh itu, pengabaian keperluan pendidikan selepas sekolah rendah tidak melanggar undang-undang. Sekolah rendah dan sekolah menengah diuruskan oleh Kementerian Pelajaran Malaysia tetapi dasar yang berkenaan dengan pengajian tinggi diuruskan oleh Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia yang ditubuhkan pada tahun 2004. Sejak tahun 2003, kerajaan memperkenalkan penggunaan bahasa Inggeris sebagai bahasa pengantara dalam mata pelajaran yang berkenaan dengan Sains dan Matematik Sekolah Kebangsaan. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar di Sekolah Kebangsaan merupakan salah satu jenis sekolah rendah. Satu jenama yang diberi kepada sekolah yang dikenal pasti cemerlang dalam klusternya daripada aspek pengurusan sekolah dan kemenjadian murid. Pewujudan sekolah kluster bertujuan melonjakkan kecemerlangan sekolah dalam sistem pendidikan Malaysia dan membangun sekolah yang boleh dicontohi oleh sekolah dalam kluster yang sama dan sekolah lain di luar klusternya. Bahasa Cina atau Bahasa Tamil digunakan sebagai bahasa pengantar. Sekolah Jenis Kebangsaan merupakan salah satu jenis sekolah rendah. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah pendidikan di Malaysia? Seperti disebut di atas, sejarah pendidikan di Malaysia berbeda dengan sejarah pendidikan di Indonesia yang menyebabkan terdapat perbedaan dalam sistem pendidikan. Dalam fase tertentu sepanjang sejarah pendidikan di Malaysia terjadi kehadiran guru-guru dari Indonesia. Lalu bagaimana sejarah penidikanm di Malaysia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia – Pendidikan di Malaysia Sejak Era Inggris; Guru Didatangkan dari Indonesia

Hingga tahun 1885 Inggris belum memiliki arti yang penting di Semenanjung. Tidak seperti Belanda di Hindia Belanda. Wilayah yurisdiksi Inggris begitu luas di muka bumi, meski banyak orang dan militer tetapi akibat terbagi habis, di wilayah kecil hanya sedikit yang berada di wilayah Semenanjung. Hanya karena ada beberapa kapal perang Rusia lewat di selat Singapoera dan berhenti selama waktu tertentu, banyak penduduk Singapoera melarikan diri ke Malaka dan Riau (lihat Soerabaijasch handelsblad, 07-12-1885). Pada fase ini Singapoera masih rapuh dan kedudukan Gubernur di Penang masih sangat lemah.

Gubernur Straits Settelement (Semenanjung Malaka) berkedudukan di Penang. Perang di Kwala Lompoer berakhir tahun 1875, pemerintah Inggris lalu membentuk pemerintahan di Selangor. Ibukota Residentie Selangor ditetapkan di Kwala Lompoer (menggantikan Klang?). Residen pertama (Davidson) diangkat tahun 1875. Sejak tahun 1874 Selangor dan Soengei Odjoeng dibawah protektorat Inggris. Selangor, Perak, Sungei Oedjoeng dan Djeleboe, Pahang dan Negeri Sembilan (yang terikat dalam satu konfederasi). Wilayah-wilayah lainnya langsung dibawah Inggris yakni Penang, Malaka, Singapoera dan Province Wyl (Dindings). Pada tahun 1874 di Perak ditempatkan seorang Residen (yang pertama Bich). Gubernur Straits Settelement yang berkedudukan di Penang kemudian dipindahkan ke Taiping. Gubernur sendiri bertanggung jawab kepada Menteri Koloni (di Inggris). Hal yang pertama dilakukan Inggris di Kwala Loempoer adalah membangun rumah residen sebagai pusat pemerintahan Inggris di Residentie Selangor. Kedua, pasukan Inggris yang semakin banyak membangun garnisun militer dan pos polisi. Orang-orang yang membantu Inggris dalam awal pemerintahan di Kwala Lompoer ini bukan orang-orang Melayu, Cina atau Mandailing dan Angkola tetapi didatangkan dari India (India, Bengalen, Sigh) baik sebagai tentara, polisi maupun pegawai-pegawai pemerintahan.

Untuk menghindari dari berbagai ancaman asing, pada tahun 1896 Kwala Loempoer di pedalaman ditetapkan sebagai ibukota konfederasi Semenanjung. Ini dengan sendirinya Kwala Lompoer akan menjadi ibukota Residentie Selangor juga menjadi ibukota konfederasi (negara) Semenanjung. Saat penetapan ibukota konfederasi ini (1896) Gubernur masih tetap berkantor di Taiping (Perak) sambil menunggu selesainya bangunan baru Kantor Gubernur. Bangunan kantor ini sangat megah dan selesai tahun 1900. Sejak inilah pengembangan pendidikan dimulai di Semenanjung (Straits Settelement).

Tidak seperti di Hindia Belanda, dimana pemerintah banyak terlibat dalam pengeeembangan pendidikan modern (aksara Latin), bahkan sejak 1821, di Semenanjung (pemerintah) Inggris memberikan kebebasan kepada semua penduduk, baik penduduk pribumi (Melayu) maupun asing (Cina, India/Bengalen, Minang kabau, Angkola/Mandailing, dll) untuk menyelenggarakan pendidikan sendiri-sendiri. Orang Cina mendatangkan guru dari Tiongkok, orang India/Bengal mendatang guru dari India, orang Minangkabau mendatangkan guru dari Sumatra Barat dan orang Angkola Mandailing mendatangkan guru dari Tapanoeli.

Kapan introduksi pendidikan modern (aksara Latin) dimulai di Semenanjung tidak diketahui secara pasti. Sudah barang tentu itu dimulai di kota-kota pelabuhan seperti Penang, Malaka, Singapoera, Djohor dan Pahang serta Klang. Bagaimana di Koeala Loempoer? Yang jelas pada masa transisi ibu kota negara dipindahkan dari Taiping ke Koeala Loempoer elemen penduduk asli Semenanjung (Melayu) mulai berupaya membujuk penduduk pribumi Indonesia (Hindia Belanda) beremigrasi ke Semenanjung seperti ke Malaka dengan iming-iming prospek yang lebih baik (lihat antara lain De nieuwe vorstenlanden, 11-02-1889).

Pada tahun 1850 di Afdeeling Mandailing dan Angkola diintroduksi pendidikan dengan mendirikan sekolah rakyat di Panjaboengan dan Padang Sidempoean. Pada tahun 1854 dua lulusan terbaik Si Asta (Panjaboengan) dan Si Angan (Padang Sidempoean) dikirim untuk mengikuti pendidikan kedokteran di Batavia (Docter Djawa School; dibuka tahun 1851). Dua siswa Mandailing dan Angkola yang mengikuti pendidikan dokter ini adalah siswa pertama yang berasal dari luar Jawa. Pada tahun 1856 Dr. Asta ditempatkan di Mandailing dan Dr. Angan di Angkola. Pada tahun 1857, Si Sati alumni sekolah rakyat di Panjaboengan berangkat studi ke Belanda untuk mendapatkan akte guru. Pada tahun Si Sati yang telah mengubah namanya menjadi Willem Iskander selesai studi di Belanda dan kembali ke kampung halaman dan tahun 1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobatoe (Mandailing). Siswa-siswa yang diasuh Willem Iskander berasal dari lima sekolah rakyat yang ada di Afdeeling Mandailing dan Angkola. Pada tahun 1864 Kweekschool Tanobato ini dinyatakan sekolah guru yang terbaik di Nederlandsch Indie (baca: Hindia Belanda). Pada tahun 1865 sekolah ini diakuisisi pemerintah sebagai sekolah guru negeri (sebelumnya sudah ada dua sekolah guru negeri: di Soerakarta didirikan tahun 1850 dan di Fort de Kock tahun 1856).  Dengan demikian sekolah guru Tanobatoe adalah sekolah guru negeri yang ketiga. Lulusan sekolah guru ini disebarkan ke seluruh Tapanoeli (bahkan ada yang merantau ke Semenanjung).

Mengapa penduduk pribumi Semenanjung (Melayu) berupaya membujuk penduduk pribumi Indonesia bermigrasi, sementara sudah sejak lama dan sudah cukup banyak penduduk pribumi Indonesia yang bermigrasi ke Semenanjung seperti Mandailing, Angkola dan Minangkabau? Sudah barang tentu untuk menambah kekuatan Melayu dengan memperbanyak populasi dari wilayah serumpun untuk mengimbangi populasi Cina dan India yang terus meningkat.

Sebagai gambaran perubahan populasi di Semenanjung dapat diperhatikan di Kedah pada tahun-tahun sebelum terjadinya perang saudara di Selangor (antara Raja Mahdi dan Tuanku Kudin) sudah terdapat 20.000 kuli dari Tiongkok yang bekerja di tambang-tambang timah (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-10-1872). Populasi Cina di Perak juga terus meningkat. Sebagaimana halnya dengan Perak, lalu kemudian juga terjadi di Selangor. Ini bermula di Laroet, Perak ditemukannya tambang timah terbaik. Pada akhir 1873 hanya tersisa 4.000 jiwa di district Laroet. Lalu Inggris datang dan melakukan perjanjian dengan Soeltan Perak pada tanggal 20 Januari 1874. Tidak lama kemudian pekerja mengalir lagi ke Laroet. Pada akhir 1874 terdapat sebanyak 33.000 pendatang baru yang mana sebanyak 26.000 Cina. Pada awal tahun 1874 hanya terdapat 30 tambang tetapi pada akhir tahun 1874 sudah sebanyak 120 buah tambang yang menghasilkan 1.584.000 dollar (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 30-10-1875). Nama Laroet kemudian berubah menjadi Taiping (ibukota konfederasi Semenanjung). Tidak lama kemudian hal serupa terjadi di Selangor. Ini bermula bahwa ibukota Selangor beribukota Langat dalam beberapa tahun terakhir telah berkembang pesat. Inggris memburu Raja Mahdi, pada bulan Agustus 1874 Kapitein Swettenham menduduki Langat, wilayah yang sangat kaya hasil tambang timah. Inggris melakukan perjanjian dengan Sultan Wilayah ini dilaporkan juga kaya akan kayu berharga, di mana gula, kopi dan tembakau juga ditanam (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 30-10-1875). Dalam Perang Selangor ini Radja Mahdi didukung orang-orang Angkola Mandailing di pedalaman (wilayah Koeala Loempoer) sementara lawan politiknya didukung oleh orang Cina. Atas bantuan Inggris orang Melayu dan pengikut Radja Mahdi tersingkir dan juga orang Cina mendapat angin yang mana kemudian orang Angkola Mandailing terpinggirkan. Sejak inilah pendatang Cina semakin banyak di Koeala Loempoer ditambah lagi ribuan kuli Cina didatangkan dari Tiongkok.

Dalam konteks inilah penduduk pribumi Semenanjung (Melayu) tertinggal dalam pendidikan modern (aksara Latin). Orang Melayu masih terikat dengan tradisi sekolah agama (Islam) dimana aksara yang digunakan huruf Jawi (Arab gundul). Hanya penduduk pribumi asal Indonesia yang memiliki pengetahuan aksara Latin. Sementara orang India sebagian masih dengan aksara India dan sebagian yang lain dengan aksara Latin. Sedangkan orang-orang Cina dengan aksara sendiri (aksara Cina). Dalam hubungan ini orang Inggris yang semakin banyak di Semenanjung tentu saja dengan aksara Latin. Adanya prinsip diantara orang Melayu, bahwa Melayu adalah Islam (preferensi ke aksara Jawi), menjadi satu halangan sendiri untuk menerima dan juga sulit memiliki akses ke pendidikan modern (aksara Latin). Orang-orang pendatang (Mandailing, Angkola dan Minangkabau) meski sudah terbiasa dengan aksara Latin juga masih diajarkan aksara Jawi.

Sejak awal era Pemerintah Hindia Belanda (1817) introduksi pendidikan modern (aksara Latin) terus diperluas, tidak hanya di kota-kota besar juga hingga ke kota-kota kecil. Lebih-lebih sejak dibukanya sekolah guru tahun 1851 di Soeracarta yang lalu kemudian sekolah guru dibuka di Fort de Kock tahun 1856 yang selanjutkan dibuka di Tapenoeli (Tanobato, Mandailing) pada tahun 1862 tidak hanya jumlah guru yang bertambah tetapi juga perluasan sekolah dan penerimaan murid semakin banyak. Dalam hubungan inilah semakin banyak penduduk di tiga wilayah dimana sekolah guru terdapat semakin banyak yang terpelajar (dengan pengetahuan terkait dengan aksara Latin).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pendidikan di Malaysia Sejak Era Inggris: Semakin Hari Semakin Berbeda dengan Indonesia

Secara teknis Konfederasi Semenanjung (cikal bakal Negara Malaysia) sejatinya baru dimulai pada era dimana ibu kota baru ditetapkan di Koeala Loempoer. Ibu kota baru dengan permasalahan baru. Tentu saja bagaimana sistem pendidikan diselenggarakan oleh pemerintah belum terpikirkan. Sistem pendidikan dalam arti sistem yang dibangun pemerintah dan pemerintah hadir dalam pendidikan penduduk. Bahkan untuk masalah yang esensial di bidang pertanian justru baru dimulai.

Selama ini pemerintah Inggris di Semenanjung di bawah gubernur Straits Settelement sejak di (ibu kota) Penang, hanya fokus pada ekonomi perdagangan hasil-hasil tambang khususnya timah dan jasa pelayanan perdagangan yang dipusatkan di Penang dan Singapoera. Barang industri diimpor dari India, Eropa dan Tiongkok. Sementara kebutuhan pokok penduduk utamanya beras didatangkan dari Sumatra, Jawa, Burman dan Thailand. Pertanian di Semenmanjung oleh penduduk pribumi dan pendudukan asal Mandailing, Angkola dan Minangkabau hanya bersifat subsiten. Sedangkan kebutuhan beras dan produk-produk pertanian terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya populasi pendatang khususnya dari India dan Tiongkok. Dalam situasi ini Inggris di Semenanjung mulai melihat masalah. Orang-orang Belanda mengolok-olok orang Albion atau para putra Radja Edward di Semenanjung pemalas. Boleh jadi itu karena sistem pertanian di Sumatra dan Jawa sudah lama eksis ditangan para insinyur Belanda. Tahun 1904 mulai ada gagasan mengatasi masalah pembangunan pertanian di Semenanjung. Para teknisi Inggris di Semenanjung meminta advis dari lembaga pertanian di Ceylon dan juga lembaga pertanian di Hindia Belanda (lihat Soerabaijasch handelsblad, 26-08-1904). Saran dari Ceylon meminta Inggris di Semenanjung untuk membentuk departemen pertanian setelajh kunjungan lembaga pertanian Ceylon yang dipimpin Mr J Willis di Perak, Selangor, dan Negri Sembilan. Sementara itu, orang-orang Inggris di Semenanjung juga bertanya-tanya mengapa Jawa begitu makmur (dalam pertanian) yang kemudian mereka berangkat ke Jawa untuk mempelajarinya. Saran dari Jawa adalah tanah Semenanjung itu sangat subur seperti halnya Sumatra dan diperlukan upaya. Upaya berikutnya yang disarankan Willis untuk mendorong orang Melayu dari sikap malas.

Dalam banyak hal Inggris di Semenanjung tertinggal jauh dari tetangga mereka di Sumatra dan Jawa. Mengapa demikian? Orang-orang Inggris tersebar di berbagai wilayah di muka bumi, di Amerika Utara, Jazirah Arab, India, Australia dan bahkan Tiongkok. Wilayah Tanah Semenanjung di peta diaspora Inggris hanyalah titik kecil yang sedikit kurang terperhatikan kecuali hanya semata-mata karena perdagangan dan penambangan timah. Sebaliknya Belanda hanya fokus di Hindia Barat (Suriname dan sekitar) dan Hindia Belanda. Energi Belanda lebih terkonsentrasi di Hindia Belanda. Hal itulah meski banyak perang yang dihadapi di Hindia Belanda, tetapi potensi alam dan penduduk yang besar menjadi alasan yang kuat untuk intensifikasi dan ekstensifikasi semua bidang seperti cabang-cabang pemerintahan, perdagangan, infrastruktur jalan dan pelabuhan, kesehatan, pendidikan, pertanian, pertambangan dan sebagainya.

Seperti disebut di atas, di Hindia Belanda introduksi pendidikan modern (aksara Latin) dengan mendirikan sekolah-sekolah pemerintah bagi penduduk pribumi seiring dengan pendirian sekolah-sekolah bagi orang Eropa/Belanda (ELS). Pada tahun 1851 sekolah guru pribumi (kweekschool) didirikan di Soeracarta dan sekolah kedokteran pribumi (Docter Djawa School) didirikan di Batavia. Lalu pada tahun 1856 didirikan sekolah guru di Fort de Kock tahun 1856 yang kemudian disusul pendirikan sekolah guru di Tanobato (Mandailing) tahun 1862 dan sekolah guru di Bandoeng tahun 1866. Sementara di Batavia sejak tahun 1860 dibuka sekolah menengah Eropa.Belanda (HBS) di Batavia. Pada tahun 1875 sekolah HBS dibuka di Soerabaja dan kemudian disusul pembukaan sekolah HBS di Semarang tahun 1877. Pada fase ini juga pemerintah membuat program pengiriman guru-guru muda untuk studi keguruan ke Belanda. Sementara itu, sehubungan dengan kebijakan pemerintah untuk memberi slot (kuota) bagi pribumi dan Timur Asing khususnya Cina di sekolah ELS tahun 1880an yang pada berikutnya dimungkinkan untuk melanjutkan ke sekolah HBS. Pada tahun 1884 di Buitenzorg diselenggarakan kursus (pendidikan) kedokteran hewan bagi pribumi dan di kota yang sama kemudian dibuka sekolah pertanian beberapa tahun kemudian. Tidak lama kemudian juga dibuka sekolah pemong (sekolah pemerintahan) di beberapa tempat seperti di Jawa, Sumatra dan Sulawesi. Selanjutnya pada tahun 1896 seorang pribumi lulusan HBS Semarang melanjutkan studi ke universitas di Belanda. Pada tahun 1902 sekolah kedokteran pribumi Docter Djawa School ditingkatkan menjadi sekolah kedokteran STOVIA. Jumlah pribumi yang studi di perguruan tinggi di Belanda semakin banyak, paling tidak tahujn 1908 sudah ada sekitar 20an mahasiswa. Tiga tahun berikutnya orang Cina asal Hindia yang studi di Belanda sudah pula ada belasan orang.  Pada tahun 1907 dibuka sekolah kedokteran pribumi (veeartsenschool) di Buitenzorg. Pada tahun 1909 di Batavia dibuka sekolah hukum bagi pribumi dan kemudian pada tahun 1912 sekolah pertanian Buitenzork ditingkatkan menjadi Midlebarelnadbouw School. Praktis pada tahun 1912 semua sekolah-sekolah yang dibutuhkan di Hindia Belanda sudah terpenuhi, sementara di Semenanjung masih merupakan babak baru pengembangan pertanian dan [re]organisasi sistem pendidikan bagi pribumi.

Kurangnya perhatian Inggris pada pengembangan sistem pendidikan di Semenanjung, boleh jadi karena setiap penduduk, terutama penduduk pendatang telah berinisiatif membentuk pendidikan (sekolah) sendiri-sendiri. Juga boleh jadi hasrat untuk menyatukan sistem pendidikan di Semenanjung dianggap tidak urgen dengan melihat pengalaman Inggris di India dimana sekolah-sekolah dengan bahasa pengantar bahasa Inggris telah melahirkan golongan revolusioner diantara penduduk pribumi. Sebenarnya apa yang terjadi di India, di Hindia Belanda juga sudah muncul golongan revolusioner.

Satu hal yang membedakan situasi politik di Semenanjung dan di Hindia Belanda adalah kesadaran orang Indo/Belanda sendiri. Diantara orang Belanda khususnya orang Eropa-Indo/Belanda mulai muncul pertentangan antara Belanda totok dan Belanda Indo yang pada akhirnya orang-orang Indo/Belanda menginginkan pemisahan Hindia Belanda dari (kerajaan) Belanda untuk mengatur diri sendiri. Tentu saja perlawanan Indo/Belanda ini ditentang, Namun orang Indo/Belanda (keturunan Belanda di Hindia karena perkawinan atau karena kelahiran dan sudah lama di Hindia) tidak patah arang dan kemudian bekerjasama (berkolaborasi) dengan para pemimpin muda pribumi yang telah mendapatkan pendidikanj Eropa/Belanda. Tumbuhnya berbagai organisasi kebangsaan pribumi telah menambah tekanan bagi Pemerintah Hindia Belanda. Awal perlawanan orang Indo/Belanda pada tahun 1884 lalu pada tahun 1913 digantikan permulaan perlawanan Indo/Belanda dan pribumi terhadap otoritas pemerintah dimana tiga pentolannya diasingkan yakni Dr EFE Douewes Dekker, Soewardi Soerjaningrat dan Dr Tjipto Mangoenkosoemo. Gerakan tahun 1913 dengan cepat memasuki alam pikiran para mahasiswa pribumi yang studi di Belanda yang tergabung dalam organisasi Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia).  

Sistem pendidikan di Semenanjung masih terbilang jalan di tempat, hanya sedikit yang dilakukan perbaikan. Sementara di Hindia Belanda sistem pendidikan terus dikembangkan dan berkembang dengan sendirinya akibat adanya tekanan politik dari orang Indo/Belanda yang bekerjsasama dengan orang-orang terpelajar pribumi.

Sejak 1913 sekolah dasar Eropa diperluas dengan membentuk sekolah dasar HIS (bentuk lain dari ELS). Pada tahun ini juga dibukan sekolah HBS baru di Batavia (PHS). Untuk menampung luberan lulusan HIS kemudian dibentukan sekolah menengah pertama (MULO). Lulusan MULO ini juga dapat melanjutkan studi ke sekolah HBS yang menuntun jalan untuk melanjutkan studi ke universitas di Belanda. Oleh karenanya jumlah pribumi yang menjadi sarjana (setara Eropa) semakin banyak dari tahun ke tahun dan bahkan pada tahun 1913 sudah ada yang lulus dengan gelar doktor (Ph.D) di Belanda. Pada tahun ini juga dibuka sekolah kedokteran baru di Soerabaja. Tidak lama setelah MULO menghasilkan lulusan lalu dibuka sekolah perluasan HBS yang dikenal sebagai sekolah menengah atas AMS di beberapa kota. Lulusan AMS juga dapat melanjutkan studi ke universitas di Belanda. Akhirnya, untuk memperbanyak sarjana karena hambatan ekonomi orang tua dan jarak yang jauh studi ke Belanda lalu pada tahun 1920 dibukan sekolah tinggi untuk menghasilkan sarjana tekni di Bandoeng (THS). Salah satu lulusan pertama dari THS adalah Ir Soekarno (1926). Sebelumnya pada tahun 1924 sekolah hukum (rechtschool) di Batavia ditingkatkan menjadi sekolah tinggi (RHS) dan kemudian disusul pendirian sekolah tinggi kedokteran di Batavia (GHS) tahun 1927.  Lalu bagaimana dengan di Semenanjung?

Sekolah tinggi di Malaysia (dalam hal ini Universitas Malaya) pada dasarnnnya baru dimulai pada era kemerdekaan dengan terbentuknya Federasi Malaysia pada tahun 1957.

Ini bermula dengan pendirian Universitas Malaya di Singapoera yang pada tahun 1957 didirikan Universitas Malaya di Kualalumpur. Seperti kita lihat nanti Universitas Malaya di Singapoera akan menjadi Universitas Nasional Singapoera. Universitas Malaya di Singapoera sebelumnya merupakan gabungan dua akademi di Singapoera yang salah satu memiliki sejarah yang panjang sebagai sekolah kedokteran.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar