Laman

Rabu, 28 September 2022

Sejarah Bangka Belitung (14): Kesehatan dan Dokter di Bangka dan Belitung; Tempo Doeloe Bagaimana? Kini RSUD Ir Soekarno


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bangka Belitung dalam blog ini Klik Disini 

Sejarah kesehatan di pulau Bangka dan pulau Belitung (kini provinsi Bangka Beliting) adalah satu hal, sejarah Ir Soekarno adalah hal lain lagi, Namun kini nama Ir. Soekarno ditabalkan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di provinsi Bangka Belitung. Apakah Ir Soekarno adalah dokter? Tentu tidak. Yang jelas Ir. Soekarno disebutkan pernah diasingkan di Pulau Bangka. Okelah. Sebab di Medan juga ada nama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik.


Sejarah kesehatan nyaris tidak terperhatikan, apalagi sejarah kesehatan di daerah. Apakah karena dianggap penting, itu tidak menjadi soal, tetapi (bidang) kesehatan dan kehadiran dokter adalah bagian dari sejarah. Dalam pembentukan cabang pemerintah, setelah bidang ekonomi (perdagangan dan infrastruktur jalan serta pertanian), pengembangan Kesehatan masyrakat dan peningkatan pendidikan penduduk adalah bertujuan agar terbentuk produktivitas penduduk/masyarakat yang lebih baik. Hal itulah mengapa pembangunan kesehatan penduduk/masyrakat pada era Pemerintah Hindia Belanda menjadi bagian dari kebijakan umum pemerintah daerah. Pengembangan fasilitas kesehatan untuk peningkatan status kesehatan msyarakat melalui pembangunan fasilitas Kesehatan, seperti RSUD Ir Soekarno adalah kelanjutan program pengembangan kesehatan penduduk sejak masa lampau (era Pemerintah Hindia Belanda). 

Lantas bagaimana sejarah kesehatan dan pengadaan dokter di Bangka dan Belitung? Seperti disebut di atas, pengembangan Kesehatan penduduk adalah bagian sejarah yang tidak bisa diabaikan. Sejarah tetaplaj sejarah. Puncak pengembangan Kesehatan di Bangka Belitung kini direpersentasikan dengan pembangunan rumah sakit yang diberi nama Ir Soekarno. Lalu bagaimana sejarah kesehatan dan pengadaan dokter di Bangka dan Belitung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Kesehatan dan Dokter di Bangka dan Belitung; Tempo Doeloe Bagaimana? Kini RSUD Ir Soekarno

Sejak kehadiran Pemerintah Hindia Belanda di Palembang, hingga digantikan Inggris tahun 1812 perlawan di Palembang terus ada. Oleh karena itu, Inggris membangun benteng pertahanan di depan muara sungau Upang, jalan menuju Palembang di pulau Banka di dekat kampong kecil yang dibeti nama benteng Minto. Pembangun benteng ini setelah Sultan Palembang menyerahkan kepada Inggris pulau Bangka dan Belitung (konpensasi atas terbunuhnya residen Palembang).


Pendudukan Inggris atas Jawa tidak lama, Pada tahun 1816 Inggris memberikan Kembali kepada Kerajaan Belanda, lalu Pemerintah Hindia Belanda bekerja kembali. Militer Pemerintah Hindia Belanda yang dirintis Daendels di Weltevreden, sebelum pendudukan Inggris, ditingkatkan kemampuannya.

Sehubungan dengan kembalinya Pemerintah Hindia Belanda, (wilayah Palembang dan Bangka menjadi prioritas Pemerintah Hindia Belanda. Penolakan otoritas Belansda di Palembang dan dendam Pemerintah Hindia Belanda terhadap Palembang menyebabkan kedua belah pihak tidak mudah cair. Kerusuhan demi kerusuhaan terjadi hingga tahun 1820.


Dalam perang yang melelahkan di seputar sungai Musi di Palembang, militer Belanda memang dapat memenangkan perlawanan dari Palembang, tetapi pasukan Belanda (termasuk pasukan pribumi pendukung milter Belanda) diperkirakan ada 500-600 orang yang sakit (lihat De Curaçaosche courant, 20-05-1820). Sebagian besar pasukan ditarik ke Bangka di Moentok.

Pada fase inilah dibangun rumah sakit di Banka di dekat benteng Minto (tujuan utamanya untuk meningkatkan Kesehatan prajurit dan melakukan bedah jika ada yang terluka dalam peperangan di Palembang. Pada tahun 1822 seorang ahli bedah kelas 3 ditempatkan di rumah sakit Bangka, JF dc France (lihat Rotterdamsche courant, 29-08-1822). Ini menambah personil kesehatan di rumah sakit Bangka.

Tunggu deskripsi lengkapnya

RSUD Ir Soekarno di Bangka dan Belitung: Menjembatani Sejarah Masa Lampau dan Masa Kini

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar