Laman

Kamis, 29 September 2022

Sejarah Bangka Belitung (16): Pendidikan di Bangka dan Belitung; Begitu Dekat dengan Batavia, Siapa Sarjana Pertama di Bangka?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bangka Belitung dalam blog ini Klik Disini   

Kini, di Bangka Belitung telah berdiri universitas dengan status negeri (sejak 2010). Suatu pencapai bagi pemerintah dan masyarakat di provinsi Bangka Belitung, setelah begitu lama menunggu pendidikan tinggi didambakan. Dalam hal universitas adalah lembaga Pendidikan tertinggi, yang tentu menjadi menarik diperhatikan bagaimana semua itu bermula di masa lampua di pulau Bangka dan pulau Belitung, Ketika penduduk membeutuhkan Pendidikan.  


Kehadiran Universitas Bangka Belitung (UBB) adalah cita-cita yang telah lama mengakar dalam diri masyarakat Serumpun Sebalai. Universitas Bangka Belitung resmi berdiri pada tanggal 12 April 2006. Pendirian UBB merupakan hasil penyatuan dari Politeknik Manufaktur Timah (Polman Timah), Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER Bangka), dan Sekolah Tinggi Teknik Pahlawan 12 (STTP 12). Pada awal berdirinya, status UBB secara de yure adalah pemilikan masyarakat, sedangkan secara de fakto bisa dikatakan pemilikan Pemerintah Daerah baik Provinsi, Kabupaten dan Kotamadya sebagai penyangga utama. Selain itu dukungan dari Perusahaan PT. Timah Tbk juga cukup besar yang juga memiliki ikatan emosional langsung dengan salah satu cikal bakal UBB Polman Timah, yang pada tahun 2009 kemudian berpisah dengan UBB dan bersamaan waktunya dengan UBB menjadi Politeknik Negeri dengan nama baru Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung. Status sebagai Universitas Negeri yang menjadi tujuan utama kembali menggelegar, penyerahan asset menjadi api yang kembali membakar semangat dan antusiasme UBB untuk segera dinegerikan. Menjadi Universitas Negeri adalah dambaan masyarakat Bangka Belitung. Seluruh tahapan sudah dilalui dengan sempurna, hanya tinggal menunggu sebuah tanda tangan yang mensyahkan status negeri UBB, tanda tangan Presiden Republik Indonesia. Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis. Status negeri yang lama diperjuangkan sejak lama tersebut resmi disandang Universitas Bangka Belitung (UBB) ketika Peraturan Presiden no.65 tahun 2010 dikeluarkan pada tanggal 19 November 2010 lalu di Jakarta. (http://bakk.ubb.ac.id)

Lantas bagaimana sejarah pendidikan di Bangka dan Belitung, begitu dekat dengan Batavia, siapa sarjana pertama? Seperti disebut di atas, kini Bangka Belitung telah memiliki universitas negeri yang memungkin warga Bangka Belitung akan lebih mudah mendapatkan Pendidikan tinggi. Tidak harus lagi ke Jakarta/Batavia. Lalu bagaimana sejarah pendidikan di Bangka dan Belitung, begitu dekat dengan Batavia, siapa sarjana pertama? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pendidikan di Bangka dan Belitung; Begitu Dekat dengan Batavia, Siapa Sarjana Pertama?

Pulau Bangka dan pulau Belitung terbilang, wilayah dimana di Indonesia (baca: Hindia Belanda) sebagai salah satu cabang pemerintahan dibentuk. Diawali pada masa pendudukan Inggrsi (1812) dan kemudian pada era Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1821 ditingkatkan statusnya menjadi satu residentie (semacam provinsi kini). Pertambangan timah menjadi andalan di dua pulau, dimana sudah sejak lama orang-orang asal Tiongkok aktif dalam usaha pertambangan. Namun bagaimana dalam hal inroduksi pendidikan modern (baca: aksara Latin) di Residentie Bangka en Onderhoorigheden?


Jelas bahwa intoduksi pendidikan modern bermula di Amboina pada era VOC, tetapi perkembangan yang intens terjadi di Jawa pada era Pemerintah Hindia Belanda. Di Sumatra introduksi pendidikan dapat dikatakan bermula di Afdeeeling Agam, residentie Padangsche Bovenlanden (Fort de Kock) dan di Afdeeling Angkola Mandailing, residentie Tapanoeli. Introduksi Pendidikan di afdeeling Agam dimulai pada tahun 1846 semasa Resident CPC Steinmetz, sementara di Angkola Mandailing dimulai pada tahun 189 pada awal menajabat Asisten Residen AP Godon. Meski jauh lebih telat dibanding di Jawa, sekolah-sekolah di Angkola Mandailin cepat melejit. Pada tahun 1854 sudah ada dua siswa luluasan Angkola Mandailing yang diterima di sekolah kedokteran pribumi di Batavia (siswa pertama berasal dari luar Jawa, yang mana sekolah kedokteran ini didirikan tahun 1851). Untuk memperbanyak guru, Residen Padangsche Bovenlkanden JAW van Ophuijsen tahun 1856 menginisiasi sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock. Sementara pada tahun 1857 salah satu lulusan sekolah di Angkola Mandailing melanjutkan studi ke Belanda untuk mendapatkan akta guru. Sang siswa Bernama Sati Nasoetion alias Willem Iskandern lulus tahun 1860, dan pada tahun 1861 kembali ke tanah air dan kemudian pada tahun 1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Tanobato, onderafdeeling Mandailing (menjadi sekolah guru ketiga setelah Soeracarta 1851 dan Fort de Kock 1856). Willem Iskander kelak lebih dikenal sebagai kakek buyut Prof Andi Hakim Nasoetion (rector IPB Bogor 1978-1987). 

Sebelum introduksi pendidikan modern dimulai di (residentie) Bangka, sudah lebih dahulu Pendidikan modern dimulai di Palembang (Residentie Palembang). Namun adaptasinya tidak secepat di Agam dan Angkola Mandailing. Pada tahun 1849, saat mana CPC Steinmetz (mantan residen di Fort de Kock) menjadi residen di Palembang, ada wacana agar di Palembang dilakukan pengembangan sekolah/Pendidikan (lihat Nederlandsche staatscourant, 22-12-1849). Usul ini diduga kuat datang dari Residen Palembang CPC Steinmetz sendiri. Namun usul ini tidak segera terealisasi. Tidak diketahui sebab apa. Namun diduga para orang tua murid kurang mendukung. Sebaliknya, yang terealisasi di Palembang adalah pengadaan sekolah untuk orang Eropa/Belanda.


Ini bermula ketika komisi pendidikan dikirim ke Palembang untuk menyiapkan Pendidikan (Eropa/Belanda). Dalam perkembangannya sekolah yang didirikan di Palembang tidak berjalan baik. Hal ini diduga karena kekurangan anak usia sekolah. Jumlah orang Eropa/Belanda sendiri di Palembang belum banyak. Akhirnya sekolah yang baru didirikan di Palembang harus berhenti (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 21-11-1856). 

Di (residentie Palembang) introduksi pendidikan kurang berterima, sebaliknya di Riaouw (Tandjong Pinang, Bintan) sudah dibuka sekolah dua tahun pada awal tahun 1850 oleh guru J. Ijzelman (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 21-05-1850). Di ibu kota negara di Batavia sudah terdapat dua sekolah pemerintah (pribumi) di Molenvliet dan di Weltevreden (lihat Nederlandsche staatscourant, 22-12-1849). Usul pendirian sekolah di Palembang baru terlaksana pada tahun 1854 (lihat Rotterdamsche courant, 19-01-1855). Disebutkan pada tanggal 14 sekolah baru diresmikan di Palembang dan guru W. Beerekamp diangkat oleh Residen. Dalam pembukaan ini turut dihadiri oleh Dr SA Buddingh.


Berita-berita pendidikan di Palembang sunyi senyap. Tidak ada perubahan tidak ada berita. Ketika pendidikan bangkit di sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra, pendidikan di Palembang justru tenggelam hingga muncul berita JAW van Ophuijsen dipindahkan ke Palembang sebagai Residen Palembang yang baru tahun 1867. Apakah kehadiran JAW van Ophuijsen menjadi pertanda baik untuk kebangkitan pendidikan di Palembang? Seperti telah disebutkan JAW van Ophuijsen pada tahun 1856 mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock, sekolah guru uang kini mutunya sudah dilampaui oleh sekolah guru di Tanobato, Afdeeling Angkola Mandailing.

Setelah lama tidak terdeteksi kegiatan pendidikan di Palembang, pada tahun 1868 pemerintah mengirm kembali subkomite ke Palembang CPK Winkel dan dan A van Davelaar (lihat Algemeen Handelsblad, 09-03-1868). Tidak lama kemudian untuk sekolah dasar pemerintah Openbare Lagere School di Palembang diangkat seorang guru bernama E Asbeek Brusse (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-09-1868). Diduga kuat sejak ini sekolah di Palembang terus bertahan. Pada tahun 1873 diberitakan seorang gurubantu (hulponderwijzer) ditambahkan ke Openbare Lagere School di Palembang, J Ros (lihat Bataviaasch handelsblad, 02-04-1873). Lalu bagaimana dengan Pendidikan untuk prribumi di Palembang? Akhirnya penyelenggaraan pendidikan aksara Latin di Pelembang untuk kalangan pribumi baru terlaksanan pada tahun 1874 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-04-1874).


Disebutkan, berdasarkan beslit/keputusan Gubernur Jenderal tanggal 22 April 1874 menetapkan bahwa di ibukota Palembang akan dibentuk sekolah pribumi pemerintah (gouvernement inlandsch school). Memang terlambat, daripada tidak sama sekali. Pada bulan Mei 1874 di Batavia tiga guru muda berangkat studi keguruan ke Belanda. Tiga guru mud aini adalah Raden Soerono dari Soeracarta, Raden Ardhi Sasmita dari Bandoeng dan Barnas Lubis dari Angkola Mandailing. Tiga guru ini dibimbing oleh guru Willem Iskander yang juga diberikan beasiswa untuk meningkatkan pendidikannya di Belanda. Hal itu menyebabkan Kweekschool Tanobato ditutup, tetapi sebagai penggantinya direncanakan sekolah guru yang baru (kweekschool) di Padang Sidempoean yang akan dibuka tahun 1879 dimana yang menjadi direktur adalah Willem Iskander (sepulang studi di Belanda). Singkat kata: Pada tahun 1879 Kweekschool Padang Sidempoean dibuka. Pada tahun 1881 sekolah guru baru ini mendapat guru baru Bernama Charles Adriaan van Ophuijsen (anak dari mantan Residen Palembang).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Begitu Dekat dengan Batavia, Siapa Sarjana Pertama? Pendidikan Tinggi Dimulai Pendidikan Rendah

Status wilayah Bangka dan Belitung sebagai satu residentie sejak 1821. Namun hingga tahun 1906 belum ada orang berbicara tentang pendidikan di Bangka dan Belitung, baik orang Eropa/Belanda, Cina maupun pribumi. Boleh jadi orang-orang Eropa/Belanda menyekolahkan anak-anam mereka ke Palembang atau Batavia. Namun muncul berita yang mengejutkan dari Bangka pada tahun 1906, yakni seorang Cina (tidak disebut Namanya) diberitakan menyekolahkan tiga anaknya: Yang sulung bersekolah Bahasa Inggris di Singapoera, yang kedua dikirim ke Burgeschool,  Handelscursus dan KWS yang ketiganya sekolah Cina di Bandoeng; dan anak yang ketiga dikirim ke Jepang untuk mendapatkan pendidikan kejuruan (lihat Soerabaijasch handelsblad, 17-05-1906).


Pada tahun 1906 di Hindia Belanda sudah banyak sekolah menengah yang didirikan, seperti STOVIA. Kweekschool di berbagai tempat dan sekolah pamong (OSVIA). Sekolaha dasar semakin meluas. Namun dalam hal ini sekolah dasar belum ada di residentie Bangka Belitung. Mengapa? Sementara itu, sejak pertengahan 1880an anak usia sekolah pribumi dimungkinkan untuk memasuki sekolah dasar Eropa/Belanda (ELS) dan pada awal 1890an pribumi lulusan ELS dimungkinkan masuk ke sekolah menengah Eropa/Belanda (HBS 5 tahun). Pada tahun 1896 Raden Kartono lulus HBS Semarang melajutkan Pendidikan ke Belanda (universitas). Raden Kartono adalah abang dari RA kartini, pribumi pertama di universitas (hany ada di Belanda)—bandingkan dengan Willem Iskander tahun 1856 sekolah guru (setara sekolah menengah/SPG). Pada tahun 1903 dua guru muda melanjutkan Pendidikan tinggi di Belanda yakni Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, alumni Kweekschool Padang Sidempoean dan Djamaloedin, alumni Kweekschool Fort de Kock. Pada tahun 1905 Husein Djajadiningrat lulus HBS di Batavia menlajutkan studi di Belanda. Pada tahun 1907 pribumi yang melanjutkan studi selepasa HBS ke Belanda antara lain Rade Noto Soeroto. Pada tahun 1908 jumlah pribumi studi di Belanda sebanyak 20 orang, dimana pada tahun ini Soetan Casajangan menginisiasi oragnisasi kebangsaan yang diberi nama Indische Vereeniging yang kemudian terpilih sebagai presidennya. Selama kuliah, Soetan Casajangan menjadi asisten dosen dari Prof Charles Adrian van Ophuijse (mantan gurunya di Padang Sidempoean) yang menjadi guru besar Bahasa Melayu di Univ. Leiden sejak 1903. Pada tahun 1911 Soetan Casajangan mendapat gelar sarjana Pendidikan (guru pribumi pertama bergelar sarjana).

Bagaimana orang Cina di Bangka tahun 1906 mengirim tiga anaknya sekolah ke tempat jauh, mirip dengan orang tua Willem Iskander menyekolahkannya ke Belanda pada tahun 1857. Di Residentie Bangka en Onderhoorigheden hingga tahun 1906 ini tidak/belum terinformasikan adanya sekolah di Bangka. Yang jelas di Bangka (mungkin Belitung) juga belum ada sekolah dasar Eropa/Belanda (ELS).


Meski tidak terinformasikan, diduga sudah ada sekolah-sekolah di Bangka yang dididirikaan dan dikelola oleh penduduk dan warga. Komunitas Cina menyelenggarakan sendiri sekolah untuk anak usia sekolah orang Cina dengan bahasa Cina/Melayu dengan aksara Cina dan atau aksara Latin, sementara penduduk pribumi (Melayu) menyelenggarakan sendiri pendidikan (agama) dengan bahasa Melayu dengan aksara Jawi. Diduga kuat diantara orang-orang Cina sudah banyak yang terpelajar (lulusan sekolah kebangsaan sendiri). Hal ini karena De Preanger-bode, 01-12-1917 suatu kegiatan komite untuk menyelenggarakan kompetisi sastra rakyat yang dibentuk tahun 1915 telah menyeleksi dan menilai jawaban dari 119 pengirim (7 di antaranya dalam bahasa Belanda, 36 dalam bahasa Melayu dan 76 dalam bahasa Jawa) yang mana salah satu pemenang yang diumumkan pada tahun 1917 ini yang mendapat medali perunggu dengan hadiah f25 adalah Oen Kheng Hoo di Pangkal Pinang, Bangka (tidak ada pemenang dengan medali emas),

Dalam tahun anggaran 1924/1925 diberitakan sekolah Cina Belanda (Hollanscche Chineesche School) dibuka di Moentok, Pekalongan, Malang dan Soerabaja (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-01-1924). Sebelumnya diketahui sudah ada sekolah sejenis di Blindjoe. Hal ini berdasarkan berita bahasa H. Jans diangat sebagai guru ELS, yang saat ini sebagai pengawa sekolah Hollansche Chineesche Schoool di Blindjoe (lihat De avondpost, 19-12-1923).


Dari dua berita di atas, diduga di Bangka, paling tidak, sudah ada sekolah Cina Belanda di Bangka yakni di Blindjoe dan Moentok. Sementara sekolah dasar Eropa juga sudah ada di Bangka (mungkin di Moentok).

Pada tahun 1924 di Soengai Liat diketahui sudah ada Hollansche Chineesche School (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 19-04-1924). Disebutkan terhitung tanggal 30 April diangkat menjadi guru di Holl. Chin. School Ny GR Vissdel di Soengai Liat. Selanjutnya terhitung 3 Mei 1925 diangkat guru di sekolah dasar Eropa (ELS) di Muntok (Bangka en Onderh.) Ny JW Breman (lihat De locomotief, 18-06-1925). Sementara itu di Hollandsch Chineesche School sebagai guru Cina di Soengai Liat diangkat Lie Boen Eng, yang baru lulus ujian akhir di Hollandsch-Chineesche Kweekschool di Meester Cornelis, sebelumnya particulier di Padang dan sebagai guru Cina di Hollandsch Chineesche School di Pangkal Pinang (Bangka en Onderhoorigheden), OngSoeiTjoan asal Pajakoemboeh dan Ong Hok Soen asal Padang, yang baru lulusa ujian akhir di Hollandsch-Chineesche Kweekschool di Meester Cornelis (lihat Sumatra-bode, 19-06-1925).


Di Blindjoe. Moentok, dan Pangkal Pinang terdapat sekolah Cina Belanda (Hollandsch Chineesche School=HCS), di Toboali sekolah yang ada adalah sekolah Tionghoa (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 07-01-1926). Disebutkan Tjhin Tjhauw, seorang guru Cina di Pangkalpinang, diangkat sebagai guru oleh direktur sekolah Tionghoa di Toboali. Yang menjadi pertanyaan sejauh ini adalah, mengapa tidak terinformasikan sekolah pribumi (Inlandsch School) atau sekolah Hindia Belanda (Hollandsche Inlandsche School) di (residentie) Bangka? Apakah tidak ada sama sekali? Atau, apakah anak-anak usia sekolah pribumi di Bangka dan Belitung masuk ke sekolah Eropa/Belanda (ELS) atau sekolah Cina Belanda (HCS)? Atau, apakah mereka dikirim sekolah ke sekolah Inlandsche School/HIS di Palembang atau Riau?

Pada tahun 1930 disebutkan dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 08-05-1930 bahwa di Bangka terdapat tiga jenis sekolah yakni Europeesche Lagere School, Hollandsch-Inlandsche School dan Hollandsch-Chineesche School. Seperti disebut di atas sekolah Eropa/Belanda (ELS) ada di Moentok, pada tahun 1927 sekolah ELS juga ada di Pangkal Pinang (lihat Haagsche courant, 15-01-1927). Dalam hubungan ini, dimanakah Hollandsch-Inlandsche School di Bangka berada?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar