Laman

Sabtu, 03 Desember 2022

Sejarah Madura (13): Mengare, Pulau yang Memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Madura; Namanya Pulau Mangari Tempo Doeloe


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini   

Pulau Mengare ada di kabupaten Gresik (pantai timur pulau Jawa). Lho, apa kaitannya dengan sejarah Madura? Nah, itu dia. Yang jelas tempo doeloe nama pulau ini disebut pulau Mangari, suatu pulau gunungan pasir. Tentu saja waktu itu pulau ini masih berada dari pantai timur pulau Jawa (berada tepat diantara pulau Jawa dan pulau Madura). Penduduk Madura awalnya membangun benteng di pulau pasir ini (kemudian difortifikasi pada era Pemerintah Hindia Belanda dengan nama benteng Lodewijk).


Pulau Mengare adalah pulau yang terletak di sebelah barat daya Kota Gresik, tepatnya di kecamatan Bungah, kabupaten Gresik. Pulau Mengare terdiri tiga desa yaitu: Watu Agung, Tajung Widoro dan Kramat. Secara keseluruhan penduduk pulau sekitar 10.000 jiwa. Ada yang menyebut nama pulau Mengare berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti menanti. Salah satu desa terkenal adalah Kramat. Pulau Mengare termasuk salah satu destinasi wisata di kabupaten Gresik karena keindahan pantai seperti di Tanjung Widoro. Jarak dari kota Gresik 27 Km. Benteng Mangare berada pada koordinat: 7°1'11"S-112°38'57"E. Bahasa penduduk (pulau) Mengare merupakan bentuk ragam bahasa menggunakan bahasa Madura kasar dan bahasa ngoko (sedang) dan bahasa Jawa kasar (berbagai sumber). 

Lantas bagaimana sejarah Mengare, pulau memisahkan pulau Jawa dan pulau Madura? Seperti disebut di atas, pulau Mangare terdiri dari tiga desa masuk wilayah kecamatan Bungah kebupaten Gresik. Namanya adalah pulau Mangari tempo doeloe dimana penduduk Madura membangun benteng dimana kini terdapat eks situs benteng Ledewijk. Lalu bagaimana sejarah Mengare, pulau memisahkan pulau Jawa dan pulau Madura? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Mengare, Pulau Memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Madura; Pulau Mangari Namanya Tempo Doeloe

Pada masa ini (kawasan pulau) Mangare terkesan hanya penting karena ditemukannya bekas benteng lama, disebut benteng (fort) Lodewijk. Kawasan Mangare terkesan pula sangat terpencil dari Kota Gresik (apalagi dari Surabaya dan Bangkalan). Akan tetapi di masa lampau, pulau Mangare (yang asli. origin) begitu penting karena merupakan daratan (pasir) yang tepat berada diantara pulau Jawa dan pulau Madura. Hal itulah, sejak perang Jawa-Madura (Trunajaya) di pulau pasir ini didirikan benteng orang Madura.


Perhatikan peta yang dibuat oleh Francois Valentijn (1724). Dalam pet aitu hanya ada tiga pulau di selat Madura, salah satu diantaranya pulau Mangare (ditulis P Mango). Pada sisi barat pulau ke arah pulau Jawa di Gresik cukup dangkal (kota Bungah), sementara sebelah timur ke arah pulau Madura cukup dalam). Wilayah (desa) Tanjung Widoro yang sekarang pada saat itu merupakan pulau Mangare. Sementara pulau/tanjong (Tanjung Alang) adalah area yang masuk Bungah. Di sebelah selatannya pulau Samangi dan di sebelah utara pulau Tanjung Prigaat. Pulau-pulau ini tepat berada di depan muara sungai (bengawan) Solo. Pulau-pulau tersebut terbilang sebagai pulau-pulau sedimen yang menjadi kawasan utama terbentuknya kecamatan Bungah di (kabupaten) Gresik yang sekarang. Pulau Mangare ini kemudian semakin menyatu dengan daratan Bungah (pulau Jawa).

Pulau Mangare dimana didirikan benteng (fort Lodewijk) semakin menyatu dengan pulau (Tanjung) Alang yang kini telah membentuk wilayah kecamatan Bungah. Nama Bungah sendiri adalah nama desa yang dijadikan sebagai nama wilayah administrasi kecamatan. Sementara pulau Mangare sendiri yang masuk desa Tanjung Widoro, nama pulau menjadi penanda navigasi pelayaran yang penting di masa lalu (oleh karena di dalam pulau Mangare didirikan benteng).


Area paling tinggi di pulau Mangare ini berada di sekitar kantor desa Tanjung Widoro yang sekarang (5-11 meter). Sementara daratan dimana dibangun benteng sekitar 2-5 meter. Pilihan area/lokasi dimana benteng kuno dibangun karena lebih dekat ke pantai barat pulau Madura. Area tertinggi di kecamatan Bungah berada di desa Bungah (sekitar 20 m). Oleh karena itu di masa lampau Bungah juga ada suatu pulau, pulau yang terpisah dengan pulau Sidayu dan pulau Gresik (doeloe disebut pulau Jaratan). Pada garis inilah kemudian terbentuk garis pantai dengan ketinggian yang cukup untuk lalu lintas darat. Lalu lintas darat inilah yang kemudian pada awal Pemerintah Hindia Belanda (semasa gubernur jenderal Daendels) dibangun jalan trans-Java (dari Batavia hingga Panaroekan).

Pulau Mangare (yang juga meliputi seluruh wilayah desa Tanjung Widoro) di masa lampau adalah pulau yang terpisah dengan pulau Bungah (daratan Jawa). Hal itulah mengapa pulau Mangare dapat dikatakan pulau Mangare tepat berada di selat Madura, tetapi dalam perkembangannya (karena kedalam perairan yang dangkal dan proses sedimentasi) semakin menyatu dengan pulau (Jawa) di wilayah Bungah. Dalam hal ini secara geopolitik pada masa itu (era Trunojoyo) pulau Mangare masuk wilayah (pulau) Madura dan secara geografis dalam navigasi pelayaran perdagangan pulau Mangare sebagai penanda navigasi yang penting.


Pulau Bungah, pulau Gresik (Djaratan) dan pulau Soerabaja di selatan dan pulau Sidajoe di uttara, pada dasarnya di zaman kuno adalah rangkaian pulau-pulau (gugus pulau) yang terhubung dengan pulau pantai utara Jawa hingga ke Tuban. Hal itulah jalan darat yang terbentuk sejak awal (yang kemudian berlanjut pada era Daendels) di wilayah persisir mengikuti jalan utama yang sekarang dari Gresik, ke Bungah, dan Sidajoe terus ke Brondong lalu ke Tuban. Sementara jalan darat dari Tuban terbentuk ke kota Badad di selatan. Kota Badad di masa lampau berada di sisi selatan sungai (bengawan) Solo. Dari kota Badad terbentuk jalan darat hingga ke Gresik melalui Lamongan. Antara dua jalan kuno parallel inilah berada muara sungai bengawan Solo (yang bermula di kota Badad). Dengan kata lain antara dua jalan ini masih perairan di depan muara Solo hingga ke arah Madura dimana terdapat pulau pulau Bungah dan pulau Mangare (berada di sebelah timur pulau Bungah).  Dalam hal inilah pulau Bungah dan pulau Mangare penting dalam navigasi pelayaran perdagangan di zaman kuno ke wilayah daerah aliran Bengawan Solo hingga ke pedalaman.

Pulau Mangare tidak hanya penting secara geopolitik domestic bagi penduduk di pulau Madura, pulau Mangare juga secara internasional sebagai penanda navigasi pelayaran perdagangan. Jangan lupa secara geomorfologis, pulau Mangare adalah halangan bagi sungai bengawan Solo memanjang ke arah timur (dari kota Babad). Dalam konteks inilah kita bisa memahami hari ini, mengapa arah aliran sungai bengawan Solo, yang terus bergeser ke timur, berbelok ke utara di kawasan antara pulau Bungah dan pulau Mangare. Adanya benteng di pulau Mangare yang kemudian diforttifikasi oleh Belanda (era VOC/Pemerintah Hindia Belanda), pulau Mangare juga menjadi titik pertahanan penting bagi Madura (dari arah Jawa).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pulau Mangari Namanya Tempo Doeloe: Mengapa Penting Pulau Dibangun Benteng?

Nama pulau Mangare diduga berasal dari bahasa Batak (bahasa Angkola Mandailing). Hal ini karena kata ‘manggore’ adalah kata yang paling dekat (sesuai) dengan profil pulau Mangare. Kata manggore di zaman kuno dihubungkan dengan penambangan emas, dimana penduduk menggali tanah/pasir untuk menemukan butiran emas (dengan cara mendulang). Sebagai pulau pasir yang tepat berada di tengah selat Madura, untuk kebutuhan navigasi pelayaran dibutuhkan air minum dengan cara manggore (menggali pasir) di tengah pulau.


Nama pulau Mangare telah beberapa kali dicatat dengan cara penulisan yang berbeda. Itu semuanya karena para pelaut-pelaut Eropa tergantung siapa yang menjadi narasumber. Nama Mangare ada yang ditulis Manga (lihat Peta 1724), ada yang menulis nama Mangari dan Mangare. Juga ada yang menulis dengan Manarie. Pada masa ini disebut/ditulis dengan nama Mengare. Mungkin anda bertanya-tanya mengapa kata manggore bewrasal dari Angkola Mandailing sejauh itu digunakan sebagai bahasa Batak di selat Madura (antara pulau Jawa dan pulau Madura) mungkin akan dibuat artikel tersediri. Sebagai petunjuk awal adalah terdapatnya satu candi yang khas di Singhasari, satu-satunya candi di Jawa yang mirip dengan candi-candi di Padang Lawasn (Tapanuli Selatan). F Schnitger (1936) menyimpulkan bahwa raja Singhasari (Radja Kertanegara) adalah salah satu pendukung fanatik agama Boedha Batak aliran yang memuja leluhur (sekte Birawa). Apakah kehadiran Angkola Mandailing di tanah Jawa terutama pada era Singhasari yang menyebab banyak nama tempat di wilayah pulau Madura bagian timur mirip dengan nama-nama tempat di Tapanuli Selatan?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar