Laman

Minggu, 04 Desember 2022

Sejarah Madura (15): Kwanyar Masa Kini, Quenjer Tempo Doeloe; Kota-Kota Lama di Wilayah Pantai Selatan Pulau Madura


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini  

Nama Kwanyar di pulau Madura. Apa pentingnya? Yang jelas kini nama Kwanyar adalah nama kecamatan di kabupaten Bangkalan.  Kwanyar tempo doeloe disebut Quanjer. Selain Quanjer disebut sebagai Kwanjar dan juga adakalanya disebut Kebanjar. Nah itulah nama Kwanyar masa kini. Namun sejarah tetaplah sejarah. Lalu apakah ada sejarah Kwanyar? Mari kita pelajari.


Apalah arti sebuah nama? Demikian William Shakespear. Akan tetapi nama dalam sejarah dapat dijadikan sebagai penanda navigasi ke sejarah masa lampau. Dalam hal ini kita menyelidiki sejarah Kwanyar sejak namanya kali pertama disebut Quanjer. Soal pergeseran nama ini adalah umum terjadi. Misalnya nama Betawi yang merujuk pada nama Batavia. Secara toponimi, pergeseran itu muncul karena ada perbedaan dalam mengidentifikasi nama tempat di dalam peta karena sumber dalam penulisan peta dimana diantara para pelaut-pelaut Eropa mengkoding nama dari siapa sumbernya. Untuk nama tempat yang sama, bisa saja terjadi ada perbedaan penyebutan antara penduduk Jawa dengan penduduk Madura di satu pihak, dan antara penduduk Makassar (Bugis) dengan Banjar di pihak lain. Seorang ahli geografi pada era Pemerintah Hindia Belanda, PJ Veth kerap mendiskusikan soal penulisan nama tempat yang berbeda tersebut.

Lantas bagaimana sejarah Kwanyar masa kini, Quanjer pada tempo doeloe? Seperti disebut di atas, nama Kwanyar tempo doeloe disebut Quanjer. Sebenarnya nama yang mana yang benar? Quanjer atau Kwanjar adalah salah satu kota-kota lama di pantai selatan pulau Madura. Pada masa ini di kecamatan Kwanyar terdapat nama desa Batah. Lalu bagaimana sejarah Kwanyar masa kini, Quanjer pada tempo doeloe? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Kwanyar Masa Kini, Quenjer Tempo Doeloe; Kota-Kota Lama di Pantai Selatan Pulau Madura

Hanya ada nama tempat Kwanyar di pulau Madura. Di kabupaten Bangkalan ada kecamatan Kwanyar; desa Kwanyar Pamolaan di kabupaten Sampang; desa Kwanyar Majungan di kabupaten Pamekasan. Dari segi fonetik, sangat jarang nama tempat dengan dua huruf mati di awal nama seperti Kw (Kwanyar), Bl (Blitar, nama awal Balita atau Balitara; Blora, nama awal Belora). Sl (Sleman, nama awal Salema atau Saleman); dan Sr (Srogol, nama awal Sorogol); Sragen, nama awal Saragen). Pola penamaan serupa ini (menjadi dua huruf mati di awal dipengaruhi oleh lidah orang Belanda). Nama tempat Kwanyar tidak ditemukan nama yang berasal dari zaman kuno. Yang dikenal adalah nama tempat Kwanyar yang berasal dari nama Quanjer. Pergeseran nama Quanjer adalah nama asing (Eropa) sesuai dengan lidah orang pribumi).


Nama tempat di Indonesia pada zaman kuno banyak yang dipertukarkan antara nama pribumi dan nama India (atau sebaliknya). Nama Arab jarang menjadi nama tempat di Hindia (kecuali nama area atau Kawasan). Namun ada nama tempat di Hindia berasal dari Tiongkok seperti Singkawang dan Singkuang (Singkwang). Tentu saja ada nama Eropa yang diija menjadi nama pribumi (Quanjer menjadi Kwanyar). Perubahan nama menjadi dua huruf mati di awal juga dipengaruhi pengucapan dari pribumi (dialek) seperti nama-nama tempat di Jawa yang disebut di atas. Hal serupa ini juga ditemukan di pulau Madura seperti Baliga atau Balega menjadi Blega; Klampis, Tragah, Jrengik, Proppo, Bluto dan Pragaan.

Diantara nama-nama Qunajer, Kwanjar dan Kebanjar, yang paling muda adalah nama Kebanjar yang muncul pertama tahun 1899 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-10-1899). Nama Kwanjar muncul lebih awal, paling tidak sudah muncul pada tahun 1856 (lihat Provinciale Drentsche en Asser courant, 05-01-1856). Kebanjar adalah dialek (bahasa) Madura untuk Kwanjar (lihat Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1899). Lantas bagaimana dengan Quanjer? Nama Quanjer dalam perkembangannnya adakalanya ditulis Quanjar.


Hendrik Jacob Domis melakukan perjalanan dari Soerabaja ke Quanjer pada tanggal 17 Novermber 1810 (lihat Aanteekeningen, 1829). Saat itu Domis masih menjadi pejabat setingkat Controleur. Jabatan terakhir Domis adalah Residen Pasoeroean. Nama Quenjer sudah disebut tahun 1801 (lihat Verzameling van stukken, rakende de zaak van Dirk van Hogendorp, opper-koopman in dienst der Oost-Indische Compagnie en gezachhebber over Java's Oosthoek, 1801). Peta 1724

Nama Quenjer kali pertama dicatat oleh seorang ahli geografi Belanda pada era VOC, Francois Valentijn. Di dalam bukunya yang terbit tahun 1726 nama Quenjer di (pulau) Madura bukan sebuah kota tetapi suatu wilayah (lanskap). Yang menjadi kota (Stad) di pulau Madura antara lain Arosbaya, Maduretna, Ambelega, Sampan, Pamekasan dan Sumenep. Untuk jelasnya lihat peta F Valentijn (1724).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kota-Kota Lama di Pantai Selatan Pulau Madura: Quanjer atau Kwanjar

Ada nama kota di pantai selatan pulau Madura dengan nama Batah. Namun tidak ada nama tempat Batah atau yang mirip dengan itu di Tanah Batak (Residentie Tapanoeli). Hal itu kurang lebih sama dengan di pulau Madura, tidak ditemukan nama tempat Madura. Tidak perlu dirisaukan. Sebab nama Batah, yang mirip dengan nama itu tidak hanya ada di pulau Madura, juga ditemukan antara lain di Atjeh, Bengkulu, Semenanjung Malaya dan pulau Luzon (Fiilipina). Hal yang sama juga bahwa nama Madura di Hindia ada nama pulau, tetapi di India adalah nama kota. Nama Batah di pantai selatan Madura berada di district Kwanjar.


Berdasarkan Stbls No 145 tahun 1891 di district Kwanjar (Afdeeling Bangkalan) dilakukan pemekaran dengan membentuk empat onderdistrict yakni Kwanjar, Labang, Kamal dan Batah. Wedono ditempatkan di onderdistrict Kwanjar, sedangkan di tiga onderdistrict lainnya masing-masing ditempatkan seorang asisten wedono.

Pada tahun 1901 diangkat sebagai adjunct kehutanan di wilayah kerja kehutanan Java en Madoera, AA Quanjer (lihat Arnhemsche courant, 21-01-1901). Nama orang dengan menggunakan marga Quanjer ditemukan di banyak tempat, tidak hanya di Belanda, juga di Prancis. Merujuk pada (marga) Quanjer ini diduga yang menjadi asal-usul nama wilayah Quanjar di pulau Madoera sejak era VOC (lihat peta Valentijn 1724). Namun Ketika AA Quanjer bertugas di Jawa dan Madoera nama tempat Quanjar tidak ditulis sesuai aslinya lagi, tetapi dengan nama Kwanjar (dialek Madura disebut Kebanjar).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar