Laman

Sabtu, 18 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (659): Mengapa Malaysia Tidak Masuk Indonesia? Malaka, Pernah Menjadi Bagian dari Hindia Belanda

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Relasi wilayah Malaysia dengan wilayah Indonesia berbeda setiap era dalam kurun waktu 1.000 tahun. Namun ada satu masa yang aneh sejak kehadiran Inggris di Nusantara. Orang di Malaysia sekarang ini merujuk pada sejarah kehadiran Inggris. Sebaliknya orang di Indonesia merujuk pada sejarah kehadiran Belanda. Dalam huibungannya (bahasa) Melayu dan (negara) Malaysia, di Malaysia kerap muncul pertanyaan ‘mengapa Riau dan Kalimantan Barat tidak masuk Malaysia’. Akan tetapi pertanyaan yang seharusnya adalah ‘mengapa Malaysia tidak masuk Indonesia’.

Sumatra, Malaya dan Kalimantan adalah tiga wilayah yang sudah dikenal, dicatat, dipetakan sejak era Ptolomeus (abad ke-2). Sumatra bagian utara sebagai sentra produk kamper dan emas dan jarak geografis yang dekat dengan India/Arab/Eropa, perdagangan internasional memberi kemakmuran bagi penduduk Sumatra bagian utara hingga terbentuknya kerajaan yang besar dan kuat. Pada era pelabuhan Barus (di pantai barat Sumatra) dan pelabuhan Binanga (di pantai timur Sumatra) terbentuk (kerajaan) Sriwijaya yang semakin meluas hingga Sumatra bagian selatan (di Palembang) pada abad ke-7. Pada dekade inilah terbentuk bahasa Melayu (cikal bakal bahasa Sanskerta) di pantai timur Sumatra. Pada abad ke-11 (kerajaan) Chola menyerang Kadaram di Malaya (Kedah) dan kerajaan-kerajaan di Sumatra bagian utara. Pasca pendudukan Chola di selat Malaka muncul kerajaan baru di Jawa, Singhasasi (abad ke-13) yang kemudian (kerajaan) Madjapahit (abad ke-14). Pada era inilah bahasa Melayu yang telah berkembang di pantai timur Sumatra melauas hingga Malaya. Pada abad ke-15 terbentuk (kerajaan) Malaka (merujuk pada nama Malaya). Kerajaan Malaka selalu di bawah dominasi Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra (Padang Lawas). Pelaut-pelaut Portugis menaklukkan Malaka tahun 1511 (lalu terbentuk Kerajaan Djohor). Paralel di Jawa Kerajaan Demak menaklukkan Madjapahit, lalu terbentuk Kerajaan Mataram (lihat lebih lanjut di bawah).  

Lantas bagaimana sejarah mengapa Malaysia tidak masuk Indonesia? Seperti disebut di atas, pada masa ini muncul pertanyaan mengapa Riau dan Kalimantan Barat tidak masuk Malaysia, tetapi pertanyaan yang seharunya adalah mengapa Malaysia tidak masuk Indonesia. Sejarah adalah narasi fakta dan data. Lalu bagaimana sejarah mengapa Malaysia tidak masuk Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Mengapa Malaysia Tidak Masuk Indonesia? Malaka, Pernah Menjadi Bagian Hindia Belanda

Kehadiran Belanda di Nusantara 1596 mengubah peta geopolitik. Setelah menaklukkan Portugis di Ambon, Belanda mendirikan Batavia (VOC) tahun 1619. Saat mana Kerajaan Atjeh berselisih dengan Malaka (Portugis) dan Djohor (Melayu), Kekuasaan Portigis di nusantara harus berakhir tahun 1641.

 

VOC/Belanda menaklukkan Portugis di Malaka tahun 1641 dan membangun pos perdagangan di Riau, pulau Bintan (hub perdagangan VOC Batavia, Palembang, Riau dan Malaka). Sementara itu Banten masih menguasasi Lampung dan Kalimantan Barat. Pertarungan pengaruh antara Belanda dan Inggris di Banten pada akhirnya kekuasaan jatuh ke Belanda (termasuk Lampung dan Kalimantan Barat). Hanya tinggal Atjeh yang masih indepnden  antara Sabang hingga Merauke.

 

VOC/Belanda kecolongan di Bengkulu dan jatuh ke Inggris (di India). Setelah terusir dari Amerika (proklamsi kemerdekaan Amerika Serikay 1774), dengan modal Bengkulu, Inggris dari India, membentuk koloni baru di Australia (VOC terusir dari Australia). Selama penduduk Inggris yang singkat di Jawa (1811-1816), Inggris mendapatkan Penang dan Singapoera untuk mengawal Malaka. Penyerahan kembali Nusantara Inggris kepada Belanda, Inggris masih memiliki kaki di Bengkulu, Penang dan Singapoera. Lalu terjadilah perjanjian Traktat London 1824 tukar guling Bengkulu dan Malaka. Sejak inilah awal dimulai Malaysia tidak masuk Indonesia.

 

Pada fase berikutnya, orang Indonesia ingin mengusir Belanda dari tanahnya Nusantara. Sepenuhnya baru terealisasi pada tahun 1949 (pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia). Orang Indonesia juga ingin mengusir imperialis yang tersisa Inggris di Malaya, tetapi raja-raja di Malaya tetap merangkul kaki Inggris. Presiden Indonesia Ir Soekarno marah besar dan dengan didukung Filipina Indonesia melancarkan intimidasi apa yang disebut Ganjang Malaysia tahun 1963. Pengaruh Belanda di Indonesia lenyap sama sekali, namun di Malaysia masih hidup bahkan hingga ini hari. Bagai pepatah, Inggris mengawali, Inggris tak mau mengakhiri. Itulah mengapa Malaysia tidak masuk Indonesia, Hanya karena Inggris.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Mengapa Malaysia Tidak Masuk Indonesia? Riau dan Kalimantan Barat

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar