Laman

Jumat, 03 Februari 2023

Sejarah Surakarta (75): George McTurnan Kahin dan Sejarah di Soerakarta; Hubungan Amerika dan Indonesia dari Masa ke Masa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surakarta/Solo dalam blog ini Klik Disini

Siapa George McTurnan Kahin? Itu satu hal. Lalu apa hubungannya nama George McTurnan Kahin dengan sejarah di Soerakarta? Itu hal lain lagi. Okelah. Siapa sesungguhnya George McTurnan Kahin? George McTurnan Kahin adalah seorang Amerika, yang sejak awal sudah begitu dekat dengan Indonesia, bahkan sejak terjadinya pendudukan militer Belanda/NICA di wilayah Republik pada tahun 1948.


George McTurnan Kahin (1918-2000) seorang sejarawan Amerika Serikat. George McTurnan Kahin lahir 25 Januari 1918, di Baltimore, menerima gelar B.S. bidang sejarah dari Universitas Harvard tahun 1940. Selama Perang Dunia II, Kahin bertugas di Angkatan Darat Amerika Serikat antara tahun 1942 dan 1945, di mana "ia dilatih sebagai salah satu anggota dari kelompok GI berjumlah 60 orang yang akan diterjunkan ke Indonesia yang diduduki Jepang mendahului pasukan Sekutu". Namun, operasi itu dibatalkan. Akibatnya, satuannya dikirim ke medan perang di Eropa. Selama periode ini, ketertarikannya terhadap Asia Tenggara dan dia belajar berbicara bahasa Indonesia dan Belanda. Kahin kembali setelah perang untuk menyelesaikan studi masternya dari Universitas Stanford tahun 1946. Tesisnya berjudul The Political Position of the Chinese in Indonesia. Ia pergi ke Indonesia tahun 1948 untuk penelitian selama perang kemerdekaan Indonesia. Dia ditangkap pemerintah kolonial Belanda dan diusir. Setelah Kahin diusir dari Indonesia pada tahun 1949, ia membantu diplomat muda Indonesia Sumitro Djojohadikusumo, Soedarpo Sastrosatomo, dan Soedjatmoko selama mereka bekerja di PBB dan di Washington, D.C. Ia juga menjalin hubungan dekat dengan Soekarno dan Mohammad Hatta, Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia. Kahin menerima gelar Ph.D. dalam ilmu politik dari Universitas Johns Hopkins pada tahun 1951. Disertasinya, yang berjudul Nationalism and Revolution in Indonesia Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia (Kahin 1952), dianggap sebagai karya klasik tentang sejarah Indonesia (Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah George McTurnan Kahin dan Sejarah Soerakarta? Seperti disebut di atas, George McTurnan Kahin sudah lebih awal mengenal Indonesia sebelum orang-orang Indonesia mengenalnya. Bagaimana bisa begitu? Hubungan Amerika dan Indonesia sudah ada dari masa ke masa bahkan sejak era VOC. Bagaimana bisa? Lalu bagaimana sejarah George McTurnan Kahin dan Sejarah Soerakarta? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

George McTurnan Kahin dan Sejarah Soerakarta; Hubungan Amerika dan Indonesia Masa ke Masa 

Banyak negara masa kini, yang telah terhubung dengan Indonesia masa kini, sudah terhubung di masa lampau. Tentu saja tidak hanya seperti Portugis, Belanda dan Inggris. Juga negara Amerika Serikat. Meski terbilang baru diantaranya, tetapi Amerika Serikat sudah terhubung dengan Indonesia paling tidak sejak era VOC. Apa yang menarik bagi orang Amerika hingga jauh ke Indonesia? Sudah barang tentu soal ekonomi. Kapal-kapal Amerika seperti dari Boston, Philadelphia dan New York sudah berlabuh di Batavia (kini Jakarta) pada era VOC. Intensitasnya semakin meningkat setelah Amerika Serikat mengusir Inggris dari Amerika yang diakhiri dengan proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat 4 Juli 1774.


Pada era Pemerintah Hindia Belanda, Amerika Serikat telah membuka konsulat di Batavia. Ini menunjukkan kepentingan Amerika di Hindia Belanda, khususya Batavia sudah sangat berkembang, terutama di bidang perdagangan. Lalu apakah ada misi lain Amerika Serikat di Hindia Belanda? Pada tahun 1811 Inggris yang berbasis di India menginvasi Jawa. Kapal-kapal Amerika berpartisipasi aktif dalam mengevakuasi orang-orang Belanda di Batavia untuk dipulangkan ke Belanda (Inggris dan Amerika masih bermusuhan sejak 1774). Pada tahun 1816 Hindia Belanda harus dikembalikan kepada Kerajaan Belanda. Sejak itulah konsulat Amerika didirikan di Batavia dengan hak istimewa. Lalu, adakah keinginan Amerika untuk melakukan aneksasi di Hindia Belanda? Tampaknya ada, dimulai dari Jambi. Pada tahun 1850 Kapten Gibson ditangkap di Palembang yang membuat ketegangan antara Belanda dan Amerika Serikat selama tiga tahun (1850-1853). Kapten Gibson dituduh melakukan makar, menghasut Sultan Jambi untuk melawan otoritas Pemerintahan Hindia Belanda di Jambi. Gibson kemudian dipenjara di Batavia, Kapten Gibson berhasil melarikan diri (yang diduga difasilirasi Konsulat Amerika). Dalam perkembangannya kemudian Amerika Serikat mulai melakukan aneksasi di Cuba (koloni Spanyol). Gagal. Lalu aneksasi dialihkan ke Filipina. Berhasil. Amerika Serikat secara resmi menjadi penguasa di Filipina sejak tahun 1898. Lantas masih adakah upaya Amerika Serikat secara politik bermanuver di Indonesia? Tampaknya harus legowo karena sudah didahului oleh Jepang (1942-1945).

Setelah kasus Amerika di Jambi tahun 1850, selang satu abad kemudian, apakah ada kaitannya dengan kejadian di Jawa pada tahun 1948. Dua orang Amerika, George McTurnan Kahin dan Frances Earle di Jogjakarta tanggal 19 Desember 1948 ditangkap militer Belanda/NICA. Lalu mereka berdua dibawa ke Batavia dengan pesawat (lihat Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 21-12-1948). Ini mirip dengan kajadian tahun 1850 di Palembang dimana Kapten Gibson diinternir ke Batavia (lalu dimasukkan ke dalam penjara) untuk menunggu pengadilan. 


George McTurnan Kahin dan Frances Earle sudah beberapa waktu berada di Yogjakarta, ibu kota Republik Indonesia. Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda/NICA melakukan invasi ke wilayah Republik di Jawa dan di Sumatra. Target utama invasi ini di Jawa adalah Yogjakarta, yang mana pada pagi hari pesawat terbang Belanda/NICA telah menjatuhkan beberapa bom di Yogjakarta, bahkan ada bom yang jatuh hanya 100 M dari kediaman George McTurnan Kahin. Setelah pasukan memasuki kota siang hari, sejumlah pemimpin republic ditangkap termasuk Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Mohamad Hatta.

Di Batavia tidak terinformasikan apakah sudah ada/belum konsulat Amerika Serikat, tetapi atas alasan keduanya tengah melakukan penelitian di wilayah Yogjakarta, lalu dibebaskan. George McTurnan Kahin melakukan penelitian atas nama Social Research Council, John Hopkins University.di New York dan Frances Earle melakukan penelitian atas nama Geographic Department di Washington University. Lantas mengapa George McTurnan Kahin mengirim berita ke kantor berita United Press di Amerika Serikat?


Bagian laporan George McTurnan Kahin sebagai berikut (tidak ditampilkan disini semuanya): ‘Minggu pagi pukul setengah lima saya terbangun oleh suara ledakan yang mengguncang seluruh rumah tempat saya berada. Serangkaian ledakan yang dirasakan setelah itu memperjelas bahwa bom menghantam lapangan terbang. Kami tahu bahwa Angkatan Udara Republik akan melakukan manuver hari itu dan mengira itu telah dimulai. Tetapi ketika beberapa bom menghantam kota itu sendiri, salah satunya hampir seratus meter dari rumah tempat saya berada, kami berubah pikiran. Dengan terkejut kami menyadari bahwa pasti Belanda yang mengincar markas angkatan udara Republik dan tentara Republik, yang terletak di blok yang sama…Sekitar pukul 12:30, pertempuran jalanan yang sengit terjadi dan lebih banyak bom dan peluncur roket berjatuhan… Letnan Belanda memerintahkan semua pria asing untuk meninggalkan rumah. Para wanita diizinkan untuk tinggal di dalam. Dia mengatakan bahwa kami semua akan dipindahkan ke Semarang dengan pesawat…;’. Dalam laporan George McTurnan Kahin juga disebutkan ada seorang pilot Amerika James Fleming dan pilot Filipina Jules Villaneuve ditahan. Dua pilot ditangkap di Djokja karena dicurigai sebagai pelanggar batas blockade yang melayani Republik.

Pembebasan George McTurnan Kahin tidak sepenuhnya. Fakta bahwa George McTurnan Kahin masih di Batavia, disebut sebagai seorang tahanan rumah (lihat De Volkskrant, 11-01-1949). Sebagai tahanan rumah, tentu saja George McTurnan Kahin masih bebas di dalam rumah/hotel, hanya saja tidak bisa keluar, tetapi komunikasi dengan menggunakan alat komunikasi dimungkinkan meski itu jauh ke Amerika. Laporan George McTurnan Kahin menurut pers Belanda, adalah laporan yang berbeda dari laporan yang mereka terima.


Sejak tangggal 17 Desember 1948, Jenderal Spoor telah mengumumkan maklumat ke public. Boleh jadi tanggal ini merupakan batas awal penyensoran berita. Pada hari yang sama pendudukan ke Jogja juga dipublikasikan maklumat dari kamandan territorial Miiden Java di Semarang (Maj Gen van Meyer) dan maklumat dari komandan brigade di Salatiga (Kolonel van Langen). Sejak itu, pemberitaan di berbagai surat kabar di Hindia maupun di Belanda kurang lebih seragam, kering dan singkat (lihat Nieuw Nederland, 20-01-1949). Suatu berita yang muncul di Amerika Serikat (United Press/ George McTurnan Kahin) telah menunjukkan perbedaan. Pers Belanda mencurigai telah terjadi penyensoran dan keadaan yang sebaliknya sumber yang berasal dari Amerikan Serikat lebih terasa mengena. Oleh karena itu pers Belanda sulit membedakan mana yang benar, apakah sumber dari pemerintah atau sumber dari George McTurnan Kahin. Fakta bahwa, menurut pers Belanda, apa yang dilaporkan George McTurnan Kahin tidak ada yang menguntungkan pemerintah Belanda (di mata internasional). Hal itulah yang menyebabkan pers Belanda sulit memastikan laporan yang mana yang benar. Layanan Informasi Pemerintah dan Layanan Kontak Angkatan Darat benar-benar telah gagal, menurut pers Belanda. Pers Belanda juga menyoroti foto yang beredar dimana Soekarno yang duduk disamping seorang tantara di atas Jeep apakah itu sesuatu yang palsu? Semua hal yang dipertanyakan pers Belanda tersebut boleh jadi karena adanya perbedaan yang nyata antara yang dilaporkan George McTurnan Kahin dengan yang bersumber dari pemerintah dan dari agkatan darat. Pers Belanda menyindir: ‘Itikad buruk tidak dapat dilawan. Tetapi hal-hal lain tidak bisa dimaafkan’. Pers Belanda menganalogikan Ketika Jerman mednduki Belanda tahun 1940: ‘Selama 5 jam perlawanan yang dilakukan Belanda terhadap invasi Jerman, namun setiap perlawanan dari pihak Belanda dihilangkan’.

Laporan-laporan George McTurnan Kahin yang memicu pers Belanda mencurigai laporan-laporan pemerintah dan Angkatan darat di Indonesia, di satu sisi telah membuat pers Belanda setengah meradang. Belum tuntas masalah yang satu muncul maslah berikutnya. Apa yang ditakutkan pers Belanda benar-benar telah terjadi, bahaya yang mengerikan yang menjadi mangsa dunia. Pers asing telah memukul pers Belanda soal pemberitaan tentang Hindia Belanda (lihat Eindhovensch dagblad, 22-02-1949). Surat kabar di Amerikan Serikat, di Australia dan India misalnya telah memberi judul-judul berita yang justru membuat batin insan pers Belanda tersedak seperti judul berita di Australia: ‘Fiuh, orang Belanda kolonial, Anda harus segera belajar dari kami bagaimana orang memperlakukan orang kulit berwarna’.


Pers Belanda mendapat sumber berita langsung dari pemerintah di Hindia Belanda dan dari Angkatan darat, yang menjadi sumber pemberitaan pers Belanda dimana mereka memberi judul-judul berita mereka yang sangat berbeda dengan judul-judul berita di Amrika Serikat dan Australia. Tentu saja sumber berita di Amerika Serikat (United Press) yang juga dilansir di Australia, Inggris dan India bersumber dari tangan pertama di lapangan di Jogjakarta George McTurnan Kahin. Perbedaan sumber dan perbedaan isi berita inilah yang membuat pers Belanda terdampak dalam pers internasional. Pemerintah Belanda dan Angkatan darat di Indonesia dengan kekejamannya dengan metode fasis dalam darurat pemberitaan internasional dan pers Belanda dalam darurat ketidakpercayaan. Pers Italia juga ikut meramaikan isu internasional dengan judul-judul seperti: ‘Teror Belanda di Indonesia. Djocjakarta Kota Orang Mati’.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Hubungan Amerika dan Indonesia Masa ke Masa: Dari Kapten Gibson hingga George McTurnan Kahin

Soal benar atau tidak atas penilaian pers Belanda terhadap laporan pendapat George McTurnan Kahin, fakta bahwa, seperti kita lihat nanti, satu persatu tentang kekejaman invasi Belanda/NICA ke Jogjakarta sejak 19 Desember 1948, terbuka ke public antara lain melalui pengadilan telah melambungkan nama George McTurnan Kahin (di dalam media adakalanya Kahin disebut sebagai jurnalis). Sudah barang tentu masih banyak yang tidak diketahui George McTurnan Kahin di lapangan yang luas, sebaliknya apa yang diketahui oleh George McTurnan Kahin boleh jadi sedikit telah digelembungkan. Jika ini benar, lalu apakah George McTurnan Kahin adalah seorang yang merangkap sebagai agen Amerika di Indonesia? Apakah kasus Kapten Gibson satu abad yang lalu di Palembang/Jambi telah berulang pada diri George McTurnan Kahin dalam kasus yang serupa tetapi dengan cara yang berbeda?


Amerika Serikat versus Belanda: Bagi orang Amerika melihat perilaku Belanda di Indonesia pada invasi ke wilayah Republik (terutama di Jogjakarta) adalah sangat menjengkelkan. Pada saat Perang Dunia, Amerika Serikat yang memimpin Sekutu yang di Asia, menaklukkan Jepang. Takluknya Jepang menjadi sebab militer Jepang di Indonesia harus diluciti senjatanya dan kemudian dievakuasi yang ditugaskan kepada Sekutu/Inggris. Sebagaimana diketahui Belanda/NICA dibonceng di belakang Sekutu/Inggris memasuki wilayah Indonesia. Ibarat Amerika yang kerja, Belanda yang menikmati. Tidak hanya menikmati alam Indonesia yang kaya raya, juga melakukan tindakan yang kejam seperti fasis bagi orang Indonesia dengan invasi ini. Dalam konteks inilah dapat diperhatikan peran George McTurnan Kahin. Partispasi Amerika dalam perundingan Renville juga dalam hal ini diabaikan Belanda karena nyata telah memasuki dengan sengaja garis demarkasi. Bagi Amerika, sikap Belanda ini, sudah diberi banyak malah minta semua. Boleh jadi dalam hal ini Amerika ingin mengambil kembali dari Belanda dengan menggunakan tangan George McTurnan Kahin.

Lambat laun pers Belanda mulai percaya dengan sumber Amerika Serika soal apa yang terjadi di Indonesia. Pers Belanda, terutama di Eropa mulai mengulik sumber berita dari sisi lain, termasuk melansir Sebagian yang datang dari Amerika Serikat. Sementara itu, para aktvitas dan politisi Indonesia yang berada di Inggris dan di Amerika Serikat mulai mendapatkan sumber berita dari tanah air. Pers Belanda di satu sisi mulai mengorek-ngorek sumber berita dari orang Indonesia di London, di sisi lain para aktivis dan politisi Indonesia di London mulai berbica secara lantan. Protes dengan narasi ‘Belanda telah melakukan tindakan keji terhadap pimpinan Indonesia dengan metode fasis’ seakan menjadi minyak di dalam kobaran api internasional.


Surat kabar Italia sebagaimana dilansir Nieuw Nederland, 20-01-1949 memberitakan antara lain sebagai berikut: ‘Menurut Kahin, situasi pangan di kota Jogja, dimana hanya dengan sedih para perempuan, anak-anak dan orang tua ditemukan, sebaliknya para pemuda melanjutkan perjuangan sangat serius di pedalaman Belanda hanya memberi makan para kolaborator. Kepala departemen ekonomi pemerintah Belanda, BJ Mulder telah mengaku kepada Kahin bahwa hanya 6.000 dari 500.000 penduduk bersedia bekerja sama dengan Belanda, diantaranya dari 10.000 pegawai negeri hanya 150 yang bersedia. Pasokan makanan kurang dari setengah dari normal. Pada tanggal 19 Desember terjadi peristiwa militer Belanda menyeret sembilan warga sipil tak berdaya, termasuk Dr. Santoso, Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan, menyiksa mereka dan menembak mereka satu per satu. Dua minggu kemudian, Belanda menawarkan kepada janda Dr. Santoso, yang sudah menjabat Menteri Sosial pemerintah Republik, posisi di salah satu kementerian boneka yang mereka coba bentuk di Jogjakarta. Tak perlu dikatakan, tawaran itu ditolak. Sangat tidak mungkin Abikusno, pemimpin salah satu partai utama Islam, akan setuju untuk bekerja sama dengan penjajah. Pada tanggal 25 Desember tiga tentara Belanda mendatangi rumahnya dan memerintahkan kedua putranya untuk menyerahkan dua pistol yang mereka miliki, lalu memukul kepala mereka dengan popor senjata dan menyeret mereka ke penjara. Keesokan paginya Abikusno diberi tahu bahwa 'jenazah' kedua putranya sudah dikuburkan. Alasan yang diberikan pihak berwenang Belanda adalah ‘bahwa mereka 'ditembak karena keluar rumah setelah jam malam'.

Isi berita kejam yang diberitakan pers asing (non Belanda), tentu saja sulit ditemukan dalam pers Belanda, keculi surat kabar Belanda yang berhaluan kiri (yang meramunya dari sumber luar Belanda). Surat kabar Belanda De Heerenveensche koerier: onafhankelijk dagblad voor Midden-Zuid-Oost-Friesland en Noord-Overijssel, 01-02-1949 yang melansir sumber berita orang Indonesia di London dari pernyataan pers Kepala kantor Republik Indonesia di London yang pernyataannya sebagai berikut: ‘sejumlah intelektual terkemuka di Indonesia, diantaranya Masdoelhak, seorang penasihat pemerintah dibunuh hingga tewas tanpa diadili’. Berit aini segera meluas seantero.


Dalam menanggapi berita yang beredar dari London tersebut, Dewan Keamanan PBB marah besar. Pimpinan organisasi bangsa-bangsa yang berkantor di New York meminta sebuah tim netral di Belanda untuk melakukan penyelidikan segera atas kematian Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion di Yogyakarta 21 Desember 1948. Lantas mengapa PBB demikian marahnya atas kasus ini? Masdoelhak adalah seorang intelektual paling terkemuka di jajaran inti pemerintahan Republik Indonesia. Masdoelhak adalah akademisi muda bergelar doktor di bidang hukum lulusan Eropa. Masdoelhak juga menjadi adviseur der regering (penasehat pemerintah), penasehat pimpinan republik (Soekarno dan Hatta). Masdoelhak adalah satu-satunya sarjana bergelar doktor di lingkaran satu pemerintahan Republik Indonesia. Inilah alasan mengapa petinggi Belanda (Langen, Meyer dan Spoor) menaruh nama Masdoelhak pada baris pertama dalam list orang yang paling dicari sesegera mungkin (wanted): dead or alive.

Desakan PBB untuk membentuk peradilan di Belanda direspon cepat oleh pemerintah Belanda. Suratkabar di Belanda De waarheid, 25-02-1949 melaporkan duduk perkara yang mengerikan itu dari ruang pengadilan. Disebutkan kejadian ini bermula ketika Belanda mulai menyerang Yogya pukul lima pagi, 19 Januari 1948, tentara Belanda bergerak dan intelijen bekerja. Akhirnya pasukan Belanda menemukan dimana Masdoelhak. Lalu tentara menciduk Masdoelhak di rumahnya di Kaliurang dan membawanya ke Pakem di sebuah ladang jagung. Masdoelhak di rantai dengan penjagaan ketat dengan todongan senjata. Selama menunggu, Masdoelhak hanya bisa berdoa dan makan apa adanya dari jagung mentah. Akhirnya setelah beberapa waktu, beberapa tahanan berhasil dikumpulkan, total berjumlah enam orang. Lalu keenam orang ini dilepas di tengah ladang lalu diburu, dor…dor...dor. Masdoelhak tewas di tempat. Seorang diantara mereka (Mr. Santoso, Sekjen Kemendagri) terluka sempat berhasil melarikan diri, tetapi ketika di dalam mobil dalam perjalanan ke Yogya dapat dicegat tentara lalu disuruh berjongkok di tepi jalan lalu ditembak dan tewas ditempat. Di pengadilan, menurut De waarheid jaksa penuntut umum menganggap pembunuhan ini sebagai ‘pembunuhan pengecut’.


Koran ‘De waarheid’ (waarheid=truth=‘kebenaran’) melihat kasus ini selama ini sengaja ditutup-tutupi. Awalnya resolusi Dewan Keamanan hanya menuntut Belanda bahwa semua tahanan politik harus dibebaskan, malahan membunuh dengan cara keji begini. Koran ini memberi judul beritanya sebagai metode teror fasis (Fascistische terreur-methoden). Desas-desus yang sebelumnya diterima Dewan Keamaman PBB yang membuat mereka marah dan meminta dilakukan penyelidikan secara tuntas akhirnya terungkap di pengadilan. Hasilnya penyelidikan yang diungkapkan oleh koran ‘kebenaran’ ini sebagai: pembunuhan keji para intelektual, pembunuhan secara pengecut dan pembunuhan dengan penggunaan metode fasis.

Respon cepat dari pihak Belanda atas permintaan badan PBB itu karena pada tanggal 1 Maret 1949 komisi PBB akan datang ke Indonesia. Karena itu delegasi Belanda secepat mungkin pula datang ke Batavia untuk melakukan penyelidikan atas kasus kematian Masdoelhak. Pihak Belanda coba menutup-nutupi kasus ini dan bocoran sidang pengadilan itu dapat diketahui wartawan sebagaimana dilaporkan De waarheid, 25-02-1949 tersebut. Dalam berita itu, wartawannya bertanya: Seberapa lama warga Belanda akan mentolerir cara-cara serupa ini?


Siapa Masdoelhak? Masdoelhak adalah anak Padang Sidempoean kelahiran Sibolga. Nama lengkapnya Masdoelhak Nasoetion gelar Soetan Oloan, cucu dari Soetan Abdoel Azis dari Goenoeng Toea, Mandailing. Ayah Masdoelhak bernama Nazar Samad Nasoetion gelar Mangaradja Hamonangan (lahir di Padang Sidempoean) dan ibunya bernama Namora Siti Aboer br Siregar (lahir di Padang Sidempoean). Masdoelhak, anak keenam dari tujuh bersaudara ini setelah menyelesaikan pendidikan dasar Belanda (ELS) di Sibolga berangkat sekolah MULO di Medan dan kemudian dilanjutkan ke AMS di Jawa dan tinggal bersama abangnya Makmoen Al Rasjid (dokter lulusan STOVIA). Pada tahun 1930, Masdoelhak anak seorang pengusaha di Residentie Tapanoeli ini lulus ujian AMS. Dari 55 kandidat lulus 42 orang dan Masdoelhak salah satu dari lima siswa terbaik yang direkomendasikan melanjutkan ke pendidikan tinggi di Negeri Belanda (lihat, Soerabaijasch handelsblad, 19-05-1930). Setelah lulus tingkat sarjana di Universiteit Leiden, Masdoelhak tidak pulang melainkan melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral di Utrecht (Rijksuniversiteit). Pada tahun 1943 Masdoelhak lulus ujian doctoral sebagaimana dilaporkan Friesche courant, 27-03-1943. Masdoelhak berhasil mempertahankan desertasinya dalam bidang hukum yang berjudul ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Tempat perempuan dalam masyarakat Batak). Setelah berhasil menjadi doktor hukum, Masdoelhak pulang kampung. Pada saat pulang ke tanah air, Indonesia di bawah pendudukan Jepang, Namun tidak lama kemudian, Jepang menyerah kepada sekutu lalu Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion diangkat sebagai wakil gubernur di Sumatra Tengah yang berkedudukan di Bukittinggi. Dalam perkembangannya, Belanda melancarkan agresi militer 1947 dan kemudian pemerintahan sipil Indonesia diganti dengan pemerintahan semi militer (Presiden Ir. Soekarno, Wakil presiden Drs. M. Hatta dan Menteri pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap). Untuk gubernur Sumatra Utara ditunjuk Mayor Jenderal dr. Gindo Siregar, sedangkan Masdoelhak dipanggil ke Yogyakarta untuk membantu pemerintahan pusat (menjadi penasehat). Pada saat hari H anggresi militer Belanda kedua ini Masdoelhak menjadi target utama.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar