Laman

Kamis, 02 Februari 2023

Sejarah Surakarta (74):Masjumi dan Perdana Menteri Mr Boerhanoeddin Harahap; Partai Islam Masa ke Masa, Bermula di Soerakarta


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surakarta/Solo dalam blog ini Klik Disini

Masjumi dan Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap memiliki hubungan terkait satu sama lain. Lalu apa hubungannnya Boerhanoeddin Harahap dengan kota Soerakarta? Satu yang jelas partai Islam dari masa ke masa bermula di Soerakarta. Boerhanoeddin Harahap adalah salah satu aktivis muda Islam pada era perang kemerdekaaan Indonesia yang telah turut dalam terbentuknya parati Islam, Masjumi.    


Burhanuddin Harahap (12 Februari 1917-14 Juni 1987) merupakan politikus Indonesia dari Partai Masyumi yang menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia ke-9 (12 Agustus 1955- 24 Maret 1956). Lahir di Medan, Burhanuddin berasal dari keluarga Batak dan ayahnya merupakan pegawai pemerintah, pindah ke Jawa untuk melanjutkan studi, dan mulai aktif pergerakan nasional sebelum kuliah di Rechthoogeschool di Batavia. Setelah Indonesia merdeka, Burhanuddin menjadi anggota Masyumi dan mulai aktif berpolitik. Sebagai ketua fraksi Masyumi di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara, Burhanuddin turut menjatuhkan Kabinet Wilopo karena persoalan hubungan bilateral dengan Uni Soviet, dan ia pernah ditunjuk sebagai formatur (pemegang tugas penyusunan pemerintah) meskipun gagal membentuk kabinet. Ia kembali ditunjuk sebagai formatur pada 1955, dan berhasil membentuk kabinet hasil koalisi partai-partai kecil dan Nahdlatul Ulama (NU). Kebijakan Burhanuddin sebagai perdana menteri banyak yang berlawanan dengan kebijakan pendahulunya, Ali Sastroamidjojo. Selama tujuh bulan pemerintahannya, Burhanuddin menjalankan kebijakan ekonomi berhaluan liberal. Setelah Masyumi gagal memenangkan pemilihan umum 1955, pemerintahan Burhanuddin melemah sampai akhirnya jatuh karena NU, yang tidak sepakat dengan pilihan Burhanuddin untuk bernegosiasi dengan Belanda dalam penyelesaian sengketa Irian Barat (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Masjumi dan Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap? Seperti disebut di atas, Boerhandoeddin Harahap tokoh partai Islam yang menjadi aktivitas mahasiswa Islam di Yogjakarta. Apakah hubungan Masjumi dan Boerhanoeddin Harahap dengan Solo? Satu yang jelas partai Islam masa ke masa, bermula di Soerakarta. Lalu bagaimana sejarah Masjumi dan Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Masjumi dan Perdana Menteri Boerhanoeddin Harahap; Partai Islam Masa ke Masa, Bermula di Soerakarta

Masjoemi (Madjelis Sjoero Muslimin Indonesia) nama yang tidak dikenal pada era Pemerintah Hindia Belanda. Masjumi dibentuk pada era pendudukan Jepang. Jika organisasi(-organisasi) pada era Hindia Belanda muncul sendiri dari penduduk, pada era pendudukan Jepang peran pemerintah ada dalam terbentuknya organisasi Islam, satu-satunya, yang disebut Masjoemi. Organisasi Masjoemi inilah yang kemudian menjadi sangat kuat pasca proklamasi kemerdekaan.

 

Hindia Belanda diduduki militer Jepang, dan menyerah tanggal 8 Meret 1942.  Lalu tidak lama kemudian pemerintahan daerah dibentuk di dua kota: Djakarta dan Soerabaja. Pimpinan militer Jepang di Indonesia menunjuk Dahlan Abndoellah sebagai wali kota Dj-akarta dan menunjuk Radjamin Nasoetion sebagai wali kota Soerabaja. Sehubungan dengan kehadiran Ir Soekarno dari Sumatra (Bukittinggi) Juni 1942 kemudian didirikan Dewan Pusat tanggal 9 Maret 1943 yang diberi nama Poesat Tenaga Rakjat (Poetera) yang mana sebagai ketuai oleh Ir Soekranor dan sebagai wakil Drs Mohamad Hatta. Dengan dibentuknya dewan pusat yang baru maka Madjelis Rakjat Indonesia (yang terbentuk pada akhir era Pemerintah Hindia Belanda) dibubarkan. Sementara Dewan Pusat Islam Indonesia juga dibubarkan dan kemudian sebagai penggantinya dibentuk Madjelis Sjoero Muslimin Indonesia disingkat Masjoemi yang didukung militer Jepang (lihat Vrij Nederland; je maintiendrai-onafhankelijk weekblad voor alle Nederlanders, No. 21, 18-12-1943). Organisasi Islam yang baru ini sebagai presidennya ditunjuk Hadji Ashari Wahid. Berdasarkan Domei, Hadji Ashari Wahid mendesak agar semua orang Islam berpartisipasi dalam perang untuk mencegah kekalahan dari Inggris dan Amerika. Dia juga mengatakan bahwa dia sangat tersanjung dengan penunjukannya. Dalam perkembangannya Poetera dibubarkan pada 9 Maret 1944 dan sebagai gantinya dibentuk Djawa Hookoo Kai (federasi politik untuk seluruh Jawa).

Ketika Poetera dibubarkan Maret 1944 dan sebagai penggantinya Djawa Hookoo Kai, Masjoemi tetap eksis (lihat Amigoe di Curacao: weekblad voor de Curacaosche eilanden, 28-01-1946). Disebutkan masyarakat Islam yang menjadi satu organisasi, pada awal 1944 terbilang berhasil, organisasi yang didukung oleh dua organisasi Islam terbesar (Mohamadijah dan Nachdatul Ulama). Sebagaimana Djawa Hookoo Kai yang diberi peluang membentuk organ pertahanan (Heiho/tentara permbantu dan Peta/tantara sukarela), Masjoemi juga diberi kesempatkan untuk sayap pertahanan yang disebut Hizbullah (yang dilatih secara militer Jepang).


Sejak era dewan pusat Poetera (hingga Djawa Hookoo Kai) di sejumlah wilayah lain juga dibentuk dewan daerah. Di wilayah Tapanoeli dibentuk dewan pada tahun 1943 yang diketuai oleh Abdoel Hakim Harahap yang berkedudukan di Taroetoeng. Abdoel Hakim Harahap juga menginisiasi pembentukan Masjoemi di Tapanoeli. Seperti kita lihat nanti, Abdoel Hakim Harahap menjadi Residen pada era perang kemerdekaan dan kemudian menjadi Gubernur Sumatra Utara (1951-1953) dan Menteri Negara bidang pertahanan pada cabinet Mr Boerhanoeddin Harahap. Dalam hal ini dapat ditambahkan di Batavia, komandan Hizbullan adalah Zainoel Arifin Pohan, seorang Masjoemi yang kelak menjadi pendiri Partai NU (1953) dan Wakil Perdana Menteri.  

Tunggu deskripsi lengkapnya

Partai Islam Masa ke Masa, Bermula di Soerakarta: Himpunan Mahasiswa Islam dan Para Aktivis Muda Islam

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar