Laman

Jumat, 23 September 2022

Sejarah Bangka Belitung (4): Timah dan Pertambangan Timah di Bangka - Belitung; Geomorfologi Wilayah Kepulauan Bangka


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bangka Belitung dalam blog ini Klik Disini

Timah dan pertambangan timah di Indonesia diasosiasikan dengan pulau Bangka. Sejarah awal pertambangan timah di Indonesia (baca: Hindia Belanda) juga bermula di pulau Bangka, tepatnya di wilayah Jeboes. Namun mengapa di pulau Bangka tidak ditemukan di pulau Bangka, sementara batubara ditemukan di pantai timur Sumatra khususnya di daerah aliran sungai Musi dan sungai Batanghari? Secara geomorfologis, pulau Bangka dan daratan Sumatra kini terbilang dekat hanya dipisahkan oleh selat Bangka. Bagaimana situasi dan kondisinya pada masa lampau?


Indonesia adalah negara penghasil timah terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Sebanyak 20% - 30% pasokan timah dunia berasal dari Indonesia dan hampir 95% timah yang ditambang dan diproses di Indonesia berasal dari Provinsi  Bangka-Belitung (Babel). Penambangan timah di Babel memiliki linimasa sejarah yang tidak singkat. Sejarah mencatat bahwa timah bangka setidaknya sudah menjadi komoditas ekspor sejak masa pendudukan Inggris di wilayah Kesultanan Palembang Darussalam—yang pada masa itu menguasai Kepulauan Babel—pada awal abad ke-19. Pada masa itu, timah Babel ditambang dengan teknik tradisional oleh masyarakat setempat menggunakan peralatan seadanya, seperti dulang, pacul, sekop dan cangkul. Meski demikian, ada banyak bukti sejarah lain yang mengungkapkan bahwa timah Babel sudah digali dan dimanfaatkan sejak jauh sebelum itu. Jika benar demikian, lantas siapakah orang-orang yang pertama kali menambang timah di Babel, dan bagaimana dinamika tambang timah di Babel selama ini? (duniatambang.co.id)..

Lantas bagaimana sejarah timah dan pertambangan di Bangka dan Belitung? Seperti disebut di atas, Bangka adalah salah satu pulau penghasil timah Indonesia yang mendunia. Timah juga ditemukan di kepulauan Riau hingga ke Semenanjung Malaya. Namun tambang timah kurang dikenal di Jawa dan Sumatra. Mengapa? Hanya ditemukan banyak batubara. Mengapa? Keberadaan timah di Bangka dan batubara di pantai timur Sumatra dapat dipelajari secara geomorfologi. Lalu bagaimana sejarah timah dan pertambangan di Bangka dan Belitung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Timah dan Pertambangan di Bangka dan Belitung; Geomorfologi Wilayah Kepulauan Bangka

Nama Bangka sudah dikenal pada era Portugis, nama Bangka sudah diidentifikasi dalam peta-peta Portugis. Dari sejumlah laporan penulis Portugis belum ada indikasi produk diperdagangkan di Bangka maupun di Palembang. Lalu kapan kali petamana ditemukan dan diperdagangan timah di Bangka atau Palembang. Satu yang pasti sejak VOC merelokasi pusat perdagangannya dari Amboina ke Batavia, pemberitaan perdagangan VOC (yang diekspor ke Eropa) semakin intens. Dalam muatan kargo kapal-kapal VOC pada tahun 1627 tidak ditemukan item timah. Volume yang terbesar antara lain lada, rotan, getah puli, kapas, indigo, poselin dari Cina dan sebagainya (lihat Courante uyt Italien, Duytslandt, &c. 31-07-1627).


Tampaknya produk tambang belum begitu penting (lihat Courante uyt Italien, Duytslandt, &c.16-07-1633). Boleh jadi yang masih laku keras di Eropa adalah produk perkebunan dan hasil-hasil hutan seperti lada, indigo, kapas, damar, getah puli, kamper, kayu cendana, gading, mata kucing, rotan dan sebagainya. Produk-produk yang dikumpulkan dari Cina seperti poerselin dan kapas. Besar dugaan tambang seperti besi dan timah belum begitu penting diperdagangkan, karena suplai ke Eropa berasal dari wilayah lain. Namun diduga sudah ada relasi perdagangan timah antara Hindia Timur dengan Tiongkok.

Setelah VOC membuka hubungan perdagangan dengan (kesultanan) Palembang, produk timah sebagai mata perdagangan VOC ke Eropa mulai muncul, paling tidak sejak 1734 (lihat Amsterdamse courant, 22-06-1734). Disebutkan kapal Land van Beloste dari Batavia berangkan tanggal 30 Oktober 1733 berlabuh di (pelabuhan) Texel 1780173 kati lada dan sebagainya. Dalam daftar kargo ini juga terdapat 36000 kati tin Malax dan 14000 kati tin Bangka. Ini mengindikasikan timah dari Bangka mulai diekspor dan terkenal. Pada tahun 1776 timah Bangka volume yang diekspor dari Batavia terus meningkat menjadi 100000 kati (lihat Leydse courant, 12-07-1776). Volume perdagangan lada masih yang tertinggi.


Bagaimana timah diproduksi di Bangka tidak terinformasikan. Sumber timah dari Hindia Timur tampaknya hanya dengan nama tunggal tin Bangka. Boleh jadi bahwa timah baru diproduksi di pulau Bangka (dan volume yang ada sudah mencukupi untuk komposisi beragai item kargo kapal. Bagaimana situasi dan kondisi pertambangan dan perdaganganya juga tidak terinformasikan. Namun besar dugaan semua produksi timah dari Bangka diperdagangkan di pelabuhan Palembang.

Setelah pendudukan Inggris, diduga perdaganngan timah telah beralih dari Belanda dan menjadi komoditi perdagangan pedagang-pedagang Inggris ke Eropa. Dalam laporan Inggris disebutkan produk yang diperdagangan di Palembang antara lain lada, rotan, gambir, kapas, damar, gading, mata kucing, belerang, garam, lilin, beras, benzoin, nila, tembakau, pinang, kerbau dan emas. Tapi barang yang paling penting adalah timah Banca (lihat Java government gazette, 04-07-1812).


Dalam laporan ini tidak disebutkan sebesar besar volume perdagangan timah asal Bangka di Palembang. Yang jelas dalam laporan ini disebutkan bahwa kepemilikan pulau Banca dan Biliton, yang diserahkan kepada Pemerintah Inggris oleh Sultan baru, adalah sangat penting. Yang pertama memproduksi timah, sebuah barang dari konsekuensi utama dalam perdagangan dengan Cina, dalam jumlah yang lebih besar daripada tempat lain mana pun; dan dari yang kedua diperoleh hampir semua baja yang digunakan oleh orang Melayu, dalam membuat senjata dan perkakas mereka dari berbagai jenis. Dalam laporan ini terindikasi bahwa perdagangan timah sudah sejak lama ada dan terhubung dengan Tiongkok.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Geomorfologi Wilayah Kepulauan Bangka: Timah di Bangka, Batubara dan Minyak di Palembang dan Jambi

Deskripsi pemukiman tambang timah di pulau Banka, dan praktek pertambangan di pulau Bangka untuk kali pertama diterbitkan pada tahun 1843 (lihat Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1843). Disebutkan penggarapan tanah timah di Bangka umumnya dilakukan oleh orang-orang Cina, sama sekali tidak oleh orang pribumi lainnya, dan sangat sedikit oleh penduduk asli pulau Bangka. Penggalian dan pengumpulan bijih dilakukan dengan cara yang sangat sederhana; biasanya mencari dimana mereka menemukan bijih timah terkubur secara dangkal atau setidaknya tidak terlalu dalam.


Sepereti halnya tambang lainnya seperti besi dan emas, tambang emas juga ditemukan di permukaan tanah, kedalaman yang sangat dangkal hingga ke dalaman yang cukup dalam di bawah tanah. Pada era awal penambangan timah di Bangka dilakukan denganb mencari yang berada di bawah permukaan tanah yang dangkal dengan peralatan yang masih sederhana.

Pertambangan timah, yang sejak awal dimulai di pulau Bangka, pada masa ini pertambangan timah sudah ditemukan di pulau Kalimantan (bagian barat) dan Semenanjung Malaya serta pulau-pulau di kepulauaan Riau. Lantas mengapa sentra tambang timah tidak ditemukan di pulau Sumatra. Tetapi sebaliknya pertambangan batubara?


Batubara (juga minyak) berasal dari fosil terutama sampah vegetasi yang terbawah oleh arus sungai yang kemudian mengumpul di suatu cekungan danau atau laut. Sampah vegetasi ini mengalami pembusukan dalam jangka Panjang di bawah tanah permukaan atau bawah dasar laut. Sementara itu timah adalah logam, seperti emas yang berasal dari perut bumi apakah karena semburan gunung vulkanik atau dalam proses pembentukan permukaan bumi di zaman kuno. Umumnya permukaan bumi di palau Bangka atau pulau-pulau penghasil timah umumya granit yang mengandung bijih timah. Dalam hal ini granit adalah pembawa bijih timah, yang Sebagian masih terikat dalam batuan granit dan Sebagian yang lain telah berguguran yang mengendap di bawah atau di atas lapisan permukaan tanah.

Secara geomorfologi, wilayah-wilayah yang kini terdapat sentra tambang timah diduga pada zaman kuno berada pada satu daratan yang menyatu dari semenanjung Malaya, pulau-pulau di Kepulauan Riau, pulau Bangkan dan pulau Bilitung serta pulau-pulau kecil di selat Karimata yang menyatu dengan daratan bagian barat pulau Kalimantan. Sebaliknya, pulau Sumatra, secara geomorfologis di zaman kuno masih sangat ramping dari tenggara (Lampung) hingga di timur laut (Atjeh). Wilayah pantai timur Sumatra semakin meluas ke arah timur mendekati pulau-pulau penghasil timah. Dalam proses perluasan daratan Sumatra, akibat proses sedimentasi jangka Panjang terbentuk area-area terbentuknya batubara. Proses sedimentasi yang masih berumur muda di wilayah pantai timur Sumatra membentuk Kawasan gambut yang luas. Lantas bagaimana daratan penghasil timah kemudian menjadi pulau-pulau baru sehingga terpisah satu sama lain baik dengan daratan di Semenanjung Malaya maupun daratan luas yang terbentuk di pulau Kalimantan (bagian barat)? Dalam konteks inilah kita berbicara tanah-tanah dimana terdapat tambang-tambang timah.


Dua kejadian dalam yang membentuk area-area pertambangan (batubara dan timah), secara geomorfologi telah membentuk dua Kawasan/wilayah pertambangan yang berbeda. Gambaran ini juga sedikit banyak menjelaskan bahwa pulau Sumatra telah semakin meluas ke pantai timur dan pulau-pulau pada gugus dimana terdapat sentra tambang timah di masa lampau merupakan daratan yang menyatu dari Asia mengikuti garis Semenanjung Malaya hingga Kalimantan (bagian barat), tetapi erosi laut telah membentuk pulau-pulau yang lebih kecil seperti pulau Bangka, pulau Lingga, pulau Belitung dan sebagainya. Terbentuknya daratan baru, semakin meluasnya pulau Bangka akibat proses sedimentasi jangka Panjang akibat aktivitas penambangan.  

 Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar